Tuhan Bersama Orang-Orang Berani

     Ada sesuatu yang menarik dalam kehidupan manusia. Hampir setiap perjalanan besar selalu dimulai dengan sebuah kalimat. Kadang berupa doa. Kadang berupa semboyan. Kadang hanya sepotong kata yang diulang pelan sebelum seseorang melangkah. Anehnya, kalimat-kalimat itu tidak pernah mengubah kenyataan. Tebing tetap terjal. Hutan tetap lebat. Laut tetap menyimpan badai. Namun manusia tetap merasa perlu membawanya.

     Mengapa?

     Barangkali karena manusia mengetahui sesuatu yang sering dilupakannya. Keberanian saja kadang tidak cukup.

     Pendaki mengetahui bahwa keberanian tidak membuat cuaca menjadi bersahabat. Penjelajah memahami bahwa keberanian tidak menghilangkan kemungkinan tersesat. Seorang peneliti mengetahui bahwa keberanian tidak menjamin temuannya benar. Seorang pemimpin pun memahami bahwa keberanian tidak membuat setiap keputusannya bebas dari kekeliruan. Namun, meskipun mengetahui semua itu, manusia tetap melangkah. Seolah-olah selalu ada sesuatu yang ingin diyakini sebelum langkah pertama diambil.

     Mungkin karena itulah hampir setiap kebudayaan memiliki kalimat-kalimat yang diwariskan dari satu generasi kepada generasi berikutnya. Sebagian menyebutnya doa. Sebagian menyebutnya petuah. Sebagian lagi menyebutnya semboyan. Bentuknya berbeda-beda, tetapi fungsinya hampir sama. Ia bukan penjelasan tentang dunia, melainkan penguatan bagi manusia yang sedang menghadapinya.

     Kalimat-kalimat seperti itu sesungguhnya tidak sedang berbicara tentang Tuhan. Ia lebih banyak berbicara tentang manusia yang sedang mencari keberanian.

     Keberanian bukanlah ketiadaan rasa takut. Orang yang berani mengetahui apa yang sedang dipertaruhkannya, memahami risikonya, lalu tetap memilih melangkah. Karena itu keberanian tidak selalu tampak dalam tindakan yang besar. Kadang ia hadir ketika seseorang bersedia mengakui kekeliruannya, membuka diri terhadap pandangan yang berbeda, atau menerima bahwa sesuatu yang selama ini diyakini ternyata masih dapat diperbaiki. Bagi banyak orang, langkah-langkah seperti itu sering kali lebih sulit daripada mendaki gunung.

kado ulang tahun ke-41 Korpala

     Empat puluh satu tahun memberi Korpala pengalaman yang tidak sedikit. Pengalaman memang layak dihormati, tetapi ia tidak pernah boleh menjadi alasan untuk berhenti bertanya. Justru karena pengalamanlah, setiap generasi mempunyai tanggung jawab untuk terus memastikan bahwa apa yang dijalankan hari ini masih memiliki makna bagi zamannya.

     Pada ulang tahun Korpala ini, saya mempersembahkan Arsitektur Pendidikan Korpala sebagai sebuah kado. Bukan kado yang berisi kumpulan jawaban, melainkan undangan untuk berdialog dengan diri sendiri dan dengan organisasi yang telah membentuk begitu banyak perjalanan hidup. Barangkali keberanian pertama yang diminta buku ini sangat sederhana: berani membacanya sampai selesai. Memberi kesempatan kepada setiap gagasan untuk utuh terlebih dahulu, sebelum memutuskan menerima atau menolaknya.

     Tidak semua orang akan sepakat dengan seluruh isinya. Memang tidak seharusnya demikian. Sebuah buku yang selesai dibaca tidak selalu selesai dipikirkan. Kadang ia baru benar-benar dimulai ketika halaman terakhir ditutup, lalu percakapan-percakapan kecil lahir di sekretariat, di perjalanan, di lereng gunung, atau di bawah langit malam ketika api unggun mulai mengecil.

     Ingatan itu kemudian membawa saya kembali ke wall lama. Sarana latihan waktu itu sangat sederhana. Salah satu dinding yang dipasangi potongan-potongan kayu eboni sebagai pegangan untuk latihan pull up dan traversing. Dinding yang juga kadang sebagai ujian kecil untuk KC membubuhkan tanda tangan di lembar absensi. Dinding itu masih berdiri hingga hari ini. Barangkali fungsinya kini lebih sering menjadi latar foto daripada tempat orang bergelantungan seperti dulu. Waktu memang mengubah banyak hal, tetapi rupanya tidak semua jejak ikut hilang.

     Di kaki dinding itu terbentang satu baris tegel semen tua. Di sanalah, entah sejak kapan, pernah tertulis sebuah kalimat yang begitu sederhana hingga nyaris tidak menarik perhatian. Anehnya, justru kalimat itulah yang tetap tinggal ketika banyak hal lain perlahan terlupakan.

     "Tuhan bersama orang-orang berani."

     Tulisan itu sudah lama tidak ada. Namun gemanya ternyata tidak pernah benar-benar pergi.

     Benarkah Tuhan bersama orang-orang berani?

     Saya tidak tahu.

     Sebab ada kalimat-kalimat yang tidak pernah meminta untuk dijelaskan.

     Ia hanya meminta seseorang memiliki cukup keberanian untuk membacanya, lalu melangkah.

Benarkah Tuhan bersama orang-orang berani? Saya tidak tahu. Sebab ada kalimat-kalimat yang tidak pernah meminta untuk dijelaskan. Ia hanya meminta ses

Label:
This is the most recent post.
Posting Lama

Posting Komentar

...

[blogger][facebook]

Author Name

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.