Halal bi halal itu selalu terasa seperti sesuatu yang sederhana—terlalu sederhana, bahkan—sehingga kita jarang benar-benar berhenti untuk menatapnya lebih lama. Ia lewat setiap tahun, seperti angin yang hafal jalan pulang, membawa kalimat yang sama, gestur yang sama, dan mungkin juga rasa yang tidak selalu sama.

     Ia terdengar seperti istilah Arab, seolah punya akar yang dalam di tanah Timur Tengah. Tapi justru di situlah ia diam-diam menyimpan keunikannya: ia lahir di sini, tumbuh di antara gang-gang sempit, ruang tamu, aula kantor, hingga lapangan-lapangan tempat orang berkumpul tanpa banyak alasan selain ingin merasa kembali terhubung. “Halal” menjadi kata kunci—yang dilepaskan, yang dibolehkan, yang tidak lagi dibebani. Ketika diulang menjadi halal bi halal, ia seperti gema yang memantul: bukan hanya aku membebaskanmu, tapi kita saling membebaskan diri dari sesuatu yang mungkin sudah lama terlalu berat untuk terus dibawa.

     Namun yang benar-benar ada dari halal bi halal bukanlah kata-katanya. Ia tidak hidup dalam kamus, melainkan di antara manusia. Ia hadir dalam jeda kecil sebelum jabat tangan, dalam tatapan yang menghindar lalu kembali, dalam senyum yang sedikit dipaksakan tapi tetap diusahakan. Ia tidak memiliki tubuh, tapi kita bisa merasakannya—seperti udara lembap setelah hujan, tidak terlihat tapi menempel di kulit.

     Ia adalah ritus, tapi bukan ritus yang sepenuhnya sakral. Ia juga bukan sekadar kebiasaan duniawi. Ia berdiri di tengah-tengah, seperti jembatan bambu yang dibangun seadanya namun terus dilalui karena semua orang diam-diam tahu: kita perlu menyeberang.

     Dalam sejarahnya, ia tidak turun sebagai perintah yang kaku. Ia lebih mirip kesepakatan yang perlahan menemukan bentuknya sendiri. Sering disebut bahwa gagasan ini pernah disentuh oleh Wahid Hasyim, lalu dipopulerkan dalam konteks politik oleh Soekarno—sebagai cara meredakan ketegangan tanpa harus memperpanjang konflik. Sebuah jalan memutar yang khas: tidak langsung menyelesaikan masalah di pusatnya, tapi melembutkan tepi-tepinya sampai ia tidak lagi terasa tajam.

     Di titik itu, halal bi halal menjadi lebih dari sekadar tradisi. Ia berubah menjadi semacam teknologi sosial—cara halus untuk mengelola luka tanpa perlu membukanya terlalu lebar. Cara untuk mengatakan, “kita lanjut saja,” tanpa harus mengurai seluruh benang kusut yang ada.

     Seiring waktu, ia tumbuh. Dari ruang keluarga yang hangat dan penuh nama, ia merambah ke ruang-ruang institusional yang lebih dingin dan anonim. Di kantor, di sekolah, di organisasi, ia menjadi agenda. Disiapkan, dijadwalkan, kadang dipaksakan untuk terasa khidmat. Ada sambutan, ada konsumsi, ada barisan orang yang saling berjabat tangan seperti antrean panjang yang tidak pernah benar-benar tahu apa yang sedang ditunggu.

     Maknanya pun ikut bergeser. Ia tidak lagi selalu tentang hubungan personal, tapi tentang menjaga permukaan agar tetap tenang. Tentang memastikan tidak ada gelombang yang terlalu besar untuk mengganggu jalannya sistem.

     Di organisasi pencinta alam, misalnya, halal bi halal punya warna yang sedikit berbeda. Ia sering tidak berlangsung di ruang ber-AC atau aula dengan kursi tersusun rapi, tapi di tanah yang kadang masih basah oleh sisa hujan semalam. Di antara carrier yang belum dibersihkan, tali-temali yang digulung seadanya, dan sepatu yang masih menyimpan lumpur dari perjalanan terakhir.

     Di sana, orang-orang yang mungkin pernah berselisih di jalur pendakian—tentang keputusan rute, tentang ego yang muncul di ketinggian, tentang siapa yang merasa paling benar ketika badai datang—bertemu kembali dalam suasana yang lebih datar. Tidak selalu ada kata maaf yang diucapkan dengan jelas. Kadang hanya ada tawaran kopi panas dari kompor kecil, atau tepukan di bahu yang sedikit lebih lama dari biasanya.

     Dan anehnya, itu cukup.

     Seperti gunung yang tidak pernah benar-benar menyimpan dendam, mereka belajar bahwa konflik sering kali hanya bagian dari perjalanan, bukan sesuatu yang harus dibawa pulang terlalu lama. Halal bi halal di sana terasa lebih sunyi, tapi justru lebih jujur. Tidak banyak kata, tapi banyak yang dilepaskan.

     Lalu kita sampai pada fase yang lebih modern, di mana halal bi halal menjadi semakin ringan—atau mungkin terlalu ringan. Ia hadir dalam pesan berantai, dalam unggahan media sosial, dalam kalimat “mohon maaf lahir dan batin” yang dikirim ke ratusan kontak sekaligus. Tidak ada lagi tatapan, tidak ada jeda, tidak ada canggung. Semua menjadi cepat, efisien, dan sedikit kosong.

     Seperti kata yang terlalu sering diucapkan hingga kehilangan beratnya sendiri.

     Namun ia tidak hilang.

     Di balik semua formalitas dan repetisi itu, halal bi halal tetap menyisakan ruang kecil untuk sesuatu yang nyata. Dalam satu keramaian, bisa saja ada dua orang yang benar-benar sedang menyelesaikan sesuatu yang selama ini mengendap. Dalam satu barisan panjang, bisa saja ada satu jabat tangan yang terasa berbeda—lebih hangat, lebih lama, lebih jujur.

     Mungkin di situlah ia bertahan.

     Karena pada akhirnya, halal bi halal memperlihatkan sesuatu yang agak ganjil tentang manusia: kita membutuhkan momen kolektif untuk melakukan sesuatu yang sebenarnya bisa kita lakukan kapan saja. Meminta maaf. Mengakui kesalahan. Melepaskan beban.

     Tapi kita jarang melakukannya sendirian.

Kita butuh kalender. Kita butuh tradisi. Kita butuh keramaian sebagai tameng kecil dari rasa malu.

     Dan di antara semua itu, ketika kebisingan mulai mereda, tersisa satu momen yang sederhana—dua manusia yang berhenti sejenak dari keinginan untuk menjadi benar, lalu memilih sesuatu yang lebih ringan.

     Menjadi lega.

     Ada orang-orang yang menghabiskan malamnya di kafe kecil, menulis materi stand up dengan penuh kehati-hatian—menimbang mana yang lucu, mana yang terlalu jujur, karena kadang kejujuran itu sendiri tidak laku dijual tanpa dibungkus tawa.

     Lalu negara ini datang, naik ke panggung tanpa latihan, tanpa rasa bersalah, dan langsung membawakan set komedi paling mahal dalam sejarah—dibayar bukan dengan tiket, tapi dengan pajak.

     Coba bayangkan—tidak, tak perlu dibayangkan, ini nyata—anak-anak diminta belajar online demi menghemat BBM. Sebuah ide yang terdengar seperti lahir dari meditasi panjang tentang efisiensi. Tapi plot twist-nya indah: mereka tetap harus datang ke sekolah untuk mengambil jatah makan. Jadi mereka hemat BBM… dengan tetap membakar BBM. Ini bukan lagi ironi. Ini sudah seperti lingkaran setan yang ikut kursus stand up.

     Kemudian, dari panggung kementerian, terdengar himbauan yang sangat revolusioner: matikan kompor setelah masakan matang. Sebuah terobosan energi yang mungkin akan dikenang dunia. Newton menemukan gravitasi karena apel jatuh. Kita menemukan efisiensi karena… ya, ternyata kompor tidak perlu dinyalakan kalau tidak dipakai. Peradaban melonjak jauh hari itu.

     Di sisi lain, dunia akademik kita ikut meramaikan panggung. Ada karya yang dipertanyakan, ada gelar yang tetap diberikan, dan ada institusi yang menjelaskan semuanya dengan logika yang terasa seperti skrip yang ditulis lima menit sebelum tampil. Bukan karena terburu-buru, tapi karena mungkin memang tidak ada yang benar-benar ingin masuk ke inti masalah. Dalam komedi, ini disebut “deflection”—mengalihkan dari punchline yang sebenarnya terlalu menyakitkan.

     Dan lihatlah transformasi karakter—dulu wartawati kritis, sekarang apologetik. Dulu bertanya, sekarang menjelaskan. Dulu menggugat, sekarang membela. Bukan karena berubah pikiran, mungkin, tapi karena panggungnya berbeda. Di panggung ini, tepuk tangan tidak datang dari kebenaran, tapi dari kesetiaan.

     Program makan bergizi itu sendiri seperti premis yang indah. Siapa yang mau menertawakan anak-anak makan dengan layak? Tidak ada. Tapi justru di situlah komedinya menjadi gelap. Karena ketika sesuatu yang mulia masuk ke sistem yang terbiasa bocor, ia tidak berubah menjadi solusi—ia berubah menjadi peluang.

     Dan kita mulai melihat angka-angka yang tidak lagi terasa seperti matematika, tapi seperti sulap. Lima ribu dari lima belas ribu menguap ke ruang yang tidak pernah benar-benar dijelaskan. Tiga ratus tiga puluh lima triliun terasa seperti angka yang terlalu besar untuk dipertanyakan, tapi terlalu nyata untuk diabaikan. Dalam dunia komedi, ini disebut “commitment to the bit”—ketika lelucon dijalankan sampai sejauh mungkin, bahkan ketika semua orang tahu itu tidak masuk akal.

     Lalu ada seseorang yang dengan polos memamerkan keuntungan usaha dapur mbg-nya. Dalam dunia normal, itu disebut transparansi. Dalam dunia kita, itu seperti pengakuan dosa. Dapur dibekukan, bukan karena ada bukti korupsi, tapi mungkin karena kejujuran terlalu vulgar untuk ditoleransi.

     Di titik ini, kita mulai sadar: ini bukan sekadar lucu. Ini adalah jenis tawa yang membuat dada terasa sempit. Tawa yang datang bukan karena kita mengerti leluconnya, tapi karena kita tidak tahu harus merespons dengan apa lagi.

     Para komedian mungkin iri. Mereka harus menyaring realitas, memadatkannya, memolesnya agar bisa ditertawakan. Sementara di sini, realitas itu sendiri sudah tampil telanjang—tanpa editing, tanpa sensor, tanpa rasa malu.

     Dan yang paling mengganggu bukanlah absurditasnya.

     Tapi konsistensinya.

     Di suatu titik yang tidak pernah diumumkan secara resmi, manusia sepakat bahwa menjadi bodoh adalah hak dasar. Ia setara dengan hak untuk bernapas, hak untuk berbicara, dan—dalam beberapa kasus—hak untuk berbicara tanpa pernah benar-benar berpikir. Sebuah hak yang terdengar manusiawi, bahkan simpatik, karena siapa yang tidak pernah salah? Siapa yang tidak pernah tersandung oleh pikirannya sendiri?

     Namun, seperti banyak hal lain dalam sejarah manusia, sesuatu yang awalnya wajar pelan-pelan mengalami inflasi. Hak untuk sesekali keliru berkembang menjadi kebiasaan untuk terus keliru. Dari sekadar fase, ia naik kelas menjadi sikap hidup. Dari kecelakaan, ia berubah menjadi pilihan sadar yang dijaga dengan penuh dedikasi.

     Barangkali yang paling menggelikan bukanlah kebodohan itu sendiri, melainkan keseriusan dalam mempertahankannya.

     Ada orang yang salah, lalu diam, lalu belajar diam-diam. Ada yang salah, lalu tertawa kecil, lalu memperbaiki. Tapi ada pula yang salah, lalu berdiri lebih tegak, mengeraskan suara, dan mengumpulkan barisan yang sama-sama salah untuk memastikan bahwa kesalahan itu tidak pernah sendirian. Di situ, kebodohan menemukan rumahnya: bukan dalam ketidaktahuan, tetapi dalam solidaritas.

     Kita hidup di masa di mana keyakinan sering kali lebih dihargai daripada kebenaran. Tidak perlu tahu terlalu banyak; cukup yakin dengan apa yang tidak diketahui. Bahkan lebih baik lagi jika keyakinan itu disampaikan dengan nada tinggi dan ekspresi yang meyakinkan—karena dalam banyak percakapan, volume sering disalahpahami sebagai kedalaman.

     Mengaku tidak tahu telah menjadi semacam dosa sosial. Ia memalukan. Ia membuat seseorang tampak kecil. Padahal, justru di situlah pintu pertama menuju pemahaman terbuka. Tapi pintu itu jarang dipilih, karena lebih mudah membangun tembok keyakinan daripada berjalan melewati ketidakpastian.

     Dunia modern, dengan segala kemurahan hatinya, menyediakan panggung luas untuk fenomena ini. Dahulu, kebodohan memiliki batas yang cukup sopan—ia tinggal di ruang-ruang terbatas, beredar dalam lingkaran kecil. Kini, ia memiliki mikrofon, kamera, dan algoritma yang setia mendorongnya ke permukaan. Ia tidak lagi sekadar ada; ia tampil, diproduksi, disebarkan, dan dikonsumsi seperti hiburan harian.

     Dan seperti semua yang sering ditonton, ia mulai terasa normal.

     Ada kelelahan yang diam-diam menjadi alasan di balik semua ini. Berpikir itu berat. Ia menuntut seseorang untuk ragu, untuk membongkar ulang keyakinan yang sudah nyaman, untuk mengakui bahwa mungkin selama ini ia berdiri di tempat yang salah. Itu bukan pekerjaan yang ringan. Jauh lebih mudah memilih jalan lain: tetap di tempat, mengulang apa yang sudah dikenal, dan sesekali menyerang mereka yang mencoba bergerak.

     Kebodohan, dalam bentuk ini, bukan lagi sekadar kekurangan. Ia menjadi semacam kemewahan—kemewahan untuk tidak perlu mempertanyakan, tidak perlu berubah, tidak perlu merasa goyah. Sebuah kenyamanan yang dibayar dengan satu hal kecil: keengganan untuk tumbuh.

     Dan di tengah semua itu, ada ironi yang pelan-pelan mengeras: orang yang mencoba berpikir sering kali terlihat mengganggu. Ia dianggap terlalu rumit, terlalu banyak bertanya, terlalu tidak menyenangkan. Seolah-olah berpikir adalah gangguan terhadap harmoni yang dibangun di atas kesepakatan untuk tidak terlalu dalam.

     Maka benar, setiap orang punya hak untuk bodoh. Tapi seperti hak lainnya, ia tidak pernah dimaksudkan untuk digunakan tanpa batas. Ada titik di mana hak itu seharusnya berhenti menjadi pembelaan, dan mulai menjadi cermin.

     Masalahnya, tidak semua orang suka bercermin.

     “Perjuangan manusia melawan kekuasaan adalah perjuangan ingatan melawan lupa.” Kalimat itu ditulis oleh Milan Kundera dalam novelnya The Book of Laughter and Forgetting, lahir dari pengalaman hidup di bawah bayang-bayang rezim yang tidak hanya mengatur langkah kaki manusia, tetapi juga mencoba mengatur apa yang boleh diingat oleh pikirannya. Ia tidak menulisnya sebagai seruan, melainkan sebagai semacam kesimpulan yang sunyi—seperti seseorang yang sudah terlalu lama menyaksikan bagaimana sejarah bisa diubah tanpa suara tembakan.

     Kekuasaan memang sering tampil dengan wajah yang keras: senjata, aparat, larangan, dan hukuman. Namun itu hanya permukaan. Senjata bisa melumpuhkan tubuh, tetapi waktu tetap berjalan, dan ingatan diam-diam mengumpulkan serpihannya sendiri. Di situlah kekuasaan belajar menjadi lebih halus. Ia tidak lagi sekadar memaksa, tetapi mulai menyunting.

     Ia menyunting masa lalu.

     Dalam banyak kisah sejarah, kita menemukan pola yang hampir berulang seperti kebiasaan lama: tokoh-tokoh yang dulu dielu-elukan tiba-tiba menghilang dari buku pelajaran; foto-foto lama dipotong, menyisakan ruang kosong yang tak pernah dijelaskan; arsip dikunci rapat, atau lebih buruk—ditulis ulang dengan bahasa yang lebih “rapi”. Bahkan kata-kata perlahan digeser maknanya, sehingga orang bukan hanya lupa pada peristiwa, tetapi juga kehilangan cara untuk menyebutnya.

     Sebuah bangsa bisa dibuat lupa bahwa ia pernah memiliki keberanian. Bahwa pernah ada masa ketika orang-orang biasa berani mengatakan tidak. Bahwa pernah ada kemungkinan lain selain kenyataan yang sekarang tampak tak terelakkan.

     Di titik itu, kalimat Kundera menjadi semacam pisau kecil yang tajam. Ia mengingatkan bahwa perlawanan tidak selalu berwujud teriakan atau kerumunan. Ada bentuk lain yang lebih sepi, tetapi tidak kalah penting: menjaga ingatan tetap hidup.

Mengingat bahwa sesuatu memang pernah terjadi, meskipun kini disangkal.
Mengingat bahwa ada suara yang pernah menolak, meskipun kini dibungkam.
Mengingat bahwa dunia ini pernah membuka lebih dari satu kemungkinan jalan.

     Ingatan tidak tinggal di satu tempat. Ia tidak sepenuhnya bisa ditangkap oleh negara, tidak seluruhnya bisa disita oleh kekuasaan. Ia menyelinap ke dalam cerita-cerita keluarga yang diceritakan berulang di meja makan; ia hidup dalam catatan kecil yang disembunyikan di antara buku-buku lama; ia bernafas dalam lagu, dalam puisi, dalam percakapan larut malam yang tak pernah tercatat oleh arsip resmi. Bahkan dalam diam, ia tetap bekerja.

     Mungkin karena itu, yang paling membuat kekuasaan gelisah bukanlah senjata, melainkan orang-orang yang terus mengingat. Orang-orang yang menyimpan dokumen, yang menulis ulang kisah yang dilupakan, yang bersikeras bahwa apa yang pernah terjadi tidak bisa dihapus hanya karena tidak lagi diakui.

     Lupa memberi ilusi keabadian. Seolah-olah kekuasaan selalu seperti ini, selalu wajar, selalu tak tergoyahkan.
Ingatan, sebaliknya, membuka retakan. Ia menunjukkan bahwa segala sesuatu pernah dimulai—dan karena itu, mungkin saja berakhir.

     Sejarah, jika dilihat tanpa kepentingan untuk merapikannya, adalah pertarungan panjang antara dua arus itu. Di satu sisi, manusia yang berusaha mengikat pengalaman ke dalam ingatan. Di sisi lain, kekuasaan yang tak pernah lelah mencoba menuliskannya kembali.

     Kadang ingatan memang kalah. Ia terhapus, terkubur, atau dibiarkan membusuk dalam kesunyian yang terlalu lama.

     Namun selama masih ada satu orang yang mengingat—dengan jujur, dengan keras kepala—maka cerita itu belum benar-benar selesai.

Sahabatku,

     Lebaran selalu datang seperti tamu lama yang tahu jalan pulang, namun setiap kali ia mengetuk, ada ruang-ruang dalam diri yang kembali terbuka—yang dulu kita isi bersama, lalu perlahan kita tinggalkan tanpa benar-benar sadar kapan terakhir kali menutupnya.

     Di sela gema takbir dan kesibukan yang berulang tiap tahun, ada satu hal yang diam-diam ingin kutunaikan: menemuimu.

     Bukan sekadar kalimat ringan yang kita ucapkan agar percakapan terasa hangat. Bukan basa-basi yang menguap sebelum sempat menjadi nyata. Aku ingin benar-benar datang. Pelan saja. Tanpa perlu dirancang berlebihan. Duduk bersama, mungkin dengan kopi yang biasa saja, tapi cukup untuk menemani percakapan yang sudah terlalu lama kita tunda—atau bahkan tak pernah sempat kita mulai lagi.

     Aneh memang, bagaimana hidup membuat jarak terasa wajar. Dulu, kita tidak pernah memikirkan itu.

     Kita berboncengan sepeda sepulang sekolah, menembus jalanan dengan napas yang terengah, tapi hati entah kenapa selalu ringan. Waktu seperti tidak pernah menagih apa pun dari kita. Kita juga pernah memilih bolos, bukan untuk alasan besar, hanya untuk memanjat diam-diam pohon mangga di sebelah sekolah—dengan rasa puas yang bahkan tidak bisa dijelaskan oleh manisnya buah itu sendiri.

     Lalu ada hari ketika kita berjalan sepanjang Pantai Losari—yang dulu kita sebut, setengah bercanda, sebagai restoran terpanjang. Makanan berjajar di sepanjang pantai, orang-orang duduk menikmati, sementara kita hanya berjalan, karena tidak membawa uang sama sekali. Tapi anehnya, kita tidak merasa kekurangan. Kita tetap tertawa, seolah kebersamaan itu sendiri sudah cukup mengenyangkan.

     Dan malam itu—di gunung—yang mungkin tak pernah benar-benar pergi dari ingatan. Hujan badai memaksa kita bersembunyi di celah batu yang sempit, menunggu sampai pagi. Dingin, basah, dan hanya dua sachet kopi yang kita bagi seolah itu adalah kemewahan terakhir yang kita miliki. Kita bertahan bukan karena kita hebat, tapi karena kita tidak sendirian.

     Semua itu kini seperti hidup di jarak yang lain. Tidak hilang, tapi juga tidak lagi bisa disentuh begitu saja.

     Mungkin karena itu aku ingin menemuimu sekarang.

     Aku tidak ingin menunda seperti yang sering kita lakukan pada banyak hal yang kita kira masih punya waktu. Aku tidak ingin suatu hari nanti berdiri di antara keramaian, datang tergopoh-gopoh, hanya karena waktu sudah menutup semua kemungkinan untuk bertemu dengan cara yang utuh. Aku tidak ingin langkahku dipercepat oleh kehilangan.

     Aku juga tidak akan mengajakmu ke rumahku. Kau tahu aku bukan orang yang pandai menjadikan hidup sebagai sesuatu yang perlu diperlihatkan. Dan memang, tidak ada yang layak dipamerkan. Yang ingin kutemui bukanlah ruang, tapi dirimu—sebagaimana dulu kita saling menemukan tanpa perlu panggung apa pun.

     Jika aku datang, itu bukan karena kewajiban Lebaran, bukan karena adat yang menuntut, tapi karena aku masih punya waktu—dan aku memilih untuk tidak menyia-nyiakannya.

     Kalau kau berkenan, beri tahu kapan aku bisa menemuimu. Tidak perlu repot. Aku yang akan menyesuaikan langkah.

     Selamat Lebaran.
Semoga yang sederhana tetap terasa cukup, dan yang jauh tidak benar-benar menjadi asing.

     Aku akan mencarimu—sebelum waktu mengajarkan kita arti kehilangan dengan cara yang terlalu sunyi.

—Aku

     Ada sesuatu yang selalu terasa ganjil sekaligus akrab dalam setiap perdebatan awal bulan qamariah. Ia seperti drama tahunan yang naskahnya sudah kita hafal, tapi tetap saja dimainkan dengan penuh kesungguhan, seolah hasil akhirnya akan menentukan arah semesta.

     Di satu sisi, ada mata yang menengadah ke langit, mencari sabit tipis yang nyaris seperti goresan pensil di ujung cakrawala. Di sisi lain, ada angka-angka yang bekerja dalam diam—rumus, koordinat, lintasan—yang jauh lebih pasti daripada getaran tangan manusia yang mengintip ufuk. Di antara keduanya, manusia berdiri: tidak sepenuhnya percaya pada mata, tapi juga belum sepenuhnya menyerahkan diri pada kalkulasi.

     Perdebatan ini sebenarnya bukan sekadar soal kapan lebaran tiba. Ia menyentuh sesuatu yang lebih dalam: bagaimana manusia memaknai otoritas, tradisi, dan kebenaran itu sendiri. Sejak masa Muhammad, metode rukyat (melihat langsung) menjadi praksis yang hidup—bukan hanya sebagai teknik, tetapi sebagai pengalaman kolektif: langit sebagai teks, manusia sebagai pembacanya. Lalu datang ilmu falak, berkembang pelan-pelan, hingga kini mampu menghitung posisi bulan dengan presisi yang bahkan melampaui kemampuan mata telanjang.

     Di titik ini, konflik mulai terasa bukan karena datanya berbeda, tetapi karena cara memercayai data itu berbeda.

     Ada yang percaya bahwa kebenaran harus “disaksikan”, bukan sekadar dihitung. Bahwa ada nilai eksistensial dalam melihat langsung hilal—sebuah momen di mana manusia dan kosmos saling bertatap, meski hanya sekejap. Sementara yang lain melihat itu sebagai romantisme yang mahal: ketika sains sudah bisa memberi kepastian, mengapa masih bergantung pada kondisi cuaca dan keterbatasan penglihatan?

     Lalu ada satu kemungkinan yang menarik—tentang cahaya bulan yang sebenarnya adalah pantulan cahaya matahari dari 8,3 menit lalu. Itu membuka satu lapisan ironi yang lebih dalam: bahkan apa yang kita “lihat” pun sesungguhnya adalah masa lalu. Tidak ada yang benar-benar hadir dalam detik ini; semua adalah keterlambatan cahaya.

     Jika logika ini ditarik lebih jauh, maka rukyat pun bukanlah melihat bulan “sekarang”, tetapi melihat jejak waktu. Dan hisab? Ia mencoba menebak posisi sesuatu yang bahkan tidak pernah kita lihat secara real-time. Dua-duanya, pada akhirnya, adalah cara manusia berdamai dengan keterbatasan persepsi.

     Apakah akan lahir “mazhab baru”? Kemungkinan itu selalu ada. Sejarah Islam sendiri penuh dengan dinamika ijtihad—cara berpikir yang tidak pernah benar-benar beku. Tapi menariknya, perpecahan metode ini sering kali bukan karena kurangnya pengetahuan, melainkan karena berlebihnya makna yang disematkan pada metode itu sendiri.

     Metode berubah menjadi identitas. Identitas berubah menjadi posisi. Dan posisi, seperti biasa, sulit untuk dilonggarkan.

     Namun, jika dilihat dengan jarak yang sedikit lebih tenang, ada satu kemungkinan yang jarang dibicarakan: bahwa perbedaan ini justru adalah bentuk kejujuran epistemik. Bahwa manusia tidak pura-pura sepakat ketika memang belum sepakat. Bahwa dalam urusan langit, bahkan dengan teleskop tercanggih sekalipun, kita tetap membawa tafsir ke dalamnya.

     Mungkin yang akan datang bukan mazhab baru dalam arti formal, tetapi cara pandang baru—yang tidak lagi melihat rukyat dan hisab sebagai dua kubu yang harus saling mengalahkan, melainkan dua bahasa berbeda untuk membaca langit yang sama.

     Dan bisa jadi, di masa depan, perdebatan ini tidak akan hilang. Ia hanya akan berubah bentuk—dari soal “terlihat atau tidak”, menjadi “apa arti melihat itu sendiri”.

     Karena pada akhirnya, manusia tidak hanya mencari bulan. Ia sedang mencari kepastian—dan sering kali, tanpa sadar, juga sedang mencari dirinya sendiri di balik langit yang gelap itu.

     Dalam dunia penelitian, kesalahan adalah bagian dari napas pengetahuan. Seorang peneliti boleh keliru, boleh salah membaca data, boleh membuat hipotesis yang kemudian runtuh oleh eksperimen berikutnya. Sejarah ilmu penuh dengan kesalahan semacam itu. Tetapi ada satu garis yang tidak boleh dilintasi: kebohongan. Jika data dipalsukan, jika hasil direkayasa, maka seluruh bangunan pengetahuan runtuh. Ilmu tidak menuntut peneliti menjadi manusia yang selalu benar, tetapi ia menuntut kejujuran radikal. Kesalahan masih bisa diperbaiki oleh peneliti lain. Kebohongan meracuni seluruh jaringan kepercayaan.

     Politik berdiri di panggung yang berbeda. Politisi hidup dalam arena persepsi, bukan dalam laboratorium verifikasi. Yang mereka kelola bukan data, melainkan keyakinan publik. Karena itu kebohongan sering menjadi alat retorika: janji yang dibesar-besarkan, narasi yang dipoles, kenyataan yang dipilih sebagian. Anehnya, publik sering masih memaafkan itu. Yang tidak dimaafkan adalah kesalahan yang tampak nyata—kebijakan gagal, strategi yang salah langkah, keputusan yang membuat negara tersandung. Politisi bisa selamat dari tuduhan tidak jujur, tetapi jarang selamat dari citra “tidak kompeten”.

     Di satu sisi, peneliti bekerja dalam ekosistem koreksi: kritik, replikasi, peer review. Kesalahan di sana seperti batu kecil di sungai; arus pengetahuan perlahan akan menggesernya. Di sisi lain, politisi bekerja dalam ekosistem persepsi: opini, media, emosi massa. Di sana yang berbahaya bukan batu kecil, melainkan kesan bahwa nahkoda tidak tahu arah.

     "Peneliti boleh salah tapi tidak boleh bohong, Politisi boleh bohong tapi tidak boleh salah" seperti lelucon pahit tentang dua profesi yang sama-sama berpengaruh besar terhadap dunia, tetapi dijaga oleh standar moral yang berbeda. Ilmu menuntut kejujuran bahkan ketika ia salah. Politik menuntut ketepatan bahkan ketika ia tidak sepenuhnya jujur.

     Dan di antara keduanya, masyarakat sering berdiri kebingungan: mempercayai politisi yang pandai berbicara, sambil kadang mencurigai peneliti yang terlalu jujur mengakui ketidaktahuannya. Ironi kecil yang membuat sejarah manusia terus berputar—seperti kompas yang kadang menunjuk utara, kadang hanya menunjuk arah yang paling meyakinkan.

     Ada sesuatu yang aneh dalam manusia modern. Lidahnya begitu lincah, seolah dunia ini harus terus-menerus diberi komentar. Setiap peristiwa segera diberi opini, setiap berita disambut dengan kesimpulan, setiap persoalan langsung diberi sikap. Tetapi di balik kelincahan itu, ada kekosongan yang sunyi: jarang sekali ada yang benar-benar bertanya.

     Pertanyaan sebenarnya adalah tanda kerendahan hati intelektual. Ia lahir dari kesadaran sederhana bahwa dunia lebih luas daripada kepala kita. Bertanya berarti mengakui bahwa kita belum tahu, bahwa kita mungkin keliru, bahwa ada ruang untuk memahami sesuatu lebih dalam. Tetapi manusia modern hidup dalam atmosfer yang aneh: ketidaktahuan tidak lagi dirayakan sebagai pintu belajar, melainkan dianggap sebagai kelemahan yang harus segera ditutupi. Maka orang lebih cepat berbicara daripada bertanya.

     Ada juga rasa takut yang lebih dalam dari sekadar tidak tahu. Banyak orang sesungguhnya takut berpikir. Berpikir bukan pekerjaan ringan; ia seperti berjalan sendirian di hutan yang gelap. Di sana kita bisa menemukan hal-hal yang tidak nyaman: kontradiksi dalam keyakinan sendiri, retakan dalam moralitas yang kita banggakan, atau kenyataan bahwa sebagian besar pendapat yang kita pegang ternyata hanya warisan dari lingkungan, bukan hasil pencarian pribadi.

     Karena itu berbicara menjadi jalan yang lebih mudah. Bicara dapat dilakukan tanpa perjalanan panjang ke dalam diri. Kita bisa meminjam kalimat dari orang lain, mengulang slogan yang sedang populer, atau sekadar mengikuti arus percakapan umum. Dunia digital bahkan memberi panggung luas bagi kebiasaan ini: semua orang bisa berbicara, tetapi hampir tidak ada yang punya waktu untuk diam cukup lama agar sebuah pertanyaan lahir dengan jujur.

     Padahal sejarah pemikiran manusia bergerak justru karena pertanyaan-pertanyaan yang sederhana namun berani. Mengapa langit bergerak? Mengapa manusia harus hidup adil? Apa arti kebahagiaan? Mengapa kita mati? Pertanyaan-pertanyaan seperti itu sering muncul dari orang yang bersedia menunda bicara, menahan diri dari kesimpulan yang cepat, dan memberi ruang bagi pikiran untuk berjalan perlahan.

     Mungkin masalah terbesar manusia modern bukan kurangnya informasi, melainkan hilangnya keberanian untuk tidak tahu. Kita dikelilingi jawaban sebelum sempat merasakan keindahan bertanya. Akibatnya, percakapan menjadi ramai tetapi pemikiran menjadi dangkal.

     Sesekali menarik juga membayangkan sebuah dunia kecil yang sebaliknya: orang-orang berbicara lebih sedikit, tetapi bertanya lebih banyak. Tidak terburu-buru menilai, tidak tergesa memberi opini, melainkan duduk sejenak dengan rasa ingin tahu yang tulus. Barangkali di tempat seperti itu, berpikir tidak lagi terasa menakutkan—melainkan seperti membuka jendela pada pagi hari, ketika udara segar masuk dan kita baru sadar betapa lama ruangan kita sebenarnya pengap.

     Ada satu keyakinan yang sangat populer di dunia modern: manusia adalah makhluk rasional. Kalimat ini sering diulang dengan nada bangga, seolah-olah kita baru saja menemukan mahkota kemuliaan spesies kita sendiri. Universitas mengajarkannya, buku filsafat mengukuhkannya, pidato-pidato publik memeliharanya dengan penuh rasa hormat.

     Namun siapa pun yang cukup lama mengamati kehidupan sosial manusia biasanya akan menemukan sesuatu yang sedikit janggal.

     Manusia memang menyukai gagasan tentang rasionalitas. Tetapi mereka tidak terlalu menyukai orang yang benar-benar menggunakannya.

     Ada perbedaan halus antara keduanya. Perbedaan ini jarang dibicarakan secara terang-terangan, karena jika diucapkan dengan jujur ia akan terdengar agak memalukan.

     Rasionalitas adalah slogan yang sangat indah. Ia memberi kesan bahwa masyarakat dibangun di atas pertimbangan yang matang, diskusi yang terbuka, dan keberanian menghadapi kebenaran. Tetapi orang yang benar-benar berpikir sering memiliki kebiasaan yang sangat tidak praktis: mereka bertanya pada saat yang tidak tepat.

     Misalnya dalam sebuah rapat yang hampir selesai.

     Semua orang sudah sepakat. Wajah-wajah tampak lega. Kata-kata besar seperti “kemajuan”, “kebaikan bersama”, atau “kesepahaman” sudah beredar dengan nyaman di udara. Segala sesuatu berjalan menuju akhir yang tenang.

     Lalu seseorang mengangkat tangan dan berkata: “Maaf, saya belum yakin ini masuk akal.”

     Kalimat seperti itu memiliki efek yang sangat aneh. Ia tidak menghancurkan meja, tidak mengganggu listrik, tidak membuat keributan. Tetapi tiba-tiba ruangan menjadi dingin.

     Orang yang mengucapkannya biasanya tidak langsung dimusuhi. Ia hanya diberi beberapa pandangan yang halus, semacam tatapan yang berkata: mengapa kamu harus mempersulit keadaan.

     Dalam masyarakat yang sehat, kata “berpikir” selalu dipuji. Dalam masyarakat yang nyata, kata “terlalu banyak berpikir” sering digunakan sebagai teguran.

     Fenomena ini sebenarnya bukan hal baru. Ia sudah menjadi kebiasaan lama manusia, bahkan sejak zaman yang sangat jauh.

     Di Athena kuno pernah hidup seorang lelaki yang memiliki hobi bertanya. Namanya Socrates. Ia tidak memiliki jabatan penting, tidak mendirikan lembaga besar, bahkan tidak menulis buku yang bisa dijual di toko.

     Ia hanya melakukan satu kegiatan yang ternyata sangat mengganggu: ia mengajak orang berpikir tentang apa yang mereka katakan.

     Ia bertanya kepada para politisi tentang keadilan. Ia bertanya kepada para penyair tentang kebenaran. Ia bertanya kepada para pemuda tentang kebajikan. Pertanyaan-pertanyaan itu terdengar sopan, tetapi memiliki sifat yang agak merusak. Ia membuka kemungkinan bahwa banyak orang sebenarnya tidak terlalu memahami hal-hal yang mereka ucapkan dengan penuh keyakinan.

     Athena, yang terkenal sebagai kota demokrasi dan kebijaksanaan, akhirnya menemukan cara yang sangat elegan untuk menyelesaikan masalah intelektual itu. Mereka menuduhnya merusak pemuda dan tidak menghormati dewa-dewa kota. Lalu, dengan prosedur hukum yang sangat rapi, mereka membungkam lelaki yang terlalu banyak bertanya itu dengan secangkir racun hemlock.

     Demokrasi Athena, yang begitu bangga pada rasionalitasnya, rupanya memiliki toleransi terbatas terhadap orang yang terlalu serius menggunakan akal.

     Beberapa abad kemudian, seorang astronom dari Polandia melakukan kesalahan yang hampir sama. Nicolaus Copernicus memeriksa langit dengan terlalu serius. Setelah menghitung dengan sabar, ia sampai pada kesimpulan yang agak tidak sopan: bumi bukan pusat alam semesta.

     Masalahnya bukan pada matematika. Masalahnya pada psikologi manusia.

     Selama ribuan tahun manusia hidup dengan gagasan yang sangat nyaman bahwa mereka berada di tengah panggung kosmik. Segala sesuatu berputar mengelilingi mereka dengan kesetiaan astronomis.

     Copernicus tiba-tiba berkata bahwa kita sebenarnya hanya salah satu benda kecil yang ikut berputar mengelilingi matahari.

     Sulit membayangkan cara yang lebih efektif untuk melukai harga diri spesies manusia.

     Nicolaus Copernicus sendiri cukup beruntung. Ia meninggal tepat ketika bukunya De revolutionibus orbium coelestium terbit, seolah-olah sejarah memberinya waktu yang sangat tepat untuk menghindari keributan besar yang akan datang.

     Namun gagasannya tidak seberuntung itu. Otoritas religius yang berkuasa kemudian memasukkan teori heliosentris ke dalam daftar ajaran berbahaya. Langit, ternyata, juga memiliki birokrasi yang tidak terlalu ramah terhadap orang yang berpikir terlalu jauh.

     Untungnya waktu memiliki sifat yang menenangkan. Beberapa abad kemudian manusia akhirnya menerima gagasan itu dengan tenang. Bahkan sekarang kita mengajarkannya kepada anak-anak sekolah sebagai bukti kemajuan sains.

     Ini adalah salah satu trik favorit sejarah: ia selalu memuliakan para pemikir setelah mereka mati. Sementara ketika mereka masih hidup, keadaannya sering sedikit berbeda.

     Beberapa abad setelah Copernicus, seorang filsuf Jerman bernama Friedrich Nietzsche mengamati masyarakat Eropa dengan rasa geli yang tipis. Ia melihat manusia modern berbicara dengan sangat percaya diri tentang moralitas, kebenaran, dan kebajikan.

     Nietzsche memiliki kebiasaan buruk: ia memeriksa asal-usul hal-hal yang dianggap suci. Dan hasilnya ternyata tidak terlalu menyenangkan.

     Ia menemukan bahwa banyak nilai moral ternyata tumbuh dari ketakutan, kebiasaan kawanan, dan kebutuhan manusia untuk merasa benar bersama-sama. Moralitas yang terlihat luhur sering kali hanyalah cara yang sopan untuk mengatakan: jangan berbeda dari yang lain.

     Gagasan seperti ini tidak selalu diterima dengan hangat. Manusia sangat menghargai kebebasan berpikir, selama kebebasan itu tidak menyentuh hal-hal yang mereka anggap terlalu penting.

      Cerita yang sama bahkan muncul dalam dunia spiritual, yang sering dianggap wilayah paling murni dari kehidupan manusia.

     Seorang perempuan sufi bernama Rabiah al-Adawiyya pernah mengatakan bahwa ia mencintai Tuhan bukan karena takut neraka atau berharap surga.

     Kalimat ini tampak sangat indah. Namun bagi banyak sistem religius, ia memiliki implikasi yang cukup merepotkan. Jika manusia benar-benar mencintai Tuhan tanpa imbalan, maka seluruh mekanisme pahala dan hukuman tiba-tiba kehilangan sebagian besar kekuatannya.

     Cinta yang bebas selalu sedikit berbahaya bagi sistem yang ingin mengatur manusia dengan rapi.

     Beberapa abad kemudian, Jalal ad-Din Rumi menulis puisi-puisi yang bahkan lebih sulit dijaga oleh penjaga ortodoksi. Ia berbicara tentang Tuhan yang terlalu luas untuk dipenjara oleh batas identitas manusia.

     Puisi-puisi itu sekarang dikutip dengan penuh kekaguman di seluruh dunia. Untunglah para penyair biasanya lebih aman setelah mereka menjadi legenda.

     Di dunia politik, keadaan sering sedikit lebih kasar.

     Tan Malaka menghabiskan hidupnya sebagai seseorang yang selalu terlalu sulit dipelihara oleh kekuasaan mana pun. Ia membaca terlalu banyak, berpikir terlalu jauh, dan memiliki kebiasaan buruk: ia tidak sepenuhnya percaya pada narasi resmi.

     Ia menulis dengan semangat yang terlalu sulit ditoleransi oleh berbagai rezim. Buku-bukunya—seperti gagasan-gagasannya—pernah lama dilarang beredar dan dibaca pada masa Orde Baru, seakan-akan sebuah bangsa bisa dilindungi dari pemikiran hanya dengan menutup halaman buku.

     Akibatnya hidupnya lebih sering diisi pengasingan daripada upacara penghormatan.

     Pramoedya Ananta Toer mengalami nasib yang bahkan lebih dramatis. Ia dipenjara tanpa pengadilan. Ia menulis cerita tentang manusia, sejarah, dan kekuasaan. Karya-karyanya juga dilarang beredar oleh rezim Orde Baru, seolah-olah cerita tentang manusia dan sejarah bisa menjadi ancaman bagi stabilitas negara.

     Buku memiliki sifat yang aneh. Ia tidak berteriak, tidak berbaris di jalanan, tidak membawa senjata. Tetapi kadang-kadang ia membuat orang berpikir.

     Dan berpikir selalu memiliki reputasi yang agak mencurigakan.

     Seorang mahasiswa bernama Soe Hok Gie menulis kegelisahannya dengan kejujuran yang hampir naif. Ia hidup di tengah zaman yang penuh slogan revolusi, tetapi terlalu cepat melihat bagaimana idealisme bisa berubah menjadi kemunafikan yang rapi.

     Ia akhirnya memeluk akhir hidupnya di lereng Mahameru—gunung yang sering ia kunjungi untuk mencari udara yang lebih jujur—dengan keyakinan yang pernah ia tulis sendiri: lebih baik diasingkan daripada menyerah pada kemunafikan.

     Generasi yang sama sering kali juga memiliki hubungan yang agak tegang dengan mahasiswa yang terlalu kritis.

     Sejarah memiliki selera humor yang sangat halus. Ia membangun patung bagi para pemikir masa lalu, lalu merasa sedikit tidak nyaman ketika pemikir baru muncul di depan mata.

     Dalam pidato-pidato resmi kita sering mendengar bahwa masyarakat membutuhkan pemikiran kritis. Kalimat ini terdengar sangat mulia. Ia memberi kesan bahwa peradaban berdiri di atas keberanian intelektual.

     Namun dalam praktik sehari-hari, pemikiran kritis sering kali diterjemahkan dengan cara yang lebih sederhana: berpikirlah dengan bebas, selama kesimpulanmu tidak terlalu berbeda dari yang sudah disepakati.

     Ini adalah bentuk kompromi yang sangat manusiawi.

Kita ingin kemajuan, tetapi tanpa gangguan.
Kita ingin kebenaran, tetapi tanpa kegelisahan.
Kita ingin pemikir, tetapi yang cukup sopan untuk tidak terlalu mengganggu ketenangan bersama.

     Masalahnya hanya satu. Pikiran yang benar-benar hidup jarang memiliki sopan santun semacam itu.

     Si bisu memberi kabar kepada si tuli, tentang si buta yang melihat si lumpuh berjalan. Kalimat itu seperti potongan teater absurd yang sangat jujur tentang manusia. Di panggung itu tidak ada yang benar-benar melihat, tidak ada yang benar-benar mendengar, namun cerita tetap beredar dengan percaya diri. Itulah manusia: makhluk yang hidup dari cerita, bahkan ketika cerita itu berputar-putar seperti kompas yang jarumnya patah.

     Perang di Timur Tengah selalu melahirkan badai cerita semacam ini. Peluru terbang di udara, tetapi narasi terbang lebih cepat. Kadang terasa seperti pasar malam metafisika: semua orang menjual kebenaran dengan pengeras suara yang rusak.

     Ada yang berkata dengan yakin bahwa Tuhan bersama pihak mereka. Lalu roket jatuh, seorang pemimpin gugur, dan seketika narasi bergeser dengan elegan: Tuhan memang bersama mereka, tetapi kemenangan tidak selalu berarti selamat dari kematian.

     Lima menit sebelumnya, hidup adalah bukti restu ilahi. Lima menit kemudian, mati juga bukti restu ilahi.

     Tuhan tampaknya sangat fleksibel dalam logika manusia.

     Ada pula narasi yang lebih kuno, hampir seperti peninggalan fosil teologi: siapa yang benar-benar Muslim, siapa yang bukan. Seolah perang itu kompetisi kartu identitas metafisik. Seolah bom dan drone berhenti sejenak untuk memeriksa mazhab korban.

     Di satu sisi ada yang berkata: Syiah bukan Islam. Di sisi lain ada yang berkata: Mereka mati sebagai syahid.

     Lucunya, kedua kalimat itu kadang diucapkan oleh orang yang sama—hanya berbeda hari, berbeda audiens, berbeda kebutuhan emosi.

     Politik menambah lapisan absurditas yang lain. Negara berbicara tentang keamanan, tetapi keamanan selalu berarti keamanan mereka sendiri. Rakyat berbicara tentang tanah leluhur, sementara garis peta terus berubah seperti pasir yang tertiup angin. Di ruang diplomasi, kata “perdamaian” sering terdengar seperti iklan sabun: wangi, tetapi licin.

     Sementara itu di internet, manusia menemukan panggung baru untuk homo narrans—manusia yang tidak tahan hidup tanpa cerita. Video sepuluh detik berubah menjadi bukti sejarah. Potongan foto menjadi dakwaan moral. Dan setiap orang tiba-tiba menjadi analis geopolitik, ahli tafsir kitab suci, sekaligus juru bicara Tuhan.

     Di sana muncul narasi-narasi yang hampir seperti lelucon kosmik:

     Ada yang berkata Tuhan melindungi kota suci mereka—lalu kota itu hancur oleh rudal. Maka dijelaskan bahwa kehancuran adalah ujian iman.

     Ada yang berkata musuh mereka pasti dihukum Tuhan—lalu musuh itu justru semakin kuat. Maka dijelaskan bahwa Tuhan memberi waktu sebelum hukuman.

     Jika suatu hari mereka menang, itu mukjizat. Jika kalah, itu rencana misterius.

     Dalam logika seperti itu, realitas menjadi seperti tanah liat: selalu bisa dibentuk ulang agar cocok dengan keyakinan awal.

     Ada juga narasi yang lebih duniawi, tetapi tidak kalah dramatis. Perang disebut sebagai perjuangan suci, padahal di baliknya ada pipa gas, jalur perdagangan, dan keseimbangan kekuatan regional. Kadang terdengar seperti duel para nabi, padahal sebenarnya lebih mirip permainan catur para jenderal.

     Agama memberi bahasa yang agung.
     Politik memberi motif yang sangat manusiawi.

     Keduanya sering bercampur seperti kopi pahit dengan gula yang terlalu banyak.

     Yang paling ganjil justru terjadi jauh dari medan perang. Orang-orang yang tidak pernah mendengar sirene bom berbicara paling keras tentang keberanian dan pengorbanan. Mereka menulis kalimat heroik dari sofa empuk, sambil menyeru orang lain untuk mati demi kehormatan.

     Sejarah manusia penuh adegan seperti ini: para pahlawan dilahirkan oleh pidato orang lain.

     Di tengah semua itu, kadang satu ironi kecil muncul seperti cahaya tipis. Semua pihak yakin Tuhan ada di pihak mereka. Tuhan, jika kita bayangkan sebagai penonton, mungkin sedang menyaksikan manusia bertengkar sambil memegang kitab yang sama-sama mereka klaim sebagai pesan-Nya.

     Dan manusia terus bercerita.

     Mungkin karena tanpa cerita kita akan terlalu cepat melihat kenyataan yang lebih sunyi: bahwa perang sering kali bukan pertarungan kebenaran melawan kesalahan, melainkan pertarungan cerita melawan cerita. Cerita tentang identitas, cerita tentang tanah, cerita tentang sejarah yang disunting ulang berkali-kali.

     Cerita memberi makna pada kematian. Tanpa itu, kematian di medan perang hanya menjadi statistik yang dingin.

     Di titik itulah manusia memilih tetap menjadi homo narrans. Kita menenun kisah bahkan dari serpihan tragedi. Kadang kisah itu membuat kita tertawa pahit. Kadang membuat kita marah. Kadang membuat kita merasa lebih benar daripada orang lain.

     Namun sesekali, jika kita diam cukup lama, kita melihat sesuatu yang lebih sederhana: di bawah semua narasi besar itu, yang mati tetap manusia. Yang kehilangan anak tetap manusia. Yang pulang dengan tubuh hancur tetap manusia.

     Dan cerita—betapapun megahnya—tidak pernah benar-benar bisa menambal lubang yang ditinggalkan peluru.

     Mungkin itu sebabnya kalimat di awal terasa begitu pas. Dunia kadang benar-benar seperti percakapan antara si bisu, si tuli, si buta, dan si lumpuh. Semua berusaha menjelaskan realitas yang tidak sepenuhnya mereka lihat.

     Namun cerita tetap berjalan.

     Karena bagi manusia, berhenti bercerita kadang lebih menakutkan daripada perang itu sendiri.

     Ramadhan selalu datang membawa janji yang sama: menipiskan jarak antara manusia dengan nuraninya. Puasa dimaksudkan sebagai semacam bengkel batin—tempat manusia dibongkar, diperiksa, lalu dirakit kembali dengan komponen yang lebih jujur. Rasa lapar bukan sekadar jeda dari makan, tetapi latihan untuk mengingat bahwa dunia tidak dibangun oleh kenyang. Di dalam tradisi Islam, lapar adalah guru yang sunyi. Ia mengajarkan empati tanpa ceramah panjang. Ia memperlihatkan betapa rapuhnya tubuh manusia, betapa bergantungnya kita pada sepotong roti, seteguk air, dan kemurahan orang lain.

     Dalam teks-teks luhur, puasa selalu dikaitkan dengan kejujuran batin. Tidak ada kamera yang mengawasi apakah seseorang benar-benar menahan diri ketika sendirian. Tidak ada polisi spiritual yang memeriksa apakah ia diam-diam minum di dapur ketika siang hari. Puasa adalah ibadah yang berdiri di atas kepercayaan—antara manusia dan Tuhannya. Itulah sebabnya ia sering disebut sebagai latihan keikhlasan paling radikal. Orang bisa pura-pura salat di depan publik, bisa bersedekah sambil memastikan ada yang memotret, tetapi menahan diri dari segelas air saat tak ada yang melihat memerlukan sesuatu yang lebih sunyi: integritas.

     Namun seperti banyak hal lain dalam sejarah manusia, ideal sering berbelok ketika bertemu kebiasaan sosial. Di banyak kota, terutama di negeri yang mayoritas penduduknya Muslim, bulan yang dimaksudkan sebagai sekolah kesederhanaan justru berubah menjadi festival konsumsi. Menjelang magrib, jalan-jalan macet bukan oleh orang yang mencari ketenangan untuk berbuka dengan sederhana, melainkan oleh arus kendaraan menuju pusat-pusat kuliner. Restoran penuh. Kafe dipadati reservasi. Grup percakapan dipenuhi perdebatan ringan namun serius: buka di mana malam ini? Menu apa yang lebih layak dicicipi? Tempat mana yang lebih “menarik” untuk didokumentasikan?

     Pemandangan itu memiliki ironi yang hampir puitis—meski bukan jenis puisi yang membuat orang tersenyum. Puasa dimaksudkan untuk merasakan kehidupan orang miskin, tetapi orang miskin tidak pernah memiliki kemewahan untuk berdiskusi tentang restoran mana yang lebih baik untuk berbuka. Mereka tidak memiliki katalog pilihan menu. Bahkan waktu makan pun sering tidak memiliki kepastian yang romantis seperti adzan magrib. Ada hari-hari ketika mereka makan siang terlambat, lalu malam datang tanpa makan lagi. Ada hari ketika sahur bukan keputusan religius, melainkan sekadar sisa nasi dingin yang kebetulan masih ada.

     Dalam kenyataan semacam itu, lapar bukan ritual spiritual. Ia adalah kondisi hidup.

     Nabi Muhammad, dalam banyak riwayat, sering menggambarkan kedekatannya dengan kaum miskin dengan bahasa yang sederhana. Dua jarinya diangkat berdampingan, seolah berkata bahwa jarak antara dirinya dan mereka di akhirat kelak setipis itu. Bagi beliau, kemiskinan bukan statistik sosial yang dibahas dalam seminar, tetapi realitas manusia yang harus didekati dengan kasih. Rumahnya sendiri sering kosong dari makanan. Kadang-kadang api tidak menyala di dapur selama berhari-hari. Kisah-kisah itu tidak dimaksudkan sebagai romantisasi penderitaan, melainkan sebagai penanda: bahwa spiritualitas tidak lahir dari kemewahan yang berlimpah, melainkan dari kesadaran akan keterbatasan.

     Tetapi manusia modern memiliki bakat luar biasa untuk mengubah pesan sederhana menjadi festival simbolik. Puasa tetap dijalankan, tentu saja. Jadwal sahur dan berbuka tetap diikuti dengan disiplin. Namun di sela-sela itu muncul kebiasaan lain yang perlahan mengambil panggung utama: dokumentasi sosial.

     Meja makan sebelum disentuh menjadi objek fotografi. Gelas minuman dengan warna cerah disusun dengan estetika tertentu. Ketika adzan magrib berkumandang, beberapa tangan bergerak bukan menuju kurma, tetapi menuju ponsel. Dunia digital harus diberi tahu terlebih dahulu bahwa momen berbuka sedang berlangsung. Seolah-olah keberkahan makanan menunggu validasi dari jaringan internet.

     Pada titik ini, puasa tidak hanya menjadi ritual religius, tetapi juga panggung identitas sosial. Buka puasa bersama berubah menjadi safari komunitas: dari satu kelompok alumni ke kelompok lainnya, dari satu organisasi ke organisasi lain. Acara semakin megah, dekorasi semakin rapi, menu semakin panjang. Foto-foto kemudian beredar di linimasa, membangun semacam album kolektif tentang betapa aktif dan bahagianya komunitas-komunitas itu selama Ramadhan.

     Sementara itu, statistik tentang makanan terbuang sering terdengar seperti catatan kaki yang jarang dibaca. Di beberapa kota, jumlahnya mencapai puluhan ton selama bulan puasa. Bandung pernah mencatat sekitar 242 ribu ton sampah makanan selama setahun 2024—angka yang sulit dibayangkan jika dibentangkan dalam piring-piring yang tak tersentuh. Ironinya semakin tajam jika diingat bahwa ajaran Nabi justru mendorong kesederhanaan bahkan dalam memasak. Ada hadis yang sering dikutip: jika memasak sup, perbanyaklah kuahnya agar bisa dibagikan kepada tetangga.

     Nasihat itu sederhana. Hampir terlalu sederhana untuk dunia yang terbiasa dengan kemewahan simbolik.

     Di tengah semua itu, pertanyaan yang agak tidak nyaman mulai muncul. Apakah puasa benar-benar sedang menempa manusia menjadi lebih peka, atau justru hanya menambahkan lapisan ritual pada gaya hidup lama yang tidak berubah? Apakah lapar selama beberapa jam cukup untuk membangun empati terhadap orang yang hidup dalam kelaparan struktural? Ataukah ia sekadar jeda biologis yang segera dilunasi dengan pesta makan ketika matahari tenggelam?

     Pertanyaan semacam ini bukanlah tuduhan terhadap iman siapa pun. Manusia selalu hidup dalam kontradiksi. Bahkan tradisi religius yang paling luhur pun tidak pernah kebal dari kebiasaan sosial yang kadang melenceng. Tetapi kontradiksi menjadi berbahaya ketika ia tidak lagi disadari. Ketika manusia mulai percaya bahwa semua baik-baik saja hanya karena ritual tetap berjalan.

     Barangkali di situlah makna puasa yang paling jujur sebenarnya tersembunyi. Ia bukan sekadar menahan lapar, melainkan keberanian untuk bercermin. Lapar seharusnya membuka ruang sunyi di dalam diri, ruang di mana seseorang bisa bertanya dengan jujur: apakah aku benar-benar berubah, atau hanya menukar jadwal makan?

     Pertanyaan itu tidak membutuhkan kamera. Tidak membutuhkan unggahan media sosial. Ia hanya membutuhkan satu hal yang paling langka di zaman penuh sorotan ini: keheningan.

     Dan mungkin di dalam keheningan itu, seseorang akan menyadari sesuatu yang sederhana namun agak menyakitkan. Bahwa Nabi yang ia cintai ternyata jauh lebih dekat dengan orang-orang yang lapar di pinggir jalan, daripada dengan meja-meja penuh makanan yang difoto dari berbagai sudut agar tampak lebih indah di layar.

      Ada masa ketika kemarahan terasa jernih. Ketika seorang mahasiswa berdiri di tengah kabut politik dan berkata ingin merdeka, ia tahu betul siapa yang sedang ia lawan. Negara yang menua dalam otoritarianisme. Kekuasaan yang membatu. Aparat yang berseragam, jelas bentuknya. Musuh bisa ditunjuk.

     Soe Hok Gie berdiri di zaman itu. Ia menolak menjadi bagian dari massa yang mabuk slogan. Ia menolak diam ketika banyak orang memilih aman. Baginya, merdeka bukan sekadar lepas dari kolonialisme, bukan pula sekadar mengganti rezim. Merdeka adalah keberanian untuk tetap berpikir ketika arus ingin menyeret kita menjadi gema.

     Pertanyaannya sekarang memang terasa getir: apakah teriakan itu masih punya gema di zaman ketika orang tak lagi sibuk membela benar atau salah, melainkan sibuk membela atensi?

     Dulu, ketidakadilan berwajah keras. Hari ini, ia sering berwajah algoritma. Dulu orang takut pada tentara. Sekarang orang takut pada sepi. Pada tidak dilihat. Pada tidak viral. Pada tenggelam di lautan konten yang terus menggulung. Kita hidup di ekosistem di mana perhatian adalah mata uang, dan martabat sering ditukar dengan klik.

     Platform seperti Meta Platforms (induk dari Facebook dan Instagram) tidak pernah secara eksplisit meminta siapa pun menjadi badut digital. Tetapi sistem insentifnya begitu halus dan efektif. Ia memberi gula pada yang paling cepat menarik perhatian, bukan pada yang paling dalam berpikir. Akhirnya lahirlah generasi yang tidak lagi bertanya “apa yang benar?”, melainkan “apa yang laku?”

     Di sini letak pergeseran psikologisnya.

     Psikologi lama—yang melahirkan eksistensialisme—berangkat dari kesadaran akan absurditas, keterasingan, dan tanggung jawab personal. Jean-Paul Sartre berbicara tentang kebebasan sebagai beban. Albert Camus menulis tentang pemberontakan sebagai cara menjaga martabat di dunia yang tak masuk akal. Mereka hidup di tengah perang, ideologi besar, totalitarianisme. Ancaman mereka konkret. Maka eksistensialisme mereka keras, maskulin, kadang getir.

     Tetapi apakah dunia kita hari ini kurang absurd?

     Kita tidak lagi hidup dalam rezim tunggal yang membungkam. Kita hidup dalam kebisingan kolektif yang membuat suara jernih sulit terdengar. Dulu orang bisa dipenjara karena berbicara. Sekarang orang berbicara terus-menerus sampai makna itu sendiri dipenjara oleh kebisingan.

     Post-truth bukan sekadar kebohongan. Ia adalah keadaan di mana kebenaran kehilangan daya tarik emosional dibanding narasi yang lebih memancing amarah atau simpati instan. Dalam kondisi seperti ini, merdeka secara ontologis—merdeka sebagai kesadaran akan diri dan tanggung jawab—menjadi lebih sulit, bukan lebih mudah.

     Karena kini yang menjajah bukan hanya negara, tetapi sistem simbolik. Bukan hanya kekuasaan formal, tetapi logika viralitas.

     Apakah psikologi lama masih relevan?

     Saya kira justru semakin relevan, tetapi harus dibaca ulang. Eksistensialisme tidak lagi cukup berhenti pada “aku memilih”. Hari ini pertanyaannya lebih rumit: apakah aku sungguh memilih, atau aku dipilih oleh algoritma? Apakah kemarahanku murni refleksi etis, atau sekadar hasil kurasi timeline? Apakah apatisme itu sikap filosofis, atau kelelahan dopamin?

     Mengikuti arus hari ini sering tidak terasa seperti menyerah. Ia terasa seperti bertahan hidup. Menjadi konten kreator murahan bukan selalu karena orang tidak punya martabat; sering kali karena ekonomi menekan dan sistem memberi insentif yang sempit. Di sini kita perlu jujur: tidak semua yang hanyut adalah pengkhianat nilai. Banyak yang sekadar lelah.

     Namun tetap saja ada perbedaan antara bertahan hidup dan menjual kesadaran.

     Soe Hok Gie mungkin akan bingung melihat zaman ini. Ia mungkin tidak akan menulis pamflet tentang algoritma. Tetapi saya kira satu hal akan tetap ia pertahankan: kebencian pada kemunafikan kolektif. Ia tidak tahan pada masyarakat yang tahu ada yang salah tetapi memilih diam karena nyaman. Dan di situ, ia masih sangat relevan.

     Karena hari ini, korupsi bukan hanya soal uang negara yang bocor. Ia juga soal kesadaran yang bocor. Politik yang dangkal. Kebijakan yang dipoles citra. Rakyat yang marah seminggu lalu, lalu lupa karena ada tren baru. Atensi bergerak lebih cepat dari akal sehat.

     Merdeka dalam arti ontologis berarti mampu berdiri di tengah arus tanpa otomatis ikut hanyut. Bukan berarti selalu melawan dengan spanduk, tetapi mampu menjaga jarak dari histeria kolektif. Mampu mengatakan, “aku tidak akan menjadikan kebodohan sebagai komoditas.” Itu bentuk pemberontakan yang sunyi, tetapi mungkin lebih radikal dari demo viral.

     Kita memang hidup di zaman cair. Identitas cair. Kebenaran cair. Opini berubah secepat scroll jempol. Tetapi justru dalam dunia cair, orang yang memiliki kedalaman menjadi jangkar. Tidak banyak, mungkin. Tidak populer, sering kali. Tetapi peradaban selalu diselamatkan oleh minoritas yang tidak menyerahkan pikirannya.

     Apatisme dan mengikuti arus bukan fenomena baru. Ia hanya berganti medium. Dahulu orang mengikuti arus ideologi. Hari ini orang mengikuti arus algoritma. Struktur batinnya sama: takut sendirian, takut berbeda, takut kehilangan tempat.

     Maka pertanyaan bukan lagi apakah psikologi lama relevan. Pertanyaannya: apakah kita berani memperbaruinya? Apakah kita berani mendidik kesadaran digital sebagai bagian dari etika? Apakah kita berani mengajarkan anak-anak bahwa merdeka bukan berarti bebas mengunggah apa saja, tetapi bebas dari kebutuhan untuk selalu dilihat?

     Merdeka bukan status politik. Ia adalah kondisi batin yang langka.

     Di zaman ketika atensi lebih mahal dari integritas, orang yang memilih jujur akan terlihat aneh. Di zaman ketika kebisingan lebih menguntungkan dari kedalaman, orang yang berpikir akan terlihat lambat. Tetapi mungkin justru di situlah bentuk kemerdekaan baru: keberanian untuk tidak tergesa-gesa menjadi konten.

     Soe Hok Gie pernah berdiri di tengah zamannya dan menolak larut. Zaman kita berbeda, tetapi tantangannya serupa: apakah kita akan menjadi arus, atau menjadi manusia yang sadar sedang berdiri di dalam arus?

     Itu bukan soal romantisme masa lalu. Itu soal keberanian hari ini.

Author Name

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.