Survivor, Aktivis, atau Sekadar Alumni

     Organisasi Mahasiswa Pencinta Alam di Indonesia tidak lahir dari semangat rekreasi. Ia tumbuh dalam lanskap politik dan intelektual yang bergolak pada 1960–1970-an, ketika mahasiswa tidak sekadar belajar di kelas, tetapi juga mencari makna kebangsaan di luar tembok kampus. Dalam konteks itu, alam menjadi ruang pendidikan alternatif: keras, jujur, tidak bisa dinegosiasikan.

     Figur seperti Soe Hok Gie sering disebut bukan karena romantisme pendakiannya, melainkan karena cara ia memaknai gunung sebagai ruang refleksi moral. Pendakian bukan sekadar mencapai puncak. Ia adalah latihan membaca diri, membaca zaman, dan membaca kekuasaan. Mapala pada masa itu bukan hanya melatih otot, tetapi melatih keberanian berpikir.

     Memasuki era Orde Baru, kebijakan Normalisasi Kehidupan Kampus (NKK/BKK) membatasi gerak politik mahasiswa. Banyak organisasi dibungkam atau dipaksa steril dari kritik. Namun dalam tekanan itu, sebagian Mapala justru bertahan sebagai ruang diskusi alternatif. Alam memberi jarak dari kontrol langsung, dan di jarak itulah percakapan tetap hidup—tentang pembangunan yang merusak, tentang hutan yang ditebang, tentang negara yang makin sentralistik.

     Setelah Reformasi 1998, ruang kebebasan terbuka kembali. Organisasi mahasiswa bangkit. Mapala pun menemukan energi baru. Isu deforestasi, pertambangan, dan konservasi biodiversitas menjadi medan aktual. Ada optimisme bahwa organisasi ini akan menjadi laboratorium kepemimpinan ekologis bangsa.

     Namun sejarah tidak berhenti di sana. Zaman bergerak lagi.

     Universitas berubah. Pendidikan tinggi makin mahal. Waktu studi dipersingkat, tekanan IPK diperketat, kompetisi kerja makin brutal. Mahasiswa menghadapi realitas baru: kuliah bukan lagi sekadar pencarian makna, tetapi investasi yang harus cepat kembali dalam bentuk pekerjaan.

     Dalam situasi seperti itu, organisasi yang menuntut proses kaderisasi panjang, pelatihan berbulan-bulan, dan komitmen ideologis tanpa imbalan konkret menjadi kurang menarik. Ini bukan soal kemalasan. Ini soal kalkulasi rasional dalam sistem yang semakin pragmatis.

     Pada saat yang sama, sebagian Mapala mempertahankan pola internal yang relatif tidak berubah. Inisiasi keras masih dianggap ukuran kualitas. Hierarki senior–junior tetap dijaga ketat. Ketahanan fisik sering dijadikan tolok ukur utama kedewasaan.

     Dulu, pola ini efektif. Ia membangun solidaritas melalui kesulitan bersama. Tetapi dalam konteks hari ini, ia mulai dipertanyakan. Bukan karena generasi sekarang anti-keras, melainkan karena mereka hidup di dunia yang lebih sensitif terhadap isu kekerasan, trauma, kesehatan mental, dan kesetaraan gender. Di era media sosial, satu insiden bisa menyebar dalam hitungan jam dan menggerus reputasi organisasi yang dibangun puluhan tahun.

     Masalahnya bukan pada nilai ketahanan, tetapi pada cara mengukurnya.

     Jika ketahanan hanya dibuktikan melalui fisik, maka aspek lain—kemampuan berpikir kritis, berdialog, membaca konteks sosial—bisa terpinggirkan. Organisasi yang terlalu menekankan ritual akan perlahan melupakan alasan awal mengapa ritual itu ada.

     Di sisi lain, makna “alam” juga berubah di mata generasi baru. Bagi sebagian mahasiswa hari ini, gunung adalah ruang healing, tempat beristirahat dari tekanan akademik, atau bahkan latar foto yang estetik. Ini mudah dikritik sebagai pendangkalan makna. Namun sebenarnya ia mencerminkan pergeseran pengalaman kolektif: alam menjadi ruang pemulihan dari dunia digital yang melelahkan.

     Yang menarik, kepedulian ekologis tidak menurun. Justru meningkat. Isu krisis iklim, sampah plastik, dan deforestasi sering lebih keras disuarakan generasi muda dibanding generasi sebelumnya. Hanya saja bentuk partisipasinya berbeda: kampanye digital, proyek berbasis komunitas, kolaborasi lintas platform. Mereka lebih nyaman dengan gerakan yang fleksibel daripada struktur formal yang berat.

     Di titik inilah Mapala menghadapi ujian.

     Banyak kampus mengalami penurunan jumlah pendaftar. Regenerasi tersendat. Senior merasa standar lama tidak lagi dihargai. Calon anggota merasa organisasi tidak mencerminkan kebutuhan dan realitas mereka.

     Jika situasi ini dibaca sebagai kemerosotan moral generasi, maka solusi yang diambil biasanya adalah memperkeras seleksi. Tetapi jika dibaca sebagai perubahan struktur sosial, maka solusinya berbeda: adaptasi konsep pendidikan.

     Adaptasi bukan berarti membuang warisan. Ia berarti membedakan antara nilai dan bentuk.

     Nilai yang diwariskan Mapala—kejujuran, ketangguhan, solidaritas, keberanian moral, cinta alam yang tidak romantik—tetap relevan. Bahkan semakin relevan di tengah krisis ekologis dan krisis integritas publik.

     Yang perlu dievaluasi adalah bentuk pendidikannya. Apakah ia masih mampu membentuk manusia yang utuh? Ataukah ia hanya melestarikan pola lama karena takut kehilangan identitas?

     Organisasi pendidikan, termasuk Mapala, pada dasarnya tunduk pada hukum yang sama dengan kehidupan: gagal beradaptasi, perlahan menghilang. Bukan karena diserang dari luar, tetapi karena tidak lagi dibutuhkan oleh konteks.

     Mapala memiliki modal besar: pengalaman lapangan, jaringan alumni, tradisi solidaritas, dan legitimasi historis. Tetapi modal itu hanya berarti jika diterjemahkan ulang sesuai tantangan zaman.

     Tanpa evolusi, ia berisiko menjadi ruang nostalgia—tempat mengenang masa ketika semuanya terasa lebih keras dan lebih sederhana. Dengan evolusi, ia bisa menjadi laboratorium pembentukan aktivis ekologis modern: tangguh secara fisik, stabil secara mental, tajam secara intelektual, dan adaptif secara strategis.

     Pertanyaannya bukan apakah Mapala harus berubah. Tetapi, apakah Mapala berani berubah atau sekadar memilih menjadi kenangan? (part 2 of 5)


Posting Komentar

...

[blogger][facebook]

Author Name

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.