Jumlah sebagai Argumen

     Di negeri ini, kebodohan memiliki perjalanan karier yang jauh lebih menjanjikan daripada kecerdasan.

     Seorang idiot yang duduk sendirian di warung kopi biasanya hanya menjadi bahan candaan. Ia berbicara tentang hal-hal yang tidak dipahaminya, mencampuradukkan fakta dengan gosip, lalu pulang sebelum magrib. Kerusakan yang ditimbulkannya terbatas pada beberapa gelas kopi dan satu-dua orang yang kehilangan selera makan.

     Tetapi sejarah tidak dibentuk oleh satu orang idiot. Sejarah dibentuk ketika ribuan orang idiot menemukan satu sama lain, saling mengangguk, lalu membentuk organisasi lengkap dengan spanduk, logo, yel-yel, dan seragam warna-warni. Pada titik itu kebodohan berhenti menjadi masalah pribadi. Ia memperoleh sekretariat.

     Indonesia adalah laboratorium yang subur bagi metamorfosis semacam ini. Di musim pemilu, misalnya, orang-orang yang lima tahun tidak pernah membaca satu lembar laporan anggaran tiba-tiba berubah menjadi pakar ekonomi. Mereka menjelaskan utang negara dengan keyakinan seorang profesor, meskipun masih bingung membedakan bunga bank dengan bunga melati. Mereka berbicara tentang geopolitik dunia sambil gagal menunjukkan letak Yaman di peta.

     Yang lebih mengagumkan, semakin sedikit pengetahuan seseorang, semakin tinggi volumenya. Seolah-olah mikrofon politik memiliki fitur otomatis: semakin kosong isi kepala, semakin keras suara yang keluar.

     Di tengah keramaian itu, para politisi berjalan seperti pedagang berpengalaman di pasar malam. Mereka tidak menjual solusi. Solusi terlalu rumit. Mereka menjual kemarahan, kebanggaan, ketakutan, dan harapan instan. Barang-barang tersebut jauh lebih laku. Rakyat tidak lagi diperlakukan sebagai warga negara yang berpikir, melainkan sebagai pelanggan emosi.

     Setiap kubu lalu menciptakan mitologi masing-masing. Kubu pertama yakin semua masalah berasal dari kubu kedua. Kubu kedua yakin semua masalah berasal dari kubu pertama. Sementara jalan berlubang tetap berlubang, sungai tetap membawa sampah ke laut, sekolah tetap kekurangan buku, dan rumah sakit tetap penuh antrean. Kenyataan berdiri di sudut ruangan seperti tamu yang tidak diundang.

     Keindahan demokrasi kita terletak pada kemampuannya mengubah hal-hal biasa menjadi pertunjukan raksasa. Korupsi miliaran rupiah tidak lagi mengejutkan. Ia hanya menjadi episode baru dalam serial yang sudah berjalan terlalu lama. Yang menghebohkan justru siapa yang membocorkan, siapa yang membela, siapa yang menyerang, dan siapa yang mendapat jatah tampil di televisi malam itu.

     Bahkan pendidikan kadang ikut berperan dalam sandiwara ini. Gelar akademik berjejer seperti medali perang, tetapi sering kali hanya berfungsi sebagai dekorasi. Orang-orang mengutip penelitian yang tidak pernah dibaca dan mengagungkan ilmu yang tidak pernah dipahami. Di ruang publik, kebenaran tidak selalu menang oleh argumen. Kadang ia kalah oleh jumlah pengeras suara.

One idiot is one idiot.
Two idiots are two idiots.
Ten thousand idiots are a political party
.
~Leo Longanesi~

     Longanesi tampaknya memahami sesuatu yang sering kita lupakan. Bahaya terbesar bukanlah keberadaan orang bodoh. Sejak manusia mengenal api, mereka selalu ada. Bahaya terbesar adalah ketika kebodohan memperoleh legitimasi kolektif. Ketika tepuk tangan dianggap bukti kebenaran. Ketika jumlah pengikut dianggap ukuran kualitas gagasan. Ketika kerumunan diperlakukan sebagai pengganti akal sehat.

     Lihatlah gunung setelah musim hujan. Longsor tidak terjadi karena satu butir tanah. Ia terjadi karena jutaan butir tanah bergerak bersamaan. Sungai tidak meluap karena satu tetes air. Ia meluap karena miliaran tetes berkumpul dan kehilangan kendali. Kebodohan politik bekerja dengan cara yang sama. Sendirian ia lucu. Berkelompok ia menjadi bencana alam.

     Namun esai ini bukan tentang mereka. Terlalu mudah menertawakan orang lain. Longanesi yang gemar menguliti kemunafikan barangkali justru akan bertanya lebih dulu: ketika kita tertawa melihat kebodohan massa, apakah kita benar-benar berdiri di luar kerumunan itu?

     Sebab dalam politik, hampir semua orang merasa dirinya penonton yang cerdas. Tidak banyak yang curiga bahwa mungkin, hanya mungkin, mereka juga bagian dari paduan suara.

     Dan sejarah memiliki selera humor yang kejam. Ia sering memperlihatkan bahwa kelompok yang paling bersemangat meneriakkan kata "idiot" kepada lawannya, sering kali hanyalah idiot yang berhasil menemukan mikrofon lebih dulu.

Yang mengagumkan, Semakin sedikit pengetahuan seseorang, semakin tinggi volumenya. Semakin kosong isi kepala, semakin keras suara yang keluar.

Posting Komentar

...

[blogger][facebook]

Author Name

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.