al-Ayyām (The Days) adalah autobiografi tiga jilid karya Taha Hussein, seorang intelektual, penulis, dan kritikus Mesir yang dianggap sebagai salah satu tokoh sastra Arab modern. Buku ini diterbitkan dalam tiga bagian antara tahun 1926 dan 1967, dan menggambarkan perjalanan hidup Hussein dari masa kanak-kanak hingga dewasa. Dalam al-Ayyām, Hussein menuliskan pengalamannya dengan gaya puitis dan penuh emosi, menawarkan pandangan mendalam tentang kehidupan, pendidikan, dan tantangan yang dihadapinya sebagai seorang penyandang tunanetra di lingkungan Mesir yang tradisional.
Jilid Pertama: Masa Kecil di Pedesaan Mesir
Bagian pertama dari al-Ayyām membawa pembaca ke masa kecil Taha Hussein di sebuah desa kecil di Mesir Hulu. Lahir pada tahun 1889, Hussein mengalami kebutaan pada usia dini, yang kemudian membentuk banyak aspek kehidupannya. Meskipun terhalang oleh keterbatasan fisik, semangatnya untuk belajar tidak pernah padam.
Dalam narasinya, Hussein menggambarkan lingkungan desa yang penuh dengan aroma kebun, suara azan, dan hiruk-pikuk kehidupan sehari-hari. Dia menceritakan bagaimana keluarganya, terutama ayah dan ibunya, memberikan dukungan tanpa henti agar dia bisa mengakses pendidikan. Menghadapi berbagai tantangan,
Hussein muda menunjukkan tekad yang luar biasa dengan menghafal Al-Quran pada usia yang sangat muda, sebuah prestasi yang mengantarkan dia ke dunia pendidikan yang lebih tinggi.
Jilid Kedua: Studi di Universitas al-Azhar dan Paris
Bagian kedua dari otobiografi ini berfokus pada masa remaja Taha Hussein ketika dia pindah ke Kairo untuk melanjutkan pendidikan. Di kota ini, Hussein menghadapi dunia baru yang penuh dengan peluang dan tantangan.
Dia menggambarkan pengalaman pertamanya di Al-Azhar, salah satu institusi pendidikan Islam tertua di dunia, di mana dia mulai merasakan ketegangan antara pendidikan tradisional dan keinginan pribadinya untuk mengeksplorasi pengetahuan yang lebih luas. Di Al-Azhar, Hussein tidak hanya belajar tentang teologi dan hukum Islam, tetapi juga terpapar pada berbagai pemikiran filosofis dan ilmiah.
Rasa lapar akan pengetahuan ini mendorongnya untuk meninggalkan Al-Azhar dan bergabung dengan Universitas Kairo, di mana dia bisa mengakses literatur Barat dan ilmu pengetahuan modern. Perjalanan akademis ini penuh dengan rintangan, termasuk perbedaan pendapat dengan beberapa ulama konservatif, tetapi Hussein tetap teguh dalam pencariannya untuk pemahaman yang lebih luas.
Jilid Ketiga: Kembali ke Mesir dan Menjadi Tokoh Nasional
Bagian ketiga dari al-Ayyām mengisahkan masa dewasa Taha Hussein, khususnya saat dia melanjutkan pendidikan di Perancis. Meninggalkan Mesir menuju Montpellier dan kemudian Paris, Hussein mengalami kebudayaan baru yang sangat kontras dengan latar belakangnya.
Di sini, dia belajar di Universitas Sorbonne dan berinteraksi dengan para intelektual Eropa, memperkaya wawasannya tentang sastra, filsafat, dan sejarah. Pengalaman ini sangat mempengaruhi pandangan hidupnya, terutama dalam hal pemikiran kritis dan kebebasan intelektual. Hussein menggambarkan bagaimana dia harus menyeimbangkan identitasnya sebagai seorang Muslim Mesir dengan gagasan-gagasan baru yang dia pelajari di Barat.
Saat kembali ke Mesir, Hussein membawa semangat reformasi dan pembaruan dalam pendidikan, menulis banyak karya yang mengkritik ketidakadilan sosial dan memperjuangkan hak-hak pendidikan bagi semua orang, termasuk perempuan.
Dalam keseluruhan karyanya, al-Ayyām tidak hanya sekadar otobiografi, tetapi juga sebuah refleksi mendalam tentang kondisi sosial, politik, dan budaya Mesir pada awal abad ke-20. Taha Hussein menggunakan kisah pribadinya untuk mengkritik banyak aspek dari masyarakatnya, termasuk ketidakadilan sosial, buta huruf, dan konservatisme agama yang menurutnya menghambat kemajuan. Dia menggambarkan bagaimana pendidikan memiliki kekuatan untuk mengubah kehidupan individu dan masyarakat. Hussein percaya bahwa pengetahuan harus dapat diakses oleh semua orang, tanpa memandang jenis kelamin, status sosial, atau latar belakang etnis. Sikapnya yang kritis terhadap institusi-institusi tradisional membuatnya sering kali berada dalam posisi yang kontroversial, tetapi dia tidak pernah mundur dari keyakinannya bahwa reformasi adalah kunci untuk kemajuan.
Selain itu, al-Ayyām juga memberikan wawasan tentang bagaimana Hussein melihat dirinya sebagai bagian dari dunia yang lebih besar. Dia menyadari bahwa pemikirannya dipengaruhi oleh berbagai tradisi intelektual, baik dari Timur maupun Barat. Dalam narasinya, Hussein sering kali mengajak pembaca untuk melihat ke masa depan dengan harapan dan optimisme, percaya bahwa dialog antar peradaban dan keterbukaan terhadap ide-ide baru adalah jalan menuju kemajuan. Buku ini juga menunjukkan bagaimana Hussein berjuang untuk mempertahankan identitasnya di tengah perubahan yang cepat dan tantangan yang terus-menerus. Pengalaman hidupnya mengajarkan pentingnya ketekunan, keberanian, dan kemauan untuk terus belajar dan beradaptasi.
al-Ayyām adalah sebuah karya yang kaya dengan makna dan pemikiran mendalam. Melalui kisah hidupnya, Taha Hussein tidak hanya menceritakan perjuangan pribadi, tetapi juga memberikan pelajaran berharga tentang pentingnya pendidikan, kebebasan intelektual, dan reformasi sosial. Buku ini mengingatkan kita bahwa meskipun menghadapi berbagai rintangan, semangat untuk belajar dan memperjuangkan keadilan adalah hal yang tidak boleh pernah padam. Dengan gayanya yang lugas namun penuh emosi, Hussein berhasil menyampaikan pesan yang tetap relevan hingga hari ini. Karya ini adalah sebuah warisan intelektual yang terus menginspirasi generasi baru untuk terus mencari pengetahuan dan berjuang untuk perbaikan masyarakat.
Posting Komentar