Ketika Kesejahteraan Tidak Dipaksa Menjadi Satu Angka

     OECD Better Life Index lahir dari satu keberanian metodologis yang jarang diambil: menolak mereduksi kualitas hidup manusia ke dalam satu skor tunggal. Di saat banyak indeks berlomba-lomba menyederhanakan realitas agar mudah diperingkatkan, BLI justru memilih jalan yang lebih rumit, lebih jujur, dan karenanya lebih tidak nyaman: kesejahteraan manusia bersifat multidimensional, dan tidak semua dimensinya pantas dipaksa tunduk pada satu hierarki.

     Indeks ini dikembangkan oleh Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) sebagai respons terhadap keterbatasan indikator ekonomi klasik. Namun berbeda dari HDI yang tetap berujung pada satu nilai komposit, BLI sejak awal mengakui bahwa hidup yang baik tidak memiliki satu bentuk universal. Karena itu, BLI tidak bertanya “negara mana paling sejahtera”, melainkan “dalam aspek apa kehidupan manusia berjalan baik, dan di mana ia rapuh”.

     OECD Better Life Index mengelompokkan kesejahteraan ke dalam dua ranah besar: kondisi material dan kualitas hidup. Keduanya diperlakukan setara, tanpa asumsi bahwa yang satu lebih penting dari yang lain.

     Kondisi material mencakup fondasi hidup yang memungkinkan manusia bertahan dan merencanakan masa depan. Di dalamnya terdapat pendapatan dan kekayaan, yang tidak hanya melihat arus uang, tetapi juga kemampuan menabung dan ketahanan terhadap guncangan ekonomi. Lalu ada pekerjaan dan kualitas kerja, yang tidak semata-mata menghitung tingkat partisipasi kerja, tetapi juga keamanan kerja, upah layak, dan stabilitas. Perumahan juga menjadi indikator penting, karena tempat tinggal bukan hanya atap, melainkan ruang aman tempat hidup berlangsung.

     Namun BLI tidak berhenti di sana. Justru bagian paling khas dari indeks ini terletak pada pengukuran kualitas hidup, wilayah yang sering dianggap terlalu subjektif untuk disentuh kebijakan publik.

     Di sini, kesehatan dipahami secara luas, mencakup harapan hidup dan kondisi kesehatan yang memungkinkan partisipasi sosial. Pendidikan dan keterampilan dilihat bukan hanya dari lama sekolah, tetapi dari kemampuan manusia untuk beradaptasi dan berkembang di dunia yang berubah. Keseimbangan kerja dan kehidupan pribadi menjadi indikator tersendiri, sebuah pengakuan diam-diam bahwa hidup yang sepenuhnya diserahkan pada produktivitas ekonomi adalah hidup yang timpang.

     BLI juga memberi ruang besar pada hubungan sosial—apakah manusia hidup dalam jaringan kepercayaan, atau terisolasi dalam keramaian. Keterlibatan sipil dan tata kelola diukur untuk membaca apakah warga merasa suaranya berarti dan institusi bekerja secara responsif. Keamanan tidak dipersempit menjadi angka kriminalitas, tetapi rasa aman dalam menjalani hidup sehari-hari. Bahkan kualitas lingkungan diperlakukan sebagai bagian integral dari kesejahteraan, bukan sekadar isu tambahan.

     Yang menarik, BLI juga memasukkan kepuasan hidup sebagai satu indikator eksplisit. Namun berbeda dari indeks kebahagiaan yang menjadikannya pusat, di sini kepuasan hidup berdiri sebagai satu dimensi di antara yang lain—bukan hakim tertinggi atas semuanya. Ia diakui penting, tetapi tidak diberi hak veto.

     Keunikan terbesar OECD Better Life Index terletak pada satu keputusan radikal: pengguna diberi kebebasan untuk memberi bobot sendiri pada setiap dimensi. Tidak ada hierarki resmi tentang apa yang paling penting. Bagi sebagian orang, pekerjaan dan pendapatan mungkin utama. Bagi yang lain, lingkungan, kesehatan, atau keseimbangan hidup jauh lebih menentukan. Dengan demikian, BLI tidak memaksakan definisi hidup baik, melainkan menyediakan ruang dialog antara data dan nilai.

     Pilihan ini memiliki implikasi filosofis yang dalam. BLI mengakui bahwa kesejahteraan tidak pernah netral nilai. Setiap pengukuran selalu membawa asumsi tentang apa yang dianggap penting. Daripada menyembunyikan asumsi itu di balik rumus teknokratik, BLI justru menampilkannya ke permukaan dan berkata: silakan tentukan sendiri.

     Tentu saja, pendekatan ini memiliki konsekuensi. BLI tidak cocok untuk perayaan peringkat tunggal. Ia tidak ramah terhadap headline yang mencari “nomor satu”. Ia lebih sering digunakan sebagai alat diagnostik, bukan alat legitimasi. Ia membantu pembuat kebijakan, peneliti, dan warga melihat di mana kehidupan berjalan baik dan di mana ia bocor pelan-pelan.

     BLI juga tidak mengklaim mampu menangkap seluruh makna hidup. Ia tidak menyentuh dimensi iman, tujuan metafisis, atau pengalaman eksistensial terdalam. Namun ia dengan jujur menyatakan batasnya, dan justru karena itu ia kuat: ia tidak berpura-pura menjadi jawaban akhir.

     OECD Better Life Index, pada akhirnya, mengajukan satu pelajaran penting yang sering dihindari oleh politik dan kebijakan publik: hidup yang baik tidak bisa disederhanakan tanpa kehilangan sesuatu yang esensial. Ketika kesejahteraan dipaksa menjadi satu angka, selalu ada aspek manusia yang tercecer.

     Dalam diamnya, BLI mengingatkan bahwa tugas pengukuran bukan untuk menutup perdebatan, melainkan untuk membukanya dengan lebih bertanggung jawab. Dan mungkin di situlah letak nilai terbesarnya: bukan pada siapa yang unggul, tetapi pada keberanian untuk mengakui bahwa hidup manusia terlalu kompleks untuk dirayakan dengan satu skor saja.

Mengukur Pembangunan dari Sudut Pandang Manusia

     Human Development Index lahir dari satu kegelisahan yang sederhana namun mendasar: pembangunan terlalu lama diukur dari pertumbuhan ekonomi semata. Negara dianggap maju ketika angkanya naik, grafiknya menanjak, dan produk domestiknya membengkak. Namun di balik itu, manusia—sebagai subjek pembangunan—sering kali tertinggal sebagai catatan kaki.

     HDI muncul untuk mengoreksi cara pandang tersebut. Ia tidak bermaksud menggantikan indikator ekonomi, tetapi menggeser pusat gravitasi analisis: dari negara sebagai mesin produksi, ke manusia sebagai makhluk hidup yang belajar, bekerja, dan menua.

     Indeks ini diperkenalkan oleh United Nations Development Programme (UNDP) pada awal 1990-an, dipengaruhi kuat oleh pemikiran Amartya Sen tentang capabilities—kemampuan nyata manusia untuk menjalani hidup yang ia nilai bermakna. Dengan kata lain, pembangunan tidak dinilai dari apa yang dimiliki negara, melainkan dari apa yang benar-benar bisa dilakukan oleh manusia di dalamnya.

     HDI disusun dari tiga dimensi utama yang sengaja dipilih karena dianggap paling elementer, paling universal, dan paling sulit disangkal relevansinya.

     Dimensi pertama adalah umur panjang dan hidup sehat, yang direpresentasikan oleh angka harapan hidup saat lahir. Ukuran ini tidak sedang merayakan usia panjang sebagai prestasi biologis, melainkan membaca kualitas lingkungan hidup secara keseluruhan. Angka harapan hidup merekam akumulasi banyak hal sekaligus: gizi, sanitasi, layanan kesehatan, keamanan, hingga stabilitas sosial. Ketika angka ini rendah, hampir selalu ada persoalan struktural yang bekerja diam-diam dalam jangka panjang.

     Dimensi kedua adalah pengetahuan, yang diukur melalui dua indikator pendidikan: rata-rata lama sekolah penduduk dewasa dan harapan lama sekolah anak-anak. Di sini pendidikan tidak dipahami sebagai gelar atau prestise, melainkan sebagai alat pembebasan praktis. Pendidikan memperluas pilihan hidup, meningkatkan kemampuan memahami dunia, dan memberi manusia daya tawar terhadap nasibnya sendiri. HDI dengan sadar tidak mengukur kualitas kurikulum atau kedalaman berpikir, melainkan akses dan kontinuitas belajar—apakah manusia diberi kesempatan cukup lama untuk belajar sebelum ditarik masuk ke dalam tuntutan hidup.

     Dimensi ketiga adalah standar hidup layak, yang direpresentasikan oleh pendapatan nasional bruto per kapita (GNI per capita), disesuaikan dengan paritas daya beli. Sama seperti dalam WHI, uang di sini bukan tujuan akhir. Ia dibaca sebagai sarana: sejauh mana manusia memiliki sumber daya untuk memenuhi kebutuhan dasar dan menjalani hidup tanpa ketergantungan ekstrem. HDI secara sengaja menggunakan logaritma dalam perhitungannya, untuk menegaskan bahwa tambahan pendapatan memiliki dampak kesejahteraan yang semakin kecil setelah kebutuhan dasar terpenuhi.

     Ketiga dimensi ini kemudian digabungkan menjadi satu indeks komposit. Penting dicatat: HDI bukan penjumlahan mekanis, melainkan hasil normalisasi dan penggabungan yang dirancang agar kelemahan ekstrem di satu dimensi tidak bisa sepenuhnya ditutupi oleh keunggulan di dimensi lain. Negara dengan pendapatan tinggi tetapi pendidikan dan kesehatan buruk tidak akan tampil unggul. Sebaliknya, negara dengan pendidikan dan kesehatan baik tetapi ekonomi lemah tetap memiliki batas.

     Di sinilah perbedaan watak HDI dibanding banyak indeks lain menjadi jelas. HDI tidak berbicara tentang kebahagiaan, kepuasan batin, atau makna hidup. Ia juga tidak menilai moral, iman, atau orientasi spiritual. HDI bekerja di wilayah yang lebih rendah namun krusial: apakah manusia diberi fondasi minimum untuk mengembangkan dirinya.

     Karena itu, HDI sering terasa “dingin”. Ia tidak puitis, tidak emosional, dan tidak memberi ruang bagi romantisasi penderitaan. Namun justru di situlah kekuatannya. HDI menolak argumen bahwa ketertinggalan bisa dimaafkan oleh kesabaran, atau bahwa keterbatasan bisa disulap menjadi keunggulan moral. Ia bertanya dengan tenang tetapi keras kepala: apakah manusia hidup lebih lama, lebih terdidik, dan lebih mampu memenuhi kebutuhannya dibanding generasi sebelumnya?

     Tentu saja, HDI bukan tanpa keterbatasan. Ia tidak menangkap ketimpangan internal secara detail, tidak membaca kualitas relasi sosial, dan tidak menyentuh dimensi kebebasan politik atau kesehatan mental secara langsung. Karena itu, UNDP kemudian mengembangkan turunan-turunannya: Inequality-adjusted HDI, Gender Development Index, dan Multidimensional Poverty Index. Semua ini menunjukkan satu hal penting: HDI tidak mengklaim finalitas. Ia adalah alat yang sadar akan kekurangannya sendiri.

     Namun sebagai kerangka dasar, HDI memberikan satu pelajaran penting yang sering terlupakan: pembangunan bukan soal seberapa cepat negara bergerak, melainkan sejauh mana manusia di dalamnya benar-benar ikut bergerak. Ia mengingatkan bahwa pertumbuhan yang tidak mengubah umur, pendidikan, dan standar hidup manusia hanyalah ilusi kemajuan.

     Dengan demikian, Human Development Index bukan sekadar angka tahunan. Ia adalah cermin struktural. Ia tidak memuji, tidak mencela, dan tidak menghibur. Ia hanya menunjukkan dengan jujur: di titik mana manusia ditempatkan dalam proyek besar bernama pembangunan.

     Dan justru karena ia begitu tenang, ia sering lebih mengganggu daripada slogan-slogan besar tentang keberhasilan.

Cara Dunia Mengukur Hidup yang Layak Dijalani

     World Happiness Index—lebih tepat disebut World Happiness Report—sering disalahpahami sebagai peringkat negara paling ceria, paling santai, atau paling pandai bersyukur. Padahal yang sedang diupayakan laporan ini jauh lebih sederhana sekaligus lebih sulit: memahami bagaimana manusia menilai hidupnya sendiri, lalu menautkannya dengan kondisi sosial yang memungkinkan penilaian itu muncul.

     Fondasi WHI bertumpu pada satu asumsi yang cukup berani:
bahwa manusia adalah penilai terbaik bagi hidupnya sendiri. Karena itu, laporan ini tidak memulai dari ideologi tentang apa yang seharusnya membahagiakan, melainkan dari evaluasi subjektif yang diberikan langsung oleh individu. Namun evaluasi itu tidak dibiarkan berdiri sendiri; ia dibaca bersama sejumlah parameter struktural yang berfungsi sebagai penjelas, bukan pembenaran.

     Inti pengukuran WHI berangkat dari Cantril Ladder, sebuah skala 0–10 di mana responden diminta menempatkan hidupnya saat ini. Angka ini kemudian dianalisis bersama enam parameter utama yang secara konsisten terbukti berkorelasi dengan kualitas hidup lintas budaya dan lintas negara.

1. Pendapatan Riil per Kapita (GDP per capita, PPP-adjusted)

     Parameter ini tidak dimaksudkan untuk mengukur kemewahan, melainkan kemampuan dasar untuk menjalani hidup tanpa kecemasan ekonomi yang terus-menerus. Pendapatan riil per kapita digunakan sebagai proksi bagi akses terhadap kebutuhan fundamental: pangan, tempat tinggal, pendidikan dasar, dan layanan kesehatan. WHI tidak mengklaim bahwa uang membeli kebahagiaan, tetapi menegaskan bahwa kekurangan material yang kronis hampir selalu merusak evaluasi hidup. Di titik ini, ekonomi dibaca sebagai prasyarat, bukan tujuan.

2. Dukungan Sosial (Social Support)

     Parameter ini menanyakan sesuatu yang sangat elementer: apakah seseorang memiliki orang lain yang dapat diandalkan saat berada dalam kesulitan. Yang diukur bukan jumlah teman atau keramaian sosial, melainkan keberfungsian relasi. Dukungan sosial mencerminkan apakah individu hidup dalam jaringan yang responsif terhadap krisis—baik itu keluarga, komunitas, atau relasi sosial lain. Dalam banyak studi, variabel ini menjadi penyangga penting ketika faktor ekonomi melemah, namun tetap tidak dimaksudkan sebagai pengganti struktur yang adil.

3. Harapan Hidup Sehat (Healthy Life Expectancy)

     Berbeda dari sekadar angka usia harapan hidup, parameter ini menekankan kualitas kesehatan selama rentang hidup. Ia menggabungkan aspek fisik dan, secara implisit, mental. Akses terhadap layanan kesehatan, gizi, lingkungan yang layak, serta pencegahan penyakit menjadi faktor penentu. Dalam kerangka WHI, hidup panjang tanpa kesehatan tidak diperlakukan sebagai capaian kesejahteraan; kebahagiaan mensyaratkan tubuh yang cukup sehat untuk memungkinkan partisipasi bermakna dalam hidup.

4. Kebebasan Membuat Pilihan Hidup (Freedom to Make Life Choices)

     Di sini yang diukur bukan kebebasan absolut, melainkan perasaan dasar bahwa hidup tidak sepenuhnya ditentukan oleh kekuatan eksternal yang tak dapat dinegosiasikan. Apakah seseorang merasa memiliki ruang untuk memilih arah hidupnya—dalam pekerjaan, relasi, atau keputusan personal lain. Parameter ini sensitif terhadap konteks budaya, tetapi secara konsisten menunjukkan bahwa rasa terkungkung berkorelasi kuat dengan penurunan evaluasi hidup, terlepas dari tingkat pendapatan.

5. Kedermawanan (Generosity)

     Kedermawanan diukur melalui kecenderungan memberi—baik uang maupun bantuan lain—kepada orang lain. Dalam WHI, variabel ini dibaca sebagai indikator modal sosial dan empati yang bekerja. Namun kedermawanan tidak pernah diperlakukan sebagai bukti bahwa suatu masyarakat sudah sejahtera. Ia justru dibaca secara relasional: tinggi atau rendahnya kedermawanan baru bermakna ketika dilihat bersama kondisi ekonomi dan kehadiran institusi publik.

6. Persepsi terhadap Korupsi (Perceptions of Corruption)

     Parameter ini mengukur tingkat kepercayaan publik terhadap institusi negara dan dunia usaha. Yang diuji bukan fakta hukum korupsi, melainkan rasa keadilan yang dirasakan warga. Persepsi bahwa sistem tidak adil, hukum tidak bekerja, atau kekuasaan tidak dapat dipercaya memiliki dampak langsung terhadap evaluasi hidup. Dalam kerangka WHI, korupsi dipahami sebagai perusak kesejahteraan bukan hanya karena dampak ekonominya, tetapi karena ia menggerogoti kepercayaan sosial.

     Keenam parameter ini tidak dijumlahkan secara mekanis untuk “menciptakan” kebahagiaan. Ia digunakan untuk menjelaskan variasi penilaian hidup yang telah dinyatakan responden. Dengan kata lain, WHI tidak berkata “inilah yang harus membuat Anda bahagia”, melainkan bertanya: ketika orang mengatakan hidupnya baik, kondisi apa yang biasanya menyertainya?

     Karena itu, WHI tidak pernah mengklaim sebagai ukuran final tentang makna hidup. Ia tidak mengukur iman, tujuan eksistensial, atau orientasi metafisis. Namun ia juga tidak dimaksudkan untuk ditolak atas dasar itu. Ia bekerja di wilayah yang lebih rendah, lebih bumiwi, tetapi sangat menentukan: apakah sebuah masyarakat menyediakan kondisi minimum agar manusia dapat menilai hidupnya sebagai sesuatu yang layak dijalani.

     Dibaca dengan disiplin, World Happiness Index bukan alat glorifikasi, melainkan alat refleksi. Ia tidak memberi jawaban, tetapi menyediakan peta—dan seperti semua peta, nilainya terletak bukan pada pujiannya, melainkan pada kemampuannya menunjukkan medan yang perlu dilalui.

     Manusia memiliki kebiasaan yang ganjil: ia berdiri di podium sejarah, menepuk dadanya sendiri sebagai makhluk paling mulia, paling rasional, paling beradab—lalu, ketika tiba saatnya memilih lambang, ia menunjuk ke hutan. Ke langit. Ke sarang lebah. Ke padang rumput tempat banteng menggeram. Ia meminjam tubuh spesies lain untuk menyuarakan apa yang ia yakini, perjuangkan, atau sekadar ingin terlihat miliki.

     Elang terbang tinggi, dan kita pun ingin tampak tinggi. Ular melingkar dalam sunyi, dan kita tergoda oleh kecerdikan yang tak berisik. Beruang berdiri dengan bobot yang tak bisa diabaikan, banteng menyeruduk dengan energi mentah yang tak perlu argumentasi panjang. Lebah bekerja tanpa pidato, gajah berjalan dengan langkah yang seolah membawa ingatan purba dunia. Semua itu dipinjam. Dipakai. Ditempel di spanduk, di lambang negara, di logo organisasi, di kaus kampanye.

     Padahal, bukankah kita sudah mengklaim diri sebagai puncak evolusi?

     Barangkali justru di sanalah ironi itu bersembunyi. Manusia terlalu kompleks untuk dijadikan simbol yang bersih. Seekor elang tidak pernah dituduh hipokrit. Ular tidak pernah berdebat di televisi tentang integritasnya. Lebah tidak memanipulasi statistik produktivitasnya sendiri. Banteng tidak menyusun siaran pers untuk menjelaskan mengapa ia menyeruduk. Hewan-hewan itu hidup sesuai kodrat biologisnya, tanpa retorika.

     Sementara manusia hidup dalam lapisan retorika yang tebal.

     Sejak ribuan tahun lalu, nenek moyang kita hidup berdampingan dengan hewan yang bisa memangsa atau dipangsa. Otak kita dibentuk oleh ketegangan itu. Kita belajar mengenali bentuk ular lebih cepat daripada bentuk bunga. Kita mengagumi burung pemangsa yang mampu melihat mangsa dari ketinggian yang tak terjangkau kaki kita. Kita menghormati kawanan yang bergerak dengan disiplin alami. Kekaguman dan ketakutan bercampur, lalu mengeras menjadi simbol.

     Simbol adalah jalan pintas. Ia memadatkan narasi panjang menjadi satu citra. Ketika sebuah kelompok memilih banteng, mereka tak perlu menjelaskan keberanian dengan paragraf akademik; tanduk sudah berbicara. Ketika seseorang mengidolakan elang, ia tak perlu menyusun esai tentang visi; sayap yang membentang sudah cukup mewakili ambisi.

     Manusia menyukai jalan pintas, terutama dalam urusan identitas.

     Ada sesuatu yang lebih dalam dari sekadar estetika. Mengidolakan hewan adalah bentuk proyeksi yang elegan. Kita memindahkan kualitas ideal ke makhluk yang tidak akan pernah membantahnya. Seekor gajah tak akan gagal memenuhi ekspektasi moral kita, karena ia tak pernah berjanji apa-apa. Lebah tak akan terseret skandal internal. Beruang tak akan mengkhianati manifesto.

     Manusia, sebaliknya, selalu berpotensi mengkhianati narasinya sendiri.

     Itulah sebabnya simbol manusia jarang dipakai dalam bentuk telanjang. Kita tidak menjadikan sapiens sebagai lambang murni keberanian atau kebijaksanaan, karena kita tahu terlalu banyak tentang diri kita. Kita tahu sejarah perang, genosida, penindasan, korupsi, keserakahan. Kita tahu kecerdasan kita melahirkan vaksin sekaligus senjata pemusnah. Kita tahu tangan yang sama bisa menulis puisi dan menekan pelatuk.

     Terlalu berisiko menjadikan manusia sebagai ikon kesucian.

     Hewan menawarkan kesederhanaan yang kita rindukan. Di tengah dunia yang penuh rapat, regulasi, algoritma, dan komentar daring tanpa henti, seekor lebah yang bekerja dalam pola alami terasa hampir suci. Seekor elang yang terbang tanpa perlu membuktikan diri di hadapan survei publik terasa autentik. Ada nostalgia biologis di sana—kerinduan pada dunia yang lebih jujur, lebih instingtif, lebih utuh.

     Mungkin kita mengidolakan hewan bukan karena kita merasa lebih rendah, tetapi karena kita sadar diam-diam bahwa kita telah menjauh dari sesuatu yang elementer. Kita membangun kota, sistem, ideologi, dan mesin, lalu merindukan kesederhanaan naluri yang tak perlu pembenaran moral. Kita memuji diri sebagai makhluk rasional, namun saat ingin berbicara tentang keberanian, kebebasan, solidaritas, atau kekuatan, kita kembali ke hutan sebagai kamus metafora.

     Ada juga sisi yang lebih tajam. Menggunakan hewan sebagai lambang memberi kita aura kekuatan tanpa harus menjalani disiplin biologisnya. Kita ingin tajam seperti elang tanpa melatih penglihatan batin. Kita ingin solid seperti lebah tanpa benar-benar rela menomorduakan ego. Kita ingin kuat seperti banteng tanpa belajar menahan diri sebelum menyeruduk. Simbol menjadi kosmetik moral.

     Dan kosmetik selalu lebih mudah daripada transformasi.

     Akhirnya, pertanyaan mengapa tidak mengidolakan sapiens sendiri terasa seperti cermin yang diletakkan terlalu dekat ke wajah. Mengidolakan diri berarti berani memikul seluruh kontradiksi kita. Berani mengakui bahwa kemuliaan dan kebiadaban tumbuh dari akar yang sama. Berani menatap sejarah tanpa menyembunyikannya di balik sayap, taring, atau belalai.

     Barangkali suatu hari, manusia tak lagi membutuhkan tubuh hewan untuk merasa utuh. Bukan karena ia lebih tinggi dari alam, tetapi karena ia telah belajar berdamai dengan sifat gandanya sendiri. Sampai saat itu tiba, kita akan terus menggambar elang di langit imajinasi, menggantungkan harapan pada gajah, dan menyebut diri paling mulia—dengan sedikit bantuan dari rimba yang tak pernah meminta pujian.

     Ada alat dalam hidup yang sering disalahpahami sebagai penunjuk kebenaran, padahal ia hanya menolak kita dari kebinasaan. Kompas, misalnya, tidak pernah peduli ke mana seseorang ingin pergi. Ia hanya memberitahu utara. Lalu manusia yang gelisah mengubah utara menjadi tujuan, seolah-olah arah dan makna berasal dari sumber yang sama. Ini kesalahpahaman kecil yang lucu, tetapi dari sini muncul sebagian besar tragedi perjalanan hidup manusia: kita mengira orientasi adalah visi.

     Yang menarik adalah fakta bahwa sebagian besar perjalanan yang penting tidak memiliki tujuan eksplisit. Seorang penjelajah yang terlalu sibuk menentukan tujuan sering kehilangan kenikmatan dari langkah-langkah yang belum siap diberi nama. Sama halnya dengan para pemikir yang ingin memastikan kesimpulan sebelum berpikir, atau para pecinta yang ingin mendefinisikan hubungan sebelum jatuh cinta. Dalam banyak hal, definisi yang terlalu cepat adalah bentuk kepanikan terhadap ketidakpastian. Sedangkan hidup selalu datang dalam bentuk yang lebih liar: ambigu, tidak selesai, kadang-kadang menyebalkan.

     Kompas mengajarkan kita untuk membedakan antara arah dan niat. Seseorang bisa bergerak ke utara karena ingin mencapai puncak, atau karena ingin menghindari jurang, atau hanya karena tertarik pada padang yang terbentang. Ketiga alasan itu menghasilkan langkah yang sama tetapi dunia batin yang berbeda. Banyak orang keliru mengukur kehidupan dari kecepatannya—seberapa cepat ia bergerak dari titik A ke titik B—lalu melupakan bahwa arah yang benar tidak menyederhanakan masalah. Dalam banyak kasus justru memperumit, karena arah yang benar sering kali mengungkapkan betapa jauhnya kita dari diri kita sendiri.

     Kebijaksanaan kompas juga terlihat dalam kesederhanaannya. Ia tidak menasihati, tidak memerintah, tidak menilai. Ia hanya setia pada jarum kecilnya, yang terus-menerus mencoba menyeimbangkan diri dari gerak dunia. Dalam kegelapan, di tengah kabut, di antara pepohonan, kompas adalah satu-satunya benda yang tidak gugup. Manusia, sebaliknya, penuh gugup. Ketika jarum sedikit goyah, kita bertanya-tanya apakah alatnya rusak. Ketika hidup sedikit goyah, kita bertanya apakah seluruh jalan salah.

     Sungguh menarik bahwa semakin bertambah usia seseorang, semakin ia menyadari bahwa poin dari bergerak bukanlah sampai, melainkan menemukan ritme langkah yang dapat ia pertanggungjawabkan. Tujuan terlalu sering berubah menjadi mitos yang dipuja dari jauh, dan ketika dicapai sering terasa datar. Yang mengubah seseorang bukanlah pencapaian puncaknya, tetapi proses panjang menuju puncak yang tidak pernah dijanjikan berhasil. Itulah sebabnya para pendaki lebih banyak bercerita tentang jalan menuju puncak daripada puncaknya sendiri. Dan mungkin itulah sebabnya para filsuf lebih suka menulis pertanyaan daripada kesimpulan.

     Ironinya, jarum kompas tidak pernah menunjuk puncak, tetapi tanpa kompas banyak orang tidak pernah sampai. Hidup juga begitu. Tidak ada alat yang menunjuk “makna”, tetapi tanpa usaha mencari makna, hidup terasa seperti berjalan di malam hari tanpa lampu. Kita tidak butuh kepastian bahwa jalan kita benar; kita hanya butuh alasan untuk tidak berhenti melangkah.

     Pada akhirnya, tidak semua orang butuh kompas. Beberapa orang hidup dengan kemampuan membaca tanda-tanda alam: arahnya angin dari kesunyian sore, rasa tanah di bawah kaki, intuisi yang tak dapat diuji dengan instrumen. Tetapi bagi kebanyakan manusia, kompas tetap dibutuhkan sebagai simbol yang merendahkan hati: alat kecil yang mengingatkan bahwa orientasi adalah keberanian untuk tetap bergerak, bukan jaminan sampai.

     Dan seperti itu pula kebijaksanaan. Ia tidak pernah menjawab pertanyaan “ke mana sebaiknya aku pergi?”, tetapi hanya menjernihkan pertanyaan yang lebih awal: “ke arah mana aku sedang terseret?” Setelah itu, urusan sampai atau tidak hanyalah efek samping yang tidak perlu dibesar-besarkan.

     Saya mencoba berprasangka baik bahwa para penyusun undang-undang yang kemudian menjadi KUHAP 2026 itu adalah orang terpelajar. Prasangka baik memang terdengar luhur, meski kadang terasa seperti menyesap kopi yang telah ditaburi garam: mulia niatnya, absurd rasa akhirnya. Pada titik tertentu kita tak bisa menahan pertanyaan yang lebih liar: siapa yang sebenarnya tidak beres di sini—kita, mereka, atau sejarah yang terlampau sabar melihat kita mengulang?

     Larangan terhadap ide dan kriminalisasi terhadap wacana selalu memanggil tiga kemungkinan yang bertengkar di kepala: barangkali mereka memang tidak paham, atau mereka hanya pura-pura tidak paham, atau justru mereka mengidap semacam kegilaan yang hanya mungkin muncul dari dunia yang terlalu lama bermain dengan kekuasaan.

     Kemungkinan pertama adalah yang paling jinak. Di negeri ini, komunisme tidak pernah diajarkan sebagai kumpulan teori atau metode analisis. Ia hadir sebagai trauma dan ancaman. Yang dikenal bukan Marx, melainkan Lubang Buaya. Bukan Capital, tetapi propaganda film yang diputar berulang. 

     Pendidikan bukan memberi kesempatan membedah, tetapi memberi alarm yang berdering tanpa akhir. Dan para birokrat serta politisi kerap tak jauh berbeda: “komunisme” direduksi menjadi kudeta dan kekerasan, seolah seluruh sejarah pemikiran hanya berisi baku tembak. 

     Ironisnya, tak sedikit yang menganggap materialisme historis sebagai paket lengkap ateisme, subversi, dan huru-hara. Jika itu yang terjadi, maka bukan hanya rakyat yang gagal diajari membaca teori; negara ikut gagal belajar membaca dirinya sendiri. Pasal pelarangan semacam itu pada akhirnya hanya menjadi ketidaktahuan yang dinobatkan menjadi hukum.

     Tetapi ada kemungkinan yang lebih politis. Dalam tradisi kekuasaan, larangan ideologis bukan alat pengetahuan; melainkan alat kontrol. Rezim yang kuat secara intelektual tidak pernah melarang teori—ia melawan teori dengan teori lain. Yang melarang teori biasanya adalah rezim yang takut pada struktur argumen. 

     Dan Marx, bagaimanapun, membuka pintu yang tidak nyaman bagi negara modern: relasi modal dan kekuasaan, ekspropriasi, ketimpangan kelas, alienasi, serta konsentrasi kepemilikan. Marx membuat mesin kapitalisme terlihat, dan struktur yang terlihat itu membuat oligarki gelisah. Maka hipotesis kedua tidak membaca undang-undang itu sebagai kebodohan birokrasi, tetapi sebagai strategi untuk menjaga peta kekuasaan tetap buram bagi rakyat.

     Lalu kemungkinan terakhir, dan mungkin yang paling sinis sekaligus paling filosofis: kegilaan. Bukan kegilaan klinis yang bisa diukur dengan DSM atau resep psikiater, tetapi kegilaan politik—gangguan yang lahir dari dorongan untuk mengatur pikiran, bukan hanya memerintah tubuh. 

     Ada bentuk autoritarianisme yang bersifat obsesif: dorongan untuk mengendalikan narasi, realitas, bahkan kategori berpikir. Ada pula narsisisme institusional yang membuat negara yakin bahwa ia tahu apa yang terbaik, bahwa rakyat tidak mampu membedakan analisis dari agitasi, sehingga mereka harus dilindungi dari buku. 

     Relasi paternalistik semacam itu hampir selalu melahirkan paranoia. Dan paranoia membuat sesuatu yang tidak ada terasa mengancam dari balik pintu; tidak ada hantu, tetapi mereka mendengar langkahnya.

     Jika ada yang bertanya hipotesis mana yang paling benar, maka jawaban yang paling jujur dan paling getir adalah: mungkin semuanya benar sekaligus. Politik jarang bekerja seperti laboratorium; ia lebih mirip sup instan yang direbus dari ketidaktahuan, kecemasan, dan kebutuhan mempertahankan hegemoni, semuanya dalam satu panci.

     Ada satu kesadaran lain yang lebih pahit dan tidak pernah disebut secara resmi: undang-undang larangan ideologis hampir tidak pernah lahir dari cinta negara pada rakyat. Ia lahir dari cinta negara pada dirinya sendiri. Dan negara yang tidak percaya pada kapasitas intelektual warganya sudah kalah sebelum bertarung. Ia bukan sedang mencegah komunisme; ia sedang mencegah rakyatnya tumbuh menjadi dewasa.

Pada akhirnya, pertanyaan yang tersisa bukan tentang Marx, komunisme, ateisme, atau subversi. Pertanyaan yang paling telanjang dan paling sulit ditolak adalah: siapa yang sebenarnya sedang dilindungi oleh undang-undang itu—rakyat dari ide, atau kekuasaan dari rakyat? ( part 4 of 4 )


Author Name

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.