Teori Relativitas Minyak Goreng

     Ada masa ketika menjadi orang berada ditandai dengan rumah besar, mobil mengilap, dan kemampuan berbicara panjang tentang investasi. Namun rupanya ada indikator yang jauh lebih sederhana: seberapa tenang wajah seseorang saat harga bahan bakar naik.

     Ketika harga bahan bakar mulai berayun dan rupiah kehilangan tenaga, banyak topeng kemapanan mendadak retak. Mereka yang selama ini tampak hidup berkecukupan ternyata tidak selalu memiliki pijakan yang kokoh. Cicilan menumpuk, pengeluaran konsumtif membesar, dan dapur perlahan digantikan oleh aplikasi yang mengantar makanan ke depan pintu. Selama keadaan tenang, semuanya terlihat baik-baik saja. Namun begitu biaya hidup bergerak naik, banyak yang sadar bahwa kemapanan yang mereka tampilkan tidak selalu sama dengan kemapanan yang mereka miliki.

     Dari situlah kemarahan mulai mencari sasaran. Sebagian mengeluhkan harga bahan bakar yang naik turun. Sebagian lain ikut berburu bahan bakar subsidi. Akibatnya, mereka yang memang bergantung pada subsidi harus berbagi akses dengan kelompok yang sebelumnya merasa tidak memerlukannya. Ketika pasokan terganggu, yang paling dahulu merasakan dampaknya justru mereka yang paling sedikit memiliki pilihan.

     Di dapur, drama memiliki bentuk yang lebih sederhana tetapi jauh lebih nyata. Para ibu berdiri di depan rak minyak goreng dengan ekspresi yang mungkin sama seriusnya dengan para ekonom yang sedang memantau pergerakan pasar global. Ada satu pertanyaan yang sulit dijawab oleh logika awam: bagaimana mungkin negeri yang dipenuhi pohon sawit masih harus menyaksikan harga minyak goreng menari mengikuti irama dolar?

     Sawit tumbuh di tanah sendiri. Matahari yang menyinarinya tidak diimpor. Hujan yang menyiraminya juga tidak dibeli dari luar negeri. Buruh yang memanen buahnya berbicara dalam bahasa yang sama dengan pembelinya. Tetapi ketika dolar bersin di belahan dunia lain, botol minyak goreng di dapur ikut demam.

     Barangkali masalahnya bukan pada sawit. Pohon itu sejak dahulu hanya sibuk tumbuh. Ia tidak pernah mengikuti seminar ekonomi global. Ia tidak pernah membaca laporan pasar komoditas. Yang menarik justru perjalanan panjang dari kebun menuju dapur. Di sepanjang perjalanan itulah harga tampaknya memperoleh pendidikan internasional yang jauh lebih tinggi daripada yang diterima rakyat yang membelinya. 

     Mungkin itulah sebabnya harga minyak goreng lebih cepat memahami pergerakan pasar dunia daripada kebutuhan dapur yang membelinya.

     Dulu Presiden pernah terdengar berpidato dengan penuh keyakinan, bahwa gejolak dolar tidak akan berpengaruh, sebagian besar rakyat berada di desa, karenanya mereka tidak perlu dolar. Kalimat itu terdengar gagah. Sayangnya, tampaknya minyak sawit tidak sempat menghadiri acara tersebut. Ia tetap saja memperhatikan kurs mata uang asing dengan disiplin yang mengagumkan. Bahkan mungkin lebih disiplin daripada sebagian pegawai kantor.

     Rakyat kemudian dituduh kurang memahami persoalan ekonomi yang rumit. Bisa jadi benar. Mungkin mereka memang kurang gizi intelektual sehingga gagal menangkap keajaiban ilmu ekonomi modern. Mereka hanya melihat satu hal yang sederhana: barang impor mahal karena dolar naik, itu masih masuk akal. Tetapi barang yang tumbuh di kebun sebelah rumah juga ikut mahal karena dolar naik. Di titik itulah akal sehat mulai menggaruk-garuk kepala.

     Seorang petani mungkin akan bertanya dengan polos. Jika kambing saya melahirkan di kandang sendiri, makan rumput dari ladang sendiri, lalu suatu hari harga anak kambingnya naik karena kurs dolar di New York bergerak, apakah saya sedang berternak atau sedang mengikuti pasar valuta asing?

     Mungkin memang kita hidup di zaman yang luar biasa. Dahulu para ilmuwan mengagumi relativitas ruang dan waktu. Kini masyarakat diperkenalkan pada relativitas yang lebih praktis. Barang impor dipengaruhi dolar. Barang yang tidak impor juga dipengaruhi dolar. Yang memiliki dolar dipengaruhi dolar. Yang tidak memiliki dolar juga dipengaruhi dolar.

     Barangkali suatu hari nanti para fisikawan akan mengakui bahwa mereka selama ini kurang ambisius. Einstein hanya berhasil menunjukkan bahwa waktu dapat melambat dan ruang dapat melengkung. Sementara kita berhasil menemukan sesuatu yang lebih menakjubkan: harga dapat naik tanpa perlu bepergian ke mana-mana.

     Dan seperti semua keajaiban besar, rakyat diminta untuk mengaguminya sambil membayar di kasir.

barang impor mahal karena dolar naik, itu masuk akal. Tetapi barang yang tumbuh di kebun sebelah rumah juga ikut mahal karena dolar naik. Di titik itu

Posting Komentar

...

[blogger][facebook]

Author Name

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.