April 4, 202505:45:42 PM

Ketika Zamrud Khatulistiwa Menjadi Kuburan Ekologis #IndonesiaGelap

Elegi untuk Bumi yang Terluka oleh Tangan Pemiliknya.

     Di tengah gemuruh alat berat yang menggali perut bumi Kalimantan, ada bisik-bisik pilu dari pepohonan yang roboh. Indonesia kehilangan 115.000 hektar hutan setiap tahun (Global Forest Watch, 2022)—luasan yang setara dengan 160.000 lapangan bola. Tapi bagi para pemegang saham di Jakarta, ini hanya angka di laporan keuangan. Mereka menyebutnya "pembangunan", padahal yang terjadi adalah pemakaman massal untuk keanekaragaman hayati. Di sini, di negeri yang dijuluki "paru-paru dunia", setiap detik, tiga pohon ditebang. Paru-paru itu kini mengeluarkan darah: asap kebakaran hutan, limbah tambang, dan udara beracun.

Darah yang Tertumpah dari Pohon dan Batu Bara:

     Pada 2015, kebakaran hutan melalap 2,6 juta hektar lahan. Asapnya menyelimuti Sumatra dan Kalimantan selama berbulan-bulan, memaksa anak-anak memakai masker ke sekolah. Udara menjadi racun dengan PM2.5 mencapai 1.500 µg/m³—50x batas aman WHO. Tapi di balik kabut itu, perusahaan sawit dan pulp mencetak untung Rp 200 triliun (Greenpeace, 2016). Rakyat kecil menghirup maut, sementara para konglomerat menghirup aroma dolar.

     Di Jawa, PLTU batu bara menyumbang 40% polusi udara (IESR, 2022). Jakarta, sang ibu kota, menduduki peringkat 10 kota dengan udara terburuk di dunia (IQAir, 2023). Anak-anak di Bandung bermain di bawah langit dengan AQI 153, di mana partikel beracun menempel di paru-paru mereka seperti parasit. Pemerintah berjanji "transisi energi", tapi 60% listrik Indonesia masih bergantung pada batu bara (ESDM, 2023). Di balik retorika "hijau", ada 43 PLTU baru yang sedang dibangun—sebuah ironi di era krisis iklim.

Laut yang Menjerit, Nelayan yang Bisu:

     Di Flores, nelayan tua menatap laut yang tak lagi biru. Sejak 2000-an, bom ikan dan trawl ilegal menghancurkan 70% terumbu karang (LIPI, 2018). Jaring mereka pulang kosong, sementara kapal-kapal pukat harimau asing menyedot ikan hingga ke dasar laut. Pada 2022, 3,2 juta ton sampah plastik mencemari perairan Indonesia (KLHK)—setara dengan 12.000 kali berat Monas. Anak-anak nelayan di Wakatobi tak lagi berenang; mereka mengumpulkan sampah plastik untuk dijual seharga Rp 2.000/kg.

     Di Papua, Freeport telah membuang 3 miliar ton limbah tambang ke Sungai Ajkwa sejak 1972. Airnya berubah menjadi lumpur kuning beracun yang membunuh semua kehidupan. Suku Amungme, yang dulu menyebut gunung itu Nemang Kawi (Gunung Suci), kini menyaksikan tanah leluhur mereka dikeruk untuk tembaga dan emas. Pada 2023, proyek tambang baru dibuka di Blok Wabu—200 hektar hutan primer direnggut, burung Cenderawasih terakhir menghilang.

Sungai-sungai yang Menangis:

     Sungai Citarum, yang dulu dijuluki "Sungai Nila", kini lebih mirip selokan raksasa. Setiap hari, 270 ton limbah industri tekstil mengalir ke tubuhnya (KLHK, 2019). Ikan-ikan mati mengambang, airnya mengandung timbal 10x ambang batas. Di tepiannya, petani Karawang memaksa menanam padi dengan air beracun. "Hasilnya? Gabah kosong dan anak-anak kami gatal-gatal," keluh seorang petani.

     Di Sumatra, Sungai Musi yang legendaris berubah cokelat pekat oleh limbah sawit. Pada 2022, 80% hutan adat Suku Anak Dalam di Jambi telah berubah menjadi kebun sawit monokultur. Mereka yang protes dituduh "anti-pembangunan", padahal yang terjadi adalah pemusnahan sistemik atas pengetahuan lokal yang telah menjaga hutan selama ribuan tahun.

Udara yang Membunuh, Tanah yang Menghilang:

     Di Bandung, udara pagi telah menjadi ancaman. Indeks kualitas udara kerap mencapai 150 (AQI), dipicu oleh 2,5 juta kendaraan bermotor dan PLTU batu bara di sekitar kota. Anak-anak SD di Dayeuhkolot menderita ISPA kronis—penyakit yang disebut dokter sebagai "warisan udara Jakarta". Tapi pembangunan mal dan apartemen terus merangsek, menghabiskan sisa ruang terbuka hijau.

     Di Semarang, banjir rob menjadi ritual tahunan. Sejak 2003, permukaan air laut naik 8 cm/tahun (BMKG), menyapu permukiman nelayan. Pada 2023, 15.000 warga mengungsi—bencana yang diperparah oleh reklamasi tambang pasir besi di pesisir. Pemerintah membangun tanggul seharga Rp 1,2 triliun, tapi air laut tetap merangkak naik, seolah menertawakan usaha manusia melawan alam.

Warisan Kegelapan yang Terus Berlanjut:

     Proyek IKN Nusantara, yang diagungkan sebagai "ibu kota masa depan", telah menggundulkan 256.000 hektar hutan Kalimantan (Walhi, 2024). Di saat yang sama, kelangkaan LPG 3 kg (Februari 2025) memicu gelombang penebangan kayu ilegal. Masyarakat miskin di pedesaan kembali ke zaman primitif: memasak dengan kayu bakar, mempercepat deforestasi.

     Kebijakan energi juga semakin absurd. Di tengah krisis iklim, Pertamina justru mengimpor minyak kotor sour crude (2025) untuk diolah di kilang tua—praktik yang meningkatkan emisi sulfur hingga 30%. Sementara itu, korupsi di tubuh BUMN migas itu mencapai Rp 968 triliun dalam kasus BBM oplosan (2023), mencemari lingkungan dan menguras uang rakyat.

Semakin Gelap di Bawah Kabut Asap.

     Matahari terbenam di balik kabut asap Karhutla, mewarnai langit Jawa dengan nuansa merah darah. Di bawahnya, rakyat kecil merangkak: petani tanpa lahan, nelayan tanpa ikan, anak-anak tanpa udara bersih. Setiap pohon yang tumbang, setiap ton batu bara yang dibakar, setiap hektar laut yang tercemar—semuanya adalah lilin yang padam dalam kegelapan ekologis.

     Indonesia 2025 bukan lagi zamrud khatulistiwa. Ia telah menjadi museum kekejaman ekologis: sungai-sungai beracun, hutan-hutan yang berubah menjadi kubangan sawit, dan generasi yang tumbuh dengan paru-paru rusak. Di balik retorika pembangunan, yang tersisa hanyalah puing-puing kehancuran.

     Tapi di tengah kegelapan ini, masih ada bisik-bisik perlawanan. Di Sulawesi, petani muda mulai menanam kembali pohon endemik. Di Bali, aktivis membersihkan pantai dari sampah plastik. Mereka adalah lilin-lilin kecil yang menolak padam—cahaya tipis yang mungkin suatu hari bisa membakar kabut keputusasaan.

     Pertanyaannya, akankah kita memilih menjadi bagian dari cahaya itu, atau tetap berdiam diri dalam kegelapan yang kita ciptakan sendiri?

#IndonesiaGelap : Negeri di mana kegelapan ekologis bukan lagi metafora, melainkan kenyataan yang terhampar. Di sini, bumi bukan ibu yang menyayangi, melainkan korban yang terluka—menunggu kematian atau kebangkitan.


Data:

  1. Deforestasi 115.000 hektar/tahun (Global Forest Watch, 2022).
  2. 60% energi dari batu bara (ESDM, 2023).
  3. Polusi udara Jakarta (IQAir, 2023).
  4. Limbah tambang Freeport (Laporan WALHI Papua, 2021).
  5. Impor sour crude Pertamina (Kompas, Februari 2025).
  6. Korupsi BBM oplosan Rp968 triliun (BPK, 2023).
  7. Buletin Fakta Ekologi - Walhi Oktober 2024

Ketika Zamrud Khatulistiwa Menjadi Kuburan Ekologis #IndonesiaGelap

Posting Komentar

Posting Komentar

...

Emoticon
:) :)) ;(( :-) =)) ;( ;-( :d :-d @-) :p :o :>) (o) [-( :-? (p) :-s (m) 8-) :-t :-b b-( :-# =p~ $-) (b) (f) x-) (k) (h) (c) cheer
Click to see the code!
To insert emoticon you must added at least one space before the code.

Author Name

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.