Perang yang Lahir dari Separuh Bacaan

     Ada satu jenis keyakinan yang tumbuh subur di zaman ini: keyakinan bahwa membaca satu kutipan sudah cukup untuk memahami dunia. Ia ringan, praktis, dan sangat efisien—seperti mie instan, tapi dengan konsekuensi geopolitik.

     “Bila ingin damai, bersiaplah untuk perang.” Kalimat itu sering dipanggil ke panggung diskusi dengan penuh percaya diri, seolah ia baru saja lahir dari kepala Samuel P. Huntington. Padahal, jauh sebelum ia menjadi bahan debat WhatsApp dan caption media sosial, seorang penulis Romawi bernama Vegetius sudah lebih dulu menuliskannyasi vis pacem, para bellum. Tapi memang, sejarah selalu kalah populer dibanding potongan kalimat yang terdengar tegas.

     Di tangan Huntington, terutama melalui The Clash of Civilizations, kalimat itu menjelma menjadi semacam ramalan dingin: dunia tidak lagi bertarung karena ideologi, tapi karena identitas. Peradaban saling mengintai, bukan untuk memahami, tapi untuk memastikan siapa yang lebih dulu tersinggung. Sebuah tesis yang terasa masuk akal—terutama jika kita memang sudah berangkat dengan kecurigaan.

     Lalu datanglah para penjaga moral yang dengan cepat menyatakan: konsep seperti itu 'liberal' tidak sesuai dengan sunah. Sebuah pernyataan yang terdengar tegas, bersih, dan—kalau boleh jujur—sedikit terlalu nyaman. Seolah sejarah bisa dipilih seperti menu prasmanan: bagian yang damai diambil, bagian yang berdarah ditinggalkan di sudut meja.

     Padahal, jika kita cukup sabar membuka halaman demi halaman, kita akan menemukan sesuatu yang sedikit lebih rumit. Tradisi keagamaan, termasuk yang paling sering diklaim sebagai sumber damai, tidak pernah sepenuhnya steril dari konflik. Ia mengenal perang, mengenal strategi, bahkan mengenal kebutuhan untuk bersiap. Bukan karena ia haus darah, tapi karena ia hidup di dunia yang tidak pernah sepenuhnya jinak.

     Di titik ini, Karen Armstrong lewat Holy War seperti datang membawa cermin—dan cermin itu tidak terlalu ramah. Ia menunjukkan bahwa apa yang kita sebut “perang suci” seringkali hanyalah perang biasa yang diberi pakaian religius. Tuhan dipinjam untuk membungkus ambisi, dan manusia, seperti biasa, cukup kreatif untuk meyakini kemasannya.

     Ironinya, sebagian orang membaca realitas ini lalu berkata, “lihat, Huntington benar.” Sebagian lain menolak keras, “tidak, ini semua salah tafsir.” Keduanya berdiri di sisi berlawanan, tapi berbagi satu kebiasaan yang sama: menyederhanakan.

     Yang satu menganggap konflik sebagai takdir yang tak terelakkan. Yang lain menganggap damai sebagai sesuatu yang bisa dicapai hanya dengan niat baik dan beberapa kutipan bijak. Keduanya terdengar meyakinkan—sampai realitas datang dengan caranya yang tidak sopan.

     Di Timur Tengah hari ini, misalnya, konflik tidak pernah benar-benar dimulai dari satu kalimat, satu ayat, atau satu teori. Ia adalah akumulasi panjang dari luka, kepentingan, identitas, dan kekuasaan. Tapi tentu saja, semua itu terlalu rumit untuk diringkas dalam satu status. Maka yang tersisa adalah potongan-potongan kecil yang dipelintir menjadi kebenaran utuh.

     Dan di sinilah kita menemukan bentuk lain dari kesiapan perang: bukan kesiapan militer, tapi kesiapan untuk salah paham. Orang-orang bersenjata kutipan, berbaris dengan keyakinan setengah matang, dan saling melemparkan potongan teks seperti batu. Tidak ada yang benar-benar membaca, tapi semua merasa cukup memahami untuk menghakimi.

     Mungkin yang paling menggelikan bukanlah konflik itu sendiri, tapi kepercayaan diri yang menyertainya. Keyakinan bahwa dengan satu dua referensi, seseorang sudah bisa menilai mana yang sesuai sunah dan mana yang tidak. Seolah-olah tradisi yang berusia berabad-abad bisa diperas menjadi satu kalimat, lalu diselesaikan dalam satu paragraf.

     Pada akhirnya, persoalannya bukan pada Huntington, bukan pada sunah, bahkan bukan pada perang. Persoalannya adalah pada cara kita memahami—atau lebih tepatnya, cara kita merasa telah memahami.

     Karena seringkali, perang tidak dimulai dari kebencian.

     Ia dimulai dari kesederhanaan yang dipaksakan pada sesuatu yang seharusnya dipahami dengan kerendahan hati.

Seringkali, perang tidak dimulai dari kebencian. Ia dimulai dari kesederhanaan yg dipaksakan pada sesuatu yg seharusnya dipahami dgn kerendahan hati.

Posting Komentar

...

[blogger][facebook]

Author Name

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.