Filsuf yang Romantis

Surat Terbuka:

Kepada Para Filsuf yang Mati Kelaparan di Tengah Lajunya Kapitalisme Digital

     Kalian yang sudah lama terkubur di bawah batu nisan berlumut, mungkin kini menjadi arang dari api yang sudah padam, aku menulis bukan untuk membangunkan kalian. Dunia ini sudah terlalu gaduh untuk telinga yang telah selesai dengan bunyi. Namun tetap saja, ada sesuatu yang memanggil untuk dibicarakan—sebuah pengakuan, atau mungkin sekadar sarkasme yang lahir dari kebingungan.

     Di sini, di zaman di mana kata “pikiran” hanyalah jeda singkat di antara notifikasi, aku mencoba membayangkan kalian kembali duduk di meja kayu lapuk, menuliskan gagasan sambil menahan lapar. Kalian percaya kata-kata bisa mengubah dunia, atau setidaknya mengubah cara dunia memandang dirinya sendiri. Tapi kini, gagasan adalah komoditas instan, dibungkus rapi seperti kopi sachet yang manisnya berlebihan. Gagasan dijual dalam paket iklan, dipasang di feed media sosial, dibumbui clickbait, dan jika beruntung, diberi label premium content.

     Kalian, mungkin, akan terperangah melihat bagaimana filsafat berubah menjadi “quote aesthetic” di Instagram, dipotong-potong menjadi frasa yang pas untuk latar foto matahari terbenam. Sebuah pikiran yang dulunya membutuhkan puluhan tahun, kini hanya punya sepuluh detik untuk merebut perhatian. Dan jika tidak laku, ia menguap begitu saja ke dalam arus algoritma, kalah bersaing dengan video kucing yang menari.

     Kapitalisme digital tak mengenal jeda. Ia menyerap segala yang bisa dijual, bahkan kesedihan, bahkan keraguan, bahkan kata “eksistensial” yang kini dipakai untuk menggambarkan rasa bosan di akhir pekan. Dan para filsuf masa kini—mereka tidak lagi mati kelaparan seperti kalian, melainkan hidup berkelimpahan di balik layar, menjual “kesadaran” dengan harga langganan bulanan. Bedanya, kelaparan yang dulu kalian rasakan adalah fisik; kelaparan kami hari ini adalah kelaparan makna.

     Kalian mati di dunia yang masih memberi ruang bagi sunyi; kami hidup di dunia yang menghukum setiap hening. Di sini, jeda adalah tanda kelemahan, dan berpikir terlalu lama berarti tertinggal. Kecepatan adalah hukum, keterhubungan adalah agama, dan keterlibatan adalah moral baru—meski keterlibatan itu seringkali hanyalah klik dan gulir tanpa arah.

     Kadang aku bertanya-tanya, apakah jika kalian hidup kembali, kalian akan memilih ikut menari di panggung ini, mengemas konsep menjadi “konten” demi bertahan, atau tetap teguh dalam kebisuan yang membawa lapar. Dan di saat itu, aku mulai ragu—apakah kebisuan kalian dulu adalah kekuatan, atau justru keterpaksaan yang kini akan terlihat konyol di mata generasi yang memuja engagement rate.

     Mungkin ini bukan sekadar nostalgia untuk sebuah dunia yang lebih lambat. Mungkin ini juga bukan tentang menolak zaman. Ini adalah rasa takut bahwa di tengah derasnya arus, kita sedang kehilangan sesuatu yang tidak bisa dibeli kembali: kesediaan untuk berpikir tanpa tujuan menjualnya, keberanian untuk membiarkan pikiran matang tanpa dikejar target penayangan, kemewahan untuk merasa tidak relevan tetapi tetap utuh.

     Jadi, untuk kalian yang mati kelaparan demi menjaga kata-kata tetap jernih, izinkan aku mengaku: kami telah mengkhianati kalian. Kami hidup dalam dunia yang mengukur nilai pikiran dari seberapa sering ia dibagikan, bukan seberapa dalam ia dipahami. Dan kami menyebut ini kemajuan.

     Namun, entah bagaimana, aku juga percaya ada satu hal yang tak bisa dibunuh oleh kapitalisme digital—kerinduan. Kerinduan pada kata-kata yang tidak dibentuk untuk dijual, pada gagasan yang lahir dari kesunyian, pada keberanian untuk kelaparan demi sesuatu yang tidak segera memberi makan. Kerinduan ini seperti api kecil yang tetap menyala di sudut gelap, menunggu seseorang cukup gila untuk kembali mendekat.

     Kalian mungkin akan tersenyum pahit jika mendengarnya. Atau, seperti yang kulihat di mata para filsuf yang kini hanya hidup di buku-buku tua, kalian akan diam saja, membiarkan kami mengira bahwa kalian mendengarkan.


baca surat balasannya:

Kalian mati di dunia yang masih memberi ruang bagi sunyi; kami hidup di dunia yang menghukum setiap hening. Di sini, jeda adalah tanda kelemahan, dan

Posting Komentar

...

[blogger][facebook]

Author Name

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.