Penghujung kemarau tahun 1982, acara penyambutan mahasiswa geology Unhas itu dilakukan. Belum ada format baku tentang apa saja yang akan dilakukan oleh para senior kepada wajah-wajah culun itu. Semua berlangsung spontan, sederhana dengan semangat yang begitu murni, untuk memberi pengenalan lapangan dan gambaran umum mengenai dunia geolgy nantinya.
     Karenanya, tidak ada wajah-wajah tegang. Sama sekali tidak ada kekuatiran anarkisme dalam bayang-bayang kegiatan perpeloncoan. Di beberapa tenda sederhana, senior dan junior berbaur tanpa batasan. Nyanyi bareng, masak-masak bareng dan tentu saja makan bareng dalam tradisi geology. Sungguh, lebih terasa sebagai kegiatan piknik.
Pak Budi menjelaskan panjang lebar segala sesuatu gambaran umum geology, sambil duduk santai di bendung Pa'bunoang juku' yang kering.
     Karenanya, keberadaan dosen di dalam rombongan, bukan menjadi sesuatu yang menimbulkan gatal-gatal alergi di dalam aktifitas kepanitiaan. Justru, kehadiran dosen dimanfaatkan untuk memberi penjelasan sepanjang perjalanan tentang geology secara umum.
     berdiri dari kiri: Amri, Kadoarjuna, Sulaeman, Nurman, Yustin, Amir Jaya dan Samsul Bahri.
duduk dari kiri: lupa, Nunuk, Hero, Muniati, Imran Umar, Selle, Pak Budi, Jalaluddin, Hance, Rafiudin, Stepanus dan Abd. Muis.
 di atas ada Hero, Muniati dan Junahan Satria.
bawah ada Ramlan Nawawi, Muniati, Nunuk dan yang kacamata tanpa topi itu, lupa namanya.
 sekitar puncak Bulu' Paria. Sama sekali tidak ada wajah tegang di dalam acara kemahasiswaan ini.
 setelah bagi-bagi syal geology, santai sambil foto-foto
     Tentu banyak cerita, banyak kenangan yang menyertai langkah para calon geologist itu. Karenanya, dengan segala kerendahan hati, saya menunggu tambahan komentar di bagian bawah, melengkapi serpihan memori yang melekat di kenangan kita masing-masing. Getar rasa kita di kebersamaan waktu itu, dengan mozaik joke-joke konyol sepanjang jalan pasti akan semakin menyegarkan indahnya kenangan yang telah kita ukir bersama.
Jadi jangan ki' ragu-ragu atau keberatan memanjang lebarkan rangkaian mozaik itu. Komentar ta' sangat di tunggu.

     Suma In adalah kembang desa Pak I San Cung. Wajahnya cantik sekali. Tidak mengherankan jika banyak pemuda yang tergila-gila padanya. Banyak pemuda yang mengimpikan bersanding dengan Suma In yang jelita. Tidak jarang ada yang mengigauka gadis cantik itu dalam setiap tidurnya.
     Puluhan lamaran dengan beraneka macam perhiasan emas intan diserahkan kepada orang tua Suma In. Namun semua lamaran itu ditolaknya dengan cara halus. Alasannya, Suma In belum mau kawin. Masih senang membujang.
     Namun sebenarnya bukanlah demikian. Suma In memang tidak pernah merasa cocok dengan pemuda-pemuda yang melamarnya. Karena sebenarnya Suma In sudah mempunyai pilihan sendiri. Seorang pemuda yang tampan dan lemah lembut, meskipun tidak dapat dikatakan sebagai orang kaya.
     Siang malam Suma In menantikan lamaran pemuda idamannya. Namun meskipun hubunganmereka sudah berlangsung sekian bulan, bahkan sekian tahun, ternyata pemuda idamannya itu belum juga mengirimkan surat lamaran. Tentu saja hal itu membuat hati Suma In sedih.
     Setiap hari Suma In selalu mengurung diri di dalam kamarnya. Jika malam sudah larut, Suma In selalu merenungkan pemuda idamannya. Wajahnya selalu dikenangnya. SEnyuman pemuda yang sangat memikat itu setiap dikenangnya sering membuat ia tersenyum sendiri.
     Pemuda yang menjadi idaman Suma In adalah Coh Peng. Seorang pemuda yang kekar, dengan ketampanannya yang memikat. Senyuman manis selalu tersungging di bibirnya yang merah mirip bibir seorang gadis. Pipinya selalu kemerahan setiap kali Suma In menyindirnya.
     Tetapi mengapakah kau wahai pria pujaanku? Mengapa sampai sekarang kau belum juga melamarku? Apakah kau tidak mencintaiku? Dengarlah jeritan hatiku ini..
     Semula orang tua Suma In tidak mengetahui, bahwa anak gadisnya ternyata merindukan seorang pemuda miskin yang bernama Coh Peng itu. Namun akhirnya mereka tahu juga. Yakni ketika orang tua Suma In, yang kepala kampung Pek I San Cung, si Jenggot Putih Lo Ban, secara tidak sengaja melihat Suma Inmemandangi gambar seorang pemuda tampan yang juga dikenalnya.
     Si Jenggot Putih Lo Ban tahubetul gambar siapa yang dipandangi putrinya itu. Coh Peng memang seorang pemuda yang terkenal halus budi pekertinya. Banyak disukai orang. Tak pernah menyakiti hati teman-temannya. Dan yang lebih menonjol lagi, Coh Peng adalah seorang pemuda yang ringan tangan dan suka membantu siapa pun yang memerlukan bantuannya.
     Sudah banyak jasa Coh Peng dalam membantu pemerintahan di Pek I San Cung. Si tua Lo Ban memang pernah berangan-angan, alangkah bahagianya kelak jika ia mempunyai menantu seperti Coh Peng itu. Tetapi tidak pernah terlintas dalam benaknya, untuk mengambil Coh Peng sebagai menantunya.
     Hal itu dikarenakan Coh Peng bukanlah orang yang kaya. Padahal, si Tua Lo Ban siang malam berangan-angan agar putrinya yang cuma satu-satunya itu kelak mendapatkan jodoh seorang pemuda tampan yang kaya raya. Dengan demikian pamor keluarganya tidak menjadi merosot. Bahkan akan dapat menjulang di mata masyarakat Pek I San Cung.
     Oleh karena itu, ketika dilihatnya putrinya selalu memandangi gambar Coh Peng, hati si Jenggot Putih Lo Ban sedikit banyak merasa tidak senang. Namun apa daya, ia tak pernah berhasil membujuk putrinya untuk menerima keinginan para pemuda kaya yang telah melamarnya.
     "Bagiku, bukan harta benda yang dapat membahagiakanku. Hanya perasaan cinta itu saja yang dapat membahagiakanku. Oleh karenanya, aku hanya akan menerima pemuda yang benar-benar mencintaiku, dan yang paling kucinta. Jangan ayah memaksaku untuk kawin dengan pemuda yang tidak kucintai". Selalu begitu jawaban Suma In jika ayahnya memaksakan kehendaknya.
     Tentu saja si Jenggot Putih Lo Ban tidak berani lagi memaksa putrinya yang sangat dicintainya itu. Dengan demikian terpaksa ditolaknya lamaran pemuda-pemuda yang datang ke rumahnya.
     Perlu diketahui bahwa meskipun Suma In menggunakan She Suma, namun sebenarnya dia aalah putri tunggal Jenggot putih Lo Ban. She Suma disematkan untuk nama gadis itu, hanyalah merupakan cara si Jenggot Putih Lo Ban untuk mengenang jasa dan utang budinya kepada seorang sahabat karibnya yang bernama Suma Hong.
     Pada saat Lo Ban masih bekerja di suatu perusahaan pengawalan barang, Piauw Kiok, dia pernah berutang budi kepada sahabatnya yang bernama Suma Hong. Itu terjadi ketika ia mengawal suatu barang, kemudian di tengah jalan dibegal oleh sekawanan perampok. Hampir saja ia menemui ajal ketika mempertahankan barang kawalannya itu.
     Untunglah sahabatnya, Suma Hong, datang membantunya. Bahkan sahabat karibnyaitu rela mengorbankan nyawanya demi keselamatannya. Sumo Hung gugur dalam pertarungan melawan kawanan perampok itu. Namun demikian lebih dari separuh kawanan perampok itu dapat ditumpas oleh Suma Hong, sehingga sisanya dengan mudah dapat dibereskan oleh Lo Ban.
     Sejak itulah Lo Ban merasa kehilangan seorang sahabat karib yang dianggapnya sebagai saudara kandung. Kecintaannya kepada sahabatnya itu dibuktikannya dengan menyematkan she sahabatnya, she Suma, untuk nama putrinya, Suma In.
     Di sebuah tempat yang agak terpencil, ada sebuah gubuk yang tidak terlalu besar. Penghuni gubuk itu adalah seorang pemuda tampan yang sangat dicintai Suma In, yakni Coh Peng. Ia sedang merenungi nasibnya yang buruk. Hampir semua waktu diganakannya untuk merenung.
     Sebenarnya Coh Peng ingin sekali melamar gadis pujaannya. Namun, niatnya itu dibatalkannya sendiri. Hal itu bukanya karena ia merasa rendah diri. Sama sekali tidak. Coh Peng yakin lamarannya akan diterima gadis itu. Karena Coh Peng tahu benar, Suma In selalu menolak lamaran pemuda lain. Tentu saja disebabkan karena dalam hati Suma In hanya terisi dirinya saja. Selain Coh Peng, tak ada pemuda yang dicintai Suma In.
     Namun kenapa Coh Peng tidakmau melamar gadis pujaannya yang sangat dicintai dan juga mencintainya itu? Tidak seorang pun yang tahu. Bahkan Suma In yang siang malam selalu merindukan kedatangan pemuda itu, juga tidak tahu. Kecuali Coh Peng, tak ada orang kedua yang mengetahui persoalannya.
     Sebenarnya besar hasrat Coh Peng untuk melamar Suma In. Namun, apalah artinya mengenyam kebahagiaankalau hanya singkat sekali? Bahkan setelah itu akan menyebabkan orang lain yang justru yang paling dicintainya menjadi berduka seumur hidupnya. Apakah arwahnya di alam baka nanti dapat tenteram?
     Tidak! Pasti tidak!
     Arwahnya nanti pasti akan merana selamanya. Jika dilihatnya Suma In hidup sengsara, tentu hatinya pun akan bersedih pula. Apalagi jika disadarinya bahwa ia tak mampu berbuat apa-apa untuk menghilangkan kesedihan Suma In.
     Pikirannya itu selalu berkecamuk di benak Coh Peng. Soalnya pemuda itu sadar dan tahu betul, bahwa umurnya tidak akan lebih dari satu tahun lagi. Kelak, menjelang tahun baru, ia sudah harus meninggalkan dunia fana ini.
     Giam Lo Ong telah memberitahukan kepadanya, bahwa menjelang tahun baru yang akan datang, nyawanya akan dicabut. Berarti, ia sudah harus berhenti menjadi manusia. Tempat selanjutnya adalah di dalam tanah yang pengap dan beku. Bukan manusia hidup lagi yang menjadi temannya, melainkan setan iblis atau malaikat. Sedang sebagai teman tubuhnya yang terbaring kaku di dalam tanah adalah semut-semut atau binatang dalam tanah saja. Lain tidak !
     Ya, oleh karena itulah dia tidak berani melamar Suma In. Dia takut, jika dia mati nanti, Suma In akan berduka. Kemudian tubuhnya akan menjadi kurus kering. Coh Peng tidak sampai hati melihat keadaan Suma In yang demikian. Oleh karenanya, lebih baik tidak melamar Suma In, daripada nanti Suma In merasa sedih jika ia mati.
     Coh Peng lebih rela menderita siksaan batin daripada nantinya Suma In yang menderita. Apakah artinya hidup bahagia yang hanya sesingkat itu? Dan terlebih lagi, kebahagiaan yang singkat itu nantinya pasti akan digantikan dengan duka lara yang tak berkesudahan.
     Sayang sekali, tindakan Coh Peng yang bermaksud baik itu justru membuat gadis yang sangat dicintainya menjadi berduka. Karena pemuda yang dicintai dan dirindukan siang malam tidak juga datang melamar. Suma In menjadi sedih sekali. Kemudian, ternyata gadis itu jatuh sakit. Dalam setiap tidurnya gadis itu selalu mengigau. Memanggil-manggil nama Coh Peng, kekasih hatinya.
     Si Jengot Putih Lo Ban tentu saja merasa kebingungan. Suma In baginya adalah harta yang tak ternilai harganya. Oleh karena itu, si Jenggot Putih Lo Ban merasa khawatir, jangan-jangan karena berduka anak gadisnya meniggal dunia. Oleh karena itu, si Jenggot Putih Lo Ban kemudian menyuruh segenap pembantunya untuk memanggil beberapa orang tabib pandai. Namun tak seorangpun dari tabib itu yang mampu mengobati penyakit putri tunggalnya.
     Tiba-tiba si Jenggot Putih Lo Ban menyadari, bahwa tak mungkin penyakit anaknya dapat disembuhkan oleh orang lain. Selain orang yang selalu dirindukan putrinya. Ya, Coh Peng lah yang memegang peranan penting.
     Oleh karenanya, si Jenggot Putih Lo Ban memutuskan untuk mengambil Coh Peng sebagai menantunya. Biarlah ia mempunyai menantu yang miskin. Baginya, sekarang, tidak lagi menjadi soal. Asal Suma In yang sangat dicintainya dapat sembuh dan kemudian hidup bahagia, itu saja sudah cukup. Si Jenggot Putih Lo Ban akhirnya terbuka mata hatinya, bahwa cinta memang hebat sekali kekuatannya.
     Demikian, Coh Peng kemudian dipanggil datang ke rumah si Jenggot Putih Lo Ban.
     Ketika memasuko rumah yang megah itu, Coh Peng berdebar-debar. Sebentar lagi ia akan dapat melihat gadis pujaan hatinya. Ada perasaan takut yang menyusup ke dalam sanubarinya. Namun itu  hanya sekilas saja. Kemudian digantikan oleh api cinta yang hangat.
     Ternyata benar apa yang diduga si Jenggot Putih Lo Ban. Yang dapat menyembuhkan penyakit putrinya adalah Coh Peng. Begitu Coh Peng berhadapan dengan Suma In, seketika kekuatannya seperti sudah pulih seperti sedia kala. Dan Suma In langsung berseri-seri, begitu ayahnya mengatakan bahwa dalam waktu dekat Suma In akan dinikahkan dengan Coh Peng. Tentu saja hati gadis yang sedang dimabuk cinta itu girang sekali.
     Cuma sayang, tidak demikian halnya dengan pemuda Coh Peng. Hati pemuda itu semula memang bahagia. Namun jika diingatnya bahwa umurnya tidak akan lebih dari satu tahun bahkan tinggal beberapa bulan lagi, hatinya menjadi sedih sekali.
     Namun kesedihannya tidak diperlihatkannya kepada Suma In. Coh Peng khawatir, jangan-jangan kekasihnya itu akan ikut sedih. Dibiarkannya Suma In menikmatikebahagiaannya.
     Namun betapapun juga Suma In dapat melihat kesedihan di hati Coh Peng, yakni ketika pernikahannya dengan Coh Peng telah berlangsung beberapa bulan.
     "Suamiku, kulihat kau selalu berduka dan bermenung saja. Apa sebenarnya yang kau pikirkan?" Tanya Suma In pada suatu hari.
     Coh Peng gelagapan. Dia tak dapat menjawab pertanyaan istrinya.
     "Suamiku, kini kita sudah menjadi suami istri, maka seharusnya kesulitan kita pecahkan bersama. Kesulitanmu aku wajib ikut memecahkannya. Demikian juga halnya dengan kesulitanku. Oleh karena itu, katakanlah keadaku, apa yang sebenarnya yang kau pikirkan." Suma In berusaha mendesak terus, namun Coh Peng tetap berusaha merahasiakan kesedihannya.
     "Suamiku, jika kau tidak mau memberitahukan kepadaku kesulitan yang sedang kau pikirkan, maka alangkah baiknyajika kau tidak usah melihatnya."
     Terpaksalah Coh Peng memberitahukan kesulitannya kepada istrinya. Dikatakannya bahwa menjelang tahun baru nanti, jadi tidak lebih dari tujuh hari lagi, dia akan meninggal dunia.
     Mendengar penjelasan suaminya, alangkah terkejutnya hati Suma In.
     "Dari mana kau tahu tujuh hari lagi kau akan mati?" tanyanya.
     "Giam Lo Ong sendiri yang memberitahukannya kepadaku. Aku telah ditakdirkan mati muda. Tujuh hari lagi, aku akan meninggalkanmu. Itulah yang membuatku bersedih," jawab Coh Peng.
     "Tidak mungkin...!"
     "Giam Lo Ong pernah datang kepadaku. Aku tidak membohongimu." Tentu saja hal itu membuat Suma In sedih sekali. Demikian juga dengan  si Jenggot Putih Lo Ban. Beberapa ahli nujum dipanggil untuk memasang tangkal, agar nyawa Coh Peng dapat diselamatkan. Namun apa daya, kekuatan manusia yang betapapun hebatnya, tidak mungkin mampu merintangi tindakan Giam Lo Ong.
     Tujuh hari kemudian, Coh Peng benar-benar meninggal dunia!
     Suma In menangis sedih sekali. Dipeluknya jenazah suaminya, dan dimandikannya dengan air matanya. Oleh karena terlalu hebatnya kesedihan Suma In, sukmanya pun meninggalkan raganya.
     Sukma Suma In melihat berkelebatnya Siam Lo Ong yang menggandeng sukma suaminya. Cepat Suma In mengejarnya sambi berteriak-teriak menyuruh Giam Lo Ong berhenti. "Tunggu, tunggu aku! Aku ikut denganmu!" teriak Suma In. Giam Lo Ong yang sedang menggandeng sukma Coh Peng terpaksa menghentikan langkahnya.
     "Kenapa kau mengejarku?" tanya Giam Lo Ong kapada Suma In.
     "Jika kau mencabut nyawa suamiku yang sangat kucintai, maka lagih baik kau cabut juga nyawaku. Aku tak mau berpisah dari suamiku. Sampai matipun aku akan tetap mengikutinya," kata Suma In.
     "Anak perempuan, ketahuilah bahwa memang sudah tiba waktunya bagi Coh Peng untuk mengakhiri masa hidupnya di dunia. Sedangkan kau belum ditakdirkan untuk mati. Oleh karena itu, kau harus kembalike dunia lagi. Teruskan hidupmu di dunia, kelak jika sudah tiba saatnya untuk mati, kau akan dapat berkumpul lagi dengan arwah suamimu. Kembalilah kau sekarang."
     "Tidak! Aku tak mau berpisah dari suamiku. Aku sangat mencintainya."
     "Tidak bisa. Kau harus kembali. Anak perempuan, kau tidak akan mati sekarang. Sebelum kau melahirkan dua puluh satu bayi,kau tidak akan mati. Oleh karena itu kau harus kembali ke dunia lagi."
     "Tidak mau."
     "Kau menentangku?" tanya Giam Lo Ong sambil memandang tajam wanita itu.
     "Terpaksa aku menentangmu. Karena, kau kuanggap tidak adil. Coh Peng adalah seorang laki-laki yang tak pernah berbuat dosa. Mengapa kau cabut nyawanya selagi dia masih muda? Apakah itu adil? Dan lagi, mengapa kau renggut nyawanya selagi kami menikmati kebahagiaan sejati?"
     "Ah, anak perempuan yang malang. Memang demikianlah kehendak takdir. Suamimu memang telah ditakdirkan untuk mati pada hari ini. Karenanya, sekali lagi kuperintahkan kepadamu untuk kembalike dunia. Jangan kau bantah perintah Giam Lo Ong."
     "Aku akan tetap membantahnya. Aku akan tetap mengikuti suamiku. Betapapun, apa pun yang akan terjadi, aku akan tetap bersama-sama suamiku. Oleh karenanya, jika kau mencabut nyawa suamiku, cabut juga nyawaku. Jika suamiku mati, maka pada hari itu juga aku harus mati."
     "Anak perempuan, sudah kukatakan, sebelum kau melahirkan dua puluh satu bayi dan membesarkannya hingga mereka berkeluarga, kau belum akan mati. Maka permintaanmu untuk mati itu tak dapat dikabulkan."
     "Dikabulkan atau tidak, aku tetap akan mati. Ingin kulihat, apakah kau dapat mencegah maksudku untuk mati atau tidak," Suma In tetap berkeras kepala.
     "Sayang, aku tak dapat memenuhi permintaanmu. Kau harus tetap hidup."
     "Huh, jika aku tetap hidup, tak mungkin aku dapat melahirkan dua puluh satu bayi seperti yang ditakdirkan. Dari mana aku dapat melahirkan anak jika tak ada suami yang membuahi rahimku?"
     "Aku takmau bersuami lagi. Selain Coh Peng, aku takmau meladeni laki-laki. Nah, apa yang akan kau perbuat? Takdir itu tidak lagi dapat terlaksana. Aku yang telah ditakdirkan untuk melahirkan dua puluh satu bayi, membesarkannya dan merestuinya di kala anak-anakku itu berumah tangga, semua akan gagal, karena aku tidak akan bersuami. Selain Coh Peng yang akan membuahi rahimku, aku tidak sudi. Jadi, jika aku harus melahirkan dua puluh satu anak, maka kau harus mengembalikan Coh Peng, agar dia dapat membuahi rahimku."
     "Coh Peng hari ini harus mati."
     "Kalau begitu, aku takmungkin melahirkan dua puluh satu anak. Dengan demikian, takdir yang telah digariskan akan meleset. Berarti takdir semua manusia di dunia pun akan meleset. Jika ada kesalahan pertama, tentu akan diikuti kesalahan berikutnya. Sekali takdir tidak tepat seperti yang telah digariskan, maka selamanya takdir tidak lagi dapat dipercaya," kata Suma In.
     "Celaka kau, anak perempuan! Cerdik juga kau menyerangku dengan kata-kata. Baiklah, agar takdir tetap berlaku bagi semua manusia, dan berjalan tepat sebagaimana mestinya, maka kau akan tetap melahirkan dua puluh satu anak. Mengasuhnya, membesarkannya dan merestuinya sampai mereka berkeluarga."
     "Tidak mungkin aku punya anak, karena suamiku sudah mati."
     "Siapa bilang? Kau sudah ditakdirkan demikian, maka harus berlaku demikian pula. Anak perempuan yang berbahagia, cerdik dan sangat mencintai suami, pulanglah dengan segera."
     "Aku tidak mau pulang jika tidak dengan nyawa suamiku, Coh Peng."
     "Kululuskan permintaanmu. Bawa pulang sukma suamimu. Hiduplah kalian dengan berbahagia. Coh Peng, kembalilah kau kepada istrimu dan gaulilah istrimu sampai istrimu melahirkan dua puluh satu bayi. Kelak anak-anakmu itu akan menjadi orang yang berguna bagi nusa bangsanya. Anak-anakmu kelak akan menjadi pahlawan-pahlawan yang kenamaan. Aku merestu kalian."
     Sekejap kemudian Giam Lo Ong menghilang dari hadapan Suma In dan Coh Peng. Keduanya kemudian kembali lagi ke dunia, kembali ke dalam tubuh masing-masing. Dan Coh Peng serta Suma In yang semula telah mati, hidup kembali. Itu berkat jasa Suma In, istri yang sangat dicintainya. Suma In telah merebut nyawa Coh Peng dari tangan Giam Lo Ong.
     Seperti telah ditakdirkan, hasil perkawinan Coh Peng dengan Suma In adalah dua puluh satu anak. Kemudian, ketika sudah besar, anak-anak Coh Peng menjadi pahlawan besar untuk bangsanya.
Lao She

     Ketika Tuhan menciptakan langit dan gunung, kepadanya ditanya, sanggupkah menyampaikan amanat..? Langit dan gunung tidak menjawab, tetapi ketika ditanyakan kepada manusia, maka manusia menyatakan sanggup.
     Dengan demikian jelaslah manusia mempunyai tanggung jawab yang besar untuk menyampaikan amanat Tuhan di dunia ini. Sedang amanat sesama manusia pun bila tidak disampaikan adalah suatu dosa besar.
     Suatu ketika aku menerima suatu amanat dari salah seorang sahabatku, amanat yang sungguh sangat menekan perasaanku. Aku mempunyai seorang sahabat, sahabat yang paling akrab dan terbaik dari sahabat-sahabatku lainnya. Kami pernah tidur sebantal dan makan sepiring selama bergaul. Baginya apa yang menjadi miliknya adalah juga milikku, begitu pula sebaliknya.
     Ke mana bepergian kami jarang berpisah, kendati sahabatku, Darwin itu sudah mempunyai seorang anak dan seorang istri yang cantik. Aku yang masih hidup membujang sering tidur di rumah sahabatku itu dan makan di rumahnya. Sehingga aku sama sekali tidak mengira persahabatanku dengan Darwin yang begitu intim itu, pada suatu ketika terenggut dengan tiba-tiba.
     Peristiwa yang tidak diduga-duga telah merenggutkan nyawa Darwin. Ia mati dengan berlumuran darah. Pada suatu malam Darwin mengajakku menonton bioskop. Kami antre berjejal-jejal di muka loket membeli karcis. Kebetulan film yang diputar film Italia yang top. Sedang aku menyeruak di tengah-tengah manusia yang berjubel di depan loket, tiba-tiba dompet di kantung belakangku dirogoh pencopet. Aku yang merasakan rogohan itu cepat menangkap tangan si pencopet. Namun si pencopet tidak mau menyerah begitu saja. Ia cepat mencabut pisau belatinya dan mengayunkannya ke arah dadaku. Untung Darwin cepat menendang kaki si pencopet, sehingga terguling. Begitu terguling ia cepat bangkit menyerang Darwin. Dan aku tak sanggup melihat apa yang terjadi. Ketika aku membuka mataku kembali, sahabatku Darwin tergeletak berlumuran darah. Dadanya tembus kena tusukan pisau si pencopet, yang denan cepat lalu lari menghilang. Orang banyak yang melihat tak berdaya menolong Darwin, mereka hanya berlarian dan berteriak-teriak.
     Aku cepat menubruk Darwin yang berlumuran darah dan memapahnya. Polisi cepat datang dan menelepon Puskesmas terdekat minta pertolongan.
     Tak lama kemudian ambulans datang. Tubuh Darwin yang lemah berlumuran darah kupapah ke dalam mobil itu. Sampai di puskesmas keadaan Darwin sudah sekarat sekali. Darah terlalu banyakmenyembur ke luar. Wajah Darwin pucat pasi. Ketika luka-lukanya selesai dibalut, aku cepat menemui dokter menawarkan diri kalau-kalau Darwin memerlukan bantuan darahku. Namun dokter cuma menggelengkan kepala.
     Tak lama kemudian istri Darwin datang. Tuty datang dengan menggendong anaknya yang masih kecil. Kami berada di dalam ruangan tempat Darwin terbaring, memandanginya yang semakin lemah dan letih.
     Darwin memberi isyarat supaya aku dan Tuty mendekat. Ketika kami sudah mendekat di samping pembaringannya, sambil menatap kami berdua bergantian denan pandangan yang layu serta denagn suara serak terputus-putus ia berkata, "Sahabatku..aku merasa nyawaku.." Sampai di situ wajah Darwin tambah pucat, napasnya tambah sesak. Kemudian ia menarik tanganku dan tangan istrinya Tuty, lalu kedua tangan kami dipertemukannya dan dipegangnya erat-erat sambil meneruskan perkataannya.
     "Aku rela meninggalkan dunia yang fana ini, dengan satu amanah kepada kau dan Tuty. Seterusnya peliharalah Tuty dan anakku Yuyun sebagaimana aku memelihara mereka. Hanya kau yang kupercayakan untuk menjadi teman hidup Tuty selanjutnya.." Ia lalu mengguncang-guncangkan tangan kami. Kemudian dengan suara tambah lemah ia meneruskan, "Bagaimana Rudy.. maukah kau menerima amanahku..?"
     Tanpa pikir panjang lagi, melihat keadaan temanku yang sudah sekarat itu, aku mengangguk. Darwin tersenyum melihat anggukanku lalu ia menutup mata untuk selama-lamanya. Aku sampai tak sadarkan diri melihat kepergian sahabatku yang tercinta itu untuk selama-lamanya.
     Tiga hari setelah mayat Darwin dikuburkan, baru aku sadar bahwa aku telah memikul satu beban yang berat, yaitu amanah dari sahabatku untuk mengambil Tuty sebagai teman hidupku.
     Baru aku sadar, aku menyanggupi permintaan sabatku, tanpa pikir panjang. Bukankah aku sendiri sudah mempunyai seorang kekasih, seorang pujaan yang akan menjadi teman hidupku yaitu Susy? Kalau dulu aku menyanggupi permintaan sahabatku adalah karena kasihanmelihat keadaannya yang sudah sekarat, dan ingat karena inginmenyelamatkanjiwaku, ia sampai mengorbankan jiwanya. Sekarang aku dihadapkan pada satu problem yang berat, betapa besar dosaku bila aku memungkiri atau tidak menyampaikan amanah sabatkuitu.
     Wajah kekasihku Susy selalu membayangiku, selalu seolah-olah menyesaliku. Dan yang lebih berat lagi kurasakan, bila aku mengunjungi rumah istri sahabatku itu, sinar matanya seperti menagih amanah suaminya. Aku selalu menunjukkan sikap baik dan hati-hati terhadap Tuty, aku memandang Tuty seperti ia tak pernah kehilangan suaminya. Tetapi apakah hal ini dapat bertahan terus..?
     Aku sering mengunjungi kuburan Darwin. Kubersihkan kuburannya dan kuhadiahkan ayat-ayat suci dengan memanjatkan doa supaya ia diterima sebagai orang yang mati syahid dan dilapangkan arwahnya di alam kubur, dengan mendapat tempat terbaik di sisi Tuhan. Ketika kutatap pusaranya yang masih memerah itu, kulihat pohon kamboja seperti bergoyang-goyang, seperti anggukan kepala Darwin memperingatkan amanahnya.
     Aku benar-benar merasa terpukur. Dan waktu tak terasa berjalan dengan cepat, hingga sampai kematian Darwin sudah berlalu seratus hari lebih. Tuty sudah semakin lain pandangannya terhadap diriku, sinar matanya seperti lebih menagih supaya aku cepat mengawininya.
     Aku menjadi terpojok. Susy kekasihkudi satu pihak sudah mendesak juga agar aku segera mengawininya. Akhirnya aku mengambil satu keputusan yang membuat kejuatan pada Tuty.
     Suatu malam aku pergi ke rumah Tuty. Ia sedang menggendong anaknya. Kepada Tuty aku lalu bercerita terus terang. Kukatakan aku terpaksa mengingkari amanah Darwin karena sebelumnya aku sudah mempunyai seorang kekasih. Dan perkawinanku dengan Susy akan berlangsung dalam waktuyang dekat.
     Tuty tidak menjawab perkataanku. Hanya air matanya jatuh bercucuran. Aku terharu memandang Tuty. Terbayang di mataku pohon kamboja di kuburan Darwin seperti bergoyang mengutukku. Akhirnya diiringi suara tangis tersengal-sengal dan dengan suara terputus-putus Tuty berkata, "Kak Rudy..sudah kuduga akan terjadi yang seperti itu. Aku sadar bahwa aku seorang janda, sedang kekasihmu masih gadis. Tak mungkin kau akan dapat melaksanakan amanah suamiku. Tetapi aku  yakin pada satu ketika kau akan menyesal karena memungkiri amanah arwah Kak Darwin yang telah kau sanggupi."
     Sampai di situ Tuty tak dapat meneruskan kata-katanya lagi lalu pergi meninggalkanku duduk termangu-mangu. Seperti layang-layang putus talinya aku pergi meninggalkan rumah Tuty, dengan pikiran yang membuncah.
     Tak lama kemudian perkawinanku dengan Susy berlangsung. Aku sudah jadi lupa diri, lupa dengan sahabatku yang berada di liang lahat. Ke rumah Tuty pun aku sudah tak pernah lagi.
     Tetapi beberapa minggu setelah perkawinanku, tiap malam aku selalu bermimpi didatangi arwah Darwin. Tampak ia berpakaian serba putih, seperti menudingku, seperti menyumpah-nyumpah diriku. Mimpi yang menakutkan itu selalu datang membayangiku. Aku jadi tak bisa tenang. Barulah terasa betapa beratnya beban orang yang tidak menyampaikan amanah.
     Kucoba berziarah ke kuburan Darwin dan hatiku tambah tergugah. Pusara Darwin tampak olehku seprti merekah. Batu-batu nisannya seperti bergoyang-goyang menudingku. Akhirnya aku jatuh sakit demam panas. Aku jadi seprti orang linglung.
     Susy berkali-kali menyindirku, mengatakan bahwa sakitku adalah karena ingat istri sahabatku itu. Hatiku tambah pedih. Aku seperti diimpit oleh dosa yang tak tersandang lagi.
     Pada suatu malam Susy mengajakku pergi ke rumah temannya yang akan berulang tahun. Tadinya aku ingin menolak karena merasa kesehatanku kurang baik, tetapi mengingat bahwa Susy mempunya tafsiran lain terhadap diriku, permintaan itu terpaksa kuikuti. Malam itu meskipun dengan hati mendongkol aku terpaksa berganti pakaian dan mengantarkan Susy dengan Yamahaku.
     Badanku sungguh-sungguh tak enak. Panas dingin dan kepalaku pusing. Aku mencoba mengebut Yamahaku agar lekas sampai di tempat tujuan. Agar dapat segera duduk beristirahat.
     Untuk mencapai rumah kawan Susy, aku harus melewati jalan tikungan yang menuju ke  daerah pekuburan. Mendekati daerah tikungan itu, tiba-tiba bulu romaku berdiri. Timbul perasaan ngeri dan takut. Seolah-olah tampak olehku sahabatku Darwin berdiri terhuyung-huyung berlumuran darah menghalangi perjalananku. Penglihatanku berkunang-kunang.
     Arwah Darwin seperti menagih janji, menuntut amanahnya. Aku tak bisa menguasai keseimbangan lagi, ketika dari arah belakang datang sorotan lampu oplet yang menyilaukan, lalu mendahului kami. Aku terus melarikan Yamahaku denagn kemudi yang tak tenang dan tiba-tiba ketika sampai di tikungan, aku mencoba mendahului oplet itu namun kemudian, aku tak tahu lagi apa yang terjadi.
     Aku baru sadar setelah tubuhku tergenang air parit dan taxi yang rupanya datang dari belakang melihat kejadian itu segera memberikan pertolongan mengangkat tubuhku.
     Ketika tubuhku terangkat, yang kulihat Yamahaku sudah berantakan dan tubuh Susy terbantai berlumuran darah.
     Sampai di puskesmas, Susy sudah tidak bernyawa lagi. Ia telah pergi untuk selama-lamanya tanpa sempat meninggalkan pesan terhadap diriku. Aku jadi sadar, ini adalah akibat dari kesalahanku yang tidak menyampaikan amanah sahabatku sehingga Susy yang tidak berdosapun kemudian menjadi korban.
     Tiga bulan kemudian, dalam penderitaanku kehilangan Susy, arwah Darwin dalam mimpi datang lagi menemuiku. Ia selalu tampak denan mata yang cekung menudingku. Akhirnya aku tak tahan lagi digoda mimpi-mimpi yang mengerikan.
     Akhirnya aku mengunjungi rumah Tuty. Ia menyambuk kedatanganku dengan mata yang bercahaya setelah mengetahui isi dadaku. Anaknya Yuyun yang mungil sudah bisa berdiri.
     Kepada Tuty aku lalu berterus terang tentang penderitaanku, tentang godaan bayangan arwah Darwin dan kuterangkan kedatanganku untuk mengjak Tuty bersama melaksanakan amanah arwah Darwin. Tuty tak menjawab. Ia hanya merebahkan kepalanya di pangkuanku dengan menangis terisak-isak, tangis kebahagiaan.
     Seminggu kemudian kami mengunjungi kuburan Darwin sebagai suami istri. Di kuburan itu kami merasa penuh kedamaian dan ketenangan membacakan ayat-ayat suci. Sejak itu aku tak pernah mendapat godaan lagi dari bayangan arwah Darwin.
cerita : Masran H.A.
majalah Senang 0533 thn 1982

     Desa Ciguriang setengah abad yang lalu merupakan desa yang subur dan makmur, terletak di kaki Gunung Salak yang berhutan perawan. Margasatwa masih hidup dengan aman dan bebas sehingga tidak ada satu pun penduduk yang berani naik gunung masuk hutan sendirian dan tanpa senjata, apalagi karena mereka beranggapan bahwa Gunung Salak ini dihuni oleh segerombolan penyamun yang secara berkala turun ke desa-desa di kaki gunung untuk memungut 'upeti' yang harus sudah disediakan oleh kepala desa setiap dua atau tiga bulan sekali.
     Pada umumnya penduduk desa tidak ada yang berani melawan gerombolan penyamun itu, karena melawan berarti mati. Para penyamun itupun jarang sekali bertindak keterlaluan jika upeti berupa hasil bumi, ternak dan barang-barang berharga telah disediakan seperti biasanya. Yang membuat cemas, takut dan was-was para orang tua di desa-desa di kaki Gunung Salak itu adalah mengenai anak-anak gadis. Masih untuk kalau hanya diganggu saja, tetapi kalau sampai dibawa tak berketentuan nasibnya, itulah yang menjadi kecemasan utama para orang tua di desa-desa.
     Itu pulalah yang dikhawatirkan oleh Mak Resmi mengenai putrinya Rasmini. Mak Resmi hanya beranak dua orang, Rasmini yang sudah remaja dan adiknya Rasmana berumur kira-kira 15 tahun. Pak Resmi sudah meninggal setahun yang lalu, meninggalkan anak istrinya tercinta. Mak Resmi seringkali melarang Rasmini berkebun, mencui pakaian ke sungai, menjual hasil bumi ke pekan, atau berjalan-jalan ke tempat yang jauh-jauh karena dikhawatirkan kecantikannya terlihat oleh penyamun yang menyamar atau mata-mata mereka. Tetapi Rasmini yang menginjak masa remaja tentu saja tidak tahan tinggal di rumah terus.
     "Mengapa melamun, Mak?" tanya Rasmana kepada ibunya. Mak Resmi tertegun dan menoleh kepada putranya.
     "Kau belum tidur Man?" ibunya balik bertanya.
     "Mana Rasmini?"
     "Biasana sedang bersoke tentunya", jawab Rasmana.
     "Siapa yang bersolek, huh.. sok tahu", Rasmini menimpali dari balik pintu kamarnya.
     "Ya, sudah, tidak usah bertengkar", kata Mak Resmi sambil menghela napas.
     "Aku hanya teringat kepada ayahmu", ibunya baru menjawab pertanyaan Rasmana yang mula-mula. Rasmana tergugah kenangannya kepada ayahnya yang kuat dan tegap tetapi penuh kasih sayang terhadap dirinya dan Rasmini. Ayahnya walaupun bekerja sehari suntuk di ladang, tiap malam tidak pernah lupa mengajar membaca, mengaji atau melatihnya bersilat. Bersilat adalah yang paling disukai oleh Rasmana sephingga badannya pun menjadi tegap dan gesit seperti ayahnya.
     Namun ayahnya selalu berpesan bahwa silat yang dipelajarinya bukanlah untuk berkelahi apalagi untuk melawan para penyamun yang julahnya banyak dan lebih berpengalaman dalam berkelahi. Rasmana sering bertanya dalam hati mengapa pemuda desa tidak bangkit membangun kekuatan untuk menumpas para penyamun itu. Setiap kali hal ini ditanyakan kepada ayahnya, Pak Resmi biasa menjawab, "Untuk membangun kekuatan memang mungkin, tetapi hal ini memerlukan kesatuan tekad, adanya peminpin yang tangguh dan pembinaan secara diam-diam agar tidak diketahui oleh para penyamun. Kalau sampai segera diketahui, mereka akan mengambil tindakan yang kejam dan upeti akan makin ditingkatkan lagi. Para pemuda desa juga mungkin tidak semuanya bertekad seperti engkau karena mereka terlalu sibuk dengan  pekerjaannya dan tak mau mengambil risiko yang berat."
     Rasmana terdiam walau dalam hatinya ada rasa penasaran.
     "Suatu waktu aku harus berguru lagi sampai aku cukup kuat untuk menumpas kejahatan", demikian tekad dalam hatinya. Sedang melamun demikian tiba-tiba seisi rumah dikejutkan oleh suara langkah-langkah kaki menginjak bebatuan di halaman. Kemudian terdengar pintu digedor dengan keras.
     "Ayo cepat buka kalau masih sayang jiwamu!" terdengar bentakan dari luar. Mak Resmi gemetar dan wajahnya menjadi pucat. Rasmana ganti-berganti melihat ke pintu dan kepada ibunya seolah-olah minta saran apa yang harus dilakukan. Rasmini keluar dari kamar, cepat menghampiri ibunya.
     "Rampok datang!" kata Rasmana.
     "Ayo cepat buka, kalau tidak kubakar rumah ini", terdengar suara dari luar pula. Rasmana terpaksa berjalan membukakan pintu. Setelah pintu dibuka terlihat beberapa orang kawanan perampok yang biasa memeras rakyat desa. Pemimpinkawanan perampok yang berkumis dan berjenggot memakai ikat kepala warna merah darah sangat marah karena pintu tidak segera dibuka. Ia mendorong Rasmana sekuat tenaga, tetapi secara refleks Rasmana berkelit sehingga si kepala rampok tersungkur menabrak meja-kursi. Kepala rampok makin geram, mukanya menjadi merah dan cepat mengeluarkan goloknya.
     "Jangan, jangan!" Mak Resmi menjerit. Kepala rampok menoleh kepada Mak Resmi dan terlihat olehnya Rasmini yang cantik jelita. Kemarahan kepala rampok berkurang demi melihat Rasmini yang cantik itu.
     "Ringkus pemuda itu cepat, jangan melongo saja!" perintah kepala rampok kepada anak buahnya sambil menunjuk Rasmana. Rasmana tidak melawan karena ia sadar tak mungkin menang melawan banyakrang yang bersenjata golok, pisau dan senjata tajam lainnya.
     Kepala rampok tertawa-tawa sambil matanya tidak lepas-lepas melihat tubuh dan wajah Rasmini.
     "Dengar, aku Durga, pemimpin kawan-kawanku ini. Aku tidak akan mengganggu harta benda kalian. Hanya aku kebetulan belum punya istri dan gadis itu akan kubawa untuk kuperistri," kata Durga, pemimpin kawanan perampok sambil menunjuk Rasmini dan menghampirinya.
     "Tidak, tidak!" kata Mak Resmi dan Rasmini serempak. Tetapi Durga tidak menghiraukan dan ditariknya Rasmini dengan paksa dari dekapan ibunya. Demi melihat Mak Resmi tetap memeluk Rasmini, meluaplah kemarahan Durga. Dipisahkannya mereka berdua dengan kekerasan dan didorongnya tubuh Mak resmi yang sudah tua itu.
     "Mak, mak!" Rasmini menjerit hendak menghampiri, tapi dipegang denan kuat oleh Durga. Rasmini meronta-ronta dari ringkusan kawanan perampok. Dia ingin menghajar Durga, tetapi dipegang dengan kuat oleh dua orang perampok sehingga tidak dapat berkutik. Durga tertawa terbahak-bahak sambil berusaha hendak mencium Rasmini, tetapi Rasmini meronta-ronta dan menundukkan kepalanya sambil menjerit-jerit.
     "Diam kau!" bentak Durga dan tangannya melayang ke pipi Rasmini. Rasmini menangis terisak-isak sementara Mak Resmi sudah tak sadarkan diri. Rasmana menggigit bibirnya, hatinya sakit dan getir. Rasmana dibaringkan dan kawanan perampok bersiap-siap pergi membawa Rasmini.
     Tetapi tiba-tiba terdengar suara tertawa dingin yang menusuk, menggetarkan hati kawanan perampok itu. Mereka melihat ke luar, ke kiri dan ke kanan, tetapi tidak terlihat siapa pun.
     "Bangsat atau setan di sana?" Durga berteriak tetapi tak urung bulu romanya berdiri ketika mengucapka kata setan itu. Tawa itu terdengar lagi lebih menusuk pada malam yang sudah sepi itu. Suasana menjadi hening, hanya terdengar suara jengkerik dan burung-burung malam. Wajah para perampok berubah ketakutan.
     "Sudah, ayo berangkat!" aba-aba Durga kepada anak buahnya yang empat orang. Mereka sebetulnya datang bersepuluh. Yang lima orang sudah berangkat pulang dan yang lima orang singgah dulu ke rumah Mak Resmi karena tahu bahwa anak Mak Resmi cantik dan sudah remaja. Jika Rasmini sudah dapat dibawa, istri tua akan disingkirkan, tidak mustahil dengan cara membunuhnya di hutan. Kawanan perampok mulai bergerak akan meninggalkan rumah Mak Resmi ketika tiba-tiba di halaman terlihat bayangan dan terdengar suara.
     "Tinggalkan gadis itu, kalau tidak.. hmm.. kalian akan tahu siapa aku." Kawanan perampok mengawasi sosok tubuh yang berjalan lambat-lambat.
     "Setang!?" anak buah Durga berteriak karena meihat wajah sosok tubuh yang buruk seperti setan dengan rambut panjang.
     "Minggir!" bentak Durga sambil mencabut dan mengayunkan goloknya hendak menebas tubuh "setan" itu. Tetapi tiba-tiba Durga berteriak dan meringis kesakitan sambil memegang tangannya.
     "Ayo keroyok!" perintahnya. Anak buah Durga maju semua dengan golok, pisau dan tombak. Tetapi berturut-turut terdengar erangan kesakitan dan semua roboh dengan memegang bagian tubuh yang sakit. Durga melihat bahwa tangannya menjadi bengkak biru dan merasa tidak berani lagi melawan 'setan' itu. Tanpa berkata apa-apa ia segera kabur diikuti oleh empat anak buahnya.
     Rasmini melihat semua kejadian dan ia segera memburu ibunya yang tak sadarkan diri. Dengan tangan terikat ia hanya bisa menangis mencemaskan keadaan ibunya sambil melihat ke arah pintu, karena ia ngeri juga melihat 'setan' yangmenolongnya itu. Tiba-tiba di ambang pintu sudah berdiri seroang pemuda yang cukup tampan melihat ke arah Rasmini sambil tersenyum. Ia menghampiri Rasmini dan membuka ikatannya, kemudian membopong Mak Resmi ke tempat tidur dan memeriksanya.
     "Ambillah air dan kain. Tidak apa-apa, sebentar lagi bisa siuman," kata pemuda itu sambil meniup-niup dahi Mak Resmi dan memijit-mijit ulu hatinya. Setelah Mak Resmi siuman, Rasmini memeluknya dan mereka bertangis-tangisan. Pemuda itu kemudian menolong Rasmana sambil menghibur. Rasmana segera mengetahui bahwa kawanan perampok telah kabur karena ada seseorang yang melabrak mereka. Pemuda inikah orang sakti yang mempu mengusir kawanan perampot itu? Tanyanya dalam hati. Ketika hal itu dikemukakan, pemuda itu hanya tertawa.
     Esok harinya berita bahwa kawanan perampok telah dilabrak orang segera tersiar di seluruh penjuru kampung dan hal ini menimbulkan kekhawatiran penduduk yang segera berkumpul di rumah kepala desa. Dari sana mereka berduyun-duyun mendatangi rumah Mak Resmi, tempat menginap orang yang melabrak kawanan perampok itu. Kepala desa dengan beberapa orang segera masuk, sementara penduduk menunggu di luar dan di halaman dengan suara ribut saling membicarakan akibat-akibat yang mungkin timbul. Si pemuda segera memberi jaminan kepada kepala desa, bahwa kawanan perampok tidak akan berani datang lagi kalau mengetahui bahwa dia masih tinggal di sini.

     "Namaku Barda, aku menjamin bahwa mereka tidak akan menyerang kampung ini. Aku sudah memberikan tanda mata kepada mereka. Kukira si Durga bukanlah pemimpin yang tertinggi dari perampok-perampok itu. Kalau pemimpin mereka melihat tanda mata itu, tentu tidak akan gusar bahkan akan berterima kasih karena anak buahnya tidak kuhabisi," demikian kata Barda dengan nada yang amat meyakinkan. Kepala desa dan orang-orang yang masuk saling pandang seolah-olah tidak percaya kepada apa yang dikatakan Barda.
     "Percayalah kepadaku, aku akan tinggal di sini beberapa lama. Kalau perlu aku akan melatih pemuda-pemuda agar bisa menghadapi segala kemungkinan," lanjut Barda.
     "Setuju sekali!" Rasmana menyela.
     "Kita pemuda-pemuda kampung ini harus sanggupmempertahankan keamanan kampung sendiri dan untuk itu kita harus berlatih keprajuritan kepada Kak Barda ini." Kepala desa tidak tahu harus bersikap bagaimana, demikian pula kawan-kawannya. Akhirnya kepala desa berkata.
     "Yah, harus bagaimana lagi, nasi sudah jadi bubur, tetapi aku meminta jaminan Nak Barda untuk tinggal di sini dan melatih pemuda-pemuda supaya dapat melawan perampok.
     "Nah, itu baru sikap ksatria, aku menjamin!" jawab Barda.
     Mulai hari itu Barda segera melaksanakan janjinya dengan melatih pemuda-pemuda desa tentang berbagai ilmu kewiraan. Rasmana memperoleh kemajuan paling pesat sehingga diangkat sebagai wakil Barda dan ditugaskan memimpin pemuda-pemuda itu kalau tiba saat bertindak. Barda mulai berasa betah tinggal di desa Diguriang, apalagi ada gadis cantik bernama Rasmini. Hidupnya sehari-hari dijamin oleh kepala desa dan penduduk desa itu.
     Hubungan Barda dengan Rasmini mejadi makin intim. Mak Resmi yang sangat berterima kasih kepada Barda membiarkan saja pergaulan mereka, karena beranggapan bahwa Rasmini sudah masanya mempunyai sudami. Demikian juga dengan Rasmana yang menganggap Barda sebagai penolong berbudi yang akan melepaskan desanya dari gangguan perampok. Tanpa terasa cinta Rasmini dan Barda makin hari makin berkobar, sehingga keduanya tidak dapat menguasai diri lagi dan melakukan perbuatan seperti suami-istri. Mak Resmi dan Rasmana tidak mengetahui bahwa hubungan keduanya sudah terlalu jauh.
     Tiga bulan kemudian, tersiar kabar bahwa Barda akan mengawini anak Pak Sonjaya, kepala desa, yang bernama Amini. Ketika terdengar berita ini Rasmini hampir-hampir tidak mempercayainya. Tubuhnya menggigil, lalu ia jatuh pingsan. Mak Resmi dan Rasmana sibuk menyadarkan Rasmini tetapi tidak berhasil. Baru sesudah memanggil dukun kampung, Rasmini siuman lagi dan tak henti-hentinya menyebut nama Barda sambil menatap jauh dan kosong. Mak Resmi dan Rasmana dapat memahami betapai perasaan Rasmini pada waktu itu, tetapi mereka tidak menyangka bahwa Rasmini sudah bukan gadis lagi!
     Barda akhirnya kawin dengan Amini, karena dalam pandangan Barda, lebih baikmengawini anak Pak Sonjaya yang kaya dan berpengaruh daripada Rasmini anak seorang miskin. Barda ternyata bukanlah manusia yang benar-benar baik. Ia adalah anak murid dari perguruan 'Racun Biru' yang ditakuti di dunia hitam.
     Tidak ada pihak yang mau berurusan dengan perguruan itu, kerena mereka terkenal kejam dan ilmu pukulan Racun Biru sulit untuk ditandingi. Walaupun perguruan RAcum Biru terkenal di dunia htiam, tidak ada orang yang mengetahui tempat perguruan itu.
     Sementara itu Rasmini tidak juga sembuh dari pukulan batin yang dideritanya, malahan makin memburuk dan terlihat gejala-gejala terganggunya pikiran. Mak Resmi yang menderita pukulan batin sejak didatangi kawanan perampok, kemudian melihat Rasmini yang sudah setengah gila, mulai sakit-sakitan. Akhirnya mujur tak dapat diraih malang tak dapat ditolak, Mak Resmi meniggal dalam penderitaan.
     Tinggallah Rasmana dan Rasmini hidup berdua menyongsong masa depan yang suram. Sudah tentu Rasmana tidak dapat lagi melaksanakan tugasnya sebagai pemimpin para pemuda.
     Rasmana kini harus mengurus kakaknya, Rasmini, yang sering duduk termangu dan mengoceh sendirian, kadang-kadang tertawa, kadang-kadang menangis. Pada suatu malam Rasmana berkata kepada Rasmini.
     "Kak, Kak Rasmini, aku Rasmana. Kak bagaimana kalau kita meniggalkan kampung ini? Kurasa kampung ini sudah tidak aman lagi. Kang Barda sekarang sudah berubah." Mendengar kata 'Barda', Rasmini melihat kepada adiknya seakan-akan minta keterangan lebih jauh.
     "Kang Barda sudah berubah jauh sekali, Kak! Dia sekarang menjadi kepala kampung tapi perbuatannya justru merugikan penduduk kampung. Dia menarik pajak yang lebih besar daripada upeti yang biasa kita berikan kepada gerombolan perampok dulu. Dia juga sering mengganggu gadis-gadis kampung. Para pemuda yang dilatihnya kini digunakan untuk tujuan memeras penduduk. Aku khawatir mereka pada akhirnya akan mengganggu kita juga. Bagaimana pendapatmu, Kak?" Tanpa disangka, Rasmini justru manggut-manggut.
     "Engkau setuju Kak? Kita pergi saja ke rumah paman di desa Cimanggu sana. Kita berangkat lusa, ya Kak?"
     Demikian, lusanya pagi-pagi benar mereka berdua sudah berangkat menuju desa Cimanggu dengan hanya membawa pakaian dan makanan sekedarnya. Mereka berjalan lambat karena Rasmini sering minta berhenti di jalan. Rasmana merasa sedih harus meninggalkan kampung halamannya yang sekarang menjadi kampung dengan suasana hidup yang muram. Tidak ada seorang pun yang dapat menahan sifat angkara murka si Barda.
     Tak terasa hari menjelang sore, padahal mereka masih berada dekat hutan yang angker dan lebat. Rasmana kebingungan mencari tempat bermalam. Rasmana melihat kepada kakaknya seakan-akan menyalahkan kakaknya yang tidak bisa berjalan cepat. Rasmini rupanya mengerti dan kelihatan seperti berpikir, melihat ke kiri, ke kanan, ke atas. Lalu ia menekurkankepala dan memejamkan matanya. Tak lama kemudian ia tersenyum sendiri. Rasmana menjadi jengkel melihat kelakuan kakaknya. Belum sempat ia berkata apa-apa Rasmini sudah berjalan mendahuluinya. Ia cepat-cepat mengikuti Rasmini. Rasmini tampak membelok ke arah hutan!
     "Kak, Kak, jangan ke sana, kita bisa tersesat!" Rasmana memanggil, tapi Rasmini berjalan makin cepat. Rasmana mengejarnya dan memegang tangun Rasmini untuk menahan masuk hutan. Rasmini meonta dan kemudian berlari-lari memasuki hutan lebih dalam Rasmana mengejar terus sambil berteriak-teriak agar Rasmini berhenti, tapi Rasmini menoleh pun tidak.
     Rasmini malahan berlari makin cepat seolah-olah kesetanan. Rasmana membuang segala beban dan bekal dan dengan sekuat tenaga mengejar Rasmini walaupun keadaan dalam hutan suram karena lebatnya daun-daunan, apalagi hari pun menjelang magrib. Rasmana tidak merasakan kakinya terantuk-antuk dan badannya tergores ranting-ranting tajam sehingga bajunya koyak-koyak.
     Bermaca-macam perasaan tergores di hatinya, namun semuanya tidak diperhatikannya karena yang penting adalah mengejar Rasmini. Napasnya sudah memburu, badan dan kakinya terasa letih dan pedih, untunglah Rasmini kelihatan mulai lelah sampai akhirnya berhenti. Rasmana menyusulnya dan berkata terbata-bata.
     "Kak, ayo kita kembali ke jalan setapak tadi." Tapi Rasmini diam saja sambil melihat ke suatu arah. Rasmana melihat ke arah pandangan mata Rasmini dan melihat sebuah rumah kecil dengan nyala pelita di dalamnya yang menerobos melalui celah-celah pintu. Rasmana merasa heran mengapa di dalam hutan ada rumah yang tampaknya dihuni orang.
     Rasmini berjalan ke rumah itu. Rasmana hendak mencegah tapi urung, karena ia sadar bahwa ia memerlukan tempat untuk bermalam bersama Rasmini. Belum sampai ke sana, pintu sudah terbuka dan terlihat seorang tua tersenyum ke arah mereka. Rasmini menghampiri orang tua yang kumis, jenggot dan rambutnya sudah mulai memutih. Sambil menghormat, Rasmini berkata.
     "Sudilah Kakek dan Nenek menerima kami berdua yang sedang menderita ini." Kakek itu menjawab, "Jangan khawatir cucu-cucuku, kalian kuterima di sini dengan senang hati. Bersabarlah atas apa yang kalian alami."
     Rasmana merasa heran karena seolah-olah kakek itu sudah mengethui apa yang dialaminya. Mereka masuk dan tampak seorang nenek yang juga tersenyum ke arah mereka. Hei, mengapa kakakku sudah tahu bahwa ada seorang nenek di sini? Demikian suara hati Rasmana.
     Nenek itu berkata, "RAsmini, engkau harus menyucikan dirimu dulu. Dan Rasmana tinggallah di sini untuk menerima gemblengan dari Kakek Soma suamiku."
     "Baa..ba..baik, Ne..nek," kata Rasmana terbata-bata. Anehnya begitu masuk rasa letih dan pedih hilang begitu saja dan Rasmini tampaknya juga sudah berubah wajahnya, tidak lagi kosong, melainkan tampak sehat dan segar seperti biasa. Dan yang lebih aneh ia melihat di atas meja tergeletak pakaian dan bekalnya yang dilepaskannya pada waktu mengejar Rasmini tadi.
     "Nah, makan dan beristirahatlah dulu, besok kita mulai," kata Kakek Soma.
     Esok harinya Rasmana tidak melihat si nenek dan Rasmini. Ia tidak menanyakannya karena ia percaya bahwa Rasmini berada dalam perlindungan yang baik dari Nenek Soma. Pada hari itu Rasmana disuruh mengulang jurus-jurus silat yang sudah diketahuinya, baik yang didapat dari ayahnya maupun dari Barda si manusia sesat. Kakek Soma berkata bahwa segala ilmu itu baik, asal orang menggunakannya secara benar dan terpuji.
     Walaupun sudah tua Kakek Soma dapat bergerak cukup lincah. Kakek Soma mengatakan bahwa badan adalah alat jiwa yang dengan pikiran dan tekad yang bulat dapat digunakan menurut tujuan dan maksud manusia. Gerakan raga bisa membangunkan kekuatan jiwa, namun gerakan yang lepas dari kesadaran dan digunakan untuk tujuan nafsu pada akhirnya akan merugikan diri sendiri dan bertentangan dengan tujuan semula.
     Hari demi hari Kakek Soma menggembleng Rasmana dan memperhalus gerakan jurus-jurus silat Rasmana. Sedikit demi sedikit Rasmana mulai mengerti tujuan ilmu gerak, walaupun ia harus kenyang menerima pukulan-pukulang tongkat Kakek Soma.
     Pada hakikatnya, begitu kata Kakek Soma, silat atau ilmu gerak bukanlah untuk menyakiti lawan. Kita harus membuat lawan mengerti bahwa gerakannya untuk menyakiti diri kita akibatnya hanya akan berbalik terhadap dirinya.
     Setelah Rasmana dapat menguasai jurus-jurus yang sudah dipelajarinya, maka mulailah Kakek Soma menurunkan ilmunya, 27 jurus silat 'Tarian Malaikat' yang katanya dapat mengatasi segala ilmu hitam.
     Selang beberapa waktu karena Rasmana betul-betul berlatih tanpa kenal lelah, ia sudah bisa menguasai 27 jurus 'Tarian Malaikat' dan cara-cara penggunaannya.
     Sesudah Rasmana dianggap mahir, mulailah tingkat yang lebih berat lagi y aitu memeras yang 26 jurus menjadi 18 jurus. Di sinilah Rasmana mulai tersendat-sendat. Kakek Soma hanya tersenyum.
     "Baiklah cucuku, pelajaran meningkat menjadi lebih sulit. Engkau harus memusatkan perhatianmu. Berdoalah kepada yang Mahakuasa, ingatlah kedua orang tuamu dan ingatlah nasib orang-orang sekampungmu. Engkau mempunyai tugas yang berat kelak," kata Kakek Soma membakar semangat Rasmana. Rasmana tergugah dan dengan tekun ia mengikuti petunjuk-petunjuk Kakek Soma. Walau begitu tak urung kepalanya terasa berputar-putar, matanya berkunang-kunang, darahnya serasa mendidih, isi perutnya terasa sakit dan sering muntah-muntah dari atas dan dari bawah.

     Hari-hari berlalu tak terasa, Rasmana sudah sanggup memeras 'Tarian Malaikat' menjadi 18 jurus saja. Badannya kini lebih kuat dan ringan. Suatu malam Kakek Soma berkata, "Cucuku Rasmana, sudah empat bulan kau tinggal di sini kukira itu sudah cukup bagimu. Engkau harus menghukum Barda, karena Barda adalah utusan dari dunia hitam yang harus diakhiri tugasnya. Pulanglah besok hari dan engkau akan menemui Rasmini di sana."
     Besoknya pagi hari terasa matahari membakar kulit Rasmana yang masih tertidur. Rasmana bangun tetapi ia mendapati dirinya terbaring di atas rumput di pinggir jalan setapak. Rasmana merasa seperti mimpi dan ia bertanya dalam hati, masih hidupkah aku?
     Namun matahari yang bersinar terang menjadi jaminan bahwa ia masih h idup di dunia fana ini. Ia segera berjalan ke arah kampungnya, desa Ciguriang dan anehnya ia merasa lebih cepat dan ringan sehingga dalam waktu 2 jam saja kampung halamannya sudah terlihat kembali.
     Tiba di pemakaman orang tuanya ia menangis sepuasnya. Setelah itu ia teringat kepada Rasmini. Di manakah Rasmini? Kemudian ia bangkit dan berjalan ke rumahnya. Ternyata anak buah Barda sudah menguasai rumahnya, menjadikannya tempat menyabung ayam, minum tuak, menghibur diri dengan wanita-wanita yang diambil secara paksa dari orang-orang tuanya.
     Ketika Rasmana membuka pintu terlihat anak-anak buah Barda yang dulu menjadi teman-temannya sudah menjadi orang-orang yang rusak pekertinya, ada yang sedang bermain kartu, ada yang sedang memeluk wanita, suasananya sungguh memuakkan hati Rasmana.
     "He.he.. engkau Rasmana, dari mana saja kau? Mana RAsmini yang sudah gila karena tidak mendapat cinta junjungan kita, hahaha.." kata Darya temannya dulu yang bisa mengenali Rasmana.
     "Diam kau Darya dan keluarlah dari rumahku ini!" Rasmana membentak karena amarahnya meluap melihat rumahnya berantakan.
     "Uah.ha.hahahaha.. rumahmu? Rumah ini sudah menjadi milik kami. Semua rumah di kampung ini adalah milik Den Barda. Bukan saja rumah, semua jiwa di kampung ini adalah miliknya. Hahaha.. "
     Semua anak buah Barda tertawa terbahak-bahak. Kelihatan juga oleh Rasmana ada orang-orang yang tidak dikenalnya. Hmm, mungkin mereka anak perguruan Racun Biru, pikir Rasmana. Kemarahan Rasmana meluap, diangkatnya kursi dan dilemparkannya ke arah Darya.
     "Aduh, kurang ajau kau Rasmana! Kuhantam kau!" Darya mengaduh terkena lemparan kursi. Ia ingin membalas, tetapi akibat lemparan tadi terasa sakit sekali dan mendadak seluruh badannya terasa lemah. Yang lain segera bangkin dan menyerang Rasmana, tapi dengan sedikit tangkisan satu sentuhan tiga orang segera roboh tidak bangun lagi.
     Tiga orang yang tidak dikenalnya datang menyerang. Pukulannya lebih mantap dan berhawa dingin sekali. Rasmana menggigil namun hanya sebentar dan segera ia mundur ke halaman agar lebih leluasa. Dikeroyok tiga orang Rasmana baru bisa membuktikan bahwa latihan selama ini memang telah berbuah, tapi siapakah Kakek Soma?
     Pertanyaan ini mulai menggoda hatinya. Karena agak lengah sebuah pukulan masuk mengenai dadanya, tapi secara refleks badannya mendoyong ke belakang dan sebelum si penyerang menyadari, kaki Rasmana sudah terangkat menendang pinggang. Si penyerang itu mengaduh lalu roboh. Tiga gerakan berturut-turut yang dilancarkan Rasmana membuat tiga anak buah Barda terbaring kesakitan. Bereslah sudah. Wanita-wanita dalam rumah Rasmana sama-sama ketakutan ketika melihat Rasmana masuk.
     "Pulanglah kalian semua, tinggalkan rumahku ini. Dan kau Darya bersama yang lain beritahukanlah kepada Barda untuk mengakhiri tindakannya yang sewenang-wenang itu", kata Rasmana berwibawa. Semua anak buah Barda segera kabur untuk melaporkan kejadian yang dialaminya itu.
     Barda tidak percaya bahwa Rasmana telah berubah. Tapi kalau adik-adik seperguruannya pun tidak mampu menghadapi Rasmana, mau tidak mau ia harus berhati-hati. Ketika Barda melihat Rasmana mendatangi, ia menyambutnya sambil tertawa, "Hai, kepala lasykarku, ke mana saja kau?"
     Rasmana menjawab, "Kau, Barda, insaflah sebelum aku bertindak."
     "Hohoho.. kau anak kemarin sore hendak menghadapiku? Baik, baik.. ayolah, jangan banyak omong kalau engkau ingin merasakan kepalanku." Barda mengejek.
     "Jangan engkau menyesal. Sambut seranganku!" kata Rasmana sambil menyerang. Barda berkelit dan balas menyerang. Begitulah mereka saling menyerang. Keduanya sama-sama tangguh. Rasmana merasa terkejut karena pukulan-pukulan Barda berhawa sangat dingin dan hal ini membuat napasnya terasa berat, dadanya sesak. Sebaliknya Barda merasa sangat heran karena pukulan-pukulannya dapat dihindari secara mudah, sedangkan pukulan Rasmana terasa panas dan pedih sehingga badannya mengandung hawa dingin terasa menjadi panas dingin.
     Karena itu Barda meningkatkan lagi serangannya. Anak buah Barda melihat pertempuran dengan mata berkunang-kunang dan hati yang was-was. Rasmana merasa terdesak oleh serangan Barda yang bertubi-tubi dan dadanya terasa makin sesak. Ia selangkah muncur karena tak kuat.
     Sesungguhnya keadaan Barda juga sudah payah, tapi ia menguatkan hatinya dan menyerang terus. Sekonyong-konyong ia melihat sebuah bayangan wanita yang segera menjadi jelas dan sangat dikenalnya. Rasmini tampak senyum kepadanya. Hati Barda tiba-tiba saja menjadi terharu dan teringat kepada segala dosanya. Namun tiba-tiba sebuah pukulan Rasmana sudah bersarang di dadanya. Barda terlempar dan muntah darah. Matanya menjadi gelap dan ia tidak ingatkan diri lagi. Anak buahnya semua terkesima. Darya dan teman-teman lama Rasmana dalam lasykar dulu semua datang dan minta ampun, sedangkan anak buah Barda yang tidak dikenal segera pergi dengan meninggalkan Barda begitu saja.
     "Ayo, tolonglah aku mengobati Barda", kata Rasmana. Rasmana mengurut dada Barda tiga kali dan kelihatan Barda membuka matanya. Sorot matanya lemah.
     Setelah menitipkan Barda kepada Darya, Rasmana segera pulang ke rumahnya kembali. Ketika ia membuka pintu rumah kelihatan ruangan sudah rapi dan bersih. Tiba-tiba muncul Rasmini.
     "Kakak!" kata Rasmana sambil menghampiri dan memeluk kakaknya Rasmini.
     "Kakak, aku rindu padamu". Keduanya berpeluk-pelukan sambil menangis.
     "Sudahlah Dik, kita harus tabah dan menghadapi hidup yang baru. Masih banyak tugas yang harus kau lakukan Dik", kata Rasmini. Tugas? Pikir Rasmana. Ya, dia sadar. Dia sudah jadi orang kuat sekarang dan harus terus berbuat bagi sesama manusia yang tertinda.
     "Oh ya Kak, sebetulnya siapakah Kakek dan Nenek Soma itu? Ke mana kau dibawa oleh Nenek Soma?" tanya Rasmana.
     "Soal siapa Kakek dan Nenek Soma itu, tidak usah kau pikirkan benar-benar. Orang-orang menamakan mereka 'manusia gaib dari Gunung Salak'. Aku sendiri kurang tahu apakah sebetulnya mereka itu masih hidup di dunia fana ini. Hal itu di luar jangkauan kita. Aku sendiri dibawa oleh Nenenk Soma bermandi suci di bawah air terjun Cicurug supaya jiwaku bebas dari perbuatan dosaku sendiri. Kini yang perlu bagi kita adalah bersyukur ke hadirat Yang Mahakuasa. Barda sudah terhukum dan sekarang ia menjadi manusia biasa yang tidak memiliki lagi ilmunya yang jahat itu", demikian Rasmini menjelaskan.
     Rasmana dan Rasmini akhirnya dapat memulai kembali kehidupannya dengan tenteram bersama-sama penduduk desa yang selama ini dalam cengkeraman teror si Barda.
diceritakan oleh Gemi Ara
majalah senang 00531, thn 1982

     Nama yang sebenarnya bukan Sawunggaling. Pada waktu kecilnya dia bernama Jaka Bereg. Setelah menjelang dewasa, Jaka Bereg sangat gemar menyabung ayam. Dan ayamnya selalu menggondol kemenangan. Ayamnya itu setiap hari oleh ibunya, Rara Blengoh, selalu memberikan makanan yang sangat bermanfaat kepada ayam itu menyebabkan ayam itu selalu unggul dalam pertarungan. Tubuh ayam itu besar dan gagah, sehingga kekuatannya melebihi ayam-ayam lain.
     Jaka Bereg sangat bangga. Apalagi setelah orang-orang di dusunnya, desa Wlidah, menyebut namanya bukan lagi Jaka Bereg, tetapi Sawunggaling. Sawung artinya ayam jantan dan galing adalah makanan yang tiap hari diberikan kepadanya. Jaka Bereg sendiri lebih senang dengan nama Sawunggaling.
     Sesungguhnya pula, Sawunggaling adalah putra seorang bangsawan dari Surabaya, Adipati Jayengrana. Karena sejak kecil dia tinggal bersama ibunya, Rara Blengoh, maka setelah besar Sawunggaling pergi ke Surabaya menyusul ayahnya. Sawunggaling mempunyai kepribadian yang menarik, cerdas, berbudi luhur dan tangkas dalam olah keprajuritan. Maka Adipati Jayengrana mengangkat Sawunggaling menjadi calon penggantinya, meskipun Sawunggaling sebenarnya masih mempunyai lima saudara dari lain ibu.

     Pada tahun 1707, keadaan di dalam negeri Surabaya sedang suram. Kompeni Belanda yang sudah mencengkeramkan kukunya di berbagai daerah di tanah Jawa, mulai merembes juga ke Surabaya. Demikianlah Adipati Jayengrana juga selalu mendidik anak-anaknya tetap waspada menghadapi pihak kompeni. Sawunggaling yang sudah dewasa, ikut membantu ayahnya mengatur pemerintahan. Dan ternyata dia memang cerdas dalam menghadapi segala kesulitan di dalam negeri. Kompeni belum puas, kalau Jayengrana belum dapat dimusnahkan, karena dia dianggap sebagai duri penghalang. Segala usaha tidak berhasil untuk menjebaknya, karena Jayengrana memang cerdik juga dalam siasatnya menghadapi Belanda.
     Akhirnya Belanda minta pertolongan dari raja Kartasura, Pakubuwana I. Dengan kata-kata manis Belanda mengadu, bahwa Adipati Jayengrana telah berkhianat kepada Belanda, tidak mau memberi setoran hasil tanaman perdagangan dengan jumlah yang semestinya. Belanda meminta agar Jayengrana dijatuhi hukuman mati. Permintaan itu sebenarnya sangat mengejutkan Pakubuwana I, karena Jayengrana adalah salah seorang Adipati yang banyakjasanya, sangat taat kepada Sunan Pakubuwana I.
     Tetapi, karena Pakubuwana I juga sangat takut kepada kompeni, maka kemudian dia segera memberi perintah untuk membuat surat y ang ditujukan kepada Jayengrana, agar secepatnya menghadap ke Kartasura. Jayengrana memenuhi panggilan itu. Kemudian dia dianggap bersalah dan dijatuhi hukuman dengan lehernya diikat dengan 'lawe', kedua ujungnya ditarik oleh dua orang, sehingga dia tercekik dan menemui ajalnya. Jenazahnya dimakamkan di kampung Laweyan di dalam kota Surakarta sekarang, yang asalnya dari perkataan lawe.
     Kemudian sebagai penggantinya, Sawunggaling diangkat menjadi Bupati Surabaya, untuk menggantikan ayahnya. Sawunggaling tahu, bahwa ayahnya telah difitnah oleh Belanda, sehingga kebenciannya kepada kompeni semakin bertambah meluap. Juga dengan Sawunggaling ini, kompeni ingin mengadakan berbagai persetujuan untuk bekerja sama. Tiap usaha akan dipergunakan untuk dapat melunakkan hatinya. Tetapi Sawunggaling tetap waspada. Dibicarakannyalah masalah kelicikan Belanda ini denagn patihnya yang setia, Raden Suderma.
     "Paman Patin," katanya. "Dengan meninggalnya ayahanda, tahulah kita betapa licinnya musuh yang kita hadapi. Licin dan rendah budinya."
     Patih Suderma mengerti, bahwa kematian Jayengrana sangat melukai hati Sawunggaling. Biarpun sekarang dia yang diangkat menjadi Bupati, namun Sawunggaling sedikitpun tidak merasa senang. "Memang demikian, Gusti Adipati," jawab Patih Suderma. "Untuk mencapai kehendaknya, mereka tidak peduli apakah cara yang mereka lakukan itu bersifat pengecut atau penipu."
     Sawunggaling bertambah sedih ketika mengetahui bahwa pamannya yang menjadi Bupati di Semarang, Adipati Sasradiningrat, ternyata juga telah memihak kepada Belanda. Bahkan dengan tidak disadarinya, Belanda telah menggunakan akal liciknya, memperalat Adipati Sasradiningrat untuk membujuknya agar mau memerangi Raja Maulana dari Tambaskelingan (Madura).
     Adipati Sasradiningrat mengatakan bahwa kedudukan Raja Maulana sangat membahayakan bagi keamanan di Pulau Jawa sebelah timur, karena Maulana hendak menyerbu ke Jawa.
     Akhirnya Sawunggaling menyanggupi permintaan pamannya itu, tanpa menyadari bahwa yang menjadi dalangnya adalah Belanda juga. Belanda merasa dihalang-halangi oleh Raja Maulana dalam usahanya untuk mendirikan benteng-benteng di daerah Tambaskelingan dan selalu mendapat perlawanan yang hebat.
     Dengan membawa pasukan yang cukup besar, Sawunggaling menujuke Tembaskelingan. Pertempuran di Tambaskelingan seru sekali. Memang Raja Maulana mempunyai prajurit yang kuat. Belanda sendiri tidak mampu memadamkan perlawanan itu. Oleh karenanya Belanda mengatur siasat untuk mengajukan Adipati Sawunggaling. Maksudnya agar Sawunggaling gugur di medan pertempuran melawan Raja Maulana karena Sawunggaling merupakan duri di mata kompeni. Belanda sudah yakin Sawunggaling pasti akan tewas dalam pertempuran itu.
     Harapan Belanda meleset. Sawunggaling ternyata memperoleh kemenangan di dalam peperangannya melawan Raja Maulana. Namun kekecewaan Belanda itu mendapatkan ganti, karena selama Sawunggaling mengadu nyawa di Tambaskelingan, kompeni Belanda dengan pasukannya yang besar menyerbu Surabaya. Dengan kejamnya mereka membasmi habis semua pasukan Sawunggaling yang masih tinggal di Surabaya. Belanda menduduki Surabaya dalam waktu sangat singkat.
     Pulang dari Tambaskelingan, Sawunggaling sangat kaget mengetahui bahwa Surabaya telah jatuh ke tangan Belanda. Sadarlah ia bahwa Belanda telah menipu dirinya dengan licik dan mentah-mentah. Sawunggaling merasa mendongkol dan hatinya menangis. Namun begitu, semangatnya untuk mengusir Belanda dari Jawa tidak pernah padam sama sekali.
     Dengan sisa pasukannya yang masih lemah karena baru selesai berperang, Sawunggaling berusaha melawan pasukan Belanda yang menghadangnya. Pertempuran terjadi lagi. Bunyi senapan, keris, tombak dan rintihan serdadu yang sekarat menjadi satu. Belanda terus mendatangkan bala bantuan. Serdadu kompeni sangat kuat dan jauh lebih banyak dari prajurit Sawunggaling. Peperangan berhasil dimenangkan oleh Belanda. Korban di pihak Sawunggaling sangat banyak.
     Sawunggaling dengan didampingi sisa pasukannya yang semakin bertambah susut berhasil meloloskan diri, menyeberang menuju ke Sampang, di Madura. Sampai di Sampang, dia diterima dengan baik. Bupati Sampang yang masih sekeluarga dengannya, meminta supaya dia tinggal beberapa hari di situ untuk beristirahat dengan tenang.
     Sebenarnya Adipati Sampang ini pun telah bekerja sama dengan kompeni Belanda. Malah beberapa hari sebelumnya dia telah mendapat perintah dari Belanda untuk menangkap Sawunggaling, apabila Sawunggaling mengundurkan diri sampai di Sampang. Hal ini sama sekali tidak diduga oleh Sawunggaling. Adipati Sampang kemudian mengusulkan agas Sawunggaling menujuke Kartasura meminta perlindungan kepada Sunan Pakubuwana I.
     Maka dengan diantarkan oleh Adipati Sampang, Sawunggaling berangkat ke Kartasura. Tetapi ketika mereka sampai di Surabaya, ternyata Adipati Sampang menyerahkan Sawunggaling kepada Belanda. Sawunggaling tidak dapat berbuat apa-apa lagi, kecuali hanya menyerah. Dia kemudian dimasukkan ke dalam sebuah kamar di penjara dengan penjagaan kuat.
     Karena pertolongan seorang penjaganya yang ternyata simpati kepada perjuangan Sawunggaling yang tanpa mengenal pamrih, maka Sawunggaling berhasil lolos dari penjara. Sawunggaling bebas, lalu menggabungkan diri dengan para prajuritnya yang masih tetap setia meneruskan perlawanan terhadap Belanda di bawah pimpinan Patih Suderma. Mengetahui bahwa Sawunggaling lolos dari penjara dan menggabungkandiri lagi dengan sisa-sisa pasukannya, Belanda menjadi sangat gusar. Mereka menyiapkan pasukan untuk menumpas pemberontakan itu.
     Pertempuran dahsyat terjadi lagi di sekitar Surabaya. Para prajurit Sawunggaling melawan dengan sekuat tenaga. Tetapi Belanda mendatangkan banyak bala bantuan dari Batavia, dari Madura dan dari Sulawesi.
     Pasukan Sawunggaling terpaksa mengundurkan diri karena kekurangan persenjataan. Mereka tidak mau menyerah, biarpun banyak sekali korban yang berjatuhan. Sawunggaling melihat, memang tidak ada gunanya untuk melawan terus, karena pasukan kompeni jauh lebih besar, lebih kuat dan lengkap persenjataannya.
     Para prajuritnya diberi perintah untuk menghentikan perlawanan, karena mereka hanya akanmenjadi umpan peluru saja kalau terus bertempur. Tetapi Sawunggaling sendiri, secara diam-diam tanpa sepengetahuan para prajuritnya, menghunus kerisnya. Dan dengan dada terbuka dia menerobos ke tengah-tengah barisan musuh. Sawunggaling mengamuk bagaikan 'banteng ketaton'. Dengan kerisnya yang ampuh dia menusuk ke kiri dan kanan, sehingga banyak sekali serdadu musuh yang menemui ajalnya di ujung keris Sawunggaling.
     Sawunggaling sudah bertekad bulat, sebelum gugur di medan pertempuran - kematian yang selalu menjadi impiannya - dia harus terlebih dahulu menewaskan serdadu musuh sebanyak-banyaknya.
     Serdadu musuh menjadi kalang kabut, karena menyaksikan tubuh teman-temannya terkapar dan menggelepar di tanah yang basah oleh darah segar. Namun mungkin sudah sampai pada saatnya. Ketika Sawunggaling sedikit lengah, maka dia kena sebuah tembakan dari samping. Badannya segera basah oleh darah.
     Dan setelah dirasanya bahwa kekuatannya makin menyusut, maka ditusukkannya keris yang dipegangnya ke dalam perutnya sendiri. Lebih baik mati karena keris sendiri, daripada mati oleh tangan musuh. Namun impiannya telah terkabus, yakni gugur di medan pertempuran!
     Perlahan-lahan tubuh Sawunggaling jatuh ke tanah, sementara darah merah mengucur semakin deras dari luka di perutnya. Sawunggaling gugur sebagai pembela bangsa, sebagai seorang pahlawan besar, tetapi hingga kini tidak ada seorangpun yang mengetahui di mana makamnya.

diceritakan oleh Sudibyo Eswe
majalah Senang 00533 thn 1982

KISAH NYATA !!
     Fatimah merasa badannya kurang sehat malam itu. Sudah dikatakannya kepada suaminya tentang hal itu ketika suaminya akan pergi menagih utang kepada seorang kawannya. Tetapi berhubung keadaan Fatimah dilihatnya tak begitu mengkhawatirkan, hanya demam sedikit saja, maka Yono pergu juga dengan hanji akan pulang secepatnya.
     Fatimah juga mengerti, jika Yono tidak menagih uang itu sekarang, besok mereka tidak mempunyai uang yang cukup buat belanja mereka. Tanpa banyak rewel Fatimah mengizinkan Yono pergi malam itu. Hanya pergi beberapa jam saja, tak akan lama dia menunggu, pikirnya. Sedangkan anak-anaknya sudah sedari tadi tertidur. Dia akan tidur-tiduran di tempat tidur dalam menanti kedatanngan suaminya itu. Apa sebenarnya yang ditakuti? Sedangkan mereka tinggal bukannya di daerah yang terpencil melainkan di jantung kota Jakarta yang padat oleh penduduknya.
     Minumlah obat, Fat! Aku akan pergi sebentar saja, tak akan lama," kata suaminya kepada Fatimah. Fatimah mengangguk tanpa menjawab. Diantarnya Yono sampai ke muka pintu. Angin dingin malam itu menyembut tubuh Fatimah. Sehingga ia sedikit menggigil. Cepat-cepat ditutupnya pintu dan dikuncinya rapat-rapat.
     Setelah kepergian suaminya Fatimah mengambil sebutir obat yang biasanya akan dapat meredakan demam setelah diminum. Setelah itu ia langsung merebahkan dirinya di tempat tidur di sebelah kedua orang anaknya yang sedang dibuai mimpi. Dirasanya tubuhnya semakin menggigil, dan dengan tangan yang gemetar dirabanya dahinya sendiri. Begitu panas membara. Kepalanya berdenyut-denyut. Dirasanya tempat tidurnya bergoyang-goyang seperti ada yang menggerak-gerakkan. Dipejamkannya matanya. Tetapi itu tak dapat mengurangi rasa sakitnya.
     Entah berapa lama dia memejamkan matanya dalam penderitaan itu. Mungkin karena pengaruh obat sudah memasuki tubuhnya, sehingga Fatimah akhirnya dapat tertidur juga.
     Di dalam tidurnya Fatimah seperti mendengar ada yang mengetuk pintu depan. Terdengar pula oleh telinganya desau angin yang merintih di luar sana. Didengar pula lolongan seekor anjing yang sangat memilukan di kejauhan. Tetapi suara-suara itu tak dapat mengalahkan suara ketukan pintu yang tambah lama bertambah keras.
     Dengan malas-malasan Fatimah bangkit dari tempat tidurnya. Mungkin suaminya yang pulang. Tetapi kenapa Yono tidak memanggil-manggilnya seperti basa? Kemungkinan besar Yono sudah memanggil-manggilnya ketika ia sedang tidur pulas tadi, jadi Fatimah tidak mendengarnya.
     "Bang Yono! Kaukah yang di luar itu?" tanya Fatimah sebelum dia membukakan pintu. Sepi. Hanya terdengar desah angin mendatangkan kesan seram di hati Fatimah.
     "Bang Yono!! Kau yang datang?!" Fatimah bertanya lagi dengan suara bergetar, karena dirasanya tubuhnya begitu menderita dengan rasa sakit di kepalanya.
     "Bukan! Aku Marta!" jawab yang ditanya. Fatimah menarik napas lega mendengar jawaban dari luar. Kiranya yang datang adalah Marta kawan karib suaminya. Maka tanpa ragu-ragu dibukanya pintu. Marta masuk dengan wajah lesu. Tetapi Fatimah tidak memperhatikan hal itu. Dia membiarkan tamunya duduk di kursi tamu. Fatimah sendiri duduk di kursi panjang dan menyenderkan kepalanya yang terasa sangat berat tanpa memandang tamunya. Tetapi tiba-tiba ia teringat kepergian suaminya itu bermaksud untuk ke rumah Marta. Tetapi kenapa Marta tiba-tiba ada di rumahnya? Lalu ke mana suaminya sampai saat ini belum juga datang? Apakah suaminya sudah mulai tega membohonginya? Ah, mungkinkah? Selama ini suaminya tak pernahmembohonginya.
     "Tetapi kata suamiku aka ingin ke rumahmu, Ta!" kata Fatimah kepada Marta yang kelihatannya sedang mabuk.
     "Mungkin, soalnya aku sedari sore tidak berada di rumah. Kapan dia pergi, Fat?" tanyanya tanpa menoleh kepada Fatimah.
     "Kira-kira pukul tujuh," jawab Fatimah sambil menguap karena begitu mengantuk.
     "Mungkin Yono ingin menagih utang. Kasihan dia, aku belum juga mampu membayarnya!" kata Marta dengan sedih. Fatimah agak heran melihat Marta yang seperti sedang menghadapi persoalan. Tetapi Fatimah tak ingin lebih banyak bertanya kalau Marta tidak menceritakan kesusahannya lebih dahulu. Fatimah hanya ingin Marta cepat-cepat berlalu dari rumahnya. Sebaba jika tak ada suaminya dia akan merasa tidak enak juga berduaan dengan seorang laki-laki. Walupun tetangga mereka mengetahui bahwa Marta adalah kawan dekat suaminya. Tetapi setidak-tidanya dia merasa tak enak pada dirinya sendiri. Apalagi hari sudah begini malam.
     "Apakah kau ada keperluan yang sangat penting sehingga tidak biasanya kau datang malam-malam begini?" tanya Fatimah. Marta menggelengkan kepalanya dengan malas. Laki-laki itu seperti sedang dalam kesukaran. Buktinya dia enggan untuk menyahut banyak segala pertanyaan Fatimah. Fatimah juga tidak memedulikan itu. Dia menganggap Marta kebetulan sedang mabuk berat sehingga malas untuk banyak bicara kepadanya. Tetapi, ah..dia begitu mengantuk sekali! Untuk meninggalkan Marta sendirian saja di kursi itu, rasanya kurang sopan. Lalu dipejamkannya matanya sambil tetap duduk di kursinya. Tiba-tiba dia dikejutkan oleh perasaannya sendiri! Hidungnya mencium sesuatu bau wangi yang biasanya mengharumi suasana rumah yang sedang ditimpa suatu kematian.
     Yah, bau itu adalah bau yang tidak aneh lagi bagi Fatimah. Bau setanggi yang dibakar! Mengingat semua itu Fatimah membuka matanya yang tadi terpejam. Pandangannya tepat terjatuh ke wajah Marta yang sedang tertunduk menatap lantai. Seketika Fatimah terpana dengan kenyataan ini. Wajah Marta begitu pucat. Dan adal lagi yang menjadi tanda tanya di dalam hatinya. Mengapa selalu tak mau menatap matanya jika sedang berbicara? Marta selalu memandang ke arah lain jika sedang berbicara dengannya. Itu bukan kebiasaan Marta. Fatimah mengenal Marta sudah sangat lama dan dia tahu Marta adalah seorang laki-laki yang jujur. Seorang yang jujur selalu menatap orang yang sedang diajaknya bicara. Tetapi Marta tidak melakukan itu. Itu bukan kebiasaan Marta.

     Sedang sibuknya Fatimah berperang melawan kata hatinya dengan meyakinkan dirinya bahwa Marta berubah atau meninggalkan kebiasaannya karena pikirannya yang sedang kalut, laki-laki itu memulai lagi pembicaraannya.
     "Fat! Pernahkah kau mendengar tentang kematian yang dipaksakan? Maksudku, bukan suatu kematian yang wajar? Misalnya, seseorang yang mati terbunuh. Apakah arwah-arwah orang seperti itu dapat diterima di sisi Tuhan?" Marta bertanya dengan masih menundukkan kepalanya ke lantai.
     "Apa maksudmu, Marta?" tanya Fatimah dengan wajah pucat. Dia tak mengerti mengapa Marta berbicara seperti itu.
     "Maksudku.. jika sekali waktu kita terbunuh dengan paksa oleh seseorang, akan bisakah arwah kita diterima oleh Tuhan Yang Mahaesa? Sedang kita belum lagi menyiapkan diri untuk bertemu dengannya? Misalnya aku mati dibunuh orang dengan usus terburai keluar dan kematian itu disebabkan oleh sebuah perkelahian yang bukan atas kemauanku. Apakah arwahku akan gentayangan mencari pembunuhku untuk melakukan pembalasan dendam atas perbuatannya itu?" kata Marta dengan sungguh-sungguh kepada Fatimah. Fatimah memandangi wajah Marta penuh selidik. Tetapi dia menjawab juga sedapat-dapatnya.
     "Itu tergantung, Marta.! Jika orang itu mati dengan pasrah walaupun ia dibunuh, dia tak akan menjadi setan pengganggu bagi manusia, juga tak akan menuntut balas kepada yang membunuhnya. Persoalan diterimanya manusia di sisi Tuhan, aku sama sekali tak mengerti. Aku hanya tahu Tuhan menerima siapa pun dia adanya jika sudah waktunya dia menghadapNya! Hanya itu yang kuketahui." Marta terdiam mendengar jawaban Fatimah. Dia seperti sedang memikirkan sesuatu. Fatimah juga tak mau mengganggu Marta. Dia hanya mengharapkan agar Marta mengerti bahwa dia sebenarnya sudah sangat mengantuk.
     "Hari sudah larut malam, Marta! Pulanglah ke rumahmu, pasti istrimu merasa khawatir dengan kepergianmu ini," akhirnya Fatimah tega juga berkata begitu. Fatimah juga menyesali suaminya yang belum pulang juga sampai selarut ini.
     "Tidak! Istriku pergi sejak tadi pagi. Dia marah kepadaku dan pulang ke rumah orang tuanya. Mungkin dia tak akan kembali lagi kepadaku! Itu yang telah dikatakannya kepadaku!" jawab Marta dengan sedih.
     "Percayalah Marta! Perempuan memang sering berbicara menuruti nafsunya saja tanpa berpikir lebih lanjut lagi akan keputusan yang telah diambilnya. Istrimu akan kembali. Itu pasti!" Fatimah berusaha menghibur Marta. Tetapi Marta seperti tak mendengarkan semua kata-kata Fatimah. Dia tetap terpekur memandangi lantai.
     "Dia perempuan yang keras kepala, Fat! Rasanya memang sebaiknya kami berpisah saja."
     "Pikirkanlah olehmu baik-baik, Marta! Ingatlah kedua anakmu! Mereka masih terlalu kecil, mereka butuh sekali kasih sayang dari kedua orang tuanya," kata Fatimah sambil menguap lagi.
     Melihat Fatimah menguap lagi, Marta menjadi merasa tidak enak untuk tinggal lebih lama di rumah itu. Dengan mengucapkan terimakasih ia berpamitan untuk pulang.
     "Terimakash, Fat! Aku pergi dulu. Sampaikan salamku kepada Yono. Dan, sampai jumpa!" kata Marta dengan lesu. Setelah kepergian Marta, Fatimah tetap duduk di kursinya dengan kepala yang mulai lagi terasa sakit. Tetapi ketika dilihatnya jam sudah menunjukkan pukul satu lewat lima belas menit, Fatimah bangkit dari duduknya untuk mengunci pintu. Masih tercium olehnya bau setanggi yang dibakar. Fatimah ingat, malam ini malam Jumat, mungkin saja salah seorang tetangganya membakar kemenyan  atau setanggi sehingga bau itu sampai ke rumahnya.
     Angin di luar masih bertiup keras seperti tadi. Fatimah sudah merebahkan tubuhnya di tempat tidur melepaskan kantuk yang menggodanya sejak tadi. Hujan mulan turun rintik-tintik menemani malam yang semakin larut. Lolong anjing sudah menghilang sejak tadi. Mungkin bnatang itu sudah tertidur pulas dalam cuaca yang sesejuk ini.
     Belum lagi satu jam Fatimah terlelap dalam tidurnya, sudah didengarnya lagi suara ketukan dan teriakan Yono yang memanggil-manggilnya. Fatimah terkejut sesaat. Tetapi dia cepat bangun dan berjalan ke luar untuk membukakan pintu bagi suaminya.
     "Maafkan aku, Fat! Aku terlambat pulang malam ini," kata suaminya dengan penuh rasa sesal pada wajahnya. Fatimah tak memedulikan kata-kata Yono. Dia langsung saja kembali ke kamarnya untuk melanjutkan tidurnya. Dia sangat lelah dan mengantuk, ditambah lagi dengan sakit kepalanya yang tak kunjung hilang. Maka dari itu Fatimah tak begitu memedulikan suaminya yang sebenarnya takut disesali oleh ang istri karena pulang terlalu malam.
     Sikap Fatimah yang seperti itu mendatangkan dugaan di hati Yono bahwa istrinya betul-betul jengkel kepadanya. Yono menjadi tak enak hati. Lalu didekatinya Fatimah yang sudah tertidur kembali. Dipeluknya tubuh istrinya dengan penuh kasih sayang. Fatimah diam saja. Dia bukannya marah karena suaminya pulang terlambat tetapi dia merasa tubuhnya begitu lelah dan kepalanya sakit.
     "Badanmu panas, Fat? Masih sakitkah kau?" tanya Yono lembut sambil meraba kening istrinya.
     "Ya, kepalaku masih saja sakit. Sungguh hera, padahal aku sudah meminum obat tadi sebelum tidur. Biasanya setelah minum obat itu kepalaku akan sembuh dengan cepat, tetapi kenapa sekarang tidak, ya?" keluh Fatimah kepada suaminya.
     "Apakah ada yang datang mencariku, Fat? Aku lupa kalau tadi malam telah berjanji ingin pergi ke rumah Toni untuk membawakan radio yang dipesannya," tanyanya pada Fatimah.
     "Bukan Toni yang mencarimu, tetapi Marta!" jawab istrinya.
     "Hah?? Marta katamu, Fat?" Yono berteriak kecil. Wajahnya tiba-tiba menjadi pucat pasi. Tetapi Fatimah tak melihat perubahan wajah suaminya itu. Dia hanya heran mendengar suaminya begitu terkejut ketika dia menyebutkan nama Marta. Fatimah tersenyum sendiri. Soalnya sebelum pergi Yono berkata akan ke rumah Marta, tetapi nyatanya malahan Marta yang datang ke rumah mereka ketika Yono berada di sana. Mungkin Yono kebingungan untuk mencari alasan lain setelah diketahuinya Marta datang ke rumah mereka.
     "Ya! Kenapa terkejut?" tanya istrinya tanpa melihat ke wajah suaminya.
     "Marta? Marta Saroh? Kapan dia datang? Jam berapa?" tanya Yono dengan suara meninggi seperti orang berteriak. Fatimah heran melihat suaminya begitu kaget.
     "Marta datang kira-kira pukul satu malam di saat aku sedang enak-enaknya tidur. Wajahnya kelihatan begitu sedih. Ada yang kuherankan, dia berbiara tentang suatu kematian," jelas istrinya.
     "Lalu.. apa lagi yang dibicarakannya?" tanya Yono gugup.
     "Dia juga menceritakan tentang utangnya kepadamu. Katanya dia sangat menyesal karena belum bisa membayarnya. Dia juga bercerita tentang pertengkarannya dengan istrinya. Kasihan! Marta kelihatannya begitu sedih dan berduka waktu dia berkata istrinya pergi meninggalkan rumah." Yono terdiam mendengar penjelasan istrinya dengan raut wajah tetap pucat dan penuh kekagetan. Fatimah menolehkan wajahnya memandangi suaminya. Hatinya bertanya-tanya mengapa suaminya menjadi seperti itu.
     "Yono! Ada apa? Kenapa tiba-tiba wajahmu menjadi sepucat itu?" tanya Fatimah penasaran.
     Yono memandang istrinya sejenak, lalu menatap langit-langit kamar dengan alis yang berkerut.
     "Kenapa kau Yono? Ada apa?" Fatimah mengguncang-guncangkan tubuh suaminya. Setelah lama berdiam diri akhirnya dengan susah payah dapat juga Yono dengan susah payah dapat juga Yono menjelaskan keterkejutannya ketika mendengar kedatangan Marta di tengah malam itu.
     "Fat! kuharap kau jangan terkejut mendengar semua ini. Sebenarnya.. Ah, kau pasti akan terkejut! Tetapi aku harus berterus terang kepadamu. Karena biarpun hal ini kurahasiakan kau pasti akan segera tahu! Dengarlah Fat, Marta Saroh sebenarnya sudah mati tadi sore! Ya, pukul lima sore tadi. Dia ditikam orang pada perutnya sehingga ususnya terburai ke luar! Marta dibwa ke rumah sakit dari tempat kejadian di Mangga Besar. Tetapi tak lama kemudian Marta menghembuskan napas terakhirnya di rumah sakit. Aku tak mengerti mengapa Marta bisa datang kemari tadi? Padahal dia sudah mati sejak tadi sore. Apakah kedatangan Marta tidak hanya di dalam mimpimu saja, Fat? Kau ini kan sedang sakit, jadi aku berpendapat kau berjumpa dengan Marta hanya dalam ilusimu saja." Yono mencoba meneliti wajah istrinya yang sekarang pucat juga.
     "Tidak! Aku betul-betul sadar bahwa Marta datang dan berbicara denganku dengan wajah sedih. Aku membukakan pintu untuknya. Dia duduk dengan wajah terpekur ke lantai seperti tak ingin memandang wajahku. Dia tak mau memandang mataku! Ya, aku baru ingat! Ya Tuhan! Kalau begitu semalam aku berbicara dengan arwah Marta! Semoga tenanglah arwahnya di sisi Tuhan. SEmoga terampunkanlah semua dosa-dosanya selama dia hidup!" kata Fatimah sambil memeluk suaminya. Yono membalas pelukan istrinya.
     "Semalam aku ikut mengambil mayat Marta di rumah sakit Husada dan membawanya pulang ke rumahnya. Memang benar, aku tidak menjumpai istrinya di sana. Ibu Marta berkata istri Marta sedang pulang ke rumah orang tuanya," kata Yono.
     "Aku sudah tahu hal itu lebih dulu, bukan?" Fatimah berkata dalam dekapan suaminya yang hangat.
     "Kau hanya berbicara dengan arwahnya saja. Padahal dia sudah mati sejat sore!" Yono mengulangi kata-kata yang sudah diucapkannya tadi. Dia hanya ingin istrinya mempererat pelukannya saja. Sebaa Yono tahu bahwa Fatimah begitu takut mengingat peristiwa yang baru dialaminya.
     cerita : Widya Cristianti
     Majalah Senang 00533 thn 1982

Author Name

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.