MBG saat ini mulai terlihat seperti kanker.

     Mungkin awalnya ia hanya sebuah implan kecil yang ditanam dengan niat baik. Tidak ada yang keberatan ketika negara mengatakan akan memberi makan anak-anak. Bahkan orang yang paling sinis sekalipun akan berpikir bahwa memberi makan anak sekolah adalah ide yang lebih masuk akal daripada sebagian besar proyek yang biasa lahir dari rapat-rapat panjang para pejabat.

     Namun ada satu hal yang sering terlupakan. Kanker tidak pernah datang dengan wajah menyeramkan. Ia datang sebagai sesuatu yang tampak normal. Ia tumbuh perlahan, menyelinap ke jaringan yang sehat, lalu suatu hari orang sadar bahwa tubuh yang mereka kenal telah berubah menjadi sesuatu yang lain.

     MBG tampaknya sedang berada di fase itu.
     Ia ada di mana-mana.

     Ia masuk ke organisasi masyarakat, kampus, yayasan, kelompok relawan, partai politik, aparat, pengusaha katering, kontraktor, pemasok bahan makanan, dan entah berapa banyak lagi simpul yang tidak pernah dibayangkan ketika program ini pertama kali diperkenalkan kepada publik. Ia tumbuh begitu cepat sehingga kadang sulit membedakan mana program negara dan mana ekosistem baru yang hidup dari keberadaan program tersebut.

     Presiden tentu bangga. Dalam banyak kesempatan MBG tampil seperti anak kesayangan yang selalu dipamerkan kepada tamu. Lambat laun rakyat mulai menemukan humornya sendiri. Apa pun masalahnya, MBG solusinya. Kalimat itu awalnya terdengar seperti lelucon. Belakangan terdengar seperti deskripsi keadaan yang cukup akurat.

     Ekonomi lesu, MBG.
     Pengangguran, MBG.
     Kemiskinan, MBG.

     Mungkin jika suatu hari hujan terlambat turun, akan ada usulan menambah menu protein untuk memperbaiki cuaca.

     Lalu datanglah korupsi.

     Sebetulnya kata "korupsi" di Indonesia sudah kehilangan daya kejutnya sejak lama. Ia muncul hampir sesering iklan pinjaman online. Tidak ada yang benar-benar terkejut lagi ketika mendengar ada uang negara yang bocor. Yang menarik justru bukan korupsinya, melainkan apa yang terlihat setelah tirai sedikit tersingkap.

     Tiba-tiba muncul nama-nama.
     Lalu muncul organisasi.
     Lalu muncul yayasan.
     Lalu muncul tokoh-tokoh yang sebelumnya tidak pernah terlihat.
     Lalu muncul pembelaan dari berbagai arah.
     Lalu muncul penjelasan mengapa program ini harus tetap berjalan.

     Lalu muncul penjelasan atas penjelasan.

     Untuk sesaat rasanya seperti menyaksikan seseorang menyalakan lampu di sebuah gedung yang selama ini tampak kosong dari luar. Ternyata di dalamnya banyak sekali penghuni.

     Yang lebih menarik lagi, ketika sejumlah dapur mulai ditutup, saya mengira yang akan paling gaduh adalah anak-anak yang kehilangan makan siang.

     Ternyata bukan.

     Anak-anak tidak punya konferensi pers. Anak-anak tidak punya akun media sosial dengan centang biru. Anak-anak tidak punya jaringan politik. Anak-anak hanya kehilangan makan siang.

     Kegaduhan justru datang dari orang-orang dewasa.

     Mendadak begitu banyak pihak yang berbicara tentang pentingnya keberlanjutan program. Tentang masa depan bangsa. Tentang generasi emas. Tentang kepentingan rakyat. Dan entah mengapa, semuanya terdengar seperti orang yang sedang berusaha meyakinkan diri bahwa aliran uang yang sangat besar tidak boleh berhenti mengalir.

     Di tengah keramaian itu, ada satu pernyataan seorang politisi yang menurut saya jauh lebih jujur daripada seluruh konferensi pers yang pernah digelar.

     MBG tidak bisa dihentikan.

     Saya sempat mengira itu bentuk pembelaan. Belakangan saya sadar, mungkin itu pengakuan.

     Sebab program pemerintah seharusnya selalu bisa dihentikan. Program dibuat manusia. Program dievaluasi manusia. Program diganti manusia. Tidak ada yang sakral.

     Kalau sebuah program sudah dianggap tidak bisa dihentikan, berarti kita sedang berbicara tentang sesuatu yang lain. Kita sedang berbicara tentang organisme yang telah tumbuh terlalu besar.

     Terlalu banyak orang hidup darinya. Terlalu banyak orang menggantungkan keuntungan padanya. Terlalu banyak kepentingan telah menempel di tubuhnya.

     Terlalu banyak yang akan kehilangan sesuatu jika ia berhenti.

     Dan semua itu terjadi pada saat ekonomi sedang megap-megap mencari udara. Warung-warung kecil tutup lebih dulu karena pembeli makin jarang datang. Pedagang kaki lima mulai menghilang dari sudut-sudut jalan yang dulu ramai. Lembaga pendidikan dipaksa berhemat. BPJS terus berbicara tentang defisit. Rupiah melemah dan harga-harga bergerak dengan caranya sendiri yang selalu berhasil membuat rakyat menghela napas panjang di depan etalase.

     Dalam keadaan seperti itu, mungkin kita akhirnya memahami mengapa banyak orang tampak lebih takut kehilangan proyek daripada kehilangan akal sehat.

     Karena kanker memiliki satu sifat yang menarik. Semakin besar ia tumbuh, semakin sulit tubuh membayangkan hidup tanpa dirinya. Ia menyerap nutrisi, mengambil ruang, membangun jaringan, lalu perlahan membuat seluruh tubuh percaya bahwa keberadaannya adalah sesuatu yang mutlak.

     Sampai akhirnya muncul satu pertanyaan sederhana. Apakah tubuh ini masih memelihara kanker, atau kanker yang sedang memelihara tubuh?

     Dan untuk pertama kalinya saya merasa sepenuhnya setuju dengan para penggemar MBG. Mereka benar! Apa pun masalahnya, MBG memang solusinya.

     Karena setelah melihat bagaimana ia tumbuh, menjalar, membangun jaringan, menciptakan ketergantungan, dan membuat begitu banyak orang ketakutan ketika namanya disentuh, saya yakin MBG memang dapat menyelesaikan satu masalah yang sangat besar.

     Masalah itu bernama MBG sendiri.

     STOP MBG sekarang juga!

     Pagi itu saya membaca kabar tentang ketua MBG dan dua wakilnya yang diamankan dalam kasus dugaan korupsi. Saya membaca beritanya sampai selesai, lalu menaruh telepon genggam di meja. Tidak marah. Tidak terkejut. Tidak juga sedih. Yang muncul justru sebuah kenangan yang aneh.

     Saya teringat Gus Dur.

     Bukan pidatonya. Bukan kisah-kisah politiknya. Yang muncul justru sebuah lelucon lama yang mungkin sudah berkeliaran puluhan tahun di republik ini.

     Katanya, di zaman Orde Lama korupsi dilakukan di bawah meja. Di zaman Orde Baru korupsi dilakukan di atas meja. Di zaman Reformasi, mejanya sekalian dikorupsi.

     Saya tertawa ketika pertama kali mendengarnya bertahun-tahun lalu. Seperti banyak lelucon Gus Dur lainnya, kalimat itu terdengar ringan, bahkan nakal. Namun semakin tua umur lelucon itu, semakin terasa bahwa ia sedang menyembunyikan sesuatu yang tidak lucu.

     Ada jenis humor tertentu yang sebenarnya lahir dari keputusasaan. Kita tertawa bukan karena bahagia, tetapi karena kenyataan terlalu ganjil untuk ditanggapi dengan wajah serius.

     Saya membayangkan bagaimana perasaan seseorang yang hidup beberapa dekade lalu ketika mendengar kalimat itu. Mungkin ia menganggapnya hiperbola. Mungkin ia menganggap Gus Dur sedang melebih-lebihkan keadaan. Sebab bagaimanapun, mengorupsi meja terdengar mustahil. Korupsi seharusnya mengambil uang. Mengambil proyek. Mengambil barang. Bukan mengambil meja.

     Namun rupanya kehidupan politik Indonesia memiliki bakat khusus dalam mengubah metafora menjadi laporan lapangan.

     Dari tahun ke tahun kita menyaksikan sesuatu yang menarik. Korupsi tidak lagi tampak sebagai penyimpangan dari sistem. Ia seperti spesies yang berhasil beradaptasi dengan lingkungannya. Ketika satu celah ditutup, ia menemukan celah lain. Ketika satu aturan dibuat, ia mempelajari cara hidup di dalam aturan tersebut. Kadang-kadang bahkan tampak lebih memahami aturan daripada orang yang membuatnya.

     Karena itu ketika membaca berita tentang MBG, pikiran saya justru melompat ke lelucon tadi. Program Makan Bergizi adalah sebuah gagasan yang begitu sederhana sehingga hampir mustahil ditolak. Anak-anak makan lebih baik. Gizi membaik. Masa depan diperkuat. Bahkan namanya terdengar seperti sesuatu yang lahir dari ruang kelas sekolah dasar yang penuh gambar matahari dan awan berwarna cerah.

     Lalu kenyataan datang membawa kebiasaan lamanya.

     Ternyata di negeri ini, bahkan gagasan tentang anak-anak yang sedang makan pun dapat dikerumuni oleh orang-orang dewasa yang lebih dulu lapar.

     Di titik itulah saya mulai merasa bahwa mungkin kita selama ini salah memahami lelucon Gus Dur. Kita mengira tokoh utama dalam cerita itu adalah meja. Padahal bukan.

     Meja hanya korban.

     Bayangkan nasib sebuah meja di republik ini. Ia dibuat oleh tukang kayu. Dipernis dengan baik. Diletakkan di kantor pemerintahan. Ia mungkin berharap hidup tenang sebagai tempat rapat, tempat menandatangani dokumen, atau tempat meletakkan secangkir kopi. Namun sepanjang hidupnya ia terus-menerus dituduh terlibat korupsi.

     Di bawah meja ada korupsi.
     Di atas meja ada korupsi.
     Lalu mejanya ikut dikorupsi.

     Seandainya meja bisa berbicara, mungkin sejak lama ia sudah meminta pindah profesi menjadi lemari.

     Yang membuat semua ini terasa lebih ganjil adalah kenyataan bahwa bangsa ini sebenarnya sangat kaya akan slogan moral. Hampir tidak ada kekurangan slogan. Integritas ada. Transparansi ada. Akuntabilitas ada. Amanah ada. Pengabdian ada. Setiap tahun kita memproduksi slogan-slogan baru seperti pabrik memproduksi mi instan.

     Masalahnya, slogan tidak pernah kenyang. Seperti manusia dengan usus 36 jari.

     Mungkin karena itu korupsi di Indonesia sering kali memiliki sifat yang unik. Ia tidak muncul sebagai perampok yang memecahkan jendela pada tengah malam. Ia datang mengenakan seragam resmi, membawa stempel, menyusun proposal, membuat presentasi, lalu berbicara panjang tentang pengabdian kepada rakyat. Kadang-kadang ia bahkan berbicara lebih fasih tentang moralitas daripada orang yang benar-benar bermoral.

     Lalu bertahun-tahun kemudian, ketika sebuah kasus terbongkar, masyarakat kembali mendengar istilah yang sama. Dugaan penyimpangan. Dugaan mark-up. Dugaan pengaturan proyek. Dugaan pengadaan. Kata "dugaan" berbaris begitu panjang hingga terdengar seperti nama jalan.

     Dan rakyat membaca semuanya dengan ekspresi yang semakin sulit dibedakan antara tertawa dan lelah.

     Barangkali itulah bagian yang paling menyedihkan dari korupsi. Bukan jumlah uangnya. Angka-angka pada akhirnya selalu bisa dihitung. Auditor bisa menghitungnya. Penyidik bisa menghitungnya. Hakim bisa menghitungnya.

     Yang lebih sulit dihitung adalah saat masyarakat mulai kehilangan kemampuan untuk terkejut. Saat sebuah berita tentang dugaan korupsi tidak lagi terasa seperti gempa, melainkan seperti prakiraan cuaca.

     Hari ini berawan.
     Besok hujan.
     Lusa kemungkinan ada kasus baru.
 

     Dan di tengah semua itu, lelucon Gus Dur tetap berjalan dari satu generasi ke generasi berikutnya, seperti seorang pengembara tua yang terus menemukan alamat yang sama meskipun nama jalannya sudah berkali-kali diganti.

     Saya tidak tahu apakah suatu hari nanti lelucon itu akan kehilangan relevansinya. Saya berharap demikian. Sebab ada lelucon yang memang seharusnya pensiun dengan tenang.

     Tetapi setiap kali membaca berita semacam ini, harapan itu terasa seperti menatap meja tua di sebuah kantor pemerintahan dan bertanya dalam hati: "setelah semua yang dialaminya selama puluhan tahun, apakah meja itu masih berani percaya kepada manusia?"

     Jika perbedaan IQ dapat membuat manusia memandang dunia dengan cara yang berbeda, pertanyaan berikutnya menjadi jauh lebih penting. Apakah jurang itu benar-benar tetap, atau masih mungkin dipersempit?

     Sebagian kemampuan kognitif memang lazim diukur melalui berbagai tes inteligensi yang dikenal sebagai IQ. Angka itu tentu tidak menjelaskan seluruh manusia, tetapi cukup membantu memahami mengapa dua orang yang melihat kenyataan yang sama dapat membangun gambaran dunia yang sangat berbeda. Ibarat sebuah mesin, ada yang sejak awal memiliki kapasitas lebih besar, ada pula yang lebih kecil. Ketika berhadapan dengan satu persoalan, sebagian orang hanya mampu menghubungkan beberapa variabel sekaligus, sementara yang lain sanggup menampung puluhan variabel sebelum menarik sebuah kesimpulan.

     Kenyataan itu tidak perlu disangkal. Namun ia juga tidak perlu diperlakukan seperti vonis yang menutup seluruh kemungkinan.

     Sebuah mesin tidak hanya ditentukan oleh kapasitasnya. Mesin yang sama dapat menghasilkan perjalanan yang sangat berbeda bergantung pada bagaimana ia digunakan, dirawat, dan terus dipaksa menghadapi jalan-jalan yang belum pernah dilaluinya. Demikian pula kemampuan berpikir. IQ mungkin menggambarkan sebagian kapasitas awal, tetapi ia bukan sesuatu yang sepenuhnya beku.⁸ Dunia yang akhirnya sanggup dipahami seseorang dibentuk oleh jauh lebih banyak hal yang saling bekerja bersama.

     Pendidikan¹ membuka cara-cara baru untuk memandang persoalan. Keluarga² memperkenalkan kebiasaan bertanya atau sebaliknya, membiasakan jawaban yang berhenti terlalu cepat. Bacaan³ menambahkan variabel-variabel baru yang sebelumnya tidak pernah hadir di dalam pikiran. Pengalaman⁴ sering kali memaksa keyakinan lama disusun ulang ketika kenyataan menolak mengikuti teori yang telah diyakini. Lingkungan⁵ memperluas atau mempersempit kesempatan seseorang bertemu gagasan yang berbeda. Percakapan⁶ membuat sebuah pikiran diuji oleh pikiran yang lain. Semua itu bekerja perlahan, hampir tidak terdengar, tetapi sedikit demi sedikit memperluas dunia yang sanggup dihuni oleh akal.

     Perubahan itu jarang terjadi melalui lompatan besar. Ia lebih sering menyerupai seseorang yang mula-mula hanya mampu melihat lima titik, lalu sepuluh, lalu dua puluh. Yang berubah bukan sekadar jumlah informasi yang dimiliki, melainkan kemampuan melihat hubungan di antara informasi-informasi itu. Sebab sebuah persoalan tidak menjadi lebih rumit hanya karena variabelnya bertambah. Ia menjadi lebih kaya karena hubungan di antara variabel-variabel itu mulai terlihat.

     Ada satu hal yang membuat seluruh proses itu mungkin. Rasa ingin tahu dan kerendahan hati intelektual⁷. Tanpa keduanya, pengalaman hanya berubah menjadi kenangan, bacaan hanya menjadi hafalan, dan pendidikan hanya berhenti sebagai ijazah. Sebaliknya, ketika seseorang terus bersedia mengakui bahwa masih ada sesuatu yang belum ia pahami, setiap perjumpaan dapat menjadi kesempatan untuk memperluas cara berpikirnya.

     Kosmos memang tidak pernah membagikan segala sesuatu secara merata. Ada yang lebih cepat memahami matematika, ada yang lebih mudah memainkan musik, ada yang lebih kuat secara fisik, ada pula yang sejak awal lebih mudah mengolah kompleksitas. Kenyataan itu sama tuanya dengan manusia sendiri.

     Namun permainan tidak berhenti ketika kartu dibagikan.

     Selama manusia masih bersedia belajar, membaca, bekerja, berdiskusi, mengalami kegagalan, memperbaiki kesalahan, dan membuka diri terhadap pandangan yang belum pernah ia temui, selalu ada kemungkinan untuk memperluas dunia yang dapat ia pahami. Jurang itu mungkin tidak pernah benar-benar hilang. Tetapi ia dapat menjadi cukup sempit sehingga percakapan tidak lagi mustahil, kerja sama menjadi lebih mungkin, dan manusia yang memandang dunia dengan cara berbeda tetap dapat membangun sesuatu bersama.

     Barangkali itulah satu-satunya jembatan yang benar-benar layak dibangun. Bukan jembatan yang menghapus perbedaan, melainkan jembatan yang membuat perbedaan tidak lagi menjadi alasan untuk berhenti saling memahami.


Catatan Kaki

¹ Pendidikan

Pendidikan dalam esai ini tidak dipahami sebatas sekolah atau perguruan tinggi. Yang dimaksud adalah seluruh proses belajar yang melatih manusia mengenali pola, berpikir abstrak, menyusun argumen, dan memecahkan persoalan. Berbagai penelitian dalam psikologi perkembangan dan ilmu kognitif menunjukkan bahwa pendidikan yang baik tidak hanya menambah pengetahuan, tetapi juga mengubah cara seseorang mengolah informasi. Gagasan ini dapat ditemukan, antara lain, dalam pemikiran Lev Vygotsky tentang perkembangan kognitif melalui interaksi sosial, Jean Piaget mengenai perkembangan struktur berpikir, Richard E. Nisbett dalam Intelligence and How to Get It, serta Stanislas Dehaene dalam How We Learn.

² Keluarga

Keluarga merupakan lingkungan kognitif pertama yang ditemui setiap manusia. Percakapan sehari-hari, kebiasaan bertanya, cara orang tua merespons rasa ingin tahu anak, hingga jumlah kosakata yang diperkenalkan sejak usia dini memberi pengaruh terhadap perkembangan kemampuan berpikir. Salah satu penelitian yang banyak dibahas adalah karya Betty Hart dan Todd R. Risley mengenai perbedaan lingkungan bahasa pada masa kanak-kanak. Meskipun beberapa angka dalam penelitian tersebut kemudian diperdebatkan, gagasan pokoknya tetap memperoleh banyak dukungan: kualitas interaksi di rumah memiliki pengaruh nyata terhadap perkembangan kemampuan kognitif.

³ Bacaan

Membaca bukan sekadar menambah informasi. Setiap bacaan memperkaya jaringan konsep yang dimiliki seseorang sehingga pengetahuan baru lebih mudah dihubungkan dengan pengetahuan yang telah ada. Semakin luas jaringan itu, semakin banyak kemungkinan hubungan yang dapat dibangun ketika menghadapi persoalan baru. Keith E. Stanovich menjelaskan bagaimana kebiasaan membaca menciptakan efek akumulatif yang dikenal sebagai Matthew Effect, sementara Stanislas Dehaene menunjukkan bagaimana aktivitas membaca secara bertahap membentuk dan mengubah jaringan saraf di otak.

⁴ Pengalaman

Tidak semua pengalaman menghasilkan pembelajaran. Pengalaman baru menjadi sumber perkembangan ketika seseorang bersedia merefleksikannya, menghubungkannya dengan pengetahuan yang telah dimiliki, lalu merevisi pemahamannya bila diperlukan. David A. Kolb mengembangkan gagasan ini melalui teori Experiential Learning, yaitu bahwa pembelajaran lahir dari siklus pengalaman, refleksi, konseptualisasi, dan percobaan kembali.

⁵ Lingkungan

Manusia berpikir di dalam sebuah ekosistem. Lingkungan yang kaya akan percakapan, buku, keberagaman gagasan, serta kesempatan untuk mencoba dan gagal memberi lebih banyak bahan bagi pikiran untuk diolah. Sebaliknya, lingkungan yang miskin stimulasi cenderung membatasi variasi pengalaman yang dapat diproses. Urie Bronfenbrenner melalui Ecological Systems Theory menunjukkan bahwa perkembangan manusia merupakan hasil interaksi berlapis antara individu dan lingkungan sosialnya.

⁶ Percakapan

Percakapan bukan sekadar pertukaran informasi. Percakapan yang sehat memaksa seseorang menguji asumsi, menemukan kelemahan argumennya sendiri, dan melihat hubungan yang sebelumnya luput dari perhatian. Philip E. Tetlock menunjukkan bahwa kemampuan mempertimbangkan berbagai sudut pandang berkaitan erat dengan kualitas penalaran dan pengambilan keputusan. Berbagai penelitian mengenai dialog kolaboratif juga menunjukkan bahwa diskusi yang terbuka dapat memperkaya representasi mental terhadap suatu persoalan.

⁷ Rasa ingin tahu dan kerendahan hati intelektual

Rasa ingin tahu membuat seseorang terus mencari informasi baru. Kerendahan hati intelektual membuatnya bersedia mengubah keyakinan ketika berhadapan dengan bukti yang lebih baik. Keduanya merupakan pasangan yang sulit dipisahkan. Tanpa rasa ingin tahu, pengetahuan berhenti bertambah. Tanpa kerendahan hati intelektual, pengetahuan baru hanya dipaksa menyesuaikan keyakinan lama. Dalam dua dekade terakhir, intellectual humility berkembang menjadi salah satu bidang penelitian tersendiri dalam psikologi. Di antaranya melalui karya Tenelle Porter, Elizabeth Krumrei-Mancuso, Mark Leary, dan Keith E. Stanovich yang menunjukkan bahwa kesediaan mengakui keterbatasan pengetahuan justru berkaitan dengan kualitas berpikir yang lebih baik.

⁸ IQ dan plastisitas kemampuan kognitif

Selama bertahun-tahun inteligensi sering dipandang sebagai kemampuan yang relatif tetap. Pandangan tersebut kini menjadi jauh lebih bernuansa. Penelitian mengenai neuroplastisitas menunjukkan bahwa otak terus membentuk dan memperkuat jaringan saraf sebagai respons terhadap pengalaman, pembelajaran, dan latihan. Di sisi lain, fenomena yang dikenal sebagai Flynn Effect memperlihatkan bahwa skor IQ rata-rata di banyak negara meningkat dari generasi ke generasi selama sebagian besar abad ke-20. Temuan ini menunjukkan bahwa lingkungan memiliki pengaruh nyata terhadap performa kognitif manusia.

Para peneliti masih berbeda pendapat mengenai seberapa besar peningkatan kemampuan tersebut dapat dicapai oleh setiap individu dan di mana batas-batas biologisnya. Karena itu, esai ini tidak berangkat dari anggapan bahwa semua orang dapat mencapai tingkat kemampuan yang sama. Gagasan yang digunakan jauh lebih sederhana: kemampuan kognitif bukan sesuatu yang sepenuhnya beku. Pendidikan, pengalaman, literasi, lingkungan, kesehatan, nutrisi, latihan berpikir, dan berbagai bentuk stimulasi intelektual dapat mengubah cara otak memproses informasi, meskipun besarnya perubahan berbeda pada setiap individu. Pembahasan lebih lanjut dapat ditemukan dalam karya James R. Flynn, Richard E. Nisbett (Intelligence and How to Get It), Stanislas Dehaene (How We Learn), serta Richard J. Haier (The Neuroscience of Intelligence).


     Ada sebuah keyakinan yang sangat demokratis dan karena itu sangat disukai: semua manusia pada dasarnya sama. Kalimat itu terdengar indah, menenangkan, dan berguna untuk menjaga agar meja makan keluarga tidak berubah menjadi arena adu argumen. Namun seperti banyak kalimat yang terlalu indah, ia sering lolos dari pemeriksaan.

     Manusia memang sama dalam banyak hal. Sama-sama lahir dengan tangisan, sama-sama dapat terluka, sama-sama takut kehilangan, dan pada akhirnya sama-sama akan meninggalkan dunia ini tanpa membawa apa pun selain cerita yang tersisa di kepala orang lain. Namun ketika berbicara tentang cara memahami dunia, persamaan itu mulai retak.

     Sebagian manusia melihat dunia seperti jalan lurus yang menghubungkan sebab dan akibat. Mereka nyaman dengan kepastian. Jika harga naik, pasti ada penjahatnya. Jika negara memburuk, pasti ada orang yang harus disalahkan. Jika ada masalah, tentu ada solusi yang sederhana. Dunia terasa masuk akal karena tersusun rapi seperti rak buku yang telah diberi label.

     Sebagian yang lain justru gelisah ketika segala sesuatu tampak terlalu sederhana. Mereka melihat bahwa satu keputusan dapat menghasilkan akibat yang saling bertentangan. Bahwa sebuah kebijakan yang baik dapat berubah menjadi bencana ketika diterapkan pada keadaan yang berbeda. Bahwa manusia tidak selalu bertindak rasional, dan sejarah tidak selalu bergerak menuju kemajuan. Mereka hidup dengan lebih banyak tanda tanya daripada tanda seru.

     Perbedaan itu sering dianggap sebagai perbedaan pendapat. Padahal tidak selalu demikian. Kadang-kadang yang berbeda bukan kesimpulannya, melainkan cara membangun kesimpulan itu sendiri. Dua orang dapat melihat peristiwa yang sama, membaca berita yang sama, bahkan menyaksikan fakta yang sama, tetapi menghasilkan pemahaman yang sangat berbeda karena mereka mengolah informasi dengan cara yang berbeda pula.

     Perbedaan itu tentu tidak muncul dari ruang hampa. Pengalaman hidup, pendidikan, lingkungan sosial, jenis bacaan, budaya tempat seseorang tumbuh, bahkan temperamen pribadinya ikut membentuk cara ia memahami kenyataan. Ada orang yang terbiasa hidup dalam lingkungan yang menuntut jawaban cepat. Ada yang sejak kecil akrab dengan pertanyaan yang tidak segera memperoleh jawaban. Ada yang tumbuh di tengah keragaman gagasan. Ada yang lebih sering berhadapan dengan kepastian yang telah disediakan.

     Namun di antara berbagai faktor itu, ada satu unsur yang sering membuat percakapan menjadi canggung: kemampuan kognitif. Dalam psikologi, sebagian kemampuan mengenali pola, melakukan abstraksi, memecahkan masalah, dan mengolah informasi lazim diukur melalui berbagai tes inteligensi yang hasilnya dikenal sebagai IQ. Angka itu tentu tidak menjelaskan seluruh manusia, tetapi ia memberi petunjuk tentang seberapa kompleks informasi dapat diolah seseorang pada saat yang sama. Karena itu, meskipun pengalaman hidup, pendidikan, budaya, dan kepribadian tetap berperan besar, mengabaikan perbedaan kemampuan kognitif berarti mengabaikan salah satu faktor yang mungkin ikut menjelaskan mengapa dua orang yang melihat fakta yang sama dapat hidup dalam dunia pemahaman yang berbeda.

     Di sinilah kemampuan kognitif mulai menjadi menarik. Bukan karena ia menentukan nilai manusia, melainkan karena ia memengaruhi cara manusia memetakan realitas. Sebagian orang dapat menampung lebih banyak variabel sekaligus dalam pikirannya. Mereka lebih mudah melihat hubungan yang tidak langsung, akibat yang tertunda, atau paradoks yang hidup berdampingan. Sebagian yang lain lebih nyaman dengan pola yang lebih ringkas dan lebih cepat mencapai kepastian.

     Perbedaan itu tidak selalu tampak dalam kehidupan sehari-hari. Ia baru terlihat ketika dunia mulai menjadi rumit.

     Ketika membahas cuaca, harga beras, atau pertandingan sepak bola, semua orang masih dapat bercakap dengan santai. Namun ketika pembicaraan menyentuh ekonomi, politik, sejarah, agama, atau masa depan sebuah bangsa, jarak yang sebelumnya tersembunyi mulai muncul ke permukaan. Yang satu merasa persoalannya jelas, yang lain merasa persoalannya baru saja dimulai.

     Kedua jenis manusia itu tinggal di negeri yang sama. Mereka membayar pajak yang sama, menggunakan mata uang yang sama, bahkan mungkin menonton pertandingan sepak bola yang sama. Tetapi mereka tidak hidup di dunia yang sama.

     Yang satu melihat peta kota.

     Yang lain melihat peta benua.

Masalahnya bukan karena salah satu peta keliru. Masalahnya adalah keduanya menganggap bahwa apa yang mereka lihat sudah cukup untuk menjelaskan seluruh dunia.

     Lalu lahirlah percakapan yang tidak pernah selesai.

     Yang satu berkata, "Masalahnya sederhana."
     Yang lain menjawab, "Tidak sesederhana itu."
     Yang pertama kesal karena segala sesuatu dibuat rumit.
     Yang kedua lelah karena segala sesuatu disederhanakan.
     Keduanya pulang dengan keyakinan bahwa lawannya tidak mengerti.

     Warung kopi mendapatkan pelanggan tetap.

     Yang menarik, perdebatan seperti itu sering dianggap sebagai benturan ideologi, kepentingan, atau karakter. Penjelasan itu tidak selalu salah, tetapi mungkin belum lengkap. Ada kemungkinan bahwa sebagian konflik yang kita saksikan sesungguhnya berakar pada perbedaan tingkat kompleksitas dalam memahami dunia.

     Bagi seseorang yang terbiasa melihat lima variabel, dunia memang tampak berbeda dibanding mereka yang secara spontan melihat lima puluh variabel. Bagi yang pertama, keputusan dapat diambil dengan cepat karena jalurnya terlihat jelas. Bagi yang kedua, setiap keputusan membawa konsekuensi bercabang yang sulit diabaikan. Yang satu sering dianggap terlalu sederhana. Yang lain sering dianggap terlalu rumit. Keduanya sama-sama frustrasi.

     Akibatnya, biaya percakapan menjadi mahal.

     Menjelaskan sesuatu membutuhkan energi. Menyusun konteks membutuhkan kesabaran. Menjembatani perbedaan cara berpikir membutuhkan waktu yang sering kali tidak dimiliki siapa pun. Tidak jarang dua orang menghabiskan berjam-jam berdiskusi hanya untuk menemukan bahwa mereka sebenarnya tidak sedang memperdebatkan jawaban yang berbeda, melainkan sedang berdiri pada tingkat abstraksi yang berbeda.

     Di titik itulah muncul kesadaran yang agak sunyi. Kadang-kadang manusia tidak hanya berbeda pendapat. Mereka berbeda dunia.

     Bukan karena mereka hidup di negara yang berbeda, berbicara dalam bahasa yang berbeda, atau memeluk keyakinan yang berbeda. Mereka berbeda dunia karena struktur yang mereka gunakan untuk memahami kenyataan memang berbeda. Mereka melihat objek yang sama dengan resolusi yang berbeda.

     Barangkali itulah sebabnya sebagian percakapan terasa begitu melelahkan. Bukan karena lawan bicara tidak tulus. Bukan karena salah satu lebih bermoral. Bukan pula karena yang lain kurang cerdas. Melainkan karena mereka sedang berusaha membangun jembatan di atas jurang yang bahkan tidak mereka sadari keberadaannya.

     Namun anehnya, manusia tidak pernah berhenti mencoba.

     Mereka tetap duduk di warung kopi yang sama. Tetap memesan kopi yang sama pahitnya. Tetap mengulang perdebatan yang sama dari tahun ke tahun. Kadang dengan harapan dapat saling meyakinkan, kadang hanya untuk memastikan bahwa masih ada orang lain yang bersedia mendengarkan.

     Barangkali itulah cara peradaban bertahan.

     Bukan karena semua orang melihat dunia dengan cara yang sama.

     Melainkan karena, meskipun hidup dalam dunia yang berbeda-beda, mereka belum sepenuhnya menyerah untuk terus berbicara.

     Dahulu manusia berburu rusa, menangkap ikan, dan menghindari harimau. Kini manusia berburu angka, menangkap gelar, dan menghindari pertanyaan yang terlalu jujur. Kemajuan memang menakjubkan. Kita berhasil mengganti ancaman yang nyata dengan ancaman yang diciptakan sendiri, lalu menghabiskan hidup untuk mengatasinya.

     Salah satu hasil ciptaan yang paling terkenal adalah IQ. Sebuah angka yang begitu dihormati sehingga banyak orang membawanya seperti mahkota, sementara yang tidak memilikinya sering berusaha membuktikan bahwa mahkota itu tidak terlalu penting. Maka lahirlah kalimat yang begitu populer: IQ tinggi tidak menjamin sukses.

     Kalimat itu terdengar bijaksana. Ia diucapkan dengan anggukan kepala, dibagikan di media sosial dengan latar belakang matahari terbit, dan diterima seperti kebenaran yang turun dari langit. Sayangnya, jarang ada yang bertanya lebih dahulu: IQ tinggi itu apa? Dan sukses itu apa?

     Orang-orang tampaknya sepakat bahwa IQ adalah ukuran kecerdasan. Kesepakatan yang menarik, sebab dunia ini penuh dengan manusia cerdas yang tidak pernah diukur. Nelayan tua yang dapat membaca cuaca dari arah angin, petani yang mengenali musim dari bau tanah, ibu yang memahami perubahan suasana hati anaknya hanya dari tatapan mata, tidak pernah diberi angka. Mereka terlalu hidup untuk dimasukkan ke dalam tabel.

     Sebaliknya, seseorang yang mampu menemukan pola geometri dalam serangkaian gambar akan memperoleh angka tinggi, lalu disebut sangat cerdas. Tidak ada yang salah dengan itu. Yang lucu adalah ketika angka tersebut perlahan berubah menjadi identitas. Seolah-olah manusia akhirnya dapat diringkas seperti spesifikasi barang elektronik: tinggi sekian sentimeter, berat sekian kilogram, IQ sekian, selesai.

     Mungkin suatu hari akan lahir iklan yang lebih jujur.

     "Dijual manusia, kondisi mulus, IQ 145, kemampuan sosial terbatas, mudah cemas, sulit tidur, tetapi sangat baik dalam menyelesaikan teka-teki."

     Peradaban tampaknya akan menerimanya dengan gembira.

     Lalu datanglah kata "sukses", yang lebih ajaib lagi. Tidak ada benda yang bentuknya lebih kabur tetapi lebih banyak diperebutkan. Anak-anak diajari mengejarnya sebelum mereka tahu apa yang sedang mereka kejar. Mereka didorong berlari secepat mungkin, lalu setelah dewasa baru sadar bahwa garis finisnya terus dipindahkan.

     Ketika miskin, sukses berarti kaya.
     Ketika kaya, sukses berarti terkenal.
     Ketika terkenal, sukses berarti dihormati.
     Ketika dihormati, sukses berarti hidup tenang.
 

     Dan ketika hidup mulai tenang, sebagian orang justru merindukan masa ketika mereka belum mengejar semua itu.

     Sungguh permainan yang sangat efisien. Kita dibuat berlari mengelilingi lingkaran, lalu diberi medali karena tidak menyadari bahwa kita sedang berputar.

     Anehnya, ketika seseorang memiliki rumah besar, mobil mewah, dan rekening yang tak habis dihitung nolnya, masyarakat dengan cepat menyebutnya sukses. Tidak banyak yang bertanya apakah ia tidur nyenyak. Tidak banyak yang peduli apakah ia masih mampu mencintai tanpa curiga, tertawa tanpa kepentingan, atau menikmati hujan tanpa menghitung peluang bisnis air kemasan.

     Ada sesuatu yang sangat aneh dalam cara kita menilai hidup.

     Seekor burung tidak pernah merasa gagal karena tidak memiliki properti. Pohon tua tidak merasa rendah diri karena tidak terkenal. Sungai tidak pernah mengikuti seminar tentang cara menjadi lebih sukses sebagai sungai.

     Hanya manusia yang menciptakan perlombaan, menentukan peringkat, lalu mengalami depresi karena kalah dalam perlombaan yang ia buat sendiri.

     Dan ketika kelelahan mulai terasa, lahirlah buku-buku motivasi. Sebagian menyuruh kita bekerja lebih keras. Sebagian menyuruh kita berpikir positif. Sebagian menyuruh kita bangun pukul empat pagi.

     Tidak ada yang bertanya mengapa kita harus ikut lomba itu sejak awal.

     Maka kalimat "IQ tinggi tidak menjamin sukses" sebenarnya terasa seperti perdebatan kecil di dalam penjara yang sama. Yang satu berkata, "Kecerdasan bukan segalanya." Yang lain berkata, "Tetapi kecerdasan tetap penting."

     Keduanya masih menerima satu keyakinan yang tidak pernah diperiksa: bahwa manusia harus diukur, dibandingkan, dan diberi peringkat.

     Padahal mungkin persoalannya bukan pada alat ukurnya. Mungkin justru obsesi untuk mengukur itulah yang perlu dicurigai.

     Sebab semakin modern manusia, semakin banyak pita ukur yang dibawanya. Ia mengukur kecerdasan, mengukur penghasilan, mengukur popularitas, mengukur produktivitas, bahkan mengukur kebahagiaan. Seolah-olah hidup adalah proyek konstruksi raksasa yang tidak boleh menyisakan satu sentimeter pun tanpa angka.

     Lalu pada suatu malam yang sunyi, setelah semua ukuran tercapai, sebagian orang diam-diam bertanya pada dirinya sendiri: "Aku sudah mendapatkan semuanya. Mengapa masih ada ruang kosong yang tidak bisa kujelaskan?"

     Pertanyaan itu biasanya datang terlambat. Karena selama ini kita terlalu sibuk mengukur hidup, sampai lupa menjalani hidup itu sendiri.

     Dan mungkin, hanya mungkin, manusia baru benar-benar merdeka ketika ia berani meletakkan seluruh pita ukur itu di atas meja, lalu berdiri di hadapan dirinya sendiri tanpa angka, tanpa peringkat, tanpa label.

     Tentu saja itu bukan perkara mudah. Sebab banyak orang rela kehilangan kebebasan, asalkan tetap bisa mengatakan kepada dunia: "Lihatlah, aku lebih berhasil daripada yang lain."

     Kalimat yang, jika dipikir-pikir, terdengar sangat cerdas. 

     Atau mungkin justru sebaliknya. 😂😂

     "Saya tidak berarti bagi siapa pun, itulah kebebasan terbesar saya." Ungkapan yang cukup provokatif, bahkan menggoda jeda untuk berfikir. Menjadi berarti bagi orang lain sesungguhnya tidak pernah berada dalam wilayah yang dapat kita kuasai. Kita dapat mencintai seseorang sepenuh hati, tetapi tidak dapat memaksanya menganggap kita berarti. Kita dapat menghabiskan seluruh hidup untuk menjadi orang baik, tetapi tidak dapat menentukan bagaimana dunia akan mengingat kita. Bahkan ketika kita yakin telah meninggalkan jejak yang dalam, boleh jadi kita hanya menjadi bayangan yang lewat sebentar di ingatan seseorang.

     Kesadaran itu mula-mula terdengar menyedihkan. Namun setelah direnungkan lebih lama, ia justru terasa membebaskan. Jika makna diri memang selalu lahir di dalam kesadaran orang lain, mengapa kita harus menghabiskan tenaga untuk mengendalikan sesuatu yang sejak awal bukan milik kita?

     Sayangnya, manusia tidak hidup sendirian. Kita hidup di tengah masyarakat yang dibangun di atas tafsir-tafsir yang saling dipertukarkan. Kita saling menyapa, saling tersenyum, saling bertanya kabar, saling mengucapkan selamat dan belasungkawa. Semua itu membuat kehidupan terasa lebih halus. Gesekan-gesekan kecil dapat diredam oleh serangkaian ritual yang kita sebut kesopanan.

     Lama-kelamaan, ritual itu tidak lagi sekadar menjadi pelumas hubungan antarmanusia. Ia berubah menjadi bahasa yang wajib dikuasai. Senyum harus muncul pada waktu yang tepat. Kesedihan harus diperlihatkan dalam kadar yang dapat dipahami. Antusiasme harus memiliki ekspresi yang dikenali. Bahkan diam pun mempunyai tata caranya sendiri.

     Kita mengira sedang belajar memahami manusia. Padahal yang sering dipelajari hanyalah tata bahasa agar mudah dipahami manusia lain.

     Mungkin karena itulah masyarakat begitu cepat memberi label "cerdas secara sosial". Label itu tidak selalu diberikan kepada mereka yang paling mampu memahami penderitaan orang lain. Tidak selalu pula kepada mereka yang paling tulus. Yang lebih sering mendapat penghargaan adalah mereka yang fasih memainkan tata bahasa sosial. Mereka tahu kapan harus tertawa meskipun tidak lucu, kapan harus mengangguk meskipun tidak setuju, kapan harus menyembunyikan pikirannya agar suasana tetap nyaman.

     Sebaliknya, orang yang tidak fasih memainkan permainan itu segera dicurigai. Ia dianggap kaku, dingin, tidak peka, bahkan arogan. Bukan karena ia membenci manusia, melainkan karena ekspresinya tidak sesuai dengan kamus yang telah disepakati bersama.

     Di titik inilah mulai muncul pertanyaan: jangan-jangan yang disebut ketidakcerdasan sosial sering kali hanyalah nama lain bagi kebebasan.

     Bukan kebebasan untuk menyakiti orang lain. Bukan pula kebebasan untuk mengabaikan empati. Melainkan kebebasan untuk tidak terus-menerus mengatur diri demi memenuhi harapan tentang bagaimana seorang manusia seharusnya tampil.

     Ironisnya, kebebasan semacam itu justru membuat seseorang sulit dibaca. Ia tidak memberikan ekspresi yang diharapkan. Ia tidak selalu menunjukkan kesedihan ketika masyarakat menunggu air mata. Ia tidak selalu menunjukkan kegembiraan ketika dunia berharap tepuk tangan. Ia tidak selalu mengucapkan kalimat yang dianggap pantas.

     Dan manusia rupanya lebih mudah memaafkan keburukan daripada kebingungan. Orang yang berbuat salah masih dapat dimasukkan ke dalam kategori yang telah dikenal. Namun orang yang tidak dapat dibaca menciptakan kegelisahan yang lebih dalam. Ia merusak keyakinan bahwa kita memahami sesama.

     Mungkin itulah sebabnya begitu banyak hubungan retak bukan karena perbedaan nilai, melainkan karena perbedaan ekspresi. Kita merasa tidak dicintai hanya karena cinta hadir dalam bahasa yang tidak kita mengerti. Kita merasa diabaikan hanya karena perhatian datang dalam bentuk yang tidak kita harapkan. Kita marah bukan karena seseorang tidak peduli, melainkan karena ia gagal memainkan peran yang telah kita tulis diam-diam di kepala kita.

     Bukankah ini tragis? Kita tidak berhubungan dengan manusia sebagaimana adanya. Kita berhubungan dengan tafsir kita tentang manusia itu. Dan mereka pun melakukan hal yang sama kepada kita.

     Barangkali tidak ada yang benar-benar mengenal siapa pun. Yang hidup berdampingan hanyalah jutaan tafsir yang sesekali saling bersinggungan, sesekali bertabrakan, lalu perlahan menjauh.

     Kalau begitu, kebebasan terbesar bukanlah menjadi berarti bagi semua orang. Kebebasan terbesar mungkin justru menerima bahwa kita tidak akan pernah sepenuhnya dapat dikendalikan oleh tafsir mereka, sebagaimana mereka tidak pernah dapat sepenuhnya dikendalikan oleh tafsir kita.

     Risikonya memang tidak kecil. Masyarakat mungkin akan menyebutnya ketidakcerdasan sosial.

     Padahal bisa jadi, untuk pertama kalinya, seseorang sedang berhenti menjadi aktor dan mulai menjadi manusia.

Author Name

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.