Menghipnotis diri sendiri layak Anda coba untuk membantu merekayasa kembali kondisi mental maupun emosional ke arah yang Anda harapkan. Metode auto-hipnosa berikut ini begitu mudah untuk bisa dilakukan sendiri. Suatu metode yang dikembangkan oleh Silva bersaudara (Jose dan Juan) sejak tahun 1966. Metode itupun kemudian dikenal dengan nama Metode Silva.
     Metode Silva adalah cara untuk merilekskan tubuh dengan menggunakan gelombang otak di tingkat alpha serta memacu penggunaan otak kanan untuk memperoleh hasil yang positif. Penggunaan otak kanan adalah kuncinya. Metode Silva membantu kita mengoptimalkan kekuatan kreatif dari pikiran dengan menggunakan teknik-teknik visualisasi, imaginasi, berpikir positif dan meditasi.     Begitu sekilas mengenai metode praktis tersebut, dan untuk tidak berpanjang lebar lagi, mari kita praktekkan setiap langkahnya dengan cermat.

     Ambillah waktu secukupnya (kurang lebih 10 menit) untuk melaksanakan latihan yang akan saya bentangkan ini. Sebaiknya Anda lakukan pada pagi hari, kemudian siang atau sore hari dan di malam hari sebelum tidur.
     Ambil posisi santai dengan duduk pada sebuah kursi tanpa penyangga lengan, kaki selonjor saja, punggung disandarkan pada sandaran kursi. Kemudian posisikan kepala tegak lurus terhadap bahu. Arahkan bola mata pada kedudukan horisontal, mengamati suatu benda imajinatif (misalnya bola golf, atau buah apel) berada sejarak kurang lebih dua meter di depan Anda.
     Naikkanlah kedudukan benda imaji tadi (bola atau apel)  pada ketinggian satu meter di atas kedudukan horizontal tadi, pertahankan kedudukannya itu selama 10 detik dengan kelopak mata tetap terbuka. Bayangkan kini pada kedudukan itu angka lima beberapa kali selama 10 detik.
     Kemudian, tutuplah mata Anda, namun bola mata Anda tetap pada kedudukan semula (memandang benda kira-kira 1 meter di atas posisi horisontal tadi). Janganlah di-ubah, karena posisi itu akan membantu Anda untuk mendapatkan kondisi gelombang Alpha di dalam otak.
     Kini imajinasikan angka empat beberapa kali selama 10 detik. Ingatlah untuk tetap menjaga kedudukan bola mata Anda, karena ini adalah faktor yang sangat penting !!!
     Setelah membayangkan angka empat tadi, Anda lanjutkan membayangkan angka tiga beberapa kali, lalu mulai memberi perhatian kepada seluruh bagian tubuh dengan cara menelusuri bagian demi bagian.
     Mulailah dari kulit kepala, dahi, raut muka keseluruhannya, bahu, rongga dada, perhatikan turun naiknya paru-paru, detak jantung, perut, kedua paha, betis, telapak kaki dan akhirnya jari-jari kaki.
     Berikan perhatian pada setiap bagian tubuh yang disebutkan tadi itu, selama lima detik.
     Kini kita lanjutkan dengan mengimajinasikan angka dua beberapa kali, disusul dengan angka satu beberapa kali, lalu Anda membayangkan suatu imajinasi sesuai skenario yang Anda inginkan.

      Berikut ini adalah contoh skenario, tentu saja bisa membuat sendiri sesuai kebutuhan. (Penting untuk diingat, gunakan 'hanya' kata-kata positif di dalam menyusun kalimat skenario Anda)

      Aku duduk di sebuah bangku dengan pemandangan alam yang asri. Disekelilingku adalah taman berumput indah dengan berbagai macam bunga diantara pohon-pohon pinus. Cuaca yang cerah dan udara sejuk, ada angin sepoi-sepoi kurasakan menghembus pada rambut dan kulit tubuhku. Baunya merangsang hidungku, segar dan semerbak. Pemandangan ini dilatar belakangi oleh langit yang cerah, berwarna biru muda dan nampak dihiasi beberapa awan putih indah. Perasaanku sangat santai dan damai.

      Aku mendengar suaraku yang jelas dan tegas. Sikap ramah dan pemurah, ringan tangan untuk selalu membantu sesama. Aku kuat dan percaya akan semua kemampuan yang saya miliki, Aku penuh cinta dan kasih, tulus dan ikhlas sehingga selalu berdaya untuk berguna bagi umat manusia.
   <<< Susun skenario sesuai kebutuhan Anda!!!
Begitulah tadi contoh skenario imajinasi yang hendaknya Anda kembangkan sejelas mungkin di dalam imajinasi, seakan-akan Anda benar-benar memang sedang mengalami hal itu pada kondisi bangun sadar.

     Bila waktu belum sampai sepuluh menit, laksanakan terus pengulangan dari imajinasi Anda di atas.
     Setelah itu kita kembali ke alam sadar dengan melihat angka-angka satu, kemudian dua, tiga, empat dan lima. Pada angka lima kita buka mata, sambil merasakan nyaman di seluruh tubuh, lalu bangun dengan segar dalam kondisi sehat sempurna.
     Janganlah langsung beranjak dari posisi Anda, duduklah dengan santai selama sepuluh detik.

Rekamlah skenario ini pada alat perekam, atau pada komputer Anda, lalu pindahkan ke CD atau ponsel Anda, untuk Anda gunakan sebagai penuntun di dalam melaksanakan proses auto-hipnotis ini. Jadi Anda tinggal mengikuti setiap instruksi yang telah Anda rekam sendiri. Tidak perlu mengingat-ingat lagi sehingga bisa benar-benar berkonsentrasi pada setiap instruksi yang ada.

     Setelah sepuluh hari, Anda bisa beristirahat selama dua hari. Lanjutkan latihan Anda selama sepuluh hari lagi, istirahat dua hari, begitu seterusnya. Amati perkembangan positif dalam perilaku alam bawah sadar Anda, apakah telah memberi efek di dalam sikap sadar sehari-hari sesuai skenario yang telah Anda buat. Setelahnya, Anda bisa merancang skenario yang lain lagi sesuai kebutuhan Anda.

Berikut ini saya memberikan contoh rekaman audio yang bisa membantu Anda dalam tahap latihan awal. Suara dan skenario oleh Ir.DR.Psy, Rd.Lasmono Abdulrify Dyar, Guru Besar dari ilmu pengetahuan Psychorientology, Certified Silva Method Instructor sejak tahun 1983 yang belajar Metode Silva di Brussel, Belgia pada tahun 1980. Selanjutnya Anda bisa merancang skenario Anda sendiri.
     Selamat berlatih.

download file ukuran normal 13,9 Mb - standart untuk PC

download file ukuran 'diet'  1,75 Mb - baik untuk dimasukkan ke ponsel.
materi rujukan berupa artikel dan pelatihan
yang diselenggarakan oleh Silva Foundation
dalam program faraway training.
juga materi pelatihan DR. Lasmono
untuk pengembangan bisnis jaringan.
tulisan ini saya sampaikan sebagai
ungkapan terimakasih untuk
dr. Djalal yang telah dengan sabar
membimbing saya di dalam belajar
teori sekaligus praktek menghipnotis.
I miss U brader...

    Sepertinya gambaran yang ada ini tidak bisa secara umum layak dikatakan mewakili kondisi Lembanna yang sebenarnya. Sisi subyektif yang terlalu kental tentu saja tidak pas untuk bisa dijadikan sebagai tolak ukur menggeneralisir apa yang terasa. Nah penggalan gambar-gambar berikut hanya untuk sebagai pembanding kenampakan itu.
     Akhir dekade 80-an, mengunjungi Lembanna selalu menjadi pilihan, entah dilakukan secara sadar ataupun tidak. Menemui 'keluarga' yang bermukim di sana, selalu memberikan rasa hangat di dalam relasi yang tercipta. Bahkan kehangatan yang didapatkan mungkin saja jauh lebih terasa dibanding mengunjungi keluarga yang sesungguhnya di kampung masing-masing.
     Aura mistik tentu saja begitu kental terasa. Berada di perkampungan tanpa listrik, tanpa sarana memadai untuk ukuran kehidupan orang kota, bahkan tanpa sarana mck. Namun disitulah daya tariknya. Apalagi hangatnya obrolan tentang kearifan-kearifan yang dianut masyarakatnya, yang kadang dilakukan sambil berselimut sarung di depan dapur.
     Di depan dapur tentu saja selalu memberi pancaran hangat. Dari situlah bara dari kayu yang terbakar itu memancar. Air yang telah dijerang lalu berubah menjadi kopi yang hangat. Yang selanjutnya bara itu mematangkan kentang, atau panganan lainnya.
 
Desember 1990 dalam cuaca yang cukup dingin dengan kabut tipis yang hampir setiap saat menyelimuti Lembanna. Tampak depan rumah Daeng Supu' yang selalu menjadi 'markas' untuk setiap kegiatan Korpala di sekitar Gunung Bawakaraeng.

     Denyut kehidupan berjalan lambat. Tidak ada 'deadline' atau tenggat yang begitu mencekam. Semua berputar bersama kondisi alam, apa adanya. Air kebutuhan sehari-hari yang sampai ke rumah, yang mengalir dari gunung, mengalir dengan tenang hingga ke pancuran bambu. Hanya kadang menjadi keruh ketika hujan turun. Karena tidak ada listrik, praktis tidak ada petugas PLN yang menjadi momok untuk suatu kewajiban rutin.
     Bahu membahu, pengunjung dan keluarga di Lembanna menyiapkan kelangsungan hidup. Sebelum menuju Lembanna, dari kota kita akan berfikir untuk melengkapi kebutuhan yang urgen di sana. Mulai dari mencari 'sumbu lampu' untuk pelita, sampai mengusahakan obat-obatan praktis untuk membantu kesehatan 'keluarga' yang sebentar lagi akan ditemui. Tidak jarang ikut menyediakan perlengkapan mengolah kebun, pupuk bahkan nanti turut serta di dalam proses pengolahan lahan yang ada.

Di bagian dalam rumah dengan kondisi yang begitu sederhana. Kelambu tempat tidur yang merangkap sebagai dinding sekat tempat menerima tamu. Di dalam gambar ada bapak Kahar Idu PR-3 Unhas dan Nyonya, untuk kunjungan resmi sehubungan dengan kegiatan Penghijauan Kaki Gunung Bawakaraeng yang dimotori oleh Korpala.

     Lalu sampailah di hari-hari sekarang, ketika kita berkunjung ke Lembanna, tetapi kita tidak mengunjungi keluarga lagi. Hanya merupakan suatu kewajiban saja sehingga kita masih mampir ke sana. Itupun selalu membawa pulang ungkapan kesal, sambil bersungut-sungut mencibir kondisi masyarakat yang sudah tidak seperti yang diharapkan. 
     Harapan yang rasanya kurang rasional. Mengharap mendapat perlakuan seperti yang telah kita alami di era 80-an itu, namun tidak melakukan seperti apa yang pengunjung lakukan di masa itu. Padahal kita masih bisa dan sangat layak bila mengunjungi keluarga dengan sikap dan rasa seperti kerabat hendak bertemu keluarga, di dalam silaturahmi penuh cinta.
     Beberapa hal yang terlewati untuk kita cermati adalah, di hari-hari ini sudah begitu banyak kewajiban yang ditanggung oleh masyarakat Lembanna, yang tentu saja mempunyai deadline. Katakan saja kewajiban membayar rekening listrik, juga kewajiban pembiayaan untuk perawatan saluran air ke rumah-rumah. Belum lagi kebutuhan untuk ber-'halo-halo'. Sesuatu yang tidak ada di waktu dulu. Belum lagi perkembangan kehidupan sekarang mengharuskan mereka untuk menggunakan 'liquid cash' dengan segera. 
     Untuk memasak nasi dan lauk, sudah menggunakan gas dan listrik, bukan kayu bakar yang dikumpul dari hutan seperti dulu. Lalu ada televisi yang mengantarkan kemajuan dan pola hidup, tentu saja dengan sikap hidup materialistis di dalam tayangannya.
 beginilah tampak depan rumah Mama' (Januari 2012). Di bahagian dalam dengan dapur yang bagus, mck yang sangat baik. Tidak ada lagi teriakan histeris ketika pintu belakang terbuka lalu udara dingin menyeruak mengusik kehangatan, ketika seseorang hendak melakukan 'sesuatu' di pancuran belakang. Di ruang tamu tentu saja sudah dilengkapi dengan sofa-sofa yang empuk dengan alas karpet di bawah sehingga kaki tidak perlu menjadi dingin. 
Masih di area dapur, tetap ada perapian dan 'sedikit' tumpukan kayu bakar, bila ada yang rindu untuk sekadar 'bakar-bakar' atau 'hangat-hangat' di depan tungku.

     Lalu, masih adakah kerabat yang akan mengunjungi 'keluarga' di Lembanna, untuk berbagi rasa di dalam hangatnya silaturahmi.?

     Bila Anda jenuh dengan obat batuk kimiawi, apalagi kalau batuknya tidak kunjung sembuh, beberapa resep berikut ini bisa dicoba. Ada beberapa komposisi, yang tentu saja awalnya mengacu pada karakteristik batuk yang terjadi. Namun dokumentasi akurat pemanfaatan masing-masing ramuan tersebut tidak terjadi, maka tersisalah lampiran resep seperti apa adanya.
     Begitu banyak resep yang telah dituturkan dan dipublish di internet, namun yang saya posting di sini hanyalah yang mempunyai komposisi kadar yang jelas. Ini penting untuk memudahkan meracik, apalagi oleh 'kita-kita' yang belum terbiasa membuat ramuan obat-obatan.
     Hal penting mendasar di dalam meramu obat-obatan herbal adalah wadah. Gunakan wadah yang  'bukan' logam. Mangkuk atau panci keramik menjadi pilihan utama. Alat untuk mengaduk juga jangan yang terbuat dari logam. Gunakan yang terbuat dari kayu. Selanjutnya, takarlah setiap bahan sesuai petunjuk. Semoga resep-resep berikut bisa membantu.

Ramuan #1 :
Campur 1 sdm air perasan jeruk nipis, 3 sdm madu murni, 5 sdm air matang, lalu ditim selama 30 menit. )rang dewasa 3 - 4 kali sehari 1 - 2 sdm. Dosis untuk diminumkan ke bayi antara usia 6 bln -1 tahun : 2 kali sehari, 1/2 sdt. Untuk anak 1-3 tahun : 2 kali sehari 1 sdt. Anak 4-5 tahun : 2 kali sehari 1,5 sdt.
Cara lain, potong 1 buah jeruk nipis, peras airnya, letakkan dalam gelas/cangkir. Tambahkan kecap manis sejumlah cairan jeruk yang ada (satu banding satu), aduk rata. Takaran minum untuk anak, 3 kali sehari 1 sdt. Dewasa 3 - 4 kali sehari 1 - 2 sdm.


Ramuan #2 :
10 gram kulit jeruk mandarin kering dan 25 gram kencur (diiris-iris tipis) direbus dengan 400 cc air hingga tersisa 200 cc (satu gelas), kemudian airnya diminum selagi hangat.
Pemakaian untuk dewasa : Konsumsi 2 kali sehari 1 gelas.



Ramuan #3 :
10 lembar daun sirih direbus dengan 400 cc air hingga tersisa 200 cc (satu gelas), kemudian airnya diminum selagi hangat.
Pemakaian : Konsumsi 2 kali sehari  1 gelas

Ramuan #4 :
10 gram kulit jeruk mandarin kering dan 250 gram oyong segar direbus dengan 600 cc hingga tersisa 300 cc (untuk dua kali minum),  diminum selagi hangat.
Bila terasa ada khasiatnya, lanjutkan mengkonsumsi ramuan hingga batuk sembuh sempurna.






Ramuan #5 :
Cuci bersih 25 kuntum bunga belimbing wuluh, 1 jari rimpang temu giring, 1 jari kulit kayu manis, 1 jari rimpang kencur, 2 siung bawang merah, ¼ genggam pegagan, ¼ genggam daun saga, ¼ genggam daun ingu, dan ¼ genggam daun sendok. Kemudian bahan dipotong-potong, lalu direbus dengan 5 gelas air bersih hingga tersisa 2 ¼ gelas. Setelah dingin saring.
Pemakaian : Minum dengan tambahan madu seperlunya sebanyak 3 kali sehari. Setiap minum sebanyak ¾ gelas ramuan.


Ramuan #6 :
Haluskan bahan berupa 4 gram umbi bawang merah, 4 gram daun poko segar, 3 gram daun sembung segar, 4 gram herba pegangan segar, 2 gram buah adas dan 125 ml air yang sudah matang. Sebelum diolah, bersihkan dengan baik semua bahan segar, begitu juga media untuk menghaluskan harus benar-benar bersih. Ini penting karena ramuan langsung dikonsumsi tanpa direbus atau dimasak.
Pemakaian : Minum sehari 1 kali pada pagi hari sebanyak 100 ml, selama 14 hari.

     Tim kecil Korpala Unhas di tahun 1990 di bawah koordinasi 'Chief' Arifin Jaya, menuntaskan suatu acara 'jappa-jappa' yang begitu bersahaja. Melintasi area sekitar Bulusaraung, telah meninggalkan begitu banyak kenangan indah yang selalu segar dan menggelitik tawa kala mengenangnya.
     Chief Arifin yang memimpin tim dengan begitu kocak, ditimpali simpatisan 'Nurdin' yang senyumnya selalu mengembang. Terus ada Adi dan Bastian yang selalu mempertengkarkan kacamata hitam, yang saya betul tidak tahu kacamata siapa sebenarnya itu. Bahkan saya sempat mengira itu kacamata penjual kacang yang tertinggal sehabis nonton orkes dangdut.
     Epong, Ferry dan Ekend.. yang calla-calla nya segar dan kreatif sepanjang jalan..
 Hilda, Hero, Nasir, Nurdin, Adi Tong, Bastian, Ekend dan Welly
di bagian depan ada Epong, Ferry dan Yuyu
dan di saat inilah tragedi 'senter' itu terjadi.. beberapa saat setelah selesai menunaikan shalat subuh di mesjid, sesuai rencana tim segera melanjutkan perjalanan dengan tujuan kaki gunung Bulusaraung di Desa Tompo Bulu. Setelah tim selesai berdoa dan siap mengayunkan langkah pertama, tiba-tiba 'Chief' menginstruksikan tim untuk segera mengeluarkan senter dari dalam ransel. Langkah diurungkan, senter disiapkan sesuai instruksi.
Tidak lama tim berjalan, fajar yang sudah merekah sejak tadi, menjadi semakin terang. Tim tetap dengan patuh menyenter jalan yang dilalui hingga jam 8 pagi...
 darimana itu Chief dapat cerek warna merah..
oh iya, sebelum tim menuju Bantimala, terlebih dahulu singgah di rumahnya Uche di Kota Pangkep. Ceritanya sih, ngajak Uche untuk ikut di dalam tim. Namun sayang sekali, beliau tidak bisa ikut bersaja rombongan. Tapi cerita sebenarnya sih, Chief lagi bingung cari transportasi dari Pangkep ke Bantimala, sementara malam sudah semakin larut. Jadi hitung-hitung, daripada bikin 'bivak' di pinggir sawah, mending di tempat Uche saja.. 
terimakasih Uche, untuk semua sajian malam itu.. perlahan-lahan celoteh rewel personil tim semakin sayup seiring perut yang semakin penuh..
dan untuk Chief Arifin Jaya, terimakasih brader.. memori perjalanan itu selalu hidup dan indah di dalam kenanganku.
p s:
khusus untuk Bastian, Adi, Ekend, Uche, Yuyu, Hilda, Epong
Ferry atau siapa saja yang terlibat di perjalanan waktu itu,
tolong bantu isi komentar di bagian bawah
tambahkan cerita-cerita lain di sepanjang perjalanan ini
yang tidak sempat terekam di memoriku..
I miss U all...

      Begitu kuatnya bukti-bukti yang menyatakan manusia telah menyebabkan pemanasan global, tetapi jawaban dari pertanyaan tentang 'apa yang harus dilakukan' untuk hal itu masih begitu kontroversial. Faktor ekonomi, sosial dan politik menjadi faktor-faktor yang sangat penting di dalam merencanakan masa depan manusia.
      Bila secara ekstrim hari ini kita berhenti total memancarkan gas rumah kaca, maka Bumi masih tetap akan menjadi semakin hangat. Namun demikian, apa yang kita lakukan hari ini akan membuat suatu perbedaan yang nyata di masa depan. Itu semua tergantung pada pilihan kita. Para ilmuwan memperkirakan bahwa bumi akan bertambah hangat sedikitnya 1,5 derajat hingga 5,5 derajat Cercius.
      Secara umum kita mestinya mempunyai satu tujuan yang sama, bagaimana menstabilkan konsentrasi gas rumah kaca pada kisaran 450 - 550 ppm (part permillion) atau kira-kira setara dua kali lipat bila dibandingkan konsentrasi gas rumah kaca pada masa pra-industri. Ini adalah titik yang dipercaya sebagai posisi yang memungkinkan menghindari dampak paling merusak terhadap bumi oleh perubahan iklim.
      Konsentrasi saat ini sudah berada di ambang 380 ppm. Dengan semakin pesatnya kegiatan industri saat ini, maka tidak lama lagi level 450 - 550 ppm akan segera tercapai. Menurut rekomendasi IPCC, kita harus segera mengurangi emisi gas rumah kaca sebesar 50 - 80 persen, untuk bisa berada di jalur yang tepat menuju abad mendatang dengan level konsentrasi gas rumah kaca sebesar 450 - 550 ppm.
Pertanyaannya kemudian adalah, apakah ini mungkin dilakukan?
      Banyak orang, komunitas dan pemerintah telah berusaha begitu keras untuk memangkas produksi gas rumah kaca, sehingga setiap kita bisa turut berpartisipasi membantu proses tersebut.
      Stephen Pacala dan Robert Socolow peneliti dari Universitas Princeton menyarankan suatu pendekatan yang mereka namakan 'stabilization wedges'. Mekanismenya adalah, mengurangi emisi rumah kaca secara merata dari setiap sumber yang ada dengan menerapkan apapun teknologi yang telah tersedia selama beberapa dekade ke depan. Bukan hanya mengandalkan perubahan yang besar dan radikal pada suatu lokasi tertentu saja. Mereka menyarankan pembatasan-pembatasan yang bisa mereduksi setiap sumber emisi gas rumah kaca. Bila kesemuanya bisa menjaga stabilitas emisinya pada level sekarang hingga 50 tahun ke depan, maka kita telah berada pada jalur potensil untuk stabilisasi konsentrasi gas rumah kaca di kisaran 500 ppm.
      Ada begitu banyak kemungkinan pembatasan emisi yang bisa dilakukan, misalnya pada perbaikan efisiensi penggunaan bahan bakar untuk kendaraan (sehingga kita bisa mengurangi produksi bahan bakar utamanya yang berasal dari fosil). Meningkatkan pemanfaatan energi angin dan tenaga surya, menggunakan hidrogen dari sumber yang terbarukan, memanfaatkan biofuel dari tanaman, gas alam dan tenaga nuklir, merupakan alternatif yang bisa dikembangkan. Ada juga cara lain berupa potensi menangkap karbon dioksida hasil pembakaran bahan bakar fosil untuk disimpan di bawah tanah dalam suatu proses yang dinamakan 'penyerapan karbon'.
      Tumbuhan dan pohon-pohon menyerap CO2 dalam proses pertumbuhannya, yang langsung mengeksekusi secara alami karbon yang ada bersama polusi. Itu artinya, meningkatkan kuantitas dan kualitas lahan hutan serta memperbaiki cara kita bercocok tanam akan meningkatkan secara signifikan jumlah karbon yang terserap oleh tumbuhan tadi.
      Beberapa teknik yang telah disarankan mungkin tidak sempurna dan masih mengalami banyak kendala. Begitu juga dengan masyarakat yang berbeda akan menghasilkan keputusan yang berbeda tentang bagaimana memberdayakan hidup mereka. Meskipun demikian, masih banyak cara dan teknik yang tersedia dan akan segera dilahirkan di waktu mendatang sebagai pilihan dalam menjalani kehidupan, sehingga kita bisa berada pada jalur yang tepat menuju kondisi iklim yang stabil.
photograph by Paul Nicklen
baca juga :
referensi : National Geographic

     Sepenggal kisah yang meluncur dari bibir BJ Habibie, di hari-hari senja perjalanan hidupnya. Bagaimana satu bagian episode 'grand design' negeri kita Indonesia, digambarkan dengan bahasa hati yang begitu mengharukan, sekaligus membuat geram. Beliau adalah salah satu  anak bangsa yang ikut berpacu dalam episode sejarah, yang kemudian di hari ini merangkum duka lara dari jejak yang ditinggalkannya.
     Menyimak peristiwa yang digambarkan berikut ini setidaknya bisa menjadi cerminan kita di dalam mengevaluasi karakter diri di dalam berbangsa di negeri tercinta ini. Atau paling sederhananya, turut merasakan haru yang tergambar di dalam kisah berikut ini, bisa mengindikasikan bahwa jiwa nasionalisme kita masih ada tersisa meski sudah samar.
Selanjutnya, mari kita simak peristiwa berikut.
     Kejadiannya bermula di suatu hari di bulan Januari awal tahun 2012 ini, mantan Presiden RI, BJ Habibie dengan rombongan kecilnya, mengunjungi kantor manajemen Garuda Indonesia, di Garuda City Complex Bandara Soekarno Hatta. Kunjungan beliau dan rombongan disambut oleh President & CEO, Bapak Emirsyah Satar disertai seluruh Direksi dan para Vice Presiden serta Area Manager yang sedang berada di Jakarta.
     Salah satu jamuan di dalam kunjungan beliau ini, diputar video mengenai Garuda Indonesia Experience dan presentasi perjalanan kinerja Garuda Indonesia sejak tahun 2005 hingga tahun 2015 menuju Quantum Leap.
     Beliau menyimak dengan baik sajian video yang ditayangkan tersebut. Sebagai “balasan” suguhan video tadi, pak Habibie pun meminta untuk memutar rekaman video yang dia bawa sendiri. Rupanya video itu tentang penerbangan perdana N250 di landasan bandara Husein Sastranegara, IPTN Bandung tahun 1995 (tujuh belas tahun yang lalu).
     Video N250 bernama Gatotkaca terlihat meluncur kemudian tinggal landas secara mulus diiringi oleh satu pesawat latih dan sebuah pesawat N235. Pesawat N250 jenis Turboprop dan teknologi glass cockpit dengan kapasitas 50 penumpang terus mengudara di angkasa Bandung.
     Dalam video tersebut, tampak para hadirin yang menyaksikan di pelataran parkir, antara lain Presiden RI Bapak Soeharto dan ibu, Wapres RI bapak Soedharmono, para Menteri dan para pejabat teras Indonesia serta para teknisi IPTN. Semua bertepuk tangan dan mengumbar senyum kebanggaan atas keberhasilan kinerja N250. Bapak Presiden kemudian berbincang melalui radio komunikasi dengan pilot N250 yang di udara. Terlihat pak Habibie mencoba mendekatkan telinganya di headset yang dipergunakan oleh Presiden Soeharto karena ingin ikut mendengarkan pembicaraan dengan pilot N250 itu.
     Tidak lama kemudian, N250 sang Gatotkaca kembali ke pangkalan setelah melakukan pendaratan mulus di landasan.

     Setelah menyaksikan bersama video tadi, bapak BJ Habibie yang berusia 74 tahun masih nampak begitu bersemangat, memulai kalimatnya dengan gaya yang begitu akrab.
     “Dik, anda tahu, ..saya ini lulus SMA tahun 1954” beliau membuka pembicaraan dengan gayanya yang khas menyebut semua hadirin dengan kata “Dik”. Kemudian secara lancar beliau melanjutkan.
     “Presiden Soekarno, Bapak Proklamator RI, orator paling unggul, itu sebenarnya memiliki visi yang luar biasa cemerlang! Ia adalah Penyambung Lidah Rakyat! Ia tahu persis sebagai Insinyur, Indonesia dengan kondisi geografis ribuan pulau, memerlukan penguasaan teknologi yang berwawasan nasional yakni Teknologi Maritim dan Teknologi Dirgantara. Kala itu, tak ada ITB dan tak ada UI.
     Para pelajar SMA unggulan berbondong-bondong disekolahkan oleh Presiden Soekarno ke luar negeri untuk menimba ilmu teknologi maritim dan teknologi dirgantara. Saya adalah rombongan kedua diantara ratusan pelajar SMA yang secara khusus dikirim ke berbagai negara. Pendidikan kami di luar negeri itu bukan pendidikan kursus kilat tapi sekolah bertahun-tahun sambil bekerja praktek.
     Sejak awal saya hanya tertarik dengan ‘how to build commercial aircraft’ bagi Indonesia. Jadi sebenarnya Pak Soeharto, Presiden RI kedua hanya melanjutkan saja program itu. Beliau juga bukan pencetus ide penerapan ‘teknologi’ berwawasan nasional di Indonesia. Lantas kita bangun perusahaan-perusahaan strategis, ada PT PAL dan salah satunya yang lain adalah IPTN.
     Sekarang Dik, Anda semua lihat sendiri. N250 itu bukan pesawat asal-asalan dibikin! Pesawat itu sudah terbang tanpa mengalami ‘Dutch Roll’ (istilah penerbangan untuk pesawat yang ‘oleng’ berlebihan). Teknologi pesawat itu sangat canggih dan dipersiapkan untuk 30 tahun ke depan. Diperlukan waktu 5 tahun untuk melengkapi desain awal.
     Satu-satunya pesawat turboprop di dunia yang mempergunakan teknologi ‘Fly by Wire’ bahkan sampai hari ini. Rakyat dan negara kita ini membutuhkan itu! Pesawat itu sudah terbang 900 jam (saya lupa persisnya 900 atau 1900 jam) dan selangkah lagi masuk program sertifikasi FAA. IPTN membangun khusus pabrik pesawat N250 di Amerika dan Eropa untuk pasar negara-negara itu. Namun, orang Indonesia selalu saja gemar bersikap sinis dan mengejek diri sendiri, ‘apa mungkin orang Indonesia bikin pesawat terbang?’
     Tiba-tiba, Presiden memutuskan agar IPTN ditutup dan begitu pula dengan industri strategis lainnya.  Dik tahu.. di dunia ini hanya 3 negara yang menutup industri strategisnya, satu Jerman karena trauma dengan Nazi, lalu Cina (?) dan Indonesia.
     Sekarang, semua tenaga ahli teknologi Indonesia terpaksa terusir dari negeri sendiri. Mereka bertebaran di berbagai negara, khususnya di pabrik-pabrik pesawat di Bazil, Canada, Amerika dan Eropa.
     Hati siapa yang tidak sakit menyaksikan itu semua.?
     Saya bilang ke Presiden, kasih saya uang 500 juta Dollar dan N250 akan menjadi pesawat yang terhebat yang mengalahkan ATR, Bombardier, Dornier, Embraer dll dan kita tak perlu tergantung dengan negara manapun.
     Tapi keputusan telah diambil dan para karyawan IPTN yang berjumlah 16 ribu harus mengais rejeki di negeri orang dan gilanya lagi kita yang beli pesawat negara mereka!”

     Pak Habibie menghela nafas.
     Salah seorang hadirin adalah Capten Novianto Herupratomo berkisah tentang saat-saat yang diceritakan oleh Habibie tadi.
     “Sekitar tahun 1995, saya ditugaskan oleh Manager Operasi (JKTOF) kala itu, Capt. Susatyawanto untuk masuk sebagai salah satu anggota tim Airline Working Group di IPTN dalam kaitan produksi pesawat jet sekelas B737 yang dikenal sebagai N2130 (kapasitas 130 penumpang). 
     Saya bersyukur, akhirnya ditunjuk sebagai Co-Chairman Preliminary Flight Deck Design N2130 yang langsung bekerja dibawah kepala proyek N2130 adalah Ilham Habibie. Saat itu N250 sedang uji coba terus-menerus oleh penerbang test pilot (almarhum) Erwin. 
     Saya turut mendesain rancang-bangun kokpit N2130 yang serba canggih berdasarkan pengetahuan teknis saat menerbangkan McDonnel Douglas MD11. Kokpit N2130 akan menjadi mirip MD11 dan merupakan kokpit pesawat pertama di dunia yang mempergunakan LCD pada panel instrumen (bukan CRT sebagaimana kita lihat sekarang yang ada di pesawat B737NG). 
     Sebagian besar fungsi tampilan layar di kokpit juga mempergunakan “track ball atau touch pad” sebagaimana kita lihat di laptop. N2130 juga merupakan pesawat jet single aisle dengan head room yang sangat besar yang memungkinkan penumpang memasuki tempat duduk tanpa perlu membungkukkan badan. Selain high speed sub-sonic, N2130 juga sangat efisien bahan bakar karena mempergunakan winglet, jauh sebelum winglet dipergunakan di beberapa pesawat generasi masa kini. 
     Saya juga pernah menguji coba simulator N250 yang masih prototipe pertama. N2130 narrow body jet engine dan N250 twin turboprop, keduanya sangat handal dan canggih kala itu, bahkan hingga kini. 
     Berbagai macam pikiran dan mimpi berkecamuk di dalam kepala manakala pak Habibie bercerita soal N250 tadi. Saya pun memiliki kekecewaan yang sama seperti yang beliau gambarkan. Seandainya N2130 benar-benar lahir, kita tak perlu susah-susah membeli B737 atau Airbus 320.”

     Pak Habibie kemudian melanjutkan pembicaraannya.
     “Hal yang sama terjadi pada prototipe pesawat jet twin engines narrow body. Waktu itu saya tunjuk Ilham sebagai Kepala Proyek N2130. Ia bukan karena anak Habibie, tapi Ilham ini memang sekolah khusus mengenai manufakturing pesawat terbang. Kalau saya sebenarnya hanya ahli dalam bidang metalurgi pesawat terbang. Kalau saja N2130 diteruskan, kita semua tak perlu tergantung dari Boeing dan Airbus untuk membangun jembatan udara di Indonesia”.
     “Dik, dalam industri apapun kuncinya itu hanya satu QCD.
     Q itu Quality, Dik. Anda harus buat segala sesuatunya berkualitas tinggi dan konsisten. C itu Cost, Dik. Tekan harga serendah mungkin agar mampu bersaing dengan produsen sejenis. D itu Delivery. Biasakan semua produksi dan outcome berkualitas tinggi dengan biaya paling efisien dan disampaikan tepat waktu! Itu saja!”
Pak Habibie melanjutkan penjelasan tentang QCD tersebut sebagai berikut:
     “Kalau saya umpamakan, Q itu nilainya 1, C nilainya juga 1 lantas D nilainya 1 pula, jika dijumlah maka menjadi 3. Tapi cara kerja QCD tidak begitu Dik. Organisasi itu bekerja saling sinergi sehingga yang namanya QCD itu bisa menjadi 300 atau 3000 atau bahkan 30.000 sangat tergantung bagaimana anda semua mengerjakannya, bekerjanya harus pakai hati Dik..”

Pak Habibie seperti merenung sejenak mengingat-ingat sesuatu, kemudian melanjutkan.
     “Dik, saya ini memulai segala sesuatunya dari bawah, sampai saya ditunjuk menjadi Wakil Dirut perusahaan terkemuka di Jerman dan akhirnya menjadi Presiden RI. Itu semua bukan kejadian tiba-tiba. Selama 48 tahun saya tidak pernah dipisahkan dengan Ainun, ..ibu Ainun istri saya.
     Ia ikuti kemana saja saya pergi dengan penuh kasih sayang dan rasa sabar. Dik, kalian barangkali sudah biasa hidup terpisah dengan istri, you pergi dinas dan istri di rumah, tapi tidak dengan saya. Gini ya, saya mau kasih informasi. Saya ini baru tahu bahwa ibu Ainun mengidap kanker hanya 3 hari sebelumnya, tak pernah ada tanda-tanda dan tak pernah ada keluhan keluar dari ibu..”
     Pak Habibie menghela nafas panjang dan tampak sekali ia sangat emosional serta mengalami luka hati yang mendalam. Seisi ruangan hening dan turut serta larut dalam emosi kepedihan pak Habibie.

     Tiba-tiba, pak Habibie seperti teringat sesuatu (kita yang biasa mendengarkan beliau juga pasti maklum bahwa gaya bicara pak Habibie seperti meloncat kesana-kemari dan kadang terputus karena proses berpikir beliau sepertinya lebih cepat dibandingkan kecepatan berbicara dalam menyampaikan sesuatu). Ia melanjutkan pembicaraannya.

     “Dik, hari ini persis 600 hari saya ditinggal Ainun.. dan hari ini persis 597 hari Garuda Indonesia menjemput dan memulangkan ibu Ainun dari Jerman ke tanah air Indonesia.
     Saya tidak mau menyampaikan ucapan terima kasih melalui surat.. saya menunggu hari baik, berminggu-minggu dan berbulan-bulan untuk mencari momen yang tepat guna menyampaikan isi hati saya. Hari ini didampingi anak saya Ilham dan keponakan saya Adri,  maka saya, Habibie atas nama seluruh keluarga besar Habibie mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya, kalian, Garuda Indonesia telah mengirimkan sebuah Boeing B747-400 untuk menjemput kami di Jerman dan memulangkan ibu Ainun ke tanah air, hingga kemudian dimakamkan di Taman Makam Pahlawan. Sungguh suatu kehormatan besar bagi kami sekeluarga. Sekali lagi, saya mengucapkan terima kasih atas bantuan Garuda Indonesia” 
     Seluruh hadirin terhenyak, tercenung dan beberapa lainnya tak kuasa lagi membendung air mata.
sumber : http://brosurkilat.com via Kaskus

Author Name

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.