Mengenakan Jas yang Tak Pernah Dipakai

     Ada satu hal yang sering membuat manusia merasa lebih mulia daripada yang sebenarnya: sebuah label. Ia dapat mengubah kegiatan biasa menjadi luar biasa, mengubah pengalaman menjadi prestasi, bahkan mengubah kebanggaan pribadi menjadi kehormatan kolektif. Manusia menyukai itu. Sebab tidak semua orang mampu menciptakan sesuatu yang besar, tetapi hampir semua orang ingin terhubung dengan sesuatu yang dianggap besar. Maka lahirlah berbagai cara untuk meminjam kebesaran, dan salah satu yang paling elegan adalah meminjam nama ilmu pengetahuan.

     Sejumlah mahasiswa berlayar mengikuti jejak pelayaran nenek moyangnya. Mereka menggunakan perahu yang dirancang berdasarkan temuan arkeologis, menempuh rute yang diyakini pernah dilalui para pelaut masa lalu, singgah di titik-titik yang telah ditentukan jauh sebelum layar dikembangkan. Tidak ada yang salah dengan semua itu. Bahkan ada sesuatu yang romantis di sana. Laut selalu menyimpan daya tariknya sendiri, begitu pula sejarah. Anak-anak muda yang belajar hidup bersama di tengah ombak, merasakan kerasnya angin, dan menyentuh kembali kisah masa lalu dengan tubuh mereka sendiri adalah pemandangan yang menyenangkan untuk dibayangkan.

     Namun persoalan mulai muncul ketika seluruh kegiatan itu diberi nama: ekspedisi akademis.

     Kata itu terdengar gagah. Begitu gagahnya hingga hampir tidak ada yang berhenti untuk bertanya, bagian mana yang sebenarnya akademis. Sebab akademis bukanlah kata sifat yang membuat segala sesuatu tiba-tiba menjadi ilmiah. Akademis bukan semacam bumbu penyedap yang dapat ditaburkan di atas petualangan agar rasanya lebih intelektual. Ia memiliki syarat yang jauh lebih keras daripada sekadar niat baik dan semangat yang tinggi.

     Ilmu pengetahuan lahir dari ketidakpuasan terhadap jawaban. Ia hidup dari pertanyaan yang mengganggu kenyamanan. Ia berkembang karena ada kemungkinan salah. Bahkan seorang ilmuwan yang baik lebih takut pada keyakinannya sendiri daripada pada kritik orang lain, sebab ia tahu bahwa sesuatu yang hari ini dianggap benar dapat runtuh oleh satu bukti baru esok hari.

     Lalu apa yang sedang dipertanyakan dalam pelayaran itu?

     Rute sudah diketahui. Jenis perahu telah ditentukan. Tujuan perjalanan telah dipetakan.

     Narasi yang dibawa sejak awal pun tampaknya tidak berubah: nenek moyang adalah pelaut hebat, dan perjalanan ini adalah pembuktian atas kehebatan itu.

     Kalau begitu, apa yang sedang dicari?

     Atau mungkin pertanyaannya harus sedikit lebih jujur: adakah sesuatu yang sungguh-sungguh sedang dicari?

     Jika ekspedisi pertama dilakukan tiga puluh tahun lalu, kemudian diulang lima belas tahun setelahnya, lalu diulang kembali dengan pola yang hampir sama, sementara yang berubah hanya nama peserta dan angka di belakang judul kegiatan, apakah yang sebenarnya sedang diwariskan? Semangat akademis atau tradisi mengulang sesuatu yang pernah mendapat tepuk tangan?

     Pertanyaan ini terasa tidak sopan hanya karena terlalu jarang diajukan. Sebab yang terlihat justru suasana yang hangat dan membanggakan. Mahasiswa merasa menjadi bagian dari sejarah. Kampus merasa sedang menjalankan misi besar. Masyarakat ikut bangga melihat generasi muda menghormati warisan leluhurnya. Semua orang tampak puas. Semua orang bertepuk tangan.

     Dan tepuk tangan memang memiliki kemampuan yang luar biasa. Ia sering kali membuat manusia lupa bertanya.

     Tidak ada yang salah dengan napak tilas sejarah. Tidak ada yang salah dengan pelayaran budaya. Tidak ada yang salah dengan petualangan yang mengubah cara pandang seseorang terhadap hidup. Semua itu baik. Yang terasa mengganggu justru kebutuhan untuk menyebutnya akademis, seolah pengalaman tidak cukup bernilai jika tidak mengenakan jas ilmiah.

     Ini seperti membangun panggung jazz yang megah, lengkap dengan pencahayaan artistik, poster tokoh-tokoh besar, dan suasana yang intelektual. Ketika pertunjukan dimulai, ternyata yang dimainkan adalah dangdut koplo yang riuh dan menghibur. Penonton menari dengan gembira. Tidak ada yang salah dengan musiknya. Bahkan banyak yang pulang dengan perasaan bahagia. Tetapi tetap ada satu keganjilan yang tidak dapat dihapus: mengapa harus disebut jazz?

     Begitulah kira-kira perasaan yang muncul ketika sebuah kegiatan yang kaya pengalaman tetapi miskin pertanyaan tetap bersikeras menyebut dirinya akademis. Seolah kata itu dapat diwariskan seperti nama keluarga. Seolah semangat ilmiah dapat dipindahkan begitu saja hanya karena kegiatan tersebut dilakukan oleh mahasiswa dan mendapat pengakuan dari kampus.

     Padahal ilmu tidak pernah bekerja seperti itu.

     Ia tidak mengenal penghormatan kepada kenyamanan. Ia tidak tumbuh karena rasa bangga. Ia bahkan tidak terlalu peduli pada tradisi jika tradisi itu berhenti bertanya. Ilmu bergerak ke depan dengan cara yang kadang kejam: ia menggugat, mengoreksi, dan jika perlu menghancurkan keyakinan yang telah lama diterima.

     Ironisnya, kegiatan yang mengaku mengikuti nenek moyang pelaut justru tampak mengabaikan sifat paling penting dari para pelaut itu sendiri. Mereka tidak dikenang karena mengikuti jalur yang telah tersedia. Mereka dikenang karena berani memasuki wilayah yang belum diketahui. Mereka berlayar bukan untuk membuktikan bahwa dunia sesuai dengan keyakinannya, tetapi untuk mengetahui apakah keyakinannya memang sesuai dengan dunia.

     Barangkali itulah sebabnya ada gagasan yang terasa jauh lebih hidup: bukan mengulang pelayaran lama, tetapi menciptakan pelayaran baru. Bukan sekadar mengikuti rute yang diwariskan, melainkan berlayar membawa pertanyaan zaman sendiri, mengumpulkan data baru, berkolaborasi dengan dunia, menguji keyakinan, bahkan jika perlu pulang dengan kesimpulan yang menghancurkan asumsi awal. Bukankah itu jauh lebih dekat dengan semangat seorang pelaut? Bukankah itu lebih jujur untuk disebut akademis?

     Sayangnya, manusia memang memiliki hubungan yang rumit dengan ketidakpastian. Mereka mengagumi para penjelajah, tetapi tidak selalu ingin menjadi penjelajah. Mereka memuji keberanian, tetapi lebih nyaman mengulang keberanian orang lain. Mereka bangga menyebut nenek moyangnya seorang pelaut, tetapi lebih memilih berlayar di laut yang sudah dipetakan.

     Dan mungkin, tanpa disadari, itulah ironi terbesar dari semuanya: semangat eksplorasi perlahan berubah menjadi seremoni eksplorasi, sementara kata akademis berdiri di atasnya seperti papan nama yang megah, mengundang kekaguman banyak orang, meskipun isi bangunannya sudah lama berhenti menjadi rumah bagi pertanyaan.

Manusia mengagumi para penjelajah, tetapi tidak selalu ingin menjadi penjelajah. Mereka memuji keberanian, tetapi lebih nyaman mengulang keberanian or

Posting Komentar

...

[blogger][facebook]

Author Name

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.