Terletak di tengah Gurun Mojave di perbatasan antara California dan Nevada, Death Valley atau lembah kematian - seperti namanya, tidak menunjukkan tanda-tanda kehidupan. Di lembah itu ada dataran Bardwater yang terletak 86 meter di bawah muka laut. Sementara area lainnya bernana Furnace Creek di lembah ini memegang rekor suhu udara terpanas dengan 56,7 derajat Celcius pada 10 Juli 1913.
     Tetapi bukan fenomena kedua tempat itu yang menjadi daya tarik utama Death Valley - terutama untuk para geolog, melainkan suatu tempat di barat laut lembah ini bernana Racetrack Playa. Berbeda dari dataran Bardwater, Racetrack Playa merupakan danau kering yang terletak di ketinggian 1.130 meter di atas permukaan laut. Panjangnya 4,5 km dengan lebar 2 km.
     Para Geolog yang menyambangi Racetrack Playa akan berhadapan denga teka teki yang terpecahkan selama bertahun-tahun. Bagaimana batu dari berbagai ukuran, entah yang beratnya hanya satu dua kilogram atau bahkan dengan berat ratusa kilogram, akan bergerak dengan sendirinya di permukaan danau kering yang sangat datar itu. Lakukan percobaan dengan meletakkan batu dengan ukuran berat berapa saja, lalu kembalilah beberapa tahun kemudian. Batu itu telah bergerak jauh, meninggalkan jejak lintasan dari posisinya yang semula diletakkan. Sepertinya, fenomena tersebut yang juga menjadi dasar memberi nama untuk wilayah ini, 'Racetrack'.
     Pertanyaannya adalah siapa yang menggeser batu-batu tersebut sedemikian jauh, sementara tidak ada jejak air ataupun jejak hembusan angin di sana.? "Semakin lama kalian berada di sana, maka kalian akan merasakan misteri tersebut", kata Alan Van Valkenburg, penjaga di Taman Nasional Death Valley, yang sudah bekerja di tempat itu selama 20 tahun.
     Dua peneliti dari Badan Survei Geologi Amerika Serikat di tahun 1948 menyampaikan hipotesisnya. Mereka menduga tiupan angin dan banjir yang menyebabkan batu-batu itu bergeser. Tetapi tidak ada bukti yang mendukung hipotesis mereka.
     Dua puluh tahun kemudian, Robert Sharp dari California Institute, melacak pergerakan 30 batu di permukaan Racetrack Playa. Setiap tahun dua kali timnya mendatangi tempat itu. Namun mereka selalu gagal mendapatkan jawaban akan fenome batu bergeser itu.
     Pauh Messina, geolog lain dari San Jose State University, memetakan pergerakan batu-batu di danau Death Valley itu menyimpulkan bahwa batu-batu itu tak bergerak paralel, sehingga dugaan bahwa sangat kecil kemungkinannya batu-batu itu bergeser oleh tiupan angin.
     Tahun 2007, Ralph Lorenz, peneliti planet dari John Hopkins University bersama NASA memasang stasiun cuaca di Death Valley. Hipotesis dari tim ini bahwa selama musim dingin, terbentuk lapisan es dan air di sekeliling batuan sehingga batu-batuan tersebut seakan-akan terapung di Recetrack Playa. Batu-batu dalam keadaan terapung itu akan mudah bergeser oleh tiupan angin kencang di Death Valley tersebut. Menurut Lorenz, model hipotesis yang dikemukakannya jauh lebih meyakinkan daripada teori lainnya, karena tidak membutuhkan gaya yang besar untuk menggeser batu di sana yang dalam keadaan terapung.
     "Orang selalu bertanya, apa penyebab batu-batu itu bergeser. Namun masalah sebenarnya adalah, ketika para ahli mencoba membuat penjelasan tentang fenomena tersebut, 'mereka' tidak selalu mendengarkannya," kata Alan.
     Mungkin benar apa yang dikatakan oleh Alan tentang 'orang yang tidak mendengarkan penjelasan' itu. Namun satu sanggahan sederhana sepertinya masih memerlukan jawaban, bila batu-batu itu bergeser oleh karena mereka terapung di atas lapisan es, bagaimana mereka bisa meninggalkan jejak goresan di permukaan tanah? Sepertinya fenomena ini masih tetap merupakan undangan terbuka untuk para geolog di seluruh dunia.
gambar dan data : epaper harian Detik

     Letusan Gunung Toba pada 74 ribu tahun yang lalu merupakan letusan gunung paling dahsyat dalam 2 juta tahun terakhir. Benarkah letusan itu nyaris memusnahkan manusia?

               The bright sun was extinguish'd, and the stars
               Did wander darkling in the eternal space,
               Rayless, and pathless, and the icy earth
               Swung blind and blackening in the moonless air;
               Morn came and went—and came, and brought no day

     Darkness, puisi itu dibuat Lord Gordon Byron, pada Juli 1816, di Jenewa, Swiss. Setahun setelah Gunung Tambora meletus, menyemburkan 50 kilometer kubik abu ke atmosfer, Jenewa, menurut Lord Byron, masih diselimuti gelap sepanjang hari. “Lilin dinyalakan seakan-akan tengah malam,” Lord Byron menuturkan.
     Pada 5 April 1815, Gunung Tambora di Pulau Sumbawa, Nusa Tenggara Barat, mulai menyemburkan lava panas. Tak berapa lama, dentuman kencang bertubi-tubi terdengar hingga jauh. Konon, suara dentuman itu terdengar hingga ke Makassar dan Batavia yang berjarak ratusan kilometer. Ditaksir, letusan Gunung Tambora dua abad silam itu mencapai skala 7 indeks ekplosivitas vulkanik (VEI) dan energinya empat kali lipat dari letusan Gunung Krakatau di Selat Sunda pada 1883.
     Efeknya sungguh dahsyat. “Di sepanjang jalan masih ada beberapa jenazah... Desa-desa rata dengan tanah, dan penduduk yang tersisa bertebaran mencari makan,” Letnan Phillips, melaporkan. Dia ditugaskan oleh Sir Thomas Stamford Raffles, penguasa di Batavia, untuk memeriksa letusan Gunung Tambora.
     Debu tebal yang menutup atmosfer membuat selama setahun nyaris tak ada musim panas di Eropa dan belahan bumi utara. Suhu bumi tahun itu rata-rata turun 0,4-0,7 derajat Celsius. Di mana-mana makanan langka karena tanaman rusak tertimbun debu. Tahun itu adalah sebuah kiamat kecil.
     Beribu-ribu tahun lalu, jauh sebelum Tambora mengamuk, letusan satu gunung di Sumatera Utara membuat bumi seperti “kiamat” selama bertahun-tahun. Konon, gara-gara letusan itu, selama sepuluh tahun bumi mengalami musim dingin, dan selama beberapa abad, temperatur atmosfer bumi mendingin. Itulah letusan gunung paling dahsyat dalam dua juta tahun terakhir. Akibatnya, menurut hipotesis Stanley H. Ambrose, profesor antropologi di Universitas Illinois, Urbana-Champaign, pertumbuhan populasi manusia melambat (population bottleneck). Bahkan ada kemungkinan populasi manusia kala itu berkurang signifikan.
✩✩✩
     Craig A. Chesner, profesor geologi di Universitas Eastern Illinois, menghitung saat Gunung Toba meletus pada sekitar 74.000 tahun silam, menyemburkan material dengan volume 2.800 kilometer kubik. Jumlah material yang disemburkan Gunung Toba hampir dua puluh kali lipat kala Gunung Tambora mengamuk dua abad silam dan hampir 250 kali dari yang dimuntahkan Gunung Krakatau di akhir abad ke-19.
     Ditaksir, letusan Gunung Toba 740 abad silam itu mencapai skala 8 indeks ekplosivitas vulkanik (VEI) dengan kekuatan lebih dari 8 skala magnitude, merusak wilayah seluas 20.000 kilometer persegi. Gas sulfur dan debu yang disemburkan ke lapisan stratosfer, menghalangi matahari, dan membuat suhu permukaan bumi anjlok ratarata 3-5 derajat Celsius. Debu itu terbang hingga ke Afrika, Semenanjung Arab hingga ke utara Laut Cina Selatan. Letusan inilah yang melahirkan danau vulkanik terbesar di dunia, yakni Danau Toba.
     Menurut Stanley Ambrose, selama enam tahun berturut-turut, tak ada musim panas di sebagian besar wilayah dunia. Disusul kemudian, terjadi proses glasialisasi yang melahirkan zaman es selama 1.000 tahun. Sejumlah penelitian penelusuran perkembangan DNA manusia juga membuktikan terjadi genetic bottleneck sekitar tahun meletusnya Gunung Toba.
     “Genetic bottleneck yang bertahan hanya satu generasi tak akan meninggalkan jejak signifikan,” kata Ambrose, beberapa tahun lalu, mengutip penelitian lain. “Karena itu, enam tahun musim dingin mungkin telah menyebabkan anjloknya populasi manusia.”

     Penyokong teori bottleneck ini tak sedikit, tapi tak sedikit pula yang meragukannya. Di antara yang menyangsikan hipotesis Ambrose adalah F.J. Gathorne-Hardy, peneliti di Museum Natural History, London, dan W.E.H. Harcourt Smith, paleontolog dari Museum American Museum of Natural History, New York.
     Dengan meminjam data kerusakan akibat letusan Gunung Krakatau pada 1883, Hardy dan Smith memperkirakan radius kerusakan langsung dari letusan Gunung Toba tak akan lebih dari 350 kilometer. Dia meragukan kesimpulan Ambrose yang menyatakan letusan Gunung Toba bisa jadimembunuh banyak orang di Asia Selatan. Sebab, di Pulau Mentawai saja, yang hanya berjarak sekitar 350 kilometer dari Gunung Toba, populasi beberapa primata endemik di pulau itu relatif tak terganggu. “Jadi kecil kemungkinan, efek kerusakannya mencapai India atau Indochina di utara atau Pulau Jawa di selatan,” Hardy menulis dalam artikelnya.
     Penelitian terbaru oleh tim dari Universitas Oxford, Inggris, membuktikan bahwa debu dari Gunung Toba terbang lebih dari 7.000 kilometer hingga ke Afrika Timur. Christine Lane dan timnya menemukan lapisan tipis abu Gunung Toba ini terkubur puluhan meter di bawah endapan di Danau Malawi.
     Dari penelitian endapan di Danau Malawi, mereka juga membuktikan bahwa tak terjadi penurunan temperatur udara secara dramatis dalam waktu sangat panjang seperti yang diduga Ambrose. “Bisa jadi, lingkungan di sana pulih sangat cepat setelah perubahan atmosfer akibat letusan Gunung Toba,” kata Christine Lane.
✩✩✩
     Selama 1 juta tahun terakhir, paling tidak tiga kali letusan besar terjadi di Gunung Toba. Letusan pertama terjadi sekitar 800 ribu tahun lalu, disusul letusan kedua sekitar 300 ribu tahun kemudian. Yang terakhir dan paling dahsyat terjadi sekitar 74 ribu tahun lampau.
     Menurut hipotesis geolog dari Belanda, Reinout Willem van Bemmelen, yang sangat intensif meneliti gununggunung di Indonesia antara 1930-1940-an, letusan itu membuat sebagian besar magma di perut Gunung Toba terkuras. Karena “perutnya” kosong, maka runtuhlah puncak Gunung Toba, dan menghasilkan kaldera sangat besar. Itulah “bayi” Danau Toba.
     Walaupun sebagian besar material Gunung Toba telah disemburkan, namun menurut Danny Hilman Natawidjaja, geolog dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, masih ada dapur magma di perut Danau Toba sekarang. Volumenya sekitar 30 ribu kubik di kedalaman 10.000 meter. “Tapi kami belum yakin apakah dapur magma itu terisi lava cair atau tidak, atau hanya hidrotermal saja,” kata Danny, pekan lalu.
     Surono, mantan Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana, mengatakan penelitian lokal mengenai Gunung Toba memang sangat minim. “Bagi para peneliti, memang sangat mengasyikkan, tapi bagi sistem mitigasi bencana tidak ada perlunya karena, toh Danau Toba bukan merupakan gunung api aktif yang berpotensi menimbulkan bencana,” kata Surono.
source : Popular Reportase
Majalah Detik no. 96 

     Mari meluncur di jalan raya negeri ini, tetapi dengan komitmen yang berbeda, untuk sehari saja taat seratus persen pada semua rambu dan tata krama berlalu lintas. Maka saya jamin, kita akan segera mendapati pengalaman yang luar biasa, menjadi satu-satunya yang aneh di tengah hiruk pikuk lalu lintas. Nah, cobalah tetap fokus, kuatkan hati menikmati keanehan tersebut.
     Rasa aneh yang sama akan terasa bila kita melangsungkan pergaulan sosial yang tidak disertai nepotisme, tanpa kolusi dan pemakluman praktek korupsi. Sekonyong-konyong semua mata memandang aneh, menyisakan sinis bahwa mungkin kita salah memilih planet untuk bernaung. Dan ups, iya.. ini memang satu tantangan kecil namun memerlukan nyali besar, juga tentu perenungan iman yang dalam.
     Tetapi tunggu dulu, pastinya di dalam benak akan segera bereaksi ketika saya menyinggung tentang perenungan iman yang dalam. Begini.
Bila ada kecelakaan yang menimpa, entah dia itu yang begitu ugal-ugalan melanggar semua rambu lalu lintas, maka di ujung tragedi itu akan ada kalimat, 'bersabarlah, ini cobaan dari Tuhan. ada hikmah di balik kejadian itu'. Nah, kalimat yang sama akan kita jumpai juga, bila tragedi itu menimpa mereka yang dengan tulus selalu sopan dan mematuhi semua rambu lalu lintas.
     Sekarang, mari coba membiaskan ke kondisi tragedi lalu lintas itu ke dalam tragedi sosial kita. Banyak orang yang (dalam teori agama tertentu) sedang mendapat yang manamya 'cobaan - ujian - amanah' bila mendapatkan kelimpahan harta, kelimpahan jabatan bahkan kelimpahan wanita. Basa basi kepura-puraan beriman itu juga akan kita jumpai di kalangan mereka yang hidupnya menderita, kekurangan harta, menjadi jelata yang tertindas yang bahkan untuk menikah secara legal pun tidak sanggup karena ketidakmampuan finansil.
     Sekelompok lain adalah para ahli surga, yang mendapatkan mandat dari langit untuk memporakporandakan kerukunan sosial. Yang tergusur harus segera sadar dan insaf, sekaligus bersabar oleh keterlanjuran anarkisme yang terjadi. Yang menggusur harus lebih konsisten, meregangkan otot untuk disiapkan pada penggusuran selanjutnya.
     Tidak ada yang pernah 'mau' menelisik apakah kelompok pertama itu mendapatkan kelimpahannya dengan cara mengorbankan golongan yang kedua, lalu golongan kedua itu berlarut-larut di dalam kehinaannya karena perilaku kelompok pertama. Kita semua harus bersabar, dengan hikmah yang nanti akan menyertai. Begitu kata kitab-kitab suci. Itu semua cobaan yang diberikan Tuhan, yang akan memurnikan iman kita, untuk tetap tagak di dalam jalan Nya. Kita sedang diuji demi kebaikan kita, demi kemuliaan kita, dan demi-demi lainnya yang cukup panjang barisnya.
     Dia, Tuhan itu, adalah kambing hitam untuk semua perilaku yang kita ciptakan sendiri. Kambing hitam itu adalah pembenar untuk menerima begitu saja semua kondisi kita, untuk semua kesialan yang menimpa kita, sekaligus untuk semua kesewenang-wenangan kita, untuk semua fitnah yang kita ciptakan maupun yang menimpa kita. Lalu kita cukup berpasrah diri dalam kesabaran yang tabah, menanti ajal dengan iming-iming sungai yang berair susu yang di sepanjang tepinya disesaki bidadari-bidadari telanjang yang disiapakan untuk pelampiasan nafsu yang telah dikendalikan sedemikian hebatnya selama di dunia ini.
     Tuhan itu, di hari-hari belakang ini, adalah kambing hitam untuk setiap ketidak pedulian akan apa yang kita dapatkan sekaligus ketidak pedulian kita pada sesama. Kambing hitam untuk setiap pembenaran yang kita ciptakan, di atas kepura-puraan iman

     Era apa lagi ini? Sungguh, biarpun semua literatur di bolak-balik, tidak akan ditemukan era seperti ini. Para pakar sejarahpun belum mengenalnya sampai saat ini. Lalu? Post Meta Litikum*) mengalir dengan sendirinya. Di suatu belahan dunia yang tersusun oleh batu-batu zamrud, membentang di sepanjang ekuator.

     Sekonyong-konyong saja kita terlibat di dalamnya, bergumul, bergelut ngos-ngosan. Di setiap jalan, wajah peradaban Post Meta Litikum akan tergambar dengan gamblang. Dan itu adalah wajah post meta litikum yang kita bicarakan ini.

     Sistim politik yang dianut di era itu, adalah demokrasi yang telah menjelma ke suatu bentuk yang aneh (seperti spesies yang terpapar radioaktif lalu menjelma menjadi alien). Ketika suara mayoritas telah menyepakati suatu aturan, namun tetap saja ada kelompok yang merasa lebih superior sehingga merasa layak untuk mengacak-acak kesepakatan itu. 

     Mahasiswa-mahasiswa sedang belajar begitu banyak macam disiplin ilmu. Tidak terkira, hampir semua ilmu yang ada di dunia ini telah dipelajari. Bahkan ilmu yang ada di langitpun, tidak sedikit yang mendalami dan menguasainya. Ilmu bahasa, budaya, teknik, sains, ekonomi, filsafat, hukum, ilmu santet dan segala macam ilmu lainnya telah tersedia untuk digeluti. Tetapi ketika tiba dalam urusan komunikasi, maka mereka hanya memahami dengan sangat matang, satu bahasa, yaitu bahasa batu. Iya, bahasa batu. Batu akan mudah melayang mengantarkan ekspresi emosi, ekspresi protes, ataupun ekspresi sekadar iseng menjahili.

     Begitu kental dan militan bahasa batu itu, hingga wakil-wakil rakyat maupun para penguasa di negeri itu, menjadi tidak mengerti bahasa tulis maupun bahasa-bahasa yang telah mewakili peradaban manusia yang mulia. Aspirasi atau apapun, bila disampaikan secara terhormat, dalam baris-baris kalimat di atas kertas, hanya akan menjadi pelengkap suatu seremoni. Maka, bahasa batu menjadi bahasa yang efektif.

     Sambil menyusuri jalan-jalan raya, garis dan rambu lalulintas sudah menjadi masa lalu. Lajur kiri dan kanan tidak cukup hanya diberi tanda garis solid dengan cat putih di atas aspal. Di era ini, garis-garis tidak berguna sama sekali. Maka terjadilah, lajur kiri kanan perlu dibatasi menggunakan batu yang diberi nama trotoar. Nasib lampu merah setali tiga uang. Traffic light itu lebih merupakan pajangan di setiap persimpangan, ketimbang menjadi pengatur silih bergantinya arus lalu lintas. Sepertinya sedang dikembangkan sistim tembok yang akan naik turun di setiap persimpangan itu, untuk sebentar lagi menggantikan lampu merah kuning hijau itu.

     Lalu di ujung jalan, kita sampai, berhenti. Kita akan masuk ke bangunan-bangunan batu, menenteng segala sesuatu yang otaknya digerakkan oleh produk dari silicon valley. Iya, rekayasa yang begitu maju bukan hanya merubah bentuk-bentuk asli silikon, litium, germanium ke dalam ukuran-ukuran nano, namun juga mengembangkannya ke dalam fungsi yang begitu spektakular. Batu tulis segenggaman tangan, dua tiga keping akan terselip di tentengan setiap orang.

     Batu-batu tulis itu menjadi semacam magic. Orang yang menggenggamnya bisa tiba-tiba tepekur begitu asyik mempermainkan ular-ularan yang merayap di permukaan batu tulisnya. Lalu tiba-tiba saja ditempelkannya batu itu ke telinganya sambil cekikikan dalam obrolan ngalor ngidul, entah dengan siapa. Ekspresi setiap orang menjadi hampir seragam. Berkonsentrasi pada keping-keping batu di genggamannya, hampir di sepanjang waktu. Syndrom autisme menjadi lumrah.

     Yang sangat mencengangkan di era Post Meta Litikum itu adalah semangat spiritualitas yang membara pada setiap orang. Memang, ada banyak jenis kepercayaan yang berkembang. Dan semua kepercayaan itu akan mengantarkan masing-masing penganutnya, menuju surga dan nirwana. Setidaknya, begitulah janji dari setiap kepercayaan itu.  Hanya saja, semangat yang menggebu itu kemudian kadang menciptakan horor. Ada yang menganggap keyakinan spiritualnya adalah yang paling benar, lalu merasa mendapatkan wahyu dari langit untuk memaksa kelompok lain mengganti keyakinan yang telah dianutnya sejak tujuh turunan yang lalu.

     Begitu riuh rendah kebisingan oleh semangat yang berkobar itu. Di suatu tempat lain, ada kelompok keyakinan yang begitu memaksa bisa memiliki rumah ibadah di tengah-tengah kelompok keyakinan lain. Lalu di bagian lain, ada yang mempunyai Tuhan sedemikian 'tuli' hingga perlu diteriaki dengan raungan loudspeaker bernada sumbang.

     Namun di dalam praktek keseharian, sebenarnya mereka hanya menganut satu paham saja, paham yang seragam membungkus aneka kepercayaan spiritual tadi, yaitu paham pragmatisme yang oportunis. Mencapai hasil dari setiap aktifitas, tanpa perlu dipusingkan bagaimana hasil tersebut dicapai. Semua pancaindera menjadi sedemikian pekanya, untuk memanfaatkan setiap peluang yang menghasilkan keuntungan, sesegera mungkin dan tentu saja semaksimal mungkin. Sepertinya, semua pengakuan spiritual yang ada hanyalah untuk membungkus keseragaman paham ini.

     Kemunafikan**) sudah menjadi naluri, yang melandasi paham pragmatis yang oportunis itu. Namun untuk secara terang-terangan mengakui bahwa kemunafikan telah menjadi way of life, tentu saja merupakan aib. Karenanya berkembanglah begitu pesat beribu macam taktik dan cara sehingga praktek kemunafikan menjadi samar dan buram. Beragam istilah, phrasa, kiasan dan peribahasa dilahirkan, semata untuk memoles perilaku munafik itu. Di dalam setiap hati orang-orang itu sebenarnya telah tumbuh batu-batu egoisme yang ganas, yang akan menghangatkan setiap detak jantungnya. Dan begitulah, era Post Meta Litikum itu bermula, bertumbuh kembang. 

     Era Post Meta Litikum, sebuah era penuh paradoks, di mana kemajuan ilmu pengetahuan berdampingan dengan kemunduran moral dan spiritualitas. Era di mana manusia terjebak dalam pusaran keserakahan dan oportunisme, dan lupa akan nilai-nilai kemanusiaan yang luhur.





*) Post Meta Litikum, bukan istilah resmi di dalam rangkaian perjalanan sejarah umat manusia. Karenanya, Post Meta Litikum bukan merupakan istilah ilmiah, sehingga tidak untuk dijadikan rujukan untuk keperluan penelitian ataupun paper ilmiah. Istilah ini lahir begitu saja sebagai ekspresi sinisme tentang situasi yang digambarkan di dalam artikel di atas.

**) Kemunafikan adalah perwujudan dari sifat munafik. Sifat munafik dicirikan oleh tiga indikator utama, (1) bila berjanji akan ingkar, (2) bila dipercaya akan berkhianat dan (3) bila dititipi amanah, tidak terselenggara  

     Matahari baru saja sedikit condong ke barat. Panasnya masih begitu menyengat menembus topi sampai ke ubun-ubun. Namun suasana lebaran 2013 bersama keluarga yang tersebar di Bellae dan sekitarnya terasa jauh lebih hangat dibanding sengatan matahari siang itu. Keluarga yang secara turun temurun, menghuni kampung Bellae yang eksotis, dikelilingi tower-tower karst yang kokoh. Bellae, secara administratif terletak di kecamatan Minasa Te'ne Kabupaten Pangkajene Kepulauan, Sulawesi Selatan.
     Siang itu, saya bermaksud mengunjungi salah satu situs arkeology yang ada di Bellae, situs 'Leang Camming Kanang'. Menarik mengunjungi situs ini, karena terletak di bukit sebelah timur Bellae yang berhadapan dengan jajaran bukit-bukit karst yang memanjang di sepanjang sisi Utara Bellae. Rupanya, sebahagian terbesar situs uang ada di Bellae itu, terletak di sisi Utara ini.
Lukisan telapak tangan yang terdapat di langit-langit Leang Camming Kanang.
Sarana tangga kayu yang terletak di dasar bukit, sebagai entry point yang membantu pengunjung untuk menjelajah ke setiap sudut gua.
       Bertani menjadi mata pencaharian pokok penduduk Bellae. Hamparan sawah di kaki tower-tower karst, menyajikan pemandangan yang begitu indah. Sungguh menjadi suatu suguhan yang mengenyangkan mata, menyaksikan komposisi pahatan alami yang menawan.
 hamparan padi yang menguning begitu menyejukkan kaki bukit dan tower karst yang mengelilingi Bellae.
 beberapa sisa batu kapur yang lebih resisten, tertinggal menghiasi hamparan sawah yang datar.
 kegiatan setelah panen (gambar diambil saat panen setahun yang lalu).
bernasnya padi Bellae.
      Tanaman keras yang cukup menonjol dalam sekilas pandangan mata adalah kelapa dan lontar. Dua jenis palma itu memberi aksen tersendiri di tengah lukisan alam yang mewarnai Bellae.
 
 bercengkerama di teras rumah panggung, dalam hangatnya silaturahmi dengan masyarakat Bellae menjadi semakin asyik oleh indahnya hamparan pahatan alam Bellae.
 hamparan sawah yang menguning di Bellae. View dari mulut gua Leang Camming Kanang
     Dan jalan-jalan siang hingga sore itu betul-betul membuat mata kenyang menikmati keindahan alam Bellae. Beberapa situs lainnya, yang tersebar banyak di sisi Utara Bellae, sudah menunggu kesempatan lain untuk dikunjungi. View dari sudut yang lainnya, pastinya menjanjikan sajian keindahan yang lebih menawan.

     Kesal sungguh hati Utoh Berahim. Kehilangan alat-alat pertukangan yang selama ini selalu menemaninya dalam mencari nafkah hidupnya sehari-hari, membuat ia merasa seperti orang yang kehilangan sepasang tangan saja. Alat-alat itu begitu dibutuhkannya, karena tanpa benda-benda itu dia tak dapat bekerja dan tak bisa menerima upahan dari orang-orang yang membutuhkan keahliannya dalam membuat rumah.
     Telah tiga hari lebih ia mencari alat-alat pertukangannya itu di mana-mana, sampai-sampai seluruh isi rumahnya terobrak-abrik. Tetapi sampai letih ia mencari, alat-alat itu tidak juga berhasil ditemukannya. Bagaikan telah raib saja dari rumahnya.
     Sebagai seorang 'utoh', panggilan untuk seseorang yang mahir dan ahli dalam soal membuat rumah di daerah Aceh, Utoh Berahim benar-benar merasa kesal dengan kehilangan benda-benda itu. Sudah dapat dipastikan, selama ia tak memiliki alat-alat pertukangannya itu, dia tak akan mampu dan tak dapat bekerja. Hal inilah yang membuatnya menjadi kesal setengah mati. Mau rasanya ia marah, tetapi kepada siapa? Karena yang menimpan peti alat-alat pertukangannya itu adalah istrinya Halimah, yang baru sebulan meninggalkannya dan dua anak mereka yang masih kecil, bernama Usman dan Latif.
     Dan kematian Halimah selalu membuat Utoh Berahim menggeram ketika setiap kali ia mengingatnya.
     Halimah mati secara tidak wajar. Mati karena kena tenung. Ditenung oleh orang-orang yang tak diketahui entah siapa. Tetapi Utoh Berahim yakin, bahwa istrinya ditenung oleh utoh-utoh lain yang merasa tersaingi olehnya dalam hal membuat rumah. Karena dia sangat laris dan selalu mau menerima ongkos yang lebih murah sedikit dan rumah-rumah buatannya pun agak lebih baik dan bagus bila dibandingkan dengan hasil karya utoh-utoh lain.
     Maka mereka melakukan hal itu terhadap keluarganya. Sebenarnya yang menjadi sasaran usaha mereka itu adalah dirinya. Tetapi, entah bagaimana, ternyata yang kena Halimah, istrinya.
     Namun beitu ia tak tahu dengan pasti, siapa orangnya yang telah melakukan perbuatan terkutuk itu terhadap istrinya yang begitu dicintainya. Kalau saja ia tahu, mau rasanya ia membunuh orang keparat itu dengan rencongnya.
     Utoh Berahim menghela napasnya panjang-panjang. Rasa marah dan kesal mengitari dirinya kala ia mengingat semua itu. Dan yang membuat ia betul-betul kesal adalah alat-alat pertukangannya yang telah hilang entah ke mana, yang hingga kini belum juga berhasil ditemuinya.
     Kemudian Utoh Berahim mengambil sebatang rokok dan segera menyulutnya dengan korek api. Asap rokok yang segera memnuhi seluruh rongga dadanya, membuat rasa kesal di dalam dirinya hilang dengan perlahan-lahan, dan kemudian membuat ia menjadi tenang kembali.
     Akhirnya Utoh Berahim memutuskan untuk melupakan saja alat-alat pertukangan yang telah hilang itu, dengan harapan akan ada orang yang berbaik hati kepadanya dengan meminjaminya sejumlah uang, agar ia dapat membeli seperangkat alat-alat beru untuk keperluan utohnya.
     Magri baru saja berlalu. Kelamnya malam karena bulan masih sekecil sabit, membuat suasana di sekitar Utoh Berahim menjadi gelap gulita. Angin yang berhembus kencang menimbulkan suara yang gemuruh, karena sang bayu bergalau dengan ayunan dahan-dahan kayu yang berdaun rindang yang tumbuh dengan liarnya di kampung itu.
     Usman dan Latif telah berangkat tidur ke kamar mereka dengan ditemani oleh ibu Utoh Berahim. Maka tinggallah Utoh berahim sendiri dalam kesunyian yang terasa merambat hatinya di balai-balai rumah.
     Karena malam belum larut, Utoh Berahim memutuskan untuk pergi ke Meunasah (suatu bangunan ruah yang bertiang tinggi tempat orang-orang kampung berkumpul untuk mengadakan rapat, musyawarah, dan bermacam-macam lagi keperluan sosial masyarakat kampung), untuk sekedar menghibur dirinya dengan mengobrol bersama orang-orang sekampungnya.
     Tak banyak orang yang ditemuinya di sana. Suar beberapa orang anak-anak yang sedang mengaji di atas meunasah, membuat keheningan malam terasa pecah. Hanya beberapa orang saja laki-laki dewasa duduk di pojok meunasah yang dilihat Utoh Berahim.
     Di balai-balai meunasah, Utoh Berahim melihat Toke Suman, seorang laki-laki berumur limapuluhan bekas pedagang keliling di kampung itu, duduk sendiri dalam keremangan cahaya lampu teplok yang dipergunakan untuk menerangi anak-anak mengaji di atas meunasah. Laki-laki itu sedang melenting sebatang rokok daun nipah ketika Utoh Berahim berjalan ke tempat duduk orang itu.
     Setelah memberi salam, ia segera duduk di sampingnya. Kemudian kedua orang sekampung itu pun tenggelam dalam percakapan yang cukup mengasyikkan. Percakapan itu kadang-kadang mereka selingi dengan tawa terbahak yang tertahan, karena takut akan mengganggu anak-anak yang sedang mengaji di atas sana.
      "Ah, kebetulan sekali Utoh Berahim," kata Toke Suman tiba-tiba mengalihkan percakapan mereka yang tak tentu arah tujuannya itu.
     "Aku ada rencana untuk memperbaiki dinding rumahku yang sebelah barat. Dinding itu ingin kuganti dengan papan baru, karena papan yang lama telah sangat lapuk. Kapan kira-kira kamu punya waktu untuk menggantinya?"
     Utoh Berahim menariknapas panjang ketika mendengar tawaran Toke Suman itu. "Aku tak dapat bekerja lagi, Toke Suman," katanya kemudian. "Alat-alat pertukanganku hilang dari rumahku. Tak tahu aku entah di mana alat-alat itu disimpan oleh istriku."
     "Kasihan sekali kamu, Utoh Berahim," kata Toke Suman mendengar jawaban dari Utoh Berahim, "Tetapi, masakan bisa hilang begitu saja dari rumahmu. Berdusta kamu barangkali ya? Mungkin kamu lagi malas bekerja, ya Utoh?"
     "Aku tidak berbohong, Toke Suman. Lagi pula apa gunanya aku membohongimu. Bukankah kamu akan membayarku?" kata Utoh Berahim, membantah tuduhan Toke Suman.
     Toke Suman terdiam sejenak mendengar kata-kata Utoh Berahim. Dahinya berkerut, seperti ada sesuatu yang sedang dipikirkannya. Setelah agak lama merenung, kemudian Toke Suman menatap wajah Utoh Berahim dengan tatapan yang serius. Lalu ia berkata, "Mengapa tak kau tanyakan saja kepada istrimu di mana ia menyimpan alat-alat keperluanmu itu?"
     "Apa? Bertanya pada istriku yang telah mati itu?" tanya Utoh Berahim, sambil tertawa terbahak-bahak, sehingga beberapa orang laki-laki yang duduk di pojok meunasah, serta beberapa orang anak-anak yang sedang asyik mengaji, menoleh ke arah mereka duduk.
     "Sudah gila agaknya kamu, Toke Suman. Masak aku kau suruh bertanya kepada orang yang telah lama meninggal. Ada-ada saja humormu ini. Sungguh menggelikan."
     "Jangan tertawa dulu, Utoh," kata Toke Suman semakin serius.
     "Kalau kamu mau dan berani melakukan apa yang kuajarkan kepadamu, kamu akan dapat berbicara langsung dengan mendiang istrimu yang telah mati itu."
     "Apa katamu? Kau punya cara supaya aku bisa bertemu dengan roh istriku?" tanya Utoh Berahim lagi, sambil masih tertawa karena tak percaya kepada kata-kata Toke Suman itu.
     Toke Suman menganggukkan kepalanya dengan yakin. "Syarat yang pertama, kamu harus berani. Sedangkan syarat-syarat lain sangat gampang dan mudah. Bagaimana, Utoh? Ada minat untuk mencobanya?"
     Utoh Berahim menjadi terpaku mendengar pertanyaan Toke Suman. Ia menjadi ragu-ragu kini. Benarkah ada cara untuk melakukan hal-hal yang sedemikian itu? Timbul pertanyaan dalam hatinya. Lalu ia mencoba memikirkan tentang persoalan itu, tentang tawran Toke Suman tadi. Kemudian, setelah berpikir masak-masak, akhirnya Utoh Berahim memutuskan untuk menerima tawaran Toke Suman. Siapa tahu, mungkin dengan cara yang akan dikatakan oleh Toke Suman kepadanya, ia bisa mendapatkankembali alat-alat yang sangat dibutuhkannya itu.
     "Baiklah," kata Utoh Berahim kemudian.
     "Coba katakan, apa yang harus kulakukan supaya aku bisa bertanya kepada istriku, agar alat-alat itu dapat kutemukan kembali."
     Toke Suman kemudian menuturkan suatu cara kepada Utoh Berahim, agar laki-laki itu dapat langsung bertemu dengan roh istrinya. Tak lupa pula ia mengajar Utoh Berahim dengan beberapa doa dan mantera yang diperlukan dalam melaksanakan pekerjaan itu. Dengan penuh perhatian Utoh Berahim mendengarkan semua penjelasan Toke Suman.
     "Nah, Utoh, itulah cara-cara yang harus kau lakukan," kata Toke Suman, setelah ia menjelaskna semuanya.
     "Jika semua syarat-syarat itu kau lakukan, kujamin kamu akan berhasil menjumpai istrimu."
     "Jadi aku harus melakukannya dengan telanjang bulat?" tanya Utoh Berahim, yang kini telah tertarik dengan penuturan Toke Suman.
     "Ya! Tetapi ingat, Utoh Berahim. Jangan ada sehelai benangpun yang tetinggal di tubuhmu. Atau, akan sia-sia saja usahamu itu!" kakta Toke Suman, memperingatkan.
     "Tidak. Aku akan mengingat semua petunjukmu itu baik-baik."  sahut Utoh Berahim penuh semangat.
     "Malam besok aku akan melakukan pekerjaan itu."
     "Semoga kau berhasil, Utoh Berahim," kata Toke Suman sambil tersenyum, karena Utoh Berahim telah mempercayai kata-katanya.
     "Moga-moga begitulah hendaknya," balas Utoh Berahim.
     Setelah tak ada lagi ang mereka bicarakan, kedua laki-laki itu kemudian meninggalkan meunasah, untuk kembali ke rumah mereka masing-masing.
     Sesampainya di rumahnya, Utoh Berahim tak langsung pergi tidur. Ia masih ingin duduk di balai-balai rumahnya, sambil kepalanya megingat-ingat, agar semua yang dikatakan Toke Suman di meunasah tadi jangan sampai terlupakan. Dan semuanya terhapal sudah di kapalanya. Tak satu pun yang tertinggal di ingatannya.
     Ketika malam telah larut benar, Utoh Berahim masuk ke kamarnya untuk tidur. Dan, dalam tidurnya itu, Utoh Berahim bermimpi. Mimpi didatangi oleh roh istrinya..

     Bulan sabit telah sejak tadi menghilang di balik gunung kembar, Seulawah Agam dan Seulawah Dara. Suasana malam tadinya agak terang dengan adanya cahaya dari bulan sabit, serta dibantu oleh kelap-kelipnya bintang yang jauh di cakrewala sana, kini telah menggelap dan jadi mengerikan.
     Suara binatang malam yang terdengar sahut menyahut, dan raungan anjing yang melolong panjang yang terdengar sayup-sayup dari kampung di kaki bukit sana, membuat malam itu bagaikan malam iblis-iblis dan setan sedang bergembira ria dalam pesta pranya. Benar-benar malam yang mengerikan.
     Tetapi, Utoh Berahim yang ketika itu sedang berjalan di udara terbuka dengan sebuah tekad di dadanya, tidak takut dengan suasana yang demikian itu. Dengan pasti ia mengayunkan langkahnyaa, mengarungi sawah-sawah yang baru saja ditanami dengan bibit-bibit padi baru. Dengan hati-hati dan tanpa bersuara ia berjalan di atas pematang sawah yang becek dan licin. Telah beberapa kali kakinya terpeleset dan membuat ia jatuh bangun. Namun begitu ia tetap tak peduli. Dia terus berjalan di dalam kegelapan malam menuju ke suatu tempat, ke kompleks pekuburan orang-orang kampungnya, termasuk istrinya Halimah.
     Tak lama kemudian Utoh Berahim telah berada di sepetak sawah yang tak dapat lagi ditanami denagn padi, karena sudah sejak lama air tak dapat mencapai permukaan sawah itu, sebab letaknya gak tinggi dari sawah-sawah yang lain. Hanya rerumputan tebal saja yang memenuhi sawah yang bertanah keras dan liat itu. Ia menghentikan langkahnya di tanah yang jarang ditumbuhi oleh rumput.
     Matanya yang tajam dan masih berfungsi dengan baik, menatap ke depan, ke sebuah kebun luas yang ditumbuhi oleh pohon-pohon raksasa, yang terletak tak jauh di hadapannya. Begitu matanya secara samar-samar dapat melihat pekuburan itu, Utoh Berahim meresa bulu kuduknya berdiri tiba-tiba. Bermacam-macam perasaan menggelutinya. Rasa takut kini menggodanya.
     Benar-benar angker tempat itu dalam kegelapan yang merata, sehingga membuat Utoh Berahim hampir saja mengurungkan niatnya. Tetapi, tekadnya untuk dapat memiliki alat-alat pertukangannya kembali, membuat ia sanggup bertahan dan berhasil mengusir kengeriannya.
     Ia memejamkan matanya sejenak disertai dengan komat-kamit mulutnya membaca beberapa mantera. Setelah itu tak aa lagi perasaan takut dalam dirinya. Lalu tanpa menghiraukan apa-apa lagi, Utoh Berahim segera membuka semua pakaiannya, hingga tak satu pun benda yang tertinggal di tubuhnya. Ia menumpuk pakaiannya di atas rumput tak jauh dari tempatnya berada.
     Kini Utoh Berahim telah telanjang bulat di udara terbuka. Tubhnya terasa menggigil ketika ia mulai bersila di tanah sawah yang jarang ditumbuhi rerumputan, untk bersemadi. Ia menghadap ke arah timur, ke arah kompleks kuburan itu.
     Utoh Berahim kemudian memejamkan matanya dan mulutnya mulai komat-kamit membaca mantera yang akan membuatnya dapat melihat roh-roh orang mati yang akan keluar dari kuburannya di waktu malam.
     Denagn khusyuk dan tak peduli pada dinginnya angin malam yang terasa menusuk tulang belulangnya, Utoh Berahim terus membaca mantera-mantera yang diajarkan Toke Suman kepadanya. Kira-kira lima belas menit lamanya ia bersemadi, dan mengulangi membaca mantera-mantera itu sebanyak tiga kali, selesailah sudah semuanya.
     Ia membuka matanya dan langsung memandang dengan tajam ke kompleks kuburan di hadapannya.
     Berkat mantera yang dibacanya tadi, kini penglihatan Utoh Berahim menjadi terang. Ia telah mampu melihat ke dalam gelap, bagaikan ia melihat dengan mempergunakan senter saja. Ternyata apa yang dikatakan oleh Toke Suman telah terbukti. Hanya saja ia harus menanti perkembangan selanjutnya dengan hati yang berdebar-debar. Matanya tiba-tiba melihat bayangan yang bergerak berasal dari pekuburan itu.
     Ketika diperhatikan dengan cermat, ternyata bayangan tadi berasal dari tubuh dua orang wanita yang baru saja keluar dari tempat itu. Kedua wanita itu dilihatnya bergerak tanpa berkata-kata, dan tak peduli sama sekali kepadanya yang melongo dan terkejut atas kemunculan mereka.
     Utoh Berahim tahu dan yakin benar, bahwa kedua wanita itu adalah burong-burong yang selalu keluar malam dan sering mengganggu wargakampungnya selama ini. Tetapi anehnya, Utoh Berahim yang terkenal penakut selama ini, ketika melihat kedua burong itu, tidak merasa takut lagi. BAhkan dengan berani ia menegur kedua burong yang memang mirip dan menyerupai manusia biasa itu.
     "Hai, adakah istriku Halimah di antara kalian?" tanyanya dengan suara lantang dan keras.
     Kedua burong itu berhenti berjalan, dan menatap Utoh Berahim yang duduk bersila tak jauh di depan mereka.
     "Dia masih di belakang," jawab salah seorng di antara burong itu.
     "Mari ikut kami ke kampung itu."
     "Pergilah kalian duluan," kata Utoh Berahim menolak ajakan mereka.
     "Aku harus menunggu istriku di sini." Kedua burong itu kemudian berlalu dan menghilang dari pandangan Utoh Berahim.
     Tak lama kemudian dari kompleks kuburan itu muncul lagi tiga orang perempuan. Bentuk dan keadaan mereka sama juga dengan kedua burong yang telah pergi tadi.
     Kembali Utoh Berahim bertanya tentang Halimah kepada ketiga burong yang baru keluar itu. Mereka juga menjawab, bahwa istrinya masih berada di belakang. Dan mereka juga mengajak untuk mengikuti mereka menuju ke kampung sana. Utoh Berahim kembali menolak ajakan itu, karena ia harus menunggu istrinya.
     Setelah tiga burong itu menghilang dari hadapannya, muncul lagi dua orang perempuan dari kompleks kuburan itu.
     "Hai! Adkah Halimah di situ?" tanya Utoh Berahim, begitu ia melihat kemunculan kedua makhluk itu.
     "Ya. Aku ada di sini," terdengar sahutan dari salah seorang burong itu. Berdebar seketika hati Utoh Berahim kala ia mendengar jawaban itu. Benar! Itu adalah suara mendiang istrinya Halimah. Ia ingat benar suara itu. Suara yang takkan pernah dilupakannya.
     Tanpa rasa takut sedikit pun, Utoh Berahim segera berdiri dari duduknya. Kedua burong itu telah berada di hadapannya, sambil menatapnya dengan pandangan mata yang kosong.
     Utoh Berahim memperhatikan Halimah dengan teliti. Halimah memakai pakaian seperti pakaian yang pernah dipakainya ketika ia masih hidup dulu. Tak berbeda sedikit pun. Seperti orang biasa saja layaknya. Hanya pandangan matanya saja yang terasa menakutkan bila dilihat lama-lama. Mata itu tampak kosong tak bergairah, walaupun ada cahaya yang berbinar-binar di dalamnya. Demikian juga dengan keadaan burong yang seorang lagi. Tak banyak berbeda dengan Halimah. Ketika ia menatapnya, mata itu juga kosong tak bergairah. Mata orang mati.
     "Ada keperlua apa kamu menungguku di sini?" tanya Halimah tiba-tiba. Suara itu terdengar mendesis di telinga Utoh Berahim.
     "Anu, aku ingin bertanya di mana kamu menyimpan alat-alat pertukanganku," jawab Utoh Berahim penuh harap.
     "Aku menyimpannya di kandang ayam tua, yang terletak di belakang rumah kita," sahut Halimah menerangkan.
     Kandang ayam tua!
     Terbuka pikiran Utoh Berahim kala ia mendengar jawaban dari roh Halimah. Sungguh, tempat itulah yang tak pernah diperiksanya selama ia mencari alat-alatnya itu. Hati Utoh Berahim menjadi senang sekali, karena ia telah mengetahui di mana tempat penyimpanan alat-alat pertukangan yang sangat dibutuhkannya itu.
     "Mari ikut aku ke kampung itu," ajak Halimah kemudian.
     "Ada apa di sana?" tanya Utoh Berahim ingin tahu dan merasa tertarik dengan ajakan itu.
     "Ikut saja kami. Kamu akan tahu sendiri nanti. Tetapi ingat, jangan sekali-kali kau berkata-kata atau bertanya-tanya, jika kau melihat apa yang akan kami lakukan di sana nanti!" sahut Halimah memperingatkan Utoh Berahim.
     Karena rasa ingin tahu yang memuncak, Utoh Berahim memutuskan untuk mengikuti burong-burong itu. Lalu ia berjalan tanpa berkata-kata di belakang kedua burong itu.
     Tak lama berjalan, mereka telah berada di sebuah kampung yang bernama Alue. Alue adalah kampung tetangga dari kampung Utoh Berahim. Lolongan anjing yang menyambut kedatangan burong-burong itu semakin nyata terdengar. Merintih mengerikan.
     Di depan sebuah rumah yang gelap karena terlindung oleh dahan-dahan kayu yang berdaun lebat, burong-burong itu menghentikan langkah mereka. Halimah lalu menoleh kepada Utoh Berahim.
     "Mari kita naik ke atas," ajaknya.
     "Teteapi ingat, jangan bersuara sedikitpun!"
     Dengan rasa heran dan patuh, Utoh Berahim mengangguk. Halimah memegang tangannya. Tangan itu terasa dingin.
     Dan entah bagaimana, Utoh Berahim tiba-tiba telah berada di dalam rumah itu, di sebuah kamar yang hanya diterangioleh sebuah lampu duduk yang redup cahayanya.
     Di sana ia melihat seorang wanita yang sedang hamil tua, terbaring tak berdaya di atas sebuah tilam yang lusuh dan kotor. Wanita itu sedang sakit. Wajahnya yang pucat pasi, serta matanya yang cekung terpejam rapat, membuat Utoh Berahim merasa iba.
     Karena menyadari dirinya masih berada dalam keadaan telanjang tanpa sehelai kanpun, Utoh Berahim segera bersembunyi di balik sebuah lemari tua, yang terletak di sudut kamar dan agak terlindung dari cahaya lampu, untuk menyaksikan apa yang akan diperbuat oleh Halimah dan burong temannya. Ternyata di kamar itu telah hadir juga kelima burong yang dijumpai Utoh Berahim di pekuburan tadi.
     Ketujuh burong itu, termasuk Halimah, segera mengelilingi perempuan hamil yang sedang sakit itu. Mereka mulai menyiksa perempuan itu. Burong-burong itu menarik rambut perempuan itu kuat-kuat, mencakar seluruh tubuh yang tak berdaya itu, dan ada juga yang menggigit perutnya dengan gigi-gigi mereka yang runcing dan tajam-tajam, sehingga membuat perempuan sakit itu menjerit-jerit dan menggeliat kesakitan. Suara jeritan itu terdengar sayup-sayup, karena perempuan itu telah sangat lemah. Ketujuh burong itu tertawa terkikik melihat penderitaan perempuan yang sakit itu.
     Suara tawa itu hanya dapat terdengar di telinga Utoh Berahim. Sedangkan perempuan itu tak dapat mendengarkannya, apalagi untuk melihat para penyiksanya. Hanya jeritan tertahan serta rintihan kesakitan yang mempu dilakukannya. Bahkan ia tak tahu sama sekali, bahwa burong tujohlah yang sedang menyiksanya.
     Seorang perempuan tua muncul di kamar itu. Dengan wajah letih dan tergopoh-gopoh, ia segera mendekati perempuan sakit yang ternyata adalah anaknya sendiri itu. Lalu dengan penuh kasih sayang, ia memijit-mijit sekujur tubuh anaknya yang sedang merintih kesakitan itu. Dari mata perempuan itu, menitik air bening yang segera membasahi pipinya yang telah banyak keriputnya. Tak tahan ia menyaksikan penderitaan yang dialami oleh anaknya itu.
     Utoh Berahim yang sedang menyaksikan semua perbuatan burong-burong itu, menjadi takut bukan kepalang. Sekujur tubuhnya gemetar, dan keringat dingin terasa membasahi tubuhnya.
     Ketujuh burong itu semakin mengganas. Mereka berpesta pora menyiksa korbannya. Berebutan mereka menarik-narik seluruh tubuh wanita yang telah keletihan itu. Napas perempuan sakit itu tinggal satu-satu, dan harapan untukhidup bagi wanitanya hanya tinggal sedikit saja. Itu terbukti dari matanya yang sedang membelalak tanpa cahaya.
     Utoh Berahim menjadi tak sanggup dan tak tahan melihat perlakuan vurong-vurong itu. Rasa iba, maran dan ketakutan berbaur di dalam dirinya. Ia segera mengambil keputusan.
     "Hentikan!" teriaknya. "Hentikan perbuatan terkutuk itu! Aku tak tahan melihatnya!"
     Aneh sungguh.
     Begitu kata-kata itu keluar dari mulut Utoh Berahim yang sedang bersembunyi di balik lemari tua, keadaan yang sedang berlangsung di kamar itu segera berubah dengan cepat.
     Ketujuh burong itu seperti kena cambuk. Tubuh mereka segera terpental ke belakang, bagaikan ada sesuatu kekuatan yang sangat kuat yang menerpa mereka. Mereka menjerit kesakitan. Dan denga wajah yang semakin mengerikan serta ketakutan, ketujuh burong itu segera berlalu dari kamar itu. Mereka raib di sana. HIlang tak berbekas.
     Perempuan itu terkejut bukan main ketika mendengar suara laki-laki asing yang berasal dari balik lemari tua milik anaknya yang sakit itu.
     "Siapa di situ?" tanyanya dengan suara yang parau dan ketakutan. Perempuan tua itu kemudian membuka mulutnya lebar-lebar, untuk berteriak minta tolong. Ia menyangka ada maling yang bersembunyi di situ. Tetapi Utoh Berahim segera mencegahnya.
     "Jangan teriak, Bu," katanya epat.
     "Aku Utoh Berahim dari Kampung Langien. Aku baru saja menyelamatkan anakmu dari kematiannya. Lemparkan selembar kain ke padaku, nanti akan kuceritakan apa yang telah terjadi terhadap diriku, sehingga kau bisa berada di sini."
     Mendengar kata-kata dari balik lemari itu, perempuan tua itu merasa ragu-ragu. Setelah berhasil melawan keraguan di dalam hatinya barulah ia mengambil selembar kain sarung tua, dan segera melemparkan kain itu ke dekat lemari.
     Utoh Berahim segera mengambil kain itu. Setelah memakainya ia segera keluar dari tempat persembunyiannya. Perempuan tua itu mengawasinya dengan seksama. Dan hatinya menjadi lega ketika melihat laki-laki yang keluar dari balik lemari benar-benar Utoh Berahim yang dikenalnya.
     Utoh Berahim segera mendekati perempuan sakit itu. Ia tidak mengerang lagi, karena tak ada lagi yang menyiksanya. Hanya saja, rasa letih sangat jelas terpancar dari wajahnya yang memucat kekurang darah.
     Ia menyuruh perempuan tua itu untuk mengambil segelas air dan langsung memberikannya kepada perempuan sakit itu. Walaupan agak lama, si sakit berhasil menghabiskan semuanya. SEtlah itu, ia lalu tertidur dengan nyenyaknya.
     Utoh Berahim kemudian menuturkan pengalamannya kepada perempuan tua itu. Ia mendengar pengalaman Utoh Berahim itu dengan penuh perhatian. Dan ia pun tidak membantah cerita laki-laki itu karena memang ia percaya, bahwa selama ini anaknya selalu mendapat gangguan dari burong tujoh yang menakutkan.
     Setelah selesai menuturkan pengalamannya, Utoh Berahim kemudian minta diri kepada wanita tua itu. Dengan meminjam kain sarung yang dipakainya, karena tak mungkin ia pulang ke rumahnya dengan bertelanjang bulat.
     Ketika Utoh Berahim meninggalkan rumah itu, kokok ayam yang bersahut-sahutan telah terdengar, menandakan tak lama lagi malam akan digantikan oleh siang. Bergegas ia berjalan di keremangan malam menuju ke kampungnya yang tak jauh.
     Dan benar saja. Besok harinya Utoh Berahim berhasil mendapatkan kembali alat-alat pertukangannya di kandang ayam tua yang terletak  di belakang rumahnya. Tak satu pun alat-alat keperluannya itu yang hilang. SEmuanya utuh seperti semula.
     Tetapi pengalamannya yang cukup menyeramkan itu, tak pernah hilang dari ingatannya sampai kapan pun. cerita : T.Van Mook
Senang edisi 0533 thn 1982

Author Name

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.