Pagi itu saya membaca kabar tentang ketua MBG dan dua wakilnya yang diamankan dalam kasus dugaan korupsi. Saya membaca beritanya sampai selesai, lalu menaruh telepon genggam di meja. Tidak marah. Tidak terkejut. Tidak juga sedih. Yang muncul justru sebuah kenangan yang aneh.

     Saya teringat Gus Dur.

     Bukan pidatonya. Bukan kisah-kisah politiknya. Yang muncul justru sebuah lelucon lama yang mungkin sudah berkeliaran puluhan tahun di republik ini.

     Katanya, di zaman Orde Lama korupsi dilakukan di bawah meja. Di zaman Orde Baru korupsi dilakukan di atas meja. Di zaman Reformasi, mejanya sekalian dikorupsi.

     Saya tertawa ketika pertama kali mendengarnya bertahun-tahun lalu. Seperti banyak lelucon Gus Dur lainnya, kalimat itu terdengar ringan, bahkan nakal. Namun semakin tua umur lelucon itu, semakin terasa bahwa ia sedang menyembunyikan sesuatu yang tidak lucu.

     Ada jenis humor tertentu yang sebenarnya lahir dari keputusasaan. Kita tertawa bukan karena bahagia, tetapi karena kenyataan terlalu ganjil untuk ditanggapi dengan wajah serius.

     Saya membayangkan bagaimana perasaan seseorang yang hidup beberapa dekade lalu ketika mendengar kalimat itu. Mungkin ia menganggapnya hiperbola. Mungkin ia menganggap Gus Dur sedang melebih-lebihkan keadaan. Sebab bagaimanapun, mengorupsi meja terdengar mustahil. Korupsi seharusnya mengambil uang. Mengambil proyek. Mengambil barang. Bukan mengambil meja.

     Namun rupanya kehidupan politik Indonesia memiliki bakat khusus dalam mengubah metafora menjadi laporan lapangan.

     Dari tahun ke tahun kita menyaksikan sesuatu yang menarik. Korupsi tidak lagi tampak sebagai penyimpangan dari sistem. Ia seperti spesies yang berhasil beradaptasi dengan lingkungannya. Ketika satu celah ditutup, ia menemukan celah lain. Ketika satu aturan dibuat, ia mempelajari cara hidup di dalam aturan tersebut. Kadang-kadang bahkan tampak lebih memahami aturan daripada orang yang membuatnya.

     Karena itu ketika membaca berita tentang MBG, pikiran saya justru melompat ke lelucon tadi. Program Makan Bergizi adalah sebuah gagasan yang begitu sederhana sehingga hampir mustahil ditolak. Anak-anak makan lebih baik. Gizi membaik. Masa depan diperkuat. Bahkan namanya terdengar seperti sesuatu yang lahir dari ruang kelas sekolah dasar yang penuh gambar matahari dan awan berwarna cerah.

     Lalu kenyataan datang membawa kebiasaan lamanya.

     Ternyata di negeri ini, bahkan gagasan tentang anak-anak yang sedang makan pun dapat dikerumuni oleh orang-orang dewasa yang lebih dulu lapar.

     Di titik itulah saya mulai merasa bahwa mungkin kita selama ini salah memahami lelucon Gus Dur. Kita mengira tokoh utama dalam cerita itu adalah meja. Padahal bukan.

     Meja hanya korban.

     Bayangkan nasib sebuah meja di republik ini. Ia dibuat oleh tukang kayu. Dipernis dengan baik. Diletakkan di kantor pemerintahan. Ia mungkin berharap hidup tenang sebagai tempat rapat, tempat menandatangani dokumen, atau tempat meletakkan secangkir kopi. Namun sepanjang hidupnya ia terus-menerus dituduh terlibat korupsi.

     Di bawah meja ada korupsi.
     Di atas meja ada korupsi.
     Lalu mejanya ikut dikorupsi.

     Seandainya meja bisa berbicara, mungkin sejak lama ia sudah meminta pindah profesi menjadi lemari.

     Yang membuat semua ini terasa lebih ganjil adalah kenyataan bahwa bangsa ini sebenarnya sangat kaya akan slogan moral. Hampir tidak ada kekurangan slogan. Integritas ada. Transparansi ada. Akuntabilitas ada. Amanah ada. Pengabdian ada. Setiap tahun kita memproduksi slogan-slogan baru seperti pabrik memproduksi mi instan.

     Masalahnya, slogan tidak pernah kenyang. Seperti manusia dengan usus 36 jari.

     Mungkin karena itu korupsi di Indonesia sering kali memiliki sifat yang unik. Ia tidak muncul sebagai perampok yang memecahkan jendela pada tengah malam. Ia datang mengenakan seragam resmi, membawa stempel, menyusun proposal, membuat presentasi, lalu berbicara panjang tentang pengabdian kepada rakyat. Kadang-kadang ia bahkan berbicara lebih fasih tentang moralitas daripada orang yang benar-benar bermoral.

     Lalu bertahun-tahun kemudian, ketika sebuah kasus terbongkar, masyarakat kembali mendengar istilah yang sama. Dugaan penyimpangan. Dugaan mark-up. Dugaan pengaturan proyek. Dugaan pengadaan. Kata "dugaan" berbaris begitu panjang hingga terdengar seperti nama jalan.

     Dan rakyat membaca semuanya dengan ekspresi yang semakin sulit dibedakan antara tertawa dan lelah.

     Barangkali itulah bagian yang paling menyedihkan dari korupsi. Bukan jumlah uangnya. Angka-angka pada akhirnya selalu bisa dihitung. Auditor bisa menghitungnya. Penyidik bisa menghitungnya. Hakim bisa menghitungnya.

     Yang lebih sulit dihitung adalah saat masyarakat mulai kehilangan kemampuan untuk terkejut. Saat sebuah berita tentang dugaan korupsi tidak lagi terasa seperti gempa, melainkan seperti prakiraan cuaca.

     Hari ini berawan.
     Besok hujan.
     Lusa kemungkinan ada kasus baru.
 

     Dan di tengah semua itu, lelucon Gus Dur tetap berjalan dari satu generasi ke generasi berikutnya, seperti seorang pengembara tua yang terus menemukan alamat yang sama meskipun nama jalannya sudah berkali-kali diganti.

     Saya tidak tahu apakah suatu hari nanti lelucon itu akan kehilangan relevansinya. Saya berharap demikian. Sebab ada lelucon yang memang seharusnya pensiun dengan tenang.

     Tetapi setiap kali membaca berita semacam ini, harapan itu terasa seperti menatap meja tua di sebuah kantor pemerintahan dan bertanya dalam hati: "setelah semua yang dialaminya selama puluhan tahun, apakah meja itu masih berani percaya kepada manusia?"

     Ada sebuah keyakinan yang sangat demokratis dan karena itu sangat disukai: semua manusia pada dasarnya sama. Kalimat itu terdengar indah, menenangkan, dan berguna untuk menjaga agar meja makan keluarga tidak berubah menjadi arena adu argumen. Namun seperti banyak kalimat yang terlalu indah, ia sering lolos dari pemeriksaan.

     Manusia memang sama dalam banyak hal. Sama-sama lahir dengan tangisan, sama-sama dapat terluka, sama-sama takut kehilangan, dan pada akhirnya sama-sama akan meninggalkan dunia ini tanpa membawa apa pun selain cerita yang tersisa di kepala orang lain. Namun ketika berbicara tentang cara memahami dunia, persamaan itu mulai retak.

     Sebagian manusia melihat dunia seperti jalan lurus yang menghubungkan sebab dan akibat. Mereka nyaman dengan kepastian. Jika harga naik, pasti ada penjahatnya. Jika negara memburuk, pasti ada orang yang harus disalahkan. Jika ada masalah, tentu ada solusi yang sederhana. Dunia terasa masuk akal karena tersusun rapi seperti rak buku yang telah diberi label.

     Sebagian yang lain justru gelisah ketika segala sesuatu tampak terlalu sederhana. Mereka melihat bahwa satu keputusan dapat menghasilkan akibat yang saling bertentangan. Bahwa sebuah kebijakan yang baik dapat berubah menjadi bencana ketika diterapkan pada keadaan yang berbeda. Bahwa manusia tidak selalu bertindak rasional, dan sejarah tidak selalu bergerak menuju kemajuan. Mereka hidup dengan lebih banyak tanda tanya daripada tanda seru.

     Perbedaan itu sering dianggap sebagai perbedaan pendapat. Padahal tidak selalu demikian. Kadang-kadang yang berbeda bukan kesimpulannya, melainkan cara membangun kesimpulan itu sendiri. Dua orang dapat melihat peristiwa yang sama, membaca berita yang sama, bahkan menyaksikan fakta yang sama, tetapi menghasilkan pemahaman yang sangat berbeda karena mereka mengolah informasi dengan cara yang berbeda pula.

     Perbedaan itu tentu tidak muncul dari ruang hampa. Pengalaman hidup, pendidikan, lingkungan sosial, jenis bacaan, budaya tempat seseorang tumbuh, bahkan temperamen pribadinya ikut membentuk cara ia memahami kenyataan. Ada orang yang terbiasa hidup dalam lingkungan yang menuntut jawaban cepat. Ada yang sejak kecil akrab dengan pertanyaan yang tidak segera memperoleh jawaban. Ada yang tumbuh di tengah keragaman gagasan. Ada yang lebih sering berhadapan dengan kepastian yang telah disediakan.

     Namun di antara berbagai faktor itu, ada satu unsur yang sering membuat percakapan menjadi canggung: kemampuan kognitif. Dalam psikologi, sebagian kemampuan mengenali pola, melakukan abstraksi, memecahkan masalah, dan mengolah informasi lazim diukur melalui berbagai tes inteligensi yang hasilnya dikenal sebagai IQ. Angka itu tentu tidak menjelaskan seluruh manusia, tetapi ia memberi petunjuk tentang seberapa kompleks informasi dapat diolah seseorang pada saat yang sama. Karena itu, meskipun pengalaman hidup, pendidikan, budaya, dan kepribadian tetap berperan besar, mengabaikan perbedaan kemampuan kognitif berarti mengabaikan salah satu faktor yang mungkin ikut menjelaskan mengapa dua orang yang melihat fakta yang sama dapat hidup dalam dunia pemahaman yang berbeda.

     Di sinilah kemampuan kognitif mulai menjadi menarik. Bukan karena ia menentukan nilai manusia, melainkan karena ia memengaruhi cara manusia memetakan realitas. Sebagian orang dapat menampung lebih banyak variabel sekaligus dalam pikirannya. Mereka lebih mudah melihat hubungan yang tidak langsung, akibat yang tertunda, atau paradoks yang hidup berdampingan. Sebagian yang lain lebih nyaman dengan pola yang lebih ringkas dan lebih cepat mencapai kepastian.

     Perbedaan itu tidak selalu tampak dalam kehidupan sehari-hari. Ia baru terlihat ketika dunia mulai menjadi rumit.

     Ketika membahas cuaca, harga beras, atau pertandingan sepak bola, semua orang masih dapat bercakap dengan santai. Namun ketika pembicaraan menyentuh ekonomi, politik, sejarah, agama, atau masa depan sebuah bangsa, jarak yang sebelumnya tersembunyi mulai muncul ke permukaan. Yang satu merasa persoalannya jelas, yang lain merasa persoalannya baru saja dimulai.

     Kedua jenis manusia itu tinggal di negeri yang sama. Mereka membayar pajak yang sama, menggunakan mata uang yang sama, bahkan mungkin menonton pertandingan sepak bola yang sama. Tetapi mereka tidak hidup di dunia yang sama.

     Yang satu melihat peta kota.

     Yang lain melihat peta benua.

Masalahnya bukan karena salah satu peta keliru. Masalahnya adalah keduanya menganggap bahwa apa yang mereka lihat sudah cukup untuk menjelaskan seluruh dunia.

     Lalu lahirlah percakapan yang tidak pernah selesai.

     Yang satu berkata, "Masalahnya sederhana."
     Yang lain menjawab, "Tidak sesederhana itu."
     Yang pertama kesal karena segala sesuatu dibuat rumit.
     Yang kedua lelah karena segala sesuatu disederhanakan.
     Keduanya pulang dengan keyakinan bahwa lawannya tidak mengerti.

     Warung kopi mendapatkan pelanggan tetap.

     Yang menarik, perdebatan seperti itu sering dianggap sebagai benturan ideologi, kepentingan, atau karakter. Penjelasan itu tidak selalu salah, tetapi mungkin belum lengkap. Ada kemungkinan bahwa sebagian konflik yang kita saksikan sesungguhnya berakar pada perbedaan tingkat kompleksitas dalam memahami dunia.

     Bagi seseorang yang terbiasa melihat lima variabel, dunia memang tampak berbeda dibanding mereka yang secara spontan melihat lima puluh variabel. Bagi yang pertama, keputusan dapat diambil dengan cepat karena jalurnya terlihat jelas. Bagi yang kedua, setiap keputusan membawa konsekuensi bercabang yang sulit diabaikan. Yang satu sering dianggap terlalu sederhana. Yang lain sering dianggap terlalu rumit. Keduanya sama-sama frustrasi.

     Akibatnya, biaya percakapan menjadi mahal.

     Menjelaskan sesuatu membutuhkan energi. Menyusun konteks membutuhkan kesabaran. Menjembatani perbedaan cara berpikir membutuhkan waktu yang sering kali tidak dimiliki siapa pun. Tidak jarang dua orang menghabiskan berjam-jam berdiskusi hanya untuk menemukan bahwa mereka sebenarnya tidak sedang memperdebatkan jawaban yang berbeda, melainkan sedang berdiri pada tingkat abstraksi yang berbeda.

     Di titik itulah muncul kesadaran yang agak sunyi. Kadang-kadang manusia tidak hanya berbeda pendapat. Mereka berbeda dunia.

     Bukan karena mereka hidup di negara yang berbeda, berbicara dalam bahasa yang berbeda, atau memeluk keyakinan yang berbeda. Mereka berbeda dunia karena struktur yang mereka gunakan untuk memahami kenyataan memang berbeda. Mereka melihat objek yang sama dengan resolusi yang berbeda.

     Barangkali itulah sebabnya sebagian percakapan terasa begitu melelahkan. Bukan karena lawan bicara tidak tulus. Bukan karena salah satu lebih bermoral. Bukan pula karena yang lain kurang cerdas. Melainkan karena mereka sedang berusaha membangun jembatan di atas jurang yang bahkan tidak mereka sadari keberadaannya.

     Namun anehnya, manusia tidak pernah berhenti mencoba.

     Mereka tetap duduk di warung kopi yang sama. Tetap memesan kopi yang sama pahitnya. Tetap mengulang perdebatan yang sama dari tahun ke tahun. Kadang dengan harapan dapat saling meyakinkan, kadang hanya untuk memastikan bahwa masih ada orang lain yang bersedia mendengarkan.

     Barangkali itulah cara peradaban bertahan.

     Bukan karena semua orang melihat dunia dengan cara yang sama.

     Melainkan karena, meskipun hidup dalam dunia yang berbeda-beda, mereka belum sepenuhnya menyerah untuk terus berbicara.

     Barangkali memang sudah saatnya cara menghormati nenek moyang itu diperbarui. Bukan karena masa lalu tidak lagi penting, bukan pula karena tradisi harus disingkirkan, melainkan karena terlalu banyak orang terjebak pada keyakinan bahwa penghormatan hanya dapat diwujudkan dengan mengulang. Seolah-olah kesetiaan tertinggi kepada para pelaut besar adalah menapaki rute yang sama, menghidupkan kembali perahu yang sama, dan mengisahkan lagi cerita yang sama. Padahal, semakin lama dipikirkan, semakin terasa janggal. Sebab para pelaut yang kini dipuja itu dahulu justru tidak hidup dengan cara demikian. Mereka tidak menjadi besar karena mengulang. Mereka menjadi besar karena berani meninggalkan apa yang telah ada.

     Jika benar nenek moyang adalah pelaut, maka warisan terbesarnya tidak terletak pada kayu perahunya, tidak pula pada jalur pelayarannya. Warisan terbesar mereka adalah keberanian untuk berangkat ketika arah belum tersedia, ketika peta belum selesai dibuat, ketika jawaban belum ditemukan. Maka penghormatan yang paling jujur kepada mereka bukanlah dengan menghafal ke mana mereka pernah pergi, melainkan dengan tetap memiliki keberanian untuk pergi ke tempat yang bahkan belum pernah mereka bayangkan.

     Dari situlah sebuah gagasan sederhana muncul. Jika dunia pernah begitu gaduh oleh perdebatan tentang bumi datar dan bumi bulat, mengapa tidak menjawabnya dengan cara yang paling tua sekaligus paling ilmiah: berlayar mengelilingi dunia? Bukan untuk mencari sensasi, bukan pula untuk mengulang kisah kejayaan masa lalu, melainkan untuk mengalami secara langsung bagaimana ilmu pengetahuan bekerja. Mengamati, mengukur, menguji, meragukan, memperbaiki, lalu menguji kembali. Sebab ilmu pengetahuan tidak tumbuh dari kemenangan berdebat. Ia tumbuh dari keberanian menghadapkan keyakinan pada kenyataan.

     Pelayaran itu dapat dimulai dari Makassar, kota yang telah lama hidup berdampingan dengan laut. Sebuah phinisi berangkat mengelilingi dunia, menelusuri tepian benua, melintasi samudra, singgah dari satu negeri ke negeri lain. Namun kali ini, tujuan pelayaran bukan untuk mengulang jalur nenek moyang. Tujuannya adalah menjawab pertanyaan zaman sekarang dengan seluruh kemampuan yang dimiliki manusia hari ini. Phinisi tidak lagi menjadi simbol romantisme masa lalu, melainkan menjadi ruang kerja yang hidup; tempat penelitian dilakukan, tempat gagasan diperdebatkan, tempat mahasiswa dan ilmuwan dari berbagai negara bertemu untuk membangun pengetahuan bersama.

     Mengapa phinisi? Jawabannya justru sangat sederhana: karena ia mampu membawa banyak manusia, banyak ilmu, banyak pertanyaan, dan banyak kemungkinan. Tidak ada alasan untuk membekukannya menjadi benda museum yang hanya dipandang dengan rasa kagum. Ia dibangun untuk berlayar. Ia lahir dari kemampuan beradaptasi. Bahkan bentuknya sendiri merupakan hasil perkembangan panjang, hasil perjumpaan dengan berbagai pengalaman dan kebutuhan zamannya. Maka menggunakan phinisi dengan teknologi termutakhir, laboratorium kecil, sistem komunikasi satelit, perangkat navigasi modern, dan segala instrumen penelitian yang tersedia bukanlah pengkhianatan terhadap tradisi. Itu justru bentuk kesetiaan yang paling jujur kepada semangat yang melahirkannya.

     Kalau nenek moyang hidup hari ini, mungkinkah mereka menolak teknologi? Mungkinkah mereka bersikeras menggunakan cara lama hanya karena takut disebut tidak setia kepada tradisi? Rasanya sulit dipercaya. Para pelaut besar pada masanya adalah para pemanfaat teknologi terbaik yang tersedia. Mereka belajar dari banyak bangsa, memperbaiki apa yang mereka miliki, lalu berlayar lebih jauh. Mereka tidak jatuh cinta pada bentuk. Mereka jatuh cinta pada kemungkinan.

     Maka ekspedisi ini tidak hanya tentang laut. Ia adalah sekolah yang bergerak. Seorang mahasiswa mungkin tidak pernah naik ke atas phinisi, tetapi ia dapat menghabiskan berbulan-bulan menyusun metodologi penelitian, berkorespondensi dengan universitas luar negeri, menghubungkan para peneliti, menyiapkan konferensi, mengelola data, dan menyusun publikasi ilmiah. Mahasiswa lain mungkin mengurus logistik yang rumit, mengatur pergantian peserta dari berbagai negara, atau menjadi penghubung antara kampus dan institusi yang terlibat. Mereka mungkin tidak memegang kemudi, tetapi mereka ikut menggerakkan pelayaran itu.

     Dan bukankah itu juga berarti ikut mengukir laut?

     Ada sesuatu yang sangat berbeda antara membaca bagaimana ilmu pengetahuan bekerja dengan mengalami seluruh keruwetannya secara langsung. Di ruang kuliah, seseorang dapat memahami metodologi penelitian sebagai teori. Namun ketika harus menghubungi ilmuwan dari berbagai negara, menyusun rancangan penelitian lintas disiplin, menghadapi perbedaan pandangan, menyesuaikan metode dengan kondisi lapangan, lalu mempertanggungjawabkan hasilnya di hadapan komunitas ilmiah, ilmu pengetahuan tidak lagi menjadi pelajaran. Ia berubah menjadi pengalaman hidup.

     Barangkali inilah bentuk akademis yang sering terlupakan. Ia bukan sekadar label yang ditempelkan pada sebuah kegiatan agar terdengar lebih terhormat. Ia adalah keberanian untuk bertanya, bekerja, berkolaborasi, dan menerima kemungkinan bahwa hasil akhirnya mungkin berbeda dari apa yang dibayangkan sejak awal. Akademis bukan panggung yang meminta tepuk tangan. Akademis adalah perjalanan panjang yang sering kali penuh keraguan, tetapi justru karena itu ia terus berkembang.

     Di sinilah dua esai sebelumnya menemukan jawabannya. Jika dahulu manusia begitu bangga mengikuti jejak nenek moyangnya, mungkin sekarang sudah saatnya mereka mewarisi keberanian nenek moyangnya. Jika dahulu akademis sering kali berhenti pada nama dan simbol, mungkin sekarang sudah saatnya ilmu kembali turun ke laut, berhadapan dengan kenyataan, dan mengakui bahwa masih banyak hal yang belum diketahui.

     Warisan terbesar nenek moyang bukanlah perahunya. Melainkan keberanian untuk membangun perahu yang berbeda, berlayar ke laut yang berbeda, dan menjawab pertanyaan yang bahkan belum pernah mereka bayangkan.

     Karena pada akhirnya, kita tidak menghormati pelaut besar dengan menghafal arah yang mereka tempuh. Kita menghormati mereka dengan tetap berani berlayar ketika arah itu belum ada. Sebab warisan terbesar nenek moyang bukanlah perahunya, melainkan keberanian untuk meninggalkan pelabuhan.

     Ada satu hal yang sering membuat manusia merasa lebih mulia daripada yang sebenarnya: sebuah label. Ia dapat mengubah kegiatan biasa menjadi luar biasa, mengubah pengalaman menjadi prestasi, bahkan mengubah kebanggaan pribadi menjadi kehormatan kolektif. Manusia menyukai itu. Sebab tidak semua orang mampu menciptakan sesuatu yang besar, tetapi hampir semua orang ingin terhubung dengan sesuatu yang dianggap besar. Maka lahirlah berbagai cara untuk meminjam kebesaran, dan salah satu yang paling elegan adalah meminjam nama ilmu pengetahuan.

     Sejumlah mahasiswa berlayar mengikuti jejak pelayaran nenek moyangnya. Mereka menggunakan perahu yang dirancang berdasarkan temuan arkeologis, menempuh rute yang diyakini pernah dilalui para pelaut masa lalu, singgah di titik-titik yang telah ditentukan jauh sebelum layar dikembangkan. Tidak ada yang salah dengan semua itu. Bahkan ada sesuatu yang romantis di sana. Laut selalu menyimpan daya tariknya sendiri, begitu pula sejarah. Anak-anak muda yang belajar hidup bersama di tengah ombak, merasakan kerasnya angin, dan menyentuh kembali kisah masa lalu dengan tubuh mereka sendiri adalah pemandangan yang menyenangkan untuk dibayangkan.

     Namun persoalan mulai muncul ketika seluruh kegiatan itu diberi nama: ekspedisi akademis.

     Kata itu terdengar gagah. Begitu gagahnya hingga hampir tidak ada yang berhenti untuk bertanya, bagian mana yang sebenarnya akademis. Sebab akademis bukanlah kata sifat yang membuat segala sesuatu tiba-tiba menjadi ilmiah. Akademis bukan semacam bumbu penyedap yang dapat ditaburkan di atas petualangan agar rasanya lebih intelektual. Ia memiliki syarat yang jauh lebih keras daripada sekadar niat baik dan semangat yang tinggi.

     Ilmu pengetahuan lahir dari ketidakpuasan terhadap jawaban. Ia hidup dari pertanyaan yang mengganggu kenyamanan. Ia berkembang karena ada kemungkinan salah. Bahkan seorang ilmuwan yang baik lebih takut pada keyakinannya sendiri daripada pada kritik orang lain, sebab ia tahu bahwa sesuatu yang hari ini dianggap benar dapat runtuh oleh satu bukti baru esok hari.

     Lalu apa yang sedang dipertanyakan dalam pelayaran itu?

     Rute sudah diketahui. Jenis perahu telah ditentukan. Tujuan perjalanan telah dipetakan.

     Narasi yang dibawa sejak awal pun tampaknya tidak berubah: nenek moyang adalah pelaut hebat, dan perjalanan ini adalah pembuktian atas kehebatan itu.

     Kalau begitu, apa yang sedang dicari?

     Atau mungkin pertanyaannya harus sedikit lebih jujur: adakah sesuatu yang sungguh-sungguh sedang dicari?

     Jika ekspedisi pertama dilakukan tiga puluh tahun lalu, kemudian diulang lima belas tahun setelahnya, lalu diulang kembali dengan pola yang hampir sama, sementara yang berubah hanya nama peserta dan angka di belakang judul kegiatan, apakah yang sebenarnya sedang diwariskan? Semangat akademis atau tradisi mengulang sesuatu yang pernah mendapat tepuk tangan?

     Pertanyaan ini terasa tidak sopan hanya karena terlalu jarang diajukan. Sebab yang terlihat justru suasana yang hangat dan membanggakan. Mahasiswa merasa menjadi bagian dari sejarah. Kampus merasa sedang menjalankan misi besar. Masyarakat ikut bangga melihat generasi muda menghormati warisan leluhurnya. Semua orang tampak puas. Semua orang bertepuk tangan.

     Dan tepuk tangan memang memiliki kemampuan yang luar biasa. Ia sering kali membuat manusia lupa bertanya.

     Tidak ada yang salah dengan napak tilas sejarah. Tidak ada yang salah dengan pelayaran budaya. Tidak ada yang salah dengan petualangan yang mengubah cara pandang seseorang terhadap hidup. Semua itu baik. Yang terasa mengganggu justru kebutuhan untuk menyebutnya akademis, seolah pengalaman tidak cukup bernilai jika tidak mengenakan jas ilmiah.

     Ini seperti membangun panggung jazz yang megah, lengkap dengan pencahayaan artistik, poster tokoh-tokoh besar, dan suasana yang intelektual. Ketika pertunjukan dimulai, ternyata yang dimainkan adalah dangdut koplo yang riuh dan menghibur. Penonton menari dengan gembira. Tidak ada yang salah dengan musiknya. Bahkan banyak yang pulang dengan perasaan bahagia. Tetapi tetap ada satu keganjilan yang tidak dapat dihapus: mengapa harus disebut jazz?

     Begitulah kira-kira perasaan yang muncul ketika sebuah kegiatan yang kaya pengalaman tetapi miskin pertanyaan tetap bersikeras menyebut dirinya akademis. Seolah kata itu dapat diwariskan seperti nama keluarga. Seolah semangat ilmiah dapat dipindahkan begitu saja hanya karena kegiatan tersebut dilakukan oleh mahasiswa dan mendapat pengakuan dari kampus.

     Padahal ilmu tidak pernah bekerja seperti itu.

     Ia tidak mengenal penghormatan kepada kenyamanan. Ia tidak tumbuh karena rasa bangga. Ia bahkan tidak terlalu peduli pada tradisi jika tradisi itu berhenti bertanya. Ilmu bergerak ke depan dengan cara yang kadang kejam: ia menggugat, mengoreksi, dan jika perlu menghancurkan keyakinan yang telah lama diterima.

     Ironisnya, kegiatan yang mengaku mengikuti nenek moyang pelaut justru tampak mengabaikan sifat paling penting dari para pelaut itu sendiri. Mereka tidak dikenang karena mengikuti jalur yang telah tersedia. Mereka dikenang karena berani memasuki wilayah yang belum diketahui. Mereka berlayar bukan untuk membuktikan bahwa dunia sesuai dengan keyakinannya, tetapi untuk mengetahui apakah keyakinannya memang sesuai dengan dunia.

     Barangkali itulah sebabnya ada gagasan yang terasa jauh lebih hidup: bukan mengulang pelayaran lama, tetapi menciptakan pelayaran baru. Bukan sekadar mengikuti rute yang diwariskan, melainkan berlayar membawa pertanyaan zaman sendiri, mengumpulkan data baru, berkolaborasi dengan dunia, menguji keyakinan, bahkan jika perlu pulang dengan kesimpulan yang menghancurkan asumsi awal. Bukankah itu jauh lebih dekat dengan semangat seorang pelaut? Bukankah itu lebih jujur untuk disebut akademis?

     Sayangnya, manusia memang memiliki hubungan yang rumit dengan ketidakpastian. Mereka mengagumi para penjelajah, tetapi tidak selalu ingin menjadi penjelajah. Mereka memuji keberanian, tetapi lebih nyaman mengulang keberanian orang lain. Mereka bangga menyebut nenek moyangnya seorang pelaut, tetapi lebih memilih berlayar di laut yang sudah dipetakan.

     Dan mungkin, tanpa disadari, itulah ironi terbesar dari semuanya: semangat eksplorasi perlahan berubah menjadi seremoni eksplorasi, sementara kata akademis berdiri di atasnya seperti papan nama yang megah, mengundang kekaguman banyak orang, meskipun isi bangunannya sudah lama berhenti menjadi rumah bagi pertanyaan.

     Ada kegembiraan yang aneh ketika manusia menemukan nenek moyangnya. Ia membuka silsilah, mengunjungi makam tua, mengenakan pakaian adat, menelusuri jalur pelayaran kuno, lalu pulang dengan dada yang lebih tegak. Ada kebanggaan yang tumbuh karena merasa terhubung dengan rantai panjang sejarah. Ia merasa dirinya bukan manusia yang jatuh dari langit, melainkan cabang dari pohon tua yang akarnya menembus jauh ke dalam tanah waktu.

     Itu wajar. Manusia memang membutuhkan akar. Namun persoalannya mulai menarik ketika akar itu perlahan berubah menjadi altar, dan sejarah berubah menjadi benda suci yang tidak boleh disentuh selain untuk dipuji.

     Maka lahirlah berbagai kegiatan yang megah. Ada yang menelusuri jejak pelaut leluhurnya, ada yang menghidupkan kembali ritual kuno, ada yang bersumpah menjaga warisan budaya agar tetap lestari. Semuanya dilakukan dengan penuh kebanggaan, dengan wajah serius seolah sedang memegang estafet suci dari masa lalu.

     Yang agak menggelikan adalah kenyataan bahwa hampir tidak ada satu pun dari mereka yang benar-benar hidup seperti nenek moyangnya.

     Seorang pelaut masa kini berdiri di atas kapal berbahan baja, ditemani radar, GPS, peta digital, dan komunikasi satelit. Ia berlayar mengikuti rute yang telah diprediksi komputer, lalu dengan khidmat berkata bahwa ia sedang menapaki jejak leluhur yang dahulu membaca arah angin dan menghafal konfigurasi bintang.

     Sungguh luar biasa. Nenek moyangnya bertaruh nyawa pada langit, sedangkan ia bertaruh pada daya baterai.

     Namun ia tetap merasa sedang melakukan hal yang sama.

     Barangkali memang begitu cara kerja ingatan manusia. Ia tidak mencari masa lalu apa adanya, tetapi masa lalu yang telah ia poles agar tampak mulia. Yang dikenang adalah keberanian leluhur, tetapi bukan ketakutan mereka. Yang diingat adalah kejayaan, bukan kesalahan. Yang dirayakan adalah kebijaksanaan, bukan kebingungan yang dahulu mungkin mereka alami ketika menghadapi perubahan zaman.

     Akhirnya nenek moyang tidak lagi menjadi manusia sejarah. Mereka berubah menjadi tokoh mitologi yang selalu benar, selalu bijaksana, dan selalu harus diikuti.

     Lalu mulailah orang-orang berjalan beriringan sambil berkata bahwa mereka sedang mengikuti jejak leluhur.

     Padahal, apa sebenarnya yang mereka ikuti?

     Rumah adat yang berdiri hari ini dibangun dengan beton, baja ringan, dan lampu LED. Upacara adat direkam drone, disiarkan langsung melalui internet, dan dipromosikan di media sosial. Pakaian tradisional diproduksi dengan mesin modern dan dijual secara daring ke seluruh dunia.

     Tidak ada yang salah dengan semua itu. Justru itulah bukti bahwa budaya selalu berubah.

     Yang lucu adalah ketika semua perubahan itu disangkal, lalu diberi label "pelestarian". Seolah-olah budaya adalah serangga yang dapat diawetkan di dalam kotak kaca. Seolah-olah masa lalu dapat dibekukan.

     Seolah-olah mengikuti nenek moyang berarti mengulang apa yang mereka lakukan.

     Padahal jika direnungkan lebih jauh, nenek moyang yang kita kagumi itu mungkin justru adalah para pembangkang pada zamannya.

     Mungkin ada seorang yang pertama kali meninggalkan pantai dan berani melaut lebih jauh. Ada yang pertama kali mengganti alat batu dengan logam. Ada yang meninggalkan kebiasaan lama karena menemukan cara yang lebih baik. Mereka adalah orang-orang yang tidak puas hanya menjadi pengikut.

     Bayangkan jika pada masa itu mereka berkata, "Aku akan mengikuti jejak nenek moyangku sepenuhnya."

     Mungkin mereka tidak akan pernah berangkat. Mungkin mereka tidak akan pernah menemukan apa pun. Mungkin kita tidak akan pernah mengenal mereka sebagai leluhur yang hebat.

     Ironis sekali. Kita mengagumi mereka karena keberaniannya mengubah keadaan, tetapi menghormati mereka dengan cara menolak perubahan.

     Kita memuji keberanian mereka menjelajah, tetapi kita sendiri sibuk berputar di tempat sambil memoles jejak lama.

     Lalu dengan bangga mengatakan, "Aku telah melestarikan budaya."

     Padahal yang dilestarikan sering kali bukan budaya itu sendiri, melainkan bayangan tentang budaya yang kita ciptakan pada masa kini.

     Yang dipelihara bukan masa lalu, melainkan perasaan nyaman bahwa kita memiliki hubungan dengan masa lalu. Mungkin karena hubungan dengan masa lalu terasa jauh lebih aman daripada tanggung jawab kepada masa depan. Sebab menjadi keturunan orang-orang besar tidak membutuhkan apa-apa, sementara menjadi nenek moyang yang layak dikenang menuntut sesuatu yang jauh lebih mahal: keberanian untuk gagal ketika menciptakan jejak sendiri.

     Dan perasaan nyaman itu begitu menenangkan, sehingga kita rela mengorbankan satu hal yang dahulu justru dimiliki oleh leluhur kita: keberanian untuk menciptakan sesuatu yang baru.

     Mungkin itulah ironi terbesar dari seluruh kisah ini. Kita begitu takut dianggap meninggalkan jejak leluhur, sampai lupa bahwa para leluhur dahulu dihormati justru karena mereka berani meninggalkan jejaknya sendiri.

     Mereka tidak hidup untuk menjadi pengikut.

     Mereka hidup untuk menjadi awal.

     Dan saya membayangkan suatu hari nanti, ketika kita semua telah menjadi foto kusam di dinding sejarah, anak cucu kita memandang kita sambil menghela napas, lalu berkata dengan nada kecewa:

     "Nenek moyangku hanyalah sekumpulan follower yang begitu bangga mengikuti jejak leluhurnya, tetapi tak pernah cukup berani membuat jejaknya sendiri."

     Ada masa ketika menjadi orang berada ditandai dengan rumah besar, mobil mengilap, dan kemampuan berbicara panjang tentang investasi. Namun rupanya ada indikator yang jauh lebih sederhana: seberapa tenang wajah seseorang saat harga bahan bakar naik.

     Ketika harga bahan bakar mulai berayun dan rupiah kehilangan tenaga, banyak topeng kemapanan mendadak retak. Mereka yang selama ini tampak hidup berkecukupan ternyata tidak selalu memiliki pijakan yang kokoh. Cicilan menumpuk, pengeluaran konsumtif membesar, dan dapur perlahan digantikan oleh aplikasi yang mengantar makanan ke depan pintu. Selama keadaan tenang, semuanya terlihat baik-baik saja. Namun begitu biaya hidup bergerak naik, banyak yang sadar bahwa kemapanan yang mereka tampilkan tidak selalu sama dengan kemapanan yang mereka miliki.

     Dari situlah kemarahan mulai mencari sasaran. Sebagian mengeluhkan harga bahan bakar yang naik turun. Sebagian lain ikut berburu bahan bakar subsidi. Akibatnya, mereka yang memang bergantung pada subsidi harus berbagi akses dengan kelompok yang sebelumnya merasa tidak memerlukannya. Ketika pasokan terganggu, yang paling dahulu merasakan dampaknya justru mereka yang paling sedikit memiliki pilihan.

     Di dapur, drama memiliki bentuk yang lebih sederhana tetapi jauh lebih nyata. Para ibu berdiri di depan rak minyak goreng dengan ekspresi yang mungkin sama seriusnya dengan para ekonom yang sedang memantau pergerakan pasar global. Ada satu pertanyaan yang sulit dijawab oleh logika awam: bagaimana mungkin negeri yang dipenuhi pohon sawit masih harus menyaksikan harga minyak goreng menari mengikuti irama dolar?

     Sawit tumbuh di tanah sendiri. Matahari yang menyinarinya tidak diimpor. Hujan yang menyiraminya juga tidak dibeli dari luar negeri. Buruh yang memanen buahnya berbicara dalam bahasa yang sama dengan pembelinya. Tetapi ketika dolar bersin di belahan dunia lain, botol minyak goreng di dapur ikut demam.

     Barangkali masalahnya bukan pada sawit. Pohon itu sejak dahulu hanya sibuk tumbuh. Ia tidak pernah mengikuti seminar ekonomi global. Ia tidak pernah membaca laporan pasar komoditas. Yang menarik justru perjalanan panjang dari kebun menuju dapur. Di sepanjang perjalanan itulah harga tampaknya memperoleh pendidikan internasional yang jauh lebih tinggi daripada yang diterima rakyat yang membelinya. 

     Mungkin itulah sebabnya harga minyak goreng lebih cepat memahami pergerakan pasar dunia daripada kebutuhan dapur yang membelinya.

     Dulu Presiden pernah terdengar berpidato dengan penuh keyakinan, bahwa gejolak dolar tidak akan berpengaruh, sebagian besar rakyat berada di desa, karenanya mereka tidak perlu dolar. Kalimat itu terdengar gagah. Sayangnya, tampaknya minyak sawit tidak sempat menghadiri acara tersebut. Ia tetap saja memperhatikan kurs mata uang asing dengan disiplin yang mengagumkan. Bahkan mungkin lebih disiplin daripada sebagian pegawai kantor.

     Rakyat kemudian dituduh kurang memahami persoalan ekonomi yang rumit. Bisa jadi benar. Mungkin mereka memang kurang gizi intelektual sehingga gagal menangkap keajaiban ilmu ekonomi modern. Mereka hanya melihat satu hal yang sederhana: barang impor mahal karena dolar naik, itu masih masuk akal. Tetapi barang yang tumbuh di kebun sebelah rumah juga ikut mahal karena dolar naik. Di titik itulah akal sehat mulai menggaruk-garuk kepala.

     Seorang petani mungkin akan bertanya dengan polos. Jika kambing saya melahirkan di kandang sendiri, makan rumput dari ladang sendiri, lalu suatu hari harga anak kambingnya naik karena kurs dolar di New York bergerak, apakah saya sedang berternak atau sedang mengikuti pasar valuta asing?

     Mungkin memang kita hidup di zaman yang luar biasa. Dahulu para ilmuwan mengagumi relativitas ruang dan waktu. Kini masyarakat diperkenalkan pada relativitas yang lebih praktis. Barang impor dipengaruhi dolar. Barang yang tidak impor juga dipengaruhi dolar. Yang memiliki dolar dipengaruhi dolar. Yang tidak memiliki dolar juga dipengaruhi dolar.

     Barangkali suatu hari nanti para fisikawan akan mengakui bahwa mereka selama ini kurang ambisius. Einstein hanya berhasil menunjukkan bahwa waktu dapat melambat dan ruang dapat melengkung. Sementara kita berhasil menemukan sesuatu yang lebih menakjubkan: harga dapat naik tanpa perlu bepergian ke mana-mana.

     Dan seperti semua keajaiban besar, rakyat diminta untuk mengaguminya sambil membayar di kasir.

Author Name

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.