Kami membaca suratmu, anak-anak abad ini. Surat yang datang dengan nada defensif, dibungkus justifikasi moral dari kaca rapuh. Kami mengenal baunya—pernah kami jumpai ratusan tahun lalu: kemarahan yang sesungguhnya adalah rasa takut, keyakinan yang sesungguhnya adalah penyangkalan.
Kalian berkata dunia kini lebih cepat, lebih bebas, lebih terbuka. Kami bertanya: terbuka untuk apa? Untuk kebenaran? Atau hanya untuk impresi tiga detik yang menguap di detik keempat? Kecepatan tidak membuat kalian tiba lebih cepat di tujuan; ia hanya membuat kalian lebih cepat tersesat.
Kalian mengingatkan bahwa zaman kami penuh kemunafikan, penderitaan, dan kehancuran. Benar. Kami tidak menyangkalnya. Tapi kami menghadapinya—dengan pena, dengan pengasingan, dengan roti basi, dengan tubuh yang digerogoti penyakit. Kalian, di sisi lain, menutupinya dengan filter dan emoji, berharap dunia tak mencium busuknya.
Dari sebuah sel sempit di Athena, Sokrates menulis dengan tangan yang gemetar:
"Kalian bilang mencari kebenaran? Lucu. Aku meminum racun demi itu, dan kalian meneguk racun kebodohan dengan sukarela—dari layar di telapak tangan. Kalian takut mati, tapi membunuh waktu setiap hari. Aku diadili karena bertanya, kalian memenjarakan pikiran sendiri tanpa hakim dan tanpa sidang."
Di pengasingan, di antara manuskrip yang tak akan dibaca siapa pun, Spinoza menambahkan:
"Aku diusir karena menolak tunduk pada dogma, sementara kalian mengusir akal sehat dari diri sendiri. Aku mengasah lensa agar pandangan manusia jernih, kalian mengasah algoritma agar semakin kabur. Ironinya—kalian menyebut itu kemajuan."
Dari ranjang sakit di Paris, Voltaire menulis dengan tinta bercampur batuk darah:
"Aku mati demi kebebasan bicara, kalian hidup untuk mengulang kata-kata orang lain. Kalian bicara toleransi, tapi hanya untuk apa yang kalian suka. Telinga kalian tertutup sambil mengklaim pikiran terbuka. Dan ketika sejarah mencoba memperingatkan, kalian menjawab dengan ‘scroll down’."
Di medan perang, Nietzsche—dengan kepala berdenyut dan dunia memudar di matanya—menyuratkan:
"Kalian ingin menghindari penderitaan, padahal penderitaanlah satu-satunya yang bisa membuat kalian lebih dari binatang yang pandai berbelanja. Aku melihat kehancuran Eropa, tapi kalian menghancurkan jiwa sendiri dengan cara lebih efisien—tanpa darah, tanpa peluru, hanya dengan rasa malas."
Dari sel isolasi, Gramsci berbisik lewat huruf-huruf kecil yang diselundupkan:
"Aku dipenjara karena melawan rezim. Kalian bebas, tapi tunduk pada rezim tanpa polisi—cukup memberi hiburan tanpa henti. Aku menulis dari gelap untuk masa depan, kalian duduk di bawah lampu terang tapi memilih menatap kegelapan di layar."
Dari ruang operasi yang berbau obat bius, Simone Weil menggoreskan:
"Aku menolak makan demi solidaritas pada yang lapar, kalian menolak makan demi bentuk tubuh. Aku mencari makna dalam penderitaan, kalian mencari filter yang membuat penderitaan terlihat estetik. Apakah ini kemajuan, atau hanya cara baru menertawakan tragedi?"
Dari gubuk dingin di pegunungan, Camus menulis:
"Aku berbicara tentang absurditas, kalian mewujudkannya. Aku menolak bunuh diri sebagai jawaban, kalian membunuh diri perlahan—bukan dengan pisau, tapi dengan kepasrahan manis pada rutinitas kosong. Dunia ini gila, tapi kalian sudah terlalu nyaman untuk merasa gila."
Dan dari masa depan yang belum terjadi, seorang filsuf yang belum lahir menambahkan:
"Kami sudah berteriak dari abad-abad sebelumnya. Kami menulis dari penjara, pengasingan, sakit, perang—dan kalian tetap lebih takut kehilangan sinyal ketimbang kehilangan kebebasan. Kami bukan marah, hanya lelah menjadi saksi bahwa penderitaan tidak lagi mendewasakan, hanya jadi konten hiburan."
Kalian berbicara tentang “pilihan bebas” sambil dikendalikan oleh algoritma yang mengenal kalian lebih baik dari orang tua kalian. Kami memperjuangkan kebebasan berpikir melawan raja dan gereja; kalian memperjuangkannya melawan notifikasi yang kalian sendiri nyalakan.
Kalian menuduh kami sinis. Sinisme kami lahir dari menyaksikan dunia menyalib mereka yang mencoba berpikir lebih jauh. Sinisme kami adalah darah kering di ujung pena, bukan caption untuk likes.
Kalian berkata punya “suara sendiri”. Baiklah. Tapi suara itu nyaring seperti toa di mal: banyak gema, sedikit makna. Kami tidak menolak kalian berbicara, tapi kami muak pada keyakinan bahwa semua yang terdengar keras pasti penting.
Apakah kami masih punya jawaban? Sama seperti dulu: tidak ada jawaban mudah. Tapi kami setidaknya mengajukan pertanyaan yang membuat penguasa, pemuka, dan pedagang ketakutan. Pertanyaan kalian? Membuat brand tertawa dan investor tersenyum.
Jika surat kami dulu terdengar seperti ejekan dari kuburan, surat ini adalah pengakuan: kami memang mati, tapi mati dengan kepala tegak, melawan monster yang nyata. Kalian hidup sambil bernegosiasi dengan monster yang kalian buat sendiri—dan memberinya akses penuh ke alamat rumah kalian.
Pada akhirnya, kami akan mengangkat gelas—di mana pun kami berada sekarang—bukan untuk kemenangan atau kekalahan kalian, tapi untuk satu pertanyaan yang kami tinggalkan dan kalian belum jawab: "Bagaimana kalian akan tahu bahwa kalian hidup, jika semua yang kalian miliki hanya tanda-tanda kehidupan yang ditayangkan di layar?"

Posting Komentar
...