Kebodohan yang Terakreditasi

     Ada ironi yang menarik di sini. Banyak masyarakat modern mengaku menghargai kecerdasan, tetapi yang sebenarnya mereka ukur sering kali bukan kecerdasan, melainkan sertifikat. Kita hidup di zaman ketika selembar ijazah sering diperlakukan seperti surat keterangan bahwa pemiliknya telah memenangkan perlombaan berpikir.

     Padahal sekolah dan kecerdasan adalah dua hal yang bertaut, tetapi tidak identik. Sekolah adalah institusi. Kecerdasan adalah kapasitas. Sekolah dapat membantu mengembangkan kecerdasan, tetapi tidak otomatis menciptakannya. Sama seperti memiliki kartu anggota perpustakaan tidak otomatis membuat seseorang gemar membaca.

     Karena itu, kritik terhadap pemujaan gelar sebenarnya bukan hal baru. Banyak ilmuwan, pengusaha, seniman, dan filsuf telah mengatakannya dalam berbagai bentuk. Ketika Elon Musk mengatakan bahwa gelar tidak selalu mencerminkan kemampuan, sebagian orang mengangguk sambil berpikir, "Ya, masuk akal." Tetapi bayangkan kalimat yang sama keluar dari mulut tukang las, petani, sopir angkot, atau pedagang kaki lima. Tiba-tiba kalimat itu berubah status menjadi "alasan orang gagal sekolah untuk menghibur diri."

     Yang berubah bukan isi argumennya. Yang berubah adalah siapa yang mengucapkannya.

     Di situlah kadang kita menemukan bentuk hierarki yang lebih halus daripada sekadar kelas ekonomi. Bukan lagi "siapa yang benar," melainkan "siapa yang berhak dianggap benar." Sebuah gagasan sering dinilai berdasarkan status sosial pembawanya, bukan berdasarkan kekuatan logikanya.

     Tentu saja, ada alasan mengapa pendidikan formal dihargai. Secara statistik, tingkat pendidikan yang lebih tinggi memang sering berkorelasi dengan pendapatan yang lebih tinggi, keterampilan yang lebih baik, dan peluang yang lebih luas. Korelasi itu nyata. Masalah muncul ketika korelasi diam-diam berubah menjadi identitas.

     Seorang sarjana bisa sangat cerdas. Seorang sarjana juga bisa sangat bodoh. Kedua pernyataan itu dapat benar pada waktu yang sama.

     Kita semua pernah bertemu orang dengan gelar panjang yang tidak mampu membedakan informasi dan propaganda, yang mudah termakan hoaks, yang memandang rendah profesi lain, atau yang tidak mampu mendengarkan argumen sederhana tanpa merasa statusnya terancam. Kita juga pernah bertemu orang yang tidak tamat sekolah tetapi mampu membaca situasi sosial dengan tajam, menyelesaikan masalah rumit secara praktis, mengelola usaha, memahami manusia, bahkan mengajarkan kebijaksanaan yang tidak ditemukan di ruang kuliah.

     Masalahnya, masyarakat sering mencampuradukkan empat hal yang berbeda: pendidikan, kecerdasan, kompetensi, dan penghasilan. Akibatnya lahirlah rumus tak tertulis yang kira-kira berbunyi:

     "Jika sekolah tinggi, berarti pintar. Jika pintar, berarti sukses. Jika sukses, berarti pendapatnya lebih bernilai."

     Rumusan itu nyaman karena sederhana. Dan seperti banyak hal yang terlalu sederhana, ia sering menyesatkan.

     Yang lebih lucu lagi, orang yang percaya bahwa kecerdasan hanya bisa diukur dari ijazah sering lupa bahwa seluruh sejarah peradaban dibangun oleh manusia yang terus-menerus mempertanyakan otoritas. Kalau semua orang hanya percaya kepada stempel resmi, mungkin roda tidak pernah ditemukan karena penciptanya belum memperoleh sertifikasi sebagai ahli perputaran benda.

     Pada akhirnya, sekolah adalah alat yang sangat berharga. Tidak perlu diremehkan. Namun menjadikan sekolah sebagai satu-satunya ukuran kecerdasan sama kelirunya dengan menilai kualitas buku dari ketebalan sampulnya. Kadang sebuah rak penuh gelar hanya berisi kesombongan yang tersusun rapi. Kadang kebijaksanaan justru duduk di warung kopi, mengenakan sandal jepit, tanpa pernah sekali pun mencetak kartu nama akademik.

     Dan dunia memiliki kebiasaan yang aneh: ia sering memberi penghargaan lebih besar kepada orang yang mampu membuktikan dirinya lewat ijazah. Itu wajar. Yang tidak wajar adalah ketika penghargaan itu berubah menjadi keyakinan bahwa manusia lain yang jalurnya berbeda otomatis lebih rendah kapasitas berpikirnya.

     Sebab sejarah berkali-kali menunjukkan satu kenyataan yang tidak sopan: kebodohan tidak mengenal batas tingkat pendidikan. Ia bisa tinggal di mana saja, bahkan di balik gelar yang dicetak dengan tinta emas.

Ada kenyataan yang tidak sopan: kebodohan tidak mengenal batas tingkat pendidikan. Ia bisa tinggal di mana saja, bahkan di balik gelar yang dicetak d

Posting Komentar

...

[blogger][facebook]

Author Name

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.