Madilog: Sebuah Narasi Filsafat tentang Pembebasan Pikiran

     Tan Malaka menulis Madilog bukan sebagai buku filsafat yang ingin dipuja, melainkan sebagai alat kerja. Ia seperti palu yang sengaja dibuat berat, supaya jika dipukulkan ke kepala—tepatnya ke cara berpikir—akan terdengar bunyi retak. Retak itu penting. Sebab yang hendak ia pecahkan bukan tengkorak, melainkan kebiasaan lama bangsa ini dalam memperlakukan realitas: terlalu sering diserahkan kepada mitos, terlalu jarang diuji oleh akal.

     Judul Madilog sendiri sudah terang-terangan: materialisme, dialektika, logika. Tiga kata yang sengaja disusun Tan Malaka seperti rangka tulang. Tanpa ketiganya, pikiran akan ambruk, atau lebih parah, berdiri tegak tapi kosong.

     Materialisme, dalam pengertian Tan Malaka, bukan soal cinta berlebihan pada benda atau kerakusan ekonomi sebagaimana sering disalahpahami. Ia menunjuk pada pengakuan sederhana namun keras kepala: realitas objektif itu ada, terlepas dari perasaan, doa, atau tafsir kita. Batu tetap batu, apakah ia dianggap keramat atau tidak. Hujan turun karena proses alam, bukan karena satu kampung lupa mengadakan ritual. Materialisme adalah disiplin untuk memulai berpikir dari dunia yang nyata, terukur, bisa diuji, dan—yang paling menyebalkan—tidak peduli pada kepercayaan kita. Di sini Tan Malaka ingin membersihkan meja terlebih dahulu: sebelum bicara makna, lihat dulu kenyataannya.

     Namun realitas objektif tidak pernah beku. Karena itu ia menambahkan dialektika. Dialektika adalah cara membaca dunia sebagai proses, sebagai gerak, sebagai pertentangan yang terus melahirkan bentuk baru. Tidak ada keadaan sosial yang abadi, tidak ada tatanan yang turun dari langit lalu berhenti berkembang. Segala sesuatu bergerak melalui konflik: tesis berhadapan dengan antitesis, lalu melahirkan sintesis yang sementara, sebelum kembali digugat oleh kontradiksi berikutnya. Bagi Tan Malaka, dialektika adalah vaksin terhadap kepasrahan. Ia melatih pikiran untuk curiga pada keadaan yang katanya “sudah dari sananya begini”. Dalam dialektika, ketidakadilan bukan takdir, melainkan hasil sejarah—dan karena itu bisa diubah oleh sejarah pula.

     Logika menjadi pilar ketiga. Jika materialisme menyediakan tanah dan dialektika menunjukkan arus sungai, maka logika adalah cara berjalan agar tidak tergelincir. Logika bagi Tan Malaka adalah disiplin berpikir yang menuntut konsistensi, hubungan sebab-akibat yang jelas, dan keberanian menolak kesimpulan yang tidak didukung premis. Ia bukan sekadar alat akademik, melainkan etika intelektual. Dengan logika, seseorang dipaksa bertanya: dari mana kesimpulan ini datang? Apa buktinya? Apa hubungan antara pernyataan pertama dan kedua? Di negeri yang gemar meloncat dari perasaan ke keyakinan, logika adalah rem yang sering dianggap mengganggu kenyamanan.

     Di titik inilah Madilog menjadi buku yang tidak ramah. Ia bukan hanya mengkritik cara berpikir feodal dan kolonial, tetapi juga menyinggung wilayah yang lebih sensitif: logika mistika.

     Tan Malaka tidak menutup mata bahwa masyarakat Indonesia hidup dalam dunia makna yang kaya simbol, mitos, dan pengalaman batin. Namun ia membedakan dengan tegas antara pengalaman subjektif, intersubjektif, dan realitas objektif. Logika mistika, dalam pandangannya, bekerja di wilayah realitas intersubjektif: sesuatu dianggap benar bukan karena ia dapat diuji secara objektif, melainkan karena diyakini bersama, diwariskan, dan disucikan oleh komunitas. Di sini, kebenaran lahir dari kesepakatan emosional dan kultural, bukan dari verifikasi rasional. Masalah muncul ketika logika mistika ini melompat wilayah, mengklaim otoritas atas dunia material dan sosial. Ketika penyakit dijelaskan sepenuhnya sebagai kutukan, kemiskinan sebagai nasib, kekuasaan sebagai wahyu.

Tan Malaka tidak menertawakan mistik sebagai pengalaman batin. Yang ia gugat adalah ketika logika mistika dipakai untuk menutup pertanyaan, membekukan kritik, dan melarang penyelidikan. Dalam bahasa yang lebih tajam: mistik menjadi alat kekuasaan ketika ia anti-logika dan anti-dialektika. Ia menciptakan ketertiban semu, dengan harga mahal: akal yang dilumpuhkan.

     Di sinilah kita bisa memahami mengapa Madilog begitu mengganggu, dan mengapa ia dilarang pada masa Orde Baru. Larangan itu tentu dibungkus alasan ideologis: Tan Malaka seorang komunis, Madilog dianggap bagian dari literatur kiri yang berbahaya. Itu benar, tapi tidak lengkap. Yang lebih mengusik adalah muatan epistemologisnya. Madilog mengajarkan rakyat untuk berpikir sebab-akibat, mempertanyakan otoritas, dan menolak penjelasan magis atas ketimpangan sosial. Sebuah rezim yang bertahan dengan mitos stabilitas, sakralisasi kekuasaan, dan ketakutan kolektif tentu merasa terancam oleh buku yang mengajak orang berpikir lurus dan berani.

     Tambahkan ke dalamnya konteks budaya. Martin van Bruinessen, pada 1994, mencatat bahwa sekitar 77 persen orang Indonesia hidup dalam dunia tahayul. Angka itu sendiri sudah cukup membuat dahi berkerut, meski—secara jujur—perasaan saya mengatakan jumlahnya mungkin lebih tinggi. Dalam masyarakat yang mayoritas cara berpikirnya nyaman dengan penjelasan mistis, Madilog terasa seperti tamu yang datang tanpa sopan santun: ia tidak mengetuk, ia langsung membuka jendela dan membiarkan cahaya menyilaukan masuk. Reaksi defensif pun wajar. Bukan karena buku itu salah, melainkan karena ia mengganggu rasa aman kognitif.

     Madalog—jika boleh kita jujur—bukan buku yang ingin dicintai. Ia ingin dipakai. Ia ingin membuat pembacanya tidak nyaman, lalu perlahan mandiri dalam berpikir. Di negeri yang sering lebih menghargai keyakinan daripada penalaran, Tan Malaka menawarkan sesuatu yang langka: keberanian untuk berkata bahwa tidak semua yang diwariskan layak dipertahankan, dan tidak semua yang sakral layak dikecualikan dari pertanyaan.

     Barangkali itulah dosa terbesar Madilog. Ia tidak sekadar melawan kekuasaan politik, tetapi juga melawan kemalasan berpikir yang sudah berurat akar. Dan seperti semua cermin yang jujur, ia lebih sering dibenci daripada dipeluk.

Madilog bukan hanya mengkritik cara berpikir feodal dan kolonial, tetapi juga menyinggung wilayah yang lebih sensitif: logika mistika.

Posting Komentar

...

[blogger][facebook]

Author Name

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.