Ada sebuah kabar baik bagi umat manusia: harga diri ternyata bisa ditukar dengan banyak hal. Jabatan, proyek, amplop, posisi komisaris, kursi empuk, foto bersama pejabat, bahkan kadang hanya dengan kesempatan duduk di meja yang lebih dekat dengan pendingin ruangan.
Pasar berjalan lancar. Penjual dan pembeli sama-sama bahagia.
Di negeri-negeri modern, perbudakan memang telah berkembang. Dulu budak dirantai di kaki. Sekarang cukup dirantai pada cicilan, promosi jabatan, dan ketakutan kehilangan kenyamanan. Evolusi sungguh luar biasa. Rantai besi telah diganti dengan rantai yang lebih elegan: kartu akses kantor, tanda tangan kontrak, dan senyum sopan saat menerima perintah yang bertentangan dengan hati nurani.
Yang menarik, banyak orang tidak merasa sedang diperbudak. Mereka justru merasa sukses.
Seorang pegawai diminta memanipulasi laporan. Ia mengangguk. Seorang pejabat diminta mengabaikan pelanggaran. Ia mengangguk. Seorang intelektual diminta diam terhadap kebohongan yang jelas terlihat. Ia juga mengangguk. Setelah itu mereka pulang dengan perut kenyang dan berkata kepada anak-anaknya tentang pentingnya kejujuran.
Barangkali itulah salah satu keajaiban terbesar peradaban: kemampuan manusia mengkhianati dirinya sendiri sambil tetap merasa terhormat.
Tentu saja tidak semua orang demikian. Ada sebagian yang memilih jalan yang lebih merepotkan. Mereka menolak menandatangani kebohongan. Mereka kehilangan proyek, kehilangan jabatan, kehilangan kesempatan. Mereka sering tampak bodoh di mata pasar. Dunia melihat mereka dan berkata, "Kasihan sekali. Seandainya sedikit lebih fleksibel, hidupnya pasti lebih nyaman."
Kata "fleksibel" memang sangat berguna. Ia memungkinkan seseorang menekuk prinsip hingga berbentuk lingkaran sempurna.
Lalu roda sejarah terus berputar. Dari generasi ke generasi, orang-orang yang rela menjadi budak demi kenyang terus memproduksi pemimpin yang serupa dengan mereka. Tidak ada misteri di sana. Pohon mangga tidak menghasilkan durian. Masyarakat yang mengagungkan kenyamanan di atas martabat akan selalu melahirkan penguasa yang paham cara membeli kesetiaan dengan sepiring nasi yang sedikit lebih besar.
Dan setiap kali itu terjadi, rakyat akan mengeluh tentang kualitas pemimpinnya tanpa pernah bertanya dari mana pemimpin itu berasal.
Seakan-akan ikan busuk itu jatuh dari langit.
Padahal mungkin masalahnya lebih sederhana dan lebih menyakitkan: dunia tidak dipimpin oleh orang-orang yang menjual harga dirinya. Dunia dipimpin oleh begitu banyak orang yang bersedia membelinya.

Posting Komentar
...