Menelisik Kelahiran Cinta

     Ada keinginan yang agak kekanak-kanakan, tetapi sangat manusiawi: menunjuk satu titik di masa lalu, lalu berkata dengan penuh keyakinan—di sinilah cinta pertama kali lahir. Seolah ia seperti kerajaan yang punya tanggal berdiri, atau seperti kota yang bisa dilacak fondasinya. Namun cinta menolak disiplin semacam itu. Ia tidak datang dengan deklarasi, tidak meninggalkan prasasti. Ia lebih mirip kabut yang turun pelan di pagi hari—sudah ada sebelum kita membuka mata, dan tetap ada bahkan ketika kita tidak lagi mencoba memahaminya.

     Jika kita mundur jauh, ke masa ketika Homo sapiens belum mengenal puisi dan bahasa masih berupa isyarat kasar yang belum menemukan irama, yang ada hanyalah keterikatan yang sederhana namun mendasar. Seekor induk yang tidak meninggalkan anaknya, bukan karena moral, tetapi karena sesuatu di dalam tubuhnya menolak untuk pergi. Dua individu yang tinggal sedikit lebih lama setelah pertemuan tubuh, seolah ada alasan samar yang belum bisa dijelaskan.

     Dalam bahasa biologi, itu strategi. Dalam bahasa kita hari ini, itu mulai terasa seperti sesuatu yang lebih halus—benih awal dari apa yang kelak kita sebut cinta.

     Namun di titik ini, penting untuk jujur: tubuh mengetahui keinginan jauh lebih awal daripada pikiran mampu menamainya. “Cinta” sebagai konsep—sesuatu yang ditulis, dinyanyikan, diperdebatkan—datang belakangan, seperti penjelasan yang mencoba menyusul pengalaman yang sudah lebih dulu terjadi.

     Pada fase awal kehidupan manusia, banyak antropolog melihat struktur sosial yang jauh lebih cair daripada yang kita kenal hari ini. Bukan dunia yang rapi dengan peran yang kaku, melainkan jaringan relasi yang lentur. Garis keturunan sering kali lebih jelas ditarik melalui ibu, bukan karena ideologi, tetapi karena kepastian biologis yang sederhana. Dalam lanskap seperti ini, relasi seksual tidak selalu terikat pada satu pasangan. Apa yang kemudian kita sebut polyandri atau relasi multipartner bukanlah penyimpangan, melainkan variasi dari cara manusia hidup bersama.

     Di sana, keterikatan tidak terpusat pada satu orang. Ia menyebar—ke anak, ke kelompok, ke keberlangsungan hidup bersama. Tidak ada sumpah eksklusif yang diucapkan dengan suara bergetar. Tidak ada balkon tempat dua remaja bersumpah akan mati bersama. Bahkan belum ada gagasan bahwa seseorang bisa memilih satu orang “di atas semua yang lain.”

     Lalu waktu bergerak, seperti air yang perlahan mengikis batu tanpa suara.

     Ketika manusia mulai menetap, menanam, dan menyimpan, dunia berubah dengan cara yang tidak dramatis tetapi menentukan. Tanah menjadi milik. Hasil panen menjadi kekayaan. Dan dari sana, muncul sesuatu yang sebelumnya tidak terlalu mendesak: warisan. Siapa yang akan mewarisi ini? Siapa anak siapa?

     Pertanyaan-pertanyaan itu sederhana, tetapi konsekuensinya panjang. Untuk menjawabnya, manusia mulai membangun struktur yang lebih kaku. Di sinilah patriarki menemukan momentumnya—bukan semata sebagai ambisi kekuasaan, tetapi sebagai jawaban atas kebutuhan akan kepastian dalam sistem yang mulai kompleks.

     Dalam logika ini, poligami menjadi masuk akal. Seorang laki-laki dengan sumber daya dapat memiliki lebih dari satu pasangan, memastikan keturunan dan memperluas jaringan. Perempuan dikaitkan dengan stabilitas reproduksi, sementara pernikahan menjadi lebih dekat ke kontrak daripada peristiwa emosional.

     Cinta, dalam banyak kasus, bukan syarat. Ia bisa hadir, tetapi tidak diperlukan.

     Namun manusia tidak pernah sepenuhnya patuh pada struktur yang ia bangun sendiri.

     Di tengah sistem yang tampak rasional itu, perasaan tetap menyusup, seperti air yang menemukan celah di dinding. Plato berbicara tentang eros sebagai kerinduan jiwa, sesuatu yang melampaui tubuh dan mengarah pada keindahan yang lebih tinggi. Di India kuno, teks seperti Kama Sutra tidak hanya membahas teknik, tetapi juga rasa, estetika, dan kehalusan relasi. Dalam tradisi Arab, puisi-puisi cinta beredar seperti rahasia yang tidak bisa dibungkam, bahkan ketika norma mencoba merapikannya.

     Artinya, bahkan ketika cinta tidak menjadi fondasi institusi, ia tetap hidup sebagai pengalaman personal—liar, tidak sepenuhnya bisa diatur, dan sering kali muncul justru di tempat-tempat yang mencoba menahannya.

     Kemudian, di Eropa abad pertengahan, sesuatu yang agak aneh tumbuh: courtly love. Para ksatria mencintai perempuan yang bukan istri mereka—cinta yang ideal, sering kali tidak tersentuh, bahkan tidak harus terwujud. Cinta mulai dipisahkan dari pernikahan. Ia menjadi permainan simbol, menjadi estetika, bahkan hampir menyerupai praktik spiritual yang penuh pengabdian.

     Dan lalu William Shakespeare datang, bukan sebagai pencipta cinta romantis, tetapi sebagai penyulingnya menjadi bentuk yang paling tajam dan tak terlupakan.

     Romeo dan Juliet bukan awal dari cinta romantis. Ia adalah ledakan dari sesuatu yang telah lama mengendap di bawah permukaan sejarah. Yang baru bukan perasaannya, tetapi keberaniannya: menempatkan cinta di atas segalanya—di atas keluarga, di atas norma, bahkan di atas hidup itu sendiri.

     Sejak itu, dunia seperti terlanjur percaya bahwa cinta harus seperti itu: intens, eksklusif, dan jika perlu, tragis. Seolah cinta yang tidak mengguncang bukanlah cinta yang layak disebut.

     Padahal, jika dilihat dari jarak yang lebih jujur, itu adalah konstruksi yang relatif muda dibanding usia manusia sebagai spesies.

     Hari ini, kita hidup di antara semua lapisan itu sekaligus. Tubuh kita masih membawa jejak purba—hasrat yang tiba-tiba, kecemburuan yang sulit dijelaskan, kebutuhan akan keterikatan. Sistem sosial kita masih menyimpan sisa-sisa struktur lama—norma, kontrak, ekspektasi yang kadang terasa usang tetapi belum sepenuhnya hilang. Sementara imajinasi kita telah dibentuk oleh ratusan tahun cerita yang menuntut cinta untuk menjadi pusat segalanya.

     Tidak heran jika cinta terasa membingungkan. Kita mencintai dengan tubuh yang kuno, hidup dalam dunia yang setengah berubah, dan bermimpi dengan standar yang sering kali terlalu tinggi untuk kenyataan yang kita jalani.

     Maka mungkin pertanyaan “sejak kapan cinta ada?” perlu sedikit digeser, bukan dijawab secara langsung.

     Cinta sebagai dorongan—sudah setua kehidupan itu sendiri, hadir dalam bentuk paling dasar dari keterikatan.
      Cinta sebagai pilihan eksklusif—lahir bersama struktur sosial yang menuntut kepastian dan kepemilikan.
      Cinta sebagai drama agung—itu warisan yang lebih muda, tetapi dampaknya begitu dalam hingga kita merasa tanpanya hidup menjadi pucat.

     Dan di tengah semua itu, manusia terus mengulang ritual yang sama, dari zaman ke zaman: bertemu, merasa, terikat. Berharap bahwa apa yang terjadi di dalam dirinya lebih dari sekadar mekanisme yang bisa dijelaskan.

     Meski, jauh di dalam, ada kesadaran yang tidak pernah benar-benar hilang—bahwa api itu pertama kali dinyalakan oleh sesuatu yang sangat sederhana.

     Sesuatu yang, anehnya, tetap tidak kehilangan keajaibannya meskipun kita tahu cara kerjanya.   (part 2 of 5)


Kita mencintai dengan tubuh yang kuno, hidup dalam dunia yang setengah berubah, dan bermimpi dengan standar yang sering kali terlalu tinggi untuk ke..

Posting Komentar

...

[blogger][facebook]

Author Name

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.