Barangkali moral adalah salah satu kata yang paling sering diucapkan manusia, tetapi paling jarang disentuh. Ia hadir di ruang sidang, di rumah ibadah, di ruang keluarga, di sekolah, di media sosial. Semua orang tampak mengerti ketika mengucapkannya. Anehnya, begitu ditanya apa sebenarnya moral itu, jawaban segera bercabang ke mana-mana. Ada yang menunjuk kitab suci. Ada yang menunjuk hukum. Ada yang menunjuk adat. Ada pula yang menunjuk hati nurani. Semakin banyak penjelasan diberikan, semakin jauh kata itu berjalan dari dirinya sendiri.
Mungkin karena selama ini perhatian terlalu lama diarahkan kepada cerita tentang moral, bukan kepada apa yang sebenarnya ada sebelum semua cerita itu lahir.
Bayangkan sebuah dunia yang belum mengenal manusia. Gunung runtuh menimpa lembah. Petir membelah pohon tua. Laut menelan pulau kecil. Tidak ada satu pun peristiwa itu yang bermoral ataupun tidak bermoral. Alam tidak sedang berlaku adil. Alam juga tidak sedang berlaku kejam. Ia hanya berlangsung.
Kemudian kehidupan muncul. Namun kehidupan saja ternyata belum cukup. Seekor ular yang memangsa tikus tidak sedang melakukan kejahatan. Seekor singa yang membunuh anak zebra pun tidak sedang melanggar aturan apa pun. Kehidupan telah dipenuhi pembunuhan jauh sebelum kata "membunuh" ditemukan.
Lalu evolusi melakukan sesuatu yang jauh lebih ganjil daripada sekadar menciptakan kehidupan. Ia melahirkan makhluk yang mampu mengalami kehidupannya sendiri.
Rasa sakit tidak lagi hanya menjadi rangkaian impuls listrik yang melintas di sistem saraf. Ia berubah menjadi pengalaman. Takut menjadi pengalaman. Kehilangan menjadi pengalaman. Kasih sayang menjadi pengalaman. Untuk pertama kalinya, alam semesta bukan hanya berisi benda dan peristiwa, tetapi juga sesuatu yang dapat merasakan peristiwa itu dari dalam dirinya.
Namun moral masih belum ada.
Sebab kemampuan merasakan belum cukup melahirkan moral. Yang diperlukan adalah satu hal lagi: kemampuan memilih.
Pada saat seekor makhluk mulai mampu menentukan tindakannya, dan tindakan itu dapat mengubah pengalaman makhluk lain, di situlah sesuatu yang sama sekali baru muncul. Tangan yang sama dapat mengangkat seseorang yang jatuh, atau justru mendorongnya ke jurang. Lidah yang sama dapat menghibur, atau menghancurkan harga diri seseorang hanya dengan beberapa kata. Pikiran yang sama dapat menemukan obat, atau merancang cara membunuh yang lebih efisien.
Barangkali moral lahir tepat di titik itu.
Bukan ketika manusia mengenal agama. Bukan ketika negara dibentuk. Bukan ketika hukum ditulis. Semua itu datang jauh belakangan. Yang lebih dahulu ada adalah kenyataan sederhana bahwa pengalaman hidup makhluk lain, sebagian, berada di dalam jangkauan tindakan kita.
Sesudah itu manusia mulai bercerita.
Ada yang mengatakan bahwa cara menggunakan kebebasan itu diajarkan oleh Tuhan. Ada yang percaya ia ditemukan oleh akal. Ada yang menganggapnya hasil kesepakatan masyarakat. Ada pula yang melihatnya sebagai warisan evolusi. Cerita terus bertambah, tetapi yang diceritakan sebenarnya tetap sama: bagaimana seharusnya kebebasan seseorang bertemu dengan kerentanan orang lain.
Mungkin di sinilah sumber begitu banyak kebingungan. Kita terlalu sering mengira bahwa moral adalah cerita-cerita itu. Padahal cerita hanyalah cara sapiens menjelaskan sesuatu yang telah lebih dahulu ada. Sama seperti gravitasi tidak lahir ketika Newton menuliskannya, moral tidak lahir ketika manusia menemukan kata "baik" dan "buruk". Kata-kata hanya memberi nama pada sesuatu yang telah bekerja jauh sebelum bahasa menjadi begitu fasih.
Karena itu, sejarah moral sebenarnya bukan sejarah tentang benar dan salah. Ia adalah sejarah tentang berbagai cara manusia menjelaskan kenyataan yang sama. Agama menjelaskannya dengan wahyu. Filsafat menjelaskannya dengan nalar. Ilmu pengetahuan mencoba menjelaskannya melalui evolusi, otak, dan perilaku sosial. Masing-masing berbicara dengan bahasa yang berbeda, tetapi semuanya sedang mengitari objek yang sama.
Objek itu adalah makhluk yang mampu terluka, sekaligus mampu menyebabkan luka.
Di zaman ini, ketika setiap hari lahir moral-moral baru yang berteriak paling benar, ketika satu video dapat mengubah penilaian jutaan orang hanya dalam beberapa jam, ketika kebenaran dan kebohongan bercampur tanpa sempat dipisahkan, semua narasi itu tampak begitu cair. Hari ini seseorang dipuja karena dianggap bermoral, esok ia dihukum oleh moral yang lain. Seolah-olah moral berubah setiap kali lini masa berganti.
Tetapi ada sesuatu yang tidak pernah ikut berubah.
Pengalaman tidak pernah menjadi propaganda bagi pemiliknya.
Mungkin karena itulah, setelah semua teori, semua kitab, semua ideologi, dan semua perdebatan selesai, yang tersisa ternyata tidak banyak. Hanya dua makhluk yang saling berhadapan. Yang satu memiliki kebebasan untuk bertindak. Yang lain memiliki kemampuan untuk merasakan akibat dari tindakan itu. Dari pertemuan sederhana itulah seluruh peradaban kemudian membangun hukum, agama, filsafat, adat, bahkan peperangan.
Barangkali moral tidak pernah turun dari langit. Barangkali moral juga tidak pernah diciptakan oleh manusia.
Yang lebih mungkin adalah: evolusi melahirkan makhluk yang bisa saling melukai. Sapiens kemudian memberi nama pada kenyataan itu.


Posting Komentar
...