Inilah Minahasa yang ibukotanya adalah Tondano. Menyongsong perayaan Natal oleh masyarakat Minahasa yang sejatinya sebahagian terbesar adalah pemeluk agama yang disebarkan oleh Nabi Isa a.s benar-benar merupakan fenomena yang sangat menarik bagiku. Mungkin karena selama ini saya melalui suasana Natal di lingkungan yang mayoritas adalah penganut Islam, sehingga hanya sedikit dari nuansa Natal yang menyerempet ke permukaan keseharianku. Namun sungguh sangat berbeda ketika hari demi hari saya habiskan di Tondano.
     Tiga minggu menjelang hari-H itu, suasananya sudah begitu hangat tentang segala sesuatu yang berhubungan dengan simbol-simbol Natal. Hiasan lampu kerlap-kerlip dengan pohon berbentuk kerucut, sudah menghiasi hampir setiap rumah di sepanjang jalan-jalan yang saya lalui. Segala macam kreasi tertuang ke sana. Ornamen-ornamen yang menghias teras, halaman, pagar, gapura, bahkan trotoar dan apa saja, semuanya sangat mudah dikenali adalah sesuatu untuk menyambut perayaan kelahiran sang Nabi.
gambar atas adalah tugu 'monas' nya Tondano yang telah penuh dengan lampu aneka warna yang menyemarakkan suasana menyambut hari Natal.
gambar bawah adalah 'jalan Boulevard' nya Tondano. sepanjang kiri kanan jalan dipasang lampu hias berbentuk salib dan pohon natal warna merah dan  hijau. Beruntung kamera di genggaman saya bisa merekam suasana syahdu malam-malam menjelang hari Natal 2014.
     Ada yang menarik dan agak tidak lazim menurut saya, adalah keriuhan di pemakaman di 24 desember malam. Pemakaman yang terletak di jalan poros Tondano-Tomohon sungguh sangat riuh malam itu. Karenanya saya tertarik untuk singgah ketika melintas disana di malam natal itu. Rupanya di saat itu sangat banyak peziarah  yang mengunjungi makam. Lilin-lilin dinyalakan dan dipasang di atas nisan kuburan yang dikunjungi oleh para kerabat. Lalu doa-doa dipanjatkan.
     Yang tidak kalah menarik tentunya, hamburan kembang api disertai suara mercon yang sahut menyahut yang berasal dari area pemakaman. Rupanya sebahagian peziarah mengekspresikan perasaan mereka (yang saya tidak tau bagaimana membahasakannya) di pemakaman itu dengan keriuhan mercon dan kembang api. Jadilah di kegelapan pekuburan yang syahdu oleh nyala lilin-lilin yang mengantar doa-doa, kemeriahan mercon dan sinar aneka warna kembang api, saling berebut kuasa di tangkapan indera-indera kita.
gambar atas adalah suasana kuburan yang terekam lensa di genggamanku.
jalan-jalan yang ramai, disemarakkan oleh aneka kendaraan hias bernuansa Natal. Penumpangnya pun mengenakan kostum beraneka rupa seperti sedang karnaval.
berkeliling kota sambil berkelompok menggunakan sepeda motor, atau bahkan menggunakan 'bendi' menjadi pemandangan yang lazim. Kendaraan roda empat ditumpangi dengan membiarkan pintu belakang terangkat tinggi sehingga penumpang bisa bersantai bergerombol menikmati kendaraan yang melaju perlahan.
tidak ketinggalan bapak polisi lalulintas dengan penutup kepala 'warna merah putih' menggantikan sementara topi standar seragam sehari-harinya.
     Tiga minggu menyongsong hari Natal adalah hari-hari dimana semarak sambung menyambung menghangatkan semangat masyarakat Minahasa. Tak tampak ada lelah karenanya. Bahkan seakan sedang berlari menuju garis finish, keriuhan yang tercipta seakan support yang memacu semangat untuk meraih kemenangan ketika hari yang dinantikan telah tiba.

     Cabo adalah sebutan atau istilah untuk pakaian bekas yang diperjual belikan di daerah Tondano dan sekitarnya. Sebutan yang tentu saja terdengar sedikit aneh di telinga saya, karena untuk barang yang sama, di daerah Sulawesi Selatan disebut 'cakar'. Barang berupa pakaian bekas yang disesakkan ke dalam karung, untuk kemudian dibongkar dan digelar setiap hari pasar.
     Hari Minggu adalah hari pasar untuk si 'cabo'. Dan untuk Tondano, cabo itu digelar di sekitar pertigaan ujung jalan Tonsea Lama kampung Jawa. Itulah satu-satunya lokasi untuk gelaran dagangan itu. Dari berbagai penjuru Tondano, tukang ojek silih berganti mengantarkan penumpangnya ke tempat ini
inilah pertigaan jalan Tonsea Lama (ke kiri) dan jalan menuju Mesjid Kyai Mojo (menara mesjid terlihat di kejauhan). Halaman rumah di sekitar pertigaan jalan itu menjadi ajang gelaran 'cabo'.
 asyiknya berburu barang yang sesuai dengan kebutuhan. Butuh sedikit tenaga ekstra untuk membongkar tumpukan lalu memilah dengan teliti.
      Dan untuk yang gemar berburu cabo, yang kebetulan berada di sekitar Tondano, maka hari Minggu adalah hari yang dinantikan. Hanya sekali dalam seminggu, destinasi itu ramai menyambut pengunjungnya dari pagi hingga lewat tengah hari. Harga 'ceper' sangat sering meluncur dari mulut para pedagang. Tentu saja 'ceper' maksudnya adalah harga yang sama untuk sekumpulan item yang sama.
      "Ayo mari jo, mari.. jaket 25 ribu ceper.. dipilih-dipilih.. " begitu teriakan pedagang bersahut-sahutan. So, mari jo.. jangan sampai ketinggalan.. :-)

     Di salah satu sudut jalan Walanda Maramis kota Manado, ada satu destinasi yang cukup menarik terutama bagi penikmat kopi. Siang menjelang sore ketika pertama saya menginjakkan kaki di gerbang Jalan Roda, suara hentakan musik elekton langsung menyambut. Semula saya pikir ada warga yang sedang hajatan, malihat banyak motor terparkir rapih di depan gerbang jalan.
     Tetapi saya sama sekali salah. Ketika melangkah lebih dekat, teman seiring menggamit, Inilah Jalan Roda, katanya. Dari arah Walanda Maramis, memasuki gerbang Jalan Roda langsung nampak di sebelah kanan adalah jajaran pertokoan sementara di sebelah kiri adalah jajaran warung kopi. Jalan roda hampir sepenuhnya ditutupi atap sejak mulai melintasi pintu gerbangnya. Karena ini adalah hari Minggu, maka pertokoan tutup. Namun di hari kerja biasa, keriuhannya maksimal oleh aktifitas pertokoan dan aktifitas kedai kopi.
     Kejutan tidak hanya sampai di situ, ternyata jajaran meja kursi di bawah naungan atap Jalan Roda, dipenuhi pengunjung yang menikmati rasa khas kopi ginseng yang terkenal bersama dengan nama Jalan Roda. Musik yang menghentak, siap mengantar alunan suara dari pengunjung yang hendak berbagi keriangan ataupun berbagi nostalgia melalui lagu-lagu yang dinyanyikan.
      kopi ginseng ~ rasanya begitu menggemparkan syaraf-syaraf rasa di lidah saya. Dari tegukan pertama, aku tahu kalau di kesempatan besok hari, harus kembali lagi ke tempat ini untuk menikmati kembali rasa dahsyatnya.
bawah, gerbang Jalan Roda dari arah Walanda Maramis
          Kami mampir ke Cafe Jarod. Di tempat ini, selain kopi ginseng bercampur susu kental, juga ada coklat susu dan kopi coklat. Tidak ketinggalan beberapa jenis jajanan pasar terhidang di lemari pajangan.
     Di sebelah rak berisi kue-kue, juga ada lauk yang yang disiapkan untuk disantap bersama nasi putih. Semua disajikan secara prasmanan. Pilih menu sesuai selera, sesuai volume yang dibutuhkan. Tidak ketinggalan beberapa jenis mie instan turut memperkaya pilihan menu.
sajian lauk di Cafe Jarod.
bawah, susu coklat yang disajikan dengan es - sangat nikmat untuk mengimbangi gerahnya udara kota Manado
saya menyempatkan melihat langsung keterampilan peracik kopi yang saya nikmati.
 dari sinilah suara hentakan musik yang terdengar ketika pertama menjejak gerbang Jalan Roda. Kebetulan letak instalasi sound system dan peralatannya tepat di hadapan cafe Jarod. Beberapa pelantun lagu mendapat aplaus yang hangat ketika nada-nada dan baris syair yang mengalun sempat menyentil gairah dari pengunjung di sepanjang Jalan Roda.
  dengan Pak Hari (topi biru), Pak Yono (topi hitam) dan Jaelani.
     Sajian dan instalasi yang digelar di Jalan Roda, sama sekali tidak bisa dibilang mewah apalagi glamor. Namun denyut keunikan hidup jalan roda yang dimulai dari pukul sembilan pagi hingga pukul tujuh petang, sungguh serasi dengan citarasa kopi ginseng yang begitu menggelitik lidah. Jadi, kita bisa sedikit menyempatkan waktu bila mampir di kota Kawanua, untuk beberapa teguk keistimewaan kopi Jalan Roda.

if You think this article is utilitarian
You may donate little cents for next more exploration

     Setelah sekian lama mendengar gaung yang samar tentang Pusat Pendidikan Lingkungan Hidup Puntondo, maka hasrat melihat langsung gaung samar-samar itu kemudian terjadi di akhir Desember 2013 lalu. Puntondo adalah salah satu destinasi wisata berkonsep pendidikan pelestarian lingkungan yang terletak di sepotong bentangan bibir pantai Kabupaten Takalar Sulawesi Selatan.
     Dari jalan poros Takalar lalu berbelok ke arah kanan, menjangkau Puntondo 'terasa' jauh karena jalan raya yang tidak mulus seratus persen. Beruntung, pemandangan perkampungan yang asri, dan pantai yang indah, menghiasi sepanjang jalan itu menjadi pelipur bosan ketika berlambat-lambat di jalan yang tidak mulus.
     Rombongan kami tiba di gerbang Puntondo sekitar setengah lima sore. Aroma laut berhembus ditimpali lembabnya udara bulan Desember mengiringi lelah sepanjang perjalanan. Di Barat terlihat awan hujan sudah menggelayut berat, menutupi matahari sore yang semakin merah. Dan tidak lama kemudian, hujan mendera dengan lebat, tetapi singkat. Hanya sekitar 20 menit, namun sudah mampu mengusir semua gerah yang menyertai.
     Berbekal ponsel android berjudul cross A27 produksi vendor lokal (katanya, tapi tertulis made in china), saya mencoba mengabadikan spot-spot yang saya rasa penting, yang sebagiannya kemudian saya posting di artikel ini. Menyiasati kualitas kamera yang jauh dari harapan profesional, maka gambar-gambar saya edit kembali untuk sekadar mendapatkan sedikit sentuhan keseimbangan sehingga tidak perlu menganiaya mata kita ketika memandangnya.. :)
     Puntondo yang didesign sebagai destinasi wisata, menerapkan aplikasi pemanfaatan energi alternatif di dalam sistem operasionalnya. Ini saya simpulkan ketika menelisik poster-poster yang dipajang di dalam ruangan seminar yang ada di lokasi ini, sambil bertanya-jawab dengan beberapa kru yang merawat kebersihan properti di sana. Prototype menjaring energi alternatif dipajang dengan tampilan yang mudah dicerna bahkan untuk anak level sekolah dasar. Sayang sekali, karena sajiannya hanya mengulas di bagian kulit pengetahuan lingkungan saja, tanpa disertai sajian data yang lebih dalam sehingga bisa dikaji secara terbuka untuk suatu diskusi yang sedikit lebih serius.
     Melihat prototype langsung yang terpancang di halaman sekitar Puntondo, ada satu unit kincir angin, satu unit solar cell dan satu unit water destillation memanfaatkan energi panas matahari untuk mendapatkan air tawar dari air laut. Di situlah letak sayangnya, karena tidak ada data produktifitas dari masing-masing alat tersebut, setidaknya terhadap konsumsi energi yang digunakan untuk operasional Puntondo.
      Gambar di atas adalah kincir angin pembangkit listrik, solar cell lalu alat destilasi air laut. Sebagai pusat pendidikan lingkungan hidup, sebaiknya bukan hanya menyasar pengunjung selayang pandang dengan informasi pengetahuan umum, tetapi mestinya juga bisa membuka wawasan pengunjung yang lebih kritis dengan data-data ilmiah. Sehingga slogan pelestarian lingkungan bukan hanya menjadi slogan sarat semangat namun miskin argumen data.
     Sebagai contoh saja, berapa kapasitas produksi listrik (perhitugan detail) dari dua sumber (angin dan matahari) yang dimiliki, produktifitas dan efektifitas beserta kendala-kendala sosial budaya yang menyertai. Atau bagaimana daya tampung bunker air tawar sehubungan produksi alat water distillation ditambah tapungan air hujan, rasio daya tampung bunker tersebut terhadap kebutuhan konsumsi air di musim kemarau dan musim hujan, dan banyak fokus-fokus data lainnya yang bisa disajikan empiris. Sekadar catatan, bahwa kehadian kami di musim penghujan itu setidaknya memberi keleluasaan untuk menggunakan air tawar yang selalu sulit bila mengunjungi Puntondo di musim kemarau.
     Bila data-data yang tersaji menjadi lebih lengkap hingga ke hitung-hitungan nilai keekonomian bila mengaplikasikan instalasi energi alternatif itu, disertai kondisi sosio kultur yang ada, makan akan menjadi bahan diskusi yang hangat mengisi malam sambil menikmati nyanyian ombak di teras restoran.
     Salah satu yang menarik dari arsitektur di Puntondo, adalah menerapkan konsep rumah panggung khas Sulawesi Selatan, di tengah rimbunnya pepohonan di kawasan Puntondo. Bila imajinasi kita bisa sedikit melebar, maka akan terasa kita sedang berada di atas perkampungan rumah pohon. Pikiran saya seketika menjadi sedikit konyol, jangan-jangan efek itu yang memang sengaja diharapkan dari design yang ada, sehingga kita bisa flasback menelisik rasa yang terbawa di dalam 'gen' kita tentang suasana ketika kita belum berevolusi secara sempurna menjadi spesies yang seperti sekarang ini.
     Setiap unit bangunan saling terhubung dengan 'path' melayang seperti terlihat di gambar atas. Begitu memasuki ruang informasi dan melintasinya, maka path kayu sudah menunggu, menuju restoran, ruang seminar, atau perpustakaan.. atau akan langsung menuju bungalow dan asrama.
 bagian dalam ruang seminar berbentuk auditorium yang di dinding-dindingnya dipenuhi poster-poster idealisme lingkungan hidup beserta aset yang diaplikasikan di destinasi wisata Puntondo.
     Salah satu spot yang nyaman di tempat ini adalah beranda yang mengelilingi restoran. View yang langsung ke arah laut akan segera memanjakan mata tentang pemandangan laut yang indah. Arsitektur tradisional yang diaplikasikan di semua spot bangunan, juga menjadi penggelitik rasa yang lain di semilir angin laut yang hampir tidak berjeda.
      Pagi berikutnya, saya berkeliling pantai, melihat tanaman bakau dan gerbang cantik yang terbuat dari bambu menuju ke area mengrove. Beberapa gambar saya ambil dari tempat itu, sambil berimaginasi seandainya perawatan dan budidaya di tempat itu bisa lebih intensif. Tentu kenampakannya bisa jauh lebih lebat dari yang ada sekarang ini.
     Hanya jalan berkeliling, menikmati hangatnya matahari pagi. Sayang sekali tidak berkesempatan menyaksikan langsung spot pengembangan rumput laut dan spot terumbu karang seperti yang saya lihat terpajang di poster-poster di ruang seminar kemarin.
Beberapa view dari sudut lain di tepian pantai sekitar Puntondo
 Gambar bawah adalah salah satu fakta tentang buruh tani rumput laut.
Diskusi tentang ekosistem, bukan hanya tentang energi terbarukan dan bagaimana memanfaatkannya, tentang efek rumah kaca dan pemanasan global, apalagi tentang mengejek tentang ketidak pahaman sebahagian besar populasi manusia mengenai ekosistem yang lestari. Tetapi jauh lebih penting adalah bagaimana ekosistem mendukung kesejahteraan manusia secara nyata, bukan dalam hitung-hitungan teori dan statistik, apalagi dalam pepatah-pepatah politis praktis.
     Dan akhirnya, harapan sederhana saya semoga Puntondo bisa tetap eksis di dalam idealisme pelestarian lingkungan yang bisa memberi dampak nyata terhadap kualitas masyarakat sekitarnya. Sesuatu yang pastinya hanya 'bagian kecil' dari rencana awal ketika Puntondo dirintis hingga terealisasi.

     Banyak yang kemudian ikut menyandangkan label El-Clasico di dalam pertarungan klub elitnya di masing-masing kompetisi. Beberapa memang mempunyai cerita latar belakang perseteruan panjang diantara kedua klub. Katakan saja misalnya antara Mancester United dengan Liverpool. Namun beberapa lainnya, ada kesan sekadar memaksakan menempel label klasik untuk klub sepakbolanya. Bahkan laga kesebelasan Indonesia dan Malaysia pun, ada yang dengan santai menyebutnya sebagai laga El-Clasico. Mungkin untuk menambah animo penonton yang ujung-ujungnya menambah keran aliran iklan.
     Namun cetusan label El-Clasico sejatinya lahir dari daratan Andalusia. Di negeri itu, El Clasico bukan sekadar pertarungan 90 menit di lapangan antara Real Madrid melawan Barcelona. Ini adalah pertarungan dua bangsa dalam sebuah negara bernama Spanyol.
     Memang, bayangan kudeta, perlawanan, atau pemberontakan akan selalu membayangi El Clasico. Karena itu pula gaungnya akan selalu lebih tinggi, dinanti, dan diikuti ketimbang laga besar lain, atau derbi sekalipun. Sebab yang klasik sudah tentu punya nilai lebih tinggi.
     Kedua klub memang selalu (dan akan senantiasa) berseberangan karena paham-paham klasik. Real klub ibu kota, Barca pinggiran dan lepas pantai. Real asli Spanyol, Barca kebanyakan imigran. Fans Real menganut paham kanan yang nasionalis, fans Barca memilih kiri dengan etno nasionalis. Dan, tentu saja, Los Blancos jadi wakil kerajaan, sementara Blaugrana sang pemberontak.

“Barcelona adalah senjata dahsyat dari sebuah bangsa tanpa negara,” Manuel Vazquez Montalban.

Bangsa Imigran yang Ingin Merdeka

    Kisah pemberontakan biasanya lahir dari tanah kesengsaraan. Tapi tidak dengan cerita dari Katalunya. Daerah yang berada di pesisir pantai ini sebenarnya lebih maju dan kaya.

     Bahkan ketika belum bersatu dalam Kerajaan Spanyol, Katalunya adalah pusat perdagangan, kebudayaan, dan jalur utama masuk ke Spanyol, dengan banyak saudagar dan kapitalis yang berkuasa di Spanyol berasal dari Barcelona. Tak heran jika mereka merasa lebih dulu tahu tentang dunia luar, ketimbang Madrid yang pusat pemerintahannya di tengah-tengah Spanyol.
     Di pantai Katalunya, imigran-imigran yang tersisih dari negaranya masing-masing diterima dengan baik. Mereka dianggap saudara senasib. Dan pembauran inilah yang menjadikan Katalunya merasa berbeda. Mereka berpikir sebagai bangsa yang harus bebas. Apalagi para awak kapal yang bersandar di pelabuhan kerap membawa cerita indah tentang kemerdekaan negara-negara luar.
     Menjadi pusat perdagangan dan kebudayaan juga membuat Katalunya berpikir bahwa mereka lebih besar dari Spanyol. Apalagi Katalunya selalu berada di bawah pendudukan politik tuan tanah Kastilia yang tinggal di Madrid, meski lebih maju secara ekonomi. Katalunya hanya sapi perah bagi kumpulan orang udik tak berdaya yang duduk-duduk manis di Madrid.

     Keresahan itu lalu dimanfaatkan oleh pengusaha Swiss dan eks kapten FC Basel, Joan Gamper, dengan beberapa ekspatriat Inggris yang doyan sepakbola. Mereka mendoktrin Katalunya bahwa perjuangan mereka bisa disuarakan melalui sepakbola.
     Gamper, yang kemudian meminta dirinya dipanggil “Hans Gamper” agar terasa lebih Spanyol, mendirikan Football Club Barcelona pada 1899. Sang presiden pertama, yang belum move on dari FC Basel itu, lalu memilih warna merah biru klub lamanya untuk dipasang di Barcelona. Berikut pula terkait logo. Gamper menyelipkan logo FC Basel dan logo bendera negara Swiss di dalam logo Barcelona.

     Klub itu kemudian dibalut slogan, “Mes que un club”, atau lebih dari sebuah klub. Tagline itu untuk selalu mengingatkan bahwa Barca bukanlah klub sepak bola biasa dan bahwa Katalunya bukan sekadar daerah biasa. Ada yang diperjuangkan dengan didirikannya klub ini.
     Seorang penulis kontemporer besar di Spanyol, Manuel Vazquez Montalban, dalam novelnya berjudul "Offside", menggambarkan Barca dan Katalunya dengan satu kalimat, "senjata dahsyat dari sebuah bangsa tanpa negara".

     Dengan identitas itulah Barca dan Katalunya terus menunjukkan identitas mereka yang istimewa dan perlahan mengeluarkan hawa memberontak.

     Tapi pemberontakan ini boleh dikatakan setengah-setengah. Sedari dulu Katalunya memang bergaya ingin merdeka dan mengklaim lebih besar ketimbang Spanyol. Namun tak pernah ada usaha serius untuk memberontak, atau katakanlah melakukan perang demi mewujudkan kemerdekaannya sendiri.
     Patut diingat bahwa sebagai kota perdagangan dan industri, selain memiliki buruh, Katalunya juga jadi gudangnya orang kaya yang borjuis. Meski ideologi sosialisme dan anarkisme tumbuh subur disana, Katalunya-pun adalah rumah bersahabat bagi kapitalis yang mengenggam Spanyol.

Pilihan Raja

     Meski hanya setengah-setengah, aura permusuhan dari publik Katalunya tetap sampai pada Kastillia yang menguasai Spanyol. Ditambah lagi saat itu mulai muncul gelagat pemberontakan dari anti monarki. Di bawah kekuasaan Raja Alfonso XIII, para Kastillia juga mencari cara untuk mengatasi para kelompok anti monarki, terutama Katalunya dengan Barcelonanya.
     Mereka mencoba membentuk klub tandingan di Barcelona pada 1900. Klub ini dinamakan Espanyol dengan nama yang diambil dari kata Espana dan Spanyol, demi alasan nasionalisme. Belakangan klub ini malah terlihat jadi blunder. Espanyol yang mewakili Spanyol malah lebih kecil ketimbang Barca yang hanya mewakili Katalunya

     Tak hanya di Barcelona, kerajaan Kastillia juga membentuk klub-klub nasionalis pada beberapa kota. Penggunaan kata Real (Royal, kerajaan), adalah ciri dari klub-klub bentukan mereka.

     Di Madrid yang merupakan kota pusat pemerintahan, kerajaan juga berupaya membuat klub besar untuk menandingi Barcelona. Namun di sana sudah terlanjur berdiri Madrid Football Club yang didirikan Juan Padros pada 1902. Klub ini adalah hasil usaha Padros dalam menyatukan kembali New Foot-Ball de Madrid dan Club Espanol de Madrid yang terpecah dari induknya, Football Club Sky (berdiri 1897).
     Tak perlu berepot-repot lagi mendirikan klub lagi, kerajaan kemudian memilih Madrid FC untuk jadi wakilnya. Tim ini pun diberi subsidi dari kerajaan.
     Selain letaknya di Madrid, Raja Alfonso, memilih klub ini juga karena prestasinya. Salah satunya dengan menjuarai Piala Spanyol 1905. Lebih-lebih mayoritas pemainnya bermain untuk tim nasional kerajaan yang menggunakan nama Royal Spanish Football Federation.

     Raja Alfonso pun lalu memberikan tambahan kata Real (Royal) pada Madrid FC, sehingga namanya berubah menjadi Real Madrid club de Futball pada 1920.

Sempat Di Atas Angin

     Liga pertama di Spanyol pada 1929 kian melecut semangat Katalunya. Saat itu, dari 10 klub peserta, Barcelona dikepung lima klub milik kerajaan. Mereka adalah Real Club Deportivo Espanol, Real Racing Club de Santander, Real Madrid Foot-ball Club Madrid, Real Sociedad de Foot-ball, dan Real Union Club.
     Karena semangat yang tinggi, Barcelona kemudian lolos ujian pertamanya ini. Mereka jadi juara dengan keunggulan dua angka dari Madrid pada akhir musim. Publik Katalunya senang dan bangga, sementara Kastillia gigit jari.
     Setelah merebut dua gelar juara di kompetisi berikutnya, Madrid sempat terpuruk karena berdirinya negara republik demokratis, Segunda Republica Espanola. Kekuasaan King Alfonso pun jatuh, menyusul anti monarki yang memenangkan pemilihan secara mayoritas.

     Sang raja lalu kabur ke luar negeri saat Republik Kedua Spanyol diproklamirkan pada 14 April 1931.

     Pada masa pendudukan Segunda Republica Espanola yang berlangsung hampir delapan tahun ini, Barcelona berada di atas angin. Mereka punya banyak teman senasib untuk benar-benar mewujudkan pemberontakan dan kemerdekaan. Tapi mereka tetap tidak berani menyuarakan kemerdekaan Katalunya sendiri.
     Dengan restu raja, Generalissimo Francisco Franco akhirnya mampu mengembalikan kekuasaan kerajaan pada 1939. Kali ini giliran para pemberontak dibumi-hanguskan. Tak terkecuali Barcelona yang selalu mendengungkan superiotas kebangsaan Katalunya.

Perang saudara di Spanyol pun pecah.

     Sebagai pendukung Real Madrid, Franco juga mengikuti perkembangan sepakbola secara obsesif. Ia juga tahu bahwa Barcelona adalah alat Katalunya. Menurutnya, kesebelasan Barca adalah deretan keempat yang harus disapu bersih dari Spanyol setelah kelompok komunis, anarkis, dan separatis.
     Sebenarnya, Franco bisa saja membunuh semua orang yang berkaitan dengan Barca untuk menyapu bersih segala hal yang berkaitan dengan Katalunya. Namun ia mengurungkan niatnya.

     Alih-alih membumi-hanguskan, Franco lebih berkonsentrasi untuk membunuh semangat perlawanan Barca dan sejarahnya. Seperti saat pengeboman Katalunya pada 16-18 Maret 1938. Yang dihancurkan Franco adalah kantor Barcelona tempat menyimpan piala-piala kesebelasan, bukan Nou Camp.

     Ia tentu saja bisa meratakan Nou Camp, sebagaimana ia bisa melarang publik Katalunya menggunakan bahasa ibunya sendiri. Tapi opsi ini tidak dilakukannya. Franco malah sengaja membuat Nou Camp sebagai tempat publik Katalunya meneriakkan perlawanan. Prinsipnya sederhana. Daripada Katalunya bergerilya di luar, Franco membuat suara-suara pemberontakan itu hanya bergema di dalam stadion.
     Tujuannya jelas, rakyat Katalunya dipaksa hanya menyalurkan kemarahan mereka saat pertandingan berlangsung. Pada tempat yang ditentukan Franco, pada waktu yang disediakan Franco. Perlawanan melalui chant dan bendera khas senyera di dalam stadion, yang merupakan alat pelampiasan amarah penduduk Katalunya, sebenarnya justru alat peredam perlawanan yang paling efektif.

     Dengan dibuat puas bersuara di dalam stadion, penduduk Katalunya justru dibungkam perlawanannya.
     Franco juga tak membubarkan Barcelona. Ia masih bermurah hati dengan hanya meminta klub tersebut mengganti nama dengan menggunakan bahasa Kastillia, Club de Futbal Barcelona.
     Ia juga mengerdilkan sejarah Barca. Pada 1943, dalam semifinal Piala Generalissimo (sekarang Copa Del Rey), ia menebar ancaman hukuman mati kepada Blaugrana. Hasilnya, Real yang menjadi lawan Barca menang fantastis 11-1. Kemenangan yang selalu dijadikan didengungkan Real tentang sejarah.

     Pada akhirnya Franco sukses memadamkan pemberontakan di Spanyol. Segunda Republica Espanola, yang mengungsi ke Meksiko, membubarkan diri pada 1976.
     Namun Franco tak pernah bisa memadamkan semangat perlawanan pendukung Barcelona pada pemerintah dan alatnya, Real Madrid. Sakit hati kepada Real dan Kastillia tetap abadi hingga kini. Tapi, tetap sebatas pertandingan sepakbola dan di dalam Nou Camp.
     Karena sikap yang tak pernah benar-benar mau memberontak itulah, Katalunya paling banter hanya mendapatkan otonomi atau daerah istimewa di Spanyol. Mereka tak pernah benar-benar bebas dan tak pernah benar-benar menuntut. Kemerdekaan dan kebesaran Katalunya hanya ada di dalam stadion.
     Persis seperti yang diinginkan Franco.

     Barcelona pun menjadi semacam Pemberontakan yang Tak Pernah (dibuat) Selesai.

Fajar Rahman - detikSport
Sabtu, 22/03/2014 13:10 WIB

Author Name

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.