Arsip foto-foto ketika lagi sibuk-sibuk menyelesaikan tugas kuliah. Di waktu teknologi belum secanggih sekarang ini, keterampilan mengetik dengan mesin manual begitu diperlukan. Beruntung, salah satu momen kerja tugas bareng sekitar tahun 1985 itu sempat terdokumentasi, ketika begadang sama-sama menyelesaikan tugas stratigrafi.
     Ada kolom panjang yang harus diselesaikan dengan baik dan rapi ke atas kertas kalkir, tentu saja secara manual, menggunakan rapidograph dan sablon huruf. Di kamar berukuran kecil 2,5 kali 4 meter itu, kami berdesak-desakan berempat bahkan kadang berlima. Sarana seadanya yang bahkan sangat minim itu, namun menggairahkan di dalam kelapangan hati.
      kejar tayang materi ketikan, posisi kopiah hitam sudah melintang tidak karuan.
 kolom stratigrafi yang panjangnya hampir 3 meter itu, perlu diteliti dengan baik jangan sampai ada huruf atau simbol yang tertinggal atau lupa dituliskan.
 di sela kejaran dead line menyelesaikan tugas itu, ubi goreng dengan sambel tomat tumis yang ehmm... itu, harus dituntaskan dengan bijak.
Ahmad Negarawan (G79), Sulaeman Qamaruddin (G82), Hero Fitrianto (G81) dan Djalaluddin (G82)
 dengan menu ala kadarnya, yang penting bisa tetap semangat menyelesaikan tugas yang sudah mepet waktu penyelesaiannya.
     Rindu kalian saudara-saudaraku, rindu momen dimana deadline membuat kita tergopoh-gopoh bersama, tertidur tidak sengaja karena kelelahan ataupun 'hunting' songkolo bagadang untuk sekadar megganjal perut yang keruyukan..

     Survival menjadi kata kunci yang begitu sering terucap bagi para penggiat aktifitas alam bebas. Nah, di artikel ini, setiap huruf yang menyusun kata survival tersebut bisa diterjemahkan menjadi penuntun kita dalam beraksi di setiap situasi survival. Kapanpun kita berada dalam situasi tersebut, ingatlah penjabaran kata SURVIVAL berikut ini.
     Tindakan survival yang dimaksud, berupa penjabaran dari setiap huruf yang menyusun kata survival di dalam bahasa Inggris. Pelajari dan ingat dengan baik, lakukan latihan secara teratur, karena suatu hari pasti akan sangat berguna ketika Anda mengaplikasikannya di dalam situasi nyata.

     S - Size Up the Situation > Buatlah penaksiran untuk menilai situasi tempat Anda berada.
     Bila Anda dalam situasi perang, carilah tempat di mana Anda bisa bersembunyi dari musuh. Ingat, keamanan menjadi prioritas utama. Gunakan semua indera, pendengaran, penciuman dan penglihatan untuk menakar nuansa medan perang. Apa yang dilakukan musuh? Apakah Anda harus maju, atau berdiam di tempat, atau malah Anda harus mundur. Pertimbangkan situasi medan perang sebelum menyusun rencana untuk tetap hidup.
     * Perkirakan Sekeliling Anda. Tentukan pola dan situasi daerah. Dapatkan 'rasa' tentang apa yang terjadi di sekitar Anda. Setiap lingkungan, apakah hutan, atau gurun, mempunyai ritme dan pola tertentu. Ritme atau pola yang dimaksud adalah, setiap lingkungan mempunyai jenis binatang, suara burung maupun suara-suara serangga yang tertentu. Termasuk di dalam ritme itu adalah pola lalulintas dan pergerakan musuh Anda.
     * Tentukan dengan jujur kondisi fisik Anda. Setiap kejadian dan tekanan yang telah menimpa Anda mungkin menyebabkan luka-luka kecil tidak terasa. Nah saatnya untuk memeriksa setiap luka, memar dan apa saja yang menimpa fisik Anda, dan lakukan tindakan pertolongan pertama. Berhati-hatilah supaya tidak menambah luka atau cedera baru. Di dalam kondisi cuaca apapun, tetaplah minum banyak air untuk menghidari dehidrasi. Cegah kemungkinan hipotermia dengan mengunakan lebih banyak pakaian kering di dalam situasi dingin ataupun basah.
     * Periksa perlengkapan yang masih ada. Mungkin saja beberapa peralatan yang Anda miliki telah rusak atau malah hilang tercecer di jalan. Periksa apa yang masih tersisa dan bagaimana kondisinya.
     Sekarang, setelah Anda telah mempunyai gambaran tentang situasi sekeliling, mempunyai kesimpulan tentang kondisi fisik Anda dan juga tentang peralatan yang masih ada dan dapat difungsikan, maka selanjutnya Anda siap untuk membuat rencana hidup Anda selanjutnya. Dengan demikian Anda sudah bisa membayangkan suatu rencana untuk memenuhi kebutuhan dasar fisik Anda berupa air, makanan dan tentu saja tempat bernaung (shelter/bivak).

     U - Use All Your Senses, Undue Haste Makes Waste > Gunakan Akal Sehat Anda. Bertindak gegabah dan tergesa-gesa akan menjadi sesuatu yang sia-sia.
     Anda bisa saja membuat kekeliruan ketika bereaksi dengan gegabah tanpa berfikir dan terencana. Dan tindakan yang Anda lakukan bisa saja mengantar Anda menuju kepada kematian. Jangan bertindak hanya karena supaya terlihat tidak pasif. Perhitungkan semua aspek kondisi Anda, peralatan Anda, sebelum membuat keputusan untuk bergerak.
     Jika Anda bertindak tergesa-gesa, gegabah, Anda bisa saja melupakan beberapa peralatan penting yang mestinya tetap menyertai pergerakan Anda. Dalam keadaan tergesa-gesa, Anda mungkin saja akan menjadi bingung dan tidak tahu harus bergerak ke arah mana. Rencanakan dengan baik setiap pergerakana Anda.
     Persiapkan diri Anda untuk bisa bergerak cepat tanpa membahayakan diri sendiri, seandainya ada bahaya yang mendekati Anda (binatang buas/musuh). Gunakan semua indera untuk mengevaluasi situasi. Anda harus jeli, mengenali bebauan yang aneh, perubahan suhu maupun suara yang tidak lazim terdengar.

     R - Remember Where You Are > Ingat dan ketahui dimana Anda berada.
     Tandai lokasi dimana Anda berada ke atas peta. Sesuaikan dengan situasi sekeliling Anda. Ini 'prinsip dasar' yang harus selalu Anda lakukan. Bila ada orang lain yang bersama Anda, pastikan mereka juga mengetahui lokasinya berada.

     V - Vanquish Fear and Panic > Atasi rasa Takut dan Panik
     Musuh terbesar di dalam bertahan hidup adalah rasa takut dan panik. Jika tidak terkendali, akan membuat Anda kehilangan kemampuan membuat keputusan dengan akal sehat. Ketakutan dan kepanikan bisa membuat Anda bereaksi berdasarkan perasaan dan imajinasi, bukan berdasarkan situasi dan nalar. Takut dan panik bisa menguras tenaga sehingga menyebabkan situasi emosi yang negatif. Pengalaman survival dan pelatihan yang teratur akan meningkatkan rasa percaya diri sehingga akan memungkinkan bagi Anda untuk bisa mengalahkan rasa takut dan panik.

     I - Improvise > Berimprovisasi
     Belajar untuk menjadi kreatif, belajar bagaimana menemukan keguanaan suatu benda, diluar kegunaan utamanya. Berlatih bagaimana menggunakan bahan-bahan yang ada disekitar kita untuk sesuatu yang berbeda dari fungsinya semula. Asah selalu kemampuan Anda untuk bisa berimprovisasi. Meskipun survival kit Anda 'sangat' lengkap, namun ketika digunakan terus menerus maka akan aus atau rusak. Nah, imajinasi dan kemampuan improvisasi Andalah yang akan mengambil peran penting dalam menolong hidup Anda selanjutnya.

     V - Value Living > Nilai-nilai hidup yang Anda anut.
     Kita semua telah dilahirkan untuk bergulat demi berjuang tetap hidup, tetapi kita kemudian terlena di dalam nikmatnya hidup yang mapan. Kita menjadi makhluk penikmat kenyamanan. Nah, apa yang terjadi kemudian ketika kita dihadapkan pada situasi harus bertahan hidup dengan semua tekanan, ketakutan, ketidak nyamanan dan kerepotan?
     Inilah saat dimana kita harus menempatkan 'keinginan untuk hidup' di posisi paling tinggi. Semua pengalaman dan pelatihan yang telah Anda peroleh di dalam kehidupan selayaknya menjadi penopang sehingga Anda mempunyai kemauan untuk tetap hidup. Keteguhan dalam pendirian, menolak untuk menyerah pada masalah dan rintangan yang dihadapi, akan memberikan kepada Anda kekuatan mental dan fisik untuk tetap mampu bertahan hidup.

     A - Act Like the Natives > Bertindak seperti layaknya para Pribumi
     Penduduk asli dan hewan-hewan pada suatu daerah telah beradaptasi secara baik dengan lingkungannya. Untuk mendapatkan sentuhan rasa suatu daerah, perhatikanlah bagaimana rutinitas keseharian masyarakatnya. Kapan dan apa yang meraka makan. Kapan, dimana dan bagaimana mereka mendapatkan makanan. Kapan mereka ke sungai, kapan mereka tidur, dan sebagainya. Tindakan ini penting bila anda dalam situasi sedang menghindari penangkapan oleh pihak musuh (dalam situasi perang).
     Kehidupan binatang di suatu daerah juga bisa memberi anda informasi kunci bagaimana bertahan hidup yang seharusnya. Hewan-hewan itu tentu saja memerlukan air, makanan dan tempat berlindung (shelter). Dengan mengamati hewan-hewan tersebut, anda bisa menemukan sumber air dan makanan. Meski demikian, anda tetap harus berhati-hati, karena ada beberapa hewan yang memakan makanan yang ternyata beracun bagi manusia. Juga penting untuk diketahui bahwa reaksi dari hewan bisa menjadi petunjuk bagi musuh untuk mengetahui keberadaan Anda.
     Kemampuan bergaul dengan penduduk setempat, belajar dan beradaptasi dengan lingkungan mereka akan dapat meningkatkan peluang untuk tetap bertahan hidup.

     L - Live by Your Wits > Hiduplah dengan akal, kemampuan dan pengetahuan yang Anda miliki.. Namun untuk saat ini, pelajarilah dahulu keterampilan dasarnya..
     Tanpa berlatih keterampilan dasar untuk bertahan hidup, maka kesempatan Anda untuk bisa bertahan hidup dalam situasi yang telah digambarkan di atas, menjadi sangat sedikit. Pelajari dan latih keterampilan dasar survival sekarang juga, bukan ketika Anda menuju atau berada di alam bebas atau di medan pertempuran.
     Bagaimana Anda membuat persiapan dan membawa perlengkapan yang sesuai dengan kebutuhan untuk suatu kegiatan, akan menentukan apakah Anda nantinya akan mampu atau tidak di dalam bertahan hidup. Anda perlu mengetahui bagaimana lingkungan yang akan menjadi tujuan Anda, kemudian berlatih keterampilan dasar tentang lingkungan yang dimaksud. Sebagai contoh, bila Anda akan ke gurun pasir, maka Anda harus tahu bagaimana caranya untuk mendapatkan air di padang pasir.

     Latihan keterampilan dasar survival akan mengurangi rasa takut yang tidak diketahui. Juga akan meningkatkan rasa percaya diri Anda. Hal itu akan membantu Anda untuk belajar untuk hidup secara rasional dengan akal dan nurani yang sehat.
foto : adventurenationalgeographic[dot]com

Punyai suatu design dalam bertahan hidup

     Sangat penting untuk mempunyai suatu model standar yang memungkinkan Anda bisa tetap bertahan hidup di suatu lingkungan tertentu. Design modelnya harus mencakup bagaimana persediaan makanan, air, tempat bernaung, perapian, perlengkapan pertolongan pertama, signal flare, besertaa survival tool lainnya, sebagai kebutuhan yang menjadi prioritas utama di dalam daftar persiapan Anda.
     Misalnya saja di lingkungan yang dingin, Anda akan membutuhkan api untuk mendapatkan kehangatan, sebuah bivak untuk bernaung sekaligus pelindung dari angin, hujan atau salju. Anda juga membutuhkan perangkap dan jerat untuk mendapatkan makanan, juga perlengkapan P3K untuk menjaga kesehatan jika cedera. Semua perlengkapan tersebut menjadi prioritas utama, tidak peduli Anda akan menghadapi iklim apapun juga. Perlengkapan tambahan lainnya akan menyesuaikan dengan situasi lingkungan yang dituju sehingga kebutuhan fisik Anda bisa terpenuhi bila menghadapi perubahan yang mendesak dan tiba-tiba.

 

baca juga: Psikologi Survival
rujukan : US Army Survival Manual

     "Beberapa orang berpikir sepak bola adalah hidup dan mati. Tapi saya yakinkan Anda, ini akan jauh lebih penting daripada itu semua." begitu pernyataan yang dilontarkan dari bibir manajer legendaris Liverpool, William “Bill” Shankly, yang seakan menjadi gambaran sesungguhnya ketika menyaksikan rivalitas terbesar dalam sejarah sepak bola Inggris antara Liverpool dan Manchester United. Nama besar kedua tim seakan menjadi ikon yang tak bisa lepas dan saling melengkapi satu sama lain di dalam ranah sepak bola Inggris saat ini.
     Jika ditarik ke belakang, rivalitas Liverpool dan MU ini tak bermula dari urusan lapangan semata. Dunia bisnislah yang pertama kali membuat api rivalitas menggelora dalam sejarah dua klub tersebut. Pada abad ke-19, hubungan kedua kota itu awalnya sangat harmonis, karena Liverpool terkenal sebagai kota pelabuhan besar di Inggris, dan Manchester merupakan kota pertama yang perekonomiannya cukup maju semenjak revolusi Inggris.
     Namun, hubungan manis itu harus retak pada akhir 1878. Depresi dunia ketika itu, membuat Manchester "menyalahkan" Liverpool karena dianggap telah memberlakukan tarif tinggi bagi jalur distribusi produk-produk mereka. Kecewa, Manchester lantas membangun pelabuhan sendiri untuk mendistribusikan hasil industri kotanya ke seluruh dunia pada 1894.
     Langkah itu, secara tidak langsung akhirnya membuat pendapatan kota dan penduduk di Liverpool turun dengan drastis. Semenjak inilah awal aroma kebencian masyarakat kedua kota itu terjadi. Para Scouse, sebutan warga Liverpool, menilai Mancunian, sebutan bagi warga Manchester, sebagai biang kerok dibalik kekacauan yang terjadi di kotanya.
     Kebencian ini pula yang kemudian merasuki ranah sepak bola. Untuk urusan lapangan hijau, Liverpool memang lebih dulu "besar" dibanding dengan MU. Meskipun MU merupakan tim Inggris pertama yang memenangkan Piala Champions pada 1968, namun kesuksesan di era tersebut memang harus diakui adalah milik Liverpool. Memasuki era 1970-an, di bawah kepemimpinan Bill Shankly, Liverpool berubah menjadi raksasa sepak bola di Inggris maupun di Eropa.
     Di era ini, Liverpool menyabet 11 gelar juara Liga dan empat juara Piala FA. Termasuk juga prestasi mereka meraih Treble Winners pada tahun 1984 dengan menyandingkan gelar juara Liga dengan Piala FA dan Piala Champions. Bahkan, pada 1974, "The Reds" dapat tertawa bangga karena dapat meraih sukses di papan atas Liga dan Piala FA disaat MU harus rela bermain di Divisi II.
     Rivalitas itu kembali memanas memasuki era 1990-an, ketika pelatih asal Skotlandia, Sir Alex Ferguson, memulai karirnya bersama MU. Bahkan, di awal karirnya itu, Ferguson sempat dengan lantang mengatakan bahwa hal terindah bagi dirinya adalah ketika "memukul" Liverpool yang sedang berada di puncak kesuksesan.
     Dan pernyataan itu, bukanlah isapan jempol semata. Fergie membuktikannya tiga tahun setelah memulai karirnya bersama MU pada 1986. Fergie memberikan gelar Piala FA pertamanya untuk MU pada 1990. Setelah itu, giliran MU yang berubah bak raksasa Inggris dan dapat tertawa manis di atas "kesuksesan" Liverpool yang terakhir kali meraih gelar Liga Inggris pada 1989. Di era ini, MU mampu meraih 11 gelar juara liga dan 2 kali juara Liga Champions.
     Secara keseluruhan, gelar juara Premier League tahun 2011 telah menjadikan MU sebagai pemegang koleksi juara terbanyak dengan 19 gelar, mengalahkan Liverpool dengan 18 gelar. Namun, jika melihat gelar di Eropa, Liverpool jelas lebih unggul dengan raihan lima gelar Liga Champions dibanding MU yang baru mengantongi tiga gelar.
 
foto : tribunnews[dot]com

     Ikan teri memang berukuran kecil. Namun, studi membuktikan bahwa ikan ini turut berperan melawan perubahan iklim. Feses ikan teri membantu menyimpan karbon.
     Grace Saba dari Rutgers University di New Jersey dan Deborah Steinberg dari Virginia Institute of Marine Science, berdasarkan studinya menuturkan, teri memakan ganggang. Feses sisa pencernaan mendendap dengan cepat di lautan dan membawa karbon.
     "Pelet feses dari permukaan bisa bergerak mengendap ke bawah dengan kecepatan hingga 1600 kaki (487 meter) dalam waktu kurang dari sehari selama studi," kata Saba.
     Berdasarkan studi, seperti diberitakan Discovery, Jumat (12/10/2012), setiap feses menyimpan karbon hingga 22 mikrogram.
     "Dua puluh mikrogram mungkin tak terlihat banyak. Tapi jika Anda mengalikannya dengan jumlah ikan dan feses yang mungkin ada di wilayah kaya nutrisi, jumlahnya akan cukup besar," papar Steinberg.
     Dan memang, sebanyak 251 miligram feses per meter persegi mengendap setiap harinya.
     "Penemuan kami menunjukkan bahwa dalam kondisi tertentu,feses ikan dapat mengirim material dari permukaan ke kedalaman, dan melakukannya dengan cepat," ungkap Saba.
     Ikan teri bukan satu-satunya jenis ikan yang membantu melawan perubahan iklim. Dalam spektrum ukuran yang berbeda, paus sperma juga melakukannya.
     Kotoran paus memberi makan flora mikro di permukaan, fitoplankton. Fitoplankton yang mati akan mengendap ke dasar lautan membawa serta karbon dioksida yang diserapnya. Jumlah karbon diokdida yang diserap lewat proses ini bisa mencapai 2 juta ton per tahun.
     Diketahui, konsentrasi karbon dioksida yang meningkat di atmosfer berpengaruh pada perubahan iklim. Dengan banyaknya karbon dioksida yang diserap, perubahan iklim bisa dilawan.
sumber : discovery channel

     Anda memiliki hunian yang menganggur di lokasi strategis? Sayang sekali bila dibiarkan begitu saja. Sejatinya, Anda bisa memanfaatkan hunian tersebut untuk mendatangkan keuntungan. Bukan dijual atau dikontrakkan, melainkan disulap menjadi homestay.
     Homestay merupakan penginapan dengan fasilitas lengkap. Kadang-kadang sang pemilik rumah juga menempati hunian tersebut bersama para tamu.
     Hunian yang berlokasi tak jauh dari tempat wisata atau pusat kota sangat cocok dijadikan homestay. Salah satu kota yang memiliki layanan homestay cukup banyak adalah Yogyakarta. Sebagai kota dengan sajian pariwisata beragam, Yogyakarta menjadi salah satu daerah potensial untuk membuka usaha ini.
     "Homestay menjadi alternatif penginapan yang memberikan kenyamanan seperti di rumah sendiri. Homestay kian diminati orang yang datang ke Yogyakarta," begitu penuturan pemilik Athaya Homestay di Yogyakarta. Hasilnya, setiap bulan ia bisa mengantongi omzet antara Rp 15 juta hingga Rp 18 juta dengan keuntungan bersih mencapai 70 persen.
     Besarnya potensi usaha homestay ini juga dimanfaatkan oleh Simply Homy untuk menawarkan kerja sama dengan sistem waralaba sejak dua tahun lalu. Hingga saat ini ia memiliki 17 terwaralaba dengan 11 homestay yang beroperasi, dan enam sisanya masih dalam tahap renovasi. Keuntungan yang ditawarkannya mulai 38 persen hingga 50 persen, dengan asumsi balik modal kurang dari dua tahun. Untuk membuka usaha homestay, paling tidak Anda harus memiliki bangunan berupa rumah layak huni.
     Bermodal aset yang sudah ada itu, investasi tambahan Anda akan cukup ringan. Karena bangunan rumah sudah ada, maka Anda cuma perlu menyiapkan biaya untuk renovasi dan promosi. Namun, jika Anda ingin memulai usaha ini, ada baiknya mempertimbangkan sistem usaha yang akan digunakan, yakni memilih dengan sistem waralaba atau pengelolaan secara mandiri.

Sistem mandiri
     Dengan sistem ini, investasi yang Anda perlukan tidak terlalu besar.
     Anda hanya perlu melakukan renovasi untuk mempercantik bangunan dan ruangan, serta membeli kelengkapan ruangan. Untuk itu, modal yang dibutuhkan paling tidak Rp 20 juta. Perlengkapan yang harus Anda beli antara lain ranjang hingga lemari untuk kamar tidur. Selain itu, Anda juga wajib membeli pendingin ruangan.
     Namun, besaran investasi tersebut bisa ditekan bila perlengkapan yang Anda miliki sudah memenuhi kelayakan sebagai hunian yang disewakan. Anggaran promosi yang harus Anda sisihkan untuk menawarkan jasa penginapan ini juga terhitung murah, hanya Rp 3, 5 juta. Perinciannya, Rp 3 juta untuk memasang iklan di website jaringan pariwisata dan Rp 500.000 untuk pembuatan brosur.
     Beriklan di jaringan pariwisata ini penting karena calon tamu pasti mengakses situs-situs semacam ini untuk membandingkan harga dan layanan. Biaya Rp 3 juta tersebut berlaku selama tahun pertama, sementara untuk tahun selanjutnya cukup membayar Rp 2 juta. Dengan tingkat hunian 15 hari per bulan dan biaya sewa Rp 1 juta per hari, omzet yang Anda dapat sekitar Rp 15 juta per bulan.
     Adapun keuntungan yang Anda peroleh bisa mencapai 70%. Pengeluaran untuk usahanya ini sangatlah minim. Dengan tingkat hunian 15 hari per bulan, pengeluaran hanya Rp 4 juta. Pengeluaran tersebut mencakup gaji karyawan, biaya listrik, perawatan perlengkapan, belanja bahan makanan dan minuman, serta belanja perlengkapan mandi.

Sistem kerjasama
     Bila Anda ingin membuka usaha homestay dengan sistem waralaba, kita bisa menganalisa tawaran dari Simply Homy. Pertama, Anda harus memiliki rumah dengan fasilitas minimal tiga kamar tidur, kamar mandi, garasi, ruang keluarga, serta tentu saja dapur.
     Kedua, Anda harus memiliki modal tunai sekitar Rp 94 juta. Modal ini akan digunakan untuk membayar franchise fee selama lima tahun senilai Rp 60 juta, renovasi dan perlengkapan dengan kapasitas 3 kamar tidur sekitar Rp 30 juta, dan sisanya untuk mengurus biaya perizinan usaha. Adapun renovasi meliputi pengecatan ulang, perbaikan bangunan rusak, membeli perlengkapan tidur, pendingin ruangan, lemari, dan lain-lain. Aset perlengkapan tersebut nantinya menjadi milik mitra.
    Besarnya biaya renovasi sebenarnya beragam. Besaran tersebut tergantung kapasitas kamar dan perlengkapan yang dimiliki oleh mitra. Seandainya kamar lebih banyak dan perlengkapan belum sesuai standar kami, tentu biaya renovasi dan perlengkapannya lebih besar.

Jenis kerjasama
     Ada dua jenis kerja sama yang sebetulnya ditawarkan Simply Homy, yaitu self management dan full management. Dengan sistem full management, pengelolaan homestay dilakukan oleh tim manajemen Simply Homy. Mitra tinggal menerima keuntungan setiap bulan sebesar 38% dari omzet.
     Dengan sistem ini, mitra dikenai management fee 25%, royalty fee 8%, dan marketing fee 5%. Adapun biaya operasional memakan biaya 24% dari omzet. Biaya operasional tersebut meliputi biaya listrik dan air, karyawan, perawatan perlengkapan, belanja makanan dan minuman untuk tamu, serta belanja perlengkapan mandi.
     Namun, apabila mitra menginginkan keuntungan lebih besar, Anda bisa memilih konsep self management. Dengan konsep ini, pengelolaan homestay sepenuhnya diserahkan pada mitra dan Simply Homy hanya menyediakan pelatihan dan pemasaran. Keuntungan yang diperoleh sebesar 50% dari omzet. Keuntungan ini lebih besar dibandingkan konsep full management karena konsep self management bebas management fee.
     Selain itu, kewajiban terhadap pewaralaba setiap bulan hanya 8% untuk royalty fee dan 3% biaya pemasaran. Sisanya merupakan biaya operasional yang akan menjadi beban sang mitra.
     Tingkat hunian homestay dibawah managemen Simply Homy rata-rata 15 hari hingga 16 hari per bulan. Dengan biaya sewa Rp 800.000 hingga Rp 1,6 juta per hari, per bulan omzet yang dia dapat bisa mencapai Rp 15 juta–Rp 16 juta.

     Sekadar perbandingan, sewa kontrakan di Yogyakarta saat ini rata-rata hanya Rp 20 juta per tahun. Belum lagi dengan status sebagai homestay, bangunan secara otomatis akan lebih terawat ketimbang hanya dikontrakkan saja.
     Karenanya,daripada rumah Anda hanya dikontrakkan, maka keuntungan yang lebih besar bisa diperoleh bila disulap menjadi usaha homestay.

foto: batamtoday[dot]com
sumber : Kompas, data valid awal 2012.

     Kami sudah lama tidak bertemu karena kesibukan masing-masing. Kakak sepupuku ini termasuk awet muda. Usianya sepuluh tahun lebih tua bila dibandingkan dengan umurku, tetapi tampaknya ia semuda usiaku. Aku tidak menanyakan resep awet mudanya. Yang kuketahui hanyalah ia selalu bergembira. Pembawaannya tenang, tidak mudah terpengaruh oleh suasana yang datang mendadak. Dalam suka maupun duka selalu tersenyum.
     Kami berbicara tentang soal-soal keluarga. Hal ia akan mengawinkan anak sulungnya, dan anaknya yang lain yang akan ujian SLTA serta memasuki Perguruan Tinggi, penghapusan subsidi BBM dalam kaitannya dengan anggaran rumah tangga dan lain-lain. Ia punya banyak bahan untuk berbicara. Seolah-olah tidak ada habis-habisnya. Aku hanya menimpali sekali-dua.
     "Sebenarnya dari mana tadi?" tanyaku sesudah kami makan siang bersama.
     "Ah, hanya jalan-jalan ke Kajoran," jawabnya.
     "Ke Pak Sasra?"
     "Kok tahu."
     "Terkenal. Perlu apa?"
     "Sebenarnya soal sepele. Soal mimpi"
     "Lho soal mimpi saja kok sampai ke orang tua segala."
     "Mimpiku ini sudah tiga kali, berturut-turut dan selalu sama."
     "Apa kata Pak Sasra?"
     "Aku ditanya apakah punya keris yang tidak bersarung."
     "Lalu..?"
     "Aku tidak punya."
     "Ha, rupanya soal wesi aji, ya? Punya banyak?"
     "Banyak sih enggak. Ada beberapa saja. Dua belas keris dan tiga tombak."
     "Wah, lumayan juga."
     "Kau punya berapa?"
     "Satu pun tidak ada. Bapak punya sebilah dari Mataram. Itu juga entah ada isinya apa tidak, aku tidak tahu."
     "Susah juga mimpiku itu."
     "0, iya. Bagaimana sih mimpinya?"
     "Seorang wanita menuntut agar aku mengambil suaminya. Kalau tidak ia akan pergi menyusul suaminya."
     "Apa yang dikatakan Pak Sasra ada benarnya, tetapi juga belum tentu benar."
     "Maksudmu?"
     "Menurut pendapatku, 'suami' berarti 'jodoh'. Memang bisa diartikan keris mencari sarungnya. Tetapi itu terlalu mengada-ada. Kalau aku berpendapat bahwa jodoh berarti pasangan. Maka cobalah cari apakah ada benda pusaka itu  yang seharusnya berpasangan."
     Ia menepuk dahinya. "Benar. Memang ada. Aku membeli sebilah mata tombak dari seorang kenalan di Surabaya. Katanya tombak dari Bali. Mata tombak itu dulunya ada dua, tetapi yang satu entah di mana. Waktu 'peristiwa bentrokan kedua' dulu hilang. Mungkin dibawa saudaranya yang pulang ke Bali."
     "Mungkin itulah yang minta dicarikan pasangannya."
     "Mungkin. Kalau ada waktu mari ke Sala untuk melihat mata tombak itu." Aku memang selalu mempunyai waktu luang. Kami berdua menuju ke Sala. Ke rumah kakak sepupuku. Hanya dalam waktu dua jam kami sudah berada di ruang tamu rumahnya di Kauman Sala. Ketiga mata tombak diperlihatkannya kepadaku. Yang dua tidak tampak ada keistimewaannya, sedangkan yang satu agak aneh. Pamor bilahnya ada gambar kepala ular menganga, tetapi taring yang keluar hanya satu. Sebelah kiri saja. Biasanya, gambar taring ular ada dua. Kiri dan kanan.
     "Pasti yang ini yang dari Bali," kataku.
     "Betul. Landeyannya kubuatkan dari galih asam."
     "Nah, kau sudah tahu apa arti mimpimu. Terserah bagaimana tindak lanjutnya."
     "Jadi, bilah tombak ini meminta agar pasangannya kubawa ke sini juga?"
     "Tafsiranku begitu. Terserah kau saja bagaimana."
     Ia termenung sejenak. Tidak lama kemudian ia menatapku tajam. Ia ingin mengemukakan sesuatu kepadaku.
     "Aku banyak pekerjaan," katanya. "Kau yang punya waktu luang. Aku minta tolong ..."
     "Karena aku penganggur, kau menyuruhku mencari bilah tombak ini. Begitu?"
     "Jangan sentimentil begitu. Aku kan tidak bermaksud..."
     "Baiklah. Aku memang sudah lama tidak ke Bali."
     "Kau pasti bahwa bilah yang satunya berada di Bali?"
     "Perasaanku mengatakan begitu. Kalau kau tidak keberatan, bilah yang ini akan kubawa."
     "Bawalah."
     Bilah itu dilepas dari gagangnya. Dibungkus dengan kain flanel lalu diserahkan kepadaku. Setelah menerima bilah tombak itu, kakakku masuk. Tidak lama kemudian ia menyerahkan sebuah amplop. Aku tidak perlu bertanya. Tentu uang jalan. Aku tidak perlu berbasa-basi. Uang itu kuterima. Tidak kuhitung. Baru setelah tiba di rumah kuhitung. Seratus lima puluh ribu rupiah, lebih dari cukup bagiku. Aku tidak memerlukan uang terlalu .banyak karena sahabat dan kenalanku cukup banyak di Bali. Walaupun aku sudah lama meninggalkan Pulau Dewata, tetapi kawan-kawanku masih lumayan banyaknya. Aku pernah tinggal di sana selama tiga tahun.
     Tiba di Denpasar, aku langsung ke rumah kawanku di Kayumas Kaja. Di sanalah aku menginap. Karena tidak ada waktu lagi aku hanya tidur saja sesudah berbincang-bincang sampai pukul sebelas malam. Aku tidak sempat jalan-jalan ke pusat kota yang sangat dekat. Malam itu bilah tombak itu berada atas kepalaku. Aku tidur di sekutu yang telah dijadikan kamar. Begitu terlena, aku bermimpi. Seorang wanita mendatangiku. Ia mengatakan bahwa aku harus ke Nusa Penida. Di sanalah "suaminya". Aku terbangun. Ternyata baru pukul satu malam. Aku tidak dapat tidur lagi lalu mencari minuman ke Pasar Senggol.
     Esok paginya ketika aku akan berjalan-ialan melemaskan otot di pagi hari aku bertemu dengan kawan lama. Wayan Rentig seorang perawat di RS Sanglah. Ia tinggal di Banjar Sading dekat Banjar Abian Timbul. Ketika ia menanyakan tentang diriku, kukatakan bahwa aku akan ke Nusa Penida mencari sebilah tombak kuno.
     "Nusa Penida,  Pak Jawo? Tidak main-main?"
     "Ya. Mengapa?"
     “Pak Jawo tahu sendiri kan bahayanya? Tetapi jangan khawatir. Kalau ada apa-apa mintalah tolong Idayu Pedanda Stri."
     Sebenarnya Rentig tahu namaku. Tetapi orang Bali biasa memanggil seseorang dengan nama daerahnya. Maka ia memanggil aku dengan panggilan Pak Jawo. Dan nama Idayu Pedanda Stri sudah kukenal lama sekali. Sejak tahun 1963. Ia seorang "dukun" yang hebat. Perkenalan kami secara kebetulan. Kami berbicara mengenai banyak hal. Tentang hari baik, kala, tanda-tanda yang semuanya kuketahui dari primbon dan masih dipercayai oleh masyarakat Bali. Juga tentang wayang yang sangat kukuasai karena kami dari keluarga dalang. Dulu dia tinggal di Kesiman dekat Sanur. Menurut Rentig dia sekarang di Tangled, Nusa Penida.
     Ketika sudah sarapan, aku pamit kepada kawanku untuk melanjutkan perjalanku ke Nusa Penida. Aku diantar dengan colt yang juga melayani rute ke Sanur. Dari Sanur aku menyewa perahu menyeberang ke Nusa Penida. Aku agak bingung melihat "kemajuan" daerah Sanur. Begitu juga pantainya tidak seperti dulu lagi. Tetapi aku tidak mau berpikir tentang itu sekarang. Pikiranku kupusatkan ke pulau di hadapanku. Aku berada di perahu yang berlayar tenang. Laut teduh hanya diwarnai riak-riak kecil.
     Begitu mendarat di Toyapakah, aku sudah mendapat berita bahwa di sebuah tempat ada ular hitam besar. Tidak ada orang yang berani mendekatinya. Katanya ular itu galak sekali. Beberapa orang yang mendekat dipatuknya dan mati hangus. Badan korban itu menghitam. Petugas kepolisian juga gagal membunuh ular itu. Dengan tembakan senapan juga tidak mempan. Ular itu seperti besi saja layaknya.
     "Saya ingin melihat. Di mana tempatnya?" kataku kepada pemilik warung tipat (ketupat).
     "Di sebuah bukit di dekat Tangled," jawabnya.
     "Lho di sana kan ada Balian terkenal"
     "Sudah dicoba tetapi gagal." "Baiklah. Saya akan melihatnya. Hanya melihat."
     Mereka mengangkat bahu. Barangkali mereka mencibir di belakangku. Tentu mereka mengatakan aku orang Jawa yang sok. Ah, masa bodoh. Walaupun aku berbicara dengan bahasa Bali, mereka masih mengenaliku sebagai orang Jawa. Sialan. Ternyata aku kurang tajam mengucapkan huruf "t". Seharusnya aku mengatakan thidhak bukannya tidak. Huh, lidah yang doyan tempe ini.
     Aku menyewa sebuah sepeda tua. Lumayan. Kukayuh sepeda itu terseok-seok menyusuri jalan yang tidak begitu lebar. Di bahuku tergantung bungkusan bilah tombak yang kubawa dari Sala. Sore hari aku tiba di Tangled. Mencari Idayu Pedanda Stri, tidaklah sulit. Orang tua itu ternyata masih mengenali diriku. Kami berbincang-bincang sampai malam.
     Ketika aku membaringkan diri, naluriku mengatakan bahwa aku harus berhati-hati. Entah dari mana datangnya bahaya itu. Aku mempersiapkan diri. Malam itu aku tidak berbaring ketika tidur, tetapi menyandarkan diri di tempat tidur dengan mengganjal punggungku dengan bantal. Mataku setengah terpejam, tetapi hatiku tetap jaga. Aku selalu waspada. Seluruh inderaku kupusatkan sehingga tidak memecah perhatianku.
     Lewat tengah malam, dari kisi jendela kulihat cahaya cemerlang datang dari sebelah barat menuju ke tempatku. Aku meluruskan punggungku. Duduk bersila di atas bale-bale tempatku beristirahat. Begitu cahaya itu menyibak masuk, kuacungkan kedua tanganku menangkis terjangannya yang masuk ke kamar. Tampaknya hendak menerpaku. Begitu cahaya kehijauan itu bertemu dengan kedua telapak tanganku, terasa panas bukan main. Badanku bergetar hebat, hampir saja aku jatuh pingsan. Namun kukuatkan hatiku, juga semangatku. Cahaya yang masih menggantung itu kuterjang dengan kepalan kedua tanganku. Kembali rasa panas membakar lenganku. Panas di tangan menjalar ke dadaku sehingga membuat napasku sesak. Hampir aku tidak dapat menahan tindihan panas yang makin membara. Segera kuingat bahwa di telapak tanganku telah dituliskan rajah Kalacakra. Dengan memusatkan seluruh jiwaku merapal aji Kalacakra, kubuka telapak tanganku.
     Cahaya hijau itu menerjang lagi, dia kupukul dengan telapak tanganku. Cahaya yang bagaikan bola api berwarna hijau itu mental ke luar rumah. Terdengar jeritan yang menyayatkan hati. Aku tidak memburu ke luar, tetapi kembali duduk bersila mengatur napas yang sudah sempat megap-megap. Sandi-sendi tulang tanganku bagaikan lepas. Aku sadar bahwa aku sudah memakai tenaga yang berlebihan. Tidak lama kemudian Idayu Pedanda Stri memasuki kamarku yang sebenarnya sekepat yang diberi dinding.
     "Terima kasih atas bantuanmu, Nak," katanya penuh kasih sayang. Dan para pembaca jangan membayangkan bahwa Idayu Pedanda Stri ini seorang gadis jelita, remaja putri. Bukan. Beliau sudah nenek-nenek. Usianya sudah lebih dari seratus tahun. Masa jaya Kerajaan Badung masih dialaminya. Ketika Denpasar masih dikelilingi hutan. Namun ia tampak masih tegap. Tingginya seratus enam puluh lima. Terlalu tinggi bagi seorang wanita. Keriput di wajahnya memang masih menampakkan sisa kecantikan di masa lalu, gadis kasta Brahmana yang tidak lepas dari keropak berisi ilmu-ilmu kebatinan.
     "Siapa yang datang tadi?" tanyaku "Luh Sukerti. Balian Nusa Penida," jawabnya sambil mengunyah sirihnya.
     "Mengapa memusuhi Anda?"
     "Dia tidak rela titiyang tinggal di sini." Titiyang adalah sebutan untuk dirinya sendiri bagi kasta Brahmana.
     "Mengapa begitu?"
     "Luh Sukerti menghendaki Ular Hitam di Bukit Babaran."
     Aku mengeluh pendek. Rupanya mereka yang bermata tajam sudah tahu apa sebenarnya ular atau yang dihebohkan sebagai Naga Hitam oleh penduduk itu.
     "Kedatangan saya juga untuk itu," kataku kemudian.
     "Titiyang tahu. Titiyang memang menjaga agar lipi itu tidak diambil orang lain. Dewa Ratu memberikan mimpi agar titiyang menjaganya. Tetapi Luh Sukerti tidak mau tahu."
     Sebenarnya ada tanda tanya mengenai Luh Sukerti. Menurut namanya ia pasti masih gadis. Tetapi melihat kemampuannya pasti sejajar dengan Idayu Pedanda Stri. Aku tidak bertanya lebih lanjut.
     "Tinggal saja dulu di sini. Nanti pada Kajang Kelion kita ambil barang itu." Empat hari luang kugunakan untuk segala macam kegiatan. Kadang aku ikut berbasan (membaca keropak dalam bahasa Jawa Kuno yang biasanya cerita Ramayana, Mahabharata, dan lain-lain) di rumah Kelian (Kepala Kampung). Kadang bertukar pikiran dengan beberapa orang pemuda yang sedang mempelajari perihal wayang kulit. Tentu saja aku sangat senang sebab aku juga menyenangi kesenian itu. Bukankah sudah kukatakan bahwa aku dari keluarga dalang.
     Pada hari Kajang Kelion aku menuju ke tempat Ular Hitam yang dihebohkan itu berada. Kebetulan waktu itu sedang purnama, langit sangat cerah. Aku berjalan sambil menenteng bilah tombak yang berada di dalam bungkusan kain flanel. Jalan setapak yang kulewati cukup baik. Idayu Pedanda Stri yang berjalan di depan terus saja melangkah tanpa berbicara atau menoleh kepadaku. Jalannya masih tegap. Tidak kudengar napas yang memburu. Aku harus mengacungkan jempol kepada wanita tua itu.
     Ketika tiba di lereng sebuah bukit, kami membelok ke selatan. Di sana tumbuhan cukup banyak. Pepohonan besar tumbuh dengan subur. Ketika tiba di dekat sebuah gua, Idayu Pedanda Stri memberi isyarat agar aku masuk. Mulut gua yang diterangi cahaya bulan memudahkan aku mencapainya. Dari cahaya putih yang memantul, jelas bahwa ini gua kapur. Setapak demi setapak aku masuk ke dalam gua yang gelap. Aku berhati-hati. Kuacungkan bilah tombak itu di depan.
     Setelah berjalan beberapa saat, terlihat berkas cahaya yang masuk ke gua. Rupanya ada celah di atas. Kini dengan jelas tampak seluruh ruangan. Di sebuah ceruk kulihat benda hitam besar menggeliat. Dua cahaya hijau cemerlang. Ketika mataku sudah biasa di dalam keadaan remang-remang, dapat kupastikan bahwa benda hitam itu adalah ular. Ya, ular yang besar. Bilah tombak di tanganku kugenggam erat-erat. Bilah itu terasa menggeliat juga.
     Tiba-tiba bilah tombak di tanganku meluncur, menerjang ke depan. Dan yang kulihat sungguh menakjubkan. Kini terlihat dua ekor ular besar yang saling melilit. Entah berkelahi, entah melepaskan rindu. Tetapi keduanya tidak saling menggigit. Tampak jelas betapa erotiknya gerakan keduanya Kini aku dapat memastikan bahwa keduanya sedang melepas rindu.
     Gerakannya makin lama makin hebat. Lilitan makin tak teratur. Cepat sekali. Lalu, dengan tiba-tiba keduanya meregang, dan ... berhenti diam. Begitu kuperhatikan, kedua ekor ular besar itu sudah tidak kelihatan lagi. Kuberanikan diri mendekat. Di tempat itu kini menggeletak dua bilah mata tombak. Kuambil keduanya, kubungkus dengan kain flanel yang kubawa. Di luar gua aku disambut oleh Idayu Padanda Stri yang tersenyum penuh kemenangan.
cerita Murhono HS
terbit di Majalah Senang no.00534, thn 1982 

Author Name

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.