Kebohongan Diperlukan Ketika Kebenaran Terlalu Sulit Untuk Dipercayai

     Pablo Escobar memahami satu hal yang sangat tua dalam sejarah manusia: orang sering tidak memilih antara benar dan salah, tetapi antara mana yang lebih mudah ditelan oleh jiwa mereka. Kebenaran kadang datang dengan wajah buruk—miskin, pahit, memalukan, menghancurkan harga diri. Sementara kebohongan datang rapi, disetrika, harum seperti pidato pejabat menjelang pemilu.

     Seorang ayah bisa berkata kepada anaknya bahwa semuanya akan baik-baik saja, padahal ia sendiri tahu isi dompetnya tinggal suara gesekan kartu ATM. Seorang negara bisa berkata ekonomi sedang kuat sambil rakyat menghitung ulang harga cabai di pasar. Seorang manusia bisa tersenyum di foto, lalu malamnya menatap langit-langit kamar seperti tahanan yang lupa apa kesalahannya.

     Kadang kebohongan bukan sekadar alat manipulasi. Ia juga anestesi sosial. Obat bius agar manusia tetap bangun pagi dan bekerja tanpa terlalu banyak bertanya.

     Tetapi ada ironi yang lebih gelap: semakin lama sebuah masyarakat hidup dari kebohongan yang “perlu”, semakin rapuh kemampuannya menerima kenyataan. Lama-lama kebenaran tidak lagi terasa menyakitkan—melainkan terasa ofensif. Orang marah bukan karena dibohongi, tetapi karena ada yang cukup kurang ajar untuk mengatakan kenyataan.

     Itulah sebabnya banyak zaman runtuh bukan karena kekurangan fakta, melainkan kelebihan ilusi yang dipelihara bersama-sama.

     Namun saya kira ada sesuatu yang bahkan lebih tragis dari kebohongan itu sendiri: ketika manusia tahu dirinya sedang dibohongi, tetapi memilih ikut bermain karena realitas terasa terlalu mahal untuk dihadapi sendirian.

     Mungkin Escobar memahami pasar narkotika. Tetapi dunia modern memahami pasar ilusi. Dan pasar ilusi jauh lebih besar. Ia menjual harapan instan, citra sukses, nasionalisme kemasan, spiritualitas siap saji, produktivitas tanpa jiwa, bahkan cinta yang sudah diberi filter.

     Manusia ternyata bukan hanya makhluk pencari kebenaran. Ia juga makhluk pencari kenyamanan agar sanggup hidup sampai besok pagi.

Manusia ternyata bukan hanya makhluk pencari kebenaran. Ia juga makhluk pencari kenyamanan agar sanggup hidup sampai besok pagi.

Posting Komentar

...

[blogger][facebook]

Author Name

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.