Meja yang Masih Sama
Pagi itu saya membaca kabar tentang ketua MBG dan dua wakilnya yang diamankan dalam kasus dugaan korupsi. Saya membaca beritanya sampai selesai, lalu menaruh telepon genggam di meja. Tidak marah. Tidak terkejut. Tidak juga sedih. Yang muncul justru sebuah kenangan yang aneh.
Saya teringat Gus Dur.
Bukan pidatonya. Bukan kisah-kisah politiknya. Yang muncul justru sebuah lelucon lama yang mungkin sudah berkeliaran puluhan tahun di republik ini.
Katanya, di zaman Orde Lama korupsi dilakukan di bawah meja. Di zaman Orde Baru korupsi dilakukan di atas meja. Di zaman Reformasi, mejanya sekalian dikorupsi.
Saya tertawa ketika pertama kali mendengarnya bertahun-tahun lalu. Seperti banyak lelucon Gus Dur lainnya, kalimat itu terdengar ringan, bahkan nakal. Namun semakin tua umur lelucon itu, semakin terasa bahwa ia sedang menyembunyikan sesuatu yang tidak lucu.
Ada jenis humor tertentu yang sebenarnya lahir dari keputusasaan. Kita tertawa bukan karena bahagia, tetapi karena kenyataan terlalu ganjil untuk ditanggapi dengan wajah serius.
Saya membayangkan bagaimana perasaan seseorang yang hidup beberapa dekade lalu ketika mendengar kalimat itu. Mungkin ia menganggapnya hiperbola. Mungkin ia menganggap Gus Dur sedang melebih-lebihkan keadaan. Sebab bagaimanapun, mengorupsi meja terdengar mustahil. Korupsi seharusnya mengambil uang. Mengambil proyek. Mengambil barang. Bukan mengambil meja.
Namun rupanya kehidupan politik Indonesia memiliki bakat khusus dalam mengubah metafora menjadi laporan lapangan.
Dari tahun ke tahun kita menyaksikan sesuatu yang menarik. Korupsi tidak lagi tampak sebagai penyimpangan dari sistem. Ia seperti spesies yang berhasil beradaptasi dengan lingkungannya. Ketika satu celah ditutup, ia menemukan celah lain. Ketika satu aturan dibuat, ia mempelajari cara hidup di dalam aturan tersebut. Kadang-kadang bahkan tampak lebih memahami aturan daripada orang yang membuatnya.
Karena itu ketika membaca berita tentang MBG, pikiran saya justru melompat ke lelucon tadi. Program Makan Bergizi adalah sebuah gagasan yang begitu sederhana sehingga hampir mustahil ditolak. Anak-anak makan lebih baik. Gizi membaik. Masa depan diperkuat. Bahkan namanya terdengar seperti sesuatu yang lahir dari ruang kelas sekolah dasar yang penuh gambar matahari dan awan berwarna cerah.
Lalu kenyataan datang membawa kebiasaan lamanya.
Ternyata di negeri ini, bahkan gagasan tentang anak-anak yang sedang makan pun dapat dikerumuni oleh orang-orang dewasa yang lebih dulu lapar.
Di titik itulah saya mulai merasa bahwa mungkin kita selama ini salah memahami lelucon Gus Dur. Kita mengira tokoh utama dalam cerita itu adalah meja. Padahal bukan.
Meja hanya korban.
Bayangkan nasib sebuah meja di republik ini. Ia dibuat oleh tukang kayu. Dipernis dengan baik. Diletakkan di kantor pemerintahan. Ia mungkin berharap hidup tenang sebagai tempat rapat, tempat menandatangani dokumen, atau tempat meletakkan secangkir kopi. Namun sepanjang hidupnya ia terus-menerus dituduh terlibat korupsi.
Seandainya meja bisa berbicara, mungkin sejak lama ia sudah meminta pindah profesi menjadi lemari.
Yang membuat semua ini terasa lebih ganjil adalah kenyataan bahwa bangsa ini sebenarnya sangat kaya akan slogan moral. Hampir tidak ada kekurangan slogan. Integritas ada. Transparansi ada. Akuntabilitas ada. Amanah ada. Pengabdian ada. Setiap tahun kita memproduksi slogan-slogan baru seperti pabrik memproduksi mi instan.
Masalahnya, slogan tidak pernah kenyang. Seperti manusia dengan usus 36 jari.
Mungkin karena itu korupsi di Indonesia sering kali memiliki sifat yang unik. Ia tidak muncul sebagai perampok yang memecahkan jendela pada tengah malam. Ia datang mengenakan seragam resmi, membawa stempel, menyusun proposal, membuat presentasi, lalu berbicara panjang tentang pengabdian kepada rakyat. Kadang-kadang ia bahkan berbicara lebih fasih tentang moralitas daripada orang yang benar-benar bermoral.
Lalu bertahun-tahun kemudian, ketika sebuah kasus terbongkar, masyarakat kembali mendengar istilah yang sama. Dugaan penyimpangan. Dugaan mark-up. Dugaan pengaturan proyek. Dugaan pengadaan. Kata "dugaan" berbaris begitu panjang hingga terdengar seperti nama jalan.
Dan rakyat membaca semuanya dengan ekspresi yang semakin sulit dibedakan antara tertawa dan lelah.
Barangkali itulah bagian yang paling menyedihkan dari korupsi. Bukan jumlah uangnya. Angka-angka pada akhirnya selalu bisa dihitung. Auditor bisa menghitungnya. Penyidik bisa menghitungnya. Hakim bisa menghitungnya.
Yang lebih sulit dihitung adalah saat masyarakat mulai kehilangan kemampuan untuk terkejut. Saat sebuah berita tentang dugaan korupsi tidak lagi terasa seperti gempa, melainkan seperti prakiraan cuaca.
Dan di tengah semua itu, lelucon Gus Dur tetap berjalan dari satu generasi ke generasi berikutnya, seperti seorang pengembara tua yang terus menemukan alamat yang sama meskipun nama jalannya sudah berkali-kali diganti.
Saya tidak tahu apakah suatu hari nanti lelucon itu akan kehilangan relevansinya. Saya berharap demikian. Sebab ada lelucon yang memang seharusnya pensiun dengan tenang.
Tetapi setiap kali membaca berita semacam ini, harapan itu terasa seperti menatap meja tua di sebuah kantor pemerintahan dan bertanya dalam hati: "setelah semua yang dialaminya selama puluhan tahun, apakah meja itu masih berani percaya kepada manusia?"





