Salah satu kegiatan belajar di Jurusan Geology Unhas di sekitar tahun 80-an adalah Kuliah Lapangan-1. Waktu kegiatannya hampir dua minggu, sebagai pengantar untuk nanti kuliah lapangan yang lebih heboh dengan durasi satu bulan yaitu kuliah lapangan kedua.
     Untuk kegiatan kuliah lapangan pertamaku di tahun 1984 itu, meninggalkan bekas yang begitu banyak, tentu saja denagn berbagai rasa yang fantastis. Mulai dari berkenalan pertama kali bagaimana bekerja menerapkan teori-teori yang selama beberapa semester awal sudah menguras konsentrasi dan emosi di laboratorium, hingga eksplorasi naluri 'kalasi' yang begitu spektakuler.
     Siang hari ke lapangan mengumpulkan data dan sampel sesuai peruntukan dan petunjuk para asisten dosen yang mendampingi, malam harinya berkutat dengan semua data yang sudah dikumpulkan seharian tadi untuk ditransfer ke atas kertas-kertas kerja. Namanya juga kuliah lapangan. Yang rasanya tidak terlalu nyaman hanyalah penggunaan sarana meja bangku milik Sekolah Dasar setempat yang dipinjam untuk keperluan kegiatan kuliah malam hari. Ukuran yang mini karena tentu saja disesuaikan dengan ukuran tubuh anak-anak sekolah dasar, menjadi tidak seimbang dengan gelaran kertas gambar dan peta-peta yang lebar.
Orientasi medan hari pertama, diantar langsung oleh koordinator lapangan waktu itu, Bapak Chaeruddin Rasyid. Pengalaman pertama saya jalan dengan seorang geologist yang mempunyai kepekaan lapangan sangat tinggi. Bercanda sepanjang jalan, mulai dari banyolan paling konyol hingga banyolan porno, tidak ada yang tersisa.. semuanya lengkap namun tidak mengurangi sedikitpun kepekaan beliau sebagai geologist.
 catat ini itu selama di lapangan, lalu sore hari terkapar di teras balai desa.
 suasana kerja tugas malam hari setelah kuliah. perlu dua meja digabungkan untuk menampung perlengkapan kerja yang diperlukan. Rapidograph, sablon huruf, mistar segitiga, busur dan lain-lain.. tidak ketinggalan larutan hitam manis di gelas..
 ada Nasrullah, alm.Muis, Elias Kondolele dan Kado Arjuna.
 ada Ahmad Negarawan, NunukSriwijayati dan aisten Imran Musa.
 rutinitas harian ke lapangan, dengan Wawan, Muniati dan Darwin Tangkelalo
 belok sedikit dari lintasan, tersangkut di teras rumah penduduk, menikmati sekerat dua kerat gula merah.
 ada juga Zaenab, lalu asisten favorit Baso Junain, Hance Tatang, Rafiuddin, Jalaluddin, Muniati bersama Nunuk mengerubuti juragan pisang.
 bila tugas belum selesai di ruangan kelas, maka tugas ikut menemani sampai ke tempat menginap. Jadi bila sudah tidak tahan ngantuknya, bisa langsung melambai..
 dengan Ibu Maryam, ibu kost kita selama di Mallawa. Rindu kepada beliau, semoga masih sehat selalu.
 sore hari setelah dari lapangan, bersantai sejanak menunggu magrib. Tentu saja setelah bersih-bersih dan rapi, ditemani cairan hitam manis lagi. Bercengkerama bersama asisten, salah satunya Muh.Nur dan tentu saja korkulap, bapak Chaeruddin.
 malam terakhir di lokasi kuliah lapangan, selalu dengan acara panggung hiburan dadakan. Panggung sebagai ajang silaturahmi dengan warga setempat, sekaligus sebaagi tempat menyampaikan rasa terimakasih untuk semua penerimaan terhadap kami selama beberapa hari ini, sekaligus maaf dan memohon kesempatan untuk bisa kembali lagi di tahun-tahun mendatang.

 dua gambar ini adalah acara penutupan kulap di tahun 1985. Ada bapak Budi Rohmanto, bapak alm Chaeruddin Rasyid. Gambar bawah, ada anaknya Pak Udin, Indra. Teman-teman lainnya, Nurhamdan, Simon Sampesongga, Jalaluddin, Bustan, Abd. Madjid dan tentu saja saya sendiri Hero Fitrianto.

      Karena aku bukan climber, makanya cerita selanjutnya bukan tentang urusan panjat memanjat. Tetapi ini hanya sekeping jejak perkembangan Korpala di rentang suka dukanya yang panjang. Dinding di gambar ini dirakit di tahun 1990, menggunakan rangka kayu. Iya, rangka kayu, karena belum sanggup untuk punya yang rangka besi, sementara kebutuhan dinding panjat sudah begitu mendesak.
      Maka jadilah, beberapa balok dikonstruksi, di samping D-4 untuk keperluan itu. Beberapa baut panjang dibutuhkan untuk menyambungkan konstruksi itu dengan dinding D-4, yang selanjutnya berfungsi sebagai supporting yang begitu kokoh dan stabil. Dan seperti harapan yang menyertai kehadiran dinding panjat itu, maka kegiatan latihan berlangsung lancar hampir setiap hari.
     Bahkan bukan hanya menjadi sarana latihan rutin, dinding ini juga pernah digunakan untuk mengadakan lomba di tahun 1991. Saya agak lupa kisah lomba itu, namun pesertanya lumayan banyak, dari sekitar Makassar tentunya. Yang teringat dengan baik, adalah karena lomba tersebut, salah seorang teman saya mendapatkan jodoh yang menjadi istrinya hingga saat ini, setelah berkenalan dengan salah seorang peserta pemanjat putri dari UMI.
     Begitulah, di dinding panjat sederhana itu, para titisan K berlatih dengan rutin hampir setiap hari. Namun sayang sekali, saya termasuk salah satu yang tidak terlalu rutin ikut berlatih. Lalu mungkin terbawa romantisme masa sulit pertama kali memiliki dinding panjat itulah, maka 'Sekadar Mimpi Sepele' saya lahir begitu saja ketika Korpala mendapatkan dinding panjat yang begitu representatif di tahun 2010 lalu.
     Semoga, mimpi itu menjadi nyata di suatu hari nanti..

     Menyadari pentingnya proses regenerasi dan kelanjutan hidup organisasi yang masih muda itu, Korpala di tahun 1987 menyelenggarakan proses pendidikan dasarnya yang pertama kali. Simpel saja, kegiatan itu langsung disingkat menjadi Diksar. Sebutan yang sangat familiar di waktu itu, pada kegiatan pelatihan dasar untuk keperluan apapun. Nanti di tahun 1989, ketika hendak menyelenggarakan untuk yang ketiga kalinya, muncullah ide untuk membuat sebutan yang bisa 'berbeda' dengan yang sering terdengar itu. Selanjutnya disepakatilah menggunakan singkatan 'Dakdas" menggantikan diksar.

     Semangat menggelar pendidikan dasar itu begitu menggebu, meski dengan peralatan yang begitu sedikit dan begitu sederhana. Beberapa buah carabbiner, satu buah 'figure 8' dan tentu saja, tali tambang menjadi tumpuan kegiatan tali temali. Begitu juga untuk pelajaran navigasi, ya Tuhan.. untuk mendapatkan peta begitu sulitnya. Jadilah pendidikan hanya bermodal kompas, dan coret-coret tangan untuk belajar konsep dasar bernavigasi.

     Namun satu point penting yang menjadi pagangan, adalah asupan materi 'pengetahuan lingkungan' yang dibawakan langsung oleh salah seorang pakar yang dimiliki oleh Unhas, yaitu Prof. Paembonan. Mencintai alam tidak bisa cukup hanya sekadar meregang otot di alam bebas sana. Pembekalan pengetahuan dan kesadaran tentang lingkungan hidup, tentang ekosistem, mutlak menjadi parameter standar mutu setiap titisan di Korpala. Dan itu akan menjadi bekal yang berharga untuk setiap insan akademis yang menjadi anggota Korpala.

Salah satu sesi pembekalan untuk peserta diksar-1, pelajaran tali temali di ruangan kelas sebelum menuju ke lapangan.
(bawah) pendalaman materi tali temali di Bili-Bili, sebelum melanjutkan ke materi 'rappeling'. Salah satu yang penting dipelajari adalah 'merakit' bekal tali hesti ke sekitar pinggul untuk membentuk seat harness. Iwan Amran sedang serius memberi instruksi kepada Aco Lologau.
 
 Phiphi, instruktur rappeling memperagakan 'self belaying rappeling' yang begitu atraktif.
Dua dari empat peserta putri pada diksar-1 itu, Husnia Asaf dan Putri Jauhar
 ada acara meluncur di tambang, menggunakan utas tali yang menjadi media luncur. Seperti 'flying fox' yang kita kenal sekarang ini. Toggle rope (koreksi saya bila keliru mengeja) adalah tali kecil yang dipegang, meluncur membawa beban pemegangnya melalui bentangan tali tambang.
Lalu ada juga acara merayap di tambang.
 Yang banyak digemari oleh peserta pendidikan, adalah rappeling di tebing Lebong.
 Indra dengan sepatu Eagle 'kebanggaannya' dikombinasi dengan jeans pendek nan seksi, memperagakan rappeling di tebing Lebong.
 
 bertempat di bagian atas air terjun Lembanna, dilakukan inisiasi kepada setiap peserta yang telah merampungkan seluruh rangkaian kegiatan pendidikan dasar.
 Dinihari Puspita lagi 'baca-baca' segala sesuatu, termasuk kode etik PA sebelum prosesi inisiasi. Ada Phiphi sbg 'tukang senter', ada Mappalologau Tantu dan juga M.Yani Abidin.
Indra Diannanjaya menyalami peserta setelah pelantikan. (bawah) ada Putri Jauhar, alm Yanti Abd.Azis dan Andi Nurwida.

     Oleh keterbatasan sarana, maka beberapa momen penting dalam diksar-1 tersebut tidak sempat terdokumentasi. Misalnya kegiatan survival yang dilaksanakan di kaki bawakaraeng sekitar pos 3 hingga 5. Lalu menjangkau puncak Bawakaraeng begitu selesainya survival.

     Banyak koreksi yang kemudian dilakukan untuk memperbaiki kualitas pendidikan di tahun-tahun berikutnya. Namun demikian, semua item perbaikan itu tidak pernah keluar dari falsafah dasar mengenai mengapa pendidikan itu dilakukan. Dasar yang kemudian menajdi fondasi kuat yang melandasi setiap semangat yang bergelora di Korpala. (baca: Pendidikan Napak tilas yang saya posting di buletin online Lembanna).

 wajah-wajah peserta diksar-1. dengan rendah hati saya mohon bantuan teman-teman untuk mengidentifikasi wajah yang nampak, lalu menuliskannya di bagian komentar di bawah. 

Author Name

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.