Ketika suatu saat di antara gulungan dan lipatan waktu, kulintasi jalan sempit di antara lebatnya hutan belantara, sempat kutemui suatu pemberitahuan yang isinya terasa sedikit aneh, "Dilarang Makan Batu". Sejenak aku tertegun, lalu mengikuti jalan setapak di samping pemberitahuan tadi, sambil membawa rasa ingin tahu yang sangat besar. Akhirnya saya tiba di sebuah gua yang pada jalan masuknya duduk seorang tua dalam penampilan yang sangat sederhana.
     Kusampaikan salam hormatku padanya dan iapun membalas seraya berkata, "Engkau datang membawa pertanyaan dan rasa penasaran bahwa sebelumnya Engkau tidak pernah melihat suatu pemberitahuan tentang larangan memakan batu, sebab pernyataan tersebut tidak dibutuhkan orang. Tidak makan batu bisa dikatakan sebagai suatu kebiasaan yang umum".
     Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan. "Hanya saja kalau manusia juga mampu menghindari kebiasaan-kebiasaan lainnya, kebiasaan yang bahkan jauh lebih merusak dan lebih buruk daripada memakan batu, maka akan mampulah ia melampaui keadaannya sekarang yang begitu patut dikasihani".
     Aku memcoba mengartikan maksud ucapan orang tua dihadapanku ini, tapi hanya sedikit yang bisa kusimpulkan.
     "Tolonglah Bapak menjelaskan, seperti apakah keadaan yang patut dikasihani itu.?", aku memberanikan diri bertanya.
     "Baiklah, aku akan memberi contoh tentang suatu keadaan, yang dialami seorang guru bersama seorang muridnya disuatu negeri yang jauh", begitu jawabnya.

     Hatta, sang guru sedang menunggang keledai ke pasar diikuti seorang muridnya di belakangnya. Tiba-tiba dari arah depan muncullah seorang lelaki yang langsung berteriak sambil menunjuk-nunjuk ke arah sang guru. "Lihatlah, telah tiba di tempat ini orang yang tak beriman". Begitu teriak lelaki itu berulang-ulang. Sang murid yang mengikuti gurunya di belakang, menjadi begitu marah kepada lelaki itu. Merekapun terlibat pertengkaran sengit bahkan hampir berkelahi.
     Melihat keadaan itu, sang guru menenangkan muridnya sambil berkata "Jika Engkau mau menghentikan keributan ini, aku akan menunjukkan kepadamu suatu kebijaksanaan, bagaimana Engkau dapat menghindarkan kesulitan dan pertengkaran yang seperti ini".
     Mereka, guru dan murid kemudian pulang. Sesampai di rumah, guru tadi menyuruh mengambil kotak surat lalu mengeluarkan isinya.
     "Pandanglah ini. Semua surat ini dialamatkan padaku tetapi ditulis dalam istilah-istilah yang berbeda-beda. Di sini orang menyebutku "Syekh Islam"; di situ dikatakan "Guru Yang Luhur"; yang lain mengatakan aku adalah "Yang Arif dari Dua Tempat Suci"; dan masih banyak sebutan lainnya lagi.
     "Amatilah bagaimana masing-masing menyebutku dengan pertimbangannya sendiri mengenai diriku. Tetapi 'aku' bukanlah semuanya itu. Tiap-tiap orang menyebut orang lain menurut apa yang dipikirkan tentang dirinya sendiri. Itulah juga yang telah dilakukan oleh lelaki yang di pasar siang tadi, yang membuatmu bertengkar dengannya".
     "Mengapa Engkau berbuat demikian sementara itu adalah aturan umum di dalam kehidupan?" Sang guru yang penuh kasih itu mennyelesaikan pelajarannya untuk murid di hadapannya.

     Orang tua di hadapanku berhenti bercerita, namun tetap memandang ke arahku. Aku mengangguk-angguk setelah mendengar kisah itu.
     "Memang perlu dikasihani, karena manusia selalu percaya bahwa apa yang dipikirkannya adalah benar, di dalam kerangka wawasan piciknya yang dikendalikan egoisme. Dan sungguh, keadaan itu jauh lebih buruk daripada memakan batu.
diolah dari bahan-bahan dalam kitab 'Jalan Sufi' tulisan Idries Shah
gambar : webshot[dot]com 

     Kapan terakhir kali kita menyadari rasa damai di dalam diri sendiri? Sepertinya kesibukan yang melanda sepanjang waktu, membuat kita tidak sempat untuk berdialog dengan diri sendiri. Kedekatan yang tak berjarak dengan diri, menempatkan rasa sok tahu kita di posisi paling atas, lalu menganggap kita sudah tahu segalanya dengan baik.
     Sejatinya memang seperti itu. Tanpa jarak dengan diri sendiri, juga membuat kita takut untuk menelisiknya secara obyektif. Begitu banyak kepalsuan yang kita lakoni sehari-hari, entah itu untuk menyenangkan klien atau orang-orang lain yang bertemu dengan kita, atau untuk kepentingan oportunis yang menjadi kebiasaan kita, telah melahirkan ketakutan yang begitu luar biasa. Menengok dengan kacamata yang obyektif tentang siapa diri kita sebenarnya akan meneguhkan, sekaligus akan menyayat kepiluan yang telah menyertai setiap detik kemunafikan yang kita lakoni.
     Konflik yang berkepanjangan itulah yang kemudian menimbulkan gangguan kejiwaan kepada kita. Berbagai macam kekecewaan mendera bertubi-tubi, oleh harapan yang meluap-luap kepada fenomena dunia, namun tidak kesampaian menjadi kenyataan. Memang sih, gangguan kejiwaan pada setiap individu itu bervariasi. Pada tingkat yang tidak mampu ditoleransi oleh kemunafikan yang menjadi bahan dasar topeng yang kita kenakan, maka psikiater akan menjadi penyelesaian yang logis.

     Sesuatu yang sebenarnya tidak perlu terjadi bila kita bisa berdamai dengan diri sendiri. Mengamati diri sendiri, tidak seperti kalau kita mengamati orang lain. Sesuatu yang begitu mudah bila kita diminta menakar tentang seseorang, tentang orang lain. Ada spasi antara kita dengan obyek (orang lain) yang kita amati, yang kita isi dengan berbagai hal yang telah kita percayai sebelumnya. Juga beberapa asumsi umum, tentang apa yang kita harapkan dari obyek itu, menjadikan distorsi di dalam pengamatan.
     Itulah mengapa, apa yang kita lihat dengan indera kita, tidak bisa sekonyong-konyong melahirkan kesimpulan yang obyektif. Pengaruh tentang apa yang hendak kita simpulkan, tentang apa yang kita harapkan, tentang apa yang kita percaya dari orang tersebut menjadi pengisi spasi antara kita dengan obyek. Terjadi bias, distorsi di dalam pikiran mengenai kesimpulan tentang orang lain.
     Ambil contoh bila kita melihat seorang perempuan. Dalam sekejap, kita bisa meyimpulkan, ‘ah dia bukan tipeku’. Pengamatan kita terdistorsi oleh harapan-harapan apa yang ada di pikiran kita tentang seorang perempuan. Kesimpulan yang kita buat menjadi bias.
     Hal itu tidak terjadi bila kita mengamati diri sendiri. Tidak adanya jarak antara kita dan diri sendiri, tidak menyisakan tempat untuk adanya bias atau distorsi di dalam pengamatan. Kita bisa tau dengan cermat dan teliti apa dan siapa diri kita, dalam istilah yang lebih sederhana bahwa kita melihat fakta apa adanya tentang kualitas diri sendiri. Kitapun kemudian ‘enggan’ bertemu diri sendiri, karena ternyata dia tidak sempurna.

     Lalu untuk apa semua kenyataan diri sendiri itu? Ya jelas untuk berdamai dengannya. Mengamati diri sendiri tanpa rasa takut, tanpa kegelisahan, maka kita akan bisa menerima keadaan diri sendiri ‘apa adanya’, dengan semua kekurangannya. Di saat itu, kita merasakan damai.
     Misalnya kita tahu bahwa kita pendek, gendut dan botak. Ketika fakta-fakta itu bisa kita terima tanpa ekspektasi apa-apa tentang diri kita, maka kita akan bisa bersikap biasa saja. Tidak risih. Tidak terganggu oleh apapun, oleh siapapun yang mempermasalahkan kualitas pendek, gendut dan botak itu. Kemampuan menerima diri sendiri dengan segala kekuarangan dan kelebihannya, akan berdampak positif ke arah kemampuan kita menerima orang lain. Kita tidak akan rewel oleh hal-hal kecil dan remeh. Batin kita menjadi tenang, tidak mudah marah atau tersinggung.
     Kedamaian yang tercipta itu pun kemudian akan terpancar ke lingkungan kita. Sebagai orang yang damai hatinya, maka aura positif itu akan menyebar ke orang-orang lain yang bergaul dengannya. Kita tidak perlu kecewa kepada diri sendiri karena bisa menerima diri apa adanya. Karenanya, bagaimana pun orang lain memodifikasi untuk mengkiritik atau menjatuhkan kita oleh kekurangan-kekurangan yang kita miliki, tidak akan mengganggu kita lalu menjadikan kita tersinggung bahkan marah membabi buta.
     Kita akan menjadi orang bijak, yang tidak goyah oleh cacian ataupun pujian. Kemampuan kita berdamai dengan diri sendiri akan menjadi tangga untuk meraih salah satu kualitas ‘bijak’ di kehidupan ini.
sumber gambar : terupdateonline[dot]com

     Ada semacam rasa rindu yang sebentar lagi hendak terbayarkan, ketika merencanakan untuk kembali menyambangi Gunung Lompobattang. Tidak banyak persiapan yang ruwet, dipilih 1 Juni di tahun 1988 itu menjadi kesepakatan untuk berada di puncak yang pertama kali dikunjungi di tahun 1986 dua tahun sebelumnya. Banyak suka cita, tentu saja selalu menggelorakan setiap rencana perjalanan ke puncak gunung.
     Apalagi di pendakian kali ini, beberapa generasi baru titisan darah-K neranaikan keriuhan yang tercipta. Selain beberapa produk dikdas satu, ada juga beberapa orang simpatisan yang turut meramaikan.
 Afras Pattisahusiwa, Dwi 'Ammy' Rahmiaty, Nevy Tonggiroh, saya sendiri Hero Fitrianto, juga ada Long dan beberapa lainnya simpatisan yang ramanya tidak sempat tertinggal lama di ingatan saya.
 sekitar pos-7 sebelum puncak Lompobattang. Pemandangan yang indah dan sesi foto-foto menjadi alasan untuk sekadar satu dua tarikan  napas yang lebih panjang. 
hehehe.. U know lah What I mean.. :)
 sekitar puncak Gunung Lompobattang.
ada juga As'adi Abdullah, Husnia Asaf, Mappalologau Tantu, Nevy, Long, Hero, Welly Turupadang, Agus Cippe'.
     Ada yang tidak terlupakan di perjalanan ini, bagaimana Agus Cippe' yang dengan susah payah di tarik-tarik dan di paksa-paksa untuk bisa sampai ke puncak. Dan begitu sampai di dekat tugu, langsung duduk berselonjor setengah baring dengan wajah sangat pucat. Saat itu tidak ada yang tahu apa yang dialami oleh Agus. Senda gurau berseliweran ke mana-mana tanpa belas kasihan.
     Setelah perjalanan ini tuntas, beberapa hari setelahnya, Agus menjadi bahan diskusi yang hangat, Dokter yang menangai kasus kesehatan Agus menjadi kaget, Hb Agus melonjak menjadi 11 point, dalam rentang waktu seminggu saja. Rupanya sebelum pendakian itu, Hb Agus hanya 6. Keheranan yang dialami oleh dokter itu menjadi senda gurau, yang mengantarkan tawa sesaat namun menyisakan kegetiran karena tidak mengetahui bagaimana keadaan Agus sebenarnya sebelum ikut mendaki. Nasib baik masih berpihak kepada kita semua.
 gambar atas dengan salah satu peserta yang anggota Menwa Unhas.
Really miss that moment.
bawah dengan Yani Abidin dan Bakhtiar Baso
 tim sweeper di kegiatan ini, Asadi Abdullah, Iwan Amran, Wahyuddin dan saya sendiri Hero Fitrianto. Beruntung tikar daun pandan yang menjadi alas semalam, tidak sempat terekam.
 Pos-9 sebelum puncak Lompobattang. Banyak coretan yang menghiasi ceruk batu itu. Namun, menikmati senja di ceruk yang menghadap ke barat itu sungguh luar biasa. Di cuaca yang indah, lukisan alam seperti gambar di bawah ini menjadi salah satu imbalannya.
      Dan perjalanan itu, tentu saja meninggalkan begitu banyak pelajaran berharga di perjalanan perkembangan Korpala selanjutnya.
Seperti tulisan-tulisan sebelumnya, dengan segala kerendahan hati saya menunggu tambahan kenangan di setiap kita yang sempat bersama di kegiatan itu. Memperkaya kenangan, membantu teman-teman yang lain menikmati dan mensyukuri salah satu momen yang terentang indah di perjalanan hidup ini.

     Dekade delapan puluh hingga sembilan puluhan, Mesjid Ikhtiar Unhas yang terletak di kampus lama Jalan Sunu Makassar, menjadi basis bermacam kegiatan sosial untuk masyarakat sekitarnya. Penggerak utama kegiatan ini siapa lagi kalau bukan mahasiswa-mahasiswi yang memilih jalan dakwah dalam menyalurkan energi aktifis di kesehariannya.
     Beragam pelatihan diselenggarakan di halaman mesjid yang lapang, hingga ke ruang-ruang pertemuan yang terintegrasi dalam lingkup area mesjid. Nafas dakwah yang elegan, dengan pemahaman intelektual yang memadai, mampu mewadahi beragam bentuk pemikiran yang berkembang. Setiap perbedaan bukan menjadi materi untuk berpecah belah, melainkan untuk memperkaya pemahaman di dalam menggali lebih dalam setiap aspek pemikiran yang muncul.
     Maka sungguh suatu keindahan, ketika pola laku keberagamaan di sana di waktu itu, begitu bersahaja di dalam membaurkan setiap pemahaman individu yang bergaul di dalamnya. Belum ada patron yang cenderung sempit, mengkotakkan pemahaman beragama menjadi model 'arab' seperti yang berkembang pesat belakangan ini. Tidak ada pandangan bahwa model arab adalah model yang paling super, paling beriman, paling berhak atas surga, sehingga memandang sinis bahkan jijik kepada sesama yang tidak bemodel arab. Sungguh suatu kerinduan bisa berada di komunitas yang seperti itu. Komunitas Mesjid Ikhtiar Unhas di kampus lama Barayya.
     Salah satu dari kegiatan sosial untuk mengembangkan kualitas penggiat Ikhtiar saat itu, adalah adanya Kelompok Penulis Ikhtiar. Kopikh demikian singkatannya, melakukan pelatihan kader dalam suatu workshop pelatihan jurnalistik. Tidak tanggung-tanggung, menjaring mahasiswa-mahasiswi hampir dari seluruh Fakultas yang ada di Unhas, pelatihan dilangsungkan selama enam hari di bulan September 1986.
      Beragam materi dijejalkan untuk dipahami. Mulai dari masalah teknis tulis menulis sampai dengan masalah idealisme jurnalis, dipaparkan dengan gamblang oleh para instruktur yang sehari-harinya memang bergelut di dunia jurnalisme. Diskusi, mengerjakan tugas on site sampai bekar pekerjaan rumah memadati kegiatan selama seminggu itu.
suasana pelatihan yang diselingi diskusi-diskusi hangat.
salah satu moment yang begitu bersahaja, dinner time. Menyantap suguhan panitia yang begitu sederhana justru melahirkan keakraban diantara peserta yang berasal dari berbagai jurusan di Unhas.
beberapa instruktur yang mengarahkan workshop, bertingkah kalem ketika gabarnya hendak diabadikan.
di akhir rangkaian panjang pelatihan, beruntung saya dipilih menjadi peserta terbaik kedua di dalam pelatihan itu. Tawaran menjadi wartawan di salah satu media cetak ternama di Makassar saat itu, dengan kesadaran penuh, saya tolak.
Situasi bernegara tidak memungkinkan menerapkan idealisme jurnalis yang 'jujur dan bebas' di dalam aplikasi aktifitas jurnalistik keseharian. Negara sangat dominan, mengontrol bagaimana media massa menampilkan wajahnya ke publik.

     Salah satu materi yang diajarkan adalah membuat cerita pendek. Untuk urusan cerpen itu, rupanya beberapa instruktur menjadikan cerpen yang saya buat sebagai penunjang sehingga bisa menjadi terbaik kedua. "Ada keberanian di dalam ide yang disampaikan. Sesuatu yang sangat jarang dimiliki oleh Jurnalis sekarang ini." begitu kata salah seorang dari mereka. 
     Pernyataan yang sangat jujur juga, yang menggambarkan bagaimana galau hati para Jurnalis saat itu yang harus patuh pada rambu-rambu rezim Orde Baru yang sedang berkuasa. Nah, cerpen yang saya buat waktu itu berjudul "Kalut", bisa dibaca kembali di link ini.
 foto bersama Prof. Anwar Arifin setelah penutupan pelatiha.
saat-saat istirahat diisi dengan senda gurau yang rasanya tidak berujung. Banyak tawa di dalam kebersamaan selama pelatihan, menjadi keharuan yang menyesakkan, ketika pelatihan harus berakhir sehingga 'ngumpul' selama seminggu itu disudahi.
     Banyak nama, yang tidak terekam baik di memori saya ketika melihat arsip gambar-gambar di atas. Karenanya, saya sangat menunggu bantuan teman-teman yang kebetulan mengenal, bisa membantu menggali kesegaran ingatan di momen seminggu selama di Mesjid Ikhtiar Unhas kampus lama.
     Tentu saja, akan menjadi sangat indah seandainya ada kesempatan berkumpul kembali, untuk sekadar merajut kembali silaturahmi dari para penulis yang pernah berkiprah di Ikhtiar.

     Setiap hari, seorang rakyat Padang Kemulan harus bersedia untuk disantap oleh Dewata Cengkar. Mereka tidak dapat menghindar dari raja mereka yang berwujud raksasa itu. Karena sudah begitu sumpah dewata.
     Setelah tumbal tanah Jawa ditanamkan di lima tempat, yang pusatnya di Gunung Tidar, yang lainnya di barat dan timur, utara dan selatan, maka dedemit dan berekasan lari terbirit-birit ke dalam gua laut dan ke jurang-jurang yang dalam di sekitar segala gunung yang tinggi menjulang. Selama 21 hari, seluruh gunung di Jawa Tengah menggelegar berubah bentuk seperti wujud kepala Wisynu, sebagai tngkai keris Kujang.
     Maka Aji Saka pun menjalani seluruh daerah-daerah yang telah aman. Tetapi rupanya masih ada juga satu daerah yang rajanya adalah keturunan raksasa.
     "Mengapa penduduk berlarian?" tanya Aji Saka kepada Mbok Kasihan.
     "Mereka menghindarkan agar jangan menjadi santapan Dewata Cengkar hari ini," jawab Mbok Kasihan.
     "Kalau tidak setiap hari ada bayi yang lahir, tentu akan habis seluruh rakyat Padang Kemulan ini," tukas Aji Saka. "Kalau begitu biarlah saya yang mendatangi Dewata Cengkar untuk menjadi santapannya."
     "Jangan Raden,.. biarlah orang lain. Karena Raden orang berilmu, tentu banyak orang lain merasa kehilangan," kata Mbok Kasihan. Sementara Dora dan SEmbada merasa bergidik dengan maksud Aji Saka yang merelakan diri untuk dimakan Raja Dewata Cengkar itu. Sedangkan di dalam hati Aji Saka, ingin melihat keampuhan ilmu raksasa Dewata Cengkar.
      Maka berangkatlah mereka diiringi orang banyak menuju pendopo keraton Padang Kemulan. Dewata Cengkar tertarik hatinya melihat seorang gagah datang mengunjunginya, tetapi tiba-tiba Aji Saka berkata. "Akulah yang bersedia hari ini untuk santapan Paduka Raja."
     Dewata Cengkar melirikkan matanya, memperhatikan wajud Aji Saka sebagai orang berilmu tinggi, kemudian ia berkata, "Kau kuangkat menjadi panglimaku yang utama."
     Dijawab oleh Aji Saka, bahwa ia mau menjadi panglima asalkan diberi tanah Jawa selebar sebannya. Sejenak Dewata Cengkar tersentak, kemudian mengerti bahwa Aji Saka sebenarnya ingin menentang kekuasannya.
     Sementara itu, di belakang Aji Saka banyak rakyat sebagai pengikutnya. Maka dengan memendam marah yang menyala-nyala, Dewata Cengkar menaiki kuda pilihannya, sambil diiringkan oleh sebagian hulu balang dan punakawannya.
     Aji Saka membuka serbannya. Dibentangkannya mulai dari halaman keraton. Tetapi luasnya seban Aji Saka bertambah terus, sampai menuju pantai selatan, sementara rakyat yang melihat keajaiban itu, semakin banyak mengiringkan Dora dan Sembada. Mereka mulai mendukung Aji Saka sebagai orang berilmu yang akan mengalahkan raja mereka yang zalim, pemakan manusia.

     Sesampai rombongan di Padang Teritis, Dewata Cengkar berdiri di atas sebuah tebing pantai. Aji Saka memberi aba-aba kepada Dora dan Sembada, punakawannya. Mereka berdua maklum apa yang harus dilakukan. Mereka segera menolakkan Dewata Cengkar ke laut. Sejenak semua rakyat Padang Kemulan bertempik sorak kegirangan.
     Tetapi tempik soran itu segera terhenti, karena melihat bahwa Dewata Cengkar bukannya musnah. Mungkin karena banyak roh-roh orang yang menjadi santapan di dalam dirinya, Dewata Cengkar berubah wujud menjadi buaya yang sangat besar, sehingga dapat menelan kapal-kapal yang berlayar di panntai selatan. Sehingga tak satu pun kapal yang aman berlayar dari Parang Teritis sampai ke Pelabuhan Ratu. Seluruhnya ditelan oleh wujud inkarnasi Dewata Cengkar.
     Nyai Roro Kidul Putri Per Angin-Angin menjadi sangat bersusah hati karena kerajaan Laut Pantai Selatannya diobrak-abrik oleh wujud baru Dewata Cengakar.
     Sampai akhirnya ia bersumpah di tepi Laut Selatan, "Buaya wujud Dewata Cengkar telah merusak ketenteraman Kerajaan Lautku. Siapa yang dapat mengalahkannya, jika ia perempuan akan kuambil menjadi saudaraku, dan jika laki-laki akan kukawinkan dengan anakku Putri Nini Blorong dari Gunung Merapi."
     Sayembara itu tersebar ke seluruh gunung-gunung. Didengar oleh seluruh anak-anak pandita dan resi. Gunung Merapi memuntahkan asapnya ke atas sebagai tanda menjadi saksi apa yang telah diucapkan oleh Toto Kidul. Berbagai anak raja turunan dewa turun ke Laut Selatan, menandingi Dewata Cengkar, tetapi semuanya tidak ada yang berhasil. Bahkan sebagian tidak kembali karena ditelan oleh Dewata Cengkar dengan rahangnya yang mampu menelan bukit.

     Raden Tumenggung, anak Pandita Agung Gunung Galunggung, datang ke hadapan ayahandanya, "Kalau ayahanda mengizinkan, anakanda akan mencoba kesaktian Dewata Cengkar yang telah berubah wujud menjadi buaya raksasa itu."
     Sejenak Pandita Agung Gunung Galunggung berdiam diri. Karena ia memikirkan bahwa semuanya itu terjadi karena telah demikian kehendak Hyang Widi.
     "Ayahanda tidak dapat menolong anakanda dalam sayembara itu. Semoga saja Para Dewata akan merestui anakanda, untuk dapat mengalahkan Dewata Cengkar. Apabila janji Hyang Widi memang telah begitu, anakanda akan menerima pula nasib yang lain. Karena semuanya bergerak bergantian seperti telah ditetapkan oleh para dewa."
     Diiringi oleh anak-anak para hulubalang istana agung Gunung Galunggung, Radeng Tumenggung berangkat menuju pantai Selatan. Para pandita ikut mengantarkannya dengan membaca doa dan permohonan kepada dewa-dewa, agar Raden Tumenggung berhasil memusnahkan buaya raksasa wujud Dewata Cengkar.
     Raden memilih bukit kararang yang tinggi, sebagai tempatnya terjun ke dalam Laut Selatan. Seperti panah yang meluncur ke permukaan air, hanya bekas titik buih yang putih saja yang menandakan bahwa Raden Tumenggung telah hilang ke dalam Laut Selatan mencari Dewata Cengkar.
     Para Dewa telah menakdirkan, bahwa selama di dalam air laut, Raden Tumenggung dapat bernapas bebas, kaena seluruh keliling tubuhnya tidak tersinggung air laut, disebabkan ada ruangan udara yang dapat dipergunakannya untuk bernapas. Bebaslah Radeng Tumenggung mencari buaya raksasa itu. Sampai ke dalam gua-gua besar di bawah laut, diperiksa oleh Raden Tumenggung. Mungkin saja buaya inkarnasi itu sedang bertapa, untuk menambah kekuatannya.
     Tetapi habis minggu berganti minggu, buaya raksasa itu belum juga kelihatan. Sampai suatu ketika tiba-tiba lidah air laut melonjak ke udara, beberapa kali tinggi pohon kelapa. Disusul oleh hidung buaya raksasa yang terjulur dari bawah air laut. Kemudian ia mengangakan mulutnya yang gelap dan berbau busuk menuju Raden Tumenggung.
     "Aku datang kepadamu, hai Dewata Cengkar untuk menghentikan kerusakan yang kau perbuat di sepanjang Pantai Selatan Ini."
     Buaya itu terperanjat sejenak, kemudian tertawa hebat, sehingga gelombang di antara mulutnya yang menganga, semakin besar, tertiup udara dari dalam perutnya, diiringi ocehan tertuju kepada Raden Tumenggung yang melayang-layang sangat kecil di dalam air.
     "Eh.. kau yang tertarik kepada Nini Blorong, anak Roro Kidul di Gunung Merapi itu, ya.." kata Dewata Cengkar. Maka keduanya pun bertarung, dengan bentuk tubuh yang tidak seimbang. Dewta Cengkar mendapat kesulitan untuk menelan tubuh Raden Tumenggung yang kecil seperti teri sehingga selalu dapat menghindar dari rahang buaya raksasa yang terbuka.
     "Tidak akan semudah itu kau dapat menelanku," ejek Raden Tumenggung, "karena aku juga mungkin telah diizinkan dewata untuk mengalahkan kezalimanmu."
     Suatu ketika Raden Tumenggung berhasil singgah di batok kepala buaya raksasa itu. Langsung ditikamnya dengan keris Kujang Sakti berlubang satu. Tetapi tidak mempan. Karena kulit buaya itu sekeras batu karang. Malahan keris Kujang raib menjadi binatang berekor menuju langit. Dan binatang berekor itu mengeringkan Raden Tumenggung yang di bawah laut. Sehingga tampak di seluruh pegunungan bahwa Dewata Cengkar belum terkalahkan.
     Dua puluh satu hari lamanya, pertarungan itu belum ada yang kalah menang. Terkadang Raden Tumenggung terlempar ke darat, ke kaki gunung, oleh sabetan ekor buaya. Tetapi kembali ia terjun ke laut. Semua rakyat kerajaan Pantai Selatan berbaris di sepanjang pantai, ingin melihat siapa yang akhirnya akan menang.
     "Kau tidak akan dapat mengalahkan aku," ujar Dewata Cengkar, 'kekuatan dari seluruh jantung manusia yang kumakan telah memperkuat kedigdayaan wujudku yang baru."
     Tahulah Raden Tumenggung bahwa memakan jantung manusia adalah syarat ilmu kedigdayaan hitam yang dipakai oleh wujud baru Dewata Cengkar. Itulah sebabnya tidak mudah dikalahkan.
     "Tahukah kau sudah berapa anak raja dan pandita yang berada di dalam perutku ini?" oceh si buaya raksasa, "Kau akan menyusul mereka pula dan berjumpa di neraka jahanam sana."
     Raden sangat geram, sehingga gerahamnya bergemeretakan. Untuk kesekian kalinya ia menerpa raksasa buaya itu. Tetapi disambut oleh pukulan moncong yang besar, sehingga Raden Tumenggung terlempar ke angkasa. Melayang-layang tubuh Raden Tumenggung, lama semakin turun. Sementara itu baya raksasa tadi siap mengangakan rahangnya, menanti Raden Tumenggung jatuh ke bawah.
     Di saat yang berbahaya itulah muncul Roro Kidul yang datang bersama lidah ombak yang bersar dan bersorak, "Sambutlah telur ini dan telanlah agar kau tidak dikalahkannya."
     Dalam keadaan melayang turun, Radeng Tumenggung menyambut telur yang dilemparkan Nyai Roro Kidul itu. Memang tidak ada jalan lain, rahang buaya raksasa telah menantikan batang tubuhnya. Hanya selapir awan tipis jarak montong buaya dengan tubuh Raden Tumenggung.
     Ketika itulah kesempatannya menelan telur yang dilemparkan Nyai Roro Kidul. Tiba-tiba tubuh Raden Tumenggung meledak hebat, berganti wujud menjadi seekor ular naga dengan ekor seperti ikan mas. Ia terjun ke mulut buaya raksasa. Dari lidah naga wujud Raden Tumenggung, meluncur petir dengan tujuh cabang api yang berbeda warnanya.
     Api petir itu langsung memecahkan rahang buaya raksasa, sedang beberapa cabangnya menuju mata dan otaknya. Sehingga buaya wujud Dewata Cengkar itu meraung hebat ke angkasa. Kemudian menggelepar-gelepar. Menimbulkan ombak bergulung-gulung menuju pantai, merusakkan gubuk yang berada di tepinya.
     Hiruk pikuk penduduk di tepi pantai, menghindarkan diri dari ombak guncangan tubuh Dewata Cengkar. Sehari semalam buaya raksasa itu meregang nyawa di dalam Laut Selatan. Selama itu ia berenang dari arah barat ke timur, merusak apa yang dapat disambarnya, sungguhpun kedua matanya telah buta.
     Hari ketujuh, ombak pun reda. Bangkai buaya raksasa telah tenggelam ke dasar laut. Tinggal Raden Tumenggung yang heran melihat dirinya berubah menjadi seekor naga berekor ikan mas. Tidak jauh dari sana Nyai Roro Kidul yang berdiri di atas ombat, tersenyum dan berkata kepadanya, "Kau telah lulus dari sayembara besar ini dan aku rela anakku Putri Nini Blorong menjadi istrimu."
     Raden Tumenggung menjadi gundah. Karena ia berubah wujud. Ia teringat kepada wasiat ayahnya, Raja Agung Gunung Galunggung, bahwa sumpah dewata bila dihalangi akan berakibat buruk bagi makhluk.
     Apa daya Raden Tumenggung yang telah menjadi naga? Ia tak bisa kembali menjadi makhluk biasa karena telur tumbal janji telah ditelannya. Bagaimana lagi akan mengeluarkannya? Dengan perasaan sedih Raden Tumenggung menuju ke pantai. Dari laut kelihatan olehnya ayahnya berdiri menunggunya di lereng Gunung Galunggung. Raden Tumenggung tidak dapat lagi menahan air mata, untuk mengadukan nasibnya.
     "Kau telah berubah wujud, anakku," ujar Raja Agung Galunggung, "oleh karena itu, kau harus bertapa 1000 tahun lamanya, agar kau kembali seperti biasa. Masuklah ke salah satu gua di kaki Gunung Galunggung. Bagaimanapun, sumpah itu tidak dapat kutolak. Kau telah menjadi suami dari Putri Gunung Merapi, anak Nyai Roro Kidul yang cerdik itu."
     Mendengar ucapan ayahnya, Raden Tumenggung merangkak ke lereng Gunung Galunggung. Dicarinya salah satu gua yang menghadap arah ke baratdaya, lalu menghilang di sana.
     Sementara itu sang Nyai Roro Kidul menyiapkan pesta perkawinan putrinya. Tetapi ketika itu Raja Agung berkata, "Biarlah anakku bertapa selama seribu tahun sampai dia kembali berubah wujud. Setelah itu baru dia kita nikahkan dengan anakmu Putri Nini Blorong." Sementara itu Gunung Merapi menyentak-nyentak mengeluarkan abu, pertanda telah bersedia untuk menjadi pengantin Raden Tumenggung yang dapat mengalahkan buaya raksasa Dewata Cengkar.
     Alangkah sedihnya Nini Blorong mendengar pesta perkawinan itu diundurkan sampai seribu tahun, menantikan Raden Tumenggung selesai bertapa brata. Kerinduannya yang tertahan-tahan menyebabkan Gunung Merapai selalu mengeluarkan abu dan meletus.
     Sedangkan Raden Tumenggung tidak bergerak seperti batu menghadapkan dirinya ke arah baratdaya. Setiap seratus tahun diberinya pertanda bahwa setingkat tapanya telah bertambah dan akan terjadi perubahan pada dirinya.
     Bila mereka menikah kelak akan terjadi perubahan besar di tanah Jawa ini. Sesudah Gunung Galunggung meletus pada tahun 1882, disusul pada tahun 1982 ini genaplah seribu tahun Raden Tumenggung melaksanakan tapanya. Maka wujud naga batang tubuh Raden Tumenggung tampak oleh penduduk di sekitar Gunung Galunggung, turun ke bawah. Anak Galunggung ikut meletus, memberitahukan hal ini kepada Sang Hardi Hyang, yang disampaikannya dengan abu yang tersebar sampai ke Gunung Sanggabuana Bandung dan sekitarnya.
     Setelah beritu itu disampaikan, barulah diteruskan ke seluruh gunung yang berada di sekitar Gunung Merapi Jawa Tengah, Gunung Wilis, Gunung Sepuh, Gunung Merbabu, Gunung Pangrango, Gunung Muria dan Gunung Selamat. Yang terakhir ini sebagai batas hulu dengan mata keris Kujang.
     Karena Gunung Selamat dianggap sebagai pandita yang sanggup memberikan wejangan waskita tentang perjodohan yang telah disumpahkan Nyai Roro Kidul, abu yang menyelimuti Gunung Selamat, disambut gunung itu dengan kepulan asap kepundannya, pertanda bahwa wejangan itu deberikan tidak berapa lama lagi.
     Sementara itu wujud Raden Tumenggung telah berubah dari naga dengan ekor seperti ekor ikan mas, menjadi dewa yang beristrikan Nini Blorong. Sebagai pertanda bagi manusia yang akan datang, bahwa tugas Gunung Merapi Jawa Tengah beralih kepada Gunung Galunggung di Jawa Barat.
     Kata orang waskita: Jika perkawinan gaib Gunung Merapi dengan Gunung Galunggung telah terjadi, akan ada pesta gaib di seluruh tanah Jawa.
     Dilengkapi dengan pertanda terjadinya gerhana matahari pada bulan Juni 1983 yang akan datang. Nyai Roro Kidul akan naik ke daratan untuk menikahkan anaknya dengan Raden Tumenggung. Ia akan muncul dari arah Parang Teritis, bila Gunung Merapi meletus dan mengeluarkan laharnya ke arah baratdaya. Dan lahar itu akan membelah Kali Progo dan Kali Opak sehingga air laut masuk ke tengah pulau, sebagai pertanda Nyai Roro Kidul telah datang bersama seluruh punakawan dan dayang-dayangnya. Tentu saja daratan yang dilaluinya akan berubah, seperti  ucapan Jayabaya, "Pulau Jawa ini pada suata masa akan menjadi seperti kapal tua, bocon di tengahnya dan masuk air."
     Semua makhluk gaib berunding, membicarakan kedatangan Nyai Roro Kidul ke pedalaman daratan, dari kerajaannya di Pantai Selatan.
     "Apakah ia akan masuk terus menembus pedalaman Jawa Barat sampai mencapai Gunung Gslunggung?" Sebagian orang merasakan  perubahan bentuk Pulau Jawa yang mengakibatkan terdesaknya manusia oleh air laut, menggantungkan harapan kepada Pangeran Akidah Gaib yang bertapai di Gunung Selamat. Dialah yang dapat membatasi perjalanan air laut itu sampai ke pintu masuk sebelah timur.
     Teteapi Nyai Roro Kidul bersumpah, bahwa ia harus sampai ke Gunung Galunggung, untuk memperjabatkan tangan anak dan menantunya. Sumpah itulah yang sedang dipikirkan oleh Pangeran Akidah Gaib yang masih menadahkan kedua tangannya kepada Penguasa Tunggal, menanyakan apa sesungguhnya kesalahan manusia sampai harus tersingkir oleh air laut.
     Mohon petunjuk apa kebijaksanaan yang harus dilakukan, pengganti sumpah Roro Kidul memeriahkan perkawinan anaknya.
     Orang-orang waskita seperti memakan buah simalakama, menghadapi perkawinan Gunung Merapi dengan Gunung GAlunggung. Jika kedatangn Roro Kidul bersama meluasnyakerajaan lautnya diterima, Gunung Merapi akan meletus terus.
     Demikian juga Gunung Galunggung akan mengancam keselamatan manusia di sekelilingnya. Tetapi bila perkawinan mereka dilangsungkan, Nyai Roro Kidul dengan seluruh abdi kerajaannya akan melalui tengah-tengah Pulau Jawa, bersama air laut sebagai pengantar perjalanan mereka.
     Bila Pangeran Gunung Selamat menghalangi perjalanan Nyai Roro Kidul hanya sampai di lereng bagian timurnya, berarti perta pernikahan itu belum sah, karena Nyai Roro Kidul belum sampai di lereng Gunung Galunggung. Tetapi akan diam sajakah Nyai Roro Kidul diperlakukan seperti itu?
Majalah Senang  0534 thn 1982

     Entah apa daya tarik pertemuan ilmiah tahunan IAGI yang diselenggarakan di tahun 1985 itu, sehingga menggelitik minat begitu banyak mahasiswa Geology Unhas untuk mengikutinya. Hajatan para ahli geology di Indonesia itu diselengarakan oleh Universitas Trisakti. Acara yang menurut saya sangat megah itu, mulai dari sesi pembukaan malam hari hingga seminar selama dua hari selanjutnya, dipentaskan di Hotel Indonesia Jakarta.
     Acara pembukaannya oleh menteri Pertambangan dan Energi (waktu itu) berlangsung malam hari. Di kertas undangan tertera bahwa menghadiri acara dengan mengenakan batik. Jadilah, saya harus tergopoh-gopoh cari kemeja batik, karena tidak mempersiapkan dari Makassar. Dapat kemeja, tidak keburu biayanya untuk beli sepatu kulit. Jadinya, kostum saya padankan dengan sepatu kets. Mantap.

      Begitu riuh seremoni pembukaan itu. Beruntung, sempat mengabadikan gambar bersama bapak Kusumadinata dan Sampurno. Beberapa yang lainnya tidak keburu sempat, oleh ramai dan sibuknya mereka-mereka yang baru sempat bertemu malam itu setelah terpisah jarak dan waktu yang lama.
      Salah satu yang menarik di ruangan itu, patung es berbentuk empat huruf iagi. Untuk waktu itu, kreasi yang nampak itu sudah mengundang decak kagum dari setiap yang mengamatinya. Teknologi presentasi masih belum berkembang seperti sekarang. Belum ada atraksi laser, pampangan layar lebar dan asesori teknologi terkini.
      Dan ini dia. Dinner setelah semua basa-basi pembukaan dari para pihak yang berkepentingan. Sekitar pukul 10 malam, acara tuntas. Rombongan mahasiswa Unhas yang 18 orang itu semuanya menuju ke Palmerah Barat. Selama acara iagi dilangsungkan, kami semua ditampung di kediaman bapak Chaeruddin Rasyid di Palmerah itu. Ramai sekali.
 
     Selama di Palmerah, beragam kekonyolan menimpa para 'rusa masuk kampung' itu. Mulai dari yang hilang di kota dan tidak tau bagaimana pulang ke Palmerah, sampai yang bisnya penuh horor karena disatroni rampok. Ngeri-ngeri sedaplah pokoknya. Prihatin, sekaligus geli mewarnai setiap dering telepon yang mengantarkan kabar dari para rusa itu.
     Selain kekonyolan yang hangat, yang sudah lampau pun selama perjalanan kemarin masih menjadi bumbu untuk saling ejek di saat istirahat. Cerita selama di kapal Kambuna masih menjadi topik yang hangat. Begitu juga cerita-cerita ketika transit di Tanjung Perak Surabaya, masih selalu menggelikan.
      Selama sesi seminar, terus terang tidak banyak yang saya mengerti. Saya mencoba memaklumi saja, karena ini adalah hajatannya para ahli, sementara saya ini masih mahasiswa, yang nota bene bukan yang bureng. Tidak mengerti apa yang dipaparkan oleh para ahli itu menjadi konsekwensinya. Namun tentu saja untuk teman-teman saya yang 'sangat' rajin belajar, terlihat begitu mengasyikkan mengikuti sesi seminar itu.
     Jadilah, stand pameran yang ada di sekitar ruangan utama menjadi sasaran nongkrong. Salah satunya adalah milik Trisakti sendiri yang banyak menggelar buku-buku dan kumpulan makalah. Selain benda-benda cetak itu, tentu saja mahasiswi-mahasiswi penjaga stand juga menjadi daya tarik lainnya untuk sesi 'di luar ruang seminar'.
      Dan ini dia, sesi lunch. Satu hal yang menarik, adalah tabiat para geolog itu, meski sudah hidup mapan dan berhadapan dengan makanan yang melimpah, tapi masih cenderung berebutan mengisi piring di tangan. Seperti ada naluri untuk berlomba di situ. Tentu saja tidak semuanya, karena ada juga yang sudah bisa jaim.
      Di pintu keluar Hotel Indonesia, ada teman yang begitu ngebet untuk bisa berfoto bersama dengan turis asing. Mungkin karena tuis itu cenderung pendek, sehingga memacu semangat untuk menakar tinggi badan di samping mereka. Tidak lupa, berpose di depan mobil 'mewah' waktu itu, yang entah milik siapa. Pokoknya narsis dah..
      Dan begitulah, banyak cerita konyol lain yang tidak sempat saya ingat untuk dituliskan di sini. Karenanya, kembali saya mengajak teman-teman untuk melengkapi cerita saya di atas, dengan menambahkan komentar di bawah.
note: untuk melihat gambar dalam ukuran besar,
arahkan mouse ke atas gambar dan klik. 

Author Name

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.