Ada satu jenis keyakinan yang tumbuh subur di zaman ini: keyakinan bahwa membaca satu kutipan sudah cukup untuk memahami dunia. Ia ringan, praktis, dan sangat efisien—seperti mie instan, tapi dengan konsekuensi geopolitik.

     “Bila ingin damai, bersiaplah untuk perang.” Kalimat itu sering dipanggil ke panggung diskusi dengan penuh percaya diri, seolah ia baru saja lahir dari kepala Samuel P. Huntington. Padahal, jauh sebelum ia menjadi bahan debat WhatsApp dan caption media sosial, seorang penulis Romawi bernama Vegetius sudah lebih dulu menuliskannyasi vis pacem, para bellum. Tapi memang, sejarah selalu kalah populer dibanding potongan kalimat yang terdengar tegas.

     Di tangan Huntington, terutama melalui The Clash of Civilizations, kalimat itu menjelma menjadi semacam ramalan dingin: dunia tidak lagi bertarung karena ideologi, tapi karena identitas. Peradaban saling mengintai, bukan untuk memahami, tapi untuk memastikan siapa yang lebih dulu tersinggung. Sebuah tesis yang terasa masuk akal—terutama jika kita memang sudah berangkat dengan kecurigaan.

     Lalu datanglah para penjaga moral yang dengan cepat menyatakan: konsep seperti itu 'liberal' tidak sesuai dengan sunah. Sebuah pernyataan yang terdengar tegas, bersih, dan—kalau boleh jujur—sedikit terlalu nyaman. Seolah sejarah bisa dipilih seperti menu prasmanan: bagian yang damai diambil, bagian yang berdarah ditinggalkan di sudut meja.

     Padahal, jika kita cukup sabar membuka halaman demi halaman, kita akan menemukan sesuatu yang sedikit lebih rumit. Tradisi keagamaan, termasuk yang paling sering diklaim sebagai sumber damai, tidak pernah sepenuhnya steril dari konflik. Ia mengenal perang, mengenal strategi, bahkan mengenal kebutuhan untuk bersiap. Bukan karena ia haus darah, tapi karena ia hidup di dunia yang tidak pernah sepenuhnya jinak.

     Di titik ini, Karen Armstrong lewat Holy War seperti datang membawa cermin—dan cermin itu tidak terlalu ramah. Ia menunjukkan bahwa apa yang kita sebut “perang suci” seringkali hanyalah perang biasa yang diberi pakaian religius. Tuhan dipinjam untuk membungkus ambisi, dan manusia, seperti biasa, cukup kreatif untuk meyakini kemasannya.

     Ironinya, sebagian orang membaca realitas ini lalu berkata, “lihat, Huntington benar.” Sebagian lain menolak keras, “tidak, ini semua salah tafsir.” Keduanya berdiri di sisi berlawanan, tapi berbagi satu kebiasaan yang sama: menyederhanakan.

     Yang satu menganggap konflik sebagai takdir yang tak terelakkan. Yang lain menganggap damai sebagai sesuatu yang bisa dicapai hanya dengan niat baik dan beberapa kutipan bijak. Keduanya terdengar meyakinkan—sampai realitas datang dengan caranya yang tidak sopan.

     Di Timur Tengah hari ini, misalnya, konflik tidak pernah benar-benar dimulai dari satu kalimat, satu ayat, atau satu teori. Ia adalah akumulasi panjang dari luka, kepentingan, identitas, dan kekuasaan. Tapi tentu saja, semua itu terlalu rumit untuk diringkas dalam satu status. Maka yang tersisa adalah potongan-potongan kecil yang dipelintir menjadi kebenaran utuh.

     Dan di sinilah kita menemukan bentuk lain dari kesiapan perang: bukan kesiapan militer, tapi kesiapan untuk salah paham. Orang-orang bersenjata kutipan, berbaris dengan keyakinan setengah matang, dan saling melemparkan potongan teks seperti batu. Tidak ada yang benar-benar membaca, tapi semua merasa cukup memahami untuk menghakimi.

     Mungkin yang paling menggelikan bukanlah konflik itu sendiri, tapi kepercayaan diri yang menyertainya. Keyakinan bahwa dengan satu dua referensi, seseorang sudah bisa menilai mana yang sesuai sunah dan mana yang tidak. Seolah-olah tradisi yang berusia berabad-abad bisa diperas menjadi satu kalimat, lalu diselesaikan dalam satu paragraf.

     Pada akhirnya, persoalannya bukan pada Huntington, bukan pada sunah, bahkan bukan pada perang. Persoalannya adalah pada cara kita memahami—atau lebih tepatnya, cara kita merasa telah memahami.

     Karena seringkali, perang tidak dimulai dari kebencian.

     Ia dimulai dari kesederhanaan yang dipaksakan pada sesuatu yang seharusnya dipahami dengan kerendahan hati.

     Di suatu titik yang tidak pernah diumumkan secara resmi, manusia sepakat bahwa menjadi bodoh adalah hak dasar. Ia setara dengan hak untuk bernapas, hak untuk berbicara, dan—dalam beberapa kasus—hak untuk berbicara tanpa pernah benar-benar berpikir. Sebuah hak yang terdengar manusiawi, bahkan simpatik, karena siapa yang tidak pernah salah? Siapa yang tidak pernah tersandung oleh pikirannya sendiri?

     Namun, seperti banyak hal lain dalam sejarah manusia, sesuatu yang awalnya wajar pelan-pelan mengalami inflasi. Hak untuk sesekali keliru berkembang menjadi kebiasaan untuk terus keliru. Dari sekadar fase, ia naik kelas menjadi sikap hidup. Dari kecelakaan, ia berubah menjadi pilihan sadar yang dijaga dengan penuh dedikasi.

     Barangkali yang paling menggelikan bukanlah kebodohan itu sendiri, melainkan keseriusan dalam mempertahankannya.

     Ada orang yang salah, lalu diam, lalu belajar diam-diam. Ada yang salah, lalu tertawa kecil, lalu memperbaiki. Tapi ada pula yang salah, lalu berdiri lebih tegak, mengeraskan suara, dan mengumpulkan barisan yang sama-sama salah untuk memastikan bahwa kesalahan itu tidak pernah sendirian. Di situ, kebodohan menemukan rumahnya: bukan dalam ketidaktahuan, tetapi dalam solidaritas.

     Kita hidup di masa di mana keyakinan sering kali lebih dihargai daripada kebenaran. Tidak perlu tahu terlalu banyak; cukup yakin dengan apa yang tidak diketahui. Bahkan lebih baik lagi jika keyakinan itu disampaikan dengan nada tinggi dan ekspresi yang meyakinkan—karena dalam banyak percakapan, volume sering disalahpahami sebagai kedalaman.

     Mengaku tidak tahu telah menjadi semacam dosa sosial. Ia memalukan. Ia membuat seseorang tampak kecil. Padahal, justru di situlah pintu pertama menuju pemahaman terbuka. Tapi pintu itu jarang dipilih, karena lebih mudah membangun tembok keyakinan daripada berjalan melewati ketidakpastian.

     Dunia modern, dengan segala kemurahan hatinya, menyediakan panggung luas untuk fenomena ini. Dahulu, kebodohan memiliki batas yang cukup sopan—ia tinggal di ruang-ruang terbatas, beredar dalam lingkaran kecil. Kini, ia memiliki mikrofon, kamera, dan algoritma yang setia mendorongnya ke permukaan. Ia tidak lagi sekadar ada; ia tampil, diproduksi, disebarkan, dan dikonsumsi seperti hiburan harian.

     Dan seperti semua yang sering ditonton, ia mulai terasa normal.

     Ada kelelahan yang diam-diam menjadi alasan di balik semua ini. Berpikir itu berat. Ia menuntut seseorang untuk ragu, untuk membongkar ulang keyakinan yang sudah nyaman, untuk mengakui bahwa mungkin selama ini ia berdiri di tempat yang salah. Itu bukan pekerjaan yang ringan. Jauh lebih mudah memilih jalan lain: tetap di tempat, mengulang apa yang sudah dikenal, dan sesekali menyerang mereka yang mencoba bergerak.

     Kebodohan, dalam bentuk ini, bukan lagi sekadar kekurangan. Ia menjadi semacam kemewahan—kemewahan untuk tidak perlu mempertanyakan, tidak perlu berubah, tidak perlu merasa goyah. Sebuah kenyamanan yang dibayar dengan satu hal kecil: keengganan untuk tumbuh.

     Dan di tengah semua itu, ada ironi yang pelan-pelan mengeras: orang yang mencoba berpikir sering kali terlihat mengganggu. Ia dianggap terlalu rumit, terlalu banyak bertanya, terlalu tidak menyenangkan. Seolah-olah berpikir adalah gangguan terhadap harmoni yang dibangun di atas kesepakatan untuk tidak terlalu dalam.

     Maka benar, setiap orang punya hak untuk bodoh. Tapi seperti hak lainnya, ia tidak pernah dimaksudkan untuk digunakan tanpa batas. Ada titik di mana hak itu seharusnya berhenti menjadi pembelaan, dan mulai menjadi cermin.

     Masalahnya, tidak semua orang suka bercermin.

     “Perjuangan manusia melawan kekuasaan adalah perjuangan ingatan melawan lupa.” Kalimat itu ditulis oleh Milan Kundera dalam novelnya The Book of Laughter and Forgetting, lahir dari pengalaman hidup di bawah bayang-bayang rezim yang tidak hanya mengatur langkah kaki manusia, tetapi juga mencoba mengatur apa yang boleh diingat oleh pikirannya. Ia tidak menulisnya sebagai seruan, melainkan sebagai semacam kesimpulan yang sunyi—seperti seseorang yang sudah terlalu lama menyaksikan bagaimana sejarah bisa diubah tanpa suara tembakan.

     Kekuasaan memang sering tampil dengan wajah yang keras: senjata, aparat, larangan, dan hukuman. Namun itu hanya permukaan. Senjata bisa melumpuhkan tubuh, tetapi waktu tetap berjalan, dan ingatan diam-diam mengumpulkan serpihannya sendiri. Di situlah kekuasaan belajar menjadi lebih halus. Ia tidak lagi sekadar memaksa, tetapi mulai menyunting.

     Ia menyunting masa lalu.

     Dalam banyak kisah sejarah, kita menemukan pola yang hampir berulang seperti kebiasaan lama: tokoh-tokoh yang dulu dielu-elukan tiba-tiba menghilang dari buku pelajaran; foto-foto lama dipotong, menyisakan ruang kosong yang tak pernah dijelaskan; arsip dikunci rapat, atau lebih buruk—ditulis ulang dengan bahasa yang lebih “rapi”. Bahkan kata-kata perlahan digeser maknanya, sehingga orang bukan hanya lupa pada peristiwa, tetapi juga kehilangan cara untuk menyebutnya.

     Sebuah bangsa bisa dibuat lupa bahwa ia pernah memiliki keberanian. Bahwa pernah ada masa ketika orang-orang biasa berani mengatakan tidak. Bahwa pernah ada kemungkinan lain selain kenyataan yang sekarang tampak tak terelakkan.

     Di titik itu, kalimat Kundera menjadi semacam pisau kecil yang tajam. Ia mengingatkan bahwa perlawanan tidak selalu berwujud teriakan atau kerumunan. Ada bentuk lain yang lebih sepi, tetapi tidak kalah penting: menjaga ingatan tetap hidup.

Mengingat bahwa sesuatu memang pernah terjadi, meskipun kini disangkal.
Mengingat bahwa ada suara yang pernah menolak, meskipun kini dibungkam.
Mengingat bahwa dunia ini pernah membuka lebih dari satu kemungkinan jalan.

     Ingatan tidak tinggal di satu tempat. Ia tidak sepenuhnya bisa ditangkap oleh negara, tidak seluruhnya bisa disita oleh kekuasaan. Ia menyelinap ke dalam cerita-cerita keluarga yang diceritakan berulang di meja makan; ia hidup dalam catatan kecil yang disembunyikan di antara buku-buku lama; ia bernafas dalam lagu, dalam puisi, dalam percakapan larut malam yang tak pernah tercatat oleh arsip resmi. Bahkan dalam diam, ia tetap bekerja.

     Mungkin karena itu, yang paling membuat kekuasaan gelisah bukanlah senjata, melainkan orang-orang yang terus mengingat. Orang-orang yang menyimpan dokumen, yang menulis ulang kisah yang dilupakan, yang bersikeras bahwa apa yang pernah terjadi tidak bisa dihapus hanya karena tidak lagi diakui.

     Lupa memberi ilusi keabadian. Seolah-olah kekuasaan selalu seperti ini, selalu wajar, selalu tak tergoyahkan.
Ingatan, sebaliknya, membuka retakan. Ia menunjukkan bahwa segala sesuatu pernah dimulai—dan karena itu, mungkin saja berakhir.

     Sejarah, jika dilihat tanpa kepentingan untuk merapikannya, adalah pertarungan panjang antara dua arus itu. Di satu sisi, manusia yang berusaha mengikat pengalaman ke dalam ingatan. Di sisi lain, kekuasaan yang tak pernah lelah mencoba menuliskannya kembali.

     Kadang ingatan memang kalah. Ia terhapus, terkubur, atau dibiarkan membusuk dalam kesunyian yang terlalu lama.

     Namun selama masih ada satu orang yang mengingat—dengan jujur, dengan keras kepala—maka cerita itu belum benar-benar selesai.

Sahabatku,

     Lebaran selalu datang seperti tamu lama yang tahu jalan pulang, namun setiap kali ia mengetuk, ada ruang-ruang dalam diri yang kembali terbuka—yang dulu kita isi bersama, lalu perlahan kita tinggalkan tanpa benar-benar sadar kapan terakhir kali menutupnya.

     Di sela gema takbir dan kesibukan yang berulang tiap tahun, ada satu hal yang diam-diam ingin kutunaikan: menemuimu.

     Bukan sekadar kalimat ringan yang kita ucapkan agar percakapan terasa hangat. Bukan basa-basi yang menguap sebelum sempat menjadi nyata. Aku ingin benar-benar datang. Pelan saja. Tanpa perlu dirancang berlebihan. Duduk bersama, mungkin dengan kopi yang biasa saja, tapi cukup untuk menemani percakapan yang sudah terlalu lama kita tunda—atau bahkan tak pernah sempat kita mulai lagi.

     Aneh memang, bagaimana hidup membuat jarak terasa wajar. Dulu, kita tidak pernah memikirkan itu.

     Kita berboncengan sepeda sepulang sekolah, menembus jalanan dengan napas yang terengah, tapi hati entah kenapa selalu ringan. Waktu seperti tidak pernah menagih apa pun dari kita. Kita juga pernah memilih bolos, bukan untuk alasan besar, hanya untuk memanjat diam-diam pohon mangga di sebelah sekolah—dengan rasa puas yang bahkan tidak bisa dijelaskan oleh manisnya buah itu sendiri.

     Lalu ada hari ketika kita berjalan sepanjang Pantai Losari—yang dulu kita sebut, setengah bercanda, sebagai restoran terpanjang. Makanan berjajar di sepanjang pantai, orang-orang duduk menikmati, sementara kita hanya berjalan, karena tidak membawa uang sama sekali. Tapi anehnya, kita tidak merasa kekurangan. Kita tetap tertawa, seolah kebersamaan itu sendiri sudah cukup mengenyangkan.

     Dan malam itu—di gunung—yang mungkin tak pernah benar-benar pergi dari ingatan. Hujan badai memaksa kita bersembunyi di celah batu yang sempit, menunggu sampai pagi. Dingin, basah, dan hanya dua sachet kopi yang kita bagi seolah itu adalah kemewahan terakhir yang kita miliki. Kita bertahan bukan karena kita hebat, tapi karena kita tidak sendirian.

     Semua itu kini seperti hidup di jarak yang lain. Tidak hilang, tapi juga tidak lagi bisa disentuh begitu saja.

     Mungkin karena itu aku ingin menemuimu sekarang.

     Aku tidak ingin menunda seperti yang sering kita lakukan pada banyak hal yang kita kira masih punya waktu. Aku tidak ingin suatu hari nanti berdiri di antara keramaian, datang tergopoh-gopoh, hanya karena waktu sudah menutup semua kemungkinan untuk bertemu dengan cara yang utuh. Aku tidak ingin langkahku dipercepat oleh kehilangan.

     Aku juga tidak akan mengajakmu ke rumahku. Kau tahu aku bukan orang yang pandai menjadikan hidup sebagai sesuatu yang perlu diperlihatkan. Dan memang, tidak ada yang layak dipamerkan. Yang ingin kutemui bukanlah ruang, tapi dirimu—sebagaimana dulu kita saling menemukan tanpa perlu panggung apa pun.

     Jika aku datang, itu bukan karena kewajiban Lebaran, bukan karena adat yang menuntut, tapi karena aku masih punya waktu—dan aku memilih untuk tidak menyia-nyiakannya.

     Kalau kau berkenan, beri tahu kapan aku bisa menemuimu. Tidak perlu repot. Aku yang akan menyesuaikan langkah.

     Selamat Lebaran.
Semoga yang sederhana tetap terasa cukup, dan yang jauh tidak benar-benar menjadi asing.

     Aku akan mencarimu—sebelum waktu mengajarkan kita arti kehilangan dengan cara yang terlalu sunyi.

—Aku

     Ada sesuatu yang selalu terasa ganjil sekaligus akrab dalam setiap perdebatan awal bulan qamariah. Ia seperti drama tahunan yang naskahnya sudah kita hafal, tapi tetap saja dimainkan dengan penuh kesungguhan, seolah hasil akhirnya akan menentukan arah semesta.

     Di satu sisi, ada mata yang menengadah ke langit, mencari sabit tipis yang nyaris seperti goresan pensil di ujung cakrawala. Di sisi lain, ada angka-angka yang bekerja dalam diam—rumus, koordinat, lintasan—yang jauh lebih pasti daripada getaran tangan manusia yang mengintip ufuk. Di antara keduanya, manusia berdiri: tidak sepenuhnya percaya pada mata, tapi juga belum sepenuhnya menyerahkan diri pada kalkulasi.

     Perdebatan ini sebenarnya bukan sekadar soal kapan lebaran tiba. Ia menyentuh sesuatu yang lebih dalam: bagaimana manusia memaknai otoritas, tradisi, dan kebenaran itu sendiri. Sejak masa Muhammad, metode rukyat (melihat langsung) menjadi praksis yang hidup—bukan hanya sebagai teknik, tetapi sebagai pengalaman kolektif: langit sebagai teks, manusia sebagai pembacanya. Lalu datang ilmu falak, berkembang pelan-pelan, hingga kini mampu menghitung posisi bulan dengan presisi yang bahkan melampaui kemampuan mata telanjang.

     Di titik ini, konflik mulai terasa bukan karena datanya berbeda, tetapi karena cara memercayai data itu berbeda.

     Ada yang percaya bahwa kebenaran harus “disaksikan”, bukan sekadar dihitung. Bahwa ada nilai eksistensial dalam melihat langsung hilal—sebuah momen di mana manusia dan kosmos saling bertatap, meski hanya sekejap. Sementara yang lain melihat itu sebagai romantisme yang mahal: ketika sains sudah bisa memberi kepastian, mengapa masih bergantung pada kondisi cuaca dan keterbatasan penglihatan?

     Lalu ada satu kemungkinan yang menarik—tentang cahaya bulan yang sebenarnya adalah pantulan cahaya matahari dari 8,3 menit lalu. Itu membuka satu lapisan ironi yang lebih dalam: bahkan apa yang kita “lihat” pun sesungguhnya adalah masa lalu. Tidak ada yang benar-benar hadir dalam detik ini; semua adalah keterlambatan cahaya.

     Jika logika ini ditarik lebih jauh, maka rukyat pun bukanlah melihat bulan “sekarang”, tetapi melihat jejak waktu. Dan hisab? Ia mencoba menebak posisi sesuatu yang bahkan tidak pernah kita lihat secara real-time. Dua-duanya, pada akhirnya, adalah cara manusia berdamai dengan keterbatasan persepsi.

     Apakah akan lahir “mazhab baru”? Kemungkinan itu selalu ada. Sejarah Islam sendiri penuh dengan dinamika ijtihad—cara berpikir yang tidak pernah benar-benar beku. Tapi menariknya, perpecahan metode ini sering kali bukan karena kurangnya pengetahuan, melainkan karena berlebihnya makna yang disematkan pada metode itu sendiri.

     Metode berubah menjadi identitas. Identitas berubah menjadi posisi. Dan posisi, seperti biasa, sulit untuk dilonggarkan.

     Namun, jika dilihat dengan jarak yang sedikit lebih tenang, ada satu kemungkinan yang jarang dibicarakan: bahwa perbedaan ini justru adalah bentuk kejujuran epistemik. Bahwa manusia tidak pura-pura sepakat ketika memang belum sepakat. Bahwa dalam urusan langit, bahkan dengan teleskop tercanggih sekalipun, kita tetap membawa tafsir ke dalamnya.

     Mungkin yang akan datang bukan mazhab baru dalam arti formal, tetapi cara pandang baru—yang tidak lagi melihat rukyat dan hisab sebagai dua kubu yang harus saling mengalahkan, melainkan dua bahasa berbeda untuk membaca langit yang sama.

     Dan bisa jadi, di masa depan, perdebatan ini tidak akan hilang. Ia hanya akan berubah bentuk—dari soal “terlihat atau tidak”, menjadi “apa arti melihat itu sendiri”.

     Karena pada akhirnya, manusia tidak hanya mencari bulan. Ia sedang mencari kepastian—dan sering kali, tanpa sadar, juga sedang mencari dirinya sendiri di balik langit yang gelap itu.

     Di negeri tropis yang kaya warna ini, baik dan buruk tidak pernah benar-benar berkelahi. Mereka duduk satu meja, memesan es teh manis, lalu sepakat untuk saling mengerti. Hitam terlalu tegas. Putih terlalu menyinggung. Maka lahirlah warna paling diplomatis sepanjang sejarah: abu-abu. Warna yang tidak pernah salah, karena ia tidak pernah cukup jelas untuk bisa dipersalahkan.

     Kita pandai sekali merawat wilayah kabur itu. Ketika ada kebijakan publik yang setengah matang, kita bilang, “ya namanya juga proses.” Ketika ada pejabat tersandung perkara, kita bisikkan, “semua orang juga begitu.” Ketika janji kampanye berubah menjadi akrobat administratif, kita menonton seperti pertandingan hiburan. Moralitas tidak dibuang; ia hanya diperlunak, dipijat, lalu diajak kompromi demi suasana yang tetap kondusif.

     Di ruang tamu, televisi menyiarkan gosip selebritas dengan kesungguhan yang hampir religius. Di layar ponsel, orang berlari pagi sambil berjoget, memamerkan keringat yang disunting menjadi estetika. Di sudut lain, foto gelas retak diunggah dengan kalimat, “bahagia itu sederhana.” Gelasnya memang retak, tapi sudut pengambilannya tepat, cahayanya hangat, dan retaknya terlihat seperti metafora yang bisa dimonetisasi. Retak menjadi konten. Konten menjadi penenang. Penenang menjadi budaya.

     Sementara itu, program makan bergizi gratis—yang semestinya terdengar seperti utopia—berjalan dengan irama yang lebih mirip orkestra tanpa konduktor. Anggaran berdebat dengan realitas, birokrasi menari dengan logika sendiri. Namun rakyat tetap bekerja, tetap bercanda, tetap antre di minimarket. Seolah ada kesepakatan diam-diam: selama nasi masih mengepul di piring masing-masing, negara boleh sedikit gagap.

     Para penguasa membaca situasi ini dengan lega. Rakyat tampak baik-baik saja. Tidak ada lautan massa di jalan. Tidak ada teriakan panjang yang memecah kaca gedung. Timeline media sosial lebih ramai oleh tren tarian daripada telaah kebijakan. Maka disimpulkanlah sebuah teori sosial yang sangat nyaman: kebahagiaan rakyat adalah indikator keberhasilan. Jika orang masih bisa tertawa, berarti sistem bekerja.

     Padahal tertawa kadang hanya cara paling murah untuk bertahan.

     Di negeri abu-abu, protes sering berubah menjadi lelucon. Kritik menjadi meme. Kemarahan dikemas dalam humor agar tidak terlalu menyakitkan saat ditelan. Kita menyamarkan kegelisahan dengan ironi, lalu menyebutnya kearifan lokal. Harmoni dijaga seperti pusaka, meski kadang yang dijaga sebenarnya hanyalah ketenangan permukaan.

     Yang menarik, masyarakat kita bukan tidak tahu membedakan benar dan salah. Kita hanya sangat terampil menunda konfrontasi. Kita ahli dalam seni mengangguk sambil menyimpan catatan. Kita mampu berkata, “sudah lah,” sambil diam-diam mengingat. Abu-abu bukan kebodohan; ia sering kali strategi. Tetapi strategi yang terlalu lama dipakai bisa berubah menjadi kebiasaan. Dan kebiasaan yang tak dikritik perlahan menjadi karakter nasional.

     Maka lahirlah generasi yang bisa membahas filsafat moral di warung kopi, lalu menutup diskusi dengan kalimat, “yang penting kita bahagia.” Bahagia menjadi mantra. Ia ditempel di dinding, dijadikan caption, dijual dalam seminar motivasi. Seolah kebahagiaan pribadi cukup untuk menebus kekacauan publik. Seolah selama kita bisa tersenyum di foto profil, negara otomatis sedang baik-baik saja.

     Padahal gelas retak tetaplah gelas retak. Ia bisa dipakai, benar. Tapi setiap kali diisi, ada risiko bocor. Retaknya kecil, mungkin. Namun jika semua orang pura-pura tidak melihatnya, suatu hari airnya habis tanpa pernah kita sadari.

     Abu-abu memberi ruang bernapas. Ia lentur, ia toleran, ia tidak tergesa-gesa menghukum. Tetapi jika segala hal dibiarkan kabur, maka tanggung jawab pun ikut kabur. Dan ketika tanggung jawab kabur, yang tersisa hanyalah estetika kebahagiaan.

     Kita mungkin memang bangsa yang sabar. Namun sejarah menunjukkan kesabaran juga punya titik jenuh. Gelombang laut tampak tenang berbulan-bulan, lalu dalam satu malam ia berubah arah. Negeri ini berkali-kali membuktikan bahwa di balik tawa santai, ada ingatan panjang.

     Jadi mungkin benar: bahagia itu sederhana. Tetapi mempertahankan negeri agar tidak tenggelam dalam abu-abu yang terlalu nyaman, itu tidak pernah sederhana. Dan suatu hari nanti, ketika warna harus dipilih, kita akan tahu apakah selama ini kita sedang dewasa—atau sekadar pandai berdamai dengan kabut.

Author Name

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.