Tahun 2022, pemerintah pernah terlihat menang.

     Waktu itu Menteri Perhubungan mengumumkan perubahan rasio bagi hasil dari 20:80 menjadi 15:85. Suasananya panas. Demo driver berlangsung di banyak tempat. Televisi menyiarkan perdebatan, pengamat bermunculan, publik mulai sadar bahwa ada sesuatu yang tidak sehat di balik hubungan antara driver dan aplikator.

     Lalu negara datang membawa angka baru.

     Lima persen mungkin terlihat kecil bagi orang yang duduk nyaman di ruang rapat berpendingin udara. Tapi bagi driver yang hidup dari hitungan order harian, lima persen itu bisa berarti bensin untuk beberapa hari, makan anak, atau cicilan motor yang tidak telat dibayar.

     Publik melihat pengumuman itu sebagai kemenangan.

     Masalahnya, kemenangan itu ternyata terlalu cepat dirayakan.

     Dua atau tiga bulan kemudian, perlahan-lahan situasi kembali seperti semula. Tidak ada konferensi pers besar. Tidak ada pengumuman dramatis. Tidak ada breaking news di televisi.

     Tiba-tiba saja, skemanya kembali ke format 20:80.

     Aplikator punya penjelasan yang terdengar cerdas dan modern. Lima persen itu, kata mereka, dikembalikan lagi ke driver dalam berbagai bentuk promo, subsidi, dan skema insentif lain. Bahasa yang dipakai rapi sekali. Begitu rapi sampai publik sulit menangkap apa sebenarnya yang sedang terjadi.

     Dan di situlah letak persoalannya.

Negara berbicara dalam bahasa regulasi lama.
Aplikator bermain dalam bahasa sistem.

Negara menghitung persentase.
Aplikator mengatur definisi.

Negara mengumumkan kebijakan di depan kamera.
Aplikator menyesuaikan implementasi di belakang algoritma.

     Pada akhirnya, publik hanya melihat panggung depan. Sementara perubahan sesungguhnya terjadi di ruang yang tidak terlihat.

     Karena itu, ketika pemerintah hari ini kembali mengumumkan rasio baru 8:92, kegembiraan itu terasa perlu disertai kewaspadaan.

      Bukan karena kebijakannya buruk. Justru sebaliknya, ini langkah yang jauh lebih berani dibanding sebelumnya. Angka 8:92 terlalu besar untuk dengan mudah dipelintir diam-diam seperti kasus 15:85 dahulu.

     Maka arah permainan tampaknya berubah.

     Bukan lagi mengubah angka secara diam-diam, melainkan mempersempit wilayah berlakunya.

     Dan di sinilah persoalan yang lebih mendasar mulai terlihat.

     Ketika pemerintah, pakar, bahkan sebagian publik membicarakan ojek online, yang mereka bayangkan masih satu hal: transportasi. Seolah-olah seluruh persoalan ini hanya soal memindahkan manusia dari satu tempat ke tempat lain.

     Padahal realitas di lapangan sudah lama berubah.

     Hari ini driver bukan hanya mengantar manusia.

Mereka membeli makanan.
Mengantar paket.
Membelikan obat.
Mengirim dokumen.
Berbelanja kebutuhan rumah tangga.
Mengantar barang elektronik.

Dan entah layanan apa lagi yang akan lahir beberapa tahun ke depan.

     Artinya, aplikator sudah lama berhenti menjadi perusahaan “transportasi” dalam pengertian lama. Mereka telah berubah menjadi makelar digital raksasa yang mempertemukan kebutuhan pasar dengan tenaga kerja manusia secara real-time.

     Kata “makelar” mungkin terdengar kasar bagi sebagian orang modern yang terlalu mencintai istilah startup dan inovasi. Tapi secara fungsi, itulah yang terjadi.

     Makelar tradisional di terminal punya informasi: bus mana yang kosong, mana yang cepat, mana yang murah, mana yang sedang cari penumpang.

     Lalu ia mengambil bagian dari transaksi.

     Aplikator melakukan hal yang sama dalam bentuk yang jauh lebih canggih.

Mereka menguasai data permintaan.
Mengatur distribusi order.
Menentukan prioritas.
Mengarahkan perilaku pengguna.
Mengendalikan visibilitas.

     Bedanya, makelar terminal bekerja dengan teriakan dan intuisi. Makelar modern bekerja dengan algoritma dan miliaran data.

     Dan seperti semua makelar dalam sejarah manusia, mereka selalu ingin satu hal: tetap menjadi pihak yang paling menentukan aturan permainan.

     Masalah muncul ketika negara masih sibuk mengatur definisi lama.

     Karena transportasi dipahami sekadar memindahkan manusia, maka rasio 8:92 pun diarahkan terutama ke layanan pengangkutan penumpang.

     Sementara layanan lain—belanja, antar makanan, kirim barang—tetap berada di wilayah abu-abu yang fleksibel.

Padahal risikonya tidak berubah.

Driver tetap memakai kendaraan pribadi.
Tetap membeli bensin sendiri.
Tetap mempertaruhkan tubuhnya di jalan raya.
Tetap menghadapi kemungkinan kecelakaan setiap hari.

     Dan jalan raya bukan ruang yang romantis seperti iklan aplikasi di televisi.

     Jalan raya adalah salah satu ruang paling mematikan dalam kehidupan modern.

     Tubuh driver tetap tubuh yang sama, apakah ia membawa manusia, nasi goreng, dokumen, atau galon air.

     Tapi anehnya, begitu objek yang dibawa berubah, perhatian regulasi ikut mengecil.

     Di titik ini, kita mulai melihat keterlambatan cara berpikir negara.

     Negara masih melihat kendaraan.
     Aplikator sudah lama mengelola tenaga hidup manusia.

     Ini bukan lagi soal transportasi.

     Ini ekonomi gig berbasis platform.

     Driver menjual waktu.
     Menjual tenaga.
     Menjual kesabaran.
     Menjual energi psikologis.
     Menjual risiko hidup.

Motor hanyalah alat.

Dan semua itu hari ini diekstraksi melalui satu sistem yang sama.

     Karena itu, ketika rasio 8:92 hanya diarahkan pada layanan angkutan manusia, ada absurditas yang sulit diabaikan. 

     Seolah-olah risiko kecelakaan berubah hanya karena yang dibawa bukan manusia, melainkan nasi uduk.

     Seolah-olah tubuh driver menjadi lebih aman hanya karena yang diantar adalah paket.

Padahal aspal tetap keras.
Truk tetap melaju.
Hujan tetap turun.
Kelelahan tetap menggerogoti tubuh yang sama.

     Inilah sebabnya pembahasan para pakar sering terasa normatif dan dangkal. Banyak dari mereka terlalu lama melihat dari menara analisis, sementara realitas di lapangan sudah berubah bentuk jauh lebih cepat dibanding bahasa akademik dan regulasi.

     Mereka masih berbicara tentang tarif transportasi. Padahal yang sedang terbentuk adalah infrastruktur distribusi tenaga kerja manusia berbasis algoritma.

     Dan di sinilah urgensi membangun kerangka hukum baru menjadi sangat mendesak.

Bukan sekadar revisi aturan transportasi.
Bukan sekadar negosiasi tarif.
Bukan sekadar pembagian persentase.

     Indonesia membutuhkan semacam omnibus law untuk ekonomi gig berbasis platform.

     Karena masalahnya sudah lintas sektor: ketenagakerjaan, transportasi, perlindungan konsumen, keselamatan kerja, algoritma, persaingan usaha, hingga distribusi risiko.

     Kalau semua tetap diatur secara parsial, aplikator akan selalu lebih cepat menemukan celah dibanding negara menemukan bahasanya.

     Dan pengalaman tahun 2022 seharusnya cukup menjadi pelajaran.

     Tanpa kerangka hukum yang kokoh, regulasi mudah dinegosiasikan ulang. Mudah dipelintir definisinya. Mudah dipersempit wilayah berlakunya.

     Sementara aplikator akan terus berkembang: lebih canggih, lebih kompleks, lebih sulit disentuh.

     Negara tidak boleh terus-menerus tertinggal seperti orang yang sibuk mengatur terminal kecil, sementara di depannya sudah berdiri bandara internasional otomatis tanpa menara kontrol.

     Karena kalau keterlambatan ini terus dibiarkan, yang hilang bukan sekadar keadilan ekonomi.

     Yang hilang adalah kendali negara atas mekanisme yang mengatur hidup warganya sendiri.

     Ada ironi yang lucu sekaligus melelahkan ketika kampus-kampus mulai ikut mengelola dapur MBG. Orang-orang tiba-tiba terkejut seolah universitas baru saja turun dari langit ilmu pengetahuan lalu tercebur ke kuah sayur dan logistik nasi kotak. Kritik bermunculan dengan nada muram: kampus kehilangan marwah, pendidikan tinggi berubah fungsi, universitas bukan katering, bukan vendor negara, bukan pabrik distribusi makan siang.

     Padahal mesin perubahan itu sudah lama menyala. Dapur hanya asap yang akhirnya terlihat.

     Bertahun-tahun sebelumnya, kampus perlahan memang telah dipindahkan dari ruang pencarian pengetahuan menuju ruang kalkulasi efisiensi. Bahasa-bahasanya berubah diam-diam. Mahasiswa disebut “output”. Dosen dikejar “target kinerja”. Fakultas bicara “daya saing pasar”. Rektor belajar seperti CEO. Gedung-gedung baru dibangun dengan estetika korporasi: kaca, slogan inovasi, pusat bisnis, coworking space, inkubator startup, dan banner motivasi tentang entrepreneur muda yang bahkan belum sempat gagal dengan tenang.

     Tidak banyak yang benar-benar ribut ketika pendidikan tinggi mulai diukur dengan logika perusahaan. Orang menerima dengan cukup patuh ketika mahasiswa didorong lulus cepat demi rasio efisiensi. Kampus bangga mempersingkat masa studi seperti pabrik yang berhasil mempercepat jalur produksi. “Tepat waktu” menjadi moral baru. Berpikir terlalu lama mulai tampak mencurigakan. Mahasiswa yang terlalu banyak membaca filsafat sering dipandang seperti orang yang terlambat memahami pasar kerja.

     Di titik itu sebenarnya universitas sudah mengalami mutasi besar: dari ruang pembentukan manusia menjadi ruang produksi tenaga kerja yang rapi, adaptif, dan tidak terlalu berisik.

     Jadi ketika hari ini kampus ikut mengelola MBG karena ada sumber pendapatan baru—terutama bagi PTNBH yang memang didorong mencari nafkah sendiri—itu bukan penyimpangan mendadak. Itu justru kelanjutan logis dari arah yang sudah lama ditempuh. Universitas hanya sedang konsisten terhadap logika yang selama ini mereka peluk: pragmatisme administratif yang dibungkus jargon kemajuan.

     Yang menarik justru kepanikan moralnya datang terlambat.

     Karena kalau mau jujur, dapur MBG mungkin malah lebih realistis dibanding beberapa jargon akademik yang selama ini diproduksi kampus. Setidaknya nasi benar-benar mengenyangkan. Sementara sebagian seminar kampus hanya menghasilkan sertifikat, foto bersama, dan PDF yang tak pernah dibaca lagi setelah upload repository.

     Di sini kelihatan bagaimana masyarakat sering gagal melihat perubahan dalam bentuk proses. Orang baru panik ketika simbol berubah kasar dan terlihat vulgar. Ketika universitas membuka dapur makan gratis, perubahan itu tampak telanjang sehingga semua orang tersentak. Tetapi ketika kampus perlahan diubah menjadi mesin kompetisi, birokrasi angka, dan pasar tenaga kerja murah, banyak yang justru menyebutnya modernisasi.

     Padahal garis lurusnya jelas.

     Kampus yang dipaksa mandiri secara finansial lambat laun akan mencari sumber pendapatan di mana saja. Hari ini dapur MBG. Besok mungkin pusat pelatihan korporasi, konsultan politik, vendor data, atau entah apa lagi. Dalam ekosistem seperti itu, ilmu pengetahuan tetap dipertahankan, tetapi sering bukan sebagai tujuan—melainkan aset.

     Mungkin ini yang paling sunyi dari semuanya: universitas modern perlahan tidak lagi takut kehilangan kedalaman berpikir. Ia lebih takut kehilangan cash flow.

     Dan masyarakat, dengan cara yang aneh, ikut mendidik kampus menjadi seperti itu. Orang tua bertanya jurusan “yang cepat kerja”. Pemerintah bicara “link and match”. Industri meminta lulusan siap pakai. Ranking global dijadikan kiblat. Semua orang ingin universitas efisien, adaptif, produktif, kompetitif. Lalu ketika kampus benar-benar bertindak seperti institusi yang efisien dan oportunistik, publik mendadak kecewa melihat bayangannya sendiri.

     Seolah-olah kita ingin universitas menjadi pabrik modern, tetapi tetap berharap aroma perpustakaan abad ke-19 masih keluar dari cerobongnya.

     Geoethics lahir dari satu kesadaran yang sederhana tapi sering terlambat: bumi bukan sekadar objek yang bisa diukur, dipetakan, lalu dieksploitasi tanpa sisa makna. Ia adalah ruang hidup—dan setiap keputusan geologis, sekecil apa pun, selalu membawa konsekuensi yang menjalar jauh melampaui angka dan grafik.

     Dalam ranah geologi, geoethics bisa dipahami sebagai refleksi moral atas bagaimana pengetahuan tentang bumi digunakan. Bukan hanya soal “apa yang benar secara ilmiah”, tetapi “apa yang pantas dilakukan” ketika kebenaran itu berada di tangan manusia dengan kepentingan.

     Istilah ini sendiri berakar dari persinggungan antara etika dan ilmu kebumian. Namun ia tidak berhenti sebagai cabang akademik; ia adalah semacam kompas yang seringkali bergetar di tengah tarik-menarik antara ilmu, industri, dan kekuasaan.

     Bayangkan seorang geolog menemukan cadangan mineral besar di suatu wilayah. Secara teknis, itu keberhasilan. Secara ekonomi, itu peluang. Tapi di bawah tanah yang sama, ada kampung, ada sungai, ada ingatan kolektif masyarakat. Geoethics masuk bukan untuk menghentikan eksploitasi secara mutlak, melainkan untuk mempertanyakan cara, batas, dan tanggung jawabnya.

     Di titik ini, geoethics menjadi semacam perlawanan halus terhadap cara pandang reduktif: bahwa bumi hanyalah “sumber daya”. Ia mengingatkan bahwa istilah seperti “resource” sering kali menyembunyikan relasi kuasa—siapa yang mengambil, siapa yang kehilangan, dan siapa yang bahkan tidak pernah diajak bicara.

     Lebih jauh, geoethics juga berbicara tentang tanggung jawab ilmuwan dalam komunikasi. Ketika risiko gempa, longsor, atau erupsi gunung api diprediksi, informasi itu bukan sekadar data. Ia bisa menjadi penyelamat—atau sebaliknya, jika disampaikan dengan ceroboh, menjadi sumber kepanikan atau bahkan diabaikan. Di sini, kejujuran ilmiah harus berjalan berdampingan dengan kepekaan sosial.

     Ada juga dimensi waktu yang membuat geoethics terasa hampir puitis. Geologi bekerja dalam skala jutaan tahun, sementara manusia hidup dalam hitungan dekade. Keputusan yang diambil hari ini—penambangan, pembangunan, eksploitasi air tanah—sering kali dampaknya baru terasa jauh setelah pengambil keputusan itu sendiri tiada. Geoethics memaksa kita berpikir lintas generasi, seolah-olah kita sedang bernegosiasi dengan masa depan yang belum punya suara.

     Organisasi seperti International Association for Promoting Geoethics mencoba merumuskan prinsip-prinsipnya: integritas ilmiah, transparansi, tanggung jawab terhadap masyarakat, dan keberlanjutan lingkungan. Tapi di lapangan, prinsip itu sering kali harus berhadapan dengan realitas yang lebih keras—kontrak, tekanan politik, kebutuhan ekonomi, bahkan ambisi pribadi.

     Di situlah geoethics menjadi menarik sekaligus tidak nyaman. Ia tidak memberi jawaban yang rapi. Ia justru memperpanjang pertanyaan.

     Apakah seorang geolog harus menolak proyek yang merusak lingkungan meski secara hukum sah?
     Apakah diam terhadap manipulasi data adalah bentuk pengkhianatan, atau sekadar strategi bertahan hidup?
     Apakah pembangunan selalu identik dengan kemajuan, atau hanya perubahan bentuk kerusakan?

     Geoethics tidak menyediakan moralitas yang steril. Ia lebih mirip cermin retak: memantulkan kenyataan bahwa ilmu tidak pernah benar-benar netral ketika bersentuhan dengan manusia.

     Dan mungkin di situlah intinya—geoethics bukan tentang menjadi “baik” dalam arti sederhana. Ia tentang tetap sadar, bahwa setiap lapisan tanah yang kita buka, selalu menyimpan lebih dari sekadar batuan: ada kehidupan, ada sejarah, dan ada tanggung jawab yang tidak bisa ditimbun kembali begitu saja.

     Ada sesuatu yang tampak baik ketika pemerintah mengumumkan rasio baru bagi hasil antara driver dan aplikator: 8 banding 92. Waktunya pun tidak sembarangan—Hari Buruh. Dari kejauhan, itu terlihat seperti pernyataan sikap: negara hadir, negara mencoba berpihak.

     Dan kita tidak perlu sinis untuk mengakui itu sebagai niat baik.

     Masalahnya bukan pada niat. Masalahnya ada pada kedalaman.

     Karena yang diatur baru hasil, belum cara hasil itu diproduksi.

     Driver tidak hidup di dalam angka 8:92. Mereka hidup di dalam sistem yang menentukan siapa mendapat order, siapa tidak; siapa mendapat insentif, siapa tertinggal; siapa dinilai baik, siapa perlahan disingkirkan. Sistem itu tidak transparan. Tidak bisa ditanya. Tidak punya kewajiban untuk menjelaskan dirinya.

     Di sinilah kita harus berhenti sebentar, lalu jujur pada diri sendiri: yang sedang kita hadapi bukan sekadar perubahan model bisnis, tapi perubahan cara kekuasaan bekerja.

     Kalau dulu kita bicara soal hubungan kerja—majikan dan pekerja—sekarang relasinya lebih rumit. Tidak ada mandor yang berdiri di depan. Tidak ada perintah langsung yang bisa dilawan. Yang ada adalah sistem yang mengarahkan.

     Di titik ini, apa yang disebut oleh Michel Foucault sebagai biopolitik menjadi relevan. Bukan sebagai istilah akademik yang jauh dari realitas, tapi sebagai cara membaca apa yang sebenarnya terjadi.

     Biopolitik adalah cara kekuasaan bekerja bukan dengan paksaan terbuka, tapi dengan mengatur kehidupan: ritme kerja, pilihan yang tersedia, kemungkinan yang bisa diakses. Ia tidak selalu memaksa. Ia mengarahkan, menyaring, dan membentuk.

     Sekarang lihat aplikator dengan kacamata itu.

Driver tidak dipaksa untuk bekerja. Mereka “diberi kesempatan”.
Mereka tidak diperintah secara langsung. Mereka “didorong” oleh insentif.
Mereka tidak dihukum secara kasar. Mereka “dinilai”, lalu konsekuensi mengikuti.

     Semua tampak wajar. Bahkan modern.

     Tapi di balik itu, ada pengaturan hidup yang sangat konkret.

     Seorang driver menerima pesanan belanja. Ia mengeluarkan uang sendiri untuk membeli barang. Ia mengantar ke tujuan. Penerima tidak ada. Di titik itu, yang terjadi bukan sekadar kendala teknis, tapi pergeseran tanggung jawab.

Sistem menahan uangnya.
Sistem meminta bukti.
Sistem menentukan langkah yang harus diikuti.

     Foto barang. Foto struk. Cari tempat penyaluran. Dokumentasikan semuanya.

     Waktu berjalan. Tenaga terkuras. Risiko sepenuhnya berada di tangan driver.

     Jika semua sesuai, uang dikembalikan. Sistem terlihat seperti “menolong”.
Padahal yang terjadi: sistem memindahkan beban ke individu, lalu mengemasnya sebagai prosedur yang wajar.

     Di hari lain, tekanan datang dari arah berbeda.

     Perjalanan tidak selalu mulus. Jalan macet, restoran lambat, pelanggan tambah pesanan di luar aplikasi. Titik antar melenceng jauh, jalur rute dari aplikator dibuat sependek mungkin, bahkan kadang nyasar ke landasan pacu pesawat. Semua itu di luar kendali driver. Tapi ketika sampai, satu tuntutan tetap berlaku: ramah.

     Lalu muncullah si pelanggan perfeksionis yang mungkin sedang PMS, mungkin baru putus cinta, atau bahkan mungkin juga sedang sakit gigi, menatap sinis wajah driver yang penuh drama. Jempolnya menari, fitur penilaian muncul. Satu bintang. “Tidak ramah.”

     Sistem tidak melihat proses. Tidak melihat konteks. Tidak melihat kenyataan. Ia hanya mencatat hasil.

     Dari hasil itu, konsekuensi muncul—teguran, penurunan performa, hingga risiko kehilangan akses kerja.

     Di sini, sesuatu yang lebih dalam terlihat jelas: sistem tidak hanya mengatur pekerjaan, tapi juga emosi.

     Ia menentukan bagaimana seseorang harus bersikap. Ia memberi sanksi jika standar itu tidak terpenuhi, bahkan ketika kondisi tidak memungkinkan.

     Dan semua ini terjadi melalui sesuatu yang tidak pernah benar-benar dibuka: algoritma.

     Inilah inti yang selama ini tidak disentuh oleh regulasi.

     Negara hadir, tapi hanya menyentuh permukaan. Rasio diatur. Tarif dibahas. Tapi logika yang mengatur distribusi kerja, penilaian, dan risiko—dibiarkan sebagai wilayah privat.

     Alasannya sederhana: rahasia dagang.

     Tapi di titik ini, kita harus berani bertanya: apakah sesuatu yang menentukan kehidupan ribuan, bahkan jutaan orang, masih bisa sepenuhnya dianggap urusan privat?

     Kalau jawabannya ya, maka kita menerima satu hal: bahwa sebagian kendali atas kehidupan warga telah berpindah ke sistem yang tidak tunduk pada kewajiban publik.

     Dan di sinilah isu ini tidak lagi sekadar ekonomi. Ini soal kedaulatan.

     Bukan kedaulatan dalam arti simbolik—bendera, wilayah, atau retorika kebangsaan. Tapi kedaulatan dalam arti paling konkret: siapa yang mengatur hidup warga?

     Apakah negara, melalui hukum yang bisa diperdebatkan?
     Ataukah sistem privat, melalui algoritma yang tidak bisa disentuh?

     Kalau negara membiarkan sistem seperti ini berjalan tanpa kerangka hukum yang memadai, maka yang terjadi bukan sekadar kelalaian. Negara sedang menyerahkan sebagian fungsinya—secara diam-diam.

     Dan ini bukan tuduhan berlebihan. Ini bisa dilihat dari fakta sederhana:

     Driver menanggung risiko yang tidak mereka desain.
     Driver tunduk pada keputusan yang tidak bisa mereka pahami.
     Driver dinilai oleh sistem yang tidak memberi mereka hak untuk membela diri.

     Ini bukan relasi pasar biasa. Ini struktur kekuasaan.

     Karena itu, kebijakan seperti 8:92 tidak salah. Tapi ia tidak cukup.

     Ia menyentuh hasil, bukan proses. Ia memperbaiki angka, tapi tidak membongkar mesin.

     Kalau kita berhenti di situ, maka yang terjadi hanyalah perapihan permukaan. Sementara fondasi tetap sama.

     Di titik ini, kita butuh keberanian untuk melangkah lebih jauh.

     Bukan sekadar menambah aturan, tapi membangun kerangka baru.

     Pendekatan seperti omnibus law bisa dipertimbangkan—bukan untuk menyederhanakan, tapi untuk mengintegrasikan berbagai aspek yang selama ini terpisah: ketenagakerjaan, perlindungan konsumen, persaingan usaha, dan yang paling penting—pengaturan sistem berbasis algoritma.

     Fokusnya harus jelas.

     Pertama, transparansi prinsip kerja algoritma.
Bukan membuka seluruh kode, tapi membuka logika dasar: bagaimana order didistribusikan, bagaimana penilaian dilakukan, bagaimana penalti dijatuhkan.

     Kedua, hak atas penjelasan.
Setiap keputusan yang berdampak pada penghasilan atau status kerja harus bisa dijelaskan. Bukan sekadar notifikasi, tapi alasan yang bisa dipahami dan diuji.

     Ketiga, mekanisme keberatan yang nyata.
Driver harus punya ruang untuk menantang keputusan, dengan proses yang adil, bukan formalitas.

     Keempat, audit independen.
Sistem tidak bisa hanya dinilai oleh pembuatnya sendiri. Harus ada pihak lain yang punya akses untuk memastikan bahwa sistem berjalan secara adil.

     Kelima, pembatasan distribusi risiko.
Tidak semua risiko boleh dipindahkan ke individu. Harus ada batas yang jelas tentang apa yang menjadi tanggung jawab sistem.

     Ini bukan tuntutan berlebihan. Ini penyesuaian yang wajar terhadap bentuk kekuasaan baru.

     Dan di sinilah negara diuji.

     Apakah ia hanya akan menjadi pengatur angka?
     Ataukah ia berani masuk ke wilayah yang lebih dalam—wilayah yang selama ini dianggap terlalu teknis, terlalu kompleks, atau terlalu sensitif?

     Karena kalau tidak, maka kita akan terus berada di situasi yang sama.

     Kebijakan akan terus diumumkan.
     Perbaikan akan terus diklaim.
     Tapi pengalaman di lapangan tidak banyak berubah.

     Sementara itu, sistem akan terus berkembang—lebih canggih, lebih halus, lebih sulit dipahami.

     Dan tanpa disadari, kita akan terbiasa dengan satu hal yang seharusnya tidak normal: bahwa kehidupan banyak orang diatur oleh sesuatu yang tidak pernah mereka lihat, tidak pernah mereka setujui, dan tidak pernah benar-benar bisa mereka lawan.

     Di titik itu, persoalannya bukan lagi ekonomi.

     Tapi siapa yang sebenarnya memegang kendali.

     Dan karena itu, ini bukan soal memilih antara teknologi atau perlindungan, bukan pula soal menghambat inovasi atau mendorong investasi. Ini soal memastikan bahwa sistem yang mengatur hidup warga negara tetap tunduk pada prinsip keadilan yang bisa diperiksa.

     Negara tidak boleh puas hadir di permukaan, sementara inti dari kekuasaan baru dibiarkan tumbuh tanpa batas.

     Jika hukum tidak segera mengejar perubahan ini, maka hukum bukan lagi alat untuk melindungi, melainkan sekadar saksi yang terlambat.

     Ada masa ketika manusia datang ke lanskap dengan alat berat dan niat yang tidak perlu disembunyikan. Ia menggali, memecah, mengangkut. Tidak ada papan penjelasan, tidak ada narasi, tidak ada rasa bersalah yang terlalu rumit. Hari ini, pemandangannya berubah. Kita datang dengan istilah yang lebih halus, dengan bahasa yang terasa lebih bersih: Geoethics, Geopark, geosains, geotourism. Kata-kata itu berbaris rapi seperti parade yang tahu betul ke mana harus melangkah dan kapan harus tersenyum.

     Di permukaan, semuanya tampak seperti kemajuan moral. Kita tidak lagi sekadar mengambil dari bumi, kita “memahami”, “menghargai”, “mengelola”. Ada papan interpretasi yang menjelaskan umur batuan dengan nada penuh hormat, ada jalur wisata yang ditata agar langkah kaki tidak terlalu liar, ada seminar tentang keberlanjutan yang disampaikan dengan slide penuh warna. Seolah-olah, setelah sekian lama menjadi makhluk yang rakus, manusia akhirnya belajar sopan.

     Namun jika berdiri sedikit lebih lama, membiarkan mata tidak hanya melihat tetapi juga curiga, terasa ada sesuatu yang terlalu rapi di balik semua ini.

     Geoethics hadir sebagai suara hati—atau setidaknya begitu ia ingin dikenali. Ia berbicara tentang tanggung jawab, tentang kejujuran ilmiah, tentang kewajiban menjaga bumi. Tetapi suara hati ini sering muncul justru setelah kerusakan menjadi terlalu nyata untuk diabaikan. Ia seperti seseorang yang menulis kode etik setelah pesta usai, ketika lantai sudah lengket oleh tumpahan yang tak sempat dicegah.

     Dan kita, dengan penuh kesungguhan, membaca kode etik itu seolah-olah ia datang lebih dulu daripada tindakan kita.

     Sementara itu, Geopark berdiri sebagai panggung yang sangat fotogenik. Ia menjanjikan perlindungan, edukasi, dan tentu saja—pengalaman. Batu tidak lagi sekadar batu; ia menjadi cerita. Tebing bukan lagi sekadar hasil proses geologi; ia menjadi narasi panjang yang bisa dijelaskan dalam lima menit oleh pemandu wisata yang hafal skripnya. Keheningan alam pun pelan-pelan diberi subtitle.

     Di sinilah Capitalism bekerja dengan cara yang lebih halus dibanding masa lalu. Ia tidak lagi selalu datang dengan suara mesin yang bising, tetapi dengan konsep, branding, dan proposal. Alam tidak dihancurkan secara brutal; ia dikurasi. Ia dipilih, ditata, diberi label, lalu diperkenalkan kembali kepada manusia—tentu dengan harga tiket yang wajar, demi keberlanjutan, katanya.

     Geotourism kemudian menjadi semacam jembatan yang elegan. Ia terdengar seperti kompromi yang matang: ekonomi berjalan, alam tetap terjaga. Dan dalam banyak kasus, itu memang tidak sepenuhnya salah. Ada komunitas lokal yang mendapat penghasilan, ada kawasan yang lebih terlindungi dibanding jika dibiarkan tanpa status. Tetapi di balik itu, ada sesuatu yang bergeser pelan: pengalaman alam menjadi produk, dan produk selalu membutuhkan pasar.

Ketika pengalaman menjadi produk, ia harus dijual.
Ketika ia dijual, ia harus menarik.
Ketika ia harus menarik, ia perlu dibungkus.

     Di titik itu, narasi menjadi penting. Dan geoethics, tanpa disadari, sering ikut menjadi bagian dari bungkus itu.

     Ia memberi legitimasi. Ia membuat semuanya terdengar telah dipertimbangkan secara moral. Ia menenangkan kegelisahan yang mungkin muncul ketika kita bertanya: apakah ini benar-benar tentang menjaga bumi, atau hanya cara baru untuk memanfaatkannya tanpa terlihat bersalah?

     Ironinya hampir lembut. Kita tidak lagi mengatakan “kita akan mengambil dari alam,” tetapi “kita akan mengelola dan mengedukasi.” Kita tidak lagi sekadar hadir sebagai pengunjung, tetapi sebagai “pembelajar”. Dan dalam proses itu, kita merasa telah berubah—dari perusak menjadi penjaga.

     Padahal, jika ditarik sedikit lebih dalam, struktur dasarnya belum benar-benar bergeser. Ia masih berakar pada Anthropocentrism. Manusialah yang menentukan apa yang layak dilindungi, manusialah yang menetapkan batas, manusialah yang memutuskan berapa banyak intervensi yang masih bisa ditoleransi. Bahkan ketika kita berbicara tentang “nilai alam”, nilai itu tetap melewati filter kepentingan manusia—entah itu ekonomi, edukasi, atau sekadar estetika.

     Upaya untuk mendekat ke Ecocentrism memang terdengar di sana-sini, seperti bisikan yang mencoba mengoreksi nada utama. Tetapi ia sering kali tetap menjadi aksen, bukan melodi. Kita masih berada di tengah panggung, hanya saja kali ini dengan ekspresi yang lebih rendah hati.

     Dan mungkin di situlah letak keganjilannya.

     Manusia, makhluk yang begitu lama merasa sebagai pusat, kini mulai sadar bahwa posisinya bermasalah. Namun alih-alih turun dari panggung, ia memilih merancang ulang pertunjukan. Lampu dibuat lebih hangat, dialog ditulis lebih bijak, dan kostum diganti dengan sesuatu yang terlihat lebih sederhana. Penonton pun—yang kebetulan juga manusia—merasa bahwa ini adalah kemajuan.

     Padahal, panggungnya masih sama.

     Geoethics, geopark, geotourism—semuanya bergerak di ruang yang sama: ruang di mana niat baik, kepentingan ekonomi, dan kebutuhan akan legitimasi saling berkelindan. Tidak sepenuhnya palsu, tetapi juga tidak sepenuhnya polos. Ada manfaat nyata, ada juga ilusi yang dirawat dengan cukup serius agar tidak tampak seperti ilusi.

     Mungkin yang tersisa bukanlah penolakan total, tetapi kewaspadaan yang tidak mudah ditenangkan. Sebab di dunia yang semakin pandai membungkus dirinya sendiri, yang paling berbahaya bukan lagi eksploitasi yang terang-terangan, melainkan eksploitasi yang datang dengan senyum, dengan narasi, dan dengan keyakinan bahwa kali ini—akhirnya—kita sudah benar.

     Ada masa ketika manusia begitu tergoda oleh gagasan tentang sesuatu yang tanpa cacat. Segala hal diukur, diperhalus, dipoles, seolah dunia adalah permukaan kaca yang harus selalu bersih dari sidik jari. Kesempurnaan diperlakukan seperti tujuan akhir—tenang, stabil, tidak terganggu. Namun anehnya, ketika sesuatu benar-benar mendekati sempurna, ia justru terasa jauh. Terlalu rapi untuk disentuh, terlalu halus untuk ditempati.

     Barangkali karena manusia sendiri tidak pernah hidup dalam garis yang lurus. Ia bernapas dalam ritme yang tidak stabil, berpikir dalam lompatan, merasa dalam gelombang. Ada sesuatu dalam diri manusia yang mengenali ketidakteraturan sebagai bagian dari keakraban. Seperti langkah kaki di jalan berbatu yang tidak pernah benar-benar simetris, namun justru memberi keseimbangan yang lebih jujur daripada lantai yang terlalu rata.

     Di suatu sore yang biasa, seseorang mungkin mendengarkan sebuah lagu yang sudah sangat dikenal. Versi aslinya sempurna—nada tepat, tempo terjaga, suara bersih seperti kaca baru. Namun yang diputar justru versi lain, suara yang sedikit goyah di beberapa bagian, napas yang terdengar lebih panjang dari yang seharusnya, nada yang sesekali meleset tipis. Aneh, karena di situlah justru muncul rasa yang lebih dekat. Seolah lagu itu tidak lagi berdiri di atas panggung, tetapi duduk di sebelah kita.

     Ketidaksempurnaan kecil itu bekerja seperti celah. Ia memberi ruang bagi pendengar untuk masuk, untuk ikut bernapas di dalam lagu, untuk merasakan bahwa yang bernyanyi bukan sekadar suara, melainkan seseorang dengan tubuh, dengan batas, dengan keraguan yang tidak sepenuhnya tersembunyi. Dan mungkin di situlah sesuatu menjadi hidup—bukan ketika ia tanpa cacat, tetapi ketika ia cukup terbuka untuk memperlihatkan retaknya.

     Dalam banyak hal, kesempurnaan sering kali lebih dekat pada konsep daripada pengalaman. Ia dibayangkan, dirumuskan, dikejar, tetapi jarang benar-benar dialami sebagai sesuatu yang hangat. Yang sering kita temui justru versi-versi yang sedikit melenceng: percakapan yang tidak selesai, rencana yang berubah arah, hubungan yang tidak selalu stabil. Namun justru dari sana muncul rasa yang tidak bisa digantikan oleh sesuatu yang terlalu rapi.

     Ada semacam paradoks yang pelan-pelan terlihat: manusia mengejar kesempurnaan, tetapi menikmati ketidaksempurnaan. Ia ingin segala sesuatu berjalan sesuai rencana, tetapi kenangan yang paling lama tinggal justru yang tidak berjalan sebagaimana mestinya. Ia mengagumi keteraturan, tetapi merasa hidup dalam kekacauan kecil yang tidak bisa dihilangkan.

     Mungkin ini karena kesempurnaan tidak memberi ruang untuk bergerak. Ia seperti titik akhir yang tidak membuka kemungkinan lain. Sementara ketidaksempurnaan selalu menyisakan celah—ruang kecil di mana sesuatu masih bisa berubah, di mana makna belum selesai ditentukan. Dalam celah itu, manusia merasa lebih leluasa, lebih terlibat, lebih hadir.

     Di sisi lain, bukan berarti kesempurnaan tidak memiliki tempat. Ia tetap menjadi arah, semacam garis halus yang membantu kita menjaga kualitas, menjaga perhatian, menjaga niat. Tanpanya, segala hal bisa runtuh dalam ketidakpedulian. Namun ketika kesempurnaan berubah menjadi tuntutan yang kaku, ia mulai kehilangan daya tariknya. Ia berhenti menjadi inspirasi dan berubah menjadi tekanan.

     Barangkali yang lebih dekat dengan kehidupan adalah hubungan yang lebih longgar dengan kesempurnaan itu sendiri. Tidak menolaknya, tetapi juga tidak memujanya secara berlebihan. Menggunakannya sebagai penunjuk arah, bukan sebagai tempat tinggal. Karena pada akhirnya, yang membuat sesuatu terasa utuh bukanlah ketiadaan cacat, melainkan kemampuan untuk tetap hadir di dalamnya.

     Seperti lagu yang sedikit meleset nadanya, seperti suara yang tidak sepenuhnya stabil, seperti jeda yang tidak direncanakan—semua itu tidak mengurangi keindahan. Ia justru memberi tekstur, memberi kedalaman, memberi alasan bagi seseorang untuk mendengarkan lebih lama.

     Dan mungkin di situlah kesempurnaan menemukan bentuknya yang paling tenang: bukan sebagai sesuatu yang tanpa cela, tetapi sebagai sesuatu yang cukup utuh untuk diterima, cukup jujur untuk dirasakan, dan cukup terbuka untuk tidak harus sempurna.

     Pablo Escobar memahami satu hal yang sangat tua dalam sejarah manusia: orang sering tidak memilih antara benar dan salah, tetapi antara mana yang lebih mudah ditelan oleh jiwa mereka. Kebenaran kadang datang dengan wajah buruk—miskin, pahit, memalukan, menghancurkan harga diri. Sementara kebohongan datang rapi, disetrika, harum seperti pidato pejabat menjelang pemilu.

     Seorang ayah bisa berkata kepada anaknya bahwa semuanya akan baik-baik saja, padahal ia sendiri tahu isi dompetnya tinggal suara gesekan kartu ATM. Seorang negara bisa berkata ekonomi sedang kuat sambil rakyat menghitung ulang harga cabai di pasar. Seorang manusia bisa tersenyum di foto, lalu malamnya menatap langit-langit kamar seperti tahanan yang lupa apa kesalahannya.

     Kadang kebohongan bukan sekadar alat manipulasi. Ia juga anestesi sosial. Obat bius agar manusia tetap bangun pagi dan bekerja tanpa terlalu banyak bertanya.

     Tetapi ada ironi yang lebih gelap: semakin lama sebuah masyarakat hidup dari kebohongan yang “perlu”, semakin rapuh kemampuannya menerima kenyataan. Lama-lama kebenaran tidak lagi terasa menyakitkan—melainkan terasa ofensif. Orang marah bukan karena dibohongi, tetapi karena ada yang cukup kurang ajar untuk mengatakan kenyataan.

     Itulah sebabnya banyak zaman runtuh bukan karena kekurangan fakta, melainkan kelebihan ilusi yang dipelihara bersama-sama.

     Namun saya kira ada sesuatu yang bahkan lebih tragis dari kebohongan itu sendiri: ketika manusia tahu dirinya sedang dibohongi, tetapi memilih ikut bermain karena realitas terasa terlalu mahal untuk dihadapi sendirian.

     Mungkin Escobar memahami pasar narkotika. Tetapi dunia modern memahami pasar ilusi. Dan pasar ilusi jauh lebih besar. Ia menjual harapan instan, citra sukses, nasionalisme kemasan, spiritualitas siap saji, produktivitas tanpa jiwa, bahkan cinta yang sudah diberi filter.

     Manusia ternyata bukan hanya makhluk pencari kebenaran. Ia juga makhluk pencari kenyamanan agar sanggup hidup sampai besok pagi.

     Ada kalimat-kalimat yang terdengar bersih, seperti air yang jernih di permukaan, tetapi ketika disentuh, terasa ada arus kecil yang bergerak di bawahnya. Tidak keruh, tidak kotor, hanya tidak sepenuhnya diam. Kejujuran sering hadir seperti itu—terlihat sederhana, bahkan menenangkan, namun menyimpan sesuatu yang tidak langsung terlihat. Kita mendengarnya, mengangguk, dan merasa bahwa segala sesuatu sudah diletakkan pada tempatnya. Padahal, yang terjadi tidak sesederhana itu.

     Manusia memiliki hubungan yang aneh dengan kejujuran. Ia mengagungkannya, mengajarkannya, bahkan menjadikannya ukuran moral yang tinggi. Namun pada saat yang sama, ia juga pandai membengkokkannya sedikit, cukup untuk menyesuaikan dengan kebutuhan yang tidak selalu ingin diakui. Ada kejujuran yang diucapkan bukan untuk membuka, tetapi untuk mengatur. Bukan untuk memperjelas, tetapi untuk mengarahkan. Kalimatnya tetap benar, faktanya tidak berubah, tetapi arah dari kejujuran itu sudah memiliki tujuan.

     Di dalam percakapan sehari-hari, hal ini sering lewat tanpa disadari. Seseorang berkata terus terang tentang apa yang ia rasakan, tetapi memilih bagian mana yang diucapkan dan mana yang disimpan. Tidak ada yang salah dalam pilihan itu—manusia memang tidak wajib membuka seluruh dirinya. Namun di titik tertentu, kejujuran mulai menjadi sesuatu yang dirancang. Ia dipilih, disusun, disampaikan dengan cara yang tidak hanya mempertimbangkan kebenaran, tetapi juga dampak. Apa yang akan dipikirkan orang lain, bagaimana posisi akan berubah, apakah simpati akan muncul atau justru hilang.

     Ada sesuatu yang halus di sini, sesuatu yang tidak mudah disebut sebagai kesalahan. Karena memang tidak ada kebohongan yang jelas. Yang ada hanyalah kejujuran yang sudah bernegosiasi dengan hal lain: dengan ketakutan, dengan harapan, dengan keinginan untuk tetap terlihat baik. Dalam bentuk ini, kejujuran tidak lagi berdiri sendiri. Ia berjalan bersama motif yang tidak selalu ingin ditampilkan.

     Yang lebih menarik adalah ketika seseorang benar-benar merasa dirinya jujur. Ia tidak sedang berpura-pura, tidak merasa sedang memainkan peran. Apa yang ia katakan memang sesuai dengan apa yang ia rasakan pada saat itu. Namun perasaan itu sendiri sudah terbentuk dari banyak hal yang tidak sepenuhnya ia sadari. Ia ingin dimengerti, ingin diterima, ingin tidak disalahkan. Dan tanpa sadar, kejujuran yang ia sampaikan sudah mengarah ke sana.

     Di titik ini, kejujuran menjadi sesuatu yang lebih kompleks dari sekadar benar atau salah. Ia bukan lagi soal apakah kalimat itu sesuai dengan fakta, tetapi apakah ia benar-benar membuka atau justru menyembunyikan sesuatu dengan cara yang lebih halus. Ada kejujuran yang seperti jendela, membuat sesuatu terlihat. Ada pula yang seperti tirai tipis—membiarkan cahaya masuk, tetapi tetap mengaburkan bentuk yang ada di baliknya.

     Kita juga sering menggunakan kejujuran sebagai cara untuk merasa lebih ringan. Mengatakan sesuatu yang selama ini dipendam bisa memberi rasa lega, seolah beban berpindah dari dalam ke luar. Namun bahkan di sana, kejujuran tidak selalu murni. Ada pilihan tentang bagaimana mengatakannya, kapan mengatakannya, kepada siapa ia diarahkan. Kadang kita memilih momen ketika kejujuran itu akan lebih mudah diterima, atau ketika risiko terasa lebih kecil. Kejujuran yang seperti ini tetap jujur, tetapi tidak sepenuhnya bebas.

     Mungkin ini bukan sesuatu yang perlu dihakimi. Ia lebih dekat pada kondisi manusia itu sendiri. Kita tidak hidup sebagai makhluk yang sepenuhnya transparan. Selalu ada lapisan, selalu ada bagian yang belum siap untuk dilihat, bahkan oleh diri sendiri. Dalam kondisi seperti itu, kejujuran tidak pernah datang dalam bentuk yang benar-benar utuh. Ia selalu membawa sedikit bayangan dari sesuatu yang lain.

     Dan justru di situlah letak kejujuran yang lebih dalam—bukan pada usaha untuk menjadi sepenuhnya bersih, tetapi pada kesadaran bahwa kita tidak sepenuhnya bersih. Ada momen ketika seseorang mulai melihat bahwa apa yang ia anggap sebagai keterbukaan ternyata masih menyisakan ruang yang tidak ia sentuh. Bukan karena ia sengaja menyembunyikan, tetapi karena ia belum sampai ke sana.

     Kesadaran seperti ini tidak membuat seseorang berhenti berbicara, tidak membuatnya menjadi kaku atau penuh curiga pada dirinya sendiri. Ia hanya menambahkan lapisan keheningan di dalam kejujuran itu. Sebuah ruang kecil di mana seseorang tahu bahwa apa yang ia katakan adalah benar, tetapi mungkin belum seluruhnya. Dan ruang itu tidak harus segera diisi.

     Pada akhirnya, mungkin kejujuran bukan sesuatu yang bisa dicapai sebagai kondisi akhir. Ia lebih seperti gerak yang terus berlangsung—mendekat, menjauh, membuka, lalu menyadari bahwa masih ada yang belum terbuka. Dalam gerak itu, ada kejujuran yang terasa ringan, ada pula yang terasa berat. Keduanya bagian dari hal yang sama.

     Dan mungkin, di tengah semua itu, yang paling jujur bukanlah kalimat yang terdengar paling terang, tetapi kesediaan untuk melihat bahwa bahkan dalam terang, masih ada bayangan yang ikut berdiri.

     Seorang muslim urban bangun pagi dengan mata setengah sadar dan iman yang sudah lebih dulu membuka aplikasi. Ibu jari bekerja lebih cepat dari kesadaran: scroll, like, share—sebuah ritual kecil yang tak pernah diajarkan di kitab mana pun, tapi terasa lebih wajib dari wudhu. Di sana, di altar digital bernama Instagram, terpampang wahyu terbaru: Yaumul Milad ya ukhti, barakallah fii umrik, makin solehah, makin cantik, makin banyak rezekinya. Aamiin.” Disusul pagar-pagar kecil yang menandai kesalehan digital— #milad #happymilad #barakallah #alhamdulillah #explorepage—lengkap dengan sticker doa, dan emoji yang jumlahnya hampir menyaingi jumlah rakaat shalat sunnah yang jarang dilakukan.

     Ia tersentuh. Bukan oleh makna, tapi oleh atmosfer. Sebuah rasa yang sulit dijelaskan, seperti lapar yang tidak ingin makan nasi, tapi ingin makan estetika. Maka dimulailah liturgi baru: pesan kue tart, pilih font kaligrafi, tambah ornamen unta biar terasa Timur Tengah—meskipun yang paling dekat dengan padang pasir selama ini hanya filter Instagram. Lagu Marhaban dipotong lima belas detik, cukup untuk memberi kesan religius tanpa mengganggu ritme swipe berikutnya. Semua terasa suci. Semua terasa tepat. Padahal, kalau kita sedikit saja kurang ajar pada sejarah, kita akan sadar: tidak ada satu pun dari semua ini pernah terjadi di Madinah abad ke-7. Bahkan mungkin unta pun akan bingung melihat dirinya dijadikan topping butter cream.

     Dulu, “yaumul milad” hanyalah kalimat sederhana. Sebuah penanda waktu, seperti orang menyebut hari Selasa tanpa merasa perlu meniup lilin untuk merayakannya. Tidak ada pelukan massal, tidak ada goodie bag, tidak ada MC dengan suara bergetar penuh harap agar sponsor tahun depan lebih banyak. Itu hanya hari lahir—bukan hari untuk memanggil vendor dekorasi.

     Tapi manusia modern punya bakat istimewa: mengubah informasi menjadi seremoni, dan seremoni menjadi industri. Kapitalisme, seperti biasa, tidak pernah datang dengan wajah kasar. Ia datang dengan jilbab, dengan kaligrafi, dengan diskon bundling aqiqah plus milad tahunan—sebuah inovasi yang begitu kreatif sampai-sampai hukum fikih pun mungkin perlu duduk sejenak dan minum air.

     Caranya sederhana dan hampir elegan. Ambil satu fragmen teks, regangkan sedikit seperti karet gelang, lalu lepaskan ke pasar. Ada doa untuk Nabi Yahya di hari kelahirannya—baik, kita jadikan justifikasi. Ada sahabat yang memberi selamat pada sahabat lain—bagus, kita tambahkan layer emosional. Tidak masalah jika konteksnya berbeda jauh; yang penting ada kata “selamat”. Selebihnya, biarkan imajinasi bekerja, dan tentu saja, biarkan harga paket dekorasi naik perlahan.

     Lalu semuanya bergerak ke tahap yang lebih halus—tidak berisik, tapi justru lebih menentukan. Orang-orang mulai percaya, bukan karena pernah benar-benar tahu, tapi karena terlalu sering melihat. Keyakinan tidak lagi lahir dari pencarian, melainkan dari paparan berulang yang pelan-pelan terasa seperti kepastian.

     Di ruang yang lain, algoritma bekerja dengan tenang, nyaris seperti makhluk yang tidak punya niat jahat—dan justru karena itu sulit dicurigai. Ia tidak pernah bertanya mana doa yang tulus dan mana dekorasi yang terlalu mahal. Ia tidak punya kepentingan terhadap makna. Ia hanya mengenali keramaian. Yang ramai, itulah yang ia dorong ke permukaan. Yang diulang, itulah yang tampak sah.

     Maka ketika ribuan orang menulis “Yaumul Milad”, mengucapkannya dengan penuh rasa, membungkusnya dengan visual yang hangat dan musik yang lembut, sesuatu yang lebih besar dari sekadar ucapan mulai terbentuk. Kebenaran tidak lagi diperdebatkan—ia disepakati diam-diam lewat jumlah like. Tanpa kitab, tanpa sanad, tanpa keharusan untuk duduk dan berpikir terlalu lama. Sebuah epistemologi baru lahir, ringan, praktis, dan sangat efisien: cukup lihat engagement rate.

     Barangkali para insinyur di Silicon Valley dulu hanya ingin membuat orang betah berlama-lama menatap layar. Mereka mungkin tidak pernah membayangkan bahwa baris-baris kode itu, yang dingin dan netral, suatu hari akan bertransformasi menjadi semacam mufti tak resmi—yang fatwanya tidak diucapkan, tapi ditampilkan dalam bentuk tren. Dan seperti semua tren, ia tidak perlu benar. Ia hanya perlu terlihat ramai.

     Di titik ini, absurditas mulai terasa seperti rumah sendiri. Bayangkan sebuah pesta milad di hotel berbintang. Ayat suci dibacakan dengan sound system mahal, lalu disusul kue tart berbentuk Ka’bah yang didorong perlahan seperti sedang thawaf kecil-kecilan di atas karpet merah. Seorang anak meniup lilin dengan khusyuk—sebuah momen reflektif, meskipun napas yang sama mungkin belum pernah dipinjam untuk tahajud. Para tamu mengangkat tangan, berdoa dengan sungguh-sungguh agar tahun depan acara bisa lebih meriah. Tuhan, dalam imajinasi kita, tampaknya juga ikut menghitung jumlah balon.

     Dan di tengah semua itu, berdirilah satu frasa aneh: “Happy Milad”. Sebuah makhluk linguistik yang tidak diakui oleh bahasa Inggris maupun Arab, tapi sangat dicintai oleh caption Instagram Indonesia. Ia seperti anak hasil pernikahan paksa dua budaya yang tidak pernah saling melamar. Aneh, tapi justru karena itu terasa eksklusif. Semacam tanda bahwa kita sedang religius sekaligus modern—seperti memakai sneakers di atas sajadah.

     Yang sebenarnya menggelikan bukanlah ucapan selamatnya. Tidak ada yang salah dengan doa, dengan hadiah, dengan kebahagiaan kecil. Yang lucu—dan sedikit menyedihkan—adalah ketika semua ini diklaim sebagai bagian dari kesalehan. Seolah tanpa balon helium bertuliskan “Milad Mubarak”, iman seseorang terasa kurang lengkap. Seolah semakin mahal dekorasi, semakin dekat pula jaraknya dengan langit.

     Padahal, jika kita cukup jujur untuk menatap diri sendiri tanpa filter, jawabannya seringkali sederhana dan sangat manusiawi: kita ingin terlihat peduli, ingin diingat, ingin diakui. Dan pasar, seperti teman lama yang tahu kelemahan kita, menyediakan semua itu dalam bentuk paket—lengkap dengan bonus hashtag.

     Suatu hari nanti, mungkin seorang anak akan bertanya dengan polos, mengapa setiap tahun ia harus berdiri di depan kue sambil dikelilingi kamera. Dan untuk sekali saja, ayahnya mungkin menjawab tanpa dalil, tanpa retorika: bahwa ini bukan tentang tradisi, bukan tentang sunnah, tapi tentang diskon promo didorong keinginan kecil untuk tidak merasa tertinggal dari yang lain.

     Di luar sana, pabrik balon terus bekerja tanpa banyak berpikir. Influencer terus tersenyum di depan kamera. Dan kita, dengan cara yang aneh dan hampir puitis, terus merayakan sesuatu yang tidak pernah benar-benar kita pahami—sambil meyakinkan diri bahwa ini bagian dari sesuatu yang lebih besar.

     Barangkali memang begitu cara zaman bekerja: ia tidak memaksa kita untuk salah. Ia hanya membuat kita nyaman berada di dalamnya.

     Nama Tan Malaka hari ini beredar seperti diskon musiman: muncul ramai, dielu-elukan, lalu perlahan menghilang setelah algoritma bosan. Kutipannya dipajang rapi, dipoles, diberi latar belakang estetik—siap dikonsumsi tanpa risiko. Seolah-olah gagasan bisa dipakai seperti parfum: cukup disemprotkan, lalu kita ikut harum oleh sejarah.

     Tidak ada yang benar-benar ingin tahu bagaimana kalimat-kalimat itu lahir.

     Tidak ada yang ingin terlalu lama membayangkan seorang manusia yang menulis sambil berpindah-pindah, menghindari penangkapan, hidup dari ketidakpastian yang tidak romantis sama sekali. Menulis bukan di kafe dengan colokan listrik dan Wi-Fi, tetapi di sela-sela kemungkinan ditangkap atau mati. Kertas bukan medium ekspresi, tapi medan pertaruhan. Pikiran bukan konten, tapi risiko.

     Membayangkan itu terlalu mahal. Terlalu mengganggu kenyamanan.

     Maka yang tersisa adalah versi jinaknya: kutipan yang sudah disterilkan dari konteks, dibagikan dengan penuh semangat, lalu diakhiri dengan ritual kecil yang sakral—melirik angka. Berapa yang suka, berapa yang membagikan, berapa yang mengomentari. Sebuah bentuk perenungan baru: refleksi yang diukur dalam notifikasi.

     Ada sesuatu yang nyaris lucu, jika tidak terasa tragis.

     Orang-orang mengutip Tan Malaka seolah sedang melanjutkan perjuangan. Padahal yang mereka lanjutkan mungkin hanya trafik. Mereka tidak sedang berhadapan dengan kekuasaan, hanya dengan sepi—dan bahkan sepi itu pun kini bisa diatasi dengan sedikit optimasi waktu unggah.

     Jika dulu kekuasaan harus repot-repot membungkam, hari ini tidak perlu. Tidak ada pelarangan buku yang dramatis, tidak ada pengasingan yang heroik. Cukup beri semua orang panggung kecil, sedikit perhatian, dan ilusi bahwa suara mereka penting. Sisanya akan berjalan otomatis.

     Algoritma bekerja lebih halus daripada polisi rahasia.

     Ia tidak menangkap siapa pun. Ia hanya mengarahkan, membelokkan, menghibur, lalu perlahan meninabobokan. Orang-orang tetap berbicara, tetap merasa kritis, tetap merasa melawan—tanpa pernah benar-benar keluar dari lingkaran yang sama. Mereka bergerak, tapi seperti roda hamster: cepat, lelah, dan tidak ke mana-mana.

     Dan di tengah semua itu, nama Tan Malaka terus dipanggil.

     Bukan untuk dihidupi, tapi untuk ditemani.

     Seperti jimat kecil yang digenggam agar terlihat berani, tanpa pernah benar-benar ingin berjalan di jalan yang ia tempuh. Karena di ujung jalan itu tidak ada panggung, tidak ada angka, tidak ada validasi—hanya kesunyian yang keras kepala, dan keberanian yang tidak bisa dipalsukan.

     Mungkin yang paling menggelisahkan bukan bahwa kita lupa.

     Tapi bahwa kita ingat—dengan cara yang begitu aman, begitu nyaman, sampai-sampai kehilangan alasan mengapa ia dulu harus berbahaya.

     Ada kalimat yang terasa seperti tamparan halus namun sulit dilupakan dari Tan Malaka: kematian sejatinya bukan semalam tanpa makan, melainkan sehari tanpa berpikir. Kalimat itu berdiri tegak seperti seruan—seolah hidup manusia diukur dari nyala akalnya, dari keberaniannya meragukan, mempertanyakan, dan menolak tunduk pada dunia yang dianggap sudah selesai.

     Namun manusia, jika ditelusuri lebih dalam, tidak pernah benar-benar dibangun di atas akal terlebih dahulu. Ia tumbuh dari sesuatu yang lebih tua, lebih liar, dan lebih diam: emosi. Jauh sebelum manusia mampu merumuskan gagasan, ia sudah bisa takut, mencintai, marah, dan berharap. Evolusi tidak membentuk kita sebagai makhluk yang berpikir, melainkan sebagai makhluk yang bertahan—dan yang menjaga keberlangsungan itu bukan logika, melainkan perasaan.

     Akal, dalam banyak hal, datang seperti tambahan yang terlambat. Ia menyusul, merapikan, memberi nama pada sesuatu yang sudah lebih dulu bekerja tanpa bahasa. Bahkan keputusan yang tampak rasional pun sering kali hanya pembenaran yang halus atas dorongan yang lebih dalam. Manusia tahu banyak hal, tetapi tetap melakukan yang lain. Bukan karena ia tidak mampu berpikir, melainkan karena ia digerakkan oleh sesuatu yang lebih purba dari pikiran itu sendiri.

     Ironisnya, justru dari wilayah emosi itulah lahir apa yang kita anggap sebagai puncak pemikiran manusia. Filsafat sering tumbuh dari kegelisahan yang tidak menemukan tempat. Sains berakar pada rasa ingin tahu yang tak mau diam. Seni lahir dari luka, rindu, atau kekosongan yang mencari bentuk. Pikiran bukan sumber pertama—ia lebih mirip alat yang menyusun dan menyalurkan energi yang datang dari kedalaman yang lebih gelap.

     Di titik ini, kalimat Tan Malaka tidak sepenuhnya gugur, tetapi berubah maknanya. Ia bukan lagi deskripsi tentang bagaimana manusia bertahan hidup, melainkan tentang bagaimana manusia menjaga martabatnya. Tanpa berpikir, manusia tetap hidup—tetapi mudah digerakkan, mudah dibentuk, mudah dijadikan bagian dari arus yang tidak ia pahami. Tanpa emosi, manusia mungkin tetap berpikir—tetapi kehilangan alasan untuk bergerak.

     Maka manusia berdiri di antara dua arus yang tidak pernah benar-benar berdamai. Di bawah, mengalir sungai purba yang membawa naluri dan perasaan. Di atas, berdiri bangunan rapuh bernama rasio yang mencoba memberi arah. Sebagian besar waktu, sungai itu menang—ia membawa manusia ke mana saja tanpa banyak tanya. Namun di saat-saat tertentu, dari bangunan itu, seseorang menyalakan cahaya kecil, dan untuk sesaat arah arus berubah.

     Barangkali hidup tidak pernah sekadar tentang berpikir atau merasa. Ia terjadi ketika keduanya saling menyalakan: emosi memberi api, pikiran memberi arah. Tanpa arah, api hanya membakar. Tanpa api, arah hanya menjadi garis dingin di atas peta. Dan manusia, dengan segala keganjilannya, terus berjalan di antara keduanya—kadang sadar, sering kali tidak, tetapi selalu bergerak.

Author Name

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.