Ada satu kalimat yang sering beredar ketika orang membicarakan karst Maros-Pangkep: "Dulu Maros pernah tenggelam di bawah laut." Kalimat ini terdengar dramatis. Ia mudah memancing rasa takjub. Sayangnya, ia juga menyederhanakan proses geologi yang jauh lebih menarik daripada sekadar kisah tentang daratan yang "tenggelam".

     Maros tidak pernah tenggelam, karena sejak awal batu gamping yang menyusun sebagian besar bentang alamnya memang lahir di laut.

     Perbedaannya mungkin terdengar sepele, tetapi secara geologi sangat mendasar.

     Batu gamping bukanlah batuan yang berasal dari gunung berapi atau dari tanah yang kemudian terendam. Sebagian besar batu gamping terbentuk dari akumulasi cangkang, kerangka, dan sisa organisme laut seperti karang, alga berkapur, foraminifera, moluska, serta berbagai mikroorganisme yang hidup di laut dangkal. Setelah organisme-organisme itu mati, cangkangnya mengendap sedikit demi sedikit di dasar laut. Selama jutaan tahun, endapan tersebut mengalami pemadatan dan sementasi hingga berubah menjadi batu gamping.

     Lingkungan tempat proses itu berlangsung pun bukan sembarang laut. Batu gamping umumnya terbentuk di laut yang hangat, jernih, relatif dangkal, kaya cahaya matahari, dan memiliki pH sedikit basa, sekitar 8 hingga 8,3. Kondisi seperti inilah yang memungkinkan organisme pembentuk kalsium karbonat berkembang dengan baik. Laut tropis masa kini di sekitar Kepulauan Bahama, Maladewa, atau sebagian Great Barrier Reef memberikan gambaran yang cukup baik tentang lingkungan tempat batu gamping purba terbentuk.

     Lalu muncul pertanyaan yang sering membingungkan: jika batu gamping terbentuk di laut dangkal, mengapa ketebalannya bisa mencapai ribuan meter? Bukankah laut dangkal hanya memiliki kedalaman puluhan meter?

     Jawabannya terletak pada satu proses yang jarang diceritakan dalam narasi populer: penurunan dasar cekungan atau subsidence.

     Selama jutaan tahun pengendapan berlangsung, dasar laut tempat endapan batu gamping terbentuk perlahan-lahan ikut turun akibat proses tektonik dan penyesuaian kerak bumi terhadap beban sedimen. Ketika dasar laut turun beberapa meter, pertumbuhan organisme karbonat terus "mengejar" permukaan laut. Akibatnya, lingkungan tetap dangkal meskipun dasar cekungannya terus bergerak turun. Proses ini berlangsung berulang kali selama jutaan tahun sehingga menghasilkan tumpukan batu gamping yang sangat tebal.

     Formasi Tonasa di Sulawesi Selatan merupakan contoh yang sangat baik. Batuan ini mulai diendapkan sekitar 50 juta tahun yang lalu, ketika Sulawesi bagian barat masih berupa laut tropis yang hangat dan dangkal. Selama kira-kira 35 juta tahun, hingga pengendapannya berakhir sekitar 15 juta tahun yang lalu, generasi demi generasi organisme laut lahir, hidup, mati, lalu meninggalkan kerangka kapurnya di dasar laut. Dari siklus kehidupan yang nyaris tak terhitung jumlahnya itu, butiran demi butiran karbonat terus bertumpuk, perlahan membangun endapan yang akhirnya mencapai ketebalan sekitar dua kilometer.

     Angka ini bukan berarti laut tempat pembentukannya sedalam dua kilometer. Sebaliknya, lingkungan pengendapannya tetap berupa laut dangkal yang kaya kehidupan, sementara dasar cekungannya perlahan mengalami penurunan sehingga selalu tersedia ruang bagi endapan baru. Selama 35 juta tahun, laut tropis itu bekerja tanpa suara. Tidak ada ledakan, tidak ada peristiwa dramatis yang bisa disaksikan dalam satu generasi. Hanya jutaan organisme kecil yang menjalani hidupnya, mati, lalu menjadi bagian dari lapisan berikutnya. Apa yang kini tampak sebagai tebing-tebing karst Maros sesungguhnya adalah hasil akumulasi kesabaran bumi dalam rentang waktu yang hampir mustahil dibayangkan oleh umur manusia.

     Bayangkan sebuah eskalator yang bergerak turun sangat perlahan. Di atasnya, para pekerja terus menyusun batu bata sehingga permukaannya tetap berada pada ketinggian yang sama. Setelah waktu yang sangat lama, tumpukan batu bata menjadi sangat tinggi, bukan karena pekerjanya berpindah ke tempat yang lebih dalam, melainkan karena lantai tempat mereka bekerja terus bergerak turun. Demikianlah kira-kira cara alam membangun Formasi Tonasa. Lautnya tetap dangkal, kehidupan terus berlangsung, sementara dasar cekungannya perlahan-lahan turun selama puluhan juta tahun.

     Karena itu, mengatakan bahwa "Maros pernah tenggelam" sebenarnya kurang tepat. Kalimat tersebut seolah menggambarkan bahwa dahulu ada daratan yang kemudian ditelan laut. Padahal, yang terjadi adalah kawasan itu memang merupakan bagian dari lingkungan laut ketika batu gampingnya sedang terbentuk.

     Analogi sederhana mungkin bisa membantu. Mengatakan Maros pernah tenggelam karena batu gampingnya terbentuk di laut sama ganjilnya dengan mengatakan seekor ikan pernah tenggelam. Ikan tidak tenggelam; air memang habitatnya. Demikian pula batu gamping. Ia lahir, tumbuh, dan berkembang di lingkungan laut. Baru jauh kemudian, akibat tumbukan lempeng tektonik dan proses pengangkatan kerak bumi, endapan batu gamping itu terangkat ke daratan. Hujan tropis selama jutaan tahun kemudian mengukirnya menjadi bentang karst yang kita lihat hari ini: bukit-bukit kapur, gua, sungai bawah tanah, dolina, dan menara-menara batu yang menjadi ciri khas Maros-Pangkep.

     Ironisnya, penjelasan yang lebih akurat justru jauh lebih menakjubkan daripada narasi "pernah tenggelam". Yang sedang kita lihat hari ini bukanlah daratan yang kebetulan pernah berada di bawah laut. Kita sedang berdiri di atas sebuah laut purba yang membatu, kemudian diangkat ke permukaan bumi oleh tenaga tektonik, sebelum akhirnya dipahat perlahan oleh air hujan tropis selama puluhan juta tahun.

     Bumi tidak membutuhkan dramatisasi agar tampak menakjubkan. Tiga puluh lima juta tahun diperlukan untuk membangun Formasi Tonasa, lapis demi lapis, cangkang demi cangkang, generasi demi generasi. Dibandingkan kisah itu, narasi bahwa "Maros pernah tenggelam" terasa terlalu kecil untuk menjelaskan keajaiban yang sebenarnya terjadi.

     Dalam acara penutupan munas alim ulama di Bangkalan, Presiden Prabowo mengorasikan keheranannya:

     Ekonomi tumbuh, katanya. Angka-angka bergerak naik. Grafik menanjak dengan penuh optimisme. Tetapi mengapa orang miskin justru bertambah?

     Sungguh sebuah misteri besar. Sedemikian besar sehingga rakyat yang setiap hari membeli beras dengan harga baru, membayar listrik dengan tarif baru, dan menghitung ulang isi dompetnya, tiba-tiba merasa menjadi saksi atas sebuah keajaiban: orang yang paling memiliki akses pada data ternyata ikut bingung.

     Padahal, rakyat yang tidak pernah membaca laporan ekonomi tahunan pun tahu bahwa pertumbuhan dan kesejahteraan bukanlah saudara kembar. Yang tumbuh bisa saja laba perusahaan, nilai investasi, atau gedung-gedung yang semakin tinggi menusuk langit. Tetapi tinggi gedung tidak pernah menjamin isi panci.

     Sebuah negara dapat memiliki jalan tol yang panjang, pelabuhan yang megah, dan angka pertumbuhan yang mengilap. Namun di dapur-dapur kecil, orang tetap berdiskusi tentang berapa butir telur yang bisa dibeli hari ini.

     Itu bukan rahasia negara. Itu juga bukan teori ekonomi yang hanya dipahami profesor.

     Bahkan tukang kopi di pinggir jalan pun tahu: bila kue ekonomi membesar tetapi potongannya tetap berada di meja yang sama, maka orang yang berdiri jauh dari meja hanya akan melihat kue itu dari kejauhan sambil menelan ludah.

     Karena itu, ketika presiden mengatakan dirinya heran, rakyat mungkin ikut terdiam sejenak.

     Heran?

     Bukankah seorang presiden hidup di tengah lautan data? Bukankah setiap hari ada laporan statistik, analisis ekonomi, simulasi, rapat kabinet, dan nasihat para ahli? Bukankah seluruh mesin negara bekerja untuk memetakan persoalan seperti ini?

     Sulit membayangkan bahwa seseorang yang melihat seluruh peta justru tidak memahami jalan yang sedang dilalui.

     Mungkin kata "heran" memang bukan tentang ketidaktahuan.

     Mungkin itu adalah bahasa yang lebih halus. Sebuah cara untuk berdiri di sisi rakyat dan berkata, "Saya juga terkejut."

     Atau mungkin lebih halus lagi: ketika persoalan dibingkai sebagai sesuatu yang mengherankan, maka penyebabnya tampak seperti kabut. Tidak jelas dari mana datangnya, tidak jelas siapa yang harus menjawabnya.

     Seolah kemiskinan adalah hujan yang turun dari langit tanpa sebab. Seolah daya beli melemah dengan sendirinya. Seolah ketimpangan tumbuh seperti rumput liar yang tidak pernah disentuh oleh kebijakan.

     Dan rakyat, yang sejak lama menjadi penonton paling setia, kembali menyaksikan sebuah pertunjukan lama: semua orang tampak prihatin, semua orang tampak terkejut, tetapi tak seorang pun tampak menjadi penulis naskahnya.

     Lucunya, rakyat tidak pernah punya kemewahan untuk heran terlalu lama.

     Mereka harus tetap bekerja. Tetap membayar cicilan. Tetap mengurangi lauk. Tetap menunda berobat. Tetap mengubur pelan-pelan cita-cita yang dahulu mereka tanam dengan harapan.

     Sementara itu, angka-angka terus diumumkan dengan wajah optimistis, seperti foto udara sebuah kota yang tampak indah dari ketinggian. Dari sana, rumah-rumah reyot tidak terlalu terlihat. Dapur yang sepi tidak masuk bingkai. Anak yang membatalkan kuliah karena biaya pun hanya menjadi titik kecil yang hilang di antara statistik.

     Mungkin memang ada sesuatu yang salah dengan cara kita melihat.

     Atau mungkin tidak.

     Mungkin semua orang sebenarnya sudah tahu apa yang terjadi. Hanya saja, ada yang menanggung akibatnya, dan ada yang cukup nyaman untuk mengaku heran.

     Dan di situlah pertanyaan yang sesungguhnya berdiri, sederhana tetapi sukar dihindari:

     "Kalau Anda saja heran, lalu siapa yang memegang kemudi?"

     Ada sesuatu yang menggelitik sekaligus menyedihkan dari kegiatan sensus ekonomi yang telah berlangsung sejak lama di negeri ini. Setiap beberapa tahun, negara datang mengetuk pintu rumah rakyat dengan kesungguhan yang hampir menyerupai kasih sayang. Mereka ingin tahu siapa kita, berapa penghasilan kita, berapa meter luas rumah kita, apakah dindingnya permanen atau papan, apakah lantainya keramik atau semen, berapa jumlah motor yang terparkir, bahkan kadang lebih mengetahui kondisi ekonomi kita daripada kita sendiri yang setiap malam masih sibuk menghitung sisa uang di dompet.

     Namun suatu hari, seorang warga memutuskan untuk membalik arah pertanyaan itu. Setelah menjawab dengan sabar semua yang ditanyakan petugas, ia menatap wajah muda di hadapannya dan bertanya dengan nada datar, "Apa untungnya untuk saya?"

     Petugas itu tentu sudah dibekali jawaban. Data ini untuk pembangunan, untuk pemerataan ekonomi, untuk kesejahteraan, untuk program yang lebih tepat sasaran. Kalimat-kalimat yang terdengar baik dan mulia, seolah diambil dari sebuah negeri yang sangat teratur dan hampir sempurna. Namun warga itu kembali bertanya, "Apa untungnya untuk saya?" Lagi dan lagi. Sampai tujuh kali. Sampai sembilan belas kali. Bukan karena ia tidak mengerti, tetapi justru karena ia terlalu mengerti.

     Ia mengerti bahwa selama puluhan tahun negara begitu rajin menghitung rakyatnya, tetapi hasil perhitungannya sering kali terasa seperti ramalan cuaca: terdengar meyakinkan, tetapi tidak selalu cocok dengan kenyataan di lapangan. Ia melihat orang yang rumahnya besar, kendaraannya lebih dari satu, usahanya berkembang, tetapi tetap menjadi penerima bantuan sosial. Sebaliknya, ia mengenal seorang janda tua yang hidup dari menjual gorengan, yang atap rumahnya bocor di tiga tempat dan harus menaruh ember saat hujan, tetapi namanya tak pernah ditemukan dalam daftar penerima bantuan. Negeri ini rupanya memiliki definisi kemiskinan yang unik. Anda boleh miskin dalam kehidupan nyata, tetapi bila tidak miskin dalam database, maka kemiskinan Anda hanyalah perasaan pribadi yang sayangnya tidak memiliki kekuatan administratif.

     Maka setiap kali ada kekeliruan, jawaban yang selalu muncul adalah: datanya akan diperbaiki. Betapa menenteramkan kalimat itu. Seolah-olah nasib rakyat hanyalah file excel yang suatu saat akan diperbarui versinya. Anehnya, data terus diperbaiki, tetapi orang yang sama tetap miskin, tetap kesulitan berobat, tetap menunggu bantuan yang kadang salah alamat. Barangkali yang diperbaiki memang data, bukan kenyataan.

     Warga itu lalu teringat rumah sakit. Ia membayar iuran BPJS dengan disiplin, bahkan ketika penghasilannya sedang tidak baik. Namun ketika sakit, ia harus berhadapan dengan antrean, rujukan yang berbelit, ruang tunggu yang penuh, dan biaya-biaya kecil yang jika dikumpulkan tidak lagi kecil. Ia pernah bercanda kepada tetangganya bahwa penyakit yang paling cepat berkembang di rumah sakit mungkin bukan diabetes atau hipertensi, melainkan bisnis parkir. Sebab orang boleh menunggu dokter berjam-jam, tetapi tarif parkir tumbuh dengan penuh semangat, seolah sedang mengejar cita-cita menjadi sektor ekonomi unggulan.

     Rumah sakit kini berdiri megah dengan lobi yang lebih menyerupai hotel. Ada kafe, toko, mesin ATM, bahkan sudut swafoto yang nyaman. Orang miskin yang datang ke sana kadang bingung apakah ia sedang mencari kesembuhan atau sedang mengunjungi pusat perbelanjaan yang menyediakan layanan kesehatan sebagai usaha sampingan. Tetapi keheranan seperti ini tentu tidak pernah masuk ke dalam formulir sensus. Yang dicatat hanyalah angka. Manusia terlalu rumit untuk ditanyakan.

     Begitu pula dengan beras bantuan yang semestinya sampai kepada warga miskin, tetapi kadang lebih mudah ditemukan di kios pasar. Beras itu tampaknya memiliki naluri dagang yang lebih baik daripada naluri sosial. Ia berangkat sebagai bantuan, lalu berubah menjadi komoditas. Mungkin ia tersesat. Atau mungkin ia sedang mengikuti peta yang tidak pernah dicetak secara resmi.

     Namun semua itu belum cukup menjelaskan mengapa warga tadi terus mengulang pertanyaannya. Jawabannya mungkin terletak pada sesuatu yang lebih besar: ia sudah terlalu lama menyaksikan bagaimana uang negara bergerak dengan cara yang misterius. Ada program yang lahir dengan anggaran fantastis dan slogan yang menyentuh hati, tetapi hasilnya sulit ditemukan di lapangan. Ada proyek yang diresmikan berkali-kali, diperbaiki berkali-kali, lalu rusak berkali-kali, seolah yang sedang dibangun bukan infrastruktur melainkan kesempatan untuk menganggarkan ulang.

     Ada pula perjalanan dinas ke luar negeri yang tampaknya sangat penting. Rombongan pejabat berangkat mempelajari tata kota, transportasi, pengelolaan sampah, hingga digitalisasi pelayanan. Mereka pulang dengan koper penuh pengalaman dan ribuan foto, sementara jalan di kampung warga itu tetap berlubang, drainase tetap mampet, dan pelayanan publik masih meminta kesabaran yang setara dengan seorang pertapa. Mungkin ilmu yang mereka pelajari memang sangat canggih sehingga membutuhkan puluhan tahun untuk diterapkan. Atau mungkin oleh-oleh terbaik dari perjalanan itu memang hanya foto bersama.

     Warga itu tidak tahu pasti. Tetapi ia mulai memiliki dugaan yang nakal. Jangan-jangan sensus ekonomi ini bukan hanya untuk membangun kesejahteraan. Jangan-jangan data yang begitu rinci ini juga membantu agar segala sesuatu berjalan lebih efisien, termasuk jika ada yang ingin mengelola anggaran secara kreatif. Dulu mungkin penyimpangan dilakukan secara kasar dan kira-kira. Sekarang semuanya bisa berbasis data, lebih terukur, lebih tepat sasaran, lebih modern. Bahkan korupsi pun tampaknya dipaksa mengikuti perkembangan zaman.

     Pikiran itu tentu terdengar sinis. Tetapi sinisme sering kali lahir bukan karena rakyat terlalu curiga, melainkan karena mereka terlalu sering kecewa. Mereka melihat negara sangat teliti menghitung jumlah ayam, kambing, motor, dan penghasilan warga, tetapi tampak lebih sulit menghitung berapa banyak uang yang hilang dalam perjalanan menuju kesejahteraan. Negara begitu rajin mendata kemiskinan, tetapi tampak kurang bersemangat mendata penyebab mengapa kemiskinan itu terus diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

     Mungkin sudah waktunya sensus tidak hanya mengumpulkan data ekonomi. Mungkin petugas juga perlu bertanya: berapa kali Anda merasa bantuan salah sasaran? Berapa kali Anda menunda berobat karena takut biaya tambahan? Berapa kali Anda merasa negara lebih rajin menghitung Anda daripada mendengarkan Anda? Sebab manusia tidak hanya hidup dari pendapatan per bulan. Ia juga hidup dari kepercayaan. Dan jika kepercayaan itu terus menyusut, maka suatu hari nanti angka-angka statistik akan tetap terlihat indah, sementara rakyat diam-diam kehilangan keyakinan bahwa semua perhitungan itu pernah benar-benar dibuat untuk mereka.

     Maka pertanyaan sederhana itu masih menggantung sampai sekarang: "Apa untungnya untuk saya?" Dan mungkin ironi terbesar negeri ini adalah bahwa setelah puluhan tahun melakukan sensus, kita masih belum memiliki jawaban yang mampu membuat rakyat berhenti bertanya.

     Entah buzzer siapa yang memulainya. Entah pembela pemerintah. Entah pembenci pemerintah. Entah mereka yang marah kepada mahasiswa. Entah mereka yang marah kepada program makan gratis. Entah siapa. Yang jelas, beberapa hari terakhir beredar sebuah logika yang begitu cepat menyebar hingga orang lupa memeriksa kakinya.

foto : cyrustimes.com

     Mahasiswa berdemonstrasi memprotes kenaikan harga Pertamaxmenuntut harganya diturunkan. Mahasiswa juga mengkritik program makan bergizi gratis yang dinilai kacau, bocor, dan digerogoti korupsimenuntut program itu dihentikan. Lalu dari berbagai sudut ruang publik lahirlah kesimpulan yang tampak gagah sekaligus ganjil: mahasiswa sedang membela orang kaya pemilik mobil dan berusaha merampas makanan orang miskin.

     Selesai.

     Tidak perlu berpikir lebih jauh. Tidak perlu bertanya lagi. Vonis dijatuhkan sebelum sidang dimulai.

     Cara berpikir seperti ini sebenarnya sangat efisien. Ia menghemat energi otak. Sama seperti seseorang yang melihat asap di kejauhan lalu langsung menyimpulkan gunung meletus, tanpa peduli apakah yang terbakar sebenarnya hanya tumpukan sampah di belakang rumah tetangga.

     Padahal kenyataan memiliki kebiasaan buruk: ia jarang sesederhana slogan.

     Harga Pertamax memang menyangkut BBM non-subsidi. Namun di negeri yang penyaring subsidinya bocor seperti ember tua, kenaikan harga BBM non-subsidi sering mendorong perpindahan konsumsi ke BBM subsidi. Orang yang semestinya berada di jalur kanan perlahan masuk ke jalur kiri. Mereka yang seharusnya membeli tanpa bantuan negara ikut mengantre bantuan negara. Akibatnya, mereka yang benar-benar membutuhkan subsidi harus berbagi dengan mereka yang sekadar tidak ingin mengurangi kenyamanan.

     Sementara itu, program makan bergizi gratis juga bukan kitab suci yang turun dari langit dalam keadaan sempurna. Tujuannya mungkin mulia. Pelaksanaannya belum tentu. Di negeri yang bahkan kesulitan menjaga uang pembangunan jembatan, sekolah, jalan, stadion, bansos, pupuk, dan proyek-proyek lain dari tangan-tangan kreatif, publik tentu berhak bertanya ketika uang dalam jumlah besar mulai mengalir ke dapur-dapur baru yang tumbuh lebih cepat daripada jamur setelah hujan.

     Namun pertanyaan semacam itu terlalu merepotkan bagi sebagian orang. Jauh lebih mudah menghapus seluruh kerumitan tersebut.

     Mahasiswa protes Pertamax?
     Berarti pembela orang kaya.
 
     Mahasiswa mengkritik MBG?
     Berarti pembenci orang miskin.
 
     Sederhana. Praktis. Tidak perlu membaca. Tidak perlu menghitung. Tidak perlu memahami.

     Kalau logika seperti ini diterapkan secara konsisten, kita mungkin bisa mencapai efisiensi nasional yang luar biasa.

     Dokter yang mengkritik rumah sakit berarti membenci pasien. Guru yang mengkritik sekolah berarti membenci murid. Wartawan yang mengkritik korupsi berarti membenci pembangunan. Orang yang mengkritik kebocoran kapal berarti membenci penumpang.

     Betapa indahnya dunia ketika setiap kritik bisa diubah menjadi kejahatan hanya dengan menghapus beberapa premis yang mengganggu.

     Barangkali inilah warisan pendidikan kita yang paling berhasil. Kita menghasilkan begitu banyak orang yang pandai mengambil kesimpulan dan begitu sedikit orang yang sabar memeriksa dasar kesimpulannya. Kita melatih murid menjawab soal pilihan ganda selama bertahun-tahun, lalu terkejut ketika mereka mulai melihat dunia sebagai pilihan ganda: setuju atau musuh, mendukung atau membenci, pemerintah atau oposisi, rakyat atau oligarki.

     Padahal kehidupan nyata lebih mirip sungai berlumpur daripada lembar ujian. Arusnya bercabang. Dasarnya tidak selalu terlihat. Banyak batu tersembunyi di bawah permukaan.

     Sayangnya, dunia yang rumit tidak pernah cocok dengan kebutuhan propaganda.

     Propaganda membutuhkan cerita yang pendek. Ia membutuhkan pahlawan dan penjahat. Ia membutuhkan kambing hitam. Ia membutuhkan kesimpulan yang bisa ditelan dalam sekali teguk.

     Karena itu, ketika seseorang datang membawa argumen yang rumit, pekerjaan pertama propaganda adalah memotongnya menjadi karikatur. Setelah karikaturnya selesai dibuat, barulah karikatur itu dipukul ramai-ramai.

     Mungkin itulah yang sedang kita saksikan hari ini.

     Bukan pertarungan antara mahasiswa dan pemerintah. Bukan pertarungan antara Pertamax dan makan gratis. Melainkan pertarungan yang jauh lebih tua: antara keinginan untuk berpikir dan godaan untuk menyederhanakan segala sesuatu sampai kehilangan akal sehatnya.

     Dan seperti biasa, yang paling ramai bukan mereka yang sedang berpikir.

     Melainkan mereka yang sudah terlanjur tiba di kesimpulan sebelum perjalanan dimulai.

     Manusialah yang Memberi Nama pada Bekas Lukanya.

     Bagaimana mungkin sebuah kampung berpindah tempat tanpa seorang pun memindahkan rumahnya?

     Pertanyaan itu muncul berulang kali setelah gempa Palu pada 28 September 2018. Foto-foto memperlihatkan rumah-rumah yang masih berdiri, tetapi tidak lagi berada di tempat semula. Hamparan sawah bergeser puluhan hingga ratusan meter. Jalan raya yang sehari sebelumnya lurus, mendadak terputus. Aspal di satu sisi masih ada, tetapi sambungannya lenyap entah ke mana. Di beberapa tempat, tanah berubah menjadi lumpur yang menelan bangunan utuh. Banyak orang menyebutnya kiamat kecil. Sebagian lagi menyebut bumi sedang marah.

     Geologi tidak mengenal kemarahan.

     Yang bergerak bukanlah kemarahan bumi, melainkan Sesar Palu-Koro, salah satu sesar aktif yang membelah Sulawesi. Ia bukan rekahan yang baru muncul pada 2018. Jauh sebelum kota Palu berdiri, jauh sebelum jalan raya dibangun, bahkan jauh sebelum manusia mengenal nama Sulawesi, sesar itu telah menjadi batas tempat dua blok kerak bumi saling bergeser. Perlahan, hampir tak terasa, hanya beberapa sentimeter setiap tahun.

     Beberapa sentimeter terdengar sepele. Kuku manusia tumbuh lebih cepat daripada itu. Namun bumi tidak menghitung waktu dengan kalender manusia.

     Sentimeter demi sentimeter terus terkumpul. Sepuluh tahun menjadi puluhan sentimeter. Seratus tahun menjadi beberapa meter. Selama batuan masih mampu menahan tegangan, semuanya tampak tenang. Kota dibangun. Sawah ditanami. Jalan diaspal. Orang menikah, menua, lalu meninggal tanpa pernah menyadari bahwa di bawah rumahnya, batuan sedang menyimpan utang yang suatu hari harus dibayar.

     Lalu tibalah saat batuan tidak lagi sanggup menahan tekanan.

     Dalam hitungan belasan detik, energi yang dikumpulkan selama ratusan tahun dilepaskan sekaligus. Dua sisi sesar saling bergeser secara mendatar. Itulah sebabnya Sesar Palu-Koro digolongkan sebagai sesar geser (strike-slip fault). Yang bergerak bukan gunung yang runtuh, melainkan dua massa batuan yang saling menggesek ke arah berlawanan.

     Dari permukaan, semuanya tampak mustahil.

sumber: https://link.springer.com/article/10.1186/s40562-020-0150-2/figures/1

ilustrasi generated by Banana

     Rumah-rumah seolah berjalan. Pagar tidak lagi bertemu dengan halaman. Jalan raya kehilangan pasangannya. Sungai menemukan alur yang baru.

     Padahal rumah tidak pernah berjalan. Jalannya pun tidak pernah melompat. Yang berpindah adalah tanah tempat semuanya berdiri.

     Namun Palu menyimpan satu cerita lain yang bahkan lebih ganjil.

     Di Petobo, Balaroa, dan Jono Oge, tanah kehilangan sifatnya sebagai tanah. Getaran gempa membuat lapisan sedimen yang jenuh air berubah perilaku seperti cairan. Dalam beberapa menit, permukaan yang selama ini dianggap kokoh mendadak mengalir. Rumah-rumah terbawa bersama pepohonan, sawah, bahkan tiang listrik. Peristiwa itu dikenal sebagai likuefaksi.

     Ironisnya, likuefaksi bukan terjadi karena tanah menjadi lebih lemah. Ia terjadi karena air yang selama ini mengisi pori-pori sedimen tiba-tiba menerima tekanan sedemikian besar sehingga butiran tanah kehilangan kemampuan saling mengunci. Tanah tidak berubah menjadi air. Ia hanya berhenti bersikap seperti tanah.

     Tidak jauh dari sana, dasar Teluk Palu juga bergerak. Perubahan mendadak pada dasar laut, ditambah longsoran bawah laut yang dipicu gempa, membangkitkan tsunami yang dalam hitungan menit mencapai daratan. Gempa, likuefaksi, dan tsunami datang hampir bersamaan, seolah bumi sedang mempertontonkan seluruh kemampuannya dalam satu panggung.

     Padahal tidak ada pertunjukan.

     Yang terjadi hanyalah hukum-hukum geologi bekerja sebagaimana mestinya.

     Istilah "luka" lahir dari pengalaman manusia, bukan dari cara bumi bekerja. Bagi bumi, sesar bukanlah tanda kegagalan, melainkan jejak dari perubahan yang tidak pernah berhenti. Selama lebih dari empat miliar tahun, kerak bumi terus menerima tekanan, melengkung, bergeser, terangkat, lalu terkikis kembali. Yang disebut sesar hanyalah bagian dari perjalanan panjang itu yang kebetulan cukup jelas untuk dikenali dan diberi nama.

     Kata "patah" membantu manusia memahami perubahan yang melampaui ukuran hidupnya sendiri. Gempa yang berlangsung belasan detik terasa datang tanpa peringatan, padahal energi yang dilepaskannya telah terkumpul selama ratusan hingga ribuan tahun. Dalam umur bumi, peristiwa itu hanyalah satu bab dari kisah yang nyaris tak berujung. Dalam umur manusia, ia cukup untuk membelah kehidupan menjadi dua: sebelum dan sesudah.

     Karena itulah bumi tidak pernah benar-benar patah. Rumah dapat bergeser, jalan dapat kehilangan sambungan, bahkan satu kampung dapat berpindah tempat. Semua itu mengubah hidup manusia, tetapi tidak mengubah cara bumi bekerja. Yang sesungguhnya runtuh sering kali bukan planet ini, melainkan keyakinan manusia bahwa tanah di bawah kakinya akan selalu tetap di tempatnya.

     Tomohide Akiyama pada awal 1980-an memperkenalkan istilah Shinrin-yoku, sebuah istilah di Jepang yang secara harfiah berarti "mandi hutan" atau "berendam dalam atmosfer hutan". Istilah ini diperkenalkan sebagai bagian dari kampanye kesehatan dan konservasi hutan di Jepang.

     Namun jangan bayangkan seseorang membawa sabun lalu mandi di tengah rimba. Yang dimaksud adalah membiarkan seluruh indra tenggelam dalam lingkungan hutan: mendengar desir daun, mencium aroma tanah basah, merasakan tekstur kulit pohon, memperhatikan cahaya yang menembus kanopi, dan berjalan tanpa tujuan yang terlalu ambisius.

     Shinrin-yoku lahir dari sebuah kesadaran yang sederhana tetapi menarik. Selama ribuan tahun manusia hidup di tengah alam. Kota, beton, kendaraan, notifikasi ponsel, dan lampu LED adalah pendatang baru dalam sejarah evolusi manusia. Tubuh kita mungkin sudah memakai sepatu modern, tetapi sebagian sistem saraf kita masih mengenali bahasa sungai, hutan, angin, dan suara burung.

     Penelitian yang dilakukan oleh Yoshifumi Miyazaki dan para peneliti kesehatan lingkungan Jepang menunjukkan bahwa menghabiskan waktu di hutan dapat menurunkan kadar hormon stres, menurunkan tekanan darah, memperbaiki suasana hati, dan meningkatkan aktivitas sistem imun. Salah satu penjelasan yang sering diajukan adalah keberadaan senyawa organik yang dilepaskan pohon, disebut phytoncides, yang mungkin berperan dalam efek tersebut. Namun banyak peneliti juga menekankan bahwa manfaatnya tidak semata-mata berasal dari zat kimia, melainkan dari kombinasi ketenangan visual, suara alami, kualitas udara, dan ritme gerak yang lebih lambat.

     Menariknya, shinrin-yoku berbeda dari aktivitas petualangan alam yang sering kita kenal. Pendakian gunung, misalnya, sering kali berisi target: mencapai puncak, mengejar waktu, menaklukkan elevasi. Shinrin-yoku justru hampir kebalikannya. Ia tidak meminta pencapaian apa pun.

     Dalam pendakian, seseorang bisa bertanya: "Berapa meter lagi?"

     Dalam shinrin-yoku, pertanyaannya berubah menjadi: "Apa yang baru saja saya dengar?"

     Dalam pendakian, mata mencari puncak. Dalam shinrin-yoku, mata memperhatikan lumut yang tumbuh diam di batu.

     Karena itu banyak orang menyebutnya sebagai bentuk meditasi yang bergerak. Tidak ada teknik rumit. Tidak ada mantra wajib. Tidak ada sertifikat kelulusan. Hanya berjalan perlahan, bernapas, dan hadir.

     Bagi seseorang yang akrab dengan gunung, sungai, dan hutan—seperti banyak pendaki atau pencinta alam—konsep ini sebenarnya tidak sepenuhnya baru. Banyak orang pernah mengalaminya tanpa mengetahui namanya.

     Mungkin saat berhenti di tepi sungai pegunungan, ketika kabut turun perlahan dan tidak ada percakapan yang perlu dilakukan.

     Mungkin ketika duduk di depan mulut gua setelah perjalanan panjang, mendengar tetes air yang jatuh dari langit-langit batu kapur.

     Mungkin ketika berjalan sendiri di jalur hutan pinus dan tiba-tiba sadar bahwa selama satu jam terakhir tidak memikirkan tagihan, politik, pekerjaan, atau pertengkaran media sosial.

     Di situlah letak keunikan shinrin-yoku. Ia bukan mengajarkan manusia untuk menjadi sesuatu yang baru. Ia hanya mengingatkan bahwa jauh sebelum manusia menjadi manajer, dosen, politisi, insinyur, influencer, atau pelanggan aplikasi, manusia terlebih dahulu adalah makhluk yang lahir dari lanskap alam.

     Hutan tidak memberi solusi atas semua persoalan hidup. Tetapi ia sering melakukan sesuatu yang lebih halus: mengembalikan ukuran persoalan itu ke proporsinya. Di hadapan pohon yang telah hidup ratusan tahun, banyak kecemasan yang kemarin terasa sebesar gunung mendadak tampak hanya sebesar ranting yang patah di tanah.

     MBG saat ini mulai terlihat seperti kanker.

     Mungkin awalnya ia hanya sebuah implan kecil yang ditanam dengan niat baik. Tidak ada yang keberatan ketika negara mengatakan akan memberi makan anak-anak. Bahkan orang yang paling sinis sekalipun akan berpikir bahwa memberi makan anak sekolah adalah ide yang lebih masuk akal daripada sebagian besar proyek yang biasa lahir dari rapat-rapat panjang para pejabat.

     Namun ada satu hal yang sering terlupakan. Kanker tidak pernah datang dengan wajah menyeramkan. Ia datang sebagai sesuatu yang tampak normal. Ia tumbuh perlahan, menyelinap ke jaringan yang sehat, lalu suatu hari orang sadar bahwa tubuh yang mereka kenal telah berubah menjadi sesuatu yang lain.

     MBG tampaknya sedang berada di fase itu.
     Ia ada di mana-mana.

     Ia masuk ke organisasi masyarakat, kampus, yayasan, kelompok relawan, partai politik, aparat, pengusaha katering, kontraktor, pemasok bahan makanan, dan entah berapa banyak lagi simpul yang tidak pernah dibayangkan ketika program ini pertama kali diperkenalkan kepada publik. Ia tumbuh begitu cepat sehingga kadang sulit membedakan mana program negara dan mana ekosistem baru yang hidup dari keberadaan program tersebut.

     Presiden tentu bangga. Dalam banyak kesempatan MBG tampil seperti anak kesayangan yang selalu dipamerkan kepada tamu. Lambat laun rakyat mulai menemukan humornya sendiri. Apa pun masalahnya, MBG solusinya. Kalimat itu awalnya terdengar seperti lelucon. Belakangan terdengar seperti deskripsi keadaan yang cukup akurat.

     Ekonomi lesu, MBG.
     Pengangguran, MBG.
     Kemiskinan, MBG.

     Mungkin jika suatu hari hujan terlambat turun, akan ada usulan menambah menu protein untuk memperbaiki cuaca.

     Lalu datanglah korupsi.

     Sebetulnya kata "korupsi" di Indonesia sudah kehilangan daya kejutnya sejak lama. Ia muncul hampir sesering iklan pinjaman online. Tidak ada yang benar-benar terkejut lagi ketika mendengar ada uang negara yang bocor. Yang menarik justru bukan korupsinya, melainkan apa yang terlihat setelah tirai sedikit tersingkap.

     Tiba-tiba muncul nama-nama.
     Lalu muncul organisasi.
     Lalu muncul yayasan.
     Lalu muncul tokoh-tokoh yang sebelumnya tidak pernah terlihat.
     Lalu muncul pembelaan dari berbagai arah.
     Lalu muncul penjelasan mengapa program ini harus tetap berjalan.

     Lalu muncul penjelasan atas penjelasan.

     Untuk sesaat rasanya seperti menyaksikan seseorang menyalakan lampu di sebuah gedung yang selama ini tampak kosong dari luar. Ternyata di dalamnya banyak sekali penghuni.

     Yang lebih menarik lagi, ketika sejumlah dapur mulai ditutup, saya mengira yang akan paling gaduh adalah anak-anak yang kehilangan makan siang.

     Ternyata bukan.

     Anak-anak tidak punya konferensi pers. Anak-anak tidak punya akun media sosial dengan centang biru. Anak-anak tidak punya jaringan politik. Anak-anak hanya kehilangan makan siang.

     Kegaduhan justru datang dari orang-orang dewasa.

     Mendadak begitu banyak pihak yang berbicara tentang pentingnya keberlanjutan program. Tentang masa depan bangsa. Tentang generasi emas. Tentang kepentingan rakyat. Dan entah mengapa, semuanya terdengar seperti orang yang sedang berusaha meyakinkan diri bahwa aliran uang yang sangat besar tidak boleh berhenti mengalir.

     Di tengah keramaian itu, ada satu pernyataan seorang politisi yang menurut saya jauh lebih jujur daripada seluruh konferensi pers yang pernah digelar.

     MBG tidak bisa dihentikan.

     Saya sempat mengira itu bentuk pembelaan. Belakangan saya sadar, mungkin itu pengakuan.

     Sebab program pemerintah seharusnya selalu bisa dihentikan. Program dibuat manusia. Program dievaluasi manusia. Program diganti manusia. Tidak ada yang sakral.

     Kalau sebuah program sudah dianggap tidak bisa dihentikan, berarti kita sedang berbicara tentang sesuatu yang lain. Kita sedang berbicara tentang organisme yang telah tumbuh terlalu besar.

     Terlalu banyak orang hidup darinya. Terlalu banyak orang menggantungkan keuntungan padanya. Terlalu banyak kepentingan telah menempel di tubuhnya.

     Terlalu banyak yang akan kehilangan sesuatu jika ia berhenti.

     Dan semua itu terjadi pada saat ekonomi sedang megap-megap mencari udara. Warung-warung kecil tutup lebih dulu karena pembeli makin jarang datang. Pedagang kaki lima mulai menghilang dari sudut-sudut jalan yang dulu ramai. Lembaga pendidikan dipaksa berhemat. BPJS terus berbicara tentang defisit. Rupiah melemah dan harga-harga bergerak dengan caranya sendiri yang selalu berhasil membuat rakyat menghela napas panjang di depan etalase.

     Dalam keadaan seperti itu, mungkin kita akhirnya memahami mengapa banyak orang tampak lebih takut kehilangan proyek daripada kehilangan akal sehat.

     Karena kanker memiliki satu sifat yang menarik. Semakin besar ia tumbuh, semakin sulit tubuh membayangkan hidup tanpa dirinya. Ia menyerap nutrisi, mengambil ruang, membangun jaringan, lalu perlahan membuat seluruh tubuh percaya bahwa keberadaannya adalah sesuatu yang mutlak.

     Sampai akhirnya muncul satu pertanyaan sederhana. Apakah tubuh ini masih memelihara kanker, atau kanker yang sedang memelihara tubuh?

     Dan untuk pertama kalinya saya merasa sepenuhnya setuju dengan para penggemar MBG. Mereka benar! Apa pun masalahnya, MBG memang solusinya.

     Karena setelah melihat bagaimana ia tumbuh, menjalar, membangun jaringan, menciptakan ketergantungan, dan membuat begitu banyak orang ketakutan ketika namanya disentuh, saya yakin MBG memang dapat menyelesaikan satu masalah yang sangat besar.

     Masalah itu bernama MBG sendiri.

     STOP MBG sekarang juga!

     Pagi itu saya membaca kabar tentang ketua MBG dan dua wakilnya yang diamankan dalam kasus dugaan korupsi. Saya membaca beritanya sampai selesai, lalu menaruh telepon genggam di meja. Tidak marah. Tidak terkejut. Tidak juga sedih. Yang muncul justru sebuah kenangan yang aneh.

     Saya teringat Gus Dur.

     Bukan pidatonya. Bukan kisah-kisah politiknya. Yang muncul justru sebuah lelucon lama yang mungkin sudah berkeliaran puluhan tahun di republik ini.

     Katanya, di zaman Orde Lama korupsi dilakukan di bawah meja. Di zaman Orde Baru korupsi dilakukan di atas meja. Di zaman Reformasi, mejanya sekalian dikorupsi.

     Saya tertawa ketika pertama kali mendengarnya bertahun-tahun lalu. Seperti banyak lelucon Gus Dur lainnya, kalimat itu terdengar ringan, bahkan nakal. Namun semakin tua umur lelucon itu, semakin terasa bahwa ia sedang menyembunyikan sesuatu yang tidak lucu.

     Ada jenis humor tertentu yang sebenarnya lahir dari keputusasaan. Kita tertawa bukan karena bahagia, tetapi karena kenyataan terlalu ganjil untuk ditanggapi dengan wajah serius.

     Saya membayangkan bagaimana perasaan seseorang yang hidup beberapa dekade lalu ketika mendengar kalimat itu. Mungkin ia menganggapnya hiperbola. Mungkin ia menganggap Gus Dur sedang melebih-lebihkan keadaan. Sebab bagaimanapun, mengorupsi meja terdengar mustahil. Korupsi seharusnya mengambil uang. Mengambil proyek. Mengambil barang. Bukan mengambil meja.

     Namun rupanya kehidupan politik Indonesia memiliki bakat khusus dalam mengubah metafora menjadi laporan lapangan.

     Dari tahun ke tahun kita menyaksikan sesuatu yang menarik. Korupsi tidak lagi tampak sebagai penyimpangan dari sistem. Ia seperti spesies yang berhasil beradaptasi dengan lingkungannya. Ketika satu celah ditutup, ia menemukan celah lain. Ketika satu aturan dibuat, ia mempelajari cara hidup di dalam aturan tersebut. Kadang-kadang bahkan tampak lebih memahami aturan daripada orang yang membuatnya.

     Karena itu ketika membaca berita tentang MBG, pikiran saya justru melompat ke lelucon tadi. Program Makan Bergizi adalah sebuah gagasan yang begitu sederhana sehingga hampir mustahil ditolak. Anak-anak makan lebih baik. Gizi membaik. Masa depan diperkuat. Bahkan namanya terdengar seperti sesuatu yang lahir dari ruang kelas sekolah dasar yang penuh gambar matahari dan awan berwarna cerah.

     Lalu kenyataan datang membawa kebiasaan lamanya.

     Ternyata di negeri ini, bahkan gagasan tentang anak-anak yang sedang makan pun dapat dikerumuni oleh orang-orang dewasa yang lebih dulu lapar.

     Di titik itulah saya mulai merasa bahwa mungkin kita selama ini salah memahami lelucon Gus Dur. Kita mengira tokoh utama dalam cerita itu adalah meja. Padahal bukan.

     Meja hanya korban.

     Bayangkan nasib sebuah meja di republik ini. Ia dibuat oleh tukang kayu. Dipernis dengan baik. Diletakkan di kantor pemerintahan. Ia mungkin berharap hidup tenang sebagai tempat rapat, tempat menandatangani dokumen, atau tempat meletakkan secangkir kopi. Namun sepanjang hidupnya ia terus-menerus dituduh terlibat korupsi.

     Di bawah meja ada korupsi.
     Di atas meja ada korupsi.
     Lalu mejanya ikut dikorupsi.

     Seandainya meja bisa berbicara, mungkin sejak lama ia sudah meminta pindah profesi menjadi lemari.

     Yang membuat semua ini terasa lebih ganjil adalah kenyataan bahwa bangsa ini sebenarnya sangat kaya akan slogan moral. Hampir tidak ada kekurangan slogan. Integritas ada. Transparansi ada. Akuntabilitas ada. Amanah ada. Pengabdian ada. Setiap tahun kita memproduksi slogan-slogan baru seperti pabrik memproduksi mi instan.

     Masalahnya, slogan tidak pernah kenyang. Seperti manusia dengan usus 36 jari.

     Mungkin karena itu korupsi di Indonesia sering kali memiliki sifat yang unik. Ia tidak muncul sebagai perampok yang memecahkan jendela pada tengah malam. Ia datang mengenakan seragam resmi, membawa stempel, menyusun proposal, membuat presentasi, lalu berbicara panjang tentang pengabdian kepada rakyat. Kadang-kadang ia bahkan berbicara lebih fasih tentang moralitas daripada orang yang benar-benar bermoral.

     Lalu bertahun-tahun kemudian, ketika sebuah kasus terbongkar, masyarakat kembali mendengar istilah yang sama. Dugaan penyimpangan. Dugaan mark-up. Dugaan pengaturan proyek. Dugaan pengadaan. Kata "dugaan" berbaris begitu panjang hingga terdengar seperti nama jalan.

     Dan rakyat membaca semuanya dengan ekspresi yang semakin sulit dibedakan antara tertawa dan lelah.

     Barangkali itulah bagian yang paling menyedihkan dari korupsi. Bukan jumlah uangnya. Angka-angka pada akhirnya selalu bisa dihitung. Auditor bisa menghitungnya. Penyidik bisa menghitungnya. Hakim bisa menghitungnya.

     Yang lebih sulit dihitung adalah saat masyarakat mulai kehilangan kemampuan untuk terkejut. Saat sebuah berita tentang dugaan korupsi tidak lagi terasa seperti gempa, melainkan seperti prakiraan cuaca.

     Hari ini berawan.
     Besok hujan.
     Lusa kemungkinan ada kasus baru.
 

     Dan di tengah semua itu, lelucon Gus Dur tetap berjalan dari satu generasi ke generasi berikutnya, seperti seorang pengembara tua yang terus menemukan alamat yang sama meskipun nama jalannya sudah berkali-kali diganti.

     Saya tidak tahu apakah suatu hari nanti lelucon itu akan kehilangan relevansinya. Saya berharap demikian. Sebab ada lelucon yang memang seharusnya pensiun dengan tenang.

     Tetapi setiap kali membaca berita semacam ini, harapan itu terasa seperti menatap meja tua di sebuah kantor pemerintahan dan bertanya dalam hati: "setelah semua yang dialaminya selama puluhan tahun, apakah meja itu masih berani percaya kepada manusia?"

     Jika perbedaan IQ dapat membuat manusia memandang dunia dengan cara yang berbeda, pertanyaan berikutnya menjadi jauh lebih penting. Apakah jurang itu benar-benar tetap, atau masih mungkin dipersempit?

     Sebagian kemampuan kognitif memang lazim diukur melalui berbagai tes inteligensi yang dikenal sebagai IQ. Angka itu tentu tidak menjelaskan seluruh manusia, tetapi cukup membantu memahami mengapa dua orang yang melihat kenyataan yang sama dapat membangun gambaran dunia yang sangat berbeda. Ibarat sebuah mesin, ada yang sejak awal memiliki kapasitas lebih besar, ada pula yang lebih kecil. Ketika berhadapan dengan satu persoalan, sebagian orang hanya mampu menghubungkan beberapa variabel sekaligus, sementara yang lain sanggup menampung puluhan variabel sebelum menarik sebuah kesimpulan.

     Kenyataan itu tidak perlu disangkal. Namun ia juga tidak perlu diperlakukan seperti vonis yang menutup seluruh kemungkinan.

     Sebuah mesin tidak hanya ditentukan oleh kapasitasnya. Mesin yang sama dapat menghasilkan perjalanan yang sangat berbeda bergantung pada bagaimana ia digunakan, dirawat, dan terus dipaksa menghadapi jalan-jalan yang belum pernah dilaluinya. Demikian pula kemampuan berpikir. IQ mungkin menggambarkan sebagian kapasitas awal, tetapi ia bukan sesuatu yang sepenuhnya beku.⁸ Dunia yang akhirnya sanggup dipahami seseorang dibentuk oleh jauh lebih banyak hal yang saling bekerja bersama.

     Pendidikan¹ membuka cara-cara baru untuk memandang persoalan. Keluarga² memperkenalkan kebiasaan bertanya atau sebaliknya, membiasakan jawaban yang berhenti terlalu cepat. Bacaan³ menambahkan variabel-variabel baru yang sebelumnya tidak pernah hadir di dalam pikiran. Pengalaman⁴ sering kali memaksa keyakinan lama disusun ulang ketika kenyataan menolak mengikuti teori yang telah diyakini. Lingkungan⁵ memperluas atau mempersempit kesempatan seseorang bertemu gagasan yang berbeda. Percakapan⁶ membuat sebuah pikiran diuji oleh pikiran yang lain. Semua itu bekerja perlahan, hampir tidak terdengar, tetapi sedikit demi sedikit memperluas dunia yang sanggup dihuni oleh akal.

     Perubahan itu jarang terjadi melalui lompatan besar. Ia lebih sering menyerupai seseorang yang mula-mula hanya mampu melihat lima titik, lalu sepuluh, lalu dua puluh. Yang berubah bukan sekadar jumlah informasi yang dimiliki, melainkan kemampuan melihat hubungan di antara informasi-informasi itu. Sebab sebuah persoalan tidak menjadi lebih rumit hanya karena variabelnya bertambah. Ia menjadi lebih kaya karena hubungan di antara variabel-variabel itu mulai terlihat.

     Ada satu hal yang membuat seluruh proses itu mungkin. Rasa ingin tahu dan kerendahan hati intelektual⁷. Tanpa keduanya, pengalaman hanya berubah menjadi kenangan, bacaan hanya menjadi hafalan, dan pendidikan hanya berhenti sebagai ijazah. Sebaliknya, ketika seseorang terus bersedia mengakui bahwa masih ada sesuatu yang belum ia pahami, setiap perjumpaan dapat menjadi kesempatan untuk memperluas cara berpikirnya.

     Kosmos memang tidak pernah membagikan segala sesuatu secara merata. Ada yang lebih cepat memahami matematika, ada yang lebih mudah memainkan musik, ada yang lebih kuat secara fisik, ada pula yang sejak awal lebih mudah mengolah kompleksitas. Kenyataan itu sama tuanya dengan manusia sendiri.

     Namun permainan tidak berhenti ketika kartu dibagikan.

     Selama manusia masih bersedia belajar, membaca, bekerja, berdiskusi, mengalami kegagalan, memperbaiki kesalahan, dan membuka diri terhadap pandangan yang belum pernah ia temui, selalu ada kemungkinan untuk memperluas dunia yang dapat ia pahami. Jurang itu mungkin tidak pernah benar-benar hilang. Tetapi ia dapat menjadi cukup sempit sehingga percakapan tidak lagi mustahil, kerja sama menjadi lebih mungkin, dan manusia yang memandang dunia dengan cara berbeda tetap dapat membangun sesuatu bersama.

     Barangkali itulah satu-satunya jembatan yang benar-benar layak dibangun. Bukan jembatan yang menghapus perbedaan, melainkan jembatan yang membuat perbedaan tidak lagi menjadi alasan untuk berhenti saling memahami.


Catatan Kaki

¹ Pendidikan

Pendidikan dalam esai ini tidak dipahami sebatas sekolah atau perguruan tinggi. Yang dimaksud adalah seluruh proses belajar yang melatih manusia mengenali pola, berpikir abstrak, menyusun argumen, dan memecahkan persoalan. Berbagai penelitian dalam psikologi perkembangan dan ilmu kognitif menunjukkan bahwa pendidikan yang baik tidak hanya menambah pengetahuan, tetapi juga mengubah cara seseorang mengolah informasi. Gagasan ini dapat ditemukan, antara lain, dalam pemikiran Lev Vygotsky tentang perkembangan kognitif melalui interaksi sosial, Jean Piaget mengenai perkembangan struktur berpikir, Richard E. Nisbett dalam Intelligence and How to Get It, serta Stanislas Dehaene dalam How We Learn.

² Keluarga

Keluarga merupakan lingkungan kognitif pertama yang ditemui setiap manusia. Percakapan sehari-hari, kebiasaan bertanya, cara orang tua merespons rasa ingin tahu anak, hingga jumlah kosakata yang diperkenalkan sejak usia dini memberi pengaruh terhadap perkembangan kemampuan berpikir. Salah satu penelitian yang banyak dibahas adalah karya Betty Hart dan Todd R. Risley mengenai perbedaan lingkungan bahasa pada masa kanak-kanak. Meskipun beberapa angka dalam penelitian tersebut kemudian diperdebatkan, gagasan pokoknya tetap memperoleh banyak dukungan: kualitas interaksi di rumah memiliki pengaruh nyata terhadap perkembangan kemampuan kognitif.

³ Bacaan

Membaca bukan sekadar menambah informasi. Setiap bacaan memperkaya jaringan konsep yang dimiliki seseorang sehingga pengetahuan baru lebih mudah dihubungkan dengan pengetahuan yang telah ada. Semakin luas jaringan itu, semakin banyak kemungkinan hubungan yang dapat dibangun ketika menghadapi persoalan baru. Keith E. Stanovich menjelaskan bagaimana kebiasaan membaca menciptakan efek akumulatif yang dikenal sebagai Matthew Effect, sementara Stanislas Dehaene menunjukkan bagaimana aktivitas membaca secara bertahap membentuk dan mengubah jaringan saraf di otak.

⁴ Pengalaman

Tidak semua pengalaman menghasilkan pembelajaran. Pengalaman baru menjadi sumber perkembangan ketika seseorang bersedia merefleksikannya, menghubungkannya dengan pengetahuan yang telah dimiliki, lalu merevisi pemahamannya bila diperlukan. David A. Kolb mengembangkan gagasan ini melalui teori Experiential Learning, yaitu bahwa pembelajaran lahir dari siklus pengalaman, refleksi, konseptualisasi, dan percobaan kembali.

⁵ Lingkungan

Manusia berpikir di dalam sebuah ekosistem. Lingkungan yang kaya akan percakapan, buku, keberagaman gagasan, serta kesempatan untuk mencoba dan gagal memberi lebih banyak bahan bagi pikiran untuk diolah. Sebaliknya, lingkungan yang miskin stimulasi cenderung membatasi variasi pengalaman yang dapat diproses. Urie Bronfenbrenner melalui Ecological Systems Theory menunjukkan bahwa perkembangan manusia merupakan hasil interaksi berlapis antara individu dan lingkungan sosialnya.

⁶ Percakapan

Percakapan bukan sekadar pertukaran informasi. Percakapan yang sehat memaksa seseorang menguji asumsi, menemukan kelemahan argumennya sendiri, dan melihat hubungan yang sebelumnya luput dari perhatian. Philip E. Tetlock menunjukkan bahwa kemampuan mempertimbangkan berbagai sudut pandang berkaitan erat dengan kualitas penalaran dan pengambilan keputusan. Berbagai penelitian mengenai dialog kolaboratif juga menunjukkan bahwa diskusi yang terbuka dapat memperkaya representasi mental terhadap suatu persoalan.

⁷ Rasa ingin tahu dan kerendahan hati intelektual

Rasa ingin tahu membuat seseorang terus mencari informasi baru. Kerendahan hati intelektual membuatnya bersedia mengubah keyakinan ketika berhadapan dengan bukti yang lebih baik. Keduanya merupakan pasangan yang sulit dipisahkan. Tanpa rasa ingin tahu, pengetahuan berhenti bertambah. Tanpa kerendahan hati intelektual, pengetahuan baru hanya dipaksa menyesuaikan keyakinan lama. Dalam dua dekade terakhir, intellectual humility berkembang menjadi salah satu bidang penelitian tersendiri dalam psikologi. Di antaranya melalui karya Tenelle Porter, Elizabeth Krumrei-Mancuso, Mark Leary, dan Keith E. Stanovich yang menunjukkan bahwa kesediaan mengakui keterbatasan pengetahuan justru berkaitan dengan kualitas berpikir yang lebih baik.

⁸ IQ dan plastisitas kemampuan kognitif

Selama bertahun-tahun inteligensi sering dipandang sebagai kemampuan yang relatif tetap. Pandangan tersebut kini menjadi jauh lebih bernuansa. Penelitian mengenai neuroplastisitas menunjukkan bahwa otak terus membentuk dan memperkuat jaringan saraf sebagai respons terhadap pengalaman, pembelajaran, dan latihan. Di sisi lain, fenomena yang dikenal sebagai Flynn Effect memperlihatkan bahwa skor IQ rata-rata di banyak negara meningkat dari generasi ke generasi selama sebagian besar abad ke-20. Temuan ini menunjukkan bahwa lingkungan memiliki pengaruh nyata terhadap performa kognitif manusia.

Para peneliti masih berbeda pendapat mengenai seberapa besar peningkatan kemampuan tersebut dapat dicapai oleh setiap individu dan di mana batas-batas biologisnya. Karena itu, esai ini tidak berangkat dari anggapan bahwa semua orang dapat mencapai tingkat kemampuan yang sama. Gagasan yang digunakan jauh lebih sederhana: kemampuan kognitif bukan sesuatu yang sepenuhnya beku. Pendidikan, pengalaman, literasi, lingkungan, kesehatan, nutrisi, latihan berpikir, dan berbagai bentuk stimulasi intelektual dapat mengubah cara otak memproses informasi, meskipun besarnya perubahan berbeda pada setiap individu. Pembahasan lebih lanjut dapat ditemukan dalam karya James R. Flynn, Richard E. Nisbett (Intelligence and How to Get It), Stanislas Dehaene (How We Learn), serta Richard J. Haier (The Neuroscience of Intelligence).


     Ada sebuah keyakinan yang sangat demokratis dan karena itu sangat disukai: semua manusia pada dasarnya sama. Kalimat itu terdengar indah, menenangkan, dan berguna untuk menjaga agar meja makan keluarga tidak berubah menjadi arena adu argumen. Namun seperti banyak kalimat yang terlalu indah, ia sering lolos dari pemeriksaan.

     Manusia memang sama dalam banyak hal. Sama-sama lahir dengan tangisan, sama-sama dapat terluka, sama-sama takut kehilangan, dan pada akhirnya sama-sama akan meninggalkan dunia ini tanpa membawa apa pun selain cerita yang tersisa di kepala orang lain. Namun ketika berbicara tentang cara memahami dunia, persamaan itu mulai retak.

     Sebagian manusia melihat dunia seperti jalan lurus yang menghubungkan sebab dan akibat. Mereka nyaman dengan kepastian. Jika harga naik, pasti ada penjahatnya. Jika negara memburuk, pasti ada orang yang harus disalahkan. Jika ada masalah, tentu ada solusi yang sederhana. Dunia terasa masuk akal karena tersusun rapi seperti rak buku yang telah diberi label.

     Sebagian yang lain justru gelisah ketika segala sesuatu tampak terlalu sederhana. Mereka melihat bahwa satu keputusan dapat menghasilkan akibat yang saling bertentangan. Bahwa sebuah kebijakan yang baik dapat berubah menjadi bencana ketika diterapkan pada keadaan yang berbeda. Bahwa manusia tidak selalu bertindak rasional, dan sejarah tidak selalu bergerak menuju kemajuan. Mereka hidup dengan lebih banyak tanda tanya daripada tanda seru.

     Perbedaan itu sering dianggap sebagai perbedaan pendapat. Padahal tidak selalu demikian. Kadang-kadang yang berbeda bukan kesimpulannya, melainkan cara membangun kesimpulan itu sendiri. Dua orang dapat melihat peristiwa yang sama, membaca berita yang sama, bahkan menyaksikan fakta yang sama, tetapi menghasilkan pemahaman yang sangat berbeda karena mereka mengolah informasi dengan cara yang berbeda pula.

     Perbedaan itu tentu tidak muncul dari ruang hampa. Pengalaman hidup, pendidikan, lingkungan sosial, jenis bacaan, budaya tempat seseorang tumbuh, bahkan temperamen pribadinya ikut membentuk cara ia memahami kenyataan. Ada orang yang terbiasa hidup dalam lingkungan yang menuntut jawaban cepat. Ada yang sejak kecil akrab dengan pertanyaan yang tidak segera memperoleh jawaban. Ada yang tumbuh di tengah keragaman gagasan. Ada yang lebih sering berhadapan dengan kepastian yang telah disediakan.

     Namun di antara berbagai faktor itu, ada satu unsur yang sering membuat percakapan menjadi canggung: kemampuan kognitif. Dalam psikologi, sebagian kemampuan mengenali pola, melakukan abstraksi, memecahkan masalah, dan mengolah informasi lazim diukur melalui berbagai tes inteligensi yang hasilnya dikenal sebagai IQ. Angka itu tentu tidak menjelaskan seluruh manusia, tetapi ia memberi petunjuk tentang seberapa kompleks informasi dapat diolah seseorang pada saat yang sama. Karena itu, meskipun pengalaman hidup, pendidikan, budaya, dan kepribadian tetap berperan besar, mengabaikan perbedaan kemampuan kognitif berarti mengabaikan salah satu faktor yang mungkin ikut menjelaskan mengapa dua orang yang melihat fakta yang sama dapat hidup dalam dunia pemahaman yang berbeda.

     Di sinilah kemampuan kognitif mulai menjadi menarik. Bukan karena ia menentukan nilai manusia, melainkan karena ia memengaruhi cara manusia memetakan realitas. Sebagian orang dapat menampung lebih banyak variabel sekaligus dalam pikirannya. Mereka lebih mudah melihat hubungan yang tidak langsung, akibat yang tertunda, atau paradoks yang hidup berdampingan. Sebagian yang lain lebih nyaman dengan pola yang lebih ringkas dan lebih cepat mencapai kepastian.

     Perbedaan itu tidak selalu tampak dalam kehidupan sehari-hari. Ia baru terlihat ketika dunia mulai menjadi rumit.

     Ketika membahas cuaca, harga beras, atau pertandingan sepak bola, semua orang masih dapat bercakap dengan santai. Namun ketika pembicaraan menyentuh ekonomi, politik, sejarah, agama, atau masa depan sebuah bangsa, jarak yang sebelumnya tersembunyi mulai muncul ke permukaan. Yang satu merasa persoalannya jelas, yang lain merasa persoalannya baru saja dimulai.

     Kedua jenis manusia itu tinggal di negeri yang sama. Mereka membayar pajak yang sama, menggunakan mata uang yang sama, bahkan mungkin menonton pertandingan sepak bola yang sama. Tetapi mereka tidak hidup di dunia yang sama.

     Yang satu melihat peta kota.

     Yang lain melihat peta benua.

Masalahnya bukan karena salah satu peta keliru. Masalahnya adalah keduanya menganggap bahwa apa yang mereka lihat sudah cukup untuk menjelaskan seluruh dunia.

     Lalu lahirlah percakapan yang tidak pernah selesai.

     Yang satu berkata, "Masalahnya sederhana."
     Yang lain menjawab, "Tidak sesederhana itu."
     Yang pertama kesal karena segala sesuatu dibuat rumit.
     Yang kedua lelah karena segala sesuatu disederhanakan.
     Keduanya pulang dengan keyakinan bahwa lawannya tidak mengerti.

     Warung kopi mendapatkan pelanggan tetap.

     Yang menarik, perdebatan seperti itu sering dianggap sebagai benturan ideologi, kepentingan, atau karakter. Penjelasan itu tidak selalu salah, tetapi mungkin belum lengkap. Ada kemungkinan bahwa sebagian konflik yang kita saksikan sesungguhnya berakar pada perbedaan tingkat kompleksitas dalam memahami dunia.

     Bagi seseorang yang terbiasa melihat lima variabel, dunia memang tampak berbeda dibanding mereka yang secara spontan melihat lima puluh variabel. Bagi yang pertama, keputusan dapat diambil dengan cepat karena jalurnya terlihat jelas. Bagi yang kedua, setiap keputusan membawa konsekuensi bercabang yang sulit diabaikan. Yang satu sering dianggap terlalu sederhana. Yang lain sering dianggap terlalu rumit. Keduanya sama-sama frustrasi.

     Akibatnya, biaya percakapan menjadi mahal.

     Menjelaskan sesuatu membutuhkan energi. Menyusun konteks membutuhkan kesabaran. Menjembatani perbedaan cara berpikir membutuhkan waktu yang sering kali tidak dimiliki siapa pun. Tidak jarang dua orang menghabiskan berjam-jam berdiskusi hanya untuk menemukan bahwa mereka sebenarnya tidak sedang memperdebatkan jawaban yang berbeda, melainkan sedang berdiri pada tingkat abstraksi yang berbeda.

     Di titik itulah muncul kesadaran yang agak sunyi. Kadang-kadang manusia tidak hanya berbeda pendapat. Mereka berbeda dunia.

     Bukan karena mereka hidup di negara yang berbeda, berbicara dalam bahasa yang berbeda, atau memeluk keyakinan yang berbeda. Mereka berbeda dunia karena struktur yang mereka gunakan untuk memahami kenyataan memang berbeda. Mereka melihat objek yang sama dengan resolusi yang berbeda.

     Barangkali itulah sebabnya sebagian percakapan terasa begitu melelahkan. Bukan karena lawan bicara tidak tulus. Bukan karena salah satu lebih bermoral. Bukan pula karena yang lain kurang cerdas. Melainkan karena mereka sedang berusaha membangun jembatan di atas jurang yang bahkan tidak mereka sadari keberadaannya.

     Namun anehnya, manusia tidak pernah berhenti mencoba.

     Mereka tetap duduk di warung kopi yang sama. Tetap memesan kopi yang sama pahitnya. Tetap mengulang perdebatan yang sama dari tahun ke tahun. Kadang dengan harapan dapat saling meyakinkan, kadang hanya untuk memastikan bahwa masih ada orang lain yang bersedia mendengarkan.

     Barangkali itulah cara peradaban bertahan.

     Bukan karena semua orang melihat dunia dengan cara yang sama.

     Melainkan karena, meskipun hidup dalam dunia yang berbeda-beda, mereka belum sepenuhnya menyerah untuk terus berbicara.

Author Name

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.