Menjangkau 'Butta Toayya' selalu menjadi rangkaian prosesi Pendidikan Dasar Korpala Unhas. Bukan hanya sekadar rangkaian yang asal ada, tetapi bila dianalogikan pada kegiatan ritual, maka menjejakkan kaki di puncak Bawakaraeng adalah salah satu elemen yang bila tidak terlaksana, maka seluruh rangkaian ritual yang ada kemudian menjadi batal.
Se-ekstrim itukah?
Sangat sederhana sebenarnya, bahwa kegiatan pendidikan itu adalah refleksi dari proses kelahiran Korpala sendiri. Bagaimana sekelompok mahasiswa di kampus Unhas, melakukan proses pendakian ke Bawakaraeng melalui Lembanna. Bila digambarkan dengan diagram, akan seperti berikut ini. 'Sekumpulan Mahasiswa' selanjutnya menuju 'Lembanna' kemudian mendaki ke 'Bawakaraeng hingga mencapai puncak', turun kembali ke 'Lembanna' untuk selanjutnya kembali ke 'kampus'. Titik, selesai.
Nah, setiap anggota yang telah melalui Pendidikan Dasar itu diharapkan mempunyai pengalaman membangun semangat juang bagaimana mendirikan organisasi ini. Serangkaian materi pelajaran, pelatihan keterampilan dan lain-lain, hanyalah sebagai embel-embel pelengkap untuk meneguhkan semangat di dalam setiap titisan yang lahir, untuk turut menyadari dan memiliki andil dalam membangun organisasi.
Bukan dalam kondisi sebaliknya, menekankan pada semua asesoris tersebut, lalu mengabaikan membangun ruh di dalam jiwa pendidikan itu sendiri. Maka nanti kita akan mendapati begitu banyak yang setelah melalui proses pendidikan, akan puas dengan materi-materi pembelajaran yang telah di dapatkannya, dan setelah itu selesai. Mereka bisa melangkah sendiri, sesuka hati kemanapun hendak melangkah. Apakah akan membawa pergi ilmunya ke komunitas yang lain, atau tetap tinggal di Korpala untuk mengembangkan organisasi, atau cukup puas dengan diri sendiri, menjadi perjudian di setiap selesainya prosesi pendidikan.
Bila kita lupa atau malah tidak sanggup membangun jiwa di dalam
kerangka yang tepat, maka kita telah gagal mentransformasikan idealisme
yang melandasi kelahiran dan suvivenya organisasi ini. Kita kemudian
akan terpaksa memiliki titisan yang pragmatis, yang sama yang ada di
organisasi lain yang tidak jelas idealismenya.
Menyelenggarakan pendidikan dengan baik dan tepat menjadi hal yang
sangat vital di dalam organisasi. Semua elemen ikut terkait, apapun
statusnya. Aplikasi manajemen keorganisasian, manajemen kegiatan alam
terbuka, manajemen emosi dan hal-hal lain yang perlu di 'manage',
dituntut untuk diaplikasikan dengan baik. Tuntutan itulah yang kemudian
akan mengasah setiap jiwa untuk berkembang ke arah yang lebih positif.
Satu contoh sederhana misalnya, bagaimana mengatur peserta pendidikan untuk tidak terjebak hanya menikmati sengatan kutu air di kaki, sambil terpincang-pincang memandang miris puncak gunung Bawakaraeng yang tidak bisa didakinya. Nah, mengatur jadwal dan lain-lainnya menjadi sangat vital. Bila sebelum melaut kita bisa melihat musim, cuaca dan arah angin, mengapa sebelum pendidikan dasar kita tidak bisa memperhitungkan faktor-faktor yang seperti itu juga, yang kemungkinan besar akan menghambat salah satu elemen utama di dalam ritual itu?
Melahirkan titisan-titisan baru dalam jumlah yang optimal adalah mutlak, untuk mempertahankan kehidupan organisasi selanjutnya. Dan pendidikan dasar adalah sarana untuk transformasi semangat dari pendahulu ke titisan yang baru, sekaligus sebagai sarana untuk menempa kematangan karakter yang sudah tumbuh di dalam jiwa para pendahulu. Proses kesinambungan yang begitu menawan.
Akan menjadi suatu kebanggaan bila mampu menyelenggarakan pendidikan di dalam alur yang tepat sesuai tujuannya semula. Pendidikan yang mampu menggerakkan setiap elemen di dalam organisasi untuk tetap berkembang secara positif. Dengan demikian kita tidak perlu merasa 'minder' apalagi menganggap remeh bila hanya mampu 'menyelenggarakan' pendidikan dasar saja di setiap tahunnya.

note:
Esai ini masih tayang di Buletin Lembanna online, terbit 25 April 2012, saya rilis dengan initial k.058 (link source). Ada komentar menarik dan sangat penting dari Bang Haji Indra di sana, yang saya copas ke bawah ini:
Setuju dengan statement Bang Hero Kontur.
Kalau
boleh saya tambahkan, tentu akan terjadi seleksi alam dalam proses
penyaringan anggota yang akan tetap tegak membela panji-panji Korpala.
Di
organisasi manapun, hal ini akan terjadi secara alamiah bahkan dalam
organisasi politik sekalipun yang bergelimang dgn iming2 menggiurkan.
Sekarang
ini bagaimana kita bisa membangkitkan rasa fanatisme dan cinta kepada
Korpala itu melalui contoh nyata dari para anggota dan senior yang masih
aktif agar para anggota baru bisa termotivasi menjadi pembela utama
Korpala.
Ngomong2, foto Dikdas 1987 tsb sangat mengharukan karena
merupakan Dikdas I, tulisan itu kalau tidak salah saya yg buat waktu
itu khususnya tulisan Pendidikan Dasar-nya hehehe.
Dikdas I
melahirkan sejumlah nama tenar dan menjadi legenda Korpala spt Welly,
Aco, Rustam, Wida, dsb (maaf kalau tidak bisa alias lupa menyebutkan
semuanya).
Fight!
K-023 Indra Diannanjaya
