Pablo Escobar memahami satu hal yang sangat tua dalam sejarah manusia: orang sering tidak memilih antara benar dan salah, tetapi antara mana yang lebih mudah ditelan oleh jiwa mereka. Kebenaran kadang datang dengan wajah buruk—miskin, pahit, memalukan, menghancurkan harga diri. Sementara kebohongan datang rapi, disetrika, harum seperti pidato pejabat menjelang pemilu.

     Seorang ayah bisa berkata kepada anaknya bahwa semuanya akan baik-baik saja, padahal ia sendiri tahu isi dompetnya tinggal suara gesekan kartu ATM. Seorang negara bisa berkata ekonomi sedang kuat sambil rakyat menghitung ulang harga cabai di pasar. Seorang manusia bisa tersenyum di foto, lalu malamnya menatap langit-langit kamar seperti tahanan yang lupa apa kesalahannya.

     Kadang kebohongan bukan sekadar alat manipulasi. Ia juga anestesi sosial. Obat bius agar manusia tetap bangun pagi dan bekerja tanpa terlalu banyak bertanya.

     Tetapi ada ironi yang lebih gelap: semakin lama sebuah masyarakat hidup dari kebohongan yang “perlu”, semakin rapuh kemampuannya menerima kenyataan. Lama-lama kebenaran tidak lagi terasa menyakitkan—melainkan terasa ofensif. Orang marah bukan karena dibohongi, tetapi karena ada yang cukup kurang ajar untuk mengatakan kenyataan.

     Itulah sebabnya banyak zaman runtuh bukan karena kekurangan fakta, melainkan kelebihan ilusi yang dipelihara bersama-sama.

     Namun saya kira ada sesuatu yang bahkan lebih tragis dari kebohongan itu sendiri: ketika manusia tahu dirinya sedang dibohongi, tetapi memilih ikut bermain karena realitas terasa terlalu mahal untuk dihadapi sendirian.

     Mungkin Escobar memahami pasar narkotika. Tetapi dunia modern memahami pasar ilusi. Dan pasar ilusi jauh lebih besar. Ia menjual harapan instan, citra sukses, nasionalisme kemasan, spiritualitas siap saji, produktivitas tanpa jiwa, bahkan cinta yang sudah diberi filter.

     Manusia ternyata bukan hanya makhluk pencari kebenaran. Ia juga makhluk pencari kenyamanan agar sanggup hidup sampai besok pagi.

     Ada kalimat-kalimat yang terdengar bersih, seperti air yang jernih di permukaan, tetapi ketika disentuh, terasa ada arus kecil yang bergerak di bawahnya. Tidak keruh, tidak kotor, hanya tidak sepenuhnya diam. Kejujuran sering hadir seperti itu—terlihat sederhana, bahkan menenangkan, namun menyimpan sesuatu yang tidak langsung terlihat. Kita mendengarnya, mengangguk, dan merasa bahwa segala sesuatu sudah diletakkan pada tempatnya. Padahal, yang terjadi tidak sesederhana itu.

     Manusia memiliki hubungan yang aneh dengan kejujuran. Ia mengagungkannya, mengajarkannya, bahkan menjadikannya ukuran moral yang tinggi. Namun pada saat yang sama, ia juga pandai membengkokkannya sedikit, cukup untuk menyesuaikan dengan kebutuhan yang tidak selalu ingin diakui. Ada kejujuran yang diucapkan bukan untuk membuka, tetapi untuk mengatur. Bukan untuk memperjelas, tetapi untuk mengarahkan. Kalimatnya tetap benar, faktanya tidak berubah, tetapi arah dari kejujuran itu sudah memiliki tujuan.

     Di dalam percakapan sehari-hari, hal ini sering lewat tanpa disadari. Seseorang berkata terus terang tentang apa yang ia rasakan, tetapi memilih bagian mana yang diucapkan dan mana yang disimpan. Tidak ada yang salah dalam pilihan itu—manusia memang tidak wajib membuka seluruh dirinya. Namun di titik tertentu, kejujuran mulai menjadi sesuatu yang dirancang. Ia dipilih, disusun, disampaikan dengan cara yang tidak hanya mempertimbangkan kebenaran, tetapi juga dampak. Apa yang akan dipikirkan orang lain, bagaimana posisi akan berubah, apakah simpati akan muncul atau justru hilang.

     Ada sesuatu yang halus di sini, sesuatu yang tidak mudah disebut sebagai kesalahan. Karena memang tidak ada kebohongan yang jelas. Yang ada hanyalah kejujuran yang sudah bernegosiasi dengan hal lain: dengan ketakutan, dengan harapan, dengan keinginan untuk tetap terlihat baik. Dalam bentuk ini, kejujuran tidak lagi berdiri sendiri. Ia berjalan bersama motif yang tidak selalu ingin ditampilkan.

     Yang lebih menarik adalah ketika seseorang benar-benar merasa dirinya jujur. Ia tidak sedang berpura-pura, tidak merasa sedang memainkan peran. Apa yang ia katakan memang sesuai dengan apa yang ia rasakan pada saat itu. Namun perasaan itu sendiri sudah terbentuk dari banyak hal yang tidak sepenuhnya ia sadari. Ia ingin dimengerti, ingin diterima, ingin tidak disalahkan. Dan tanpa sadar, kejujuran yang ia sampaikan sudah mengarah ke sana.

     Di titik ini, kejujuran menjadi sesuatu yang lebih kompleks dari sekadar benar atau salah. Ia bukan lagi soal apakah kalimat itu sesuai dengan fakta, tetapi apakah ia benar-benar membuka atau justru menyembunyikan sesuatu dengan cara yang lebih halus. Ada kejujuran yang seperti jendela, membuat sesuatu terlihat. Ada pula yang seperti tirai tipis—membiarkan cahaya masuk, tetapi tetap mengaburkan bentuk yang ada di baliknya.

     Kita juga sering menggunakan kejujuran sebagai cara untuk merasa lebih ringan. Mengatakan sesuatu yang selama ini dipendam bisa memberi rasa lega, seolah beban berpindah dari dalam ke luar. Namun bahkan di sana, kejujuran tidak selalu murni. Ada pilihan tentang bagaimana mengatakannya, kapan mengatakannya, kepada siapa ia diarahkan. Kadang kita memilih momen ketika kejujuran itu akan lebih mudah diterima, atau ketika risiko terasa lebih kecil. Kejujuran yang seperti ini tetap jujur, tetapi tidak sepenuhnya bebas.

     Mungkin ini bukan sesuatu yang perlu dihakimi. Ia lebih dekat pada kondisi manusia itu sendiri. Kita tidak hidup sebagai makhluk yang sepenuhnya transparan. Selalu ada lapisan, selalu ada bagian yang belum siap untuk dilihat, bahkan oleh diri sendiri. Dalam kondisi seperti itu, kejujuran tidak pernah datang dalam bentuk yang benar-benar utuh. Ia selalu membawa sedikit bayangan dari sesuatu yang lain.

     Dan justru di situlah letak kejujuran yang lebih dalam—bukan pada usaha untuk menjadi sepenuhnya bersih, tetapi pada kesadaran bahwa kita tidak sepenuhnya bersih. Ada momen ketika seseorang mulai melihat bahwa apa yang ia anggap sebagai keterbukaan ternyata masih menyisakan ruang yang tidak ia sentuh. Bukan karena ia sengaja menyembunyikan, tetapi karena ia belum sampai ke sana.

     Kesadaran seperti ini tidak membuat seseorang berhenti berbicara, tidak membuatnya menjadi kaku atau penuh curiga pada dirinya sendiri. Ia hanya menambahkan lapisan keheningan di dalam kejujuran itu. Sebuah ruang kecil di mana seseorang tahu bahwa apa yang ia katakan adalah benar, tetapi mungkin belum seluruhnya. Dan ruang itu tidak harus segera diisi.

     Pada akhirnya, mungkin kejujuran bukan sesuatu yang bisa dicapai sebagai kondisi akhir. Ia lebih seperti gerak yang terus berlangsung—mendekat, menjauh, membuka, lalu menyadari bahwa masih ada yang belum terbuka. Dalam gerak itu, ada kejujuran yang terasa ringan, ada pula yang terasa berat. Keduanya bagian dari hal yang sama.

     Dan mungkin, di tengah semua itu, yang paling jujur bukanlah kalimat yang terdengar paling terang, tetapi kesediaan untuk melihat bahwa bahkan dalam terang, masih ada bayangan yang ikut berdiri.

     Seorang muslim urban bangun pagi dengan mata setengah sadar dan iman yang sudah lebih dulu membuka aplikasi. Ibu jari bekerja lebih cepat dari kesadaran: scroll, like, share—sebuah ritual kecil yang tak pernah diajarkan di kitab mana pun, tapi terasa lebih wajib dari wudhu. Di sana, di altar digital bernama Instagram, terpampang wahyu terbaru: Yaumul Milad ya ukhti, barakallah fii umrik, makin solehah, makin cantik, makin banyak rezekinya. Aamiin.” Disusul pagar-pagar kecil yang menandai kesalehan digital— #milad #happymilad #barakallah #alhamdulillah #explorepage—lengkap dengan sticker doa, dan emoji yang jumlahnya hampir menyaingi jumlah rakaat shalat sunnah yang jarang dilakukan.

     Ia tersentuh. Bukan oleh makna, tapi oleh atmosfer. Sebuah rasa yang sulit dijelaskan, seperti lapar yang tidak ingin makan nasi, tapi ingin makan estetika. Maka dimulailah liturgi baru: pesan kue tart, pilih font kaligrafi, tambah ornamen unta biar terasa Timur Tengah—meskipun yang paling dekat dengan padang pasir selama ini hanya filter Instagram. Lagu Marhaban dipotong lima belas detik, cukup untuk memberi kesan religius tanpa mengganggu ritme swipe berikutnya. Semua terasa suci. Semua terasa tepat. Padahal, kalau kita sedikit saja kurang ajar pada sejarah, kita akan sadar: tidak ada satu pun dari semua ini pernah terjadi di Madinah abad ke-7. Bahkan mungkin unta pun akan bingung melihat dirinya dijadikan topping butter cream.

     Dulu, “yaumul milad” hanyalah kalimat sederhana. Sebuah penanda waktu, seperti orang menyebut hari Selasa tanpa merasa perlu meniup lilin untuk merayakannya. Tidak ada pelukan massal, tidak ada goodie bag, tidak ada MC dengan suara bergetar penuh harap agar sponsor tahun depan lebih banyak. Itu hanya hari lahir—bukan hari untuk memanggil vendor dekorasi.

     Tapi manusia modern punya bakat istimewa: mengubah informasi menjadi seremoni, dan seremoni menjadi industri. Kapitalisme, seperti biasa, tidak pernah datang dengan wajah kasar. Ia datang dengan jilbab, dengan kaligrafi, dengan diskon bundling aqiqah plus milad tahunan—sebuah inovasi yang begitu kreatif sampai-sampai hukum fikih pun mungkin perlu duduk sejenak dan minum air.

     Caranya sederhana dan hampir elegan. Ambil satu fragmen teks, regangkan sedikit seperti karet gelang, lalu lepaskan ke pasar. Ada doa untuk Nabi Yahya di hari kelahirannya—baik, kita jadikan justifikasi. Ada sahabat yang memberi selamat pada sahabat lain—bagus, kita tambahkan layer emosional. Tidak masalah jika konteksnya berbeda jauh; yang penting ada kata “selamat”. Selebihnya, biarkan imajinasi bekerja, dan tentu saja, biarkan harga paket dekorasi naik perlahan.

     Lalu semuanya bergerak ke tahap yang lebih halus—tidak berisik, tapi justru lebih menentukan. Orang-orang mulai percaya, bukan karena pernah benar-benar tahu, tapi karena terlalu sering melihat. Keyakinan tidak lagi lahir dari pencarian, melainkan dari paparan berulang yang pelan-pelan terasa seperti kepastian.

     Di ruang yang lain, algoritma bekerja dengan tenang, nyaris seperti makhluk yang tidak punya niat jahat—dan justru karena itu sulit dicurigai. Ia tidak pernah bertanya mana doa yang tulus dan mana dekorasi yang terlalu mahal. Ia tidak punya kepentingan terhadap makna. Ia hanya mengenali keramaian. Yang ramai, itulah yang ia dorong ke permukaan. Yang diulang, itulah yang tampak sah.

     Maka ketika ribuan orang menulis “Yaumul Milad”, mengucapkannya dengan penuh rasa, membungkusnya dengan visual yang hangat dan musik yang lembut, sesuatu yang lebih besar dari sekadar ucapan mulai terbentuk. Kebenaran tidak lagi diperdebatkan—ia disepakati diam-diam lewat jumlah like. Tanpa kitab, tanpa sanad, tanpa keharusan untuk duduk dan berpikir terlalu lama. Sebuah epistemologi baru lahir, ringan, praktis, dan sangat efisien: cukup lihat engagement rate.

     Barangkali para insinyur di Silicon Valley dulu hanya ingin membuat orang betah berlama-lama menatap layar. Mereka mungkin tidak pernah membayangkan bahwa baris-baris kode itu, yang dingin dan netral, suatu hari akan bertransformasi menjadi semacam mufti tak resmi—yang fatwanya tidak diucapkan, tapi ditampilkan dalam bentuk tren. Dan seperti semua tren, ia tidak perlu benar. Ia hanya perlu terlihat ramai.

     Di titik ini, absurditas mulai terasa seperti rumah sendiri. Bayangkan sebuah pesta milad di hotel berbintang. Ayat suci dibacakan dengan sound system mahal, lalu disusul kue tart berbentuk Ka’bah yang didorong perlahan seperti sedang thawaf kecil-kecilan di atas karpet merah. Seorang anak meniup lilin dengan khusyuk—sebuah momen reflektif, meskipun napas yang sama mungkin belum pernah dipinjam untuk tahajud. Para tamu mengangkat tangan, berdoa dengan sungguh-sungguh agar tahun depan acara bisa lebih meriah. Tuhan, dalam imajinasi kita, tampaknya juga ikut menghitung jumlah balon.

     Dan di tengah semua itu, berdirilah satu frasa aneh: “Happy Milad”. Sebuah makhluk linguistik yang tidak diakui oleh bahasa Inggris maupun Arab, tapi sangat dicintai oleh caption Instagram Indonesia. Ia seperti anak hasil pernikahan paksa dua budaya yang tidak pernah saling melamar. Aneh, tapi justru karena itu terasa eksklusif. Semacam tanda bahwa kita sedang religius sekaligus modern—seperti memakai sneakers di atas sajadah.

     Yang sebenarnya menggelikan bukanlah ucapan selamatnya. Tidak ada yang salah dengan doa, dengan hadiah, dengan kebahagiaan kecil. Yang lucu—dan sedikit menyedihkan—adalah ketika semua ini diklaim sebagai bagian dari kesalehan. Seolah tanpa balon helium bertuliskan “Milad Mubarak”, iman seseorang terasa kurang lengkap. Seolah semakin mahal dekorasi, semakin dekat pula jaraknya dengan langit.

     Padahal, jika kita cukup jujur untuk menatap diri sendiri tanpa filter, jawabannya seringkali sederhana dan sangat manusiawi: kita ingin terlihat peduli, ingin diingat, ingin diakui. Dan pasar, seperti teman lama yang tahu kelemahan kita, menyediakan semua itu dalam bentuk paket—lengkap dengan bonus hashtag.

     Suatu hari nanti, mungkin seorang anak akan bertanya dengan polos, mengapa setiap tahun ia harus berdiri di depan kue sambil dikelilingi kamera. Dan untuk sekali saja, ayahnya mungkin menjawab tanpa dalil, tanpa retorika: bahwa ini bukan tentang tradisi, bukan tentang sunnah, tapi tentang diskon promo didorong keinginan kecil untuk tidak merasa tertinggal dari yang lain.

     Di luar sana, pabrik balon terus bekerja tanpa banyak berpikir. Influencer terus tersenyum di depan kamera. Dan kita, dengan cara yang aneh dan hampir puitis, terus merayakan sesuatu yang tidak pernah benar-benar kita pahami—sambil meyakinkan diri bahwa ini bagian dari sesuatu yang lebih besar.

     Barangkali memang begitu cara zaman bekerja: ia tidak memaksa kita untuk salah. Ia hanya membuat kita nyaman berada di dalamnya.

     Nama Tan Malaka hari ini beredar seperti diskon musiman: muncul ramai, dielu-elukan, lalu perlahan menghilang setelah algoritma bosan. Kutipannya dipajang rapi, dipoles, diberi latar belakang estetik—siap dikonsumsi tanpa risiko. Seolah-olah gagasan bisa dipakai seperti parfum: cukup disemprotkan, lalu kita ikut harum oleh sejarah.

     Tidak ada yang benar-benar ingin tahu bagaimana kalimat-kalimat itu lahir.

     Tidak ada yang ingin terlalu lama membayangkan seorang manusia yang menulis sambil berpindah-pindah, menghindari penangkapan, hidup dari ketidakpastian yang tidak romantis sama sekali. Menulis bukan di kafe dengan colokan listrik dan Wi-Fi, tetapi di sela-sela kemungkinan ditangkap atau mati. Kertas bukan medium ekspresi, tapi medan pertaruhan. Pikiran bukan konten, tapi risiko.

     Membayangkan itu terlalu mahal. Terlalu mengganggu kenyamanan.

     Maka yang tersisa adalah versi jinaknya: kutipan yang sudah disterilkan dari konteks, dibagikan dengan penuh semangat, lalu diakhiri dengan ritual kecil yang sakral—melirik angka. Berapa yang suka, berapa yang membagikan, berapa yang mengomentari. Sebuah bentuk perenungan baru: refleksi yang diukur dalam notifikasi.

     Ada sesuatu yang nyaris lucu, jika tidak terasa tragis.

     Orang-orang mengutip Tan Malaka seolah sedang melanjutkan perjuangan. Padahal yang mereka lanjutkan mungkin hanya trafik. Mereka tidak sedang berhadapan dengan kekuasaan, hanya dengan sepi—dan bahkan sepi itu pun kini bisa diatasi dengan sedikit optimasi waktu unggah.

     Jika dulu kekuasaan harus repot-repot membungkam, hari ini tidak perlu. Tidak ada pelarangan buku yang dramatis, tidak ada pengasingan yang heroik. Cukup beri semua orang panggung kecil, sedikit perhatian, dan ilusi bahwa suara mereka penting. Sisanya akan berjalan otomatis.

     Algoritma bekerja lebih halus daripada polisi rahasia.

     Ia tidak menangkap siapa pun. Ia hanya mengarahkan, membelokkan, menghibur, lalu perlahan meninabobokan. Orang-orang tetap berbicara, tetap merasa kritis, tetap merasa melawan—tanpa pernah benar-benar keluar dari lingkaran yang sama. Mereka bergerak, tapi seperti roda hamster: cepat, lelah, dan tidak ke mana-mana.

     Dan di tengah semua itu, nama Tan Malaka terus dipanggil.

     Bukan untuk dihidupi, tapi untuk ditemani.

     Seperti jimat kecil yang digenggam agar terlihat berani, tanpa pernah benar-benar ingin berjalan di jalan yang ia tempuh. Karena di ujung jalan itu tidak ada panggung, tidak ada angka, tidak ada validasi—hanya kesunyian yang keras kepala, dan keberanian yang tidak bisa dipalsukan.

     Mungkin yang paling menggelisahkan bukan bahwa kita lupa.

     Tapi bahwa kita ingat—dengan cara yang begitu aman, begitu nyaman, sampai-sampai kehilangan alasan mengapa ia dulu harus berbahaya.

     Ada kalimat yang terasa seperti tamparan halus namun sulit dilupakan dari Tan Malaka: kematian sejatinya bukan semalam tanpa makan, melainkan sehari tanpa berpikir. Kalimat itu berdiri tegak seperti seruan—seolah hidup manusia diukur dari nyala akalnya, dari keberaniannya meragukan, mempertanyakan, dan menolak tunduk pada dunia yang dianggap sudah selesai.

     Namun manusia, jika ditelusuri lebih dalam, tidak pernah benar-benar dibangun di atas akal terlebih dahulu. Ia tumbuh dari sesuatu yang lebih tua, lebih liar, dan lebih diam: emosi. Jauh sebelum manusia mampu merumuskan gagasan, ia sudah bisa takut, mencintai, marah, dan berharap. Evolusi tidak membentuk kita sebagai makhluk yang berpikir, melainkan sebagai makhluk yang bertahan—dan yang menjaga keberlangsungan itu bukan logika, melainkan perasaan.

     Akal, dalam banyak hal, datang seperti tambahan yang terlambat. Ia menyusul, merapikan, memberi nama pada sesuatu yang sudah lebih dulu bekerja tanpa bahasa. Bahkan keputusan yang tampak rasional pun sering kali hanya pembenaran yang halus atas dorongan yang lebih dalam. Manusia tahu banyak hal, tetapi tetap melakukan yang lain. Bukan karena ia tidak mampu berpikir, melainkan karena ia digerakkan oleh sesuatu yang lebih purba dari pikiran itu sendiri.

     Ironisnya, justru dari wilayah emosi itulah lahir apa yang kita anggap sebagai puncak pemikiran manusia. Filsafat sering tumbuh dari kegelisahan yang tidak menemukan tempat. Sains berakar pada rasa ingin tahu yang tak mau diam. Seni lahir dari luka, rindu, atau kekosongan yang mencari bentuk. Pikiran bukan sumber pertama—ia lebih mirip alat yang menyusun dan menyalurkan energi yang datang dari kedalaman yang lebih gelap.

     Di titik ini, kalimat Tan Malaka tidak sepenuhnya gugur, tetapi berubah maknanya. Ia bukan lagi deskripsi tentang bagaimana manusia bertahan hidup, melainkan tentang bagaimana manusia menjaga martabatnya. Tanpa berpikir, manusia tetap hidup—tetapi mudah digerakkan, mudah dibentuk, mudah dijadikan bagian dari arus yang tidak ia pahami. Tanpa emosi, manusia mungkin tetap berpikir—tetapi kehilangan alasan untuk bergerak.

     Maka manusia berdiri di antara dua arus yang tidak pernah benar-benar berdamai. Di bawah, mengalir sungai purba yang membawa naluri dan perasaan. Di atas, berdiri bangunan rapuh bernama rasio yang mencoba memberi arah. Sebagian besar waktu, sungai itu menang—ia membawa manusia ke mana saja tanpa banyak tanya. Namun di saat-saat tertentu, dari bangunan itu, seseorang menyalakan cahaya kecil, dan untuk sesaat arah arus berubah.

     Barangkali hidup tidak pernah sekadar tentang berpikir atau merasa. Ia terjadi ketika keduanya saling menyalakan: emosi memberi api, pikiran memberi arah. Tanpa arah, api hanya membakar. Tanpa api, arah hanya menjadi garis dingin di atas peta. Dan manusia, dengan segala keganjilannya, terus berjalan di antara keduanya—kadang sadar, sering kali tidak, tetapi selalu bergerak.

Sebuah Ode untuk Otak yang Tak Mau Cepat Pikun

     Di era di mana perhatian manusia lebih pendek dari umur seekor lalat, saya memilih menjadi penyendiri digital. Sementara tetangga saya sibuk merekam dirinya menari dalam 15 detik, mengganti kostum tujuh kali dalam satu jam, dan menatap layar dengan harapan algoritma berbaik hati—saya duduk diam, mengetuk-ngetuk keyboard, menulis paragraf yang mungkin tak pernah selesai dibaca.

     Sungguh sebuah kemurtadan di zaman yang gempar ini.

     Setiap hari, jutaan tangan bergerak otomatis: scroll ke atas, berhenti 3 detik, tertawa kecil, scroll lagi. Otak mereka telah dilatih menjadi mesin pencerna sampah instan—menerima, melupakan, menginginkan lagi. Bukan kebiasaan, melainkan pola emosi yang dirancang laboratorium diam-diam di lembah-lembah Silicon. Kita bukan lagi menikmati konten. Kita dikonsumsi oleh algoritma.

     Dan betapa ironisnya, penyakit yang paling ditakuti manusia modern—pikun, Alzheimer, hilang ingatan—justru dipupuk setiap hari oleh kebiasaan yang paling digandrungi. Scroll cepat 15 detik mengajarkan otak untuk tidak menyimpan, tidak menghubungkan, tidak merenung. Otak kita seperti otot yang tak pernah dipakai angkat beban, hanya disuruh lari sprint setiap 10 detik. Lalu kita heran mengapa fokus hancur, ingatan tumpul, dan pikiran keropos sebelum usia senja.

     Saya memilih blog karena membaca itu sulit. Butuh kerja. Butuh diam. Butuh otak untuk menciptakan gambaran sendiri, bukan disuapi gambar bergerak yang sudah diatur ritmenya. Membaca membuat saraf-saraf otak berjalin-jalin membangun makna—sebuah latihan beban untuk pikiran. Dan semakin lama seseorang terbiasa membaca teks panjang, semakin terlambat pula undangan kepikunan datang mengetuk pintu.

     Lalu saya teringat wahyu pertama yang jatuh ke bumi: "Iqra"—bacalah. Bukan tontonlah. Bukan scroll-lah. Bukan like-lah. Tuhan tahu, 1400 tahun lalu, bahwa membaca adalah gerbang kesadaran. Bahwa mata yang menelusuri huruf akan membuka tirai-tirai akal, sementara mata yang hanya menatap gerak-gerik kilat akan terhipnotis tanpa sadar.

     Saya tidak sedang merasa lebih suci. Rekaman video pendek juga lucu, juga menghibur. Tapi ada sesuatu yang hilang ketika sebuah generasi lebih hapal 30 lagu TikTok daripada mampu duduk membaca dua halaman buku tanpa cemas melihat notifikasi.

     Maka biarlah blog saya ini sunyi. Biarlah tidak viral. Biarlah algoritma menguburnya di halaman ke-17 pencarian. Saya sedang merawat sebuah organ yang sayangnya tak bisa diganti: otak. Dan saya ingin ia tetap utuh, berfungsi, berpikir—setidaknya sampai nafas terakhir.

     Karena pada akhirnya, Tuhan memerintahkan membaca, bukan menghafal joget 15 detik. Dan saya yakin, kelak di usia lanjut, saya masih akan ingat alasan ini. Sementara mereka yang hari ini sibuk mengejar tren, mungkin sudah lupa apa yang mereka tonton lima menit yang lalu.

Author Name

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.