Gunung Sebagai Altar

     Gunung, bagi sebagian orang, bukan lanskap. Ia altar—tanpa imam, tanpa kitab suci berjilid, tanpa kalender ritual. Di sana seseorang bisa berlutut tanpa terlihat berdoa, bisa diam tanpa dicurigai sedang menyembah. Justru dalam ketelanjangan simbol itulah spiritualitas non-doktrinal menemukan rumahnya.

     Spiritualitas semacam ini lahir bukan dari kepatuhan, melainkan dari retakan. Retakan eksistensial yang tidak mencari penutup cepat, apalagi stiker ideologis. Ia menolak jalan pintas berupa label: agama ini, aliran itu, komunitas sana. Bukan karena anti, tetapi karena terlalu jujur untuk berpura-pura yakin. Gunung memberi ruang bagi kejujuran itu. Ia tidak menuntut pengakuan iman; ia hanya menuntut kesiapan tubuh dan keberanian jiwa.

     Berbeda dengan religiositas berbendera—yang hidup dari afiliasi, simbol, dan pengakuan sosial—pendaki altar tidak membutuhkan saksi. Doanya tidak naik melalui kata, melainkan napas. Liturginya adalah langkah yang diulang, peluh yang jatuh, dan keputusan sederhana untuk terus berjalan meski tidak ada janji apa pun di puncak. Jika ada “iman”, ia hadir sebagai kesetiaan pada proses, bukan kepastian hasil.

     Di sinilah posisi sosial tipe ini menjadi ganjil. Ia tidak sepenuhnya cocok dengan kaum religius institusional yang memerlukan batas jelas antara yang sah dan yang sesat. Namun ia juga asing bagi spiritualisme pasar yang menjual ketenangan instan dalam kemasan retret akhir pekan. Pendaki altar berada di antara: terlalu sunyi untuk dirayakan, terlalu mandiri untuk dikurasi. Ia sering terlihat hanya sebagai hobiis alam, padahal yang sedang dikerjakan adalah kerja batin yang serius—tanpa proposal, tanpa laporan pertanggungjawaban.

     Implikasinya terhadap cara hidup cukup radikal. Hidup “religius” tanpa berbendera berarti etika lahir dari pengalaman langsung, bukan perintah tertulis. Kesadaran akan rapuhnya tubuh di ketinggian melahirkan rendah hati tanpa perlu diajarkan. Ketergantungan pada cuaca dan medan menumbuhkan sikap tawakal tanpa kosa kata teologis. Solidaritas dengan sesama pendaki muncul bukan karena doktrin kasih, tetapi karena tahu: satu kesalahan kecil bisa fatal bagi siapa pun. Moralitas di sini tidak diteriakkan; ia dipraktikkan.

     Tentu, ada risikonya. Tanpa bendera, seseorang mudah disalahpahami sebagai “tidak punya pegangan”. Padahal justru sebaliknya: pegangannya terlalu konkret. Batu licin, oksigen menipis, malam yang dingin—semua itu tidak bisa diperdebatkan. Di hadapan realitas semacam itu, retorika iman runtuh, dan yang tersisa hanyalah relasi telanjang antara manusia dan keterbatasannya.

     Gunung sebagai altar tidak menawarkan keselamatan abadi. Ia hanya menawarkan kehadiran penuh. Dan mungkin itu cukup. Di dunia yang gemar memamerkan kesalehan, memilih diam di ketinggian adalah sikap yang nyaris subversif. Bukan penolakan terhadap agama, melainkan pengingat halus: bahwa sebelum segala bendera dikibarkan, manusia lebih dulu harus belajar berdiri—sendiri, kecil, dan jujur—di hadapan yang tak bisa ia kuasai. ~ 1 of 6


Gunung, bagi sebagian orang, bukan lanskap. Ia altar—tanpa imam, tanpa kitab suci berjilid, tanpa kalender ritual. Di sana seseorang bisa berlutut tan

Posting Komentar

...

[blogger][facebook]

Author Name

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.