Bumi Tidak Pernah Patah

     Manusialah yang Memberi Nama pada Bekas Lukanya.

     Bagaimana mungkin sebuah kampung berpindah tempat tanpa seorang pun memindahkan rumahnya?

     Pertanyaan itu muncul berulang kali setelah gempa Palu pada 28 September 2018. Foto-foto memperlihatkan rumah-rumah yang masih berdiri, tetapi tidak lagi berada di tempat semula. Hamparan sawah bergeser puluhan hingga ratusan meter. Jalan raya yang sehari sebelumnya lurus, mendadak terputus. Aspal di satu sisi masih ada, tetapi sambungannya lenyap entah ke mana. Di beberapa tempat, tanah berubah menjadi lumpur yang menelan bangunan utuh. Banyak orang menyebutnya kiamat kecil. Sebagian lagi menyebut bumi sedang marah.

     Geologi tidak mengenal kemarahan.

     Yang bergerak bukanlah kemarahan bumi, melainkan Sesar Palu-Koro, salah satu sesar aktif yang membelah Sulawesi. Ia bukan rekahan yang baru muncul pada 2018. Jauh sebelum kota Palu berdiri, jauh sebelum jalan raya dibangun, bahkan jauh sebelum manusia mengenal nama Sulawesi, sesar itu telah menjadi batas tempat dua blok kerak bumi saling bergeser. Perlahan, hampir tak terasa, hanya beberapa sentimeter setiap tahun.

     Beberapa sentimeter terdengar sepele. Kuku manusia tumbuh lebih cepat daripada itu. Namun bumi tidak menghitung waktu dengan kalender manusia.

     Sentimeter demi sentimeter terus terkumpul. Sepuluh tahun menjadi puluhan sentimeter. Seratus tahun menjadi beberapa meter. Selama batuan masih mampu menahan tegangan, semuanya tampak tenang. Kota dibangun. Sawah ditanami. Jalan diaspal. Orang menikah, menua, lalu meninggal tanpa pernah menyadari bahwa di bawah rumahnya, batuan sedang menyimpan utang yang suatu hari harus dibayar.

     Lalu tibalah saat batuan tidak lagi sanggup menahan tekanan.

     Dalam hitungan belasan detik, energi yang dikumpulkan selama ratusan tahun dilepaskan sekaligus. Dua sisi sesar saling bergeser secara mendatar. Itulah sebabnya Sesar Palu-Koro digolongkan sebagai sesar geser (strike-slip fault). Yang bergerak bukan gunung yang runtuh, melainkan dua massa batuan yang saling menggesek ke arah berlawanan.

     Dari permukaan, semuanya tampak mustahil.

sumber: https://link.springer.com/article/10.1186/s40562-020-0150-2/figures/1

ilustrasi generated by Banana

     Rumah-rumah seolah berjalan. Pagar tidak lagi bertemu dengan halaman. Jalan raya kehilangan pasangannya. Sungai menemukan alur yang baru.

     Padahal rumah tidak pernah berjalan. Jalannya pun tidak pernah melompat. Yang berpindah adalah tanah tempat semuanya berdiri.

     Namun Palu menyimpan satu cerita lain yang bahkan lebih ganjil.

     Di Petobo, Balaroa, dan Jono Oge, tanah kehilangan sifatnya sebagai tanah. Getaran gempa membuat lapisan sedimen yang jenuh air berubah perilaku seperti cairan. Dalam beberapa menit, permukaan yang selama ini dianggap kokoh mendadak mengalir. Rumah-rumah terbawa bersama pepohonan, sawah, bahkan tiang listrik. Peristiwa itu dikenal sebagai likuefaksi.

     Ironisnya, likuefaksi bukan terjadi karena tanah menjadi lebih lemah. Ia terjadi karena air yang selama ini mengisi pori-pori sedimen tiba-tiba menerima tekanan sedemikian besar sehingga butiran tanah kehilangan kemampuan saling mengunci. Tanah tidak berubah menjadi air. Ia hanya berhenti bersikap seperti tanah.

     Tidak jauh dari sana, dasar Teluk Palu juga bergerak. Perubahan mendadak pada dasar laut, ditambah longsoran bawah laut yang dipicu gempa, membangkitkan tsunami yang dalam hitungan menit mencapai daratan. Gempa, likuefaksi, dan tsunami datang hampir bersamaan, seolah bumi sedang mempertontonkan seluruh kemampuannya dalam satu panggung.

     Padahal tidak ada pertunjukan.

     Yang terjadi hanyalah hukum-hukum geologi bekerja sebagaimana mestinya.

     Istilah "luka" lahir dari pengalaman manusia, bukan dari cara bumi bekerja. Bagi bumi, sesar bukanlah tanda kegagalan, melainkan jejak dari perubahan yang tidak pernah berhenti. Selama lebih dari empat miliar tahun, kerak bumi terus menerima tekanan, melengkung, bergeser, terangkat, lalu terkikis kembali. Yang disebut sesar hanyalah bagian dari perjalanan panjang itu yang kebetulan cukup jelas untuk dikenali dan diberi nama.

     Kata "patah" membantu manusia memahami perubahan yang melampaui ukuran hidupnya sendiri. Gempa yang berlangsung belasan detik terasa datang tanpa peringatan, padahal energi yang dilepaskannya telah terkumpul selama ratusan hingga ribuan tahun. Dalam umur bumi, peristiwa itu hanyalah satu bab dari kisah yang nyaris tak berujung. Dalam umur manusia, ia cukup untuk membelah kehidupan menjadi dua: sebelum dan sesudah.

     Karena itulah bumi tidak pernah benar-benar patah. Rumah dapat bergeser, jalan dapat kehilangan sambungan, bahkan satu kampung dapat berpindah tempat. Semua itu mengubah hidup manusia, tetapi tidak mengubah cara bumi bekerja. Yang sesungguhnya runtuh sering kali bukan planet ini, melainkan keyakinan manusia bahwa tanah di bawah kakinya akan selalu tetap di tempatnya.

Bagi bumi, sesar bukanlah tanda kegagalan, melainkan jejak dari perubahan yang tidak pernah berhenti. Selama lebih dari empat miliar tahun, kerak bumi

Posting Komentar

...

[blogger][facebook]

Author Name

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.