Logika eksistensial sering disalahpahami sebagai sejenis sistem penalaran baru, seakan-akan ia ingin menggantikan logika formal dengan rumus lain yang lebih muram. Padahal justru sebaliknya: ia muncul ketika logika yang rapi itu tidak lagi cukup untuk menjawab rasa hidup. Ia bukan anti-akal, melainkan lahir dari kekecewaan pada akal yang terlalu percaya diri.
Dalam logika klasik, sesuatu itu benar atau salah, ada atau tidak ada, sebab atau akibat. Dunia disusun seperti bangunan: fondasi, pilar, atap. Manusia di dalamnya hanyalah salah satu komponen yang harus menyesuaikan diri. Eksistensialisme memulai dari tempat yang berlawanan: dari manusia yang sudah terlanjur hidup, terlempar ke dunia tanpa buku petunjuk, lalu diminta bertanggung jawab atas setiap langkahnya.
Di sini logika tidak lagi bertanya, “apa hakikat manusia?”, melainkan “bagaimana rasanya menjadi manusia yang harus memilih, padahal tidak pernah yakin?”. Ini bukan logika yang menenangkan. Ini logika yang jujur.
Logika eksistensial berangkat dari satu asumsi yang tampak sederhana tapi brutal: eksistensi mendahului esensi. Kita hidup dulu, baru kemudian mencoba memberi arti. Tidak ada cetak biru yang turun dari langit, tidak ada peran tetap yang menjamin keselamatan makna. Bahkan ketika seseorang memeluk agama, ideologi, atau moralitas tertentu, eksistensialisme akan bertanya dengan nada dingin: apakah itu pilihan yang sungguh dihayati, atau sekadar tempat berlindung dari kebebasan?
Karena itu kecemasan bukan gangguan dalam kerangka ini, melainkan sinyal. Heidegger menyebutnya sebagai kegentaran yang tidak menunjuk pada objek tertentu. Bukan takut pada harimau atau kegagalan, melainkan gemetar karena menyadari bahwa hidup ini terbuka, terlalu terbuka. Dalam logika biasa, kecemasan harus dihilangkan. Dalam logika eksistensial, kecemasan justru menyingkapkan kenyataan paling telanjang: bahwa kita bebas, dan kebebasan itu mahal.
Harapan pun diperlakukan dengan cara yang tidak romantis. Ia bukan janji bahwa segalanya akan baik-baik saja. Harapan eksistensial lebih dekat dengan keberanian untuk tetap melangkah meski tidak ada jaminan. Camus tidak menawarkan surga setelah absurditas; ia hanya menawarkan satu sikap keras kepala: terus hidup dengan mata terbuka. Dalam logika ini, harapan dan kecemasan bukan dua kutub yang saling meniadakan, melainkan dua arus yang sering mengalir bersamaan. Seseorang berharap justru karena ia cemas, dan bertahan justru karena sadar tidak ada pegangan absolut.
Logika eksistensial juga tidak bekerja dengan kesimpulan final. Ia tidak menutup argumen dengan “maka”. Ia lebih mirip lingkaran yang terus berputar: memilih, meragukan, memilih lagi. Kesalahan bukan dosa metafisik, melainkan bagian dari menjadi. Bahkan kejatuhan pun bisa otentik, selama ia diakui sebagai hasil pilihan, bukan disembunyikan di balik dalih nasib atau sistem.
Yang paling mengganggu dari logika ini adalah tuntutan tanggung jawabnya. Tidak ada tempat untuk bersembunyi. Jika makna hidup tidak diberikan, maka setiap makna yang kita anut adalah kerja kita sendiri—dan karena itu bisa dipersoalkan. Tidak ada pengadilan kosmik yang bisa kita salahkan sepenuhnya. Dunia boleh absurd, tetapi sikap kita terhadap absurditas itu adalah urusan kita.
Maka logika eksistensial bukanlah logika yang ingin menang debat. Ia tidak sibuk membuktikan. Ia hadir seperti cermin yang terlalu jujur: memantulkan wajah kita apa adanya, lengkap dengan kebimbangan, kontradiksi, dan upaya kecil untuk tetap waras. Ia tidak menjanjikan ketenangan, hanya kejelasan pahit bahwa hidup ini tidak pernah sederhana—dan justru di sanalah, anehnya, martabat manusia bertahan.

Posting Komentar
...