Di Antara Kecemasan dan Harapan Eksistensial

     Di antara kecemasan dan harapan eksistensial, manusia tidak menemukan ruang hampa. Ia justru menemukan tempat tinggalnya sendiri. Sebuah wilayah yang tidak pernah benar-benar tenang, tetapi juga tidak sepenuhnya runtuh. Di sanalah hidup berlangsung—bukan sebagai jawaban, melainkan sebagai proses yang terus bergerak.

     Kecemasan dan harapan sering disalahpahami sebagai dua kutub yang saling bertentangan, seolah manusia harus memilih salah satu: tenggelam dalam kegelisahan atau bernaung dalam optimisme. Padahal keduanya bukan tiang bendera yang tertancap kaku, melainkan garis spektrum yang lentur. Bahkan lebih jujur jika dikatakan bahwa keduanya berasal dari sumber yang sama: kesadaran akan keberadaan diri. Kesadaran inilah yang membuat manusia cemas, dan kesadaran yang sama pula yang memberinya kemampuan untuk berharap.

     Kecemasan muncul ketika manusia membuka mata terlalu lebar terhadap kenyataan: bahwa hidup terbatas, dunia tidak adil, dan makna tidak disediakan secara cuma-cuma. Harapan lahir ketika, dengan mata yang sama terbukanya, manusia memutuskan untuk tetap terlibat. Yang satu bersifat diagnostik—ia menunjukkan luka. Yang lain bersifat etis—ia memilih sikap terhadap luka itu. Maka di antara keduanya terbentang wilayah yang tidak steril, penuh ketegangan, namun justru produktif.

     Wilayah ini dapat disebut sebagai ketegangan kreatif. Di sini, kecemasan tidak lagi berfungsi sebagai alarm panik, melainkan sebagai pengingat batas. Harapan pun tidak menjelma menjadi ilusi manis, melainkan menjadi komitmen sunyi. Manusia yang hidup di wilayah ini tahu bahwa hidup tidak akan sepenuhnya baik-baik saja, namun ia juga tahu bahwa menyerah bukan satu-satunya respons yang tersedia.

     Di antara kecemasan dan harapan juga ada sikap yang sering luput dibicarakan: penerimaan aktif. Ini bukan pasrah yang mati rasa, bukan pula optimisme yang menutup mata. Penerimaan aktif adalah kesediaan untuk mengakui kenyataan apa adanya—bahwa banyak hal tidak bisa dikendalikan—tanpa berhenti bertindak di ruang yang masih mungkin. Ia menuntut kejujuran dan keberanian sekaligus, dua hal yang jarang akur.

     Ada pula ketabahan, bentuk harapan yang telah kehilangan romantismenya. Ketabahan tidak bersuara lantang, tidak menawarkan visi besar. Ia hadir sebagai kemampuan untuk bangun esok hari tanpa janji baru, namun juga tanpa niat mengakhiri segalanya. Ketabahan adalah kecemasan yang telah dididik agar tidak berubah menjadi kepanikan, dan harapan yang telah ditempa agar tidak berubah menjadi kebohongan.

     Dalam kehidupan nyata, spektrum ini terasa sangat cair. Seseorang bisa memulai hari dengan niat yang jernih, lalu menutup malam dengan perasaan kosong. Bukan karena ia gagal menjaga konsistensi batin, tetapi karena eksistensi memang bergerak seperti gelombang. Kesadaran naik-turun seiring waktu, tubuh, relasi, dan sejarah personal. Manusia bukan makhluk yang stabil secara eksistensial; ia makhluk yang terus menyesuaikan diri dengan pemahamannya sendiri tentang hidup.

     Karena itu, pertanyaan yang lebih jujur bukanlah “apakah aku sedang cemas atau berharap?”, melainkan “bagaimana aku hidup di antara keduanya?” Di sinilah kematangan eksistensial diuji. Terlalu condong ke kecemasan membuat hidup kering, sinis, dan defensif. Terlalu condong ke harapan membuat hidup rapuh, mudah patah oleh kenyataan pertama yang keras. Keseimbangan bukan berarti meniadakan salah satunya, melainkan memberi ruang bagi keduanya tanpa membiarkan salah satu mengambil alih sepenuhnya.

     Di wilayah antara inilah etika eksistensial menemukan bentuknya. Bertindak meski ragu. Mencinta meski tahu akan kehilangan. Memilih meski tidak ada kepastian. Semua itu bukan dilakukan karena jawaban telah ditemukan, melainkan karena berhenti memilih berarti menyerahkan diri pada bentuk kematian yang lebih awal—kematian batin.

     Maka kecemasan dan harapan bukan dua ujung jalan, melainkan dua tebing yang mengapit perjalanan. Manusia berjalan di tengahnya, kadang terhuyung, kadang mantap, sering kali tanpa peta. Selama ia masih berjalan—masih sadar, masih bertanya, masih memilih—ia belum jatuh ke jurang mana pun. Dan mungkin, justru di situlah inti menjadi manusia: hidup di antara, tanpa jaminan, tanpa kepastian akhir, tetapi tetap menjaga martabat dengan terus melangkah.

Kecemasan dan harapan bukan dua ujung jalan, melainkan dua tebing yang mengapit perjalanan. Manusia berjalan di tengahnya, kadang terhuyung, kadang ma

Posting Komentar

...

[blogger][facebook]

Author Name

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.