Termate dengan sore yang hangat, dua hari sebelum Idul Adha di Oktober 2012. Sambil menunggu flight ke Makassar pagi besok, saya coba menghalau bosan dengan berjalan-halan ke sekitar hotel Boulevard tempat menginap malam itu. Bermodal D60 milik teman saya, yang sore itu merasa begitu lelah sehingga memutuskan beristirahat saja di hotel, saya mulai melangkah sambil jepret-jepret sekenanya.
Gunung Gamalama yang puncaknya diselimuti awan, teduh hening menjelang magrib.
     Mulailah, objek pertama adalah mesjid Al Munawwar. Bangunan mesjid yang megah itu, nampak masih sangat baru. Cat dan tamannya masih kinclong dan tertata rapi. Di sampingnya ada kanal kecil, tempat speedboat terparkir, menunggu penumpang untuk diantar mengarungi laut ke tujuan yang dikehendaki.
     Jalan yang lebar dan cenderung lengang di sore itu, memudahkan saya untuk mengambil gambar dari beberapa sudut yang berbeda, dengan cukup leluasa. Setelah merasa cukup, saya mengalihkan pandangan ke sudut jalanan di depan mesjid itu. Ada kerumunan orang, sambil sesekali bersorak riuh.
      Ternyata di sana ada pertunjukan jalanan. Anak-anak usia sekolah dasar saling adu jotos, lengkap dengan sarung tinju dan helm pengaman. Rupanya ada gelaran latih tanding tinju khusus untuk anak-anak.
 luar biasa, anak-anak usia sekolah dasar itu, berlatih tanding tinju di trotoar pinggir jalan depan mesjid Al Munawwar. Dengan arahan pelatih masing-masing dari pinggir arena, petinju-petinju cilik itu saling pukul ditimpali riuhnya sorak sorai penonton gratis yang berjejal di pinggir jalan.
      Setelah puas menikmati sajian tinju amatir anak-anak, saya mengabadikan andong yang kebetulan melintas di situ. Rupanya moda angkutan tradisional itu masih bertahan hadir di kotaTernate, meski jumlahnya sudah tidak banyak lagi (begitu yang terlintas di pandangan saya, bila dibandingkan dengan angkot ataupun ojek motor yang begitu ramai hilir mudik).
 
      Beberapa jepretan saya lakukan di beberapa persimpangan yang saya lalui. Setelah memutar dari jalan kecil di depan mesjid Al Munawwar, maka jalan lebar dan lapang membentang jauh ke Utara, yang kemudian saya tau menuju ke pasar tradisional Kei Raha. Nah, objek-objek yang menarik untuk saya di sepanjang jalan itu, saya sajikan dalam beberapa gambar di bawah ini.
 
 
      Salah satunya adalah jalan kecil, yang dipenuhi oleh pedagang yang menjual kerajina besi putih. Seperti yang sudah menjadi trade mark Ternate, salah satunya adalah aneka perhiasan yang terbuat dari logam putih mengkilat itu. Dan di jalan ini, kita bisa memilih, dari ribuan desain yang tersaji, apa saja yang menarik untuk dibawa pulang.
 ada satu jalan kecil, yang dipenuhi padagang penjual kerajinan besi putih. Beragam model yang indah, siap beralih tangan bila bersepakat dengan penjualnya.
      Setelah puas melihat-lihat aneka kerajinan besi putih itu, saya melanjutkan langkah ke Utara. Ada satu mesjid yang menarik untuk saya, memancarkan aura keteduhan oleh penampilannya yang begitu bersahaja.
 tidak jauh dari mesjid itu, aha.. ada deretan penjual coto Makassar. Saya tidak mampir di situ, hanya mengambil gambarnya saja dengan latar belakang gunung Gamalama.
      Lanjut melangkah lagi, saya tiba di salah satu cagar budaya yaitu Benteng Oranje. Waktu itu, saya belum tau sama sekali mengenai bagaimana sejarah benteng ini. Namun setelah tiba di Makassar, saya mulai googling untuk mendapatkan gambaran apa dan bagaimana benteng itu yang ternyata, menyimpan kisah yang sangat luar biasa.
di jalan masuk menuju gerbang benteng Oranje, selain meriam yang menjadi tempat bermain anak-anak yang tinggal di dalam benteng, di sebelah kiri ada papan identitas benteng tersebut.
      Seperti yang dikeluhkan oleh para blogger di dalam tulisan-tulisannya tentang benteng Oranje itu, ternyata apa yang saya jumpai memang demikian adanya. Kondisi benteng yang cenderung dibiarkan apa adanya, seakan berjuang sendiri dalam detak waktu yang membawa pelapukan yang semakin tak terbendung.
 bagian dalam benteng, dimanfaatkan menjadi pemukinan untuk personel TNI dan keluarganya, yang bertugas atau berkantor persis di samping benteng tersebut.
      Meninggalkan Benteng Oranje, saya terus melangkah ke Utara, untuk kemudian tiba di pasar tradisional Kei Raha. Mengabadikan gambarnya dari luar, namun saya sama sekali tidak tergerak untuk melihat-lihat ke dalam bangunan pasar berlantai tiga itu. Saya menyusuri saja jalan-jalan sekitar pasar yang menjadi sedemikian sempit karena disesaki oleh para pedagang kaki lima yang saling berebut kelapangan dengan angkot yang melintas di sana. Dan tentu saja bukan cuma angkot, ojek motor pun turut berebut kesempatan menambah kesesakan itu.
 beginilah gelaran pedagang kaki lima itu. Yang menjadi perhatian saya, adalah kehadiran sapu lidi yang menyertai bawang cabe dan bumbu dapur lainnya.
     Selain bumbu dapur dan aneka keperluan lainnya, ada yang menarik di sore itu. Mereka adalah para penjual ikan asap. Ikan cakalang dengan ukuran besar-besar itu telah matang kemerahan setelah melalui proses pengasapan. Selain ikan asap, ada juga yang menjajakan aneka makanan matang, berupa lauk dan sayur. Sayang sekali, karena kesempatan yang begitu sempit, saya tidak berkesempatan mencicipi aneka makanan itu, meski ada keinginan yang begitu kuat untuk sekadar icip-icip.
 ikan cakalang yang sudah diasapi. Begitu menggiurkan dan menggugah selera. Ikan yang besar-besar itu dihargai 20 hingga 25 ribu perekornya, untuk yang utuh. Yang terbelah tentu saja dengan harga yang lebih murah lagi.
 
 ibu yang menjual aneka panganan matang itu, beristirahat sejenak di sela kesibukan melayani konsumennya.
Pintu gerbang kelurahan Gamalama yang wah.. dijejali aneka produk dari pedagang kaki lima.
     Keluar dari lingkungan pasar Kei Raha, saya segera mendapati kembali jalan Boulevard yang melalui depan hotel tempat saya menginap. Masih ada waktu sebelum hari benar-benar gelap, saya menyempatkan mengambil beberapa gambar gunung Gamalama yang baru saja ditinggalkan magrib. Selain itu, keramaian pedagang kaki lima di sepanjang jalan sekitar pasar, juga menyajikan suguhan pemandangan yang lain.
 jalan Boulevard di belakang pasar Kei Raha, di kejauhan nampak menara Mesjid Al Munawwar.
rumah-rumah yang menjadi toko di sepanjang jalan, menambah gelaran dagangan dengan tenda-tenda yang menjorok ke jalan raya.
di sisi jalan yang lain, pedagang menggelar dagangannya di tepi jalan, yang persis juga di tepi pantai. Untukku, pemandangan ini begitu eksotis.
       Di trotoar tengah jalan, dipadati ibu-ibu dan anak-anak yang menjajakan aneka perlengkapan dapur untuk lebaran nanti. Yang paling banyak adalah daun kelapa, baik yang sudah dibentuk menjadi ketupat-ketupat kecil, ataupun yang masih berupa lembaran siap olah. Selain itu aneka bumbu dan rempah juga banyak dijajakan. Dan pembeli yang tidak mau repot bergelut dengan padatnya pasar, bisa menemukan hampir semua kebutuhannya di sepanjang trotoar itu.
 kulit ketupat dari daun kelapa, dijajakan di trotoar tengah jalan. Tidak ketinggalan aneka bumbu yang diperlukan untuk hajatan lebaran nanti.
 
 
pedagang buah dan makanan saling berbaur di sepanjang jalan ini. Ada yang menarik dalam penyajian padagang makanan kaki lima ini, panganan di sajikan ala prasmanan dalam baki-baki stainless lengkap dengan penutup bakinya.
 magrib sudah beralih menjadi malam, saya melangkah perlahan kembali menuju Hotel Boulevard. Di sebelah kiri nampak Jatiland Mall. Di kejauhan, menara mesjid Al Munawwar nampak megah dalam bias cahaya yang mengelilinginya.

     Tiba kembali di hotel, teman saya sudah segar. Setelah saya bersih-bersih dan beberes segala sesuatu, saatnya keluar lagi, untuk mencari sesuatu sebagai pengganjal lambung sambil menunggu pagi besok. Dan, ya pantai itu menjadi tujuan. Sambil berjalan santai saja ke sana, karena letaknya yang tidak jauh dari hotel.
 banyak pilihan untuk menu makan malam itu. Aneka jenis ikan laut, udang, kepiting ataupun ayam dan daging sapi dalam beragam menu.
 duduk di tepi pantai yang beriak lembut, sambil menyantap makan malam, dua dari sekian ikon kota Ternate menebarkan keteduhan kala memandangnya.
      Terlalu singkat rasanya berada di Ternate di waktu itu, belum sempat mengunjungi berbagai destinasi yang ada di sana. Semoga, suatu hari nanti, masih ada kesempatan untuk berkunjung ke sana, tentu saja tidak dengan jadwal yang kepepet sehingga bisa menelisik lebih banyak, bagaimana eksotisnya Ternate.

note: untuk melihat gambar2 dalam ukuran
besar, pointer mouse di atas gambar (mouse over)
kemudian klik. 

     Sudah lama mendengar nama Lappa yang terletak di Kabupaten Sinjai Sulsel, namun baru di pertengahan Agustus 2013 kemarin saya berkesempatan menginjakkan kaki di sana. Malam sudah beranjak larut sekitar pukul 22.00 wita, kami bertiga memasuki gerbang TPI (Tempat Pelelangan Ikan) Lappa. Angin laut berhembus lembut, bersenandung dengan bunyi ombak yang teduh di bibir dermaga. Anyir darah segar ikan terselip di sela desir angin itu.
     Ini bukan musim ikan, bisik temanku di sebelah, sambil melangkah perlahan mengamati jenis ikan apa saja yang kebetulan dijajakan malam itu. Karenanya, tidak banyak yang menjajakan ikan di sepanjang bibir pantai Lappa ini. Konsekwensi lainnya adalah, harga menjadi lebih mahal dibandingkan bila sedang musim ikan. Dengan harga yang sama, bisa mendapatkan dua hingga tiga kali lipat jumlah ikan dibanding yang kami peroleh malam ini.
 suasana tpi yang cenderung lengang. Pengunjung pun tidak ramai, menunggu usim ikan tiba untuk mendapatkan harga yang lebih murah
beberapa penjual ikan dengan variasi dan volume jenis ikan sedikit.
     Setelah mendapatkan yang kami butuhkan, untuk menjadi pengisi perut malam itu, kami melangkah keluar area TPI. Tujuan kami selanjutnya adalah warung-warung yang tersebar di sekitar TPI, untuk mengolah ikan segar yang barusan dibeli. Malam itu kami singgah di salah satunya, memesan menu bakar untuk ikan dan cumi yang kami punya. Tiga puluh menit kemudian, semuanya siap, lengkap dengan nasi, lalapan dan sambel tomat yang hmm.. lezat.
 belanjaan kami yang sementara dipanggang.
      Akhirnya, special thanks untuk Wawan Negarawan yang telah mengajak jalan ke Sinjai.

     Semula keberadaan kami berlima di tanah Kajang, hanyalah dalam rangka membantu Wawan untuk merampungkan pengumpulan data lapangan untuk penyelesaian tugas akhirnya. Sebagai mahasiswa geology, maka kewajiban tugas akhir waktu itu adalah melakukan pemetaan di wilayah 81 km persegi. Untuk kepentingan itulah, kami kemudian berkenalan dengan masyarakat Kajang, tempat di mana data-data itu kami kumpulkan. Selama sepuluh hari kami tinggal di rumah Karaeng Liong, salah seorang tokoh Kajang Dalam. Beliau menyandang tugas sebagai Loha Kanang (paha kanan => terjemahan bebas) di dalam struktur kebudayaan masyarakat Kajang Dalam.
     Apa dan bagaimana tugas dan tanggung jawab sebagai Loha Kanang, tidak sempat kami kaji lebih jauh. Tidak banyak informasi yang diceritakan oleh Karaeng Liong pada waktu itu. Satu hal yang kami tau pasti, beliau salah satu orang yang mampu melakukan pengobatan dalam tata cara yang unik namun telah mapan di tengah masyarakat Kajang Dalam. Istilah Kajang Dalam sendiri merujuk ke masyarakat Kajang yang masih terisolasi dari pengaruh luar. Mereka mengenakan pakaian serba hitam, waktu itu tahun 1985 tanpa penerangan listrik dan tanpa perlengkapan teknologi sama sekali. Bercocok tanam padi dilakukan sekali dalam setahun, mengikuti ritme musim hujan-kemarau.
Amma Toa di Kajang, Puto Cacong, tahun 1985. Beliau adalah Amma terakhir yang terpilih melalui proses seleksi alam yang rumit penuh nuansa sakral dan mistis. Sepeninggal beliau wafat, sempat terjadi kekosongan posisi Amma Toa (pemimpin tertinggi masyarakat adat Kajang) untuk beberapa waktu. Proses alamiah yang ditunggu masyarakat adat tidak kunjung membuahkan hasil, tidak ada penentuan siapa yang mendapatkan petunjuk wahyu dari langit untuk melanjutkan tongkat estafet kepemimpinan di masyarakat Kajang yang masih original.
 bercengkerama dengan keluarga Karaeng Liong.
     Sementara tempat kami bermalam ini, berada di Kajang Luar. Masyarakat sudah lebih bebas, berpakaian pun sudah tidak terikat harus berwarna hitam. Teknologi dan pendidikan sudah berkembang, terlihat dengan banyaknya anak-anak beraktifikas ke sekolah dan mengerjakan tugar-tugas yang diberikan oleh gurunya. Lalu mengapa Karaeng Liong yang memegang jabatan budaya di Kajang dalam malah tinggal di Kalimporo yang berada di Kajang luar? Menarik fenomena itu, ternyata beliau mau lebih berkembang, bisa menyekolahkan anak-anaknya, yang semuanya itu tidak bisa dilakukan bila tetap tinggal di Kajang dalam.
     Maka di kemudian hari, di saat sekarang ini, anak-anak beliau sudah bisa mengecap buah pendidikan yang mereka semai dahulu. Kualitas kehidupan, pendidikan dan ekonomi yang mapan telah mereka nikmati sekarang ini.
     Untuk menjangkau lokasi Kajang Dalam waktu itu, dari Kalimporo kami biasanya menempuh hutan larangan. Selama satu setengah jamberjalan kaki untuk sampai ke jantung Kajang Dalam. Hutan larangan yang tentu saja menyiratkan aroma mistis, sekaligus mewariskan kearifan yang begitu luhur. Salah satu pesan terpenting ketika hendak melintasi hutan itu adalah, tidak boleh sembarangan memetik atau menebas pepohonan di dalam hutan. Selain itu harus tetap menjaga hati untuk selalu bersahaja, tidak boleh congkak dan angkuh. Suatu perilaku yang dikemudian hari diketahui sebagai kearifan yang luar biasa di dalam melestarikan hutan yang ada di Kajang.
 beliau masih begitu bugar di tahun 1985.
bersama Yustin Kamah, Sulaeman Kamaruddin, Wawan Said dan saya sendiri Hero Fitrianto 
     Kembali ke masalah kemampuan Karaeng Liong dalam ritual penyembuhan yang yang diyakininya, saya sendiri mempunyai kenangan yang tidak terlupakan. Di waktu itu, saya mengalami sedikit gangguan di jantung. Akibat over training sewaktu masih SMA, jantung saya mengalami sedikit ketidak normalan fungsi. Nyeri kadang muncul tiba-tiba tanpa saya ketahui tanda atau penyebabnya. Dan untuk itulah, beliau bermaksud mengobati penyakit saya itu. Saya hanya diminta mempersiapkan mental menjalani prosesnya. Hari itu masih minggu, dan beliau menjanjikan jumat nanti, seperti ritual yang biasa beliau lakukan, akan membakar linggis hingga merah kemudian akan ditempelkan ke dada saya untuk menghilangkan sakit itu.
     Ngeri sekali membayangkannya. Ritual pengobatan itu sendiri sudah sering ditayangkan di berbagai stasiun televisi Indonesia.. sebagai informasi saja bila hendak lebih tahu lebih detailnya. Dan untunglah bagi saya, karena rombongan kami jadwalnya hanya sampai hari Rabu, sehingga saya tidak sempat untuk menjalani ritual itu. Suatu keberuntungan menurut saya, karena sampai hari ini, saya belum pernah untuk cukup kuat mental menjalani proses itu.
 Agustus 2013, saya dan Wawan berkesempatan bertemu beliau di Kassi - Kajang. 
Dalam usia yang sudah begitu sepuh (lahir 1922), fisik beliau masih nampak begitu bugar. Tentu saja dengan beberapa pengecualian, misalnya kemampuan pendengaran beliau yang sudah begitu buruk. Kehadiran kami ternyata tidak sanggup mengusik kemampuan menggali rekaman memori beliau pada 28 tahun yang lalu. Namun bagaimanapun, suatu kesyukuran masih bisa bertemu muka.
     Masih begitu banyak hal yang tetap menjadi mesteri untuk saya, mengenai tanah Kajang itu. Suatu harapan, bisa berkesempatan lagi menelisik lebih detail fenomena kekinian masyarakat Kajang itu.

     Menjadi inspirasi Muhammadin, suami ibu yang bernama Kartini itu mendirikan sekolah yang kemudian dinamainya dengan nama Kartini. Sekolah itu seakan menjadi sebuah prasasti yang menuliskan kisah perjuangan pasangan ini melayarkan cinta bahtera rumah tangganya yang mengobarkan cita-cita mulia akan peningkatan kualitas pendidikan masyarakat sekitarnya.
     Dan nama Kartini itu yang melekat kuat diingatan saya, ketika pertama kali berkenalan dengan keluarga ini 28 tahun yang lalu. Bagaimana bapak Muhammadin yang bertutur dengan lembut, namun menyiratkan kobaran semangat yang begitu berapi-api, tentang cita-cita sekolah yang didirikannya. Lalu di pertengahan Agustus 2013 ini, suatu anugrah bisa bertemu kembali dengan keluarga beliau yang bersahaja di dusun Kalimporo, yang terletak dalam wilayah administratif desa Tambangan kecamatan Kajang Bulukumba.
 baju biru di gambar bawah adalah bapak Muhammadin dulu, dengan ibu Kartini memakai baju merah maron, bersama anak perempuannya yang bergelayut manja. di gambar atas adalah gambar mereka bertiga ketika saya mampir di kediaman mereka agustus 2013.
ada Yustin Kamah, Sulaeman Kamarudin dan saya sendiri.
      Sayang sekali, pertemuan kali ini berlangsung terlalu singkat. Tidak banyak hal yang sempat kami perbincangkan seperti dulu, ketika rombongan saya menginap sepuluh hari di dusun Kalimporo itu. Di dalam hati, saya berdoa semoga dalam waktu yang tidak terlalu lama, kesempatan yang lebih longgar bisa mempertemukan kami kembali, lalu bisa bertukar wawasan kearifan masyarakat kajang ke dalam ruang-ruang memori di kepala saya. Suatu harap yang tentu saja tidak muluk-muluk.
 bercengkerama dengan keluarga ini, ibarat menyelam di dalam kesederhanaan yang begitu bersahaja. Ada rindu yang selalu mengusik, untuk kembali dan kembali, mereguk suasana asri dan damai itu.
di sini ada Ahmad Negarawan
      Teriring salam dan doa, semoga bapak Muhammadin, ibu Kartini dan keluarga selalu diberi kesehatan dan umur panjang sehingga kita bisa bertemu lagi dan lagi, di masa yang akan datang.

     Lebih seratus orang sedang bersiap di Lembanna, menatap puncak Bawakaraeng yang sebentar lagi menjadi tujuan mereka. Beberapa jam lagi, rangkaian puncak kegiatan pendidikan dasar akan segera mereka rampungkan. Di tempat yang lainnya, beberapa kelompok yang mengarahkan beberapa puluh anggota lainnya, sementara bergelut menuntaskan serangkaian prosesi untuk menyelesaikan pendidikan khususnya.
     Pendidikan khusus yang akan menjadi bekal, untuk persiapan rencana ekspedisi mereka, menyusul kakak-kakak lainnya yang sementara mengayunkan langkah menuju summit-summit tertinggi di dunia. Beberapa kakak lainnya, sementara membentangkan layar di atas perahu untuk merapat ke pantai-pantai yang jauh di belahan bumi yang lain. Lainnya lagi sementara merambah lorong-lorong gelap menyusuri perut bumi yang mungkin belum sempat terjamah oleh penelusur lainnya.
     Mendampingi setiap tahapan pendidikan itu, instruktur-instruktur handal yang telah menuntaskan seluruh rangkaian pendidikannya, yang tentu saja adalah para veteran ekspedisi. Seluruh rangkaian pendidikan dilakukan dengan teliti, bersungguh-sungguh, disiplin tinggi yang tentu saja dengan eror tolerance yang mendekati nol. Bukan apa-apa, kualitas alumni dari setiap jenjang pendidikan, haruslah kualitas premium. Dan itu hanya bisa didapatkan salah satunya dengan arahan para instruktur yang juga berkualitas premium.
     Suatu siklus regenerasi yang begitu intens, mapan dan juga begitu terarah. Meminjam istilah mereka yang hendak mengabdikan diri menjadi seorang samurai, maka yang bersangkutan harus melakoni tata hidup dalam suatu istilah ‘jalan pedang’. Tata hidup yang penuh disiplin, berlatih dengan tekun menerapkan metode yang rumit, sulit dan penuh tantangan. Semuanya adalah untuk mencapai kualitas diri yang mumpuni secara teknis, mapan secara mental dengan kualitas karakter yang terpilih. Dan tentu saja pada puncaknya, untuk memahami dan menerapkan filosofi yang melandasi setiap gerak laku hidupnya.
     Itulah u-ka-em bernama Korpala Unhas. Di saat setiap lembaga kemahasiswaan maupun wadah-wadah ekstra kurikuler lainnya sedang lesu darah, di Korpala justru sebaliknya. Orang berduyun-duyun bersaing mendapatkan kesempatan menempa diri di sana. Jumlah anggota yang begitu melimpah, memungkinkannya melakukan serangkaian kegiatan yang melibatkan kuantitas anggota yang berkualitas, di waktu yang hampir bersamaan. Konsekwensinya, penyaringan untuk menjadi anggota berlangsung ketat. Bahkan beberapa orang tua mahasiswa sampai perlu membantu merengek untuk anaknya, menghubungi si anu dan si anu demi mendapatkan kesempatan sekali seumur hidup itu.
     Beberapa dari mereka pasti dengan sukarela mau melakukan suap demi anaknya diterima di Korpala. Namun mereka pasti gentar dan berpikir beribu kali, karena mereka tahu, itu bukan idealisme yang dianut oleh para pencinta alam itu. Terlalu naif dan tentunya sangat hina, yang bisa saja menutup selamanya kesempatan bergabung di Korpala. Bila ada akreditasi mengenai u-ka-em, maka pastilah Korpala meraih akreditasi A yang masih ditambah acungan jempol, plus dan plus.
     Keberhasilan organisasi ini mengembangkan, menerapkan dan menjaga filosofi yang kuat untuk setiap anggotanya, telah begitu memikat para pencinta alam di manapun berada. Serangkaian jenjang pendidikan dan kegiatannya, telah membentuk suatu standar keterampilan yang begitu rapi dan handal. Biasnya adalah, kualitas karakter yang dilandasi kualitas mental yang tepercaya, menjadi trade mark  yang mapan yang melekat di dalam diri setiap anggota.
     Bila pada umumnya pencinta alam selalu gamang, ragu tentang apa itu definisi, apa penjabaran yang tepat untuk sebutan pencinta alam, maka di sini semuanya sudah begitu jelas. Serangkaian siklus yang dilakoni dengan penuh disiplin, menghasilkan pribadi yang beretika sesuai kode etiknya. Baris-baris kode etik bukan hanya sebagai penghias bibir di setiap upacara atau seremoni, tetapi menjadi laku keseharian yang akrab dan tidak sakral. Ketahanan mentalnya juga luar biasa, bahkan mampu beradaptasi di dalam evolusi hingga ribuan tahun. Trend setternya adalah idealisme, bukan pragmatisme yang oportunis.
     Logika yang dikembangkan adalah logika tentang kesadaran. Membaca setiap ayat Tuhan dalam keping pahatan-pahatan terkecil hingga terbesar, membantu memahami tentang kompleksitas semesta. Kompleksitas yang terangkum di dalam satu miniatur yang namanya manusia. Kesadaran tentang manusia sebagai metafora alam dalam bentuk kecil, juga kesadaran tentang semesta sebaagi metafora manusia dalam bentuk super. Cosmos conciousness – kesadaran sejagad bukan hanya menjadi wacana untuk ruang-ruang seminar yang tidak jelas ke mana mengaplikasikannya. Di korpala, sekali lagi semua itu menjadi hal yang lumrah di dalam kehidupan keseharian.
     Begitulah, bila di hari ini di usia yang menginjak 28 tahun, Korpala sarat kegiatan yang mehadirkannya di setiap summit di berbagai belahan dunia dengan jumlah anggota yang melimpah, semuanya bukan karena individu-individu yang menonjol atau hebat di suatu rentang waktu tertentu. Seperti yang biasa didengungkan para awam, bahwa di setiap masa punya aktornya sendiri, maka di Korpala sebenarnya hanya konsisten menerapkan –istilah pinjaman- jalan pedang nya sendiri. Hal itu juga mengacu sebenarnya pada pemahaman yang awam yang mengakui dengan sedikit getir tentang pentingnya proses dibanding hasil. Nah, proses yang bagus dan matang, tidak lain akan menelurkan hasil yang baik.
     Semua orang di seluruh dunia, menginginkan Korpala ada terlibat di dalam organisasi mereka. Proses di dalam jalan pedang korpala telah melahirkan insan-insan yang handal berkualitas. Setiap institusi, berlomba untuk bisa menjadi sponsor kegiatan Korpala, bagaimanapun riskan dan tidak logisnya dalam takaran proses kehidupan yang normal. Sudah tidak ada anggota yang mengemis berkeliling dunia, demi membiayai sepenggal kegiatan remeh. Summit demi summit digapai bukan karena kita memfokuskan diri untuk mencapai setiap summit yang ada. Semuanya dicapai karena kualitas setiap anggota memang layak untuk berada di semua summit itu.
     Lalu antrianpun semakin panjang di depan pintu mabes korpala, adalah kenyataan bahwa di dalam curriculum vitae yang mencantumkan korpala sebagai ekskul semasa kuliah, telah menjadi nilai tawar yang sangat tinggi di dunia profesional. Disiplin yang tinggi menjalani setiap proses pendidikan dan berkegiatan, menghasilkan kepercayaan yang begitu tinggi. Gemblengan di dalam jalan pedang korpala telah mampu memenuhi setiap ekspektasi tinggi di dalam pasar kehidupan.
     Selamat ulang tahun ke-28 Korpala Unhas. Jalan Pedang itu adalah keniscayaan, bukan kemustahilan.
gambar : bigstockphoto.mountainclimb

Author Name

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.