Harga yang Tidak Pernah Tercantum

     Di masa Orde Baru ketika kebebasan sering disebut tetapi jarang benar-benar diizinkan, menjadi jurnalis bukan sekadar memilih profesi. Ia adalah keputusan tentang sejauh mana seseorang bersedia hidup dengan garis batas yang samar, dengan ruang gerak yang selalu diawasi, dan dengan risiko yang tidak pernah diumumkan secara resmi.

     Seorang mahasiswa, seusai mengikuti pelatihan jurnalistik di zaman itu, dinilai cakap dan menjanjikan. Sebuah tawaran datang dari salah satu penerbit koran terbesar di wilayahnya. Tawaran yang, dalam logika umum, nyaris sempurna: stabilitas, jaringan luas, pengaruh sosial, dan peluang materi yang melampaui kehidupan rata-rata. Bahkan ada bisikan tambahan—penyimpangan kecil yang “halus” bukan hanya dimaklumi, tetapi sudah menjadi rahasia umum. Semua tampak wajar. Semua tampak masuk akal.

     Namun zaman itu juga menyimpan pengetahuan lain yang tidak tercetak di brosur perekrutan. Kebebasan pers sering hanya menjadi jargon; pelanggaran batas bisa berujung pada bui, penghilangan, atau kematian yang tidak pernah diberi nama. Bukan ancaman yang diumumkan, melainkan bayangan yang terus mengikuti. Dalam situasi seperti itu, keputusan tidak lagi sederhana. Ia berhenti menjadi soal karier, dan berubah menjadi soal cara hidup.

     Tawaran itu akhirnya ditolak.

     Penolakan tersebut bukan lahir dari keberanian dramatis atau idealisme yang ingin dipamerkan. Ia muncul dari pembacaan yang jernih terhadap harga yang harus dibayar. Bukan hanya harga politik, melainkan harga batin: hidup sambil terus menimbang kata, menunda kebenaran, dan membiasakan diri berdamai dengan kompromi yang mula-mula kecil, lalu tumbuh menjadi kebiasaan.

     Tahun-tahun berlalu. Pertemuan dengan sesama alumni pelatihan jurnalistik menghadirkan perbandingan yang tak terelakkan. Banyak yang menempuh jalan yang ditawarkan waktu itu, menikmati hidup yang lebih nyaman, mapan, dan secara sosial dianggap sukses. Sebaliknya, kehidupan orang yang menolak tawaran itu berjalan lebih keras, lebih sunyi, dan sering kali hanya berfokus pada satu hal sederhana: bertahan.

     Dari luar, keputusan itu tampak seperti kesalahan strategis. Peluang besar dilepas, masa depan “aman” ditinggalkan. Penyesalan seolah wajar untuk diasumsikan. Tetapi asumsi itu keliru. Tidak ada penyesalan di sana, karena sejak awal pilihan tersebut diambil dengan kesadaran penuh, lengkap dengan semua konsekuensinya.

     Di sinilah perbedaan mendasarnya. Banyak orang menderita karena hidup sulit. Tetapi penderitaan yang paling menggerogoti biasanya datang dari hidup yang tidak pernah benar-benar dipilih. Hidup yang dijalani sambil terus berkata, “seandainya dulu,” atau “aku sebenarnya tidak ingin ini.” Dalam logika eksistensial, luka semacam itu jauh lebih dalam daripada kesulitan ekonomi atau status sosial.

     Keputusan menolak tawaran itu adalah bentuk kejujuran eksistensial. Bukan kejujuran moral yang ingin tampak bersih, melainkan kejujuran terhadap diri sendiri: tentang batas yang tidak ingin dilanggar, tentang kebebasan yang tidak ingin dibayar dengan kepura-puraan, tentang hidup yang ingin dijalani tanpa harus terus-menerus bernegosiasi dengan hati nurani.

     Harga dari kejujuran semacam ini memang tidak murah. Ia dibayar dengan kenyamanan, pengakuan, dan rasa aman. Tetapi ada sesuatu yang tetap utuh: kepemilikan atas hidup sendiri. Tidak perlu membela diri di hadapan cermin. Tidak perlu merapikan masa lalu agar tampak masuk akal.

     Dalam dunia yang gemar mengukur keberhasilan dari hasil yang terlihat, pilihan semacam ini sering dianggap bodoh. Namun justru di sanalah nilainya tersembunyi. Ia menunjukkan bahwa tidak semua yang menguntungkan pantas diambil, dan tidak semua yang ditinggalkan adalah kegagalan.

     Esai ini bukan ajakan untuk meniru jalan yang sama. Setiap zaman memiliki tekanan dan ranjau sendiri. Tetapi ada satu pelajaran yang melampaui konteks sejarah: bahwa hidup yang utuh tidak selalu identik dengan hidup yang nyaman, dan bahwa keberanian paling sunyi sering kali adalah keberanian untuk berkata tidak—lalu tetap berdiri tegak di atas keputusan itu, tanpa penyesalan.

     Barangkali, inilah warisan paling jujur yang bisa diberikan kepada generasi berikutnya: bukan cerita tentang kesuksesan, melainkan kesaksian bahwa hidup bisa dijalani dengan kesadaran penuh, meski harus membayar mahal. Dan bahwa harga itu, bagi sebagian orang, justru layak dibayar.

Hidup bisa dijalani dengan kesadaran penuh, meski harus membayar mahal. Dan bahwa harga itu, bagi sebagian orang, justru layak dibayar.

Posting Komentar

...

[blogger][facebook]

Author Name

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.