Waktu itu belum ada kampus lapangan yang permanen seperti sekarang ini. Lokasi base camp kulap masih ditentukan sesuai selera kordinator kulap yang bersangkutan. Maka, kulap-dua ku yang berlangsung juli-agustus 1987 itu memilih lokasi base camp di Ralla, Barru. Dan seperti biasa, rumah kepala desa menjadi sasaran untuk itu, ditambah beberapa rumah tetangga, sebagai tempat kost sementara kuliah lapangan berlangsung. Tidak ketinggalan pastinya gedung sekolah dasar yang ada, dimanfaatkan untuk perkuliahan dalam kelas, sekaligus sebagai tempat menyelesaikan tugas-tugas yang berhubungan dengan laporan dan gambar-gambar peta.
      Dokumentasi foto-foto kegiatan kulap-2 ini tidak terlalu lengkap, beberapa arsip yang saya miliki sudah rusak bersama negatifnya. Jadilah, sisa-sisa gambar yang masih selamat saja yang sebisa mungkin saya repro kembali sehingga bisa tampil seperti sekarang ini.
     Hari pertama pastinya dimulai dengan orientasi medan. Semua komponen yang terlibat, beramai-ramai keliling area kulap. Langkah kaki di hari pertama itu terasa masih begitu jauh, untuk membayangkan langkah terakhir di kegiatan ini, 32 hari kemudian. Berangkat dengan prasangka baik untuk setiap langkah yang terayun, hari demi hari dilalui dengan suka cita, tentu saja dengan segala jurus kalasi yang berhasil dan mampu diterapkan. Pokoknya, dibawa happy saja.
     Mengambil pengalaman dari hasil nilai kulap satuku yang jebok, satu strip lagi tidak lulus, maka untuk kulap dua ini saya lebih fokus. Pasang kaca mata kuda, jangan tengok kiri kanan, apalagi sampai odo'-odo' tetangga ataupun kerabat pak desa atau ibu kost. Bukan apa-apa, sebagai praktikan pastinya kita tidak akan sanggup untuk bersaing dengan para asisten dosen ataupun denagn dosennya seklian, dalam urusan odo'-odo' itu. Pengalaman dari kulap satu telah mengajarkan hal itu. hehehe...
     Pak Budi Rohmanto, Ibu. alm Bunga, Pak Kaharuddin MS, mengantar peserta kulap untuk oritntasi medan. Setelah di padang lampe' kita sempatkan untuk foto-foto sambil baku calla-calla karena banyak sudah ketularan penyakit 'okkotz' selama di lapangan.
Persiapan memulai kulap, baris-baris sambil dengar petuah-petuah, lalu berdoa sebelum meninggalkan kampus menuju Barru.
Ada Hermiati Eppang, Selle Hafid, Wawan Purnawarman, Clara Cussoy, Khaerul, Aspa, Idris dan lain-lain..
pasir kuarsa dan batu bara. Selalu ada keriangan di setiap stasiun yang disinggahi. Bukan karena singkapan yang ditemukan, tetapi kesempatan untuk melepas lelah, meneguk air dari botol bekal sambil mencari kesempatan untuk sekadar meluruskan punggung di keteduhan yang tidak termonitor oleh asisten.
     Kebetulan, pelaksanaan kulap dua waktu itu, mengambil jadwal yang juga perayaan Idul Adha. Luar biasa, karena kulap baru selesai seminggu setelah hari raya itu. Saya ingat sekali. Laode Ilva Ania sempat meneteskan air mata, ketika sore menjelang sebaran keesokan harinya, kami jalan pulang menuju base camp, sepanjang jalan tercium bau aroma ketupat yang sementara direbus. Saat-saat berkumpul dengan keluarga di hari raya itu, harus dilewatkan ditempat kulap sambil digoda oleh suasana dan aroma yang membuat kerinduan itu semakin memeras keharuan.
malam terakhir di lokasi, ada panggung nyanyi-nyanyi, juga acara penyerahan hasil kulap ke setiap peserta. Beruntung sempat diabadikan, waktu Ibu Ratna menyerahkan dokumen jatah saya.
     Setelah pelaksanaan kulap, ternyata panitia masih menyimpan banyak sisa anggaran yang berhasil dihemat selama pelaksanaan kemarin. Karenanya, kemudian disepakati diadakan pembubaran panitia di Pulau Samalona. Luar biasa rasanya, kesempatan berkumpul lagi dalam suasana lebih santai, bukan dalam kondisi 'under pressure' seperti waktu masih kulap.
     Tentu saja, makan-makannya juga penting. Menu yang ada lumayan bagus, bahkan sangat layak untuk konsumsi yang menopang peradaban manusia. Hehehe..sudah tidak ada menu paku jembatan, ayam turki ataupun telur dadar setipis kertas dengan campuran tepung (lebih terasa sebagai tepung goreng dibanding telur dadar).
hampir semua hadir, termasuk para dosen dan karyawan jurusan geology.
Ada Nandang, Sulaeman, Nasrullah, Hendro, Alam, dan lain-lain.
terus lagi, ada pak Inji, pak Agustinus ET, pak Bustan, pak Jamal dan ibu.
Selle in action ditimpali oleh Stepanus dengan gitarnya yang tidak jelas menyanyikan lagu apa, Ada Andi Temmu, Hermiati, Pak Inji, Jalaluddin, Asri, Idris dll.
kemesraan ini janganlah cepat berlalu.. syair lagu Iwan Fals yang selalu menemani setiap acara lapangan.. kenangan yang selalu hangat...

     Malam dingin pekat Lembang Bu'ne memeluk erat peserta wisata alam ke-3 yang digelar Korpala di tahun 1990 itu. Jam masih menunjukkan pukul 10 malam, masih empat jam sebelum mengeksekusi rencana wisata itu. Rumah panggung Daeng Mengngu' cukup lapang untuk menampung kami semua. Perjalanan rencananya akan dimulai pukul 2 dinihari nanti. Panitia menginformasikan agar peserta sebisa mungkin terlelap tidur sambil menanti empat jam berikut. Tentu saja, selain agar waktu menunggu menjadi tidak terasa, istirahat itu bisa memulihkan tenaga untuk mempersiapkan perjalanan nanti menuju puncak Lompobattang. Maklum saja, tidak semua peserta wisata ini adalah anggota Korpala. Sebahagian partisipan dari berbagai jurusan di Unhas, beberapa diantaranya adalah anggota tetangga-tetangga ukam di pkm.
     Tetapi alih-alih bisa terlelap, rasa kantuk sedikitpun sama sekali tidak muncul di kepalaku. Lalu, apakah aku akan menunggu kesunyian empat jam berikut diantara mereka-mereka yang bisa terlelap? Ah, aku menjadi usil. Mulailah aku melontarkan joke-joke kecil, setengah berbisik untuk satu dua orang di samping. Namun di malam yang sunyi itu, suara bisik itu masih cukup nyaring untuk terdengar. Dan mulailah, dari seorang dua orang, akhirnya keriuhan menjadi hangat oleh joke-joke yang saling bersahutan dari masing-masing penutur. Selamatlah, empat jam berlalu tanpa sempat terpejam sedikitpun.
     Rombongan wisata sukses melalui puncak Lompobattang, bergerak sedikit lebih lanjut, menemukan Ko'bang, makam tua yang terletak di puncak yang sedikit lebih rendah dari puncak Lompobattang. Ko'bang merupakan sebutan untuk makam Tuanta Salamaka, atau yang dikenal sebagai Syekh Yusuf. Tentu saja makam itu bukan makam yang benar-benar makam yang mengandung jasad Syekh Yusuf. Tetapi merupakan simbolisasi ikatan batin para pengikut beliau secara turun temurun. Namun demikian, bagi awam yang rutin berziarah ke Ko'bang, mereka akan meyakini dengan sepenuh jiwa, bahwa jasad beliau memang ada bersemayam di sana.
     Matahari sudah sangat condong ke cakrawala barat, rombongan berhenti untuk melewatkan malam, di posisi yang sedikit lebih rendah dari Ko'bang. Banyak batu yang membentuk ceruk-ceruk kecil menjadi tempat berlindung semalaman dari hembusan angin dingin. Kebetulan, ceruk batu yang saya gunakan cukup kecil, sehingga hanya bisa untuk memuat diri saya sendiri. Malam yang indah, disinari kerlip bintang yang lebih terang. Malam ini tidak ada joke. Lelah, tentu saja mengantar tidur yang begitu lelap menjelang pagi keesokan hari.
 Awaluddin Lasena, Arifin Jaya, Hero Fitrianto,
Ada Nurdin, Yusran Wahid, Aco Lologau, Nona, Rustam Rahmat dan Bastian.
     Aku sedang mempersiapkan sarapan, ketika ada Bastian mendekat ke ceruk tempatku bermalasan di pagi yang masih dingin. Ikan kaleng yang saya panaskan di kompor parafin, segera dibedah begitu terasa sudah hangat. Dan terjadilah, kami menyantap roti tawar yang membalut isi kaleng yang hangat itu. Burger ala Ko'bang, begitu Bastian nyelutuk menikmati setiap gigitan roti di tangannya. Ah.. miss this moment bro..
     Matahari sudah mulai tinggi, ketika rombongan melanjutkan langkah, menuju Majannang. Perlahan-lahan meninggalkan ketinggian, menyusuri lereng menuju lembah hulu sungai Jeneberang. Sasaran camping berikutnya adalah Raulo.
 membekukan permainan cahaya.. ada Uci Kasim dengan temannya anak menwa cewek berkacamata (lupa namanya)
 siap-siap meninggalkan Majannang, berdoa bersama.. ada Saribuana Nur.
 camping di Raulo. Gagahnya Yani Abidin..
     Lebih banyak kesempatan berpose di depan kamera setelah tiba di Raulo. Masak-masak, bercanda dan foto-foto. Hangatnya pagi terasa berbeda dibanding pagi di Ko'bang. Serangkaian memori telah tergurat, tentu saja dengan joke kekonyolan selama perjalanan wisata ini, yang sebentar lagi akan dibagikan untuk kerabat di kampus yang tidak sempat berwisata bersama di kesempatan ini.
 menikmati hangatnya Raulo. Ada Asri, juga Guntur
lalu doa-doa.. mengiringi langkah yang sebentar lagi meninggalkan Raulo.
  once upon a time, Ko'bang sekitar Lompobattang
     Beberapa nama tidak sempat terekam baik di memori saya. Karenanya, melengkapi kenangan perjalanan wisata itu, dengan senang hati saya menunggu tambahan komentar di bawah.

     Memilih kata Lembanna sebagai nama buletin yang dimiliki Korpala, sejatinya sarat dengan makna dan simbol. Lembanna bukan hanya sekadar sebagai tanah datar yang kemudian menjadi kampung bagi penduduk di kaki Bawakaraeng tetapi juga sebagai media persiapan transformasi spiritual bagi para pelintas yang hendak menuju Butta Toayya, sebutan lain untuk Bawakaraeng.
     Menjadi basis aktifitas Korpala yang utama selain Blue Sky Room di kampus Tamalanrea, maka Lembanna merekam banyak hiruk pikuk semangat yang penuh gelora. Aktifitas transformasi pendewasaan mental dan spiritual begitu terasa untuk mereka yang akrab dengan komunitas kaki Bawakaraeng. Simbol-simbol dari pengalaman lahir batin yang bertambah dari waktu ke waktu menjadi pengantar untuk semua proses yang terjadi.
     Maka dipilihlah kata itu, Lembanna, dengan tagline 'alam dalam ekspresi' yang juga menguatkan akan harapan di dalam menangkap makna dari setiap simbol yang terungkap. Menerjemahkan ekspresi alam, sebagai kesatuan ekosistim yang utuh, setidaknya menjadi tanggung jawab mereka yang menyandangkan label pencinta alam di pundaknya. Bagaimana kabut, lolong anjing, desah daun pinus, ataupun beningnya embun di pucuk daun bawang, selain mengantarkan keteduhan untuk gejolak di dalam jiwa, juga akan mengantarkan kebijakan bila diekspresikan dengan penjabaran literasi yang memadai.
     Dan buletin itu, Buletin Lembanna adalah wadah yang dilahirkan untuk menampung luapan sarat makna dari setiap simbol yang muncul, setiap metafora yang dijumpai, di sepanjang langkah kaki menuju Butta Toayya. Ekspresi alam yang digambarkan dalam bentuk baris-baris kalimat oleh para akademisi, para ilmuwan, para intelektual yang menempa diri di Korpala. Ekspresi yang begitu sayang bila hanya dibiarkan menguap begitu saja bersama semakin samarnya kumpulan memori di kepala mereka.
     Mengisi lembar demi lembar buletin itu, tidak akan pernah terasa sebagai beban, apalagi sekadar sebagai pemenuhan kewajiban akan amanah rapat kerja pengurus. Setiap baris di dalamnya, merupakan luapan imajinasi intelektual, sebagai penegas untuk setiap buah perenungan yang melimpah. Karenanya, menerbitkan buletin itu lebih kepada sebagai wadah untuk mengekalkan mutiara-mutiara pemikiran para pencinta alam itu, ketimbang sebagai suatu kewajiban belaka yang menjadi beban tersembunyi bagi individu yang sedang aktif mengurus organisasi.
     Di era teknologi komunikasi yang semakin canggih sekarang ini, tidak ketinggalan, buletin Lembanna bermetamorfosa ke format online. Bila di awal kelahirannya di tahun 1990 banyak keruwetan yang mengiringi setiap edisi penerbitan, maka itu semua sudah tersisihkan. Bahkan interaksi yang intens dari pembaca bisa dilakukan dengan segera, cepat. Metamorfosa yang sebenarnya tidak pernah terbayangkan sebelumnya, ketika merancang kelahiran buletin itu. Mengabadikan setiap ekspresi alam menjadi begitu mudah, semudah mengedipkan mata ketika kelilipan. Gambar foto dan frasa-frasa sarat makna ataupun sekadar narasi pendukung narsisme, dengan segera bisa dibagikan. Wadah itu semakin luas dan lapang untuk setiap ekspresi yang lahir.
     Sungguh suatu anugrah yang luar biasa, bisa menyaksikan sekaligus mengawal proses metamorfosa itu.
Berikut copy paste dari beberapa edisi Salam Rimba, yang merupakan pengantar dari setiap edisi buletin Lembanna.
Salam Rimba edisi 001 hardcopy, Maret 1990, diposting ulang dalam bentuk online edisi 05-12 Juli 2012.
Ekspresi alam..
tak hanya ketika sebuah pohon membunuh dahannya,
atau ketika rusa memaafkan harimau.

Ekspresi alam merupakan ucapan alam
dalam berbagai tanda dan bentuk
orang-orang mesti menggunakan dan mengasah
kepekaan dalam menangkap seluruh tanda
dan bentuk tadi

Alam dalam ekspresi adalah keinginan kekuatan
kami dalam melukiskan pernyataan alam.
Kita punya bakat dan kewajiban untuk mencintai alam,
alam dimana kita bernafas,
alam semesta alam.

Buletin Lembanna hadir sebagai rangkaian kata
untuk mewujudkan segenap gejolak kehidupan
yang sempat terangkum di dalam lingkup rasa setiap kita..
ruang, materi dan waktu menjadi limitasi penggurat rasa
untuk setiap pengalaman bercinta dengan alam
sehingga sempat dan tidak sempat, menjadi bias
untuk berbagi ekspresi alam kepada sesama..

Salam Rimba 01-13 edisi online
     Siklon tropis Narelle bergerak menjauhi Indonesia, namun sisa kibasan ekornya justru meninggalkan cemas. Banjir yang bisa meluap setiap saat, lalu beliung yang garing mengintai siap menerkam. Fenomena yang sebenarnya sudah predictable oleh para ahli cuaca, namun tidak ada justifikasi layak untuk yang awam. Resiko yang selayaknya harus ditanggung karena menghangatnya bumi, kata para 'pengkhawatir' kondisi lingkungan. Namun merupakan hukuman dan ancaman peringatan bagi para penganut skeptic orthodoc.
     Sudut pandang yang beragam, menafsirkan kesimpulan yang juga beragam. Seperti ketika Januari ini menyapa denyut kehidupan yang hangat, dimana dua tahun yang lalu Lembanna edisi digital ini hadir. Kehadiran yang sejatinya memberikan makna, penafsiran dan pastinya prediksi-prediksi masa depan, sesuai dengan lingkup karakter kita masing-masing. Kehadiran yang mungkin saja sangat diharapkan, sekaligus di sisi lain menjadi sangat ingin dihindari. Kehadiran yang bisa saja menjadi media metamorfosis memuliakan jiwa, atau malah justru menjadi bahan baku mengkristalnya dengki di dalam sak wasangka kerdil oportunisme.
     Bila dua tahun adalah bilangan yang sedikit, maka dua puluh empat bulan rupanya tidak terlalu sederhana untuk suatu rutinitas. Bila merayakan suatu perulangan biasanya sebagai ungkapan syukur untuk suatu capaian usia tertentu, maka senyapnya semadi mungkin adalah ungkapan paling bersahaja dalam perenungan para pertapa.
     Ketika kabut tipis menyapa lembanna dengan sahaja,
     di sana hanya ada ungkapan cinta yang ditebar.
     Bila kristal iri dalam hipokrisi merinding menggigil di dalam dingin,
     cinta kabut pada Lembanna adalah cinta yang abadi.
     Ketika bilangan usia harus berulang di dalam senyap,
     semoga hening itu adalah refleksi bijak para pelintas.
     Di tanah harapan esok hari, dengki, oportunisme dan hipokrisi
     bukanlah jimat mujarab untuk mengalahkan cinta yang tulus.
     Dan di tanah datar itu, Lembanna, kabut tipis penuh cinta.

Salam Rimba 02-13 edisi online 
     Ada coklat di dalam bingkisan, ada bunga dan kartu-kartu harvest untuk ungkapan di saat-saat cinta menghangat. Setumpuk ekspresi, setumpuk simbol untuk mengaburkan kelemahan menyampaikan cinta apa adanya. Dengan simbol-simbol, ada ruang untuk membetulkan makna, ada ruang untuk berkelit dan ada waktu untuk bersiaga.
     Bisa jadi setiap simbol adalah pewakilan yang mutlak, pun bisa adalah pewakilan yang samar. Lalu setiap makna akan kembali ke dalam niat yang menyampaikan. Niat yang hanya diketahui pasti oleh pemiliknya, dan juga katanya oleh Tuhan. Dari sisi itulah, manakar niat menjadi domain yang sangat privat.
     Tetapi setiap ungkapan cinta itu adalah cermin kejiwaan para pencinta. Ada jiwa yang romantis, ada yang anarkis. Banyak yang oportunis, tidak sedikit yang hipokrit. Lalu ada cinta ala kadarnya, ada cinta yang paranoid. Seperti thesa Alexis Carrel, keragaman manusia sebanyak bilangan individu yang ada. Mungkin itulah mengapa setiap sidik jadi adalah unik, dan itulah mengapa setiap tatapan mata adalah spesifik.
     Lalu setiap individu bisa mengklaim diri sebagai pencinta alam, seperti klaim dasar hak hidup setiap manusia. Setiap hidup manusia adalah haknya, lalu mencintai adalah hak mutlak setelahnya, bagaimanapun cara mengekspresikannya.
     Cinta itu diekspresikan, kepada alam, dan kita adalah manusia.
 
 dan ekspresi alam lainnya bisa dinikmati dengan lebih bersahaja dengan mengunjungi blognya.

     Ketika Perang Dunia Kedua meletus, Selat Mangkaliat ditakuti oleh para pelayar, sebagai selat yang kotor, karena berkeliarannya kapal-kapal selam sekutu, yang mengintai kapal-kapal Jepang. Dan setelah perang usai, ketika Jepang bertekuk lutut, Selat Mangkaliat tetap ditakuti oleh para pelayar, dengan munculnya di selat itu sebuah perahu bajak laut yang terkenal amat buas dan ganas, siap menghadang dan merampok perahu para penyelundup kopra, baik yang datang dari jurusan SAngkulirang, atau dari Pantai Sulawesi.
     Perahu bajak laut yang berwarna hitam, dengan layar putih bergambar tengkorak hitam, dengan tulang bersilang menjadi lambang yang paling menakutkan. Ia mempunyai anak buah yang terlatih dengan senjata lengkap di bawah pimpinan seorang kepala merangkap nakhoda, bernama Patolla. Penduduk pesisir pantai Sulawesi mulanya mengenal nama Patolla sebagai jumpo dan mata-mata Jepang. Ketika tentara sekutu mendarat, Patolla melarikan diri. Takut mendapat pembalasan dari penduduk oleh kekejamannya di zaman Jepang. Kemudian mengumpulkan beberapa anak buah untuk beroperasi di laut, melakukan perampokan dan pembunuan.
     Wanita-wanita cantik ditawan dan dijadikan santapan hawa nafsu iblisnya. Setelah puas diperkosa lalu dibunuh dan dibuang ke laut. Bajak laut berdarah dingin ini sudah tidak mempunyai rasa kemanusiaan lagi. Darah, pekikan dan jeritan baginya merupakan nyanyian mengasyikkan.
     Suatu ketika perahu layar Patolla yang bernama Hantu Laut sedang berlayar di Selat Mangkaliat. Angin Timur berembus lembut, mengepakkan layar perahunya. Patolla tersenyum-senyum gembira melihat keadaan laut yang tenang dan cuaca yang jernih. BAginya keadaan laut seperti itu sangat menguntungkan, karena ia akan sangat mudah untuk menyergap mangsanya dengan perahunya yang laju.
     Tiba-tiba jauh di depan sayup-sayup terlihat sebuah layar perahu memutih diterpa sinar matahari. Mata Patolla bersina-sinar melihat mangsa di depan perahunya. Ia memerintahkan anak buahnya mengencangkan tali layar, untuk memburu perahu yang ada di depannya. Dan seketika meluncurlah perahu Patolla dengan lajunya. Tak payah bagi Hantu Laut untuk mengejar perahu yang akan menjadi mangsanya itu. Dalam waktu tak sampai atu jam Hantu Laut sudah menyerempet perahu yang sarat dengan muatan kopran, yang akan diselundupkan ke Tawau. Dengan pistol di pinggang, Patolla berdiri di haluan perahu. Ia menembak ke atas tiga kali, memerintahkan agar mangsanya menurunkan layar. Dengan penuh ketakutan perahu itu menurunkan layar. Dan Hantu Laut pun merapat seraya melemparkan tali kepada mangsanya.
     Patolla tersenyum gembira melihat perahu yang sarat dengan muatan kopra itu. Penumpangnya terdiri daru dua orang laki-laki separuh umur dan dua orang wanita muda berparas cantik. Patolla memerintahkan agar penumpang perahu itu membongkar dan memindahkan kopranya, yang dilakukan kedua lelaki itu denan tubuh menggigil ketakutan. Mereka kini insyaf telah jatuh ke tangan perampok laut yang buas dan ganas. Kedua wanita muda yang ada di dalam perahu itu diperintahkan Patolla pindah ke perahunya.
     Setelah pemindahan kopra selesai, Patolla memerintahkan kedua laki-laki itu kembali naik ke perahunya, kemudian Patolla memerintahkan anak muahnya merampas layar perahu mereka dan melepaskan ikatan perahu itu sebelum meninggalkannya terkatung-katung tanpa layar.
     Tinggal terdengar jeritan dan tangisan yang memilukan kedua wanita muda itu. Patolla berdiri bertolak pinggang dengan senyum kemenangan melihat tawanan yang masih muda dan cantik.
     Anak-anak perahunya tahu pasti kedua wanita itu akan menjadi santapan pemimpinnya yang tak berperikemanusiaan. Salah seorang anak buah Patolla yang bernama BAhar, memandang kedua wanita itu dengan mata tak berkedip. Lama ia diam-diam memperhatikan mereka. Lalu ia mempertajam ingatannya. Ia merasa masih mengenal kedua wanita itu, wanita yang sebenarnya masih ada pertalian keluarga dengan dirinya. Diingat-ingatnya, kalau tak salah wanita muda itu bernama Fatimah dan Hadijah. Ketika wanita itu melihat Bahar, tampak keduanya seolah-olah kaget dan ingin berkata kepada Bahar, namun Bahar cepat memberi isyarat dengan mengacungkan telunjut ke mulutnya. Bahar berpikir keras untuk menolong kedua wanita itu. Sebenarnya hati kecilnya sangat tidak menyetuhui tindakan pimpinannya yang ganas dan kejam, yang kadang-kadang memandang nyawa manusia tak lebih dari nyawa seekor ayam.
     Ia dijadikan anak buah perahu itu, adalah karena ditawan dalam suatu pelayaran. Sudah lama ia berniat untuk lari, namun tidak ada kesempatan, karena perahu Hantu Laut jarang merapat ke pantai, paling-paling menuju ke Tawau, menjual hasil rampokannya. Di Tawau ia tak bebas untuk naik ke darat sebaba selalu diawasi dan tidak diperbolehkan berkeliaran.
     Ketka hari sudah menjelang senja, dalam kesempatan memberikan air minum dan makanan kepada kedua wanita itu, Bahar sempat bertanya dengan suara berbisik, "Kau yang bernama Hadijah dan Fatimah asal dari Majenne?" Kedua wanita itu mengangguk seraya menjawab, "Kalau tak salah kau ini Bahar. Ya Allah mengapa kau sampai masuk komplotan ini?"
     "Sssstt... kalian tenang-tenang saja aku akan berusaha menolong kalian. Berbuatlah setenang mungkin." BAhar berlalu cepat ke buritan perahu.
     Di buritan ia termenung, merenungi malam yang pekat tak berbintang. Di langit tampak awan hitam bergumpal-gumpal, pertanda badai akan turun. Pikiran Bahar tertuju kepada Hadijah dan Fatimah, yang sebentar malam pasti akan diperkosa pimpinannya. Ia menadahkan mukanya ke langit, sebutir bintang pun tak tampak. Angin mulai berembus kencang membuat ombak menggila memukul-mukul badan perahu.
     Dan Bahar melihat Patolla sudah memerintahkan anak buahnya berjaga-jaga di bagian depan dan belakang perahu. Tak seorang pun yang boleh masuk ke ruang bawah. Bahar tahu Patolla pasti sudah akan mulai menggerayangi kedua wanita itu. Dengan merangkak di atas atap perahu BAhar cepat berlari ke bagian depan. Ombak mulai keras memukul-mukul badan perahu, namun perahu masih terus melancar laju. Tiba-tiba BAhar memasuki ruangan bawah seraya berteriak memanggil Patolla.
     "Cepat Bapak keluar... di depan kita ada perahu layar lagi. Kita mendapat mangasa baru lagi." Mendengar teriakan Bahar, Patollah yang tadinya sudah bersiap-siap memulai rencananya memuaskan hawa nafsunya, dengan mendongkol segera keluar. Seraya bertolak pinggang ia bertanya, "Mana perahu itu...?"
     Bahar mendekat Patolla dan tangannya menunjuk ke depan. "Coba Bapak lihat betul-betul bukankah yang memutih itu layar perahu..?"
     Begitu Patolla meju mendekati pinggir perahu mempertajam pandangannya, dengan gerak kilat, Bahar menikam punggung Patolla dengan badiknya, lalu menolakkannya ke laut. Di kegelapan malam, bertarung dengan deburan ombak terdengar jeritan Patolla, namun suaranya tenggelam ditelah gemuruh angin dan ombak. Bahar tertawa mengakak seraya teria, "Hai..kawan-kawan, pemimpin bajingan itu telah kutenggelamkan ke laut, dengan luka yang parah akibat tusukan badikku. Biarkan ia mampus dimakan ikan hiu.. sekarang perahu dan harta di dalam perahu ini milik kita bersama..."
     Kawan-kawan Bahar berlarian mendapatkan Bahar. Mereka semuanya segan kepada Bahar, yang kemudian berkata lagi, "Tahukan kalian.. aku sudah lama berniat meninggalkan perbuatan terkutuk ini. Kebencianku memuncak ketika aku menyadari kedua wanita yang disandera itu, adalah daran dagingku, mereka adalah keluargaku. Maukah kalian menuruti nasihatku..? Mulai sekarang kita bersumpah menghentikan perbuatan terkutuk ini. Perahu kita bawa ke pantai Sulawesi, layar yang berlambang tengkorak kita robek bila mencapai pantai dan tulisan Hantu Laut cepat kita hapus dan kita berjanji akanmenjadi manusia baik-baik. Biarkan SElat Mangkaliat aman dan tenang.. Setujukah kalian..?"
     Semua kawan Bahar berterai menyatakan setuju danmereka semua bersumpah dan berjanji akan menuruti nasihat Bahar. Begitu mereka mengucapkan sumpah dan janji, tiba-tiba cuaca menjadi cerah, laut berubah menjadi tenang. Dari dasar laut, tersembul bola perak yang benjol memercikkan cahaya yang gemilang, seolah-olah rembulan turut bersuka cita dengan janji dan sumpah bajak laut itu. Dan perahu mereka pun melancar dengan lajunya mencari arah pantai.
     Sementara itu Patolla yang tertikan dari belakang, timbul tenggelam dibantingkan ombak. Punggungnya yang mengucurkan darah, terasa perih terkena air laut. Namun ia terus berusaha berenang dengan susah payah. Di kejauhan terlihat olehnya layar perahunya meluncur laju semakin mengecil dan semakin jauh. Ombak terus mengombang-ambingkan tubuhnya. Dan ketika ombak mulai tenang serta rembulan mulai bersinar, Patolla berhasil mendapatkan pohon nipah yang hanyut lalu bertopang. Ia mencoba menahan sakit sekuat-kuatnya. Sementara arus menghanyukan tubuhnya dengan kencang. Ketika sudah laurt malam, sebuah pukulan ombak yang kuat membantingkan tubuhnya ke pantai. Patolla merasa bersyukur, walaupun dalam keadaan payah, ia bisa mencapai pantai. Dengan lesu ia mencoba merangkak. Lukanya terasa sangat pedih.
     Ia merasa lapar dan dahaga.
     Sebagai seorang pelaut ya mengingat dan masih mengenal pantai itu adalah pantai Tanjung Mangkaliat. Dengan sangat susah payah ia terus merangkak. Tiba-tiba di kejauhan ia melihat cahaya lampu bersina-sinar, dari balik pohon-pohonan yang rimbun lebat. Patolla mengingat-ingat, dulu kalau tidak salah ingat di situ terdapat sebuah perumahan penunggu mercu suar. Mungkin di situ ia akan mendapat pertolongan. Patolla mengumpulkan seluruh kekuatannya menuju ke arah lampu itu. Ia berjalan terhuyung-huyung, akhirnya berhasil juga mencapat tempat itu. Benar juga dugaannya. Tempat itu sebuah bekas perumahan mercu suar. Ia cepat mendekatinya dan menaiki tangga rumah itu.
     Pintunya terkuak dan jelas tampak seorang laki-laki uta sedang mengahadapi lampu tempel memperbaiki pukatnya. Patolla lalu naik dan menyapanya. Orang tua itu tak menjawab, hanya menatapnya dengan sorotan mata yang tajam. Patolla memperlihatkan belakangnya yang luka berdarah, kemudian berkata meminta air minum dan makan. Orang tua itu tak menjawab, hanya berlalu ke belakang, kemudian membawakan air minum dan sepiring singkong rebus. Patolla mengira mungkin orang tua itu bisa, tak bisa berbicara.
     Tanpa disuruh lagi Patolla cepat minum dan melahap singkong rebus itu. Selesai makan ia terus terbaring kelelahan merasakan lukanya yang nyeri. Dan dalam keletihan amat sangat, ia tertidur.
     Esoknya ketika Patolla sadar, sambil menggosok-gosok matanya, ia menoleh berkeliling. Betapa kagetnya ia, orang tua yang dilihatnya tadi malam, ternyata sudah menjadi bangkai yang tergeletai di sampingnya, menyebarkan bau busuk. Dan di kiri kanannya bergulingan tengkoran-tengkoran manusia. Patolla memperhatikan bangkai orang tua itu, kemudian baru ia teringat. Beberapa waktu yang lampau ketika merampok sebuah perahu, ia pernah menembak kepala orang tua itu sampai benaknya bertaburan kemudian mendorongkannya ke laut.
     Dan tengkoran yang bergulingan di kanan kirinya, berubah bentuk menjadi mayat-mayat yang pernah dibunuhnya di tengah laut. Di sampingnya lagi dilihatnya gelas yang diminumnya tadi malam penuh berisi daran dan sebuah piring berisi potongan tulang-tulang manusia. Itulah rupanya yang diminum dan dimakannya tadi malam. Akhirnya Patolla merasa ngeri dan ketakutan.
     Ketika ia mencoba lari, ia jatuh terjerembab dari anak tangga rumah itu, kemudian dalam keadaan sangat payah, ia mengembuskan napasnya yang penghabisan. Tamatlah riwayat Patolla sebagai bajak laut yang amat buas dan ganas.
     Beberapa hari kemudian sebuah perahu yang kehabisan air tawar dan mendarat di pantai Mangkaliat menemukan mayat bajak laut itu dalam keadaan sudah membusuk dirubung lalat hijau dan ulat-ulat.
cerita : Masran H.A.
majalah Senang edisi 0534, thn 1982

     Perdebatan soal perubahan iklim di antara para peneliti masih berlarat-larat. Tapi ribuan meter di atas permukaan laut, bukti mengenai perubahan iklim itu sulit dibantah. Tshering Tenzing, pemandu pendakian ke Gunung Everest, menjadi saksi bagaimana permukaan bumi ini semakin panas.
     "Semua gletser di sini berubah.. celah-celah bebatuan yang semula tertutup es, sekarang bermunculan," kata Tshering dua tahun lalu. Menurut penuturan sejumlan pendaki, di beberapa titik sudah tak perlu lagi memakai krampon (sepatu es) untuk melewatinya. Sebab, tak ada lagi es di tempat itu. Salju abadi itu tak lagi abadi.
     Tshering menunjuk Khumbu Icefall, titik dimulainya pendakian oleh Edmund Hillari dan Tenzing Norgay ke puncak Everest 60 tahun lalu. "Sebelumnya, sejauh mata memandang hanya ada lapisan es kebiru-biruan. Tapi sekarang batu-batuan bertonjolan," katanya. Perubahan itu, menurut Tshering, bukan terjadi selama puluhan tahun, tetapi hanya dalam hitungan bulan.
     Namun tidak sedikit yang sangsi terhadap pengamatan Tsering. "Itu hanya omong kosong. Pendapat itu sangat berlebihan jika kalian mengamati lebih jauh di atas sana. Salju-salju itu sangat solid, pada suhu minus 9,44 derahat Celcius), dan mereka akan tetap seperti itu," kata Alton Byers, Direktur Sains di Mountain Institute.
     Sekarang ada satu lagi bukti yang memperkuat kesimpulan Tshering Tenzing. Sudeep Thakuri, mahasiswa doktoral di Jurusan Lingkungan dan Keanekaragaman Hayati Universitan Milan - Italia, menunjukkan penyusutan gletser Everest mencapai 13 persen sejak 1965. Garis salju atau snowline pun telah bergeser ke atas sejauh 590 kaki atau sekitar 180 meter dari titik semula.
     Tim Thakuri menggunakan citra satelit serta peta topograpi untuk melacak gerakan glasial serta menggunakan data hidro-meteorologi dari Nepal Climate Observatory dan Depertemen Hidrologi Nepal untuk melacak perubahan suhu dan curah hujan di sekitar Everest hingga Taman Nasional Sagarmatha.
     Hasilnya, ada peningkatan suhu 0,6 derajat Celcius serta curah hujan salju menipis 99 milimeter sejak 1992. Akibatnya, sekitar 247 hektar wilayah di Taman Nasional mengering. Takhuri yang mempresentasikan penelitiannya di Cancun, Meksiko, menduga penyebab melelehnya gletser Everest disebabkan efek gas rumah kaca akibat produksi berlebihan karbon dioksida.
     Namun ia belum dapat membuktikan secara komprehensif bukti hubungan sebab akibat penyusutan es dengan pemanasan global tersebut. Peningkatan suhu yang kian panas di Everest itu dapat mengubah tatanan batuan hingga memicu terjadinya banjir dan longsor, yang selanjutnya tentu akan merusak ekosistem. Menurut Takhuri, penyusutan gletser itu dikhawatirkan dapat mengancam kehidupan 1,5 miliar penduduk yang bermukin di sekitar Everest, yang menggantungkan kebutuhan air serta listrik dari gletser Everest.
     "Gletser dan selubung es Himalaya sudah menjadi menara air bagi Asia karena memasokkebutuhan masyarakat untuk pertokoan, pertanian dan kekuatan produksi industri warga terutama di saat musim kemarau," kata Thakuri.
     Sejak 1980-an, gletser Everst menjadi penyedia listrik bagi warga negara India dengan daya 45 juta kilowatt. Gletser itu mengalir ke sungai-sungai Indus, Gangga, Brahmaputra, Narmada, Tapti, Mahanadhi, Godhavari, Krishna dan Kaveri.
pict: National Geographic
reff : National Geographic;
Sains Life Detik epaper

     Bila membandingkan peralatan yang digunakan oleh para pendaki Everest jaman dulu, rasanya mustahil untuk tetap menggunakan perlatan-peralatan tersebut saat ini.
     Sejak pertama kali Gunung Everest didaki pada tahun 1920-an, mengutip artikel National Geographic Indonesia, banyak perubahan yang terjadi. Terutama dari sisi kesiapan manusia untuk menuju si Atap Dunia. Buku The Call of Everest keluaran National Geographic Books memberi beberapa perbandingan alat-alat yang digunakan manusia dulu dan kini. Berikut disajikan lima di antaranya.

Altimeter (1924 - 2012) 
     Pionir George Mallory wafat saat mendaki gunung ini pada tahun 1924. Jenazah dan altimeternya baru ditemukan saat ekspedisi Conrad Anker pada 1999. Dari altimeter itu, sejarawan Everest berharap bisa menentukan titik ketinggian Mallory.
Altimeter milik George Mallory tahun 1924 (kiri) dibandingkan dengan altimeter saat ini. (Royal Geographical Society with IBG [kiri], Trimble [kanan])
     Namun, hal ini gagal dilakukan karena alat tersebut sudah rusak. Altimeter yang kini digunakan adalah Trimble GeoXH 6000, juga berperan sebagai peta dan navigasi. Lengkap dengan sistem operasi Windows mobile dan kamera.

Backpack (1963 - 2012)
     Dulu, para pendaki harus membawa backpack yang berat dengan frame alumunium, dan dikencangkan di bagian punggung.
Perbandingan backpack pada tahun 1963 dan 2012 (Mark Theissen/Becky Hale, NGS [kiri], Black Diamond Equipment [kanan])
     Kini, backpack yang digunakan sudah lebih nyaman dan ringan. Beberapa merk ternama juga dirancang menggunakan frame internal agar penggunanya lebih leluasa bergerak.

Oksigen (1953 - 2012)
     Saat Ekspedisi Bristish Everest tahun 1953, tiap pendakinya dibebani dengan sistem oksigen seberat 15,8 kilogarm. 59 tahun kemudian, tim dari National Geographic melalui jalur yang sama dengan mereka tapi dengan bobot sistem oksigen hanya 2,4 hingga 3,4 kilogram.
Perbandingan sistem oksigen untuk menaiki Everst pada tahun 1953 dan 2012 (Royal Geographical Society with IBG [kiri], Summit Oxygen [kanan])

Kamera (1921 - 2012) 
     Alexander Kellas, penjelajah Himalaya, membawa kamera "jadul" pada saat ekspedisinya ke Everest pada tahun 1921. Sayangnya ia tewas karena disentri dan gagal jantung pada saat ekspedisi tersebut.
 Perbandingan kamera milik Alexander Kellas pada tahun 1921 dengan kamera yg digunakan kru National Geographic tahun 2012. (Royal Geographical Society with IBG [kiri], Matt Propert, NGS [kanan])
     Kamera di kanan pada foto di atas adalah Canon 5D Mark II dengan beberapa fitur digital. Kamera ini merupakan satu dari beberapa kamera yang digunakan kru National Geographic saat ekspedisi ke Everest tahun 2012 lalu.

Kantung tidur (1963 - 2012)
     Kantung tidur berwarna hijau ini merupakan inovasi teranyar pada tahun 1960-an. Tapi dibandingkan dengan kantung tidur yang ada saat ini, dibuat untuk mengakomodasi tidur pendaki lebih baik.
Kantung tidur tahun 1983 (hijau) dengan yang digunakan kru National Geographic pada 2012. (Mark Theissen/Becky Hale, NGS [kiri], The North Face [kanan])
semua gambar dari national geographic indonesia

Author Name

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.