Kepada yang Sibuk Menggulung Layar

Sebuah surat dari Kuburan kepada Kalian yang Masih Sibuk Menggulung Layar:

Kepada generasi yang mengira dirinya sedang menciptakan masa depan,

     Kami, yang tulang-belulangnya sudah hancur dimakan tanah, merasa perlu menulis surat ini. Jangan tanya bagaimana pena menyentuh kertas dari kedalaman kubur. Di dunia tempat kami sekarang, tak ada tinta, tak ada kertas, bahkan tak ada udara. Tapi ada satu hal yang tidak mati: rasa muak.

     Kalian menyebut kami “filsuf yang mati kelaparan”. Itu penggambaran yang terlalu romantis. Sebagian dari kami memang mati lapar, ya, tapi itu lapar yang kalian tak akan mengerti. Lapar akan kebenaran, lapar akan pemahaman, lapar akan ruang untuk berpikir tanpa didikte. Tubuh kami mungkin membusuk di ranjang usang, di pinggir kota, atau di lorong-lorong pengap. Tapi penderitaan kami bukan hanya di perut. Ada yang mati beku di loteng berdebu, ditemani lilin yang setengah cair. Ada yang mati diasingkan oleh negaranya sendiri, dihukum karena kata-kata. Ada yang mati setelah dipermalukan muridnya. Ada pula yang mati perlahan karena satu-satunya orang yang mau mendengar sudah berhenti datang.

     Kami memandang kalian dari bawah sini, dunia yang katanya “serba terhubung” itu. Kami tertawa kecil — tawa kering, tanpa gigi — melihat bagaimana kalian membanggakan diri karena “bisa mengakses semua pengetahuan di genggaman tangan”. Kami tahu betul bahwa itu bohong. Yang kalian genggam hanyalah etalase tipuan, penuh pecahan kaca berkilau yang kalian kira permata.

     Kami, yang mati di abad-abad lalu, setidaknya pernah melihat kata-kata dibaca dengan kesabaran, pernah merasakan jeda sebelum sebuah ide dicerna. Kalian? Kalian membaca dengan mata seperti lalat, berpindah dari satu “konten” ke “konten” lain, dan menyebutnya belajar. Otak kalian kini seperti lembaran iklan — penuh gambar, penuh warna, tapi tak ada isi yang menempel lebih dari tiga detik.

     Kalian hidup di zaman yang menukar kedalaman dengan kecepatan. Di mana sebuah renungan 500 halaman kalah pamor dengan video 15 detik. Di mana “mengetahui” bukan berarti memahami, tapi sekadar menghafal opini orang lain untuk dipamerkan di kolom komentar. Kalian haus validasi seperti pengemis haus roti, tapi kalian menolak lapar yang sejati — lapar akan kebenaran, lapar akan keraguan, lapar akan jawaban yang tak pernah final.

     Kalian bangga menjadi “generasi kritis”, padahal kritik kalian adalah tempelan stiker di kaca mobil: mudah dilepas, mudah diganti, tak pernah menembus logam di bawahnya. Bahkan ketika kalian memberontak, kalian melakukannya dengan gaya yang sudah diatur oleh pasar. “Radikal” kalian dijual dalam bentuk hoodie, “pembebasan” kalian datang dalam paket berlangganan bulanan.

     Kalian tak akan pernah mengerti bagaimana rasanya menulis sebuah buku lalu mengirimkannya ke dunia dengan penuh rasa takut — takut bukan karena akan dihina, tapi karena mungkin tidak ada satu pun yang akan membacanya. Kalian tidak tahu rasanya berbicara di depan orang-orang yang lebih memilih tidur, lalu pulang dengan perut kosong tapi hati penuh bara. Kalian mengganti semua itu dengan “engagement rate”, dengan angka-angka yang bahkan tidak kalian pahami logikanya.

     Dulu, kami mati dengan kepala penuh pertanyaan yang tak terjawab. Sekarang, kalian hidup dengan kepala penuh jawaban yang tak pernah dipertanyakan.

     Jangan salah paham. Kami tidak iri pada kalian. Apa yang harus kami iri? Kami sudah bebas dari keharusan “membuat personal branding”, dari kecemasan akan “kalah algoritma”, dari upaya mempertahankan “eksistensi digital” yang ternyata rapuh seperti busa di pantai. Kami sudah selesai dengan semua itu. Kami hanya heran: bagaimana mungkin kalian mengira diri kalian lebih bebas dari kami?

     Mungkin kami memang kalah oleh zaman kami sendiri. Tapi setidaknya kami kalah dengan cara yang terhormat. Kami tidak menjual kata-kata demi angka, kami tidak menukar gagasan demi “follower”. Kami mati miskin, ya, tapi kami tidak pernah miskin dalam keberanian.

     Kalian hidup nyaman, tapi terus-menerus mengemis perhatian. Kalian menyebut diri “manusia modern”, tapi menggigil ketakutan jika sebuah foto kalian tidak mendapat cukup tanda hati. Kalian bicara soal masa depan, tapi tak pernah bisa diam cukup lama untuk mendengarnya mendekat.

     Dari kubur, kami hanya bisa memberi kalian satu nasihat: lapar itu penting. Lapar di perut, lapar di pikiran, lapar di hati. Tapi kalian harus memilih lapar yang benar. Kalau tidak, kalian akan mati juga — bukan di tanah, tapi di dalam layar kalian sendiri, terkubur di antara riak-riak notifikasi.

     Salam dari kami, yang tak lagi peduli pada dunia,
— Para Filsuf yang Dikubur Tanpa Tanda, Tapi Tak Pernah Benar-Benar Diam —

baca surat jawabannya:

baca surat sebelumnya:

Kami tidak menjual kata-kata demi angka, kami tdk menukar gagasan demi follower. Kami mati miskin, ya, tapi kami tidak pernah miskin dalam keberanian.

Posting Komentar

...

[blogger][facebook]

Author Name

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.