Menipu Tuhan dengan Dress Code

     Ada kebiasaan aneh yang tampaknya bertahan sangat lama dalam sejarah manusia. Kita suka mengukur sesuatu yang rumit dengan alat yang sederhana. Kecerdasan diukur dengan gelar. Kehormatan diukur dengan jabatan. Kesuksesan diukur dengan saldo rekening. Dan moralitas, entah sejak kapan, sering diukur dari pakaian, simbol, serta frekuensi seseorang mengunjungi rumah ibadah.

     Mungkin karena moralitas terlalu merepotkan untuk diamati secara langsung.

     Jauh lebih mudah menghitung panjang jubah daripada panjang daftar orang yang pernah ditolong. Lebih praktis menghitung jumlah doa daripada jumlah luka yang pernah disembuhkan. Lebih sederhana menilai seseorang dari penampilan lahiriah daripada mengamati bagaimana ia memperlakukan pelayan restoran, tetangga miskin, seekor kucing kelaparan, atau pohon yang berdiri diam di depan rumahnya.

     Maka lahirlah sebuah industri sosial yang sangat efisien: industri penampilan moral.

     Di dalam industri ini, manusia berlomba-lomba terlihat baik tanpa harus bersusah payah menjadi baik.

     Orang-orang belajar bahasa kesalehan sebelum belajar bahasa kemanusiaan. Mereka hafal tata cara memberi salam, tetapi lupa cara mendengarkan. Mereka memahami aturan tentang makanan yang masuk ke mulut, tetapi kurang peduli pada kata-kata yang keluar dari mulut. Mereka menghabiskan energi untuk mengawasi pakaian orang lain, seolah-olah keburukan dapat dijahit pada kain dan kebaikan dapat dibeli di toko busana.

     Padahal seorang penipu tetap dapat mengenakan pakaian yang paling terhormat. Seorang koruptor tetap dapat berdoa dengan sangat khusyuk. Seorang pembohong tetap dapat menghafal ribuan kalimat suci. Alam semesta tampaknya tidak pernah membuat hubungan otomatis antara penampilan religius dan kualitas karakter.

     Tentu saja ritual bukan sesuatu yang buruk. Ritual bisa menjadi latihan. Sama seperti seseorang berlatih memainkan alat musik, berlatih bela diri, atau berlatih mengendalikan napas. Masalah muncul ketika latihan mulai dianggap sebagai tujuan.

     Seorang tentara yang disiplin belum tentu bijaksana. Seorang atlet yang tekun belum tentu penuh kasih. Dan seseorang yang rajin menjalankan ritual belum tentu memiliki jiwa yang lembut.

     Disiplin adalah kemampuan mengulang sesuatu. Moralitas adalah kemampuan merasakan keberadaan makhluk lain sebagai sesuatu yang penting.

     Keduanya tidak selalu berjalan beriringan.

     Ironinya, banyak orang lebih takut terlambat menjalankan ritual daripada terlambat meminta maaf. Mereka lebih cemas melanggar aturan seremonial daripada melukai hati sesama. Mereka lebih sibuk menjaga kesucian simbol daripada menjaga kebersihan perilaku.

     Seolah-olah surga memiliki petugas administrasi yang hanya menghitung absensi.

     Barangkali moralitas sesungguhnya jauh lebih membosankan sekaligus lebih sulit daripada yang dibayangkan. Ia tidak bersinar di panggung. Ia tidak selalu mengenakan pakaian khusus. Ia tidak selalu berbicara dengan bahasa yang agung.

     Kadang moralitas hanya berupa kemampuan menahan diri agar tidak menghina orang lain ketika memiliki kesempatan. Kadang berupa kesediaan membantu tanpa diketahui siapa pun. Kadang berupa rasa hormat terhadap seekor hewan, sebatang pohon, atau seorang manusia yang tidak mampu membalas kebaikan kita.

     Dan mungkin di situlah letak kesulitannya.

     Ritual mudah dihitung. Penampilan mudah difoto. Simbol mudah dipamerkan. Tetapi kehalusan jiwa tidak memiliki seragam.

     Barangkali Tuhan memang tidak pernah tertarik pada pakaian yang kita kenakan. Yang sejak awal ingin Ia lihat hanyalah apa yang kita lakukan ketika tidak ada seorang pun yang sedang melihat.

Banyak orang lebih takut terlambat menjalankan ritual daripada terlambat meminta maaf. Mereka lebih cemas melanggar aturan seremonial daripada melukai

Posting Komentar

...

[blogger][facebook]

Author Name

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.