Manusia menyukai pujian bukan karena ia dangkal, melainkan karena ia rapuh. Sejak awal, manusia belajar mengenali dirinya melalui pantulan: senyum orang tua, anggukan guru, tepukan kecil yang berkata, “kau ada, dan keberadaanmu diterima.” Pujian bekerja sebagai penanda eksistensi. Ia memberi rasa terlihat, diakui, dan ditempatkan dalam dunia sosial. Dalam kadar tertentu, kebutuhan ini wajar dan bahkan sehat.
Karena itulah pujian kemudian dipelajari, dirumuskan, dan diajarkan. Dalam buku-buku pengembangan diri yang sangat populer, pujian disarankan sebagai strategi relasi: ucapkan hal baik, buat orang lain merasa penting, maka pintu akan terbuka. Secara teknis, nasihat itu benar. Pujian memang efektif. Ia melunakkan suasana, mempercepat kedekatan, dan sering kali membuat kepentingan berjalan lebih lancar.
Namun efektivitas tidak selalu sejalan dengan kejujuran.
Di titik tertentu, pujian berubah fungsi. Ia tidak lagi menjadi pengakuan atas kualitas, melainkan alat pelumas sosial. Ia diucapkan bukan karena sesuatu sungguh layak dihargai, tetapi karena relasi perlu dijaga, suasana perlu dihangatkan, atau posisi perlu diamankan. Pujian semacam ini tidak salah secara moral, tetapi kosong secara makna. Ia bukan dusta faktual, melainkan pengenceran nilai.
Dalam dunia yang penuh dengan pujian semacam ini, sebagian orang memilih berhenti menggunakannya secara bebas. Bukan karena mereka tidak menghargai orang lain, melainkan karena mereka menghargai makna pujian itu sendiri. Bagi mereka, pujian bukan kosmetik relasi, melainkan pernyataan serius. Sesuatu yang terlalu mudah diucapkan akan terlalu mudah pula kehilangan bobotnya.
Sikap ini sering disalahpahami. Orang yang jarang memuji kerap dianggap dingin, tidak suportif, atau kurang cakap secara sosial. Padahal yang terjadi sering kali justru sebaliknya: mereka menolak inflasi makna. Mereka tidak ingin kata-kata kehilangan daya karena diproduksi berlebihan. Mereka tidak ingin membangun kedekatan di atas afirmasi yang tidak sepenuhnya dirasakan.
Ketika pujian akhirnya diberikan oleh orang semacam ini, ia terdengar berbeda. Ia tidak mengundang balasan, tidak meminta kedekatan instan, dan tidak berfungsi sebagai sinyal transaksi. Ia hadir sebagai pengakuan, bukan strategi. Dan justru karena kelangkaannya, ia dipercaya.
Dari sudut pandang eksistensial, penolakan terhadap pujian basa-basi adalah penolakan terhadap kebohongan kecil yang dilegalkan. Bukan kebohongan tentang fakta, tetapi kebohongan tentang makna. Mengatakan sesuatu yang tidak benar-benar diyakini demi kelancaran sosial adalah bentuk pengingkaran halus terhadap diri sendiri. Tidak semua orang terganggu olehnya. Tetapi bagi sebagian orang, ia terasa menjijikkan—bukan karena orang lain salah, melainkan karena diri sendiri tidak ingin terlibat.
Sikap ini tentu memiliki harga. Relasi menjadi lebih jarang, suasana tidak selalu hangat, dan kesan ramah tidak otomatis melekat. Namun ada sesuatu yang tetap terjaga: koherensi antara kata dan batin. Tidak perlu menambal hubungan dengan basa-basi. Tidak perlu menyenangkan orang lain dengan cara yang terasa palsu.
Esai ini bukan pembelaan terhadap sikap kaku, apalagi anjuran untuk mematikan empati. Pujian yang tulus tetap memiliki tempatnya. Justru karena itu, ia perlu dijaga agar tidak menjadi murahan. Memberi pujian hanya pada hal yang sungguh layak dipuji adalah bentuk penghormatan—bukan hanya kepada penerimanya, tetapi juga kepada bahasa itu sendiri.
Dalam dunia yang semakin riuh oleh afirmasi instan dan sanjungan cepat, keheningan semacam ini mungkin terasa asing. Namun di sanalah tersimpan satu pelajaran sederhana: bahwa tidak semua yang efektif itu bermakna, dan tidak semua yang menyenangkan perlu diucapkan. Kadang, menjaga makna lebih penting daripada menjaga suasana.
Posting Komentar
...