Ketenangan Yang Tidak Sepenuhnya Damai

     Ada orang yang tampak tenang, tetapi bukan karena semua persoalan telah selesai. Ia berbicara perlahan, tertawa secukupnya, menjalani hari seperti biasa. Dari luar, tidak ada yang tampak ganjil. Bahkan mungkin banyak orang diam-diam berharap memiliki ketenangan seperti itu. Namun jika diperhatikan lebih lama, ada sesuatu yang tidak sepenuhnya diam di dalamnya. Seperti permukaan danau yang nyaris tanpa riak, sementara jauh di bawahnya air tetap bergerak mengikuti arus yang tidak terlihat.

     Barangkali kita terlalu sering membayangkan ketenangan sebagai akhir dari segala gejolak. Seolah-olah seseorang baru layak disebut tenang jika tidak lagi memiliki keraguan, tidak lagi menyimpan ketakutan, dan tidak lagi bergumul dengan dirinya sendiri. Gambaran itu terdengar indah, tetapi terasa asing bagi kehidupan yang sebenarnya. Sebab manusia bukan batu yang berhenti berubah. Ia adalah sesuatu yang terus bergerak, bahkan ketika tubuhnya sedang diam.

     Ada masa ketika ketenangan memang lahir dari kemenangan. Masalah selesai, tujuan tercapai, badai berlalu. Namun ketenangan semacam itu biasanya tidak bertahan lama. Dunia terlalu kreatif untuk berhenti menghadirkan persoalan baru. Belum selesai seseorang merapikan satu ruang dalam hidupnya, ruang lain mulai meminta perhatian. Belum sempat ia menikmati jawaban, pertanyaan berikutnya sudah mengetuk pintu.

     Mungkin karena itu, ketenangan yang lebih dewasa tidak lagi bergantung pada sepinya masalah. Ia tumbuh justru di tengah kesadaran bahwa persoalan tidak akan pernah benar-benar habis.

     Seorang pendaki mengetahui perasaan itu dengan baik. Setelah berjam-jam menanjak, ia akhirnya menemukan tempat yang cukup datar untuk beristirahat. Ransel diturunkan, napas mulai teratur, angin terasa lebih ramah. Ada ketenangan yang nyata. Tetapi ia juga tahu bahwa perjalanan belum selesai. Puncak masih jauh, cuaca bisa berubah sewaktu-waktu, dan tubuh yang terlalu lama beristirahat justru bisa kehilangan ritmenya.

     Ia tenang, tetapi bukan karena bahaya telah menghilang.

     Ia tenang karena untuk sementara waktu ia berdamai dengan kenyataan bahwa bahaya memang bagian dari perjalanan.

     Di situlah ketenangan berubah makna. Ia bukan lagi keadaan tanpa ancaman, melainkan kemampuan untuk tidak terus-menerus dikuasai oleh ancaman.

     Kehidupan sehari-hari pun menyimpan bentuk yang sama. Ada orang yang telah menerima bahwa orang tuanya akan menua. Ia tidak lagi menyangkalnya, tetapi penerimaan itu tidak membuat kehilangan menjadi ringan. Ada seseorang yang telah memaafkan masa lalunya, tetapi sesekali ingatan lama masih datang tanpa diundang. Ada pula yang sudah memilih jalan hidupnya dengan mantap, namun pada malam-malam tertentu tetap bertanya seperti apa hidupnya jika dulu mengambil keputusan yang berbeda.

     Pertanyaan-pertanyaan itu tidak selalu ingin dijawab.

     Kadang mereka hanya ingin diakui keberadaannya.

     Manusia sering mengira kedamaian berarti tidak lagi memiliki percakapan dengan masa lalu. Padahal yang lebih sering terjadi adalah percakapan itu tetap berlangsung, hanya nadanya yang berubah. Yang dulu berupa pertengkaran perlahan menjadi dialog. Yang dulu terasa seperti tuntutan berubah menjadi pengertian. Masa lalu tidak hilang; ia hanya berhenti mendikte.

     Ada ironi kecil yang menyertai semua ini. Semakin seseorang mengenal hidup, semakin ia sadar bahwa ketenangan bukan hadiah yang diberikan dunia. Dunia tidak pernah menandatangani perjanjian untuk membuat manusia merasa tenteram. Gempa tetap datang tanpa meminta izin kepada kota yang paling tertata. Hujan tetap turun di atas sawah yang baru dipanen. Batu kapur yang hari ini tampak kokoh, dalam hitungan jutaan tahun akan larut sedikit demi sedikit oleh air yang nyaris tidak memiliki kekuatan.

     Alam tidak pernah menjanjikan ketenangan.

     Alam hanya menunjukkan bahwa perubahan tidak pernah berhenti.

     Mungkin karena itu gunung terasa menenangkan. Bukan karena ia sunyi, melainkan karena ia jujur. Tidak ada gunung yang berpura-pura aman. Tidak ada tebing yang menyembunyikan kenyataan bahwa ia bisa runtuh. Justru karena semua risikonya terlihat apa adanya, manusia belajar menyesuaikan langkah, bukan menuntut alam berubah mengikuti keinginannya.

     Barangkali hubungan kita dengan hidup seharusnya seperti itu.

     Bukan meminta dunia menjadi lebih mudah, tetapi belajar berjalan dengan irama yang tidak terus-menerus melawan kenyataan.

     Di titik tertentu, seseorang mulai memahami bahwa ketenangan bukanlah keadaan ketika semua suara menghilang. Ia lebih menyerupai seorang dirigen yang tetap mampu memimpin orkestra meskipun setiap instrumen memainkan nadanya masing-masing. Ada kegelisahan, ada harapan, ada penyesalan, ada rasa syukur. Semuanya tetap ada. Tidak saling mengalahkan, tetapi juga tidak sepenuhnya selaras.

     Dan mungkin memang tidak perlu selaras.

     Sebab kehidupan bukanlah lagu yang hanya memiliki satu melodi.

     Pada akhirnya, ketenangan yang paling manusiawi mungkin bukan ketenangan yang sepenuhnya damai. Ia masih menyimpan sedikit gelisah, sedikit ragu, sedikit duka yang tidak pernah benar-benar pergi. Namun semua itu tidak lagi meminta untuk menjadi pusat dunia.

     Mereka hanya duduk di sudut ruangan, seperti tamu lama yang akhirnya belajar berbicara dengan pelan.

     Dan di antara suara-suara kecil yang masih tersisa itu, manusia melanjutkan hidupnya.

     Bukan karena ia telah menaklukkan badai.

     Melainkan karena ia akhirnya belajar mendengar angin tanpa harus selalu menganggapnya sebagai ancaman.

ketenangan yang paling manusiawi mungkin bukan Ketenangan yang sepenuhnya damai. Ia masih menyimpan sedikit gelisah, sedikit ragu, sedikit duka yang..

Posting Komentar

...

[blogger][facebook]

Author Name

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.