Pergulatan Filosofis di Korpala

     Suatu hari di tahun 1989, di ruang D4, di sela-sela persiapan ekspedisi putri Ary untuk pemanjatan tebing Bambapuang, saya dan Nevy terlibat dalam percakapan yang serius tentang Korpala dan bagaimana Korpala bisa menjadi sebuah way of life. Diskusi filosofis yang intens di antara kami sering terjadi di mabes, di tengah riuhnya berbagai wacana yang beredar. Salah satu topik yang sering dibahas adalah konsep cosmos consciousness yang dijabarkan oleh Kak Ono. Konsep ini menggambarkan bagaimana kita sebagai manusia adalah bagian dari alam semesta yang lebih besar, dan bagaimana kesadaran ini mempengaruhi pola relasi kita terhadap alam dan Tuhan. Dalam pandangan ini, mikrokosmos dan makrokosmos saling berkaitan, mencerminkan harmoni antara diri manusia dan alam semesta.

     Cosmos consciousness bukanlah konsep yang hanya ada dalam khasanah filsuf Muslim tetapi juga berkembang di kalangan filsuf secara umum. Filsuf seperti Al-Ghazali dan Ibnu Arabi telah membahas hubungan antara mikrokosmos dan makrokosmos dalam karya-karya mereka. Al-Ghazali, dalam bukunya "Ihya Ulumuddin", menjelaskan bagaimana manusia harus menyadari posisinya dalam alam semesta dan bertindak sesuai dengan kesadaran ini. Sementara itu, Ibnu Arabi menekankan pentingnya hubungan spiritual antara manusia dan Tuhan, dan bagaimana alam semesta adalah manifestasi dari Tuhan. 

     Pythagoras dan Heraklitus adalah dua filsuf Yunani Kuno yang sering berbicara tentang hubungan antara mikro dan makrokosmos. Mereka menganggap manusia sebagai cerminan dari alam semesta yang lebih besar. Plato, dalam beberapa dialognya, juga membahas ide bahwa manusia dan alam semesta memiliki struktur yang serupa dan saling mencerminkan satu sama lain. Tradisi Hermetisisme, yang berasal dari tulisan-tulisan yang dikaitkan dengan Hermes Trismegistus, mengajarkan bahwa "apa yang di atas adalah sama dengan yang di bawah" atau "As above, so below." Ini menggambarkan gagasan bahwa manusia adalah cerminan dari alam semesta. Tulisan-tulisan ini menekankan bahwa setiap elemen di alam semesta memiliki padanan dalam diri manusia, dan memahami satu dapat membantu memahami yang lain. Konsep ini sangat relevan untuk Korpala dimana kita belajar dan menyuadari diri sebagai bagian semesta yang luas, saling terhubung timbal balik, memahami alam semesta dan menghargai kehidupan di dalamnya.

     Dalam hal pendidikan, secara becanda juga sering membahas konsep-konsep yang diadopsi dari cerita-cerita Kho Ping Ho yang banyak dibaca oleh Hukman dan teman-teman lainnya. Cerita-cerita ini sering mengangkat filosofi pendidikan di kuil-kuil Shaolin. Di Shaolin, pendidikan tidak hanya berfokus pada keterampilan teknis tetapi juga pada pengembangan karakter dan disiplin. Para biksu Shaolin terkenal dengan latihan fisik yang keras dan disiplin yang tinggi, tetapi mereka juga menekankan pentingnya tata krama dan etika. Kualitas-kualitas ini sangat penting dalam membentuk karakter anggota Korpala, yang diharapkan memiliki disiplin tinggi dengan etika dan integritas yang kuat.

      Selain dari konsep pendidikan di Shaolin, yang juga sering didiskusikan adalah tentang pendidikan dalam tradisi Sufisme. Tulisan-tulisan Al-Ghazali dan filsuf Muslim lainnya sangat mempengaruhi diskusi kami. Dalam tradisi Sufi, pendidikan tidak hanya berfokus pada pengetahuan tetapi juga pada pengembangan spiritual dan moral. Relasi antara guru dan murid sangat penting, dengan guru dianggap sebagai pembimbing spiritual yang membantu murid mencapai kesadaran yang lebih tinggi. Kualitas-kualitas seperti kejujuran, kerendahan hati, dan ketekunan, adalah watak yang sangat ditekankan. Hal ini bisa menjadi pilar nilai-nilai yang dapat kita tanamkan dalam Korpala, di mana anggota diharapkan memiliki integritas dan komitmen yang kuat terhadap nilai-nilai moral dan spiritual.

     Yang tidak kalah menarik adalah buku Musashi yang ditulis oleh Eiji Yoshikawa. Nilai-nilai, perjuangan, dan proses pelatihan yang dilalui oleh Musashi menjadi contoh yang sangat menginspirasi. Musashi dikenal dengan disiplin dan ketekunannya dalam berlatih, serta filosofinya yang menekankan keseimbangan antara kekuatan fisik dan mental. Karakter Musashi yang tegas dan bijaksana dengan filosofi Zen dapat menjadi model bagi anggota Korpala dalam mengembangkan keterampilan dan karakter mereka. Duo Malawat, Ma’ruf dan Demiati, sering membicarakan fragmen-fragmen pertarungan dan dasar filosofi Musashi dalam proses perkembangan dirinya. Teknik meditasi Zen yang mengarahkan pencapaian ketenangan batin dan kesederhanaan, dapat membantu anggota Korpala menghadapi tantangan dengan tenang dan bijaksana.

     Pada tahun 2011, Iwan Amran dan Bang Haji Indra sempat mampir di mabes. Saya sangat ingin mendiskusikan hal ini lebih lanjut dengan mereka. Namun, banyak hal terjadi dan kami tidak bertemu lagi hingga kini. Iwan hanya menitipkan harap sekiranya saya dapat hadir di garis edar aktif Korpala untuk beraneka gelut pikiran yang telah mengeram sekian lama di Korpala. Lahirlah ide membuat antology di hari-hari berkabung kepergian Iwan. Dan di tahun 2023, saya mengajak secara terbuka kepada teman-teman dan saudara-saudara se-Korpala untuk bersama-sama membuat antologi yang dapat merangkum semua pemikiran dan makna kehidupan selama kita di Korpala. Salah satu draft tulisan saya untuk antologi itu, saya sajikan di halaman ini sekarang. Di dalamnya saya tambahkan pemikiran-pemikiran Stoik yang saya pandang sangat relevan sebagai salah satu sendi penopang way of life Korpala.

     Stoikisme menekankan pentingnya ketenangan pikiran dan pengendalian diri dalam menghadapi tantangan hidup. Filosofi ini sangat praktis dan berfokus pada bagaimana kita dapat menghadapi situasi sulit dengan ketenangan dan rasionalitas. Ajaran Stoik mengajarkan kita untuk menerima apa yang tidak bisa kita ubah dan fokus pada apa yang bisa kita kendalikan. Ini sangat relevan dengan kegiatan Korpala yang sering menghadapi tantangan alam dan kondisi ekstrem. Anggota Korpala didorong untuk tetap tenang dan rasional dalam menghadapi situasi sulit, mengembangkan ketangguhan mental dan emosional yang diperlukan untuk bertahan hidup dan berhasil dalam setiap kegiatan.

     Sekarang, tulisan ini akan tetap saya biarkan terbuka untuk tambahan di sana sini sehingga memperkaya wacana Korpala kita. Tentu saja, dengan segala kerendahan hati, tambahan dan masukan sangat dinantikan dari setiap insan Korpala dan juga dari para pendiri d’Corps yang masih ada. Tidak ketinggalan, spesial untuk Bang Haji Indra, masih ditunggu hadir di mabes atau mungkin saat dikdas di Lembanna, melanjutkan diskusi kita yang belum selesai.

     Korpala sebagai way of life bukan hanya tentang bagaimana kita bertahan hidup di alam bebas tetapi juga tentang bagaimana kita mengembangkan karakter dan nilai-nilai yang kuat. Dengan mengadopsi filosofi-filosofi ini, kita dapat membentuk anggota Korpala yang memiliki kesadaran kosmos, disiplin, dan ketenangan batin. Hal ini akan membantu kita dalam menghadapi tantangan hidup dengan bijaksana dan penuh integritas, menjadikan Korpala bukan hanya sebuah organisasi pencinta alam tetapi juga sebuah komunitas yang menginspirasi dan mendukung anggotanya untuk mencapai potensi terbaik mereka. Dengan demikian, kita dapat terus melanjutkan warisan Korpala dan memastikan bahwa nilai-nilai dan filosofi ini akan terus hidup dan berkembang dalam setiap generasi anggota Korpala.

Diskusi filosofis yang intens, percakapan serius tentang Korpala dan bagaimana Korpala menjadi sebuah way of life

Label:

Posting Komentar

Posting Komentar

...

Emoticon
:) :)) ;(( :-) =)) ;( ;-( :d :-d @-) :p :o :>) (o) [-( :-? (p) :-s (m) 8-) :-t :-b b-( :-# =p~ $-) (b) (f) x-) (k) (h) (c) cheer
Click to see the code!
To insert emoticon you must added at least one space before the code.

Author Name

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.