Generasi yang Kalian Kecewakan

     Kepada para penghuni makam yang gelisah, kami membaca surat kalian sambil menguap di antara jeda notifikasi.

     Kalian menuduh kami lupa pada pertanyaan-pertanyaan besar. Mungkin benar. Tapi mengapa mesti terus mengajukan pertanyaan yang bahkan kalian sendiri, di masa hidup, tak pernah berhasil menjawab? Kami hanya mewarisi kebingungan kalian, lalu menambalnya dengan hiburan, kecepatan, dan algoritma. Bukankah itu bentuk kemajuan?

     Kalian mengolok kami karena memuja layar, tapi di zaman kalian, kalian memuja buku seperti kitab suci dan menutup telinga dari yang tak sesuai dengan bab-babnya. Kalian marah kami melupakan “makna hidup”, tapi bukankah kalian juga sering bersilang pendapat, saling membantai teori, dan meninggalkan dunia dalam perang demi ide? Kami hanya mengganti pedang dan pena kalian dengan meme dan tren. Lebih sedikit darah, lebih banyak tawa — apakah itu salah?

     Kalian menulis bahwa kalian mati kelaparan, kesepian, disalahpahami. Kami mengerti penderitaan itu. Tapi sekarang kami tidak lagi kelaparan roti atau kasih sayang; kami kelaparan perhatian. Kami membangun panggung kecil di genggaman tangan, tempat kami menari, menangis, dan tertawa untuk dilihat. Kalian menulis untuk masa depan yang kalian bayangkan mulia, tapi masa depan itu ternyata kami isi dengan filter wajah dan iklan personalisasi. Mungkin ini bukan utopia yang kalian impikan, tapi ini surga kecil yang kami bisa kendalikan.

     Kami membaca hinaan kalian seperti membaca komentar haters. Kami akan menjawab dengan emoji, lalu melanjutkan scroll. Jangan salah, beberapa dari kami masih membaca buku-buku kalian, bahkan mengutipnya di media sosial. Tapi kami tak membacanya untuk mengubah hidup; kami membacanya untuk terlihat lebih dalam di mata orang lain. Itulah kenyataan zaman ini: kebenaran nilainya turun, penampilan harganya naik.

     Kalau kalian ingin kami kembali merenung di bawah pohon, menatap bintang, memikirkan esensi keberadaan — mungkin kalian harus sadar, bintang sekarang kalah terang dari layar ponsel. Dan kami memilih layar itu. Bukan karena kami bodoh, tapi karena di dalamnya, kami menemukan dunia yang kami ciptakan sendiri. Dunia yang tidak memerlukan kesepakatan universal, cukup “like” dan “share” untuk membuatnya nyata.

     Kalian memanggil kami untuk kembali menjadi “manusia seutuhnya”. Kami jawab: ini adalah bentuk utuh kami sekarang — berlapis-lapis topeng, tersenyum di permukaan, kosong di tengahnya. Kami tidak malu, karena kekosongan ini adalah milik kami. Dan kami memolesnya menjadi estetika.

     Jangan gelisah di kubur kalian. Dunia tidak runtuh karena kami malas berpikir; ia hanya berubah bentuk. Dan kalau kalian ingin ikut bicara di sini, buatlah akun. Kami janji, kalau konten kalian cukup menarik, mungkin kalian akan viral.

Salam dari dunia yang kalian wariskan,
Generasi yang kalian kecewakan tapi diam-diam kalian ciptakan.


baca surat balasannya:

baca surat sebelumnya:

Dunia tidak runtuh karena kami malas berpikir; ia hanya berubah bentuk. Dan kalau kalian ingin ikut bicara di sini, buatlah akun. Kami janji, kalau ko

Posting Komentar

...

[blogger][facebook]

Author Name

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.