Banyak orang ingin setajam pisau. Mereka mengagumi ketegasan, kecerdasan, dan ketangkasan berpikir. Mereka memuji orang-orang yang mampu membelah persoalan rumit seperti mata pisau membelah serat bambu. Namun anehnya, ketika tiba waktunya diasah oleh kritik, dipertentangkan oleh argumen, atau digesek oleh kenyataan yang tidak ramah, mereka segera menyimpan diri ke dalam sarung. Pisau yang terlalu lama disimpan memang tidak akan berkarat oleh gesekan. Ia hanya akan berkarat oleh waktu.
Banyak pula yang ingin seharum cendana. Mereka ingin dihormati, dikenang, dan menjadi sumber keteduhan bagi orang lain. Nama mereka ingin disebut dengan senyum, bahkan ketika mereka sudah lama pergi. Sayangnya, cendana memiliki kebiasaan buruk yang sulit ditoleransi zaman modern: ia baru mengeluarkan harum terbaiknya ketika dibakar. Sementara kita hidup dalam masa ketika orang ingin aroma tanpa api, hasil tanpa risiko, dan penghormatan tanpa pengorbanan. Kita menginginkan wangi yang bisa dicicil tiga bulan tanpa bunga.
Maka lahirlah generasi yang rajin mengikuti seminar tentang kesuksesan, tetapi alergi terhadap kesulitan. Mereka berkelana dari satu motivator ke motivator lain seperti wisatawan yang berpindah-pindah gunung demi berfoto di puncak, sambil berharap tidak perlu mendaki. Kalau memungkinkan, gununglah yang turun menghampiri mereka.
Padahal gunung tidak pernah punya sopan santun semacam itu.
Gunung tetap berdiri dengan lereng yang curam. Sungai tetap mengikis batu sedikit demi sedikit selama ratusan tahun. Gua tetap gelap bagi siapa pun yang ingin melihat kedalamannya. Alam tidak pernah mengenal fasilitas "skip process". Tidak ada air terjun yang lahir langsung di hilir. Tidak ada stalaktit yang tumbuh dalam semalam. Bahkan batu yang tampak diam pun sesungguhnya sedang menjalani perjalanan panjang yang tidak pernah diumumkan melalui media sosial.
Di situlah masalah manusia menjadi lebih menarik.
Banyak orang mengira hidup mereka tidak berkembang karena kurang kesempatan. Sebagian menyalahkan nasib. Sebagian lagi menyalahkan pemerintah, ekonomi global, algoritma, zodiak, cuaca, bahkan posisi planet yang entah sedang rapat koordinasi dengan siapa. Namun ketika lapisan demi lapisan alasan itu dikupas, sering kali ditemukan sesuatu yang jauh lebih sederhana dan jauh lebih tidak nyaman: mereka sebenarnya tidak pernah memilih.
Mereka hanya mengikuti arus.
Mereka sekolah karena semua orang sekolah. Mereka bekerja karena semua orang bekerja. Mereka marah karena semua orang marah. Mereka mendukung sesuatu karena lingkungan mereka mendukungnya. Bahkan pendapat yang mereka anggap paling pribadi sering kali hanyalah gema yang dipantulkan berkali-kali oleh ruangan yang sama.
Seekor ikan di sungai setidaknya tahu bahwa ia sedang terbawa arus. Manusia lebih istimewa. Ia bisa hanyut selama puluhan tahun sambil menyebutnya kebebasan.
Di sinilah kalimat tentang hidup yang tidak dipilih menjadi jauh lebih mengganggu daripada kisah pisau atau cendana. Pada pisau, kita tahu letak keengganannya. Ia tidak mau diasah. Pada cendana, kita tahu letak ketakutannya. Ia tidak mau dibakar.
Tetapi pada hidup yang tidak dipilih, keengganannya bersembunyi dengan sangat rapi.
Orang bangun pagi, berangkat kerja, pulang sore, mengeluh sebentar, tidur, lalu mengulanginya lagi selama puluhan tahun. Sesekali ia menatap foto pegunungan yang dipasang sebagai wallpaper ponsel dan berkata bahwa dirinya mencintai petualangan. Sesekali ia membaca kisah para penjelajah gua dan merasa jiwanya bebas. Sesekali ia memandangi sungai dan berbicara tentang keberanian mengikuti panggilan hidup.
Lalu alarm berbunyi esok pagi, dan semua pemikiran itu dikembalikan ke laci yang sama tempat mimpi-mimpi lama disimpan.
Tidak semua orang harus mendaki gunung. Tidak semua orang harus mengarungi sungai liar atau masuk ke gua yang gelap. Yang menjadi persoalan bukanlah pilihan jalannya, melainkan kenyataan bahwa banyak orang tidak pernah benar-benar memilih jalan apa pun. Mereka sekadar berjalan di jalur yang kebetulan sudah dipadatkan oleh jutaan kaki sebelum mereka.
Mungkin itulah ironi terbesar manusia modern. Kita hidup di zaman yang terus meneriakkan kebebasan, tetapi begitu banyak orang takut menggunakan kebebasan itu untuk menentukan arah hidupnya sendiri. Kita ingin menjadi pisau tanpa diasah, ingin menjadi cendana tanpa dibakar, ingin mencapai puncak tanpa mendaki, dan ingin menemukan diri sendiri tanpa pernah berani tersesat.
Kemudian ketika usia mulai senja dan jalan di belakang terlihat lebih panjang daripada jalan di depan, muncul pertanyaan yang datang terlambat seperti gema dari dasar sebuah gua:
Apakah aku gagal mencapai hidup yang kuinginkan, atau sebenarnya aku tidak pernah sungguh-sungguh memilihnya?

Posting Komentar
...