Pemikir yang Terhormat — atau Mungkin Terkutuk

Kepada para pemikir yang terhormat — atau mungkin terkutuk — dari segala zaman

     Kami membaca surat kalian, entah di atas kereta listrik, sambil memandangi notifikasi kerja, atau di toilet sambil scroll video kucing. Tidak semuanya kami pahami. Beberapa kata kalian bahkan terlalu panjang untuk ukuran attention span kami yang cuma sepanjang iklan skip 5 detik. Tapi kami mengerti intinya: dunia ini tetap saja absurd, hanya saja sekarang absurditas itu punya fitur auto-refresh.

     Kalian menulis dari penjara, dari ranjang sakit, dari pengasingan. Kami menulis dari coworking space, kafe Instagrammable, atau kamar yang tak pernah sepi dari bunyi notifikasi. Beban kalian adalah penguasa, perang, wabah; beban kami adalah kehabisan baterai dan koneksi internet yang lemot saat rapat online. Bedanya, penderitaan kalian bersejarah. Penderitaan kami—yah, mungkin cuma relevan sampai trending topic berganti.

     Nietzsche, kami tahu kalian bicara soal kehendak untuk berkuasa. Tapi di sini, kehendak itu diukur dari jumlah like, subscriber, dan siapa yang duluan upload konten soal tragedi terbaru. Kierkegaard, kalian bercerita soal lompatan iman. Di sini, yang kami lompati biasanya iklan YouTube atau artikel yang butuh daftar email sebelum dibaca. Camus, kalian bicara tentang Sisyphus dan batu yang harus terus didorong. Kami punya versinya sendiri: menghapus email yang sama besok akan muncul lagi.

     Kami mendengar kalian berbicara dari medan perang. Kami tidak tahu rasanya darah di tangan. Tapi kami tahu bagaimana rasanya berperang di kolom komentar, di mana peluru diganti emoji, dan kuburan diisi akun yang diblokir.

     Mungkin kami generasi yang terlalu cepat menyerah pada kemudahan. Mungkin kalian akan memandang kami sebagai anak-anak manja dengan dunia dalam genggaman, tapi tangan gemetar karena takut kehilangan sinyal. Tapi, hei, bukankah kalian dulu juga sibuk berdebat di meja makan, di kafe, di ruang akademi? Kami hanya memindahkannya ke layar.

     Surat kalian terasa seperti surat cinta yang keras kepala: penuh amarah, penuh pengharapan, penuh luka yang kalian banggakan. Balasan kami adalah bahwa kami mendengar kalian, tapi kami juga sibuk mengedit caption. Kami mengagumi kalian, tapi kami tak mau hidup seperti kalian. Kami ingin keberanian kalian tanpa penderitaan kalian, ingin kedalaman kalian tanpa harus menyelam ke gelapnya sumur.

     Apakah itu mungkin? Kami tak tahu. Mungkin kami akan cari tahu... setelah notifikasi ini selesai.

Salam hangat—dan cepat, sebelum baterai habis.
Generasi Sekarang

baca surat sebelumnya:

Surat kalian terasa seperti surat cinta yang keras kepala: penuh amarah, penuh pengharapan, penuh luka yang kalian banggakan. Balasan kami adalah bahw

Posting Komentar

...

[blogger][facebook]

Author Name

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.