Ada masa ketika manusia begitu tergoda oleh gagasan tentang sesuatu yang tanpa cacat. Segala hal diukur, diperhalus, dipoles, seolah dunia adalah permukaan kaca yang harus selalu bersih dari sidik jari. Kesempurnaan diperlakukan seperti tujuan akhir—tenang, stabil, tidak terganggu. Namun anehnya, ketika sesuatu benar-benar mendekati sempurna, ia justru terasa jauh. Terlalu rapi untuk disentuh, terlalu halus untuk ditempati.

     Barangkali karena manusia sendiri tidak pernah hidup dalam garis yang lurus. Ia bernapas dalam ritme yang tidak stabil, berpikir dalam lompatan, merasa dalam gelombang. Ada sesuatu dalam diri manusia yang mengenali ketidakteraturan sebagai bagian dari keakraban. Seperti langkah kaki di jalan berbatu yang tidak pernah benar-benar simetris, namun justru memberi keseimbangan yang lebih jujur daripada lantai yang terlalu rata.

     Di suatu sore yang biasa, seseorang mungkin mendengarkan sebuah lagu yang sudah sangat dikenal. Versi aslinya sempurna—nada tepat, tempo terjaga, suara bersih seperti kaca baru. Namun yang diputar justru versi lain, suara yang sedikit goyah di beberapa bagian, napas yang terdengar lebih panjang dari yang seharusnya, nada yang sesekali meleset tipis. Aneh, karena di situlah justru muncul rasa yang lebih dekat. Seolah lagu itu tidak lagi berdiri di atas panggung, tetapi duduk di sebelah kita.

     Ketidaksempurnaan kecil itu bekerja seperti celah. Ia memberi ruang bagi pendengar untuk masuk, untuk ikut bernapas di dalam lagu, untuk merasakan bahwa yang bernyanyi bukan sekadar suara, melainkan seseorang dengan tubuh, dengan batas, dengan keraguan yang tidak sepenuhnya tersembunyi. Dan mungkin di situlah sesuatu menjadi hidup—bukan ketika ia tanpa cacat, tetapi ketika ia cukup terbuka untuk memperlihatkan retaknya.

     Dalam banyak hal, kesempurnaan sering kali lebih dekat pada konsep daripada pengalaman. Ia dibayangkan, dirumuskan, dikejar, tetapi jarang benar-benar dialami sebagai sesuatu yang hangat. Yang sering kita temui justru versi-versi yang sedikit melenceng: percakapan yang tidak selesai, rencana yang berubah arah, hubungan yang tidak selalu stabil. Namun justru dari sana muncul rasa yang tidak bisa digantikan oleh sesuatu yang terlalu rapi.

     Ada semacam paradoks yang pelan-pelan terlihat: manusia mengejar kesempurnaan, tetapi menikmati ketidaksempurnaan. Ia ingin segala sesuatu berjalan sesuai rencana, tetapi kenangan yang paling lama tinggal justru yang tidak berjalan sebagaimana mestinya. Ia mengagumi keteraturan, tetapi merasa hidup dalam kekacauan kecil yang tidak bisa dihilangkan.

     Mungkin ini karena kesempurnaan tidak memberi ruang untuk bergerak. Ia seperti titik akhir yang tidak membuka kemungkinan lain. Sementara ketidaksempurnaan selalu menyisakan celah—ruang kecil di mana sesuatu masih bisa berubah, di mana makna belum selesai ditentukan. Dalam celah itu, manusia merasa lebih leluasa, lebih terlibat, lebih hadir.

     Di sisi lain, bukan berarti kesempurnaan tidak memiliki tempat. Ia tetap menjadi arah, semacam garis halus yang membantu kita menjaga kualitas, menjaga perhatian, menjaga niat. Tanpanya, segala hal bisa runtuh dalam ketidakpedulian. Namun ketika kesempurnaan berubah menjadi tuntutan yang kaku, ia mulai kehilangan daya tariknya. Ia berhenti menjadi inspirasi dan berubah menjadi tekanan.

     Barangkali yang lebih dekat dengan kehidupan adalah hubungan yang lebih longgar dengan kesempurnaan itu sendiri. Tidak menolaknya, tetapi juga tidak memujanya secara berlebihan. Menggunakannya sebagai penunjuk arah, bukan sebagai tempat tinggal. Karena pada akhirnya, yang membuat sesuatu terasa utuh bukanlah ketiadaan cacat, melainkan kemampuan untuk tetap hadir di dalamnya.

     Seperti lagu yang sedikit meleset nadanya, seperti suara yang tidak sepenuhnya stabil, seperti jeda yang tidak direncanakan—semua itu tidak mengurangi keindahan. Ia justru memberi tekstur, memberi kedalaman, memberi alasan bagi seseorang untuk mendengarkan lebih lama.

     Dan mungkin di situlah kesempurnaan menemukan bentuknya yang paling tenang: bukan sebagai sesuatu yang tanpa cela, tetapi sebagai sesuatu yang cukup utuh untuk diterima, cukup jujur untuk dirasakan, dan cukup terbuka untuk tidak harus sempurna.

     Ada sesuatu yang diam-diam kita sepakati sejak kecil: bahwa hidup yang baik adalah hidup yang bergerak dari keberhasilan ke keberhasilan berikutnya, seperti tangga yang rapi dan masuk akal. Kita diajari mengenali capaian, menghafal ukuran, dan merayakan hasil. Kegagalan ditempatkan sebagai gangguan sementara—sesuatu yang harus dilewati, diperbaiki, lalu dilupakan secepat mungkin. Namun ada jenis kehidupan lain yang tidak mengikuti garis itu. Ia tidak menolak keberhasilan, tetapi juga tidak menjadikannya pusat gravitasi. Ia hidup di wilayah yang lebih longgar, lebih jujur, dan kadang lebih sunyi: wilayah di mana kegagalan tidak lagi diperlakukan sebagai kecelakaan, melainkan sebagai cara berada.

     Kegagalan, jika dilihat tanpa rasa malu yang diwariskan, memiliki bentuk yang aneh. Ia tidak selalu datang sebagai kejatuhan besar atau keputusan yang keliru. Kadang ia hadir sebagai hal yang tidak selesai, pilihan yang tidak pernah benar-benar dipilih, atau arah yang tiba-tiba kehilangan makna di tengah jalan. Ada pekerjaan yang dijalani dengan baik namun terasa kosong, ada relasi yang tampak utuh namun tidak pernah benar-benar hidup, ada ambisi yang tercapai tetapi tidak pernah memberikan rasa tiba. Dalam keadaan seperti itu, kegagalan tidak berisik. Ia tenang, hampir sopan, seperti tamu yang tidak diundang tetapi tidak bisa diminta pulang.

     Menjadikan kegagalan sebagai bagian dari cara hidup bukan berarti memuja kesalahan atau merayakan ketidakmampuan. Ia lebih dekat pada kesediaan untuk tidak segera menambal semua yang retak. Ada orang yang setiap kali sesuatu tidak berjalan sesuai rencana, ia buru-buru memperbaiki, mengganti, atau menjelaskan ulang agar tetap tampak utuh. Ada pula yang memilih duduk sejenak di tengah ketidakberesan itu, membiarkannya terbuka, melihat bentuknya tanpa tergesa menamai. Pilihan kedua ini sering terlihat seperti kelemahan, padahal di dalamnya ada keberanian yang tidak banyak dibicarakan.

     Di dunia yang menyukai cerita rapi, kegagalan sulit diberi tempat. Ia tidak punya narasi yang mudah dijual. Tidak ada puncak yang bisa ditunjuk, tidak ada garis akhir yang bisa dirayakan. Namun justru karena itu ia menyimpan sesuatu yang tidak dimiliki oleh keberhasilan: ruang untuk melihat ulang. Ketika sesuatu berhasil, kita cenderung menganggapnya benar. Ketika sesuatu gagal, kita dipaksa bertanya. Dan pertanyaan, meskipun melelahkan, sering kali lebih jujur daripada jawaban yang terlalu cepat.

     Ada humor kecil yang muncul ketika seseorang mulai akrab dengan kegagalan. Ia tidak lagi terkejut ketika rencana meleset, tidak terlalu terpesona ketika sesuatu berjalan lancar. Ia mulai melihat pola yang lebih luas: bahwa hidup tidak bekerja seperti proyek dengan timeline yang bisa dikontrol. Ada terlalu banyak variabel yang tidak bisa dihitung, terlalu banyak pertemuan yang tidak bisa direncanakan, terlalu banyak perubahan yang datang tanpa izin. Dalam kesadaran seperti itu, kegagalan berhenti menjadi kejadian luar biasa. Ia menjadi bagian dari ritme.

     Menariknya, banyak keputusan yang paling menentukan justru lahir dari apa yang pada awalnya tampak sebagai kegagalan. Jalan yang tertutup memaksa seseorang melihat jalur lain yang sebelumnya tidak dianggap. Rencana yang runtuh membuka ruang bagi kemungkinan yang tidak pernah terpikirkan. Ini bukan cara romantis untuk menenangkan diri, melainkan pengamatan sederhana: bahwa arah hidup sering terbentuk bukan dari apa yang berhasil kita lakukan, tetapi dari apa yang tidak bisa kita pertahankan.

     Namun hidup dengan kegagalan bukan tanpa harga. Ada rasa tidak nyaman yang terus menyertai—perasaan bahwa sesuatu belum selesai, bahwa arah belum jelas, bahwa diri sendiri belum sepenuhnya dipahami. Banyak orang memilih menghindari rasa itu dengan menumpuk pencapaian, mempercepat langkah, atau mengalihkan perhatian. Tidak ada yang salah dengan itu, selama seseorang sadar bahwa yang ia lakukan adalah mengatur jarak, bukan menyelesaikan.

     Sementara itu, mereka yang memilih bertahan di wilayah ini belajar cara yang berbeda untuk mengukur hidup. Bukan dari seberapa jauh mereka melangkah, tetapi dari seberapa jujur mereka melihat langkahnya. Bukan dari seberapa sering mereka sampai, tetapi dari seberapa dalam mereka memahami perjalanan. Ini bukan ukuran yang mudah, dan tentu tidak populer. Ia tidak memberikan validasi cepat, tidak menghasilkan pengakuan instan. Namun ia memberi sesuatu yang lebih tenang: hubungan yang lebih jujur dengan diri sendiri.

     Pada akhirnya, mungkin kegagalan tidak pernah benar-benar bisa dihindari. Ia hanya bisa diposisikan. Seseorang bisa menolaknya, menyembunyikannya, atau melawannya sekuat mungkin. Seseorang juga bisa memilih untuk berjalan bersamanya, membiarkannya menjadi bagian dari cara ia memahami dunia. Dalam pilihan kedua itu, ada perubahan halus: hidup tidak lagi dilihat sebagai rangkaian target yang harus dicapai, tetapi sebagai medan yang harus dijalani dengan kesadaran.

     Dan ketika suatu hari seseorang ditanya apakah ia berhasil, mungkin ia tidak menjawab dengan daftar capaian. Ia mungkin hanya tersenyum sedikit, lalu berkata bahwa ia masih belajar berjalan dengan apa yang tidak berjalan.

     Pablo Escobar memahami satu hal yang sangat tua dalam sejarah manusia: orang sering tidak memilih antara benar dan salah, tetapi antara mana yang lebih mudah ditelan oleh jiwa mereka. Kebenaran kadang datang dengan wajah buruk—miskin, pahit, memalukan, menghancurkan harga diri. Sementara kebohongan datang rapi, disetrika, harum seperti pidato pejabat menjelang pemilu.

     Seorang ayah bisa berkata kepada anaknya bahwa semuanya akan baik-baik saja, padahal ia sendiri tahu isi dompetnya tinggal suara gesekan kartu ATM. Seorang negara bisa berkata ekonomi sedang kuat sambil rakyat menghitung ulang harga cabai di pasar. Seorang manusia bisa tersenyum di foto, lalu malamnya menatap langit-langit kamar seperti tahanan yang lupa apa kesalahannya.

     Kadang kebohongan bukan sekadar alat manipulasi. Ia juga anestesi sosial. Obat bius agar manusia tetap bangun pagi dan bekerja tanpa terlalu banyak bertanya.

     Tetapi ada ironi yang lebih gelap: semakin lama sebuah masyarakat hidup dari kebohongan yang “perlu”, semakin rapuh kemampuannya menerima kenyataan. Lama-lama kebenaran tidak lagi terasa menyakitkan—melainkan terasa ofensif. Orang marah bukan karena dibohongi, tetapi karena ada yang cukup kurang ajar untuk mengatakan kenyataan.

     Itulah sebabnya banyak zaman runtuh bukan karena kekurangan fakta, melainkan kelebihan ilusi yang dipelihara bersama-sama.

     Namun saya kira ada sesuatu yang bahkan lebih tragis dari kebohongan itu sendiri: ketika manusia tahu dirinya sedang dibohongi, tetapi memilih ikut bermain karena realitas terasa terlalu mahal untuk dihadapi sendirian.

     Mungkin Escobar memahami pasar narkotika. Tetapi dunia modern memahami pasar ilusi. Dan pasar ilusi jauh lebih besar. Ia menjual harapan instan, citra sukses, nasionalisme kemasan, spiritualitas siap saji, produktivitas tanpa jiwa, bahkan cinta yang sudah diberi filter.

     Manusia ternyata bukan hanya makhluk pencari kebenaran. Ia juga makhluk pencari kenyamanan agar sanggup hidup sampai besok pagi.

     Ada kalimat-kalimat yang terdengar bersih, seperti air yang jernih di permukaan, tetapi ketika disentuh, terasa ada arus kecil yang bergerak di bawahnya. Tidak keruh, tidak kotor, hanya tidak sepenuhnya diam. Kejujuran sering hadir seperti itu—terlihat sederhana, bahkan menenangkan, namun menyimpan sesuatu yang tidak langsung terlihat. Kita mendengarnya, mengangguk, dan merasa bahwa segala sesuatu sudah diletakkan pada tempatnya. Padahal, yang terjadi tidak sesederhana itu.

     Manusia memiliki hubungan yang aneh dengan kejujuran. Ia mengagungkannya, mengajarkannya, bahkan menjadikannya ukuran moral yang tinggi. Namun pada saat yang sama, ia juga pandai membengkokkannya sedikit, cukup untuk menyesuaikan dengan kebutuhan yang tidak selalu ingin diakui. Ada kejujuran yang diucapkan bukan untuk membuka, tetapi untuk mengatur. Bukan untuk memperjelas, tetapi untuk mengarahkan. Kalimatnya tetap benar, faktanya tidak berubah, tetapi arah dari kejujuran itu sudah memiliki tujuan.

     Di dalam percakapan sehari-hari, hal ini sering lewat tanpa disadari. Seseorang berkata terus terang tentang apa yang ia rasakan, tetapi memilih bagian mana yang diucapkan dan mana yang disimpan. Tidak ada yang salah dalam pilihan itu—manusia memang tidak wajib membuka seluruh dirinya. Namun di titik tertentu, kejujuran mulai menjadi sesuatu yang dirancang. Ia dipilih, disusun, disampaikan dengan cara yang tidak hanya mempertimbangkan kebenaran, tetapi juga dampak. Apa yang akan dipikirkan orang lain, bagaimana posisi akan berubah, apakah simpati akan muncul atau justru hilang.

     Ada sesuatu yang halus di sini, sesuatu yang tidak mudah disebut sebagai kesalahan. Karena memang tidak ada kebohongan yang jelas. Yang ada hanyalah kejujuran yang sudah bernegosiasi dengan hal lain: dengan ketakutan, dengan harapan, dengan keinginan untuk tetap terlihat baik. Dalam bentuk ini, kejujuran tidak lagi berdiri sendiri. Ia berjalan bersama motif yang tidak selalu ingin ditampilkan.

     Yang lebih menarik adalah ketika seseorang benar-benar merasa dirinya jujur. Ia tidak sedang berpura-pura, tidak merasa sedang memainkan peran. Apa yang ia katakan memang sesuai dengan apa yang ia rasakan pada saat itu. Namun perasaan itu sendiri sudah terbentuk dari banyak hal yang tidak sepenuhnya ia sadari. Ia ingin dimengerti, ingin diterima, ingin tidak disalahkan. Dan tanpa sadar, kejujuran yang ia sampaikan sudah mengarah ke sana.

     Di titik ini, kejujuran menjadi sesuatu yang lebih kompleks dari sekadar benar atau salah. Ia bukan lagi soal apakah kalimat itu sesuai dengan fakta, tetapi apakah ia benar-benar membuka atau justru menyembunyikan sesuatu dengan cara yang lebih halus. Ada kejujuran yang seperti jendela, membuat sesuatu terlihat. Ada pula yang seperti tirai tipis—membiarkan cahaya masuk, tetapi tetap mengaburkan bentuk yang ada di baliknya.

     Kita juga sering menggunakan kejujuran sebagai cara untuk merasa lebih ringan. Mengatakan sesuatu yang selama ini dipendam bisa memberi rasa lega, seolah beban berpindah dari dalam ke luar. Namun bahkan di sana, kejujuran tidak selalu murni. Ada pilihan tentang bagaimana mengatakannya, kapan mengatakannya, kepada siapa ia diarahkan. Kadang kita memilih momen ketika kejujuran itu akan lebih mudah diterima, atau ketika risiko terasa lebih kecil. Kejujuran yang seperti ini tetap jujur, tetapi tidak sepenuhnya bebas.

     Mungkin ini bukan sesuatu yang perlu dihakimi. Ia lebih dekat pada kondisi manusia itu sendiri. Kita tidak hidup sebagai makhluk yang sepenuhnya transparan. Selalu ada lapisan, selalu ada bagian yang belum siap untuk dilihat, bahkan oleh diri sendiri. Dalam kondisi seperti itu, kejujuran tidak pernah datang dalam bentuk yang benar-benar utuh. Ia selalu membawa sedikit bayangan dari sesuatu yang lain.

     Dan justru di situlah letak kejujuran yang lebih dalam—bukan pada usaha untuk menjadi sepenuhnya bersih, tetapi pada kesadaran bahwa kita tidak sepenuhnya bersih. Ada momen ketika seseorang mulai melihat bahwa apa yang ia anggap sebagai keterbukaan ternyata masih menyisakan ruang yang tidak ia sentuh. Bukan karena ia sengaja menyembunyikan, tetapi karena ia belum sampai ke sana.

     Kesadaran seperti ini tidak membuat seseorang berhenti berbicara, tidak membuatnya menjadi kaku atau penuh curiga pada dirinya sendiri. Ia hanya menambahkan lapisan keheningan di dalam kejujuran itu. Sebuah ruang kecil di mana seseorang tahu bahwa apa yang ia katakan adalah benar, tetapi mungkin belum seluruhnya. Dan ruang itu tidak harus segera diisi.

     Pada akhirnya, mungkin kejujuran bukan sesuatu yang bisa dicapai sebagai kondisi akhir. Ia lebih seperti gerak yang terus berlangsung—mendekat, menjauh, membuka, lalu menyadari bahwa masih ada yang belum terbuka. Dalam gerak itu, ada kejujuran yang terasa ringan, ada pula yang terasa berat. Keduanya bagian dari hal yang sama.

     Dan mungkin, di tengah semua itu, yang paling jujur bukanlah kalimat yang terdengar paling terang, tetapi kesediaan untuk melihat bahwa bahkan dalam terang, masih ada bayangan yang ikut berdiri.

     Seorang muslim urban bangun pagi dengan mata setengah sadar dan iman yang sudah lebih dulu membuka aplikasi. Ibu jari bekerja lebih cepat dari kesadaran: scroll, like, share—sebuah ritual kecil yang tak pernah diajarkan di kitab mana pun, tapi terasa lebih wajib dari wudhu. Di sana, di altar digital bernama Instagram, terpampang wahyu terbaru: Yaumul Milad ya ukhti, barakallah fii umrik, makin solehah, makin cantik, makin banyak rezekinya. Aamiin.” Disusul pagar-pagar kecil yang menandai kesalehan digital— #milad #happymilad #barakallah #alhamdulillah #explorepage—lengkap dengan sticker doa, dan emoji yang jumlahnya hampir menyaingi jumlah rakaat shalat sunnah yang jarang dilakukan.

     Ia tersentuh. Bukan oleh makna, tapi oleh atmosfer. Sebuah rasa yang sulit dijelaskan, seperti lapar yang tidak ingin makan nasi, tapi ingin makan estetika. Maka dimulailah liturgi baru: pesan kue tart, pilih font kaligrafi, tambah ornamen unta biar terasa Timur Tengah—meskipun yang paling dekat dengan padang pasir selama ini hanya filter Instagram. Lagu Marhaban dipotong lima belas detik, cukup untuk memberi kesan religius tanpa mengganggu ritme swipe berikutnya. Semua terasa suci. Semua terasa tepat. Padahal, kalau kita sedikit saja kurang ajar pada sejarah, kita akan sadar: tidak ada satu pun dari semua ini pernah terjadi di Madinah abad ke-7. Bahkan mungkin unta pun akan bingung melihat dirinya dijadikan topping butter cream.

     Dulu, “yaumul milad” hanyalah kalimat sederhana. Sebuah penanda waktu, seperti orang menyebut hari Selasa tanpa merasa perlu meniup lilin untuk merayakannya. Tidak ada pelukan massal, tidak ada goodie bag, tidak ada MC dengan suara bergetar penuh harap agar sponsor tahun depan lebih banyak. Itu hanya hari lahir—bukan hari untuk memanggil vendor dekorasi.

     Tapi manusia modern punya bakat istimewa: mengubah informasi menjadi seremoni, dan seremoni menjadi industri. Kapitalisme, seperti biasa, tidak pernah datang dengan wajah kasar. Ia datang dengan jilbab, dengan kaligrafi, dengan diskon bundling aqiqah plus milad tahunan—sebuah inovasi yang begitu kreatif sampai-sampai hukum fikih pun mungkin perlu duduk sejenak dan minum air.

     Caranya sederhana dan hampir elegan. Ambil satu fragmen teks, regangkan sedikit seperti karet gelang, lalu lepaskan ke pasar. Ada doa untuk Nabi Yahya di hari kelahirannya—baik, kita jadikan justifikasi. Ada sahabat yang memberi selamat pada sahabat lain—bagus, kita tambahkan layer emosional. Tidak masalah jika konteksnya berbeda jauh; yang penting ada kata “selamat”. Selebihnya, biarkan imajinasi bekerja, dan tentu saja, biarkan harga paket dekorasi naik perlahan.

     Lalu semuanya bergerak ke tahap yang lebih halus—tidak berisik, tapi justru lebih menentukan. Orang-orang mulai percaya, bukan karena pernah benar-benar tahu, tapi karena terlalu sering melihat. Keyakinan tidak lagi lahir dari pencarian, melainkan dari paparan berulang yang pelan-pelan terasa seperti kepastian.

     Di ruang yang lain, algoritma bekerja dengan tenang, nyaris seperti makhluk yang tidak punya niat jahat—dan justru karena itu sulit dicurigai. Ia tidak pernah bertanya mana doa yang tulus dan mana dekorasi yang terlalu mahal. Ia tidak punya kepentingan terhadap makna. Ia hanya mengenali keramaian. Yang ramai, itulah yang ia dorong ke permukaan. Yang diulang, itulah yang tampak sah.

     Maka ketika ribuan orang menulis “Yaumul Milad”, mengucapkannya dengan penuh rasa, membungkusnya dengan visual yang hangat dan musik yang lembut, sesuatu yang lebih besar dari sekadar ucapan mulai terbentuk. Kebenaran tidak lagi diperdebatkan—ia disepakati diam-diam lewat jumlah like. Tanpa kitab, tanpa sanad, tanpa keharusan untuk duduk dan berpikir terlalu lama. Sebuah epistemologi baru lahir, ringan, praktis, dan sangat efisien: cukup lihat engagement rate.

     Barangkali para insinyur di Silicon Valley dulu hanya ingin membuat orang betah berlama-lama menatap layar. Mereka mungkin tidak pernah membayangkan bahwa baris-baris kode itu, yang dingin dan netral, suatu hari akan bertransformasi menjadi semacam mufti tak resmi—yang fatwanya tidak diucapkan, tapi ditampilkan dalam bentuk tren. Dan seperti semua tren, ia tidak perlu benar. Ia hanya perlu terlihat ramai.

     Di titik ini, absurditas mulai terasa seperti rumah sendiri. Bayangkan sebuah pesta milad di hotel berbintang. Ayat suci dibacakan dengan sound system mahal, lalu disusul kue tart berbentuk Ka’bah yang didorong perlahan seperti sedang thawaf kecil-kecilan di atas karpet merah. Seorang anak meniup lilin dengan khusyuk—sebuah momen reflektif, meskipun napas yang sama mungkin belum pernah dipinjam untuk tahajud. Para tamu mengangkat tangan, berdoa dengan sungguh-sungguh agar tahun depan acara bisa lebih meriah. Tuhan, dalam imajinasi kita, tampaknya juga ikut menghitung jumlah balon.

     Dan di tengah semua itu, berdirilah satu frasa aneh: “Happy Milad”. Sebuah makhluk linguistik yang tidak diakui oleh bahasa Inggris maupun Arab, tapi sangat dicintai oleh caption Instagram Indonesia. Ia seperti anak hasil pernikahan paksa dua budaya yang tidak pernah saling melamar. Aneh, tapi justru karena itu terasa eksklusif. Semacam tanda bahwa kita sedang religius sekaligus modern—seperti memakai sneakers di atas sajadah.

     Yang sebenarnya menggelikan bukanlah ucapan selamatnya. Tidak ada yang salah dengan doa, dengan hadiah, dengan kebahagiaan kecil. Yang lucu—dan sedikit menyedihkan—adalah ketika semua ini diklaim sebagai bagian dari kesalehan. Seolah tanpa balon helium bertuliskan “Milad Mubarak”, iman seseorang terasa kurang lengkap. Seolah semakin mahal dekorasi, semakin dekat pula jaraknya dengan langit.

     Padahal, jika kita cukup jujur untuk menatap diri sendiri tanpa filter, jawabannya seringkali sederhana dan sangat manusiawi: kita ingin terlihat peduli, ingin diingat, ingin diakui. Dan pasar, seperti teman lama yang tahu kelemahan kita, menyediakan semua itu dalam bentuk paket—lengkap dengan bonus hashtag.

     Suatu hari nanti, mungkin seorang anak akan bertanya dengan polos, mengapa setiap tahun ia harus berdiri di depan kue sambil dikelilingi kamera. Dan untuk sekali saja, ayahnya mungkin menjawab tanpa dalil, tanpa retorika: bahwa ini bukan tentang tradisi, bukan tentang sunnah, tapi tentang diskon promo didorong keinginan kecil untuk tidak merasa tertinggal dari yang lain.

     Di luar sana, pabrik balon terus bekerja tanpa banyak berpikir. Influencer terus tersenyum di depan kamera. Dan kita, dengan cara yang aneh dan hampir puitis, terus merayakan sesuatu yang tidak pernah benar-benar kita pahami—sambil meyakinkan diri bahwa ini bagian dari sesuatu yang lebih besar.

     Barangkali memang begitu cara zaman bekerja: ia tidak memaksa kita untuk salah. Ia hanya membuat kita nyaman berada di dalamnya.

     Nama Tan Malaka hari ini beredar seperti diskon musiman: muncul ramai, dielu-elukan, lalu perlahan menghilang setelah algoritma bosan. Kutipannya dipajang rapi, dipoles, diberi latar belakang estetik—siap dikonsumsi tanpa risiko. Seolah-olah gagasan bisa dipakai seperti parfum: cukup disemprotkan, lalu kita ikut harum oleh sejarah.

     Tidak ada yang benar-benar ingin tahu bagaimana kalimat-kalimat itu lahir.

     Tidak ada yang ingin terlalu lama membayangkan seorang manusia yang menulis sambil berpindah-pindah, menghindari penangkapan, hidup dari ketidakpastian yang tidak romantis sama sekali. Menulis bukan di kafe dengan colokan listrik dan Wi-Fi, tetapi di sela-sela kemungkinan ditangkap atau mati. Kertas bukan medium ekspresi, tapi medan pertaruhan. Pikiran bukan konten, tapi risiko.

     Membayangkan itu terlalu mahal. Terlalu mengganggu kenyamanan.

     Maka yang tersisa adalah versi jinaknya: kutipan yang sudah disterilkan dari konteks, dibagikan dengan penuh semangat, lalu diakhiri dengan ritual kecil yang sakral—melirik angka. Berapa yang suka, berapa yang membagikan, berapa yang mengomentari. Sebuah bentuk perenungan baru: refleksi yang diukur dalam notifikasi.

     Ada sesuatu yang nyaris lucu, jika tidak terasa tragis.

     Orang-orang mengutip Tan Malaka seolah sedang melanjutkan perjuangan. Padahal yang mereka lanjutkan mungkin hanya trafik. Mereka tidak sedang berhadapan dengan kekuasaan, hanya dengan sepi—dan bahkan sepi itu pun kini bisa diatasi dengan sedikit optimasi waktu unggah.

     Jika dulu kekuasaan harus repot-repot membungkam, hari ini tidak perlu. Tidak ada pelarangan buku yang dramatis, tidak ada pengasingan yang heroik. Cukup beri semua orang panggung kecil, sedikit perhatian, dan ilusi bahwa suara mereka penting. Sisanya akan berjalan otomatis.

     Algoritma bekerja lebih halus daripada polisi rahasia.

     Ia tidak menangkap siapa pun. Ia hanya mengarahkan, membelokkan, menghibur, lalu perlahan meninabobokan. Orang-orang tetap berbicara, tetap merasa kritis, tetap merasa melawan—tanpa pernah benar-benar keluar dari lingkaran yang sama. Mereka bergerak, tapi seperti roda hamster: cepat, lelah, dan tidak ke mana-mana.

     Dan di tengah semua itu, nama Tan Malaka terus dipanggil.

     Bukan untuk dihidupi, tapi untuk ditemani.

     Seperti jimat kecil yang digenggam agar terlihat berani, tanpa pernah benar-benar ingin berjalan di jalan yang ia tempuh. Karena di ujung jalan itu tidak ada panggung, tidak ada angka, tidak ada validasi—hanya kesunyian yang keras kepala, dan keberanian yang tidak bisa dipalsukan.

     Mungkin yang paling menggelisahkan bukan bahwa kita lupa.

     Tapi bahwa kita ingat—dengan cara yang begitu aman, begitu nyaman, sampai-sampai kehilangan alasan mengapa ia dulu harus berbahaya.

Author Name

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.