Jean-Paul Sartre berpendapat bahwa manusia tidak bisa lari dari kebebasan memilih. Bahkan ketika seseorang berkata, "Saya ikut saja arusnya," ia tetap sedang memilih untuk mengikuti arus. Ketika seseorang menyerahkan hidupnya kepada tradisi, keluarga, agama, negara, pasar, atau kebiasaan, penyerahan itu sendiri adalah sebuah pilihan.
Namun, apakah manusia sungguh merasakan kebebasan itu?
Saya kira tidak selalu.
Sebagian besar manusia tidak bangun setiap pagi dengan kesadaran eksistensial yang dramatis. Mereka tidak berdiri di depan cermin sambil bertanya, "Apa yang akan saya jadikan diri saya hari ini?" Mereka bangun, bekerja, makan, pulang, tidur, dan mengulanginya. Hidup terasa seperti sesuatu yang sudah tersedia, bukan sesuatu yang harus diciptakan.
Di sinilah mungkin Sartre akan berbeda dengan pengalaman sehari-hari kebanyakan orang. Secara filosofis, manusia memang bebas. Namun secara psikologis, sosial, dan budaya, manusia sering kali tidak merasakan kebebasan itu.
Seorang anak lahir di sebuah keluarga, menerima bahasa tertentu, agama tertentu, nilai tertentu, cara berpikir tertentu. Sebelum ia mampu berpikir kritis, ribuan asumsi telah ditanamkan ke dalam dirinya. Ia belajar apa yang dianggap normal, apa yang dianggap memalukan, apa yang dianggap sukses, apa yang dianggap gagal. Sebagian besar dari perangkat itu diterima begitu saja, seperti ikan yang tidak menyadari keberadaan air tempat ia berenang.
Maka banyak orang tidak merasa sedang memilih. Mereka merasa hanya sedang menjalani hidup.
Yang menarik, filsafat eksistensial justru dimulai ketika retakan pertama muncul pada perasaan itu. Mungkin karena kegagalan, kehilangan, kematian orang tercinta, kebangkrutan, perpindahan kota, atau sekadar malam panjang ketika seseorang tiba-tiba bertanya: "Mengapa saya hidup seperti ini?"
Pertanyaan itu tampak sederhana, tetapi sebenarnya berbahaya. Karena begitu seseorang menyadari bahwa sebagian besar hidupnya dibentuk oleh warisan, lingkungan, dan kebiasaan, ia mulai melihat kemungkinan bahwa hidup bisa berbeda.
Dan di situlah rasa pusing eksistensial muncul.
Sebelumnya ia seperti penumpang kapal yang tidur. Tiba-tiba ia terbangun dan menemukan bahwa kemudi ternyata tidak terkunci. Lebih mengganggu lagi, tidak ada kapten yang benar-benar bisa mengambil alih tanggung jawab itu darinya.
Namun saya juga tidak sepenuhnya setuju dengan sebagian eksistensialis yang seolah menganggap manusia sebagai makhluk yang berdiri sendirian di ruang kosong lalu bebas menentukan segalanya. Kita tidak pernah memulai dari nol. Kita lahir di tengah sejarah, budaya, ekonomi, genetika, dan kebetulan-kebetulan yang tidak kita pilih.
Kebebasan manusia mungkin bukan kebebasan untuk memilih kartu yang dibagikan kepada kita. Kebebasan lebih mirip kemampuan menentukan bagaimana memainkan kartu tersebut.
Seorang petani di desa terpencil, seorang buruh pabrik, seorang profesor, dan seorang presiden tidak memiliki ruang pilihan yang sama. Namun masing-masing masih memiliki ruang tertentu untuk berkata "ya" atau "tidak" terhadap hidupnya.
Karena itu saya curiga bahwa sebagian besar manusia memang tidak menyadari kebebasannya. Mereka hidup di dalam peta yang diwariskan dan menganggap peta itu sebagai seluruh dunia. Mereka mengira sedang mengikuti alam, padahal sering kali mereka hanya mengikuti kebiasaan. Mereka mengira sedang mengikuti takdir, padahal kadang hanya mengikuti ketakutan.
Akan tetapi, ketidaksadaran terhadap kebebasan tidak berarti kebebasan itu hilang.
Seperti seseorang yang mewarisi sebidang tanah luas tetapi tidak pernah berjalan melewati pagar rumahnya. Ia mungkin hidup dan mati tanpa mengetahui bahwa ada lembah, sungai, dan pegunungan di luar sana. Tanah itu tetap miliknya, hanya saja ia tidak pernah menyadarinya.
Mungkin tragedi terbesar manusia bukanlah bahwa ia bebas. Mungkin tragedi terbesar adalah bahwa banyak manusia tidak pernah tahu bahwa mereka bebas, sehingga sepanjang hidup mereka mengira sedang berjalan di jalan yang sudah ditentukan, padahal di banyak persimpangan mereka sebenarnya bisa memilih arah lain.

Posting Komentar
...