Ada keputusan-keputusan dalam hidup yang tidak pernah diumumkan secara resmi, tetapi tetap menentukan arah hidup seseorang. Tidak ada sidang, tidak ada rapat keluarga, tidak ada deklarasi di depan cermin. Keputusan itu lahir dalam bisikan yang nyaris malu-malu: untuk tetap tinggal, untuk tetap mencintai, untuk tidak menyerah, atau justru untuk menyerah diam-diam. Dan anehnya, keputusan seperti itu justru yang paling berpengaruh. Ia tidak punya catatan administratif tetapi ia punya konsekuensi ontologis.

     Manusia sering menganggap keputusan sebagai sesuatu yang selesai pada satu momen: klik Tinder, tanda tangan kontrak, mengucapkan ya di altar, atau memutuskan berhenti minum kopi setelah maghrib. Namun yang lebih sering terjadi adalah keputusan berlangsung seperti endapan sedimen—mengendap perlahan, terbungkus waktu, tersusun dari lapisan-lapisan yang tidak pernah kita sadari saat ia sedang bekerja. Kita bangun suatu pagi dan menyadari bahwa kita sudah menua dalam keputusan tertentu, seolah-olah seseorang mengambil alih remote dan mempercepat timeline tanpa izin.

     Sebagian orang berkata bahwa keputusan paling sulit adalah memilih jalan hidup. Itu hanya benar bagi mereka yang tidak sedang hidup. Bagi yang benar-benar hidup, semua permukaan dunia adalah jalan, dan kesulitan sesungguhnya terletak pada bagaimana menjalani satu jalan tanpa terus menerus mencurigai semua jalan lain. Kecurigaan seperti itu membuat manusia sibuk memandang ke kiri dan kanan sampai lupa bahwa satu-satunya yang benar-benar bisa dilakukan hanyalah melangkah ke depan. Namun di situlah lucunya: langkah ke depan pun tidak menjamin bahwa seseorang tahu ke mana ia menuju.

     Ada keputusan yang memang harus diambil: menikah atau tidak, pindah kota atau bertahan, menyapa seseorang atau membiarkan momen itu hilang selamanya. Tetapi ada juga keputusan yang tidak pernah memaksa untuk diputuskan, dan justru karena itulah mereka paling menentukan. Tidak memaafkan seseorang juga sebuah keputusan. Tidak mengucapkan sesuatu yang seharusnya diucapkan juga sebuah keputusan. Tidak pulang juga sebuah keputusan. Dalam hal ini dunia memberi dua opsi: mengambil keputusan atau ditentukan olehnya.

     Sains menyukai keputusan yang memiliki data. Agama menyukai keputusan yang memiliki moral. Ekonomi menyukai keputusan yang memiliki keuntungan. Filsafat menyukai keputusan yang memiliki alasan. Tetapi kehidupan sering mengharuskan keputusan yang tidak memiliki apa-apa selain intuitif lemah lembut yang hanya terdengar oleh pemiliknya. Kadang suara itu sangat pelan, seperti suara dedaunan yang membisikkan arah angin kepada seseorang yang sedang tersesat di lereng. Jika seseorang terlalu percaya pada peta, ia bisa gagal mendengar bisikan itu.

     Keputusan-keputusan besar jarang diumumkan tepat saat mereka diambil. Mereka baru diketahui setelah hasilnya terlihat, seperti batuan metamorf yang menunggu beberapa juta tahun sebelum siap dipamerkan sebagai bukti bahwa tekanan dan panas tidak pernah bekerja sia-sia. Tanpa tektonik dalam bumi, tidak ada pegunungan. Tanpa tektonik dalam batin, tidak ada kedewasaan. Jika tekanan geologi menciptakan lipatan, tekanan eksistensial menciptakan kemurahan hati, ketabahan, atau kadang hanya kebiasaan untuk tidak menyerah.

     Yang lucu adalah manusia sering menyalahkan keputusan yang sudah diambil sebagai penyebab hidupnya seperti ini. Padahal, seringkali justru keputusan-keputusan yang tidak pernah diambil yang diam-diam mendikte seluruh konfigurasi hidup. Orang jarang menyesali apa yang pernah ia lakukan; yang lebih sering menghantui adalah apa yang tidak pernah dilakukan padahal bisa. Dalam penaklukan gunung hal ini jelas: puncak yang gagal dicapai bisa diterima; jalur yang tidak pernah dicoba menimbulkan rasa gatal yang lebih panjang.

     Pada akhirnya, semua keputusan adalah percobaan. Tidak ada yang menjamin bahwa sebuah keputusan akan memperbaiki hidup seseorang. Satu-satunya yang pasti adalah bahwa tidak mengambil keputusan sama sekali membuat hidup berhenti bergerak, dan stagnasi adalah bentuk kematian yang paling sopan. Dunia tidak memaksa orang untuk hidup penuh, tetapi ia tetap mengundang dengan cara yang tidak terlalu halus.

     Dan karena itu manusia terus hidup dengan keputusan-keputusannya, yang baik maupun yang buruk, yang lahir dari keberanian maupun keterlambatan. Yang menghibur adalah bahwa kehidupan tidak pernah meminta laporan akhir. Ia hanya meminta seseorang untuk terus maju, meski tidak terlalu yakin ke mana.

     Yang tersisa hanyalah langkah berikutnya.

     Kalimat itu jatuh seperti tetes terakhir dari malam yang panjang: pada akhirnya, kita semua hanyalah kenangan yang tertinggal di hati orang-orang yang pernah kita cintai. Ada kesunyian yang tak butuh pembelaan dalam pernyataan tersebut. Hidup bukan museum prestasi, bukan pula papan pengumuman jasa; pada ujungnya kita menyusut menjadi sisa-sisa memori yang diarsipkan oleh mereka yang sempat menyentuh kita, dan oleh mereka yang sempat kita sentuh, entah dengan lembut atau dengan cara yang membuat hati mekar terlambat.

     Namun selalu ada lapisan kedua dari kebenaran sederhana. Kita bukan hanya kenangan bagi orang lain, kita juga adalah kenangan bagi diri sendiri. Dalam kepala ada lemari tua tempat tawa disimpan bersebelahan dengan rasa malu, tempat keberanian dan kebodohan bertukar tempat tanpa permisi. Di sana tergeletak tatapan yang dulu tidak menemukan kata, doa yang tidak pernah diumumkan, dan semua kegigihan kecil yang tidak layak masuk sejarah, tetapi justru menopang sejarah itu dari belakang panggung.

     Banyak orang mengira cinta adalah urusan dua hati yang saling memilih. Namun ia juga urusan memori: siapa yang kita izinkan tetap tinggal, dan siapa yang perlahan kita biarkan terurai menjadi kabut. Kenangan bekerja seperti editor yang tanpa ampun. Ia memilih, menghapus, menggarisbawahi, dan kadang memelintir demi menjaga agar cerita tetap bisa ditanggung.

     Mungkin tugas manusia bukan memastikan bahwa kita dikenang, tetapi memastikan bahwa apa yang kita tinggalkan pantas untuk ditinggalkan. Tidak harus heroik. Cukup jujur, cukup hangat, cukup tidak memalukan. Sisanya biar waktu yang mengatur distribusi memori sesuai seleranya yang campur aduk antara kejam dan sentimental.

     Dan jika akhirnya kita larut seluruhnya, terserap dalam anonim zaman, itu pun bukan tragedi. Banyak hal paling penting dalam hidup tak pernah berniat menjadi abadi: musim panas, masa muda, persahabatan yang sempat begitu dekat, percakapan yang tak pernah direkam, dan keberanian kecil yang tidak pernah diumumkan. Semuanya tetap nyata ketika terjadi. Realitas tidak memerlukan keabadian untuk menjadi penting.

     Jadi, bila nanti kita menjadi kenangan, setidaknya kita pernah berusaha. Berbuat baik semampunya, mencinta tanpa prosedur, tersandung dan bangkit tanpa pidato, dan merawat beberapa orang agar tidak merasa sendirian. Untuk spesies yang dilempar ke dunia tanpa manual penggunaan, itu sudah cukup mulia.

     Ada saat-saat tertentu dalam hidup ketika seseorang menyadari bahwa sebagian besar perjalanan yang ia lakukan tidak pernah benar-benar berniat untuk tiba. Kita menyebutnya berjalan, padahal yang sebenarnya terjadi adalah tubuh mencari-cari alasan untuk terus bergerak. Di dunia yang memuja rencana, apa pun yang tidak punya tujuan sering dianggap sebagai pemborosan. Namun justru di sanalah hidup kadang membuka pintu kecilnya—pintu yang hanya tampak bagi mereka yang tidak sedang bergegas menuju sesuatu.

     Berjalan tanpa janji sampai adalah latihan kecil untuk berdamai dengan keterbatasan manusia. Kita sering melupakan bahwa sebagian besar hal besar dalam sejarah manusia muncul bukan dari kehendak untuk mencapai sesuatu, melainkan dari tersandung atas sesuatu yang tidak direncanakan. Hukum gravitasi lahir dari apel yang jatuh, bukan dari proposal penelitian. Penyair besar menulis bait terbaiknya bukan dalam keadaan duduk di meja rapi, melainkan ketika dunia sedang sedikit bocor dan ia merasakan sesuatu yang tidak bisa dijelaskan dengan daftar tugas.

     Dalam hidup sehari-hari—meski kata itu sebenarnya agak membohongi struktur hari manusia—kita sering bergerak dengan cara yang membuat dunia hilang dari pandangan. Kita berjalan tanpa melihat jalan, berbicara tanpa mendengar suara kita sendiri, bekerja tanpa menyadari apa yang sedang kita berikan. Dan ketika seseorang akhirnya berhenti, berhenti sungguh-sungguh, ia baru menyadari satu hal: dunia ternyata punya suara yang sangat pelan yang hanya muncul ketika tidak ada yang sedang terburu-buru. Suara itu tidak memerintah, tidak menggurui, tidak memamerkan hikmah—ia hanya muncul untuk memastikan kita tahu bahwa hidup tidak sedang mengejar kita.

     Ada keheningan tertentu yang hanya bisa didengar oleh mereka yang berjalan tanpa janji sampai. Keheningan yang tidak mencari makna tetapi mempersilakan makna datang sendiri. Seperti kabut tipis di ketinggian yang membungkus semua benda secara adil, ia tidak menuntut pengertian apa pun. Ia hanya ingin dilihat tanpa keserakahan. Manusia yang terlalu sibuk menyusun alasan sering kehilangan kemampuan untuk menghormati keheningan semacam itu.

     Ironinya, ketika seseorang melepaskan tuntutan untuk sampai, justru saat itulah ia sering sampai ke tempat yang paling ia butuhkan. Ini mungkin sesuatu yang disebut oleh sebagian orang sebagai intuisi, oleh sebagian lain sebagai kebetulan, dan oleh sisanya sebagai kelakar kosmik. Namun apa pun nama yang kita tempelkan, pengalaman itu nyata. Ada titik-titik dalam hidup ketika langkah-langkah yang kita ambil tidak untuk mencapai sesuatu, tetapi untuk menghindari diam yang terasa berlebihan. Dan entah bagaimana, langkah-langkah itu membawa kita ke ruang-ruang yang tidak pernah terpikirkan, namun begitu sampai di sana kita merasa seperti pulang.

     Manusia sering meragukan perjalanan yang tidak terencana, seolah-olah ketidakpastian adalah tanda kelemahan. Tapi di dunia yang penuh dengan arah, justru kemampuan memilih arah tanpa alasan yang kokoh adalah bentuk keberanian kecil yang sering diremehkan. Keberanian untuk percaya bahwa mungkin—hanya mungkin—hidup tidak selalu membutuhkan validasi dari rencana.

     Seseorang bisa berjalan di jalur gunung yang ia kenal sejak kecil, dan tetap merasakan kejutan ketika melihat cahaya sore memantul dari batu yang sama. Begitu pula dalam pikiran: gagasan yang sudah seratus kali kita baca bisa tiba-tiba menampar sisi kepala kita ketika kondisi batin sedang tidak terikat pada apa pun. Itu bukan pencerahan; itu sekadar tubuh yang akhirnya mendengar apa yang sudah lama dikatakan dunia.

     Pada akhirnya seni berjalan tanpa janji sampai bukan tentang jarak. Ia tentang cara seseorang menempatkan dirinya dalam arus waktu. Sebagian ingin menangkap waktu, sebagian ingin melarikan diri darinya, namun segelintir orang mulai menyadari bahwa waktu hanya meminta satu sikap: jangan buru-buru. Yang terburu-buru sering kehilangan hal-hal yang sebenarnya sudah berada di ambang pandangan mereka. Yang berjalan pelan cenderung menemukan sesuatu meski tidak sedang mencari apa pun.

     Ketika akhirnya seseorang tiba—entah di mana—ia akan melihat ke belakang dan tertawa kecil. Karena ternyata sebagian besar dari apa yang selama ini ia takutkan tidak pernah terjadi. Dan sebagian besar dari apa yang ia harapkan ternyata datang dari jalur yang tidak ada di peta. Dan mungkin, hanya mungkin, itulah cara dunia menjaga kita agar tidak mengira diri terlalu berkuasa atas perjalanan yang kita lakukan.

     Berjalan tanpa janji sampai bukanlah ajakan untuk pasrah. Ini ajakan untuk hadir tanpa kalkulasi. Untuk membiarkan tubuh tahu lebih dulu daripada pikiran. Untuk sesekali membiarkan hidup menyetir, bukan karena kita malas, tetapi karena kita tahu bahwa kadang-kadang hidup justru lebih tahu jalan mana yang sedang terbuka.

     Dan siapa pun yang pernah berjalan seperti itu akan tahu persis rasanya: ada kebebasan kecil yang tidak bisa dijelaskan, seperti kabar baik yang datang tanpa suara.

     Mungkin bangsa ini tidak kekurangan orang pintar, hanya kekurangan orang yang sudi menanggung konsekuensi dari kecerdasannya. Selama bertahun-tahun, frasa “martabat bangsa” digantung seperti spanduk kertas pada tiang upacara kemerdekaan—indah dari jauh, rapuh ketika disentuh. Ironisnya, martabat tidak pernah hilang; ia hanya dikecilkan agar muat di dalam kepala yang memilih kenyamanan daripada pertaruhan moral. Barangkali itu sebabnya dua belas watak itu betah tinggal, seperti kecoa yang menyukai dapur kotor bukan karena dapurnya, tetapi karena tidak ada yang sungguh mau membersihkannya.

     Pertanyaannya tidak lagi soal bangsa yang baik atau buruk, cerdas atau bodoh, lembut atau bengis, pemalu atau agresif. Pertanyaannya adalah seberapa besar keberanian bangsa ini untuk berhenti berpura-pura. Berpura-pura tidak tahu, berpura-pura tidak melihat, berpura-pura tidak berdaya. Pura-pura adalah olahraga nasional; melompat dari kenyataan ke kenyamanan tanpa berkeringat. Dan selama pura-pura tetap aman, watak itu akan terus menari dengan santai di ruang tamu peradaban.

     Namun martabat bukan hadiah yang diberikan dari luar, melainkan keputusan yang diambil dari dalam. Ia dimulai dari manusia yang mau membayar harga untuk kebenaran kecil: menolak suap yang bisa sangat membantu, memilih antre ketika ada kesempatan menyelinap, tidak memukul perempuan atau bawahan, menahan mulut ketika ingin mencaci tanpa pandang alasan, atau sesederhana menuntut negara bertingkah selayaknya negara. Martabat dimulai dari menolak menjual diri secara murah, bahkan kepada negara sendiri.

     Mochtar Lubis dulu mengutip watak bangsa tanpa dendam—lebih seperti dokter yang menunjukkan hasil lab dengan ekspresi datar. Empat puluh, lima puluh tahun lewat, hasil lab itu tidak berubah banyak. Digitalisasi memberi kita mesin-mesin baru, tetapi manusia yang mengoperasikannya tetap manusia lama. Komentar dalam kolom daring, politik identitas yang dijual seperti deterjen promo, influencer yang mengajarkan kebodohan dengan wajah tampan dan kamera mahal di ruang tamu sewaan; semuanya hanya memastikan bahwa penyakit lama mendapat ruang latihan yang lebih luas.

     Apakah bangsa ini tanpa harapan? Tidak juga. Harapan itu bukan terletak pada nasionalisme sentimental, bukan pada slogan yang berdebu di mulut birokrat, bukan pada lagu mars yang diputar keras agar menutupi keraguan kolektif. Harapan itu terletak pada kesediaan untuk tumbuh menjadi masyarakat yang mampu merasa malu—bukan malu pada dunia, tetapi pada diri sendiri. Karena bangsa yang malu masih bisa berubah, sedangkan bangsa yang tidak malu hanya akan mencari pembenaran.

     Dan ketika bangsa ini suatu hari bertanya, “martabat kami itu berada di mana?”, jawabannya tidak akan ditemukan di museum, monumen, naskah pidato, atau statistik pertumbuhan ekonomi. Martabat itu berada pada jenis manusia yang bersedia menolak warisan watak buruk ini dengan harga penuh, tanpa diskon nasionalisme. Ia berada pada warga yang suatu pagi bangun dan memutuskan bahwa kebenaran kecil lebih berharga daripada kemenangan besar yang busuk.

     Selebihnya, sejarah akan mengurus sisanya. Ia selalu punya cara yang kejam namun jujur untuk menyortir mana bangsa yang dewasa dan mana bangsa yang sekadar ramai.

     Dan ketika sorak sorai tentang “bangsa besar” selesai, ketika asap nasionalisme menguap, ketika para pemimpin berhenti berorasi, tinggal satu pertanyaan yang menggantung di udara seperti mantra yang tidak mau pergi:

     Apakah kita memilih menjadi bangsa yang dihormati karena martabatnya, atau bangsa yang hanya ditoleransi karena jumlahnya? ( part 5 of 5 )


     Pertanyaan tentang bagaimana menguburkan dua belas watak bangsa yang pernah digambarkan Mochtar Lubis terdengar seperti pertanyaan politik, padahal sebenarnya itu pertanyaan kebudayaan. Bangsa tidak pernah berubah lewat undang-undang, karena undang-undang tidak menyentuh struktur batin. Yang berubah lewat undang-undang hanyalah prosedur. Yang mengubah bangsa adalah pertarungan etika, dan pertarungan itu jarang dimenangkan oleh retorika nasionalisme.

     Untuk menguburkan watak yang membentuk republik ini seperti sedimen yang tak kunjung tererosi, diperlukan sesuatu yang lebih keras dari patriotisme dan lebih dingin dari romansa sejarah. Hal pertama adalah rasa malu. Bukan rasa malu yang sentimentil atau normatif, tetapi rasa malu yang sehat. Jepang modern tidak dibangun oleh kebanggaan, tetapi oleh rasa malu kolektif pascaperang. Jerman tidak menjadi negara demokratis karena seminar kebangsaan, tetapi karena kekalahan moral yang tidak bisa dinegosiasikan. 

     Rasa malu adalah energi moral paling kuat setelah rasa sakit. Kita belum sampai di sana. Yang kita punya baru rasa gengsi, yaitu kebanggaan tanpa prestasi. Gengsi membuat bangsa ingin dilihat hebat tanpa perlu menjadi hebat. Dan bangsa yang hidup dari gengsi tidak akan belajar, karena belajar berarti mengakui kekurangan.

     Hal kedua adalah struktur yang memaksa. Karakter tidak berubah melalui ilham, tetapi melalui kebiasaan yang dipaksa berulang sampai menjadi alamiah. Para sastrawan dan pemikir boleh romantis, tetapi birokrasi modern tidak boleh. Weber sudah memahami hal ini jauh sebelum republik kita lahir: modernitas tidak membutuhkan kesalehan, ia membutuhkan disiplin prosedural. Kita terlalu kaya retorika untuk menjadi disiplin. Selama struktur tidak menghukum keterlambatan, ketidakrapian, dan ketidakmampuan, bangsa ini akan terus ramah terhadap ketidakteraturan. Dan selama ketidakteraturan tidak menyakitkan, ia tidak akan pernah hilang.

     Hal ketiga adalah elit moral. Semua bangsa yang berhasil modern memiliki kelompok kecil yang menjadi penopang etika publik. Mereka bukan elit gelar, bukan elit birokrasi, bukan elit tamu undangan, tetapi elit etika. Di Prusia, mereka lahir dari etos Lutheran. Di Jepang, dari Bushido. Di Perancis, dari kaum republik sekuler pasca 1789. Di Amerika, dari tradisi civic association yang membuat warga biasa belajar mengatur dirinya sendiri. Elit moral bukan mereka yang mengajarkan kebangsaan dari podium, tetapi yang mempraktikkan standar etika tanpa menunggu tepuk tangan. Kita punya elit, tetapi sebagian besar mencari panggung. Itu membuat elit menulari rakyat, bukan mendidik mereka.

     Hal keempat adalah pengalaman kekalahan yang tidak bisa ditertawakan. Ini yang paling sulit, sebab sejarah tidak peduli kenyamanan. Bangsa yang tidak pernah kalah serius tidak punya alasan untuk membenahi dirinya. Kita punya kemampuan luar biasa untuk mengubah tragedi menjadi meme, skandal menjadi talkshow, krisis menjadi roasting, dan kebobrokan menjadi bahan tawa. Humor adalah pelampung yang menyelamatkan dari tenggelam, tetapi pelampung juga membuat orang malas belajar berenang. Pada titik tertentu, bangsa ini membutuhkan kekalahan yang tidak dapat dijadikan lelucon. Kekalahan yang memaksa diam. Kekalahan yang membuat kita berhenti menjadi penonton dan mulai menjadi pelaku.

     Jika kekalahan itu datang, dan sejarah hampir selalu memberi satu kesempatan, tugas terbesar bangsa adalah memastikan bahwa ia tidak belajar pelajaran yang salah. Karena sejarah tidak menjamin hikmah, ia hanya menjamin rasa sakit. Hikmah muncul hanya bila rasa sakit tidak disembunyikan dengan kebanggaan palsu, tidak dilarikan ke dalam mitos nasional, dan tidak diredakan dengan humor. Barulah dua belas watak itu dapat dikuburkan. Dan mungkin untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, bangsa ini bisa berhenti mendandani citra dan mulai membentuk karakter. ( part 4 of 5 )


     Bangsa ini telah lama diceritakan melalui dua belas watak yang disusun Mochtar Lubis. Tetapi waktu tidak pernah membiarkan kaca potret tetap bening. Ia memberi lapisan minyak, debu, dan goresan yang membuat gambar lama harus dibaca ulang. Pertanyaannya bukan lagi apakah dua belas watak itu masih relevan, tetapi bagaimana mereka bertahan di dunia yang kini bergerak di dalam layar.

     Seandainya Lubis hidup di masa ini, barangkali ia menambahkan satu watak baru: watak sebagai penonton. Kita adalah bangsa yang tekun menyimak tanpa merasa perlu terlibat. Kita menonton debat politik sebagai hiburan, skandal sebagai serial, kriminalitas sebagai potongan drama, tragedi sebagai meme, dan korupsi sebagai kabar yang tidak memerlukan kemarahan. Debord akan tersenyum masam bila melihat bahwa masyarakat tontonan kini tidak lagi sekadar gejala Eropa industri, tetapi juga menjadi nadi republik tropis yang ingin tertawa agar tidak perlu bertanya.

     Begitu warga negara berubah menjadi konsumen persepsi, watak bangsa tidak lagi bergerak karena gagasan, melainkan karena rating. Pada titik ini satir paling pahit bukan berasal dari sastrawan, tetapi dari televisi. Dan televisi kini memiliki anak yang jauh lebih kuat, bernama internet.

     Banyak anak muda punya optimisme khas zamannya: internet akan melahirkan generasi kritis, pembelajaran menjadi terbuka, pengetahuan tersedia gratis, dan dunia menjadi lebih egaliter. Realitas memilih tidak sopan. Teknologi tidak pernah menghancurkan karakter sosial—ia memperbesar pembesar suara. Ia memberi panggung kepada kecenderungan yang sebelumnya hanya berdengung di warung kopi dan ruang keluarga. Kini siapa pun bisa tampil seperti profesor Harvard, tanpa harus pernah membaca satu pun catatan kuliahnya. Kapasitas menjadi opsional. Kecepatan menjadi prestise.

     Dua belas watak itu menemukan habitat digital masing-masing. Watak hipokrit berkembang melalui sinyal kebajikan yang hanya perlu diketik, bukan dikerjakan. Watak manipulatif meraih instrumen baru: framing, disinformasi, fabrikasi moral. Watak feodal menemukan bangsawan generasi baru bernama influencer, dengan rakyat jelata bernama follower. Watak fatalistik mendapat ladang konten yang menghibur sekaligus membebaskan diri dari tanggung jawab: semuanya sudah takdir, jadi untuk apa repot memperbaiki. Watak malas intelektual hidup dengan kutipan singkat, video motivasi, dan potongan filosofi instan yang menggantikan pergulatan eksistensial.

     Yang berubah bukan jiwa, melainkan instrumen. Digital memberi ilusi kemajuan tanpa menuntut kedewasaan. Tidak perlu membaca, cukup ringkasan. Tidak perlu argumen, cukup estetika. Tidak perlu memahami, cukup bagikan. Demokrasi kehilangan dimensi deliberatifnya dan berubah menjadi kompetisi narasi. Politik menjadi panggung citra. Neil Postman sudah menggambarkan hal ini sebelum era layar sentuh: kita tidak lagi berdiskusi, kita menghibur diri dengan retorika.

     Era digital juga mempercepat patologi lama: ketidaknyamanan terhadap konflik intelektual. Kita alergi terhadap argumentasi substantif karena takut terlihat congkak atau merasa paling benar. Maka diskusi diganti diplomasi ringan atau saling mengelus ego agar semua tetap nyaman. Di kanvas digital, penyakit itu bermutasi menjadi tribalitas. Orang berkumpul bukan untuk belajar, tetapi untuk menegaskan bahwa kubunya benar dan kubu lain salah. Pertarungan pikiran diganti pertarungan identitas.

     Dari semua mutasi digital, yang paling menarik mungkin adalah kelahiran kultus personal yang terhubung dengan kecepatan cahaya. Politik kita sejak awal tidak pernah sepenuhnya berbasis program, tetapi berbasis figur. Digital membuat figur itu menjelma ikon. Publik tidak mencari pemimpin, mereka mencari idola. Arendt pernah memperingatkan bahwa masyarakat yang berhenti berpikir akan selalu membutuhkan sosok untuk dipuja. Kita sedang mengalami versi teknologinya, dengan produksi ikon moral melalui lighting studio dan optimalisasi kamera.

     Namun dari semua itu, mungkin dampak terdalam digital justru pada hilangnya kesunyian. Kontemplasi membutuhkan ruang tanpa penonton, sedangkan digital membuat setiap detik berpotensi menjadi pertunjukan. Tidak ada martabat tanpa kesunyian, karena perubahan watak lahir dari tafakur, bukan engagement. Dua belas watak itu tidak mungkin diperbaiki di ruang bising; mereka hanya akan semakin flamboyan, semakin keras, dan semakin sulit diredam.

     Jika bangsa ini memang ingin mencari martabatnya, maka ia harus merawat dua hal yang paling berisiko hilang dalam era layar: kemampuan untuk berpikir tanpa penonton, dan keberanian untuk berbuat tanpa applause. Tanpa itu, dua belas watak dan keturunannya akan terus hidup bukan karena kekuatan, tetapi karena kesempatan. ( part 3 of 5 )


Author Name

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.