Mencari Gunung atau Mencari Diri

     Pertanyaannya tampak sederhana, tapi sebenarnya licin: mereka mencari gunung, atau mencari diri yang belum sempat terlihat di cermin?

     Psikologi eksistensial akan menjawab dengan cara yang tidak memuaskan bagi pecinta kepastian: pada awalnya gunung, lalu—tanpa sadar—bergeser menjadi diri. Dan pergeseran itu jarang disengaja.

     Dalam bahasa Viktor Frankl, manusia tidak terutama digerakkan oleh kesenangan atau kekuasaan, melainkan oleh pencarian makna. Gunung, bagi banyak orang, mula-mula hanyalah objek: medan, tantangan, latar foto, tiket pengakuan. Ia konkret, terukur, bisa ditaklukkan. Cocok bagi jiwa muda yang masih percaya bahwa dunia luar bisa diringkas menjadi daftar capaian.

     Namun perlahan, terutama setelah usia dan kehilangan menggerus ilusi kendali, gunung berhenti berfungsi sebagai objek dan berubah menjadi situasi eksistensial. Ia tidak lagi “dituju”, melainkan “dimasuki”. Di titik ini, yang dicari bukan puncak, tapi jeda. Bukan panorama, tapi keterputusan sementara dari peran-peran sosial yang melelahkan.

     Rollo May menyebut ini sebagai momen ketika seseorang berhenti hidup secara derivative—hidup sebagai turunan dari tuntutan orang lain—dan mulai berhadapan dengan kecemasan ontologis: kesadaran akan keterbatasan, kesendirian, dan absurditas. Gunung bekerja seperti ruang terapi tanpa terapis. Ia tidak memberi solusi, hanya memperbesar pertanyaan.

     Cermin kehidupan sehari-hari—pekerjaan, status, relasi—selalu buram karena penuh pantulan orang lain. Di gunung, cermin itu retak, bahkan pecah. Yang tersisa bukan citra diri, melainkan keberadaan telanjang: tubuh yang lelah, pikiran yang mengembara, dan waktu yang berjalan tanpa peduli siapa kita di kota. Di sanalah banyak orang “melihat diri” bukan sebagai identitas, tapi sebagai fakta keberadaan: aku ada, dan itu saja sudah berat.

     Jean-Paul Sartre mungkin akan tersenyum sinis di sini. Tidak ada “diri sejati” yang menunggu ditemukan di puncak. Yang ada hanyalah kebebasan yang tiba-tiba terasa terlalu luas. Gunung tidak mengungkapkan esensi; ia memaksa kita menyadari bahwa kita sendirilah yang terus-menerus menciptakan diri—dan sering kali menundanya dengan sibuk.

     Menariknya, mereka yang kembali lagi dan lagi ke gunung biasanya bukan lagi pemburu jawaban. Mereka justru mulai nyaman dengan ketidakjelasan. “Terasa seperti sedang menuju entah,” katamu sebelumnya—itu bukan kebingungan, melainkan kematangan eksistensial. Dalam istilah Irvin Yalom, ini adalah fase ketika seseorang tidak lagi melawan ultimate concerns—kematian, kesendirian, kebebasan, dan ketiadaan makna final—melainkan duduk bersamanya.

     Maka jawabannya mungkin adalah: mula-mula mereka mencari gunung untuk menghindari diri, lalu menemukan diri yang tidak bisa lagi dihindari, dan akhirnya kembali ke gunung bukan untuk mencari apa pun—hanya untuk mengingat bagaimana rasanya menjadi ada tanpa penjelasan.

     Gunung, pada akhirnya, bukan cermin yang memantulkan wajah. Ia lebih mirip permukaan air yang tenang: jika kau menatap terlalu keras, tak terlihat apa-apa. Tapi jika kau diam cukup lama, kau menyadari—yang berubah bukan airnya, melainkan caramu menatap. ~ 3 of 6


Mereka yang kembali lagi dan lagi ke gunung biasanya bukan lagi pemburu jawaban. Nyaman dengan ketidakjelasan. “Terasa seperti sedang menuju entah."

Posting Komentar

...

[blogger][facebook]

Author Name

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.